“Johan...”
Angelica sedikit terkejut
dengan perlakuan tiba-tiba itu dari Johan. mendengarnya memanggilnya, ia semakin
erat memeluknya.
“Takkan kubiarkan...”
“Eh...?” Angelica tak yakin
dengan pendengarannya.
“Aku takkan biarkan Ethan
membuatmu goyah lagi... aku akan hilangkan luka itu darimu, karenanya... kali
ini, aku yang akan membuatmu yakin sampai kau tidak sanggup berbalik lagi...”
Angelica terkejut mendengar
kalimat yang sangat percaya diri itu, karena Johan mengatakannya dengan nada
dan wajah yang sangat menantang. Ia terpana, malu, sekaligus sedih karena
bahagia.
“Iya...! aku akan
menantikannya...!”
Mendengar kalimatnya sambil
melihat senyumannya, Johan pun ikut tersenyum bahagia, walau semburat kesedihan
itu masih ada dalam dirinya dan ia tutupi dengan baik saat menatap Angelica.
“Sayangnya aku pun begitu”
Angelica dan Johan kembali menghadapi
Ethan. Mereka saling melepaskan diri dan saling bergandengan tangan.
“Angie, bagaimanapun
perasaanmu, aku tidak bisa menerima keputusan sepihak ini darimu. Kau juga
tidak bisa menolak kenyataan bahwa kau adalah tunanganku hingga hari ini”
“Aku tidak merasa aku sepihak
padamu. Jika diantara kita ada yang bersikap seperti itu, itu adalah kamu. Kau
benar, aku tidak bisa menyalahkan semua ini padamu. Tapi siapapun, baik cewek
atau cowok, jika diperlakukan seperti apa yang kau lakukan padaku, mereka akan
mengambil keputusan yang sama denganku jika mereka melihat realita yang ada”
“Walau begitu aku tidak bisa
terus membiarkanmu bersamanya!”
Angelica kaget mendengar seruan
Ethan. Johan semakin mengerutkan alis.
“Ethan, jika kau sadar diri,
lepaskan Angie. Aku tak bisa membiarkannya menderita lagi karena orang yang dia
hargai, namun kau tak bisa hargainya!”
Johan berseru pada Ethan dan
kembali menarik Angelica dalam pelukannya.
“Kalau aku tidak menghargainya,
lalu kalian anggap apa pengorbanan yang kulakukan untuknya meraih kebebasan
kembali?”
Ethan yang bertanya dengan nada
logis dan dalam membuat Angelica tersentak. Tapi Johan tidak menyerah.
“Hah? Mana kutahu soal itu!
Angie bahkan tidak pernah tahu apa yang kau lakukan terhadap usaha keluarganya,
kan? Kalau seandainya kau bilang dari dulu, aku sudah menyerah sejak aku tahu
dia masih menyukaimu!”
Angelica mengangkat wajahnya,
memandang Johan yang masih berargumen dengan Ethan, membela dirinya dengan wajah
datar.
“Kau yang meninggalkan Angelica
dengan keadaan ‘sekarat’, tanpa pernah tahu sedikitpun apa yang telah ia
perjuangkan demi bisa mendapatkan kebebasannya kembali dengan caranya sendiri,
lalu tiba-tiba kau datang dan menyatakan diri bahwa kaulah yang telah jadi
‘pahlawan’ dari semua kejadian ini!? Jangan membuatku tertawa!!”
BUAAK!
Siapapun tentu akan terkejut
mendengar suara pukulan itu, yang ternyata datang dari Ethan sendiri untuk
Johan!
Angelica bahkan tidak sadar
sejak kapan Johan melepaskan pelukannya saking ia terpana mendengar kalimat
Johan sejak tadi. Bahkan tak sadar saat Ethan mendekatinya demi memukul Johan.
Ia langsung menghampiri Johan
yang terjembab di lantai, dibantu oleh Karl yang langsung menempelkan handuk
basah ke pipi Johan dan menyandarkannya ke atas badannya.
“Johan, kau baik-baik saja!?
Ethan, kenapa!?”
Angelica terkejut. Wajah Ethan
telah merah padam. Meski Ethan selalu berkata ketus dan tepat sasaran, namun
baru kali ini ia melihatnya begitu kesal dan marah. Ia yang tadinya kesal, kini
merendahkan nada suaranya dengan rasa khawatir nan bersalah yang tergambar di
wajahnya.
“Ethan, aku tahu perasaanmu,
tapi tolong maafkan aku dan kata-kata Johan barusan... namun seperti yang
dikatakannya, aku tak merasa bahwa kau sudah berjuang untukku setelah apa yang
kau lakukan padaku... aku kecewa padamu, Ethan!”
Ethan hanya diam sambil
memandang Angelica dengan datar.
“Aku kecewa, tapi... aku
benar-benar berterima kasih karena kau telah memperjuangkan usaha keluargaku
hingga saat ini. Karenanya, sebagai pewaris, bisakah aku meminta satu hal
padamu?”
“... apa?” tanya Ethan dengan
nada datar.
Angelica menarik nafas panjang,
dan kembali menatap Ethan setelah meyakinkan dirinya dengan mantap.
“Aku... ingin meneruskan usaha
Ayahku kembali. Tapi dengan diriku sekarang, aku sama sekali tidak yakin
menjalaninya dengan kemampuanku saat ini. Terlebih lagi, aku sama sekali tidak
tahu bagaimana menjalankannya karena Ayah tidak pernah melibatkanku selama ini.
Karenanya sampai aku sanggup berdiri sendiri untuk meneruskannya... bisakah aku
memintamu untuk memimpin perusahaan keluargaku?”
Ethan sedikit terkejut, tapi
anehnya ia tidak merasa Angelica lancang. Karena ia bisa melihat permintaan
sungguh-sungguhnya dari matanya. Ia kembali mengerutkan alisnya.
“Lalu, apa yang bisa kau
berikan padaku sebagai gantinya?”
Angelica berpikir sesaat.
“Saham kepemilikan sebesar 80
persen atas perusahaan. Untuk saat ini hanya itu yang...”
“Kau tahu bahwa itu saja tidak
cukup untuk membayar semua yang telah kulakukan untuk keluargamu, kan?”
“Aku tak punya apapun saat ini!
Jika yang kau inginkan adalah uang pengembalian atas hutang palsu yang dibuat
oleh keluarga kak Russell, itu...!”
“Aku tidak peduli soal uang.
Dan bukan itu yang kuinginkan saat ini darimu”
“Jika yang kau inginkan adalah
Angie, tak akan kuserahkan padamu!”
Johan yang sejak tadi diam
mengikuti situasi dan menanti saatnya membuka suara, kini berseru dengan nada
menantang dengan berdiri di depan Angelica. walau begitu, ia masih memegang
kompres pendingin di pipi tempat Ethan memukulnya.
“Jika itu yang kau inginkan
darinya, aku takkan membiarkanmu bersamanya apapun yang terjadi, meskipun ia
memilih untuk bersamamu demi perusahaannya!”
Angelica hanya bisa terpana
mendengar kalimatnya yang begitu percaya diri dan tanpa sadar menyebut namanya.
Karl yang mendengarnya pun, tersenyum sambil memejamkan matanya dengan tenang.
Namun sayangnya...
“Sudah kubilang, kan? Aku tidak
bisa membiarkan Angie bersamamu. Meskipun perusahaanmu adalah perusahaan elite
yang telah menopang kehidupan sebagian besar warga Inggris, kau tidak lebih dari
pewaris paling hina yang pernah ada!!”
Kalimat Ethan barusan, jelas
membuat semua yang mendengarnya terkejut bukan kepalang. Angelica dan Karl
pias, sementara seluruh keluarga Miller yang mendengarnya ikut terbelalak.
Namun hanya Johan yang menunduk
saat mendengarnya. Ia diam tanpa diketahui seperti apa ekspresinya.
Tak lama kemudian, Angelica
mengingat hal yang pernah dikatakan Johan padanya saat mereka di Indonesia.
“Soal aku, kau bisa tanyakan
ke Russell... karena jika aku sendiri yang mengatakannya... mungkin aku bisa
jadi gila...”
Angelica kembali berpikir
keras. Ia melihat punggung Johan yang sedang berusaha membelanya. Saat
mendengar kalimat itu dari Ethan, ia menyadari bahwa ia memang masih belum
mengetahui apa-apa tentang Johan selain dirinya yang sekarang. Ia hanya tahu
Johan selama di sekolah dan saat berada di sekitar teman-temannya. Meski ia
pernah melihatnya saat dihajar di sekolah oleh ayahnya, namun Johan tidak
pernah lagi membahas hal itu sampai hari ini.
“Walau begitu, aku tidak
peduli”
Ethan terkejut.
“Aku tidak peduli. Karena
sebelumnya pun, aku juga pewaris paling hina. Aku selalu menyombongkan diri di
depan orang-orang yang tidak setara denganku. Hingga sampai saat keluargaku
jatuh, tak ada satupun yang mau menolong orang rendahan sepertiku. Karenanya...
aku memilih pergi dari kotaku dengan berat hati”
Ethan sedikit menyipitkan
matanya. Namun Johan yang terpana mendengar cerita yang sudah lama ia dengar,
ia berbalik ke arah Angelica yang kemudian tersenyum saat menatapnya.
“Hei, Angie”
“Hmm?”
“Aku... tidak akan menjamin kau
tetap bersamaku saat kau tahu semuanya, lho...”
“... Johan...”
“Tapi... walau begitu aku ingin
kau tetap bersamaku... terus berada di sampingku... meski suatu saat kau
membenciku hingga merasa jijik sekalipun saat kau mengetahui masa laluku... aku
hanya ingin... kau tetap menjadi... yang pertama dan terakhir untukku...”
Angelica menunduk. Sebutir
airmata jatuh dari pelupuk mata yang tertutup poni rambutnya, sambil tersenyum tipis.
Ia kembali mengangkat wajahnya perlahan, dan tersenyum lebar sambil menyipitkan
matanya...
“Seperti yang dikatakannya,
Ethan...”
Ethan terkejut melihat wajah
bahagianya. Seketika ia merasa hancur, penyesalan yang mati-matian ia simpan
sejak ia bertemu kembali dengan Angelica yang telah bersama dengan laki-laki
yang menganggapnya saingan sahabatnya, keluar bersamaan dengan rasa sedih dan
rindu yang ia kunci rapat-rapat demi bisa bertemu dan mengembalikan kejayaan
sang terkasih selama ini.
Ia menyesal telah meninggalkannya
tanpa mengucapkan apapun. Ia menyesal telah mengabaikan semua surat yang
dikirimkan gadis itu ke rumahnya di London dan dikirimkan kembali oleh Louis sang
butler selama ia di Belanda. Ia menyesal berandai bahwa suatu saat gadis itu
akan tersenyum saat ia tahu bahwa ia telah berjuang untuknya. Dan bodohnya, ia
membiarkan gadis itu tidak mengetahui semua tindak-tanduknya demi dirinya.
Sebenarnya sempat terlintas di
pikirannya, jika suatu saat gadis itu mencintai orang lain yang ia pikir telah
menyelamatkan hidupnya dari keterpurukan dan penderitaan yang membuatnya kacau
balau seperti sekarang, apa yang akan ia lakukan? Nyatanya, ia terus berpikir
dengan naif bahwa ia akan meninggalkan orang itu dan memilih tetap bersanding
bersamanya. Ia merasa bodoh saat hal itu ternyata tidak berjalan seperti yang
ia inginkan.
Sejak keluarganya memutuskan
untuk memberi pengumuman dirinya dinyatakan sebagai pewaris, ia meminta Hans
untuk mengawasi Angelica. dan seperti yang telah ia ketahui bahwa gadis itu
telah berpaling, namun ia masih berpikir naif. Walau begitu, pertemuannya
dengan gadis itu di Jerman masih belum membuka matanya.
Dan kini, ia harus membayar
semua kenaifan dan perjuangan berat tanpa henti demi gadis itu untuk melihatnya
memutuskan tali pertunangan yang telah dijaganya selama ini.
Namun satu hal yang tidak
pernah ia sesali, yaitu bahwa, ia selalu mencintainya dan tak berpikir bahwa ia
lancang telah mengganti sosok dirinya untuk orang lain.
Mungkin karena di lubuk hatinya
terdalam, ia telah siap menerima kenyataan yang jelas tidak diinginkan siapapun
itu, walau tidak dengan cara yang lebih baik.
“Aku mengerti...”
Setelah berkata seperti itu,
Ethan berjalan mendekati Angelica. Johan yang berdiri di depannya bergeser, dan
membiarkannya melakukan hal yang ia tahu akan dilakukannya.
“Aku akan menarik ucapanku...”
Di depan mata Angelica, di jari
manis tangan kiri yang hingga hari ini masih terpasang cincin pertunangannya
dengannya, dengan sedikit gemetar, ia melepaskan cincin itu perlahan dan
menjatuhkannya ke lantai hingga tergelinding entah kemana.
“Meskipun aku belum akan
menyerah... maafkan aku atas segalanya... Angie...”
Angelica terpana mendengar
kalimat itu. Ia yang sejak tadi sudah menangis, kini air matanya semakin deras
mengalir. Hingga akhirnya, tangisnya pecah dan masuk ke dalam pelukan Ethan
dengan histeris.
“Maafkan aku...! Maafkan aku
juga, Ethan..! Maaf...! Maaf...!!”
Gadis itu kembali histeris.
Ethan yang tidak tahan mendengarkan jeritan itu, akhirnya luluh. Ia membalas
pelukan terakhir itu dengan erat, dan ikut menangis dengan menyembunyikan
wajahnya.
Dalam pelukannya dan
jeritannya, ia terus memanggil gadis itu dengan lirih sambil meminta maaf.
Hingga tangisan itu berhenti dan mereka memutuskan untuk berjalan di jalan
masing-masing.....
~ II ~
Setengah tahun berlalu sejak
hari itu. Angelica dan yang lainnya kembali menjalani hari-harinya dengan sibuk
seperti biasa. Karena ini akan jadi tahun terakhirnya di Escoriale, ia
menghargai hari-hari itu dengan bahagia dan senang seperti biasa.
Di semester akhir kelas tiga
ini, Angelica memutuskan untuk berhenti dari kegiatan kelas dan fokus untuk
Dewan Siswa serta ujian masuk kuliah di universitas terkemuka di dunia,
Universitas Oxford, bersama dengan Johan yang akan mengambil jurusan Ekonomi
dan Kedokteran yang telah menjadi impiannya sejak lama. Sementara Angelica
memutuskan untuk mengambil jurusan Kimia demi melanjutkan kembali usaha
keluarganya yang sempat terhenti, namun kini bangkit kembali berkat bantuan
Ethan yang akhirnya bersedia untuk menjalaninya sambil memberikan bimbingan
padanya.
“Rupanya kau disini. Kenapa
tidak langsung saja ke ruang Dewan Siswa, sih”
Angelica yang sedang duduk
sambil meminum milk tea favoritnya di tempat air mancur dekat gedung SMP
sendirian, sudah mulai dioceh oleh...
“Masih ada waktu sebelum
kegiatan kita dimulai, kan, Johan?”
“Memang, sih. Tapi tidak susah
memberitahuku, kan? Kita kan sekelas”
“Hehe, maaf. Habis tadi kau
langsung sibuk membereskan kelas karena hari ini kau giliran piket”
Setelah sedikit merajuk dengan berkata
‘tidak adil’, Johan tersenyum lega dan membeli minumannya sendiri di mesin
penjual otomatis.
“Lagi-lagi beli cafe latte”
komentar Angelica datar.
“Aku belajar sampai pagi hari
ini. Tidakkah kau kasihan padaku sedikitpun?” balas Johan pura-pura sewot.
“Sebegitu inginnya
mengalahkanku dalam peringkat ujian nasional nanti? Aku Cuma peringkat lima,
lho”
“Dan aku peringkat dua belas. Kau
dan Ethan benar-benar master semua pelajaran” gerutunya lagi.
“Ahaha, kau masih kesal karena
Ethan ternyata berada dua peringkat di atasku?” Angelica pura-pura tertawa.
Memang, saat ujian awal dan
akhir semester lalu, peringkat Angelica dan Ethan tidak berselisih jauh meski
Ethan masih di bawah Angelica. Namun saat ujian nasional seminggu yang lalu,
entah bagaimana Ethan bisa menjadi peringkat pertama dari seluruh anak kelas
tiga.
“Mana mungkin aku tidak kesal.
Dia langsung melesat jauh begitu lepas darimu”
Angelica hanya tertawa, lalu
menggeser dari tempatnya duduk untuk memberi tempat pada Johan. mereka saling
terdiam kemudian, sambil menikmati minuman masing-masing dan pemandangan taman
air mancur. Dimana latarnya merupakan taman yang dilindungi pohon-pohon yang
tidak begitu tinggi, bersamaan dengan daun yang mulai berguguran dan angin yang
berhembus perlahan namun sedikit menusuk tulang.
“Sudah musim dingin lagi,
ya...” pinta Angelica pelan.
“... Iya, ya...” balas Johan
sambil meneguk minumannya lagi.
Mereka kembali saling terdiam.
“Tadi, aku bertemu dengan
Sylvie, Harry dan Hans”
“Ooh. Kalian membicarakan apa?”
“Soal liburan yang dulu sempat
tertunda karena...... kasusku...”
Angelica sedikit ragu
mengatakannya. Johan yang mendengarnya hanya sedikit menurunkan kelopak
matanya. Setidaknya, ia sudah ikhlas kehilangan laki-laki yang paling
disayanginya sebagai sahabat itu karena wanita di sampingnya hingga hari ini.
“Libur musim dingin kita lebih
pendek, lho. Kita harus ikut ujian masuk universitas, kan?”
“Iya, sih. Tapi... tidak
apa-apa jika kita bersantai sebentar, kan? Setelah semua yang terjadi...”
Angin kembali berhembus. Johan
kembali menyipitkan matanya, terlihat semburat kesedihan saat ia mengatakan
‘iya, ya...’ sambil membuang kaleng minumannya ke tempat sampah tepat di
sampingnya.
“Begini, Angie...”
“... ya...?”
Angelica menatap mata Johan
secara langsung. Ia merasa bahwa ia mengetahui apa yang ingin dibicarakan
olehnya. Begitu juga sebaliknya.
“Yang dikatakan Ethan setengah
tahun lalu itu benar, kok...” pintanya memulai pembicaraan.
“... soal bahwa kau pewaris
paling hina itu?”
“Ya...”
Angelica terdiam. Ia kembali menatap
ke depan dan menarik nafas.
“Aku akan menunggu”
“Eh?” Johan langsung mendongak,
melihat wajah Angelica.
“Aku akan menunggu sampai kau
siap menceritakannya”
Johan tertawa. “Hari itu tidak
akan pernah terjadi”
“Kalau begitu, aku bisa mencari
tahu sendiri. Aku punya informan yang bisa diandalkan, kok”
Johan hanya tertawa, walau
dalam hatinya ia tidak menyangka bahwa Angelica masih punya rahasia dengannya.
Meski begitu, ia yakin suatu saat gadis itu akan memberitahukannya.
“Aku dan Russell...”
“Ya...?” balas Angelica sambil
melihatnya kembali.
“Kami berdua sama-sama bukan
pewaris yang baik. Lebih tepatnya, kami berusaha menjadi seorang pewaris yang
baik... Sama-sama melewati masa paling menyakitkan untuk hidup kami...
sama-sama terluka, namun kami sama-sama berjuang menyembuhkannya sendiri...
“Walau begitu, kami berdua...
berusaha saling menyembuhkan mati-matian, meski pada akhirnya luka itu tidak
pernah hilang... kami hanya menyimpannya, di sudut hati terdalam... berharap
luka itu segera terbalaskan oleh orang-orang yang memberi harapan pada kami...
sehina itulah... kami...”
Johan bergetar sambil
menggenggam tangannya sendiri.
“Johan...”
“Di tengah hancurnya kegalauan
atas kelemahanku sendiri... kau hadir di hadapanku... saat bertengkar denganmu
di stasiun waktu pertama kali bertemu, menurutku kau gadis kuat dan tegar dalam
menghadapi kenyataan..”
“Kenapa kau berpikir seperti
itu?” tanya Angelica bingung.
“Karena kau tidak segan
menyangkal kesalahanmu sekalipun memang kenyataannya seperti itu”
“Ugh, kau jahat!”
“Hahaha” Johan tertawa pahit.
“Meski begitu, sampai sekarang aku tak tahu siapa yang salah dalam kejadian
itu”
Mendengarnya, Angelica
memanyunkan bibirnya, pura-pura kesal.
“Saat itu, aku berpikir... ‘mungkin
tidak akan mudah meyakinkan gadis ini untuk bisa mempercayaiku.’ Karenanya, aku
sedikit berulah padamu. Aku sengaja selalu membuatmu kesal, karena aku tahu
temperamenmu tidak mudah terkontrol waktu itu” Johan tersenyum.
“Uugh, kau ini sedang memuji
atau menghina, sih?” gerutu Angelica sebal. Johan kembali tertawa.
“Setelah kau sadar saat kau
tiba-tiba tidak sadarkan diri pertama kalinya dan menceritakan semuanya, aku
paham... kau juga sama denganku... kau juga sedang berusaha... menyembuhkan
lukamu sendirian...”
Angin berhembus sedikit
kencang, menerbangkan rambut pirang Angelica yang tergerai lembut. Setelah
sekian lama bersamanya, setelah ia berusaha menutup hati yang sebenarnya, ia
tidak menyangka bahwa Johan mengetahuinya selama ini. Mengetahui bahwa, luka
yang selama ini disimpannya sendiri bukan hanya karena keberadaan Ethan,
melainkan karena rasa bersalahnya terhadap orang-orang yang telah tersakiti
dengan keberadaannya.
Angelica yang dulu bersikap
angkuh nan sombong, berubah menjadi korban atas apa yang telah ia lakukan pada
teman-temannya dulu hingga membuatnya lari ke London, membawa luka dan
meninggalkan kenangan pahit yang selama ini dijalaninya sendiri. Sekalipun ingin
kembali walau hanya sekedar melepas rindu pada sang Ibu, ia enggan pulang
karena rasa sakit itu akan kembali menusuknya.
“Mungkin saat itulah...
perasaan ingin melindungimu itu muncul dari hatiku... aku tak ingin lagi...
melihat kejadian yang sama seperti yang kualami dulu... sekalipun aku mudah
rapuh dan hancur... sekalipun aku bisa jadi gila mengingat masa-masa kelam
hidupku... aku ingin... melindungi masa depanmu, Angie...”
Menyembuhkan luka bukanlah hal
yang mudah, terutama saat orang yang kau cintai yang melakukannya. Mungkin bagi
Angelica, teman-teman dan orang-orang di sekitarnya bukanlah orang yang
dicintainya. Namun keberadaan mereka yang sebenarnya penting baginya adalah
bukti bahwa ia hidup.
Tanpa sadar, ia telah masuk
dalam pelukan Johan. Ia sesenggukan meski sedikit tertahan.
“Angie...” panggil Johan pelan,
sambil mengelus kepalanya perlahan. “Maukah... memulai semuanya kembali dengan
perlahan...?”
Angelica sedikit terbelalak.
“Salah sedikit saat di
pertengahan tidak apa-apa. Toh akan selalu akan ada kesalahan, kok. Kita akan
perbaiki sama-sama, dan mulai dari awal lagi...”
“........”
“Teruslah bersamaku, Angie...
aku ingin... kaulah yang jadi kebahagiaanku...”
Sesenggukan itu berubah menjadi
tangis tak tertahan darinya. Johan mendekap tubuhnya dengan lembut.
“Maafkan aku, Johan... maafkan
aku telah melukaimu...”
Ia mengatakannya di tengah histeris
tangisannya. Setelah tenang beberapa saat, ia melepaskan pelukannya.
“Dan.... terima kasih sudah mau
menerima... aku yang tidak baik seperti ini...”
Johan terkejut sekilas, lalu
tersenyum sambil mengelus kepala Angelica sambil tersenyum.
“Ya... kita berjuang, ya...
Angie...”
Setelahnya, Johan menarik pipi
Angelica, dan menciumnya dengan lembut...
Meski begitu, ini bukan akhir
dari kehidupan mereka. Ini adalah awal yang baru, yang tentu akan membuka jalan
awal hidup mereka masing-masing. Meski jalannya sendiri sudah ditentukan,
mereka akan berusaha menjalaninya dengan yakin, bahwa ini akan menjadi tantangan
untuk kehidupan mereka selanjutnya...
Pasti...
The End
0 comment:
Posting Komentar