Sabtu, 12 Agustus 2017

Wings of Melodies ~ Memories Edition - Last Chapter

“Johan...”
Angelica sedikit terkejut dengan perlakuan tiba-tiba itu dari Johan. mendengarnya memanggilnya, ia semakin erat memeluknya.
“Takkan kubiarkan...”
“Eh...?” Angelica tak yakin dengan pendengarannya.

“Aku takkan biarkan Ethan membuatmu goyah lagi... aku akan hilangkan luka itu darimu, karenanya... kali ini, aku yang akan membuatmu yakin sampai kau tidak sanggup berbalik lagi...”
Angelica terkejut mendengar kalimat yang sangat percaya diri itu, karena Johan mengatakannya dengan nada dan wajah yang sangat menantang. Ia terpana, malu, sekaligus sedih karena bahagia.
“Iya...! aku akan menantikannya...!”
Mendengar kalimatnya sambil melihat senyumannya, Johan pun ikut tersenyum bahagia, walau semburat kesedihan itu masih ada dalam dirinya dan ia tutupi dengan baik saat menatap Angelica.
“Sayangnya aku pun begitu”
Angelica dan Johan kembali menghadapi Ethan. Mereka saling melepaskan diri dan saling bergandengan tangan.
“Angie, bagaimanapun perasaanmu, aku tidak bisa menerima keputusan sepihak ini darimu. Kau juga tidak bisa menolak kenyataan bahwa kau adalah tunanganku hingga hari ini”
“Aku tidak merasa aku sepihak padamu. Jika diantara kita ada yang bersikap seperti itu, itu adalah kamu. Kau benar, aku tidak bisa menyalahkan semua ini padamu. Tapi siapapun, baik cewek atau cowok, jika diperlakukan seperti apa yang kau lakukan padaku, mereka akan mengambil keputusan yang sama denganku jika mereka melihat realita yang ada”
“Walau begitu aku tidak bisa terus membiarkanmu bersamanya!”
Angelica kaget mendengar seruan Ethan. Johan semakin mengerutkan alis.
“Ethan, jika kau sadar diri, lepaskan Angie. Aku tak bisa membiarkannya menderita lagi karena orang yang dia hargai, namun kau tak bisa hargainya!”
Johan berseru pada Ethan dan kembali menarik Angelica dalam pelukannya.
“Kalau aku tidak menghargainya, lalu kalian anggap apa pengorbanan yang kulakukan untuknya meraih kebebasan kembali?”
Ethan yang bertanya dengan nada logis dan dalam membuat Angelica tersentak. Tapi Johan tidak menyerah.
“Hah? Mana kutahu soal itu! Angie bahkan tidak pernah tahu apa yang kau lakukan terhadap usaha keluarganya, kan? Kalau seandainya kau bilang dari dulu, aku sudah menyerah sejak aku tahu dia masih menyukaimu!”
Angelica mengangkat wajahnya, memandang Johan yang masih berargumen dengan Ethan, membela dirinya dengan wajah datar.
“Kau yang meninggalkan Angelica dengan keadaan ‘sekarat’, tanpa pernah tahu sedikitpun apa yang telah ia perjuangkan demi bisa mendapatkan kebebasannya kembali dengan caranya sendiri, lalu tiba-tiba kau datang dan menyatakan diri bahwa kaulah yang telah jadi ‘pahlawan’ dari semua kejadian ini!? Jangan membuatku tertawa!!”
BUAAK!
Siapapun tentu akan terkejut mendengar suara pukulan itu, yang ternyata datang dari Ethan sendiri untuk Johan!
Angelica bahkan tidak sadar sejak kapan Johan melepaskan pelukannya saking ia terpana mendengar kalimat Johan sejak tadi. Bahkan tak sadar saat Ethan mendekatinya demi memukul Johan.
Ia langsung menghampiri Johan yang terjembab di lantai, dibantu oleh Karl yang langsung menempelkan handuk basah ke pipi Johan dan menyandarkannya ke atas badannya.
“Johan, kau baik-baik saja!? Ethan, kenapa!?”
Angelica terkejut. Wajah Ethan telah merah padam. Meski Ethan selalu berkata ketus dan tepat sasaran, namun baru kali ini ia melihatnya begitu kesal dan marah. Ia yang tadinya kesal, kini merendahkan nada suaranya dengan rasa khawatir nan bersalah yang tergambar di wajahnya.
“Ethan, aku tahu perasaanmu, tapi tolong maafkan aku dan kata-kata Johan barusan... namun seperti yang dikatakannya, aku tak merasa bahwa kau sudah berjuang untukku setelah apa yang kau lakukan padaku... aku kecewa padamu, Ethan!”
Ethan hanya diam sambil memandang Angelica dengan datar.
“Aku kecewa, tapi... aku benar-benar berterima kasih karena kau telah memperjuangkan usaha keluargaku hingga saat ini. Karenanya, sebagai pewaris, bisakah aku meminta satu hal padamu?”
“... apa?” tanya Ethan dengan nada datar.
Angelica menarik nafas panjang, dan kembali menatap Ethan setelah meyakinkan dirinya dengan mantap.
“Aku... ingin meneruskan usaha Ayahku kembali. Tapi dengan diriku sekarang, aku sama sekali tidak yakin menjalaninya dengan kemampuanku saat ini. Terlebih lagi, aku sama sekali tidak tahu bagaimana menjalankannya karena Ayah tidak pernah melibatkanku selama ini. Karenanya sampai aku sanggup berdiri sendiri untuk meneruskannya... bisakah aku memintamu untuk memimpin perusahaan keluargaku?”
Ethan sedikit terkejut, tapi anehnya ia tidak merasa Angelica lancang. Karena ia bisa melihat permintaan sungguh-sungguhnya dari matanya. Ia kembali mengerutkan alisnya.
“Lalu, apa yang bisa kau berikan padaku sebagai gantinya?”
Angelica berpikir sesaat.
“Saham kepemilikan sebesar 80 persen atas perusahaan. Untuk saat ini hanya itu yang...”
“Kau tahu bahwa itu saja tidak cukup untuk membayar semua yang telah kulakukan untuk keluargamu, kan?”
“Aku tak punya apapun saat ini! Jika yang kau inginkan adalah uang pengembalian atas hutang palsu yang dibuat oleh keluarga kak Russell, itu...!”
“Aku tidak peduli soal uang. Dan bukan itu yang kuinginkan saat ini darimu”
“Jika yang kau inginkan adalah Angie, tak akan kuserahkan padamu!”
Johan yang sejak tadi diam mengikuti situasi dan menanti saatnya membuka suara, kini berseru dengan nada menantang dengan berdiri di depan Angelica. walau begitu, ia masih memegang kompres pendingin di pipi tempat Ethan memukulnya.
“Jika itu yang kau inginkan darinya, aku takkan membiarkanmu bersamanya apapun yang terjadi, meskipun ia memilih untuk bersamamu demi perusahaannya!”
Angelica hanya bisa terpana mendengar kalimatnya yang begitu percaya diri dan tanpa sadar menyebut namanya. Karl yang mendengarnya pun, tersenyum sambil memejamkan matanya dengan tenang.
Namun sayangnya...
“Sudah kubilang, kan? Aku tidak bisa membiarkan Angie bersamamu. Meskipun perusahaanmu adalah perusahaan elite yang telah menopang kehidupan sebagian besar warga Inggris, kau tidak lebih dari pewaris paling hina yang pernah ada!!”
Kalimat Ethan barusan, jelas membuat semua yang mendengarnya terkejut bukan kepalang. Angelica dan Karl pias, sementara seluruh keluarga Miller yang mendengarnya ikut terbelalak.
Namun hanya Johan yang menunduk saat mendengarnya. Ia diam tanpa diketahui seperti apa ekspresinya.
Tak lama kemudian, Angelica mengingat hal yang pernah dikatakan Johan padanya saat mereka di Indonesia.

“Soal aku, kau bisa tanyakan ke Russell... karena jika aku sendiri yang mengatakannya... mungkin aku bisa jadi gila...”
  
Angelica kembali berpikir keras. Ia melihat punggung Johan yang sedang berusaha membelanya. Saat mendengar kalimat itu dari Ethan, ia menyadari bahwa ia memang masih belum mengetahui apa-apa tentang Johan selain dirinya yang sekarang. Ia hanya tahu Johan selama di sekolah dan saat berada di sekitar teman-temannya. Meski ia pernah melihatnya saat dihajar di sekolah oleh ayahnya, namun Johan tidak pernah lagi membahas hal itu sampai hari ini.
“Walau begitu, aku tidak peduli”
Ethan terkejut.
“Aku tidak peduli. Karena sebelumnya pun, aku juga pewaris paling hina. Aku selalu menyombongkan diri di depan orang-orang yang tidak setara denganku. Hingga sampai saat keluargaku jatuh, tak ada satupun yang mau menolong orang rendahan sepertiku. Karenanya... aku memilih pergi dari kotaku dengan berat hati”
Ethan sedikit menyipitkan matanya. Namun Johan yang terpana mendengar cerita yang sudah lama ia dengar, ia berbalik ke arah Angelica yang kemudian tersenyum saat menatapnya.
“Hei, Angie”
“Hmm?”
“Aku... tidak akan menjamin kau tetap bersamaku saat kau tahu semuanya, lho...”
“... Johan...”
“Tapi... walau begitu aku ingin kau tetap bersamaku... terus berada di sampingku... meski suatu saat kau membenciku hingga merasa jijik sekalipun saat kau mengetahui masa laluku... aku hanya ingin... kau tetap menjadi... yang pertama dan terakhir untukku...”
Angelica menunduk. Sebutir airmata jatuh dari pelupuk mata yang tertutup poni rambutnya, sambil tersenyum tipis. Ia kembali mengangkat wajahnya perlahan, dan tersenyum lebar sambil menyipitkan matanya...
“Seperti yang dikatakannya, Ethan...”
Ethan terkejut melihat wajah bahagianya. Seketika ia merasa hancur, penyesalan yang mati-matian ia simpan sejak ia bertemu kembali dengan Angelica yang telah bersama dengan laki-laki yang menganggapnya saingan sahabatnya, keluar bersamaan dengan rasa sedih dan rindu yang ia kunci rapat-rapat demi bisa bertemu dan mengembalikan kejayaan sang terkasih selama ini.
Ia menyesal telah meninggalkannya tanpa mengucapkan apapun. Ia menyesal telah mengabaikan semua surat yang dikirimkan gadis itu ke rumahnya di London dan dikirimkan kembali oleh Louis sang butler selama ia di Belanda. Ia menyesal berandai bahwa suatu saat gadis itu akan tersenyum saat ia tahu bahwa ia telah berjuang untuknya. Dan bodohnya, ia membiarkan gadis itu tidak mengetahui semua tindak-tanduknya demi dirinya.
Sebenarnya sempat terlintas di pikirannya, jika suatu saat gadis itu mencintai orang lain yang ia pikir telah menyelamatkan hidupnya dari keterpurukan dan penderitaan yang membuatnya kacau balau seperti sekarang, apa yang akan ia lakukan? Nyatanya, ia terus berpikir dengan naif bahwa ia akan meninggalkan orang itu dan memilih tetap bersanding bersamanya. Ia merasa bodoh saat hal itu ternyata tidak berjalan seperti yang ia inginkan.
Sejak keluarganya memutuskan untuk memberi pengumuman dirinya dinyatakan sebagai pewaris, ia meminta Hans untuk mengawasi Angelica. dan seperti yang telah ia ketahui bahwa gadis itu telah berpaling, namun ia masih berpikir naif. Walau begitu, pertemuannya dengan gadis itu di Jerman masih belum membuka matanya.
Dan kini, ia harus membayar semua kenaifan dan perjuangan berat tanpa henti demi gadis itu untuk melihatnya memutuskan tali pertunangan yang telah dijaganya selama ini.
Namun satu hal yang tidak pernah ia sesali, yaitu bahwa, ia selalu mencintainya dan tak berpikir bahwa ia lancang telah mengganti sosok dirinya untuk orang lain.
Mungkin karena di lubuk hatinya terdalam, ia telah siap menerima kenyataan yang jelas tidak diinginkan siapapun itu, walau tidak dengan cara yang lebih baik.
“Aku mengerti...”
Setelah berkata seperti itu, Ethan berjalan mendekati Angelica. Johan yang berdiri di depannya bergeser, dan membiarkannya melakukan hal yang ia tahu akan dilakukannya.
“Aku akan menarik ucapanku...”
Di depan mata Angelica, di jari manis tangan kiri yang hingga hari ini masih terpasang cincin pertunangannya dengannya, dengan sedikit gemetar, ia melepaskan cincin itu perlahan dan menjatuhkannya ke lantai hingga tergelinding entah kemana.
“Meskipun aku belum akan menyerah... maafkan aku atas segalanya... Angie...”
Angelica terpana mendengar kalimat itu. Ia yang sejak tadi sudah menangis, kini air matanya semakin deras mengalir. Hingga akhirnya, tangisnya pecah dan masuk ke dalam pelukan Ethan dengan histeris.
“Maafkan aku...! Maafkan aku juga, Ethan..! Maaf...! Maaf...!!”
Gadis itu kembali histeris. Ethan yang tidak tahan mendengarkan jeritan itu, akhirnya luluh. Ia membalas pelukan terakhir itu dengan erat, dan ikut menangis dengan menyembunyikan wajahnya.
Dalam pelukannya dan jeritannya, ia terus memanggil gadis itu dengan lirih sambil meminta maaf. Hingga tangisan itu berhenti dan mereka memutuskan untuk berjalan di jalan masing-masing.....

~ II ~

Setengah tahun berlalu sejak hari itu. Angelica dan yang lainnya kembali menjalani hari-harinya dengan sibuk seperti biasa. Karena ini akan jadi tahun terakhirnya di Escoriale, ia menghargai hari-hari itu dengan bahagia dan senang seperti biasa.
Di semester akhir kelas tiga ini, Angelica memutuskan untuk berhenti dari kegiatan kelas dan fokus untuk Dewan Siswa serta ujian masuk kuliah di universitas terkemuka di dunia, Universitas Oxford, bersama dengan Johan yang akan mengambil jurusan Ekonomi dan Kedokteran yang telah menjadi impiannya sejak lama. Sementara Angelica memutuskan untuk mengambil jurusan Kimia demi melanjutkan kembali usaha keluarganya yang sempat terhenti, namun kini bangkit kembali berkat bantuan Ethan yang akhirnya bersedia untuk menjalaninya sambil memberikan bimbingan padanya.

“Rupanya kau disini. Kenapa tidak langsung saja ke ruang Dewan Siswa, sih”
Angelica yang sedang duduk sambil meminum milk tea favoritnya di tempat air mancur dekat gedung SMP sendirian, sudah mulai dioceh oleh...
“Masih ada waktu sebelum kegiatan kita dimulai, kan, Johan?”
“Memang, sih. Tapi tidak susah memberitahuku, kan? Kita kan sekelas”
“Hehe, maaf. Habis tadi kau langsung sibuk membereskan kelas karena hari ini kau giliran piket”
Setelah sedikit merajuk dengan berkata ‘tidak adil’, Johan tersenyum lega dan membeli minumannya sendiri di mesin penjual otomatis.
“Lagi-lagi beli cafe latte” komentar Angelica datar.
“Aku belajar sampai pagi hari ini. Tidakkah kau kasihan padaku sedikitpun?” balas Johan pura-pura sewot.
“Sebegitu inginnya mengalahkanku dalam peringkat ujian nasional nanti? Aku Cuma peringkat lima, lho”
“Dan aku peringkat dua belas. Kau dan Ethan benar-benar master semua pelajaran” gerutunya lagi.
“Ahaha, kau masih kesal karena Ethan ternyata berada dua peringkat di atasku?” Angelica pura-pura tertawa.
Memang, saat ujian awal dan akhir semester lalu, peringkat Angelica dan Ethan tidak berselisih jauh meski Ethan masih di bawah Angelica. Namun saat ujian nasional seminggu yang lalu, entah bagaimana Ethan bisa menjadi peringkat pertama dari seluruh anak kelas tiga.
“Mana mungkin aku tidak kesal. Dia langsung melesat jauh begitu lepas darimu”
Angelica hanya tertawa, lalu menggeser dari tempatnya duduk untuk memberi tempat pada Johan. mereka saling terdiam kemudian, sambil menikmati minuman masing-masing dan pemandangan taman air mancur. Dimana latarnya merupakan taman yang dilindungi pohon-pohon yang tidak begitu tinggi, bersamaan dengan daun yang mulai berguguran dan angin yang berhembus perlahan namun sedikit menusuk tulang.
“Sudah musim dingin lagi, ya...” pinta Angelica pelan.
“... Iya, ya...” balas Johan sambil meneguk minumannya lagi.
Mereka kembali saling terdiam.
“Tadi, aku bertemu dengan Sylvie, Harry dan Hans”
“Ooh. Kalian membicarakan apa?”
“Soal liburan yang dulu sempat tertunda karena...... kasusku...”
Angelica sedikit ragu mengatakannya. Johan yang mendengarnya hanya sedikit menurunkan kelopak matanya. Setidaknya, ia sudah ikhlas kehilangan laki-laki yang paling disayanginya sebagai sahabat itu karena wanita di sampingnya hingga hari ini.
“Libur musim dingin kita lebih pendek, lho. Kita harus ikut ujian masuk universitas, kan?”
“Iya, sih. Tapi... tidak apa-apa jika kita bersantai sebentar, kan? Setelah semua yang terjadi...”
Angin kembali berhembus. Johan kembali menyipitkan matanya, terlihat semburat kesedihan saat ia mengatakan ‘iya, ya...’ sambil membuang kaleng minumannya ke tempat sampah tepat di sampingnya.
“Begini, Angie...”
“... ya...?”
Angelica menatap mata Johan secara langsung. Ia merasa bahwa ia mengetahui apa yang ingin dibicarakan olehnya. Begitu juga sebaliknya.
“Yang dikatakan Ethan setengah tahun lalu itu benar, kok...” pintanya memulai pembicaraan.
“... soal bahwa kau pewaris paling hina itu?”
“Ya...”
Angelica terdiam. Ia kembali menatap ke depan dan menarik nafas.
“Aku akan menunggu”
“Eh?” Johan langsung mendongak, melihat wajah Angelica.
“Aku akan menunggu sampai kau siap menceritakannya”
Johan tertawa. “Hari itu tidak akan pernah terjadi”
“Kalau begitu, aku bisa mencari tahu sendiri. Aku punya informan yang bisa diandalkan, kok”
Johan hanya tertawa, walau dalam hatinya ia tidak menyangka bahwa Angelica masih punya rahasia dengannya. Meski begitu, ia yakin suatu saat gadis itu akan memberitahukannya.
“Aku dan Russell...”
“Ya...?” balas Angelica sambil melihatnya kembali.
“Kami berdua sama-sama bukan pewaris yang baik. Lebih tepatnya, kami berusaha menjadi seorang pewaris yang baik... Sama-sama melewati masa paling menyakitkan untuk hidup kami... sama-sama terluka, namun kami sama-sama berjuang menyembuhkannya sendiri...
“Walau begitu, kami berdua... berusaha saling menyembuhkan mati-matian, meski pada akhirnya luka itu tidak pernah hilang... kami hanya menyimpannya, di sudut hati terdalam... berharap luka itu segera terbalaskan oleh orang-orang yang memberi harapan pada kami... sehina itulah... kami...”
Johan bergetar sambil menggenggam tangannya sendiri.
“Johan...”
“Di tengah hancurnya kegalauan atas kelemahanku sendiri... kau hadir di hadapanku... saat bertengkar denganmu di stasiun waktu pertama kali bertemu, menurutku kau gadis kuat dan tegar dalam menghadapi kenyataan..”
“Kenapa kau berpikir seperti itu?” tanya Angelica bingung.
“Karena kau tidak segan menyangkal kesalahanmu sekalipun memang kenyataannya seperti itu”
“Ugh, kau jahat!”
“Hahaha” Johan tertawa pahit. “Meski begitu, sampai sekarang aku tak tahu siapa yang salah dalam kejadian itu”
Mendengarnya, Angelica memanyunkan bibirnya, pura-pura kesal.
“Saat itu, aku berpikir... ‘mungkin tidak akan mudah meyakinkan gadis ini untuk bisa mempercayaiku.’ Karenanya, aku sedikit berulah padamu. Aku sengaja selalu membuatmu kesal, karena aku tahu temperamenmu tidak mudah terkontrol waktu itu” Johan tersenyum.
“Uugh, kau ini sedang memuji atau menghina, sih?” gerutu Angelica sebal. Johan kembali tertawa.
“Setelah kau sadar saat kau tiba-tiba tidak sadarkan diri pertama kalinya dan menceritakan semuanya, aku paham... kau juga sama denganku... kau juga sedang berusaha... menyembuhkan lukamu sendirian...”
Angin berhembus sedikit kencang, menerbangkan rambut pirang Angelica yang tergerai lembut. Setelah sekian lama bersamanya, setelah ia berusaha menutup hati yang sebenarnya, ia tidak menyangka bahwa Johan mengetahuinya selama ini. Mengetahui bahwa, luka yang selama ini disimpannya sendiri bukan hanya karena keberadaan Ethan, melainkan karena rasa bersalahnya terhadap orang-orang yang telah tersakiti dengan keberadaannya.
Angelica yang dulu bersikap angkuh nan sombong, berubah menjadi korban atas apa yang telah ia lakukan pada teman-temannya dulu hingga membuatnya lari ke London, membawa luka dan meninggalkan kenangan pahit yang selama ini dijalaninya sendiri. Sekalipun ingin kembali walau hanya sekedar melepas rindu pada sang Ibu, ia enggan pulang karena rasa sakit itu akan kembali menusuknya.
“Mungkin saat itulah... perasaan ingin melindungimu itu muncul dari hatiku... aku tak ingin lagi... melihat kejadian yang sama seperti yang kualami dulu... sekalipun aku mudah rapuh dan hancur... sekalipun aku bisa jadi gila mengingat masa-masa kelam hidupku... aku ingin... melindungi masa depanmu, Angie...”
Menyembuhkan luka bukanlah hal yang mudah, terutama saat orang yang kau cintai yang melakukannya. Mungkin bagi Angelica, teman-teman dan orang-orang di sekitarnya bukanlah orang yang dicintainya. Namun keberadaan mereka yang sebenarnya penting baginya adalah bukti bahwa ia hidup.
Tanpa sadar, ia telah masuk dalam pelukan Johan. Ia sesenggukan meski sedikit tertahan.
“Angie...” panggil Johan pelan, sambil mengelus kepalanya perlahan. “Maukah... memulai semuanya kembali dengan perlahan...?”
Angelica sedikit terbelalak.
“Salah sedikit saat di pertengahan tidak apa-apa. Toh akan selalu akan ada kesalahan, kok. Kita akan perbaiki sama-sama, dan mulai dari awal lagi...”
“........”
“Teruslah bersamaku, Angie... aku ingin... kaulah yang jadi kebahagiaanku...”
Sesenggukan itu berubah menjadi tangis tak tertahan darinya. Johan mendekap tubuhnya dengan lembut.
“Maafkan aku, Johan... maafkan aku telah melukaimu...”
 Ia mengatakannya di tengah histeris tangisannya. Setelah tenang beberapa saat, ia melepaskan pelukannya.
“Dan.... terima kasih sudah mau menerima... aku yang tidak baik seperti ini...”
Johan terkejut sekilas, lalu tersenyum sambil mengelus kepala Angelica sambil tersenyum.
“Ya... kita berjuang, ya... Angie...”
Setelahnya, Johan menarik pipi Angelica, dan menciumnya dengan lembut...

Meski begitu, ini bukan akhir dari kehidupan mereka. Ini adalah awal yang baru, yang tentu akan membuka jalan awal hidup mereka masing-masing. Meski jalannya sendiri sudah ditentukan, mereka akan berusaha menjalaninya dengan yakin, bahwa ini akan menjadi tantangan untuk kehidupan mereka selanjutnya...

Pasti...


The End

0 comment:

Posting Komentar

 

Diana Rachmawati Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template