Kamis, 08 Juni 2017

Wings of Melodies ~ Memories Edition - Chapter 22

J
am tujuh malam, Johan tiba di sebuah rumah. Ia turun dari mobilnya setelah supirnya membukakan pintu untuknya. Ia melihat lantai dua rumah tersebut, dan meyakinkan diri atas apa yang akan dilakukannya di sana.
“Selamat datang, Tuan Muda. Nona sudah menunggumu”
Seorang maid memberi salam padanya sambil mengantarnya menuju ‘Nona’nya. Johan mengangguk dan mengikutinya. Ia bertekad dalam hatinya.

‘Kali ini akan kuakhiri... karena aku dan dia sama-sama tidak bisa menunggu lebih lama lagi... setelah itu, aku akan...’

Angelica memejamkan matanya sambil menggenggam tangan Ethan yang mengelus pipinya dengan lembut. Airmatanya sedikit mengalir keluar, dan ia tersenyum lega sekaligus, rasa rindu yang akhirnya tersampaikan lewat genggamannya. Setelah beberapa saat ia menghayati perasaan itu, ia kembali menatapnya.
Ethan membalas tatapan itu dengan datar, namun rasa sedih dan bersalah juga ikut memenuhi arti tatapannya. Walau begitu, ia tetap berusaha tegar dan bersikap seperti biasa. Perlahan, ia menarik kembali tangannya.
“Permisi, Tuan. Makanan Anda telah siap”
“Ah, ya...”
Waiter pun datang seakan di saat yang tepat. Setelah waiter selesai menyajikan pesanannya, Ethan mulai makan lebih dulu.
“Kenapa, Angelica?”
Ia tersenyum dan menggeleng.
“Tidak... tidak apa-apa...”
Ethan merasa keheranan, namun ia pun balas tersenyum tanpa berpikir macam-macam...
Selesai makan, mereka kembali berbincang sederhana. Meski kini mereka adalah tunangan, namun kenyataan bahwa mereka juga teman sejak kecil tak bisa dipungkiri oleh siapapun. Mereka saling bercerita tentang hari-hari yang telah mereka lewati selama tak ada masing-masing di samping mereka. Seperti biasa, Ethan tak banyak berkomentar, namun Angelica dengan bahagia menceritakan hari-hari yang ia lewati selama di Escoriale. Entah bagaimana, rasa bencinya pada Ethan perlahan berkurang. Terlebih setelah ia mendengar pengorbanannya dari Lilica demi dirinya, yang meski juga menghancurkan keluarganya...

Akhirnya, mereka sampai di tempat yang menjadi tujuan utama mereka. Meski ini sudah kesekian kalinya, namun ia tetap takjub melihat puri keluarga utama Miller yang super mewah dan megah.
“Selamat datang kembali, Tuan Muda Ethan. Dan selamat datang di puri keluarga Miller, Nona Angelica” sapa sang butler utama, Louis Raymond, yang menyambut kedatangan mereka sambil membungkuk sopan.
“Lama tidak bertemu, Louis. Terima kasih atas sambutanmu” balas Angelica sambil tersenyum padanya.
“Lama tidak bertemu, Nona Angelica. Kulihat hari ini kau membawa seseorang” jawabnya sambil melirik pria yang berada di sisi kanan Angelica.
“Oh, dia Karl Leigner, butler keluarga Orlando yang akan bekerja untukku secara temporer. Aku sudah janjian dengannya di gerbang tadi” jawab Angelica sambil memperkenalkan. Sebenarnya saat makan malam tadi, Angelica menghubungi Karl yang diminta ikut dan menunggunya di depan puri. Walau awalnya segan, namun akhirnya ia menerimanya. Ia pun menyapa Louis dengan sopan.
“Baiklah, silakan masuk. Nyonya sudah menunggu kalian. Sebelah sini”
Mereka bertiga masuk ke rumah utama. Puri keluarga Miller terdiri dari lima rumah besar (tidak termasuk rumah utama) dan dua puluh lima rumah kecil yang berbeda, dan puri utama ini berada tepat di tengah-tengah tanah yang dimiliki keluarga Miller. Sedangkan empat puri lainnya ditempati oleh keluarga utama yang masih memiliki satu garis keturunan langsung, diantaranya adalah keluarga Hans yang menempati rumah besar di sebelah selatan dari rumah utama tersebut. Sementara Ethan menempati rumah utama tersebut bersama keluarga dan kakek-neneknya.
Sampai di ruang tamu, pintu besar dibuka oleh Louis dan Karl bersamaan. Ethan menyalami mereka dengan menaruh tangan kanan ke atas dadanya sambil sedikit membungkukkan badan, dan Angelica melebarkan roknya sambil sedikit menekuk lututnya dengan kaki kanan di belakang.
“Tuan Muda Ethan dan Nona Angelica Sandoras sudah tiba!” seru Louis.
Beberapa anggota keluarga yang semula saling berbincang, kini berhenti dan beralih ke arah mereka. Setelah memberi salam, mereka semua saling membubarkan diri dan duduk di bangkunya masing-masing yang berada di kedua sisi ruangan tersebut, dan di bangku tamu, terlihat seseorang yang sangat dikenal oleh mereka berdua.
“Selamat datang di puri keluarga Miller, Angelica” sapa Ibu Ethan, seraya bangkit dari tempat duduknya dan menghampirinya.
“Lama tidak bertemu, bibi. Maafkan aku atas terputusnya hubungan keluarga kami dengan keluarga bibi selama ini” Angelica menyalami lagi.
“Tidak apa-apa. Setidaknya sekarang semua sudah selesai dan kau sudah bebas. Iya, kan, Ethan?” balas Ibu Ethan sambil menatapnya.
“Ya, tapi... ada hal lain yang ingin disampaikan olehnya, Bu” jawab Ethan, kemudian melihat Angelica yang kini kembali membalas tatapannya.
“Ah, begitu, ya. Kalau begitu, silakan duduk dulu” pinta Ibu Ethan dengan ramah.
“Mana Ayah?” tanya Ethan.
“Ia ada urusan mendesak, jadi tak bisa menemuinya. Tapi beliau titip salam untukmu, Angelica” jawabnya pada Ethan, sambil tersenyum menyampaikan kabar tersebut pada Angelica.
“Terima kasih kuucapkan pada Paman, Bibi. Semoga beliau selalu sehat” pinta Angelica dengan bahasa sopan.
Angelica dan Ethan duduk bersebelahan di bangku panjang yang memang tersedia untuk dua orang, berhadapan dengan kursi yang diduduki Ibu Ethan, yang bersebelahan dengan Kakek dan Nenek—orangtua Ayah Ethan. Setelah dipersilakan meminum earl grey tea yang disediakan di meja sambil sedikit berbasa-basi, Angelica memulai pembicaraan setelah Ibu Ethan mempersilakannya untuk bicara lebih dulu.
“Sebelumnya, aku benar-benar minta maaf atas kelancanganku untuk meminta ini pada Bibi dan seluruh anggota keluarga, setelah semua yang telah Ethan dan keluarga ini lakukan padaku, tapi... walau aku masih merasa begitu berat hati karena kami banyak berhutang budi pada keluarga ini, namun aku merasa jika aku harus jujur pada perasaanku sendiri...” jelas Angelica dengan nada tegas, namun sedikit lirih.
“... apa yang ingin kau katakan, Angelica?” tanya Ibu Ethan tidak mengerti.
Angelica menarik nafas panjang pelan. Kemudian ia melepaskan cincin di jari manis tangan kirinya dan menaruhnya di atas meja.
“Aku... ingin memutuskan tali pertunanganku dengan Ethan...”

“Apa kau sudah yakin, nak Johan?”
Wanita yang berada di hadapan Johan menanyakan pertanyaan tersebut padanya, dengan nada khawatir. Beliau tidak ingin dan tidak mengharapkan ‘keinginan’ Johan tersebut didengarnya setelah selama ini.
“Benar, nak Johan” sambung si pria, yang merupakan suami dari wanita tersebut. “Kita bisa memikirkan solusi yang lebih baik. Bagaimana jika kita bicarakan lebih lanjut?”
Johan yang sedang meminum teh yang disediakan, kemudian meletakkan kembali cangkirnya dan duduk di posisi semula.
“Maafkan aku, Paman. Ini sudah menjadi keputusan terakhirku. Namun tenang saja, aku tidak akan menarik dana investasi yang kuberikan pada Paman dan Bibi untuk melanjutkan usaha orkestra yang kalian berdua dirikan” pinta Johan dengan sopan.
Sang Paman yang tadinya sedikit menaikkan bahunya, kini menegang. ia sedikit khawatir pada satu hal.
“... Jika memang itu keinginanmu, dan keinginan putri kami juga, kami pun tidak keberatan, tapi...”
Beliau menghela nafas.
“Bagaimana dengan Ayahmu? Semua ini masih bergantung pada keputusannya, kan?”
Johan terdiam mendengarnya. Ia sedikit menundukkan kepalanya hingga matanya tak terlihat, kelihatan seperti sedang berpikir sesaat. Bahkan, menahan ‘sesuatu’ yang selalu ingin keluar dari emosinya setiap kali ia mendengar tentang Ayahnya. Akhirnya entah bagaimana, ia kembali mengangkat kepalanya dan tersenyum datar.
“Paman dan Bibi tidak perlu khawatir. Sebagai pewaris, aku tak perlu mendengar nasihat darinya”
Pria dan wanita, serta putri mereka terkejut mendengarnya. Nada pernyataan Johan barusan terdengar diplomatis. Mereka saling melihat satu sama lain dengan pandangan khawatir, dan melihat Johan lagi. Sang wanita bangkit dari tempat duduknya, menghampiri Johan dan duduk di sampingnya. Kemudian menggenggam kedua tangannya dengan rasa sayang.
“Jika terjadi apa-apa, bicarakan pada kami, ya. Pintu rumah kami selalu terbuka untukmu, nak Johan” pinta sang wanita dengan nada keibuan.
Johan sedikit kaget mendengar pernyataan tersebut. Tanpa menjawab apapun, ia tersenyum perih. Terutama terhadap putri mereka yang menyadari tatapan langsung Johan padanya. Setelah meletakkan cincinnya di atas meja yang diambil dari saku blazernya, ia menundukkan kepala kepada mereka bertiga.
“Maaf sudah menyakitimu selama ini... Preminger.....”

“Bisakah aku mendengar alasanmu melepas tali pertunanganmu dengan Ethan, Angelica?”
Pertanyaan Kakek Ethan, yang merupakan kepala keluarga utama Miller, bergema di ruangan tersebut. Beliau menatap matanya dengan tajam, seakan sedang mencari jawaban yang ada di pikiran Angelica saat ini. Namun tanpa ragu, ia menjawabnya dengan tegas meski ada sedikit rasa gugup yang terdengar dari suaranya.
“Aku... punya orang lain yang kusukai...”
Hampir seluruh anggota keluarga Miller terkejut mendengarnya. Tidak, sebagian kecil, sebenarnya. Dan sebagian lainnya ada yang berdecak kesal dan menatapnya jijik. Angelica yang melirik mereka sesaat, kemudian sedikit menurunkan bola matanya. Ia merasa tertekan dan sedih karena kesalahpahaman mereka yang mengira ia telah membohongi Ethan sejak awal.
Namun Ethan yang duduk di sebelahnya, hanya sedikit menurunkan kepalanya dan terlihat sedikit gelisah. Walau selama ini ia terlihat tak ingin minta maaf, bukan berarti dia tidak merasa bersalah. Dan ia masih merasa seperti itu hingga kini.
“Kenapa kau baru mengatakannya sekarang, setelah sekian lama?” tanya seorang wanita, yang berdiri tepat di belakang Ibunya. Wanita itu adalah wanita yang sama yang mereka lihat saat pesta pesiar keluarga Miller di Berlin—yang akhirnya diketahui bernama Rebecca, seorang model.
“Tidak” jawab Angelica sambil memejamkan mata, lalu bangkit dari tempat duduknya.
“Sampai sekarang pun, aku masih belum bisa melupakan perasaanku pada Ethan. Tapi... di hari kebangkrutan perusahaan keluargaku, Ethan yang pergi tanpa mengatakan apapun padaku saat itu telah menghancurkanku...”
Ethan semakin menundukkan kepalanya.
“Seandainya ia mengatakan alasan kepergiannya lebih cepat... aku takkan berniat melupakannya... aku tidak akan... melupakan perasaanku padanya...”
Angelica mengatakannya sambil airmatanya mengalir. Ethan tidak bergeming.
“Tapi... orang itu datang menyelamatkanku... meski awalnya kami selalu bertengkar karena berselisih pendapat... tapi, dimanapun berada, ia selalu hadir untukku... sekalipun... aku pernah menyakitinya, ia tidak peduli dan tetap melakukan sesuatu, agar aku tersenyum kembali...”
Airmatanya semakin deras. Ethan mulai menggigit bibir.
“Dan aku...... aku memilih untuk bersamanya kali ini!”
Kalimat terakhir Angelica membuat seluruh anggota keluarga terpana mendengarnya. Hanya sesaat, kemudian terlihat bingung dan mulai bercakap-cakap satu sama lain. Namun wajah Rebecca berubah sinis padanya.
“Kau benar-benar naif!” serunya.
“Aku tidak naif!!” balas Angelica lebih keras. Kini ia justru terkejut.
“Menurutku, aku sudah rasional menentukan keputusan itu untukku sendiri. Karena... aku tidak mungkin bersama dengan seseorang yang sudah bersamaku sejak lama, namun kemudian pergi tanpa mengatakan apa-apa padaku” lanjut Angelica tegas.
“Walau begitu, kau sudah tahu alasan kenapa Ethan meninggalkanmu, kan!?” seru Rebecca.
“!! Itu...” Angelica bingung menjawabnya. Dan tatapan Rebecca padanya semakin sinis.
“Kau sudah tahu, namun tetap memutuskan untuk mengakhiri pertunanganmu dengannya. Kau pikir kau ini siapa, hah!? Dasar anak tidak tahu balas budi!!” serunya geram.
Angelica diam seribu bahasa. Namun entah kenapa matanya tak beranjak dari tatapannya pada Rebecca.
“Hentikan, Rebecca. Kau sudah keterlaluan” pinta Nenek Ethan dengan tenang.
“Tapi...!”
“Kau yang selalu meninggalkan laki-laki yang pernah kau cintai tanpa alasan, tak pantas bicara seperti itu padanya”
Rebecca terkejut mendengarnya, begitu juga Angelica. Rebecca menggigit bibir dengan kesal, sambil beranjak duduk dengan membanting tubuhnya di kursi. Setelah Rebecca menyerah, sang Nenek menghela nafas agak panjang.
“Kalau begitu, Angelica... siapakah orang yang kau sukai saat ini...?” tanya Ibu Ethan, yang sejak saat Angelica mengikrarkan keputusannya sudah mulai bermuka masam dan berkata sinis padanya. Ia merasa tidak terima.
“Siapa... yang telah membuatmu berpaling pada Ethan hingga kamu rela melepaskan tali pertunanganmu dengannya...?” tanyanya lagi, kali ini dengan nada bergetar. Beliau geram dan kesal.
“Bibi...” panggil Angelica pelan. Ia sedih melihatnya. Sedih melihat wanita sebaik dirinya, yang sudah menerimanya apa adanya hingga hari ini. Namun ia tidak gentar. Ia memejamkan mata, menghela nafas, kemudian menatap mata beliau langsung.
“Johan Robin Harcourt Sabrishion, pewaris tunggal Sabrishion Petroleum Corporation”
Seluruh anggota keluarga Miller terkejut tidak percaya mendengarnya. Terutama Ibu Ethan yang langsung bergetar badannya hingga menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
“Bohong...”
“Angelica jujur, Bu”
Terkejut, Angelica dan Ibu Ethan beralih pada Ethan yang akhirnya sedikit mengangkat kepalanya.
“Ethan...” panggil Angelica pelan.
“Ka... kalau begitu, kenapa kau diam saja!? Apa saja yang kau lakukan selama ini!? Kenapa kau tidak berkata apapun pada Angelica saat kau diminta ke Belanda!?!” seru Ibu Ethan geram.
Angelica kaget dan bingung mendengar pertanyaan beruntun itu. Berarti selama ini Ethan tidak pernah cerita pada Ibunya bahwa ia tidak bilang padanya mengenai kepergiannya ke Belanda tanpa memberitahu dirinya.
Menyadari hal itu, ia kembali menggenggam tangannya sendiri kuat-kuat. Berusaha berpikir keras, apa yang sebenarnya Ethan inginkan darinya. Ethan tetap mengakui di depan orang-orang bahwa dirinya adalah tunangannya, namun ia sendiri juga tidak keberatan mengantarnya ke rumahnya sendiri atas tujuan yang sudah Ethan sadari. Ethan dapat menebak isi pikirannya, namun sangat sulit baginya menebak pikiran pria ini.
Entah bagaimana, muncul perasaan ragu dalam dirinya. Apakah selama ini, Ethan terpaksa menerimanya sebagai tunangannya, demi membangun kembali perusahaannya? Apakah benar hanya itu yang jadi tujuannya?
“Ethan...” panggil Angelica pelan.
Ethan yang sejak tadi diam saja meski ditanya sang Ibu, kini mengangkat kepalanya dan menatapnya. “Apa?”
“Bagaimana perasaanmu terhadapku... selama ini...?”
Pertanyaan Angelica sedikit membuat Ethan terkejut. Ia berpikir, kenapa baru bertanya sekarang? Kenapa ia malah menanyakan pertanyaan yang sudah jelas jawabannya? Dan lagi... kenapa ia bertanya dengan wajah bingung dan ingin menangis?
Ia berusaha menatap mata Angelica dalam-dalam. Berusaha mencari tahu apa yang ia paling ingin ketahui. Entah bagaimana, ia menemukannya sepuluh detik kemudian meski masih terasa samar. Namun ia sangat yakin terhadap keinginannya, dan juga perasaannya sendiri.
“Aku mencintaimu lebih dari siapapun, Angie...”
Angelica terkejut hingga membelalakkan mata. Panggilan yang selama ini hanya ia dengar dari orangtuanya dan Johan, kini kembali didengar darinya. Sebenarnya selama ini, Ethan juga selalu memanggilnya ‘Angie’, bahkan sebenarnya dialah yang memberi nama panggilan itu padanya. Namun saat melihatnya begitu marah saat mereka bertemu lagi di Berlin, ia memutuskan untuk kembali memanggil dengan namanya sambil menunggunya kembali bersikap lebih baik padanya.
Ia masih terpana karena hal yang barusan didengarnya. Ia hampir menangis, rasa kebingungan benar-benar memenuhi dirinya. Perasaan yang sudah ia kubur dalam-dalam di hatinya seakan terpanggil lagi. Ia menekan bibir dengan lipatan jari-jarinya, berusaha agar airmata yang sudah muncul tak jatuh. Karena, Ethan mengatakannya. Mengatakannya dengan mata penuh dengan rasa rindu, cinta, dan penyesalan yang tercampur jadi satu.
“Kenapa...”
Angelica bergumam kecil, dimana hanya Ethan yang mendengarnya. Walau hanya satu kata, ia turun dari bangkunya dan menekuk lututnya di depannya. Ia menggenggam tangan Angelica yang lain dengan cukup kuat, menyampaikan perasaannya. Lalu memandangnya dengan serius.
“Aku membawamu kesini bukan hanya untuk memintamu menyampaikan keinginanmu, tapi aku juga... ingin menyampaikan keinginanku pada mereka...”
Seluruh anggota keluarga menatap Ethan dengan bingung. “Apa maksudnya?”
Tanpa menoleh, Ethan menjawab, “Aku sudah menduga apa yang Angie ingin katakan pada kalian semua. Karenanya aku membiarkannya.........”
Angelica sedikit kaget, keluarganya lebih terkejut lagi. Tapi...
“......... walau begitu,  aku tidak berniat melepas pertunanganku denganmu, Angie”
Kali ini, Ethan mengatakannya sambil mencium punggung tangannya. Angelica terkejut. kali ini, airmatanya benar-benar jatuh dari pelupuk kedua matanya. Dan kini, ia menangis.
Terdengar sedikit sesenggukan saat ia menundukkan kepalanya. Dengan lembut, Ethan mengelus kepalanya sambil tersenyum sedih. Hanya sebentar, sampai akhirnya ia memejamkan matanya dan melihat ke arah pintu masuk yang ia lewati barusan.....
“Mulai sekarang, kita saingan, ya...”
...... Itu karena, pintu itu telah terbuka tak lama sejak Angelica menangis. Louis dan Karl menjaga daun pintu di kedua sisi, dan seseorang telah berdiri disitu dengan tegap, namun memandang Ethan dengan sinis. Kelihatan sekali jika sedetik saja emosinya meluap, ia jelas akan memukulnya.
“Johan...”
Angelica mengangkat wajahnya, kemudian ikut melihat ke arah pintu masuk. Ia sungguh terkejut dengan tamu tak terduga tersebut yang ternyata adalah orang yang paling dekat dan berharga di hidupnya saat ini.
“Tuan Muda Johan Sabrishion telah tiba!!” seru Louis kemudian. Ia kemudian menghadap ke arah Johan dan membungkukkan badan, bersamaan dengan Karl yang berdiri di sisi satunya.
Angelica berdiri, menatap Johan yang masih tak beranjak dari tempatnya berdiri dengan heran sekaligus kaget.
“Kenapa... kau tahu...”
“Kau disini? Laki-laki itu memberitahuku”
Johan menjawab sambil menunjuk ke arah Ethan. Angelica berbalik, namun Ethan membalasnya dengan enteng.
“Hidup tanpa saingan itu tidak asyik. Lagipula...”
Ethan mengarahkan tangannya ke Angelica. Ia panik, dan mundur satu langkah, menyisakan rambutnya yang kini ada di sela-sela jarinya. Ethan sedikit menunduk, dan menciumnya dengan lembut.
“Tadi sekilas... kau sempat bimbang, kan?”
Angelica terkejut, wajahnya berubah merah padam karena Ethan menebaknya tepat sasaran seperti biasa. Johan yang mendengarnya merasa kesal dan jijik, dan bertanya langsung padanya dengan nada sinis sambil sebelumnya menghela nafas.
“Benar begitu, Angie?”
Angelica jadi semakin bingung. Tapi ia merasa, tidak ada lagi yang perlu disembunyikan. Toh masalah keluarganya sudah selesai dan ia kini hanya harus berjuang membangun usaha keluarganya kembali. Hanya itu yang ingin ia pikirkan, tapi.... sekarang bukan saatnya membahas hal ini di depan mereka.
Ia menatap Johan dan Ethan bergantian, sebelum akhirnya ia mengatakan perasaannya dengan sebaik-baiknya. Ia menghela nafas panjang, dan menatap mereka berdua, serta seluruh keluarga Miller dengan tegas.
“Ya... itu benar... maafkan aku, Johan...”
Angelica mengatakannya sambil menatap mata Johan secara langsung. Melihatnya, ekspresi Johan langsung berubah datar.
“Tapi percayalah... sekalipun bimbang, perasaanku tidak semudah itu berubah. Aku bahkan... selama ini susah payah menyembuhkan lukaku pada Ethan...”
Mendengarnya, Ethan kembali berwajah sedikit sedih.
“Tapi... karena kamu disini, Johan... aku yang tadinya berniat tak ingin lagi berteman dengan siapapun, malah jadi terikat denganmu... aku sungguh bahagia... karenanya, aku akan lakukan apapun yang kubisa untukmu... selama... hidupku...”
Johan terpana mendengar kalimat Angelica yang dikatakannya sambil tersenyum akhirnya. Ia tidak pernah menyangka, sedalam itu gadis ini memikirkan dirinya. Padahal sampai saat ini, ia tidak pernah sekalipun mengetahui tentang ‘dirinya yang sebenarnya’. Namun ia masih tetap mempercayainya. Tanpa sadar, ia mengeluarkan airmatanya. Ia teringat ‘kejadian’ itu tiba-tiba, sekaligus merasa sungguh bersyukur. Padahal gadis ini pernah sempat dibencinya dua kali, yaitu saat awal pertama bertemu, dan sejak ia mengetahui masalah sebenarnya yang terjadi di keluarganya dan memilih untuk membela sahabatnya di hari hukuman matinya.
“Johan, kau baik-baik saja? Kau... menangis...?”
Angelica menghampirinya dan memandangnya dengan khawatir.
“Tidak... aku...”
Dan di sisi lain, ia merasa jahat karena selama ini, meski memperhatikannya, ia tidak pernah memikirkan perasaannya. Padahal ia yang paling menderita. Ia yang paling terluka. Walau sudah menyadari itu sebelumnya, namun ia masih merasa belum bisa memaafkan dirinya sendiri sampai saat ini. Ia kesal hingga ingin menangis. Hingga tanpa sadar.....
“!? Johan...!”

...... ia menarik gadis itu dalam pelukannya dengan erat, tanpa peduli kebingungan wajahnya, serta orang-orang di sekitarnya, maupun Ethan.....

0 comment:

Posting Komentar

 

Diana Rachmawati Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template