|
J
|
am tujuh malam, Johan tiba di
sebuah rumah. Ia turun dari mobilnya setelah supirnya membukakan pintu
untuknya. Ia melihat lantai dua rumah tersebut, dan meyakinkan diri atas apa
yang akan dilakukannya di sana.
“Selamat datang, Tuan Muda.
Nona sudah menunggumu”
Seorang maid memberi salam
padanya sambil mengantarnya menuju ‘Nona’nya. Johan mengangguk dan
mengikutinya. Ia bertekad dalam hatinya.
‘Kali ini akan kuakhiri... karena
aku dan dia sama-sama tidak bisa menunggu lebih lama lagi... setelah itu, aku
akan...’
Angelica memejamkan matanya
sambil menggenggam tangan Ethan yang mengelus pipinya dengan lembut. Airmatanya
sedikit mengalir keluar, dan ia tersenyum lega sekaligus, rasa rindu yang
akhirnya tersampaikan lewat genggamannya. Setelah beberapa saat ia menghayati
perasaan itu, ia kembali menatapnya.
Ethan membalas tatapan itu
dengan datar, namun rasa sedih dan bersalah juga ikut memenuhi arti tatapannya.
Walau begitu, ia tetap berusaha tegar dan bersikap seperti biasa. Perlahan, ia
menarik kembali tangannya.
“Permisi, Tuan. Makanan Anda
telah siap”
“Ah, ya...”
Waiter pun datang seakan di
saat yang tepat. Setelah waiter selesai menyajikan pesanannya, Ethan mulai
makan lebih dulu.
“Kenapa, Angelica?”
Ia tersenyum dan menggeleng.
“Tidak... tidak apa-apa...”
Ethan merasa keheranan, namun
ia pun balas tersenyum tanpa berpikir macam-macam...
Selesai makan, mereka kembali berbincang
sederhana. Meski kini mereka adalah tunangan, namun kenyataan bahwa mereka juga
teman sejak kecil tak bisa dipungkiri oleh siapapun. Mereka saling bercerita
tentang hari-hari yang telah mereka lewati selama tak ada masing-masing di
samping mereka. Seperti biasa, Ethan tak banyak berkomentar, namun Angelica
dengan bahagia menceritakan hari-hari yang ia lewati selama di Escoriale. Entah
bagaimana, rasa bencinya pada Ethan perlahan berkurang. Terlebih setelah ia
mendengar pengorbanannya dari Lilica demi dirinya, yang meski juga
menghancurkan keluarganya...
Akhirnya, mereka sampai di
tempat yang menjadi tujuan utama mereka. Meski ini sudah kesekian kalinya,
namun ia tetap takjub melihat puri keluarga utama Miller yang super mewah dan
megah.
“Selamat datang kembali, Tuan
Muda Ethan. Dan selamat datang di puri keluarga Miller, Nona Angelica” sapa
sang butler utama, Louis Raymond, yang menyambut kedatangan mereka sambil
membungkuk sopan.
“Lama tidak bertemu, Louis.
Terima kasih atas sambutanmu” balas Angelica sambil tersenyum padanya.
“Lama tidak bertemu, Nona
Angelica. Kulihat hari ini kau membawa seseorang” jawabnya sambil melirik pria
yang berada di sisi kanan Angelica.
“Oh, dia Karl Leigner, butler
keluarga Orlando yang akan bekerja untukku secara temporer. Aku sudah janjian
dengannya di gerbang tadi” jawab Angelica sambil memperkenalkan. Sebenarnya
saat makan malam tadi, Angelica menghubungi Karl yang diminta ikut dan
menunggunya di depan puri. Walau awalnya segan, namun akhirnya ia menerimanya.
Ia pun menyapa Louis dengan sopan.
“Baiklah, silakan masuk. Nyonya
sudah menunggu kalian. Sebelah sini”
Mereka bertiga masuk ke rumah
utama. Puri keluarga Miller terdiri dari lima rumah besar (tidak termasuk rumah
utama) dan dua puluh lima rumah kecil yang berbeda, dan puri utama ini berada
tepat di tengah-tengah tanah yang dimiliki keluarga Miller. Sedangkan empat
puri lainnya ditempati oleh keluarga utama yang masih memiliki satu garis
keturunan langsung, diantaranya adalah keluarga Hans yang menempati rumah besar
di sebelah selatan dari rumah utama tersebut. Sementara Ethan menempati rumah
utama tersebut bersama keluarga dan kakek-neneknya.
Sampai di ruang tamu, pintu
besar dibuka oleh Louis dan Karl bersamaan. Ethan menyalami mereka dengan
menaruh tangan kanan ke atas dadanya sambil sedikit membungkukkan badan, dan
Angelica melebarkan roknya sambil sedikit menekuk lututnya dengan kaki kanan di
belakang.
“Tuan Muda Ethan dan Nona
Angelica Sandoras sudah tiba!” seru Louis.
Beberapa anggota keluarga yang
semula saling berbincang, kini berhenti dan beralih ke arah mereka. Setelah
memberi salam, mereka semua saling membubarkan diri dan duduk di bangkunya
masing-masing yang berada di kedua sisi ruangan tersebut, dan di bangku tamu,
terlihat seseorang yang sangat dikenal oleh mereka berdua.
“Selamat datang di puri
keluarga Miller, Angelica” sapa Ibu Ethan, seraya bangkit dari tempat duduknya
dan menghampirinya.
“Lama tidak bertemu, bibi.
Maafkan aku atas terputusnya hubungan keluarga kami dengan keluarga bibi selama
ini” Angelica menyalami lagi.
“Tidak apa-apa. Setidaknya
sekarang semua sudah selesai dan kau sudah bebas. Iya, kan, Ethan?” balas Ibu
Ethan sambil menatapnya.
“Ya, tapi... ada hal lain yang
ingin disampaikan olehnya, Bu” jawab Ethan, kemudian melihat Angelica yang kini
kembali membalas tatapannya.
“Ah, begitu, ya. Kalau begitu,
silakan duduk dulu” pinta Ibu Ethan dengan ramah.
“Mana Ayah?” tanya Ethan.
“Ia ada urusan mendesak, jadi
tak bisa menemuinya. Tapi beliau titip salam untukmu, Angelica” jawabnya pada
Ethan, sambil tersenyum menyampaikan kabar tersebut pada Angelica.
“Terima kasih kuucapkan pada
Paman, Bibi. Semoga beliau selalu sehat” pinta Angelica dengan bahasa sopan.
Angelica dan Ethan duduk
bersebelahan di bangku panjang yang memang tersedia untuk dua orang, berhadapan
dengan kursi yang diduduki Ibu Ethan, yang bersebelahan dengan Kakek dan
Nenek—orangtua Ayah Ethan. Setelah dipersilakan meminum earl grey tea yang
disediakan di meja sambil sedikit berbasa-basi, Angelica memulai pembicaraan
setelah Ibu Ethan mempersilakannya untuk bicara lebih dulu.
“Sebelumnya, aku benar-benar
minta maaf atas kelancanganku untuk meminta ini pada Bibi dan seluruh anggota
keluarga, setelah semua yang telah Ethan dan keluarga ini lakukan padaku,
tapi... walau aku masih merasa begitu berat hati karena kami banyak berhutang
budi pada keluarga ini, namun aku merasa jika aku harus jujur pada perasaanku
sendiri...” jelas Angelica dengan nada tegas, namun sedikit lirih.
“... apa yang ingin kau
katakan, Angelica?” tanya Ibu Ethan tidak mengerti.
Angelica menarik nafas panjang
pelan. Kemudian ia melepaskan cincin di jari manis tangan kirinya dan
menaruhnya di atas meja.
“Aku... ingin memutuskan tali
pertunanganku dengan Ethan...”
“Apa kau sudah yakin, nak Johan?”
Wanita yang berada di hadapan
Johan menanyakan pertanyaan tersebut padanya, dengan nada khawatir. Beliau
tidak ingin dan tidak mengharapkan ‘keinginan’ Johan tersebut didengarnya
setelah selama ini.
“Benar, nak Johan” sambung si
pria, yang merupakan suami dari wanita tersebut. “Kita bisa memikirkan solusi
yang lebih baik. Bagaimana jika kita bicarakan lebih lanjut?”
Johan yang sedang meminum teh
yang disediakan, kemudian meletakkan kembali cangkirnya dan duduk di posisi
semula.
“Maafkan aku, Paman. Ini sudah
menjadi keputusan terakhirku. Namun tenang saja, aku tidak akan menarik dana
investasi yang kuberikan pada Paman dan Bibi untuk melanjutkan usaha orkestra
yang kalian berdua dirikan” pinta Johan dengan sopan.
Sang Paman yang tadinya sedikit
menaikkan bahunya, kini menegang. ia sedikit khawatir pada satu hal.
“... Jika memang itu
keinginanmu, dan keinginan putri kami juga, kami pun tidak keberatan, tapi...”
Beliau menghela nafas.
“Bagaimana dengan Ayahmu? Semua
ini masih bergantung pada keputusannya, kan?”
Johan terdiam mendengarnya. Ia
sedikit menundukkan kepalanya hingga matanya tak terlihat, kelihatan seperti
sedang berpikir sesaat. Bahkan, menahan ‘sesuatu’ yang selalu ingin keluar dari
emosinya setiap kali ia mendengar tentang Ayahnya. Akhirnya entah bagaimana, ia
kembali mengangkat kepalanya dan tersenyum datar.
“Paman dan Bibi tidak perlu
khawatir. Sebagai pewaris, aku tak perlu mendengar nasihat darinya”
Pria dan wanita, serta putri
mereka terkejut mendengarnya. Nada pernyataan Johan barusan terdengar
diplomatis. Mereka saling melihat satu sama lain dengan pandangan khawatir, dan
melihat Johan lagi. Sang wanita bangkit dari tempat duduknya, menghampiri Johan
dan duduk di sampingnya. Kemudian menggenggam kedua tangannya dengan rasa
sayang.
“Jika terjadi apa-apa,
bicarakan pada kami, ya. Pintu rumah kami selalu terbuka untukmu, nak Johan”
pinta sang wanita dengan nada keibuan.
Johan sedikit kaget mendengar
pernyataan tersebut. Tanpa menjawab apapun, ia tersenyum perih. Terutama
terhadap putri mereka yang menyadari tatapan langsung Johan padanya. Setelah
meletakkan cincinnya di atas meja yang diambil dari saku blazernya, ia
menundukkan kepala kepada mereka bertiga.
“Maaf sudah menyakitimu selama
ini... Preminger.....”
“Bisakah aku mendengar alasanmu
melepas tali pertunanganmu dengan Ethan, Angelica?”
Pertanyaan Kakek Ethan, yang
merupakan kepala keluarga utama Miller, bergema di ruangan tersebut. Beliau
menatap matanya dengan tajam, seakan sedang mencari jawaban yang ada di pikiran
Angelica saat ini. Namun tanpa ragu, ia menjawabnya dengan tegas meski ada
sedikit rasa gugup yang terdengar dari suaranya.
“Aku... punya orang lain yang
kusukai...”
Hampir seluruh anggota keluarga
Miller terkejut mendengarnya. Tidak, sebagian kecil, sebenarnya. Dan sebagian
lainnya ada yang berdecak kesal dan menatapnya jijik. Angelica yang melirik
mereka sesaat, kemudian sedikit menurunkan bola matanya. Ia merasa tertekan dan
sedih karena kesalahpahaman mereka yang mengira ia telah membohongi Ethan sejak
awal.
Namun Ethan yang duduk di
sebelahnya, hanya sedikit menurunkan kepalanya dan terlihat sedikit gelisah.
Walau selama ini ia terlihat tak ingin minta maaf, bukan berarti dia tidak
merasa bersalah. Dan ia masih merasa seperti itu hingga kini.
“Kenapa kau baru mengatakannya
sekarang, setelah sekian lama?” tanya seorang wanita, yang berdiri tepat di
belakang Ibunya. Wanita itu adalah wanita yang sama yang mereka lihat saat
pesta pesiar keluarga Miller di Berlin—yang akhirnya diketahui bernama Rebecca,
seorang model.
“Tidak” jawab Angelica sambil
memejamkan mata, lalu bangkit dari tempat duduknya.
“Sampai sekarang pun, aku masih
belum bisa melupakan perasaanku pada Ethan. Tapi... di hari kebangkrutan
perusahaan keluargaku, Ethan yang pergi tanpa mengatakan apapun padaku saat itu
telah menghancurkanku...”
Ethan semakin menundukkan
kepalanya.
“Seandainya ia mengatakan
alasan kepergiannya lebih cepat... aku takkan berniat melupakannya... aku tidak
akan... melupakan perasaanku padanya...”
Angelica mengatakannya sambil
airmatanya mengalir. Ethan tidak bergeming.
“Tapi... orang itu datang
menyelamatkanku... meski awalnya kami selalu bertengkar karena berselisih
pendapat... tapi, dimanapun berada, ia selalu hadir untukku... sekalipun... aku
pernah menyakitinya, ia tidak peduli dan tetap melakukan sesuatu, agar aku
tersenyum kembali...”
Airmatanya semakin deras. Ethan
mulai menggigit bibir.
“Dan aku...... aku memilih
untuk bersamanya kali ini!”
Kalimat terakhir Angelica
membuat seluruh anggota keluarga terpana mendengarnya. Hanya sesaat, kemudian
terlihat bingung dan mulai bercakap-cakap satu sama lain. Namun wajah Rebecca berubah
sinis padanya.
“Kau benar-benar naif!”
serunya.
“Aku tidak naif!!” balas
Angelica lebih keras. Kini ia justru terkejut.
“Menurutku, aku sudah rasional
menentukan keputusan itu untukku sendiri. Karena... aku tidak mungkin bersama
dengan seseorang yang sudah bersamaku sejak lama, namun kemudian pergi tanpa
mengatakan apa-apa padaku” lanjut Angelica tegas.
“Walau begitu, kau sudah tahu
alasan kenapa Ethan meninggalkanmu, kan!?” seru Rebecca.
“!! Itu...” Angelica bingung
menjawabnya. Dan tatapan Rebecca padanya semakin sinis.
“Kau sudah tahu, namun tetap
memutuskan untuk mengakhiri pertunanganmu dengannya. Kau pikir kau ini siapa,
hah!? Dasar anak tidak tahu balas budi!!” serunya geram.
Angelica diam seribu bahasa.
Namun entah kenapa matanya tak beranjak dari tatapannya pada Rebecca.
“Hentikan, Rebecca. Kau sudah
keterlaluan” pinta Nenek Ethan dengan tenang.
“Tapi...!”
“Kau yang selalu meninggalkan
laki-laki yang pernah kau cintai tanpa alasan, tak pantas bicara seperti itu
padanya”
Rebecca terkejut mendengarnya,
begitu juga Angelica. Rebecca menggigit bibir dengan kesal, sambil beranjak
duduk dengan membanting tubuhnya di kursi. Setelah Rebecca menyerah, sang Nenek
menghela nafas agak panjang.
“Kalau begitu, Angelica...
siapakah orang yang kau sukai saat ini...?” tanya Ibu Ethan, yang sejak saat
Angelica mengikrarkan keputusannya sudah mulai bermuka masam dan berkata sinis
padanya. Ia merasa tidak terima.
“Siapa... yang telah membuatmu
berpaling pada Ethan hingga kamu rela melepaskan tali pertunanganmu
dengannya...?” tanyanya lagi, kali ini dengan nada bergetar. Beliau geram dan
kesal.
“Bibi...” panggil Angelica
pelan. Ia sedih melihatnya. Sedih melihat wanita sebaik dirinya, yang sudah
menerimanya apa adanya hingga hari ini. Namun ia tidak gentar. Ia memejamkan
mata, menghela nafas, kemudian menatap mata beliau langsung.
“Johan Robin Harcourt
Sabrishion, pewaris tunggal Sabrishion Petroleum Corporation”
Seluruh anggota keluarga Miller
terkejut tidak percaya mendengarnya. Terutama Ibu Ethan yang langsung bergetar
badannya hingga menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
“Bohong...”
“Angelica jujur, Bu”
Terkejut, Angelica dan Ibu
Ethan beralih pada Ethan yang akhirnya sedikit mengangkat kepalanya.
“Ethan...” panggil Angelica
pelan.
“Ka... kalau begitu, kenapa kau
diam saja!? Apa saja yang kau lakukan selama ini!? Kenapa kau tidak berkata
apapun pada Angelica saat kau diminta ke Belanda!?!” seru Ibu Ethan geram.
Angelica kaget dan bingung
mendengar pertanyaan beruntun itu. Berarti selama ini Ethan tidak pernah cerita
pada Ibunya bahwa ia tidak bilang padanya mengenai kepergiannya ke Belanda
tanpa memberitahu dirinya.
Menyadari hal itu, ia kembali
menggenggam tangannya sendiri kuat-kuat. Berusaha berpikir keras, apa yang
sebenarnya Ethan inginkan darinya. Ethan tetap mengakui di depan orang-orang
bahwa dirinya adalah tunangannya, namun ia sendiri juga tidak keberatan
mengantarnya ke rumahnya sendiri atas tujuan yang sudah Ethan sadari. Ethan
dapat menebak isi pikirannya, namun sangat sulit baginya menebak pikiran pria
ini.
Entah bagaimana, muncul
perasaan ragu dalam dirinya. Apakah selama ini, Ethan terpaksa menerimanya
sebagai tunangannya, demi membangun kembali perusahaannya? Apakah benar hanya
itu yang jadi tujuannya?
“Ethan...” panggil Angelica
pelan.
Ethan yang sejak tadi diam saja
meski ditanya sang Ibu, kini mengangkat kepalanya dan menatapnya. “Apa?”
“Bagaimana perasaanmu
terhadapku... selama ini...?”
Pertanyaan Angelica sedikit
membuat Ethan terkejut. Ia berpikir, kenapa baru bertanya sekarang? Kenapa ia
malah menanyakan pertanyaan yang sudah jelas jawabannya? Dan lagi... kenapa ia
bertanya dengan wajah bingung dan ingin menangis?
Ia berusaha menatap mata
Angelica dalam-dalam. Berusaha mencari tahu apa yang ia paling ingin ketahui.
Entah bagaimana, ia menemukannya sepuluh detik kemudian meski masih terasa
samar. Namun ia sangat yakin terhadap keinginannya, dan juga perasaannya
sendiri.
“Aku mencintaimu lebih dari
siapapun, Angie...”
Angelica terkejut hingga
membelalakkan mata. Panggilan yang selama ini hanya ia dengar dari orangtuanya
dan Johan, kini kembali didengar darinya. Sebenarnya selama ini, Ethan juga selalu
memanggilnya ‘Angie’, bahkan sebenarnya dialah yang memberi nama panggilan itu
padanya. Namun saat melihatnya begitu marah saat mereka bertemu lagi di Berlin,
ia memutuskan untuk kembali memanggil dengan namanya sambil menunggunya kembali
bersikap lebih baik padanya.
Ia masih terpana karena hal
yang barusan didengarnya. Ia hampir menangis, rasa kebingungan benar-benar
memenuhi dirinya. Perasaan yang sudah ia kubur dalam-dalam di hatinya seakan
terpanggil lagi. Ia menekan bibir dengan lipatan jari-jarinya, berusaha agar
airmata yang sudah muncul tak jatuh. Karena, Ethan mengatakannya. Mengatakannya
dengan mata penuh dengan rasa rindu, cinta, dan penyesalan yang tercampur jadi
satu.
“Kenapa...”
Angelica bergumam kecil, dimana
hanya Ethan yang mendengarnya. Walau hanya satu kata, ia turun dari bangkunya
dan menekuk lututnya di depannya. Ia menggenggam tangan Angelica yang lain
dengan cukup kuat, menyampaikan perasaannya. Lalu memandangnya dengan serius.
“Aku membawamu kesini bukan
hanya untuk memintamu menyampaikan keinginanmu, tapi aku juga... ingin
menyampaikan keinginanku pada mereka...”
Seluruh anggota keluarga
menatap Ethan dengan bingung. “Apa maksudnya?”
Tanpa menoleh, Ethan menjawab,
“Aku sudah menduga apa yang Angie ingin katakan pada kalian semua. Karenanya
aku membiarkannya.........”
Angelica sedikit kaget,
keluarganya lebih terkejut lagi. Tapi...
“......... walau begitu, aku tidak berniat melepas pertunanganku
denganmu, Angie”
Kali ini, Ethan mengatakannya
sambil mencium punggung tangannya. Angelica terkejut. kali ini, airmatanya
benar-benar jatuh dari pelupuk kedua matanya. Dan kini, ia menangis.
Terdengar sedikit sesenggukan
saat ia menundukkan kepalanya. Dengan lembut, Ethan mengelus kepalanya sambil
tersenyum sedih. Hanya sebentar, sampai akhirnya ia memejamkan matanya dan
melihat ke arah pintu masuk yang ia lewati barusan.....
“Mulai sekarang, kita saingan,
ya...”
...... Itu karena, pintu itu
telah terbuka tak lama sejak Angelica menangis. Louis dan Karl menjaga daun
pintu di kedua sisi, dan seseorang telah berdiri disitu dengan tegap, namun
memandang Ethan dengan sinis. Kelihatan sekali jika sedetik saja emosinya
meluap, ia jelas akan memukulnya.
“Johan...”
Angelica mengangkat wajahnya,
kemudian ikut melihat ke arah pintu masuk. Ia sungguh terkejut dengan tamu tak
terduga tersebut yang ternyata adalah orang yang paling dekat dan berharga di
hidupnya saat ini.
“Tuan Muda Johan Sabrishion
telah tiba!!” seru Louis kemudian. Ia kemudian menghadap ke arah Johan dan
membungkukkan badan, bersamaan dengan Karl yang berdiri di sisi satunya.
Angelica berdiri, menatap Johan
yang masih tak beranjak dari tempatnya berdiri dengan heran sekaligus kaget.
“Kenapa... kau tahu...”
“Kau disini? Laki-laki itu
memberitahuku”
Johan menjawab sambil menunjuk
ke arah Ethan. Angelica berbalik, namun Ethan membalasnya dengan enteng.
“Hidup tanpa saingan itu tidak
asyik. Lagipula...”
Ethan mengarahkan tangannya ke
Angelica. Ia panik, dan mundur satu langkah, menyisakan rambutnya yang kini ada
di sela-sela jarinya. Ethan sedikit menunduk, dan menciumnya dengan lembut.
“Tadi sekilas... kau sempat
bimbang, kan?”
Angelica terkejut, wajahnya
berubah merah padam karena Ethan menebaknya tepat sasaran seperti biasa. Johan
yang mendengarnya merasa kesal dan jijik, dan bertanya langsung padanya dengan
nada sinis sambil sebelumnya menghela nafas.
“Benar begitu, Angie?”
Angelica jadi semakin bingung.
Tapi ia merasa, tidak ada lagi yang perlu disembunyikan. Toh masalah
keluarganya sudah selesai dan ia kini hanya harus berjuang membangun usaha
keluarganya kembali. Hanya itu yang ingin ia pikirkan, tapi.... sekarang bukan
saatnya membahas hal ini di depan mereka.
Ia menatap Johan dan Ethan
bergantian, sebelum akhirnya ia mengatakan perasaannya dengan sebaik-baiknya.
Ia menghela nafas panjang, dan menatap mereka berdua, serta seluruh keluarga
Miller dengan tegas.
“Ya... itu benar... maafkan
aku, Johan...”
Angelica mengatakannya sambil
menatap mata Johan secara langsung. Melihatnya, ekspresi Johan langsung berubah
datar.
“Tapi percayalah... sekalipun
bimbang, perasaanku tidak semudah itu berubah. Aku bahkan... selama ini susah
payah menyembuhkan lukaku pada Ethan...”
Mendengarnya, Ethan kembali
berwajah sedikit sedih.
“Tapi... karena kamu disini,
Johan... aku yang tadinya berniat tak ingin lagi berteman dengan siapapun,
malah jadi terikat denganmu... aku sungguh bahagia... karenanya, aku akan
lakukan apapun yang kubisa untukmu... selama... hidupku...”
Johan terpana mendengar kalimat
Angelica yang dikatakannya sambil tersenyum akhirnya. Ia tidak pernah
menyangka, sedalam itu gadis ini memikirkan dirinya. Padahal sampai saat ini,
ia tidak pernah sekalipun mengetahui tentang ‘dirinya yang sebenarnya’. Namun
ia masih tetap mempercayainya. Tanpa sadar, ia mengeluarkan airmatanya. Ia teringat
‘kejadian’ itu tiba-tiba, sekaligus merasa sungguh bersyukur. Padahal gadis ini
pernah sempat dibencinya dua kali, yaitu saat awal pertama bertemu, dan sejak
ia mengetahui masalah sebenarnya yang terjadi di keluarganya dan memilih untuk
membela sahabatnya di hari hukuman matinya.
“Johan, kau baik-baik saja?
Kau... menangis...?”
Angelica menghampirinya dan
memandangnya dengan khawatir.
“Tidak... aku...”
Dan di sisi lain, ia merasa
jahat karena selama ini, meski memperhatikannya, ia tidak pernah memikirkan
perasaannya. Padahal ia yang paling menderita. Ia yang paling terluka. Walau
sudah menyadari itu sebelumnya, namun ia masih merasa belum bisa memaafkan
dirinya sendiri sampai saat ini. Ia kesal hingga ingin menangis. Hingga tanpa
sadar.....
“!? Johan...!”
...... ia menarik gadis itu
dalam pelukannya dengan erat, tanpa peduli kebingungan wajahnya, serta
orang-orang di sekitarnya, maupun Ethan.....
0 comment:
Posting Komentar