Kamis, 21 Januari 2016

Wings of Melodies ~ Memories Edition - Chapter 10



J
ohan diam terpaku dan tidak bergeming. Ia masih duduk di samping tempat tidur Angelica dengan menggenggam tangannya. Dengan menundukkan kepala hingga matanya tidak terlihat, ia sama sekali tidak terlihat terkejut. Padahal ia baru saja mendengar pengakuan yang nyaris tidak disangakanya sama sekali, walau entah kenapa jauh dalam lubuk hatinya, ia merasa sudah mengetahuinya.
“Terima kasih. Ng?” Ethan mengalihkan pandangannya pada Johan yang tidak balas menatapnya, dan terkejut.
“Jangan-jangan kamu... Johan Robin Harcourt Sabrishion?”
Mendengar namanya dipanggil, ia perlahan mengangkat kepalanya. Wajahnya telah berubah menjadi begitu menakutkan. Walau terlihat tidak terkejut, perasaannya campur aduk. Meski
begitu, ia tetap memegang tangan Angelica yang masih menggenggamnya erat sejak percakapan pertamanya dengan Ethan.
Sementara Angelica masih menatap mata Ethan secara langsung meski kini perhatiannya teralih pada Johan. Ia menatapnya dengan penuh harap, sekaligus penuh dengan kesedihan dan penderitaan yang ia simpan selama dua tahun ini. Sekalipun membencinya, namun ia juga menyayanginya lebih dari dirinya sendiri.
“Jadi tunangan Angie itu kau, ya... Ethan Farnes Evolian Miller?” tanya Johan dengan nada menantang.
“Yap! Itu benar. Sudah lama juga, ya, Harcourt” sapa Ethan dengan nama lain Johan.
“Harcourt!? Kalian saling kenal!?” tanya Hans terkejut.
“Hentikan panggilan itu, Ethan!!!”
Suara Johan menggema di seluruh ruangan. Tentu saja mereka semua terkejut. Terlebih Angelica yang masih diam terpaku. Walau terkejut sesaat, ia seakan tidak mempedulikannya dan menundukkan kepalanya. Kini, ia berusaha menggenggam tangan Johan lebih erat dengan kedua tangannya.
“Kenapa semarah itu? Dan kenapa Angelica menggenggam tanganmu? Angelica, kau tidak seharusnya melakukan itu, kan?” tanya Ethan dengan nada tidak terima.
Angelica terkejut. Air matanya keluar perlahan sampai akhirnya menjadi semakin deras.
“Kau menghilang selama dua tahun, tentu saja segalanya berubah, kan?” jawab Johan menggantikan Angelica. Ia langsung memeluk Angelica dengan kilat.
“Karena sekarang... tunanganmu adalah pacarku!”
“... Hah?” tanya Ethan bingung.
“... kak Sabrishion...??” dan juga Hans.
Situasi hening sesaat. Johan yang wajahnya sudah berubah merah itu melanjutkan kata-katanya dengan tegang.
“I-Iyaa begitulah. Angie dan aku sudah pacaran, jadi sekalipun kau tunangannya, kau hanyalah tunangan yang diputuskan oleh keluarga, kan??”
Ethan terdiam tanpa ekspresi. Hans hanya bisa menggaruk-garuk pipinya karena bingung.
“Kau ini bicara apa, Harcourt?” tanya Ethan.
Pertanyaan yang sederhana, namun terasa begitu menakutkan bagi mereka.
“Sudah kubilang jangan panggil aku Harcourt!” perintah Johan kesal.
“Tingkatan hubunganmu dan hubunganku dengan Angelica sudah jelas, kan? Lagipula, sekalipun Angelica berpacaran denganmu, kau tidak lebih sebagai ‘selingan hidup’ baginya. Dia akan tetap berakhir denganku dan kau tidak punya kesempatan untuk masuk dan mengganggu ka...”
“Jangan bicara sembarangan, Ethan!!”
Yang berteriak adalah Angelica yang sejak tadi diam saja, berusaha menahan tangisnya. Ia menatap mata Ethan dengan marah dan tidak terima. Sementara Ethan terkejut dengan pernyataan Angelica barusan.
“Apa kau bilang?” tanya Ethan. “Bukankah kau sendiri bilang bahwa aku adalah tunanganmu?”
“Itu memang kenyataan!!” teriak Angelica membenarkan. Johan terkejut.
“Angie...”
“Itu kenyataan, tapi... perasaanku padamu sudah tidak ada sejak kau menghilang dua tahun yang lalu!! Sekalipun kau tunanganku, aku sudah tidak berniat memendam perasaan padamu lagi. Aku ingin bersama Johan!!”
Johan terkejut mendengar pernyataan Angelica, begitu juga dengan Ethan. Namun hanya sesaat, dan Ethan kembali memandangnya serius.
“Walau begitu, aku tidak pernah berniat memutuskan tali pertunangan ini, Angelica. Dan aku tidak akan minta maaf atas apa yang terjadi selama ini”
Angelica terkejut. Ia sama sekali tidak menyangka Ethan akan berkata seperti itu. Ia langsung bangkit dari tempat tidurnya. Badannya bergetar, dan Johan yang sejak tadi masih menggenggam tangannya, kini berusaha menghentikan Angelica yang sudah ingin memukul Ethan.
“Jadi kau tidak merasa bersalah selama ini...? Setelah kesulitan dan penderitaan yang aku dan orangtuaku alami selama ini, kau tidak merasa bersalah!!?”
Angelica geram hingga air matanya keluar. Ia tak kuasa ingin memukul Ethan, namun Johan berusaha menghentikannya dengan memeluknya dari samping. Ethan masih menyikapinya tanpa ekspresi.
“Ya. Aku memang ingin minta maaf karena telah meninggalkanmu, tapi aku tidak akan minta maaf atas apa yang terjadi...”
“Kau keterlaluan!! Sudah cukup!!”
Angelica meninggalkan kamar itu dengan membanting pintu. Johan dan Hans memanggilnya, namun tidak dipedulikan. Hans mengejarnya, namun Johan masih terpaku dan menatap Ethan dengan penuh dengan kemarahan.
“Kau tidak pergi mengejarnya, Harcourt?”
“Kau juga tidak”
Ethan tersenyum sinis. “Dia tidak perlu tahu yang sebenarnya”
“Angie adalah calon pewaris, dan dia berhak tahu”
“Mewarisi semua hutang-hutang keluarganya? Itu lebih tepat baginya”
Johan berpikir sesaat, kemudian menghela nafas panjang. “Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kau menghilang tepat saat keluarga Sandoras bangkrut? Dan kau terlibat apa hingga Angie begitu membencimu?”
Ethan pun melakukan hal yang sama. “Angelica selama ini tidak tahu apa yang terjadi dalam perusahaan. Karenanya kurasa lebih baik tidak perlu kuberitahu”
Mendengar kata-katanya, Johan tiba-tiba teringat dengan kata-kata Angelica kemarin.

“Walaupun aku ikut, aku tidak tahu harus apa... meskipun calon pewaris, aku tidak pernah dilibatkan dalam urusan pekerjaan...”

Johan menunduk perlahan, kemudian berjalan ke arah pintu keluar beberapa langkah. Lalu berhenti dan melihat ke arah Ethan.
“Kau sama sekali tidak pantas menjadi tunangan Angie jika kau tidak memberitahu apa yang seharusnya ia ketahui... dan sekalipun aku mengenalmu sejak kecil, aku tidak pernah menganggapmu sebagai temanku” jelas Johan, dan ia pun beranjak dari situ, tapi...
“Baiklah, kuberitahu satu hal”
Johan berhenti lagi setelah beberapa langkah. Ia kembali menoleh pada Ethan. Ethan sendiri masih memasang tampang serius seperti biasa.
“Aku sengaja ‘membangkrutkan’ perusahaan Sandoras adalah demi Angelica”
Johan tersenyum sinis. “Oh begitu. Memang apa hakmu melakukan itu?”
“Anthony Sandoras-lah yang memintaku untuk melakukannya”
Johan terkejut. “Hah??”
“Aku akan menghampiri Angelica” Ethan kemudian berjalan dengan cepat dan keluar dari ruangan itu. Johan memanggilnya namun tak digubris, akhirnya ia tidak punya pilihan untuk mengikutinya.
PIP PIP! Ponsel Johan berbunyi. Ia mengeluarkannya dari saku dan melihat notifikasi pesan dari Angelica...

Johan menemukan Angelica yang sedang berada di balkon depan pesiar, sebelum Ethan menemukannya. Di sana tidak ada siapapun, karena memang sebenarnya para tamu dilarang kesana, namun Angelica tidak peduli.
“Angie, kau baik-baik saja?” tanya Johan sambil berjalan mendekati Angelica. ia masih berada di jarak beberapa meter darinya saat menanyakan hal itu.
“Entahlah” Angelica menjawab dengan lemah. “Maaf, aku ingin meminum obatku sebentar”
Ia mengaduk clutch yang ia bawa sejak tadi. Setelah menemukannya, ia mengeluarkan obatnya satu persatu di tangannya dan berusaha meminumnya.
“Ini, minumlah”
Hans datang dan memberi segelas air putih. Angelica mengucapkan terima kasih dan meneguknya dengan cepat. Gelas itu ia taruh kembali di meja yang ada di situ.
“Ethan mencarimu. Aku sudah memaksanya namun ia tidak mau mengatakan kebenarannya” jelas Johan. “Ia malah berkata itu adalah hal yang ingin Ayahmu lakukan”
“Maksudmu?” tanya Angelica tidak mengerti.
“Kebangkrutan perusahaan keluargamu bukanlah karena pamanmu, namun karena Ayahmu yang menginginkan Ethan melakukannya. Sepertinya keberadaan pamanmu sebagai provokator itu hanyalah skenario yang Ayahmu buat agar kau berpikir itu adalah kesalahannya” lanjut Johan.
“Kenapa...?”
“Ia bilang semua demi kamu, tapi ia tidak mau memberitahu alasannya” jelas Johan sambil meludah kesal.
“Ngomong-ngomong, aku penasaran sejak tadi. Kak Sabrishion dan Tuan Muda Ethan saling kenal?” tanya Hans memotong pembicaraan.
“Yaah, dulu dia juga bersekolah di Escoriale. Tapi sejak kelas 2 SMP, sepertinya ia pindah ke kota tempat tinggal Angie dan bersekolah di sana” jawab Johan sambil memberi pandangan serius pada Angelica.
Angelica mengangguk. “Keluarga Ethan selalu mengunjungi keluargaku setiap bulan dan saling mengenal baik. Mungkin karena itulah kenapa kami diminta untuk terikat dalam tali pertunangan. Saat ia pindah ke kotaku, aku dan Ethan berbeda sekolah, karena itu ia tidak pernah tahu bagaimana kehidupan sekolahku selama itu”
“Jadi begitu... setelah lulus SMP ia menghilang dan sekarang tiba-tiba kem...”
BUAK!
Angelica terkejut, karena tiba-tiba Johan menghajar Hans yang belum menyelesaikan kalimatnya. Hans terjerembab dan meringis kesakitan.
“Apa yang kau lakukan, Johan!? Dia...!”
Johan menghentikan tindakan Angelica yang ingin menolong Hans dengan cepat.
“Ia tidak menghilang, melainkan karena keluarga Miller yang merencanakan semuanya untuk membuat Ethan menghilang, dan kau tahu sebabnya bukan, Hans!?!”
Johan terbakar amarah, dan hal itu terlihat dari wajahnya yang tenang namun terlihat menakutkan.
Hans meludah. Ia bangkit sendiri sambil memegangi pipinya yang merah bekas pukulan Johan.
“Walau aku tidak tahu secara detail, aku hanya tahu selama ini ia sembunyi di Belanda. Seluruh aset keluarga Sandoras diakui sebagai aset perusahaan juga, sehingga saat harga saham anjlok, kerugian akan ditanggung dengan semua asetnya. Dan itulah yang terjadi sebenarnya” jelas Hans sambil sedikit meringis. Tidak tega, Angelica memberikan saputangan yang telah diberi alkohol yang juga ia bawa.
“Lalu, apa maksud Ethan bahwa semua itu Ayahku lakukan demi aku?” tanya Angelica sambil menjauh kembali pada Johan.
Hans menghela nafas. “So... soal itu, hanya tuan muda Ethan yang tahu. Meski punya embel-embel ‘pewaris’, aku hanyalah pewaris minoritas di keluarga ini. Aset yang diwariskan untukku hanyalah toko permata yang baru dibuka di negara ini”
Wajah Angelica berubah sedih, ia tidak tahu harus menanggapi apa.
“Tapi, aku pernah dengar alasannya dari salah satu keluarga utama”
“Apa itu?” tanya Angelica penasaran.
Hans terdiam sesaat. “Kau yakin ingin mendengarnya?”
“Katakan saja” pinta Johan sedikit memaksa.
“Baiklah” Hans mengambil beberapa langkah. Ia memasukkan salah satu tangan ke saku celananya, sementara yang satunya masih memegang pipi dengan alas saputangan dari Angelica. Kemudian menghirup angin segar yang bertiup agak kencang malam itu. Lalu ia berbalik badan dan memasang tampang serius, karena apa yang akan dikatakan Hans, adalah hal yang sangat mengejutkannya...
“Angelica Steva Fiammatta Sandoras, sebagai pewaris tunggal perusahaan, kau sedang diincar... oleh salah satu keluarga... untuk membunuh dan mengambil alih usaha keluargamu...”

0 comment:

Posting Komentar

 

Diana Rachmawati Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template