|
J
|
ohan diam terpaku dan tidak
bergeming. Ia masih duduk di samping tempat tidur Angelica dengan menggenggam
tangannya. Dengan menundukkan kepala hingga matanya tidak terlihat, ia sama
sekali tidak terlihat terkejut. Padahal ia baru saja mendengar pengakuan yang
nyaris tidak disangakanya sama sekali, walau entah kenapa jauh dalam lubuk
hatinya, ia merasa sudah mengetahuinya.
“Terima kasih. Ng?” Ethan
mengalihkan pandangannya pada Johan yang tidak balas menatapnya, dan terkejut.
“Jangan-jangan kamu... Johan
Robin Harcourt Sabrishion?”
Mendengar namanya dipanggil, ia
perlahan mengangkat kepalanya. Wajahnya telah berubah menjadi begitu
menakutkan. Walau terlihat tidak terkejut, perasaannya campur aduk. Meski
begitu, ia tetap memegang tangan Angelica yang masih menggenggamnya erat sejak
percakapan pertamanya dengan Ethan.
Sementara Angelica masih
menatap mata Ethan secara langsung meski kini perhatiannya teralih pada Johan.
Ia menatapnya dengan penuh harap, sekaligus penuh dengan kesedihan dan
penderitaan yang ia simpan selama dua tahun ini. Sekalipun membencinya, namun
ia juga menyayanginya lebih dari dirinya sendiri.
“Jadi tunangan Angie itu kau,
ya... Ethan Farnes Evolian Miller?” tanya Johan dengan nada menantang.
“Yap! Itu benar. Sudah lama
juga, ya, Harcourt” sapa Ethan dengan nama lain Johan.
“Harcourt!? Kalian saling
kenal!?” tanya Hans terkejut.
“Hentikan panggilan itu,
Ethan!!!”
Suara Johan menggema di seluruh
ruangan. Tentu saja mereka semua terkejut. Terlebih Angelica yang masih diam
terpaku. Walau terkejut sesaat, ia seakan tidak mempedulikannya dan menundukkan
kepalanya. Kini, ia berusaha menggenggam tangan Johan lebih erat dengan kedua
tangannya.
“Kenapa semarah itu? Dan kenapa
Angelica menggenggam tanganmu? Angelica, kau tidak seharusnya melakukan itu,
kan?” tanya Ethan dengan nada tidak terima.
Angelica terkejut. Air matanya
keluar perlahan sampai akhirnya menjadi semakin deras.
“Kau menghilang selama dua
tahun, tentu saja segalanya berubah, kan?” jawab Johan menggantikan Angelica.
Ia langsung memeluk Angelica dengan kilat.
“Karena sekarang... tunanganmu
adalah pacarku!”
“... Hah?” tanya Ethan bingung.
“... kak Sabrishion...??” dan
juga Hans.
Situasi hening sesaat. Johan
yang wajahnya sudah berubah merah itu melanjutkan kata-katanya dengan tegang.
“I-Iyaa begitulah. Angie dan
aku sudah pacaran, jadi sekalipun kau tunangannya, kau hanyalah tunangan yang
diputuskan oleh keluarga, kan??”
Ethan terdiam tanpa ekspresi.
Hans hanya bisa menggaruk-garuk pipinya karena bingung.
“Kau ini bicara apa, Harcourt?”
tanya Ethan.
Pertanyaan yang sederhana,
namun terasa begitu menakutkan bagi mereka.
“Sudah kubilang jangan panggil
aku Harcourt!” perintah Johan kesal.
“Tingkatan hubunganmu dan
hubunganku dengan Angelica sudah jelas, kan? Lagipula, sekalipun Angelica
berpacaran denganmu, kau tidak lebih sebagai ‘selingan hidup’ baginya. Dia akan
tetap berakhir denganku dan kau tidak punya kesempatan untuk masuk dan mengganggu
ka...”
“Jangan bicara sembarangan,
Ethan!!”
Yang berteriak adalah Angelica
yang sejak tadi diam saja, berusaha menahan tangisnya. Ia menatap mata Ethan
dengan marah dan tidak terima. Sementara Ethan terkejut dengan pernyataan
Angelica barusan.
“Apa kau bilang?” tanya Ethan.
“Bukankah kau sendiri bilang bahwa aku adalah tunanganmu?”
“Itu memang kenyataan!!” teriak
Angelica membenarkan. Johan terkejut.
“Angie...”
“Itu kenyataan, tapi...
perasaanku padamu sudah tidak ada sejak kau menghilang dua tahun yang lalu!!
Sekalipun kau tunanganku, aku sudah tidak berniat memendam perasaan padamu
lagi. Aku ingin bersama Johan!!”
Johan terkejut mendengar
pernyataan Angelica, begitu juga dengan Ethan. Namun hanya sesaat, dan Ethan
kembali memandangnya serius.
“Walau begitu, aku tidak pernah
berniat memutuskan tali pertunangan ini, Angelica. Dan aku tidak akan minta
maaf atas apa yang terjadi selama ini”
Angelica terkejut. Ia sama
sekali tidak menyangka Ethan akan berkata seperti itu. Ia langsung bangkit dari
tempat tidurnya. Badannya bergetar, dan Johan yang sejak tadi masih menggenggam
tangannya, kini berusaha menghentikan Angelica yang sudah ingin memukul Ethan.
“Jadi kau tidak merasa bersalah
selama ini...? Setelah kesulitan dan penderitaan yang aku dan orangtuaku alami
selama ini, kau tidak merasa bersalah!!?”
Angelica geram hingga air
matanya keluar. Ia tak kuasa ingin memukul Ethan, namun Johan berusaha
menghentikannya dengan memeluknya dari samping. Ethan masih menyikapinya tanpa
ekspresi.
“Ya. Aku memang ingin minta
maaf karena telah meninggalkanmu, tapi aku tidak akan minta maaf atas apa yang
terjadi...”
“Kau keterlaluan!! Sudah
cukup!!”
Angelica meninggalkan kamar itu
dengan membanting pintu. Johan dan Hans memanggilnya, namun tidak dipedulikan.
Hans mengejarnya, namun Johan masih terpaku dan menatap Ethan dengan penuh
dengan kemarahan.
“Kau tidak pergi mengejarnya,
Harcourt?”
“Kau juga tidak”
Ethan tersenyum sinis. “Dia
tidak perlu tahu yang sebenarnya”
“Angie adalah calon pewaris,
dan dia berhak tahu”
“Mewarisi semua hutang-hutang
keluarganya? Itu lebih tepat baginya”
Johan berpikir sesaat, kemudian
menghela nafas panjang. “Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kau menghilang
tepat saat keluarga Sandoras bangkrut? Dan kau terlibat apa hingga Angie begitu
membencimu?”
Ethan pun melakukan hal yang
sama. “Angelica selama ini tidak tahu apa yang terjadi dalam perusahaan.
Karenanya kurasa lebih baik tidak perlu kuberitahu”
Mendengar kata-katanya, Johan
tiba-tiba teringat dengan kata-kata Angelica kemarin.
“Walaupun aku ikut, aku tidak tahu harus
apa... meskipun calon pewaris, aku tidak pernah dilibatkan dalam urusan
pekerjaan...”
Johan menunduk perlahan,
kemudian berjalan ke arah pintu keluar beberapa langkah. Lalu berhenti dan
melihat ke arah Ethan.
“Kau sama sekali tidak pantas
menjadi tunangan Angie jika kau tidak memberitahu apa yang seharusnya ia
ketahui... dan sekalipun aku mengenalmu sejak kecil, aku tidak pernah
menganggapmu sebagai temanku” jelas Johan, dan ia pun beranjak dari situ,
tapi...
“Baiklah, kuberitahu satu hal”
Johan berhenti lagi setelah
beberapa langkah. Ia kembali menoleh pada Ethan. Ethan sendiri masih memasang
tampang serius seperti biasa.
“Aku sengaja ‘membangkrutkan’
perusahaan Sandoras adalah demi Angelica”
Johan tersenyum sinis. “Oh
begitu. Memang apa hakmu melakukan itu?”
“Anthony Sandoras-lah yang
memintaku untuk melakukannya”
Johan terkejut. “Hah??”
“Aku akan menghampiri Angelica”
Ethan kemudian berjalan dengan cepat dan keluar dari ruangan itu. Johan
memanggilnya namun tak digubris, akhirnya ia tidak punya pilihan untuk
mengikutinya.
PIP PIP! Ponsel Johan berbunyi.
Ia mengeluarkannya dari saku dan melihat notifikasi pesan dari Angelica...
Johan menemukan Angelica yang
sedang berada di balkon depan pesiar, sebelum Ethan menemukannya. Di sana tidak
ada siapapun, karena memang sebenarnya para tamu dilarang kesana, namun
Angelica tidak peduli.
“Angie, kau baik-baik saja?”
tanya Johan sambil berjalan mendekati Angelica. ia masih berada di jarak beberapa
meter darinya saat menanyakan hal itu.
“Entahlah” Angelica menjawab
dengan lemah. “Maaf, aku ingin meminum obatku sebentar”
Ia mengaduk clutch yang ia bawa
sejak tadi. Setelah menemukannya, ia mengeluarkan obatnya satu persatu di
tangannya dan berusaha meminumnya.
“Ini, minumlah”
Hans datang dan memberi segelas
air putih. Angelica mengucapkan terima kasih dan meneguknya dengan cepat. Gelas
itu ia taruh kembali di meja yang ada di situ.
“Ethan mencarimu. Aku sudah
memaksanya namun ia tidak mau mengatakan kebenarannya” jelas Johan. “Ia malah
berkata itu adalah hal yang ingin Ayahmu lakukan”
“Maksudmu?” tanya Angelica
tidak mengerti.
“Kebangkrutan perusahaan
keluargamu bukanlah karena pamanmu, namun karena Ayahmu yang menginginkan Ethan
melakukannya. Sepertinya keberadaan pamanmu sebagai provokator itu hanyalah
skenario yang Ayahmu buat agar kau berpikir itu adalah kesalahannya” lanjut
Johan.
“Kenapa...?”
“Ia bilang semua demi kamu,
tapi ia tidak mau memberitahu alasannya” jelas Johan sambil meludah kesal.
“Ngomong-ngomong, aku penasaran
sejak tadi. Kak Sabrishion dan Tuan Muda Ethan saling kenal?” tanya Hans
memotong pembicaraan.
“Yaah, dulu dia juga bersekolah
di Escoriale. Tapi sejak kelas 2 SMP, sepertinya ia pindah ke kota tempat
tinggal Angie dan bersekolah di sana” jawab Johan sambil memberi pandangan
serius pada Angelica.
Angelica mengangguk. “Keluarga
Ethan selalu mengunjungi keluargaku setiap bulan dan saling mengenal baik.
Mungkin karena itulah kenapa kami diminta untuk terikat dalam tali pertunangan.
Saat ia pindah ke kotaku, aku dan Ethan berbeda sekolah, karena itu ia tidak
pernah tahu bagaimana kehidupan sekolahku selama itu”
“Jadi begitu... setelah lulus
SMP ia menghilang dan sekarang tiba-tiba kem...”
BUAK!
Angelica terkejut, karena
tiba-tiba Johan menghajar Hans yang belum menyelesaikan kalimatnya. Hans
terjerembab dan meringis kesakitan.
“Apa yang kau lakukan, Johan!?
Dia...!”
Johan menghentikan tindakan
Angelica yang ingin menolong Hans dengan cepat.
“Ia tidak menghilang, melainkan
karena keluarga Miller yang merencanakan semuanya untuk membuat Ethan
menghilang, dan kau tahu sebabnya bukan, Hans!?!”
Johan terbakar amarah, dan hal
itu terlihat dari wajahnya yang tenang namun terlihat menakutkan.
Hans meludah. Ia bangkit
sendiri sambil memegangi pipinya yang merah bekas pukulan Johan.
“Walau aku tidak tahu secara
detail, aku hanya tahu selama ini ia sembunyi di Belanda. Seluruh aset keluarga
Sandoras diakui sebagai aset perusahaan juga, sehingga saat harga saham anjlok,
kerugian akan ditanggung dengan semua asetnya. Dan itulah yang terjadi sebenarnya”
jelas Hans sambil sedikit meringis. Tidak tega, Angelica memberikan saputangan
yang telah diberi alkohol yang juga ia bawa.
“Lalu, apa maksud Ethan bahwa
semua itu Ayahku lakukan demi aku?” tanya Angelica sambil menjauh kembali pada
Johan.
Hans menghela nafas. “So... soal
itu, hanya tuan muda Ethan yang tahu. Meski punya embel-embel ‘pewaris’, aku
hanyalah pewaris minoritas di keluarga ini. Aset yang diwariskan untukku
hanyalah toko permata yang baru dibuka di negara ini”
Wajah Angelica berubah sedih,
ia tidak tahu harus menanggapi apa.
“Tapi, aku pernah dengar
alasannya dari salah satu keluarga utama”
“Apa itu?” tanya Angelica
penasaran.
Hans terdiam sesaat. “Kau yakin
ingin mendengarnya?”
“Katakan saja” pinta Johan
sedikit memaksa.
“Baiklah” Hans mengambil
beberapa langkah. Ia memasukkan salah satu tangan ke saku celananya, sementara
yang satunya masih memegang pipi dengan alas saputangan dari Angelica. Kemudian
menghirup angin segar yang bertiup agak kencang malam itu. Lalu ia berbalik
badan dan memasang tampang serius, karena apa yang akan dikatakan Hans, adalah
hal yang sangat mengejutkannya...
“Angelica Steva Fiammatta
Sandoras, sebagai pewaris tunggal perusahaan, kau sedang diincar... oleh salah
satu keluarga... untuk membunuh dan mengambil alih usaha keluargamu...”
0 comment:
Posting Komentar