“F
|
estival sekolah resmi berakhir! Kepada seluruh siswa, harap berkumpul di lapangan
untuk acara api unggun!”
Akhirnya malam terakhir festival sekolah pun tiba saat pengumuman itu
diumumkan. Para siswa menyambutnya dengan perasaan lega, lelah, sekaligus
senang dan berkumpul di sekitar api unggun besar yang dinyalakan di halaman sekolah.
Mereka pun mulai berdansa mengelilinginya sebagai pertanda acara penutupan
festival yang digelar selama tiga hari ini.
Angelica yang duduk di beranda ruang Dewan Siswa yang berada di lantai lima
gedung sekolahnya, sedang memangku kepala di atas lengannya yang ditaruh di
pinggir jendela sambil
memperhatikan acara penutupan festival.
“Huaaa, akhirnya selesai jugaaaa!! Aku sangat lelah tiga hari ini! Sampai
tidak bisa kerja part-time pula! Huufft!” teriaknya pada diri sendiri sambil
meregangkan tubuhnya. Ia memang sangat lelah.
“Nih! Terima kasih atas kerja kerasnya!” sapa seseorang sambil menyodorkan
kaleng minuman rasa anggur padanya di atas kepalanya.
“Waah, terima kasih kak Johan! Hee, kau disini?” tanyanya heran.
“Yang lainnya kusuruh mengatur folk dance. Kau tidak ingin ke sana dengan
Russell?” jawab Johan sambil balik bertanya.
“Kak Russell setelah festival selesai langsung ke kantornya” jawab Angelica
sambil membuka kaleng.
“Ah, memang sedang ada masalah sih di perusahaannya” komentar Johan sambil
meneguk jus yang sama dengan Angelica, namun miliknya dalam bentuk kotak.
“Tapi, kami sudah janji untuk pesta dansa nanti...” kata Angelica
malu-malu.
“Ah, begitu, ya... syukurlah...” kata Johan.
Johan meneguk minumannya lagi sambil berjalan menuju beranda dan berdiri di
sebelah bangku tempat Angelica duduk. Angelica hanya melihatnya dengan
pandangan ingin tahu.
“Apa?” tanya Johan bingung.
“Kau sendiri bagaimana?” tanya Angelica sambil menatapnya serius.
“Apanya?” Johan makin bingung.
“Pasangan buat dansa! Kau sudah punya pasangan!?” tanya Angelica.
“Nggak ada, tuh. Paling-paling nanti dapat yang tidak punya pasangan” jawab
Johan santai.
“Ooh, begitu...” Angelica menunduk sambil memegang kaleng dengan kedua
tangannya.
“Ng? Kenapa tampangnya begitu, sih?” tanya Johan heran.
“Tidak, kok...” jawab Angelica sambil membuang muka.
“Jangan-jangan... kau ingin berpasangan denganku...?” ledek Johan.
“A... apaan, sih!? Ge-er tahu!”
DUAAARR! Tepat setelah teriakan Angelica, kembang api pun mulai
diluncurkan. Perhatian mereka pun teralihkan sesaat oleh bunga di langit malam
tersebut. Namun, Angelica malah menggerutu dalam hati.
‘Duuh, dasar aku ini! Kenapa tiba-tiba ingin tahu pasangan kak Johan, sih!?
Itu kan tidak ada hubungannya denganku!’
Di saat Angelica menggerutu sendiri, Johan berpikir sesaat.
“Kalau begitu...”
SET! Johan memberikan tangannya pada Angelica. Tentu saja ia bingung.
“Buat apa?”
“Kita folk dance disini saja”
DEG! Jantung Angelica berdegup. Walau ia sadar ini tidak boleh, tapi ia
merasa senang mendengarnya. Tanpa sadar tangannya telah meraih tangan Johan dan
mulai berdansa dengannya. Meski kembang api sedang diluncurkan, namun
samar-samar musik folk dance masih terdengar dari ruangan tempat Johan dan
Angelica berada. Mereka terus berdansa, hingga kembang api yang diluncurkan
serta musik yang dimainkan berakhir....
Di toko baju milik Sylvie, ia baru saja menutup tokonya. Saat perjalanan
pulang, ia melihat Johan yang sedang
bersandar di depan tokonya sambil menunduk. Sylvie menghampirinya.
“Kak Johan, selamat malam. Bagaimana acara penutupan festivalnya? Maaf aku
tidak bisa hadir sampai selesai” sapa Sylvie sambil memberi salam.
“Tidak apa-apa. Berjalan baik, kok. Hmm...” Johan berusaha tersenyum, namun
terlihat seperti sedang berpikir. Sylvie pun penasaran.
“Ng... ada apa, kak?” tanya Sylvie pelan. Johan akhirnya membenarkan cara
berdirinya dan menundukkan kepala padanya....
“Aku... ingin minta bantuanmu...”
Di asrama putri, kamar Angelica.
“Huwaaaa, akhirnya bisa ketemu dengan kasur lagiiii!! Hari ini lelah
sekaliiii!!” teriaknya sendiri. Setelah puas berguling-guling, ia berhenti dan
bangkit lagi dari kasurnya.
‘Akhirnya lusa malam pesta dansa... dengan kak Russell... entah kenapa
meskipun aku senang, tapi aku tidak merasa antusias dengan itu..... anehnya,
aku malah lebih senang folk dance dengan kak Johan... tadi...’
Wajahnya langsung merah ketika mengingat kejadian di Ruang Dewan Siswa
tadi, saat ia berdansa dengan Johan. Namun...
“Kau
yakin dengan perasaanmu itu?”
Angelica kembali teringat dengan kata-kata Sylvie tempo hari. Ia akhirnya
terdiam dan melihat tangannya sendiri karena silau dengan cahaya lampu kamar.
Akhirnya ia kembali bangkit dan membuka lemari bajunya.
“Ah, sudahlah. Aku harus menyiapkan gaun untuk lusa nan... eh...?”
Angelica begitu terkejut melihat isi lemarinya, karena...
“Bohong! Jangan-jangan... gaunnya tidak kubawaaaa!?!”
Keesokan harinya, di sekolah. Hari ini para siswa hadir di sekolah hanya
untuk merapikan sisa-sisa festival kemarin. Angelica, Sylvie dan Harry saling
mengobrol di sela-sela kesibukan mereka.
“Eeeehh!? Kau tidak bawa gaun!?” teriak Sylvie terkejut.
“Gaun merekmu yang dulu pernah kuceritakan. Aku lupa membawanya kesini.
Sekarang aku tidak punya gaun. Bagaimana ini?” Angelica kebingungan sambil
menangis.
“Kau kan bisa membelinya lagi” jawab Harry.
“Tidak, itu... tidak cukup dari uang hasil kerja sambilanku... hiks,
bagaimana ini...? aku sudah janji dengan kak Russell...” keluh Angelica pelan.
Sylvie dan Harry memandang Angelica dengan rasa sedih. Mereka saling bertatapan
sesaat. Kemudian...
“Baiklah, aku akan pinjamkan gaun dari tokoku. Setelah kerja part-time
besok, datanglah ke tokoku, ya!” perintah Sylvie memberikan solusi.
“Benarkah!? Benar-benar boleh!?” tanya Angelica meyakinkan.
“Kebetulan ada gaun baru, kukira cocok untukmu!” jawab Sylvie senang.
“Waaahh, terima kasih, Sylvie! Kau baik sekaliiii~~! Besok kita sekolah
setengah hari, kan!? Aku akan langsung kerja sambilan, Bos!” ucapnya pada
Sylvie sambil berkata pada Harry.
“Bos?!” tanya Harry yang tidak nyaman dengan panggilan itu.
“Baiklah, aku akan ke Dewan Siswa sekarang! Sampai bertemu besok malam!”
sapa Angelica sambil langsung berlari menaiki tangga. Harry dan Sylvie hanya
menatapnya.
“Dia semangat sekali, tuh. Tidak apa-apa kau pinjamkan dia gaun dari tokomu?
Sebaiknya kau pinjamkan dia gaun yang kau punya saja” komentar Harry.
“Tidak apa-apa, Harry. Angelica adalah sahabatku...” jawab Sylvie membela.
Melihat Sylvie tersenyum bahagia, Harry langsung memahami arti senyumnya.
“Begitu, ya...” balas Harry menanggapi.
“Ya, lagipula gaun itu....”
“Eh...?”
Sylvie tersenyum, lebih manis dari yang tadi, dan hal itu makin membuat
Harry penasaran dengan hal dimaksudkannya....
Keesokan harinya, satu jam sebelum pesta dansa dimulai, di ruang rias toko
baju milik Sylvie.
“Ka, kau serius meminjamkan gaun paling mahal ini padaku!?” teriak Angelica
meyakinkan.
“Serius, kok. Lagipula, itu yang paling cocok denganmu. Tenang dulu, ya.
Rambutmu belum selesai kuikat!” jawab Sylvie sambil menata rambut Angelica.
“Waaw!! Kau cantik sekali!! Rasanya beda dengan Angelica yang biasanya!!”
komentar Harry yang tak jauh duduk di situ.
“Tuh, Harry saja bilang begitu! Laki-laki itu jujur kalau soal penampilan
cewek, lho!” ledek Sylvie pada Angelica yang masih memandangnya tidak percaya.
“Ta, tapi... memang sih, aku ingin dipinjamkan gaun. Tapi ini terlalu
mewah! Ganti saja yang lain yaaa! Aku takkan bisa menggantinya jika rusak
lhooo~~” keluh Angelica sambil menangis.
“Tenang saja, tenang. Dulu kau pasti sering datang ke pesta dansa, kan? Nah,
tenangkan dirimu. Kau adalah Cinderella dalam kastil pangeran malam ini.
Lagipula, kau dapat posisi Putri di festival kemarin, kan? Jadi harus tampil
menawan!” kata Sylvie menyemangati.
‘Sylvie...’ ia terpana dengan kebaikannya.
“Terima kasih, ya. Ta, tapi aku benar-benar tidak bisa tenaaang~~”
lanjutnya takut.
“Nah, ayo kita ke sekolah sekarang! Let’s gooo!!” ajak Harry bersemangat.
‘Heeee!?!’
Sampai di Aula Utama yang bernama de Royale in Escoriale, mereka semua
terpana melihat kemewahan gedung yang biasanya hanya digunakan untuk upacara
masuk sekolah dan kelulusan itu. Semuanya serba berkilau, bagai bintang yang
ada di tengah-tengah kota. Semuanya memakai gaun dan tuxedo yang menawan.
Angelica, Sylvie dan Harry yang datang dengan satu mobil menggunakan mobil
Harry, sangat terpana melihat kemewahan yang tidak biasa itu.
“Waaaaa!!! Ini pesta dansa sekolah kita!! Luar biasaaaa!!!” teriak Sylvie
terkejut melihat sekeliling Aula.
“Hooi, Angelica! Ayo cepat turun! Sudah sampai, nih!” panggil Harry dari luar.
Memang, Angelica belum turun dari mobil karena...
“Ta, tapi... aku malu, nih!”
“Ah! Kak Russell, kak Johan!! Kalian sudah datang!?” panggil Sylvie dari
kejauhan.
Russell dan Johan pun menghampiri mereka. Mereka tampak begitu menawan
dengan setelan jas dan dasi. Sementara Johan menggunakan topi tabung yang biasa
dipakai pesulap di kepalanya, yang terlihat cocok dengan setelan jas berwarna
abu-abu dengan scarf warna sapphire.
‘Huwaaa! Mereka sudah hadir! Duhhh, jadi tambah malu, nih!’ teriak Angelica
dalam hati yang melihat kedatangan Johan dan Russell dari balik kaca mobil.
“Hei Sylvie, Harry. Hari ini kalian jadi pasangan, ya?” tanya Johan.
“Hehe, begitulah. Kak Johan bagaimana? Sudah punya pasangan?” jawab Sylvie
sambil bertanya balik.
“Yaah... aku berpasangan dengan Preminger. Tapi dia belum datang” jawabnya
sambil melihat sekeliling.
‘Oooh... rupanya kak Johan dengan kak Patricia...’ komentar Angelica dalam
hati.
“Ngomong-ngomong, kalian lihat Angelica?” tanya Russell pada mereka.
“Di dalam mobil, tuh! Dia tidak mau turun karena malu!” jawab Harry.
“Angelica! Kak Russell sudah menunggumu, nih! Ayo cepat! Nanti pestanya
keburu mulai!” panggil Sylvie sambil menarik-narik lengan Angelica.
“Uuukh, se, serius aku maluuu!!” teriaknya sambil berusaha melepaskan.
“Sudahlah, tidak usah canggung begitu! Ayo!” kali ini Harry membantu Sylvie
menarik Angelica keluar.
“Waaa!”
Sylvie dan Harry menarik Angelica turun dari mobil. Dan... mereka berdua
terpana melihat dirinya yang dibalut dengan gaun warna perak dengan pita di
belakang dan hiasan rambut mawar yang menahan ikat rambutnya di sampingnya.
Terlihat seperti Putri yang datang di kerajaan bulan.
“Ka... kau cantik sekali, Angelica” komentar Russell yang gugup setelah
melihat Angelica.
“Be, benarkah? Te... terima kasih, kak Russell...” ucap Angelica.
‘Kak Johan... bagaimana pendapatnya, ya...? hee!? Dia memalingkan mukaaa!!’
teriak Angelica kecewa.
Johan berbalik badan tak lama setelah Russell memujinya. Ia melihat ke
layar hp-nya.
“Preminger sudah datang. Akan kujemput dia. Bersenang-senanglah” kata Johan
sambil beranjak dari situ.
“Ya. Sampai nanti!” sapa Russell.
“Kami juga duluan, ya, Angelica, kak Russell” kata Harry sambil memberi
salam.
“Ya. Kalian bersenang-senanglah!” balas Russell.
Setelah Johan, Sylvie dan Harry pergi. Russell mengarahkan tangannya pada
Angelica.
“Nah, kita juga harus bersenang-senang hari ini, Tuan Putri” kata Russell
ramah.
“Ya, Pangeran!” jawab Angelica senang sambil meraih tangan Russell. Ia
terkejut.
‘Waaa! Tangannya besar! Begitu lembut... dan nyaman...’
Sebenarnya tak jauh dari situ, Johan melihat mereka berdua dari kerumunan
orang setelah ia beranjak dari teman-temannya. Wajahnya merah padam, sekaligus
menatapnya dengan sedih....
“Dasar... kau terlalu cantik hari ini, tahu...!”
Pesta dimulai dengan dansa pembuka waltz. Mereka berdansa mengitari lantai
dansa yang berwarna emas berkilauan dengan tarian yang rapi dan tertata. Wajah
mereka tenang sekaligus senang. Tak lama setelah dansa pembuka, acara dimulai
dengan sambutan dari kepala Perguruan dan kepala masing-masing sekolah.
Kemudian acara dilanjutkan dengan dansa para siswa-siswi yang dinobatkan
sebagai Putri dan Pangeran sebagai awal acara.
“Hee? Aku harus berdansa dengan kak Johan? Apa... tidak apa-apa?” tanya
Angelica pada Russell, saat tiba gilirannya untuk berdansa.
“Tidak apa-apa, pergilah! Nanti kami akan mengikuti. Aku akan berdansa
sementara dengan Preminger. Saat sudah waktunya, nanti kita ganti pasangan”
jawab Russell ramah.
“Ba... baik”
Setelah percakapan mereka, Angelica akhirnya beranjak ke lantai dansa
kembali. Di sana, Johan sudah menunggunya. Johan mengulurkan tangannya pada
Angelica dengan pandangan tulus. Ia tersenyum sambil sedikit memiringkan
wajahnya. Pandangan itu membuat hati Angelica berdegup kencang.
“Berdansalah denganku untuk kali ini, Putri”
Johan mengatakannya dengan lembut. Ia kembali tidak sadar tangannya telah
meraih tangan Johan dan masuk ke dalam pelukannya. Dalam posisi dansa tentunya.
Ia kembali berdebar-debar, namun debarannya lebih kuat.
‘Tangannya... besar... tidak hanya itu... aku merasa aku bisa menebak apa
yang akan ia bimbing pada dansa ini... terasa... sangat nyaman....’
Dansa dimulai kembali. Mereka melangkah dengan tegas. Johan membimbing
langkah Angelica tanpa ragu, sehingga para audiens terpukau melihat kekompakan
dansa mereka. Tak lama kemudian, Angelica memulai pembicaraan.
“Kenapa...”
“Ng?” tanya Johan bingung.
“Kenapa kau membiarkanku berpasangan dengan kak Russell...? Bukankah karena
kita dinobatkan sebagai Putri dan Pangeran, seharusnya kita berpasangan!?”
tanya Angelica sambil menatap mata Johan secara langsung. Johan berpikir
sebentar.
“Hmm... memang, sih., tapi... itu tidak mungkin, kan...” jawab Johan sambil
tertawa kecil.
“Kenapa...!?” tanya Angelica, dengan nada lebih keras.
Johan sedikit tersentak, kemudian terdiam sejenak sambil menunduk. Hanya sesaat,
hingga akhirnya ia mengangkat kepalanya dan menatap matanya langsung sambil
tersenyum ramah.
“Karena kau milik Russell...... aku tidak mungkin berpasangan denganmu
tanpa memikirkan perasaan Russell... lagipula di saat seperti ini, tentu lebih
nyaman dengan kekasih sendiri, bukan? Makanya... walau menyalahi aturan, jika
itu kalian, aku akan bersedia melanggarnya” jawab Johan.
Angelica terkejut dengan reaksi Johan, dan merasa aneh.
‘Kak Johan... kau tersenyum dengan lembut... tapi...’
Setelah berkata seperti itu dalam hatinya, Angelica menunduk, dan...
“Bagaimana... perasaanmu... terhadapku...?”
Johan terkejut dengan pertanyaan itu. Angelica sendiri lebih terkejut atas
pertanyaan yang barusan dilontarkan pada Johan. Ia malu sendiri hingga wajahnya
merah. Ia berusaha melepaskan dirinya dari Johan.
“Ma, maaf, aku tidak bermaksud...!”
GREB! Johan berusaha menahannya. Dan Russell yang melihatnya dari jauh,
menyadari keanehan sikap mereka.
“Kita masih di tengah dansa... lanjutkan sampai selesai...”
Angelica terdiam, namun tak ada pilihan lain selain menuruti Johan. Mereka
melanjutkan dansa mereka dalam diam, hingga pergantian ke lagu berikutnya, yang
dansanya akan diikuti oleh seluruh siswa-siswi yang ada di situ, menyadarkan
mereka untuk segera berganti pasangan.
“Dan lagi... kau sudah tahu perasaanku....”
Saat lagu berganti, Johan perlahan melepaskan Angelica. Ia menjauh hingga
tak terlihat karena tertutup para pedansa lain. Angelica hanya diam terpaku
disitu. Tangannya bergetar, ia hampir menangis jika Russell tidak
menyadarkannya disitu.
“Angelica?”
Ia terkejut dan memalingkan wajahnya. Setelah menunduk sesaat ia berusaha
mati-matian untuk tersenyum.
“Ah... kak Russell... sudah waktunya dansa, ya...” kata Angelica sambil
tersenyum.
“Kau baik-baik saja? Johan mengatakan sesuatu padamu, ya? Di tengah dansa
tadi kalian bersikap aneh” tanya Russell penasaran.
“Tidak... tidak apa-apa, kok...” jawab Angelica berusaha menenangkan diri,
namun hatinya merasa tidak tenang dengan sikap Johan tadi.
‘Kenapa ini... kenapa perasaanku begini... aku takut, sekaligus bahagia
saat berdansa dengannya... hanya saja, kata-katanya tadi...’
“Kau
sudah tahu perasaanku”
“Ia berusaha mengatakan perasaannya dengan cara ini... aku ini... bodoh,
ya...” kata Angelica pelan.
“Eh...?” tanya Russell bingung.
Akhirnya Angelica tak bisa menahan tangisnya. Ia menangis terduduk di
tengah lantai dansa. Melihatnya, Russell menariknya dari situ dan membawanya ke
balik tirai jendela. Tangisnya semakin pecah. Russell tak bisa berbuat apa-apa
selain diam dan memberikan sandaran untuknya menangis. Sylvie dan Harry yang
melihatnya beranjak dari lantai dansa dan menghampiri mereka, tapi sayangnya
mereka kehilangan jejak.
Tangis Angelica begitu keras, bak anak kecil yang tidak diberikan barang
yang diinginkan oleh orang tuanya. Russell hanya bisa memeluknya dan mengelus
rambut pirang alaminya yang diubah menjadi sedikit bergelombang. Ia tersenyum.
“Tidak apa-apa, Angelica. Aku sudah tahu dari awal, kok... kau memang
menyukai Johan... tapi kau menyangkal perasaanmu sendiri... saat pertama
bertemu denganmu, memang ada rasa suka yang kulihat di matamu, tapi... setelah
bertemu Johan dan melewatkan waktu bersamanya, perlahan pandangan matamu
berubah padaku, dan... ketertarikanmu padaku tak lebih dari sekedar kagum sejak
saat itu...” jelas Johan membuat pengakuan, yang sekaligus menyadarkan
Angelica.
“Kak Russell...” panggil Angelica, sambil melepaskan pelukan darinya.
“Melihatmu bersama Johan... meski awalnya kau membencinya karena pertemuan
pertama kalian, namun pandanganmu padanya perlahan berubah... kau bisa seperti
sekarang karena Johan di sampingmu... tanpa kau sadari, perasaan itu berubah
hingga seperti sekarang... kau tidak bisa jauh darinya...” lanjut Russell.
Mendengar Russell berkata seperti itu, Angelica semakin tidak bisa menahan
tangisnya.
“Kak... Russell... aku......”
“Ternyata kalian disini, ya!” teriak seseorang. Mereka terkejut dengan
kedatangan...
“Sylvie! Harry! Ka... kalian tidak dansa?” tanya Angelica sambil menghapus
air matanya.
“Aku melihatmu menangis tadi! Dasar! Ini, pakai saputanganku” kata Sylvie
sambil menyerahkan saputangannya. Angelica menerimanya.
“Terima kasih... be... begini, Sylvie. Aku...” Angelica berusaha
mengatakannya, tapi Sylvie memotongnya.
“Aku tahu, kok. Walau berat bagi kak Johan untuk menerimanya, tapi ia tetap
mengusahakan segala sesuatu yang terbaik untukmu. Seperti gaun itu...” kata
Sylvie.
“Gaun...? maksudmu...?” tanya Angelica tidak mengerti.
“Gaun yang kau pakai itu dipesan oleh kak Johan khusus untukmu... lusa lalu
setelah festival sekolah, kak Johan datang ke tokoku...” kata Sylvie mulai
bercerita.
“Aku
mau minta tolong... buatkan gaun untuk Angelica untuk dipakainya di pesta dansa
nanti” mohon Johan pada Sylvie.
“Eh,
buatkan...? tapi, kalau mendadak begitu...”
“Aku
akan bayar berapapun”
“Tidak,
bukan itu masalahnya...”
“Karena
mungkin... ini hal terakhir... yang bisa kulakukan untuknya...!!”
Johan berteriak,
hingga Sylvie terkejut mendengarnya.
“Eh...
kenapa... kak Johan berpikir begitu...?” tanya Sylvie gugup.
Johan
diam sejenak, akhirnya ia mengatakan alasannya.
“Sekarang
sudah ada Russell di sampingnya... aku ingin membuatnya terlihat cantik di
depannya, setidaknya untuk malam itu... agar ia bangga bahwa... ia bisa berada
di samping Russell tanpa rasa malu... tidak seperti aku... yang begini
pengecut... aku ingin mereka bahagia...”
Angelica dan Russell begitu terkejut mendengar pernyataan itu dari Sylvie.
“Kak Johan... bilang begitu...?” tanya Angelica untuk meyakinkan.
“Dia berusaha demi aku juga, ya... dasar orang itu...” komentar Russell
sambil tersenyum lega.
“Yaah... aku sendiri juga berusaha demi kamu...”
Sylvie mengatakannya membuka sarung tangan yang dipakai sebagai
aksesorisnya, yang ternyata tangannya penuh dengan tusukan jarum dan bekas
silet. Angelica sangat terkejut.
“Sylvie! Lukamu...”
“Aku baru kali itu melihat kelemahan kak Johan hingga sampai batasnya, dan
akhirnya kuputuskan untuk menerimanya... karena ia begitu menyukaimu, Angelica”
Angelica kembali tak bisa membendung air matanya. Ia merasa bersalah
sekaligus berterima kasih pada Sylvie. Ia berkorban dua, bahkan tiga hari ini
untuk menyelesaikan gaun yang khusus untuknya. Dan juga, kepada Johan yang
telah begitu berkorban banyak padanya.
‘Gara-gara aku... kak Johan terluka begitu banyak... seharusnya aku
menyadarinya lebih cepat... gara-gara kebodohanku, kak Johan....!’ keluh
Angelica dalam hati.
Angelica masih terus menangis setelah mendengar pengakuan dari mereka. Setelah
puas menangis, Angelica menghapus air matanya kembali. Ia memejamkan mata
sesaat, dan membuka matanya setelah merasa cukup kuat untuk bertindak ke
langkah yang seharusnya ia ambil.
“Sylvie... maafkan aku... terima kasih banyak... kau sendiri juga berusaha
demiku...! Aku akan membantu merawat lukamu nanti” ucapnya pada Sylvie.
“Kita sahabat, kan? Demi melihatmu menjadi cantik, aku akan lakukan
apapun!” balas Sylvie sambil tersenyum.
“Ya... kak Russell, maafkan aku... atas semua yang sudah terjadi... aku
akan lakukan apapun untuk menebusnya...” ucapnya pada Russell.
“Tidak usah sampai begitu... Aku mengerti... pergilah ke tempat Johan...”
perintah Russell pelan. Ia memandangnya dengan ramah seperti biasa.
“Baik... Harry... terima kasih untuk selama ini...” ucapnya pada Harry
sambil menunduk.
“Tidak masalah. Tapi... sepertinya aku tahu di mana kak Johan...” kata
Harry dengan nada membuat penasaran....
Angelica berjalan sendirian di luar Aula. Ia mencari-cari tempat yang
dimaksud Harry.
“Di
belakang Aula ini ada balkon di tengah kolam teratai, kan? Sepertinya ia
kesana... disana pohon sakura yang bibitnya dibawa dari Jepang sedang mekar,
meskipun ini musim gugur...”
Setelah berjalan melewati taman, Angelica akhirnya menemukan tempat yang
dimaksud Harry. Angin bertiup cukup kencang saat ia menemukan Johan. Di sana,
Johan berdiri sendirian sambil melihat pohon sakura yang berguguran, tanpa
menyadari Angelica sedang berdiri di belakangnya.
“Ka...”
Ia berusaha keras mengeluarkan suaranya, tapi entah kenapa suara itu
tertahan saat mendengar Johan menggumam sendiri.
“Akhirnya... aku sudah berusaha memberitahu Angelica perasaanku di
saat-saat terakhir... tapi, ia memang tidak peka... apa boleh buat jika ia
memilih Russell... aku harus menyerah... ya... asalkan mereka bahagia... tak ada
tempat untukku memasukinya lagi... karena... ia memilihnya...”
Johan tersenyum tipis saat itu. Wajahnya terlihat cukup sedih. Ia sedang
menengadahkan tangannya membiarkan kelopak sakura yang berguguran itu sampai di
tangannya. Angelica yang berdiri di seberang balkon itu menatapnya dengan
sedih.
“Meskipun kau terluka... kau tidak apa-apa...?”
Johan terkejut mendengar suara Angelica di belakangnya. Dan ia lebih
terkejut lagi saat tiba-tiba Angelica berlari dan melompat memeluknya.
“Angelica...” panggil Johan.
“Maafkan aku...! aku sudah banyak melukai perasaanmu hanya gara-gara aku
plin-plan... itu karena aku merasa, aku tidak pantas untukmu, kak Johan!
Karenanya aku memilih kak Russell karena kurasa ia lebih bisa menerima diriku
seperti ini... tapi ternyata tidak bisa... kumohon... tetaplah disampingku!!”
Angelica menangis. Sementara Johan tak bisa menahan diri, hingga akhirnya
ia memegang pipi Angelica dan menciumnya.
“Kau selalu pantas untukku, kok... aku juga minta maaf sudah membuatmu
bingung... terima kasih sudah bersedia di samping... diriku yang seperti ini...
aku sungguh rapuh tanpamu, Angelica... kau... berharga bagiku lebih dari
siapapun... terima kasih...”
Johan menangis, dan mereka saling berpelukan kembali. Angelica tanpa sadar
kembali menangis dalam pelukannya, sambil melihat ke arah langit.
‘Kali ini... aku merasa begitu bahagia... ah... bintang-bintang itu
bersinar sangat terang... seperti... mengucapkan selamat pada kami... terima
kasih... kak Johan...’
Setelah itu, mereka mendengar suara dari dalam aula. Suara alunan musik
yang sudah berganti dengan lagu baru.
“Ah, sudah berganti ya lagunya?” komentar Johan.
Ia melepaskan diri dari pelukan Angelica. Ia perlahan menaiki balkon yang
berada dua tingkat lebih tinggi dari tempatnya berdiri sebelumnya.
“Angelica Steva Fiammatta Sandoras... maukah kau menjadi kekasihku...?”
tanya Johan sambil mengulurkan tangannya.
Angelica tersenyum bahagia, dan kali ini, ia menyadari bahwa ia telah meraih
tangannya dan berjalan menaiki tangga.
“Dengan senang hati, Johan Robin Harcourt Sabrishion!!”
Malam itu begitu cerah dan langit yang gelap itu ditaburi bintang-bintang.
Selain itu, guguran kelopak bunga sakura turun dengan deras seiring tertiupnya
angin yang kencang. Angelica dan Johan berdansa di balkon itu dengan bahagia.
Mereka saling melangkah dengan tegas.
‘Perasaan ini... sama seperti tadi... aku merasa aku tahu kemana langkah
selanjutnya kak Johan membimbingku... dan... membuatku semakin bersemangat
mengikuti langkahnya... seperti... mendengar alunan melodi yang terbang dengan
sayapnya...’
Setelah menggumam seperti itu dalam hati, mereka berhenti berdansa
bersamaan bergantinya lagu. Johan mendekatkan wajahnya ke wajah Angelica.
“Ngomong-ngomong, hari ini kau cantik sekali, deh” puji Johan.
“Ti... tidak, kok...” balas Angelica malu-malu.
“Yaah, tapi hanya dengan gaun ini, sih” ledek Johan.
“Uuuugghh~! Bisa tidak, sih, tidak membuatku kesal!!” teriak Angelica
protes sambil mengayunkan bogem padanya, tapi...
“Wuuups! Maaf, tinjumu tidak sampai, tuh!” kata Johan sambil menangkisnya.
‘Walau... perjuangan untuk memperbaiki hubungan ini masih panjang..’
“Dasar... kak Johan bodoooohhh!!!” teriak Angelica sambil melempar sesuatu.
BLETAK! Benda itu pun mendarat ke kepala Johan. Ia pun pura-pura protes
karena Angelica melemparnya dengan...
“Aduh! Hei! Seenaknya melemparku! Dengan sepatu kaca, pula! Kalau masih
ngambek, kucium lagi, lho!”
“Cium saja sepatunya, dasar kakak menyebalkaaan!!” teriak Angelica sewot.
Russell, Sylvie dan Harry melihat mereka yang sedang bertengkar di suatu
tempat yang tak terlihat oleh mereka.
“Sepertinya perang mereka masih berlanjut, ya” komentar Russell.
Malam itu, langit malam masih begitu cerah dengan bintang-bintang bertaburan
dan berkelap-kelip menghiasi bagai permata. Angin yang bertiup perlahan
menggugurkan perlahan sakura yang baru saja tumbuh. Dalam malam istimewa,
mereka saling bergandengan tangan. Mulai menjalani kehidupan bersama, yang
masih akan menguji kesetiaan mereka nantinya....
0 comment:
Posting Komentar