A
|
ngelica sudah kembali dari kafe. Ia masuk ke kamar dan menutup pintunya,
kemudian bersandar di pintu dan menyeretkan punggungnya hingga terduduk. Ia
termenung, masih memikirkan kata-kata Sylvie setelah ia menerima telepon dari
Russell.
“Angelica,
kau tidak apa-apa seperti ini? Kau sadar yang kau lakukan adalah menggantungkan
harapan pada mereka berdua? Memang, kau sudah menerima kak Russell, tapi aku
yakin sebenarnya itu bukan jawaban hatimu, kan?”
‘Benar...’
“Kalau
memang kau sungguh-sungguh menyukai kak Russell, aku takkan bilang apa-apa,
tapi... kau juga harus berhenti dengan kak Johan... aku yakin, dia tersiksa
sekali...”
“Tersiksa...?
maksudmu...?”
“Selama
kau koma, kak Johan bersekolah, mengurus festival dan pekerjaannya seperti
orang depresi. Aku bahkan tak berani menyapanya selama kau belum siuman. Ia
mendadak jadi tegas. Namun suatu hari saat aku akan menyerahkan surat
pendaftaran panggung drama untuk festival... aku melihat kak Johan menangis
histeris di ruang Dewan Siswa sendirian... pasti berat baginya... sekaligus...
kecewa sekali...”
‘Angelica... kau sangat bodoh, tahu...’
“Tapi
sudahlah, itu tidak penting bagimu. Kau sudah memilih kak Russell, kan?
Selamat, ya. Kak Russell orang yang sangat baik. Dan seiring waktu, kak Johan
nanti akan melupakan perasaannya padamu, kok...”
‘Bagaimana bisa kau menyakiti dan membuat derita orang yang mencintaimu
sampai seperti ini... Sylvie... kau mungkin seperti membela kak Johan... tapi
bagaimana perasaanku, aku juga tidak tahu...’ komentar Angelica terhadap Sylvie
di dalam hatinya.
“Kenapa rasanya... hatiku sesakit ini... saat Sylvie bilang begitu...”
lanjutnya bicara sendiri.
‘Mereka berdua terlalu baik... apa melepas mereka berdua akan merubah
hidupku jadi jauh lebih baik...? ya... kuharap begitu...’ katanya lagi dalam
hati untuk meyakinkan diri.
TOK TOK! Terdengar suara ketukan pintu dari luar. Angelica langsung
terkejut dan bangkit. Ia langsung merubah raut wajahnya dan membuka pintu.
“Siapa ya? Ah...”
Angelica agak terkejut, karena yang datang ke kamar asramanya adalah...
“Kak... Johan...”
“Selamat pagi. Kuharap aku tidak mengganggumu...... Boleh aku masuk?” tanya
Johan ragu-ragu, sambil memberikan bingkisan pada Angelica.
“Ya...” jawab Angelica pelan, sambil menerima bingkisan tersebut.
Johan duduk di meja pemanas yang ada di kamar Angelica dan melihat-lihat
sekeliling kamar. Namun Angelica sendiri tidak menghiraukannya. Ia mengintip
isi bingkisan sesaat, kemudian duduk di seberang meja dan meletakkan bingkisan
di atasnya.
“Ada apa kemari, kak Johan? Apa kau tidak ada pekerjaan...?” tanya
Angelica. ia sama sekali tidak melihat wajah Johan dan mengalihkan pandangannya
pada bunga salvia yang diletakkan di dalam vas di atas meja.
Johan menghela napas.
“Sekolah libur dan kegiatan Dewan Siswa belum dimulai. Jadi aku kemari,
sekalian melihatmu apa kau baik-baik saja karena kemarin kau tidak kembali ke sana”
jawab Johan berusaha untuk tenang.
“Aku tidak apa-apa, kak. Aku merasa jauh lebih baik setelah koma waktu itu.
Maafkan aku telah membolos kemarin. Ah, terima kasih fruit pie pemberianmu”
ucap Angelica pelan.
“Syukurlah...” balas Johan lega.
Mereka terdiam sesaat. Kemudian Johan sedikit memundurkan duduknya menjauhi
meja. Kemudian bersujud padanya.
“Eh? Kak Johan!” teriak Angelica terkejut. Ia langsung menghampiri Johan
dan memaksanya bangkit, namun Johan tidak bergeming.
“Aku... tak akan melakukan hal seperti kemarin lagi..... aku benar-benar
merasa bersalah, melakukan itu pada pacar sahabatku..... bahkan membuatmu
kepikiran seperti ini... karenanya aku benar-benar minta maaf!! Maafkan aku!!”
Johan berteriak dan masih tetap dalam posisi itu, sementara Angelica
melihatnya dengan bingung. Badannya bergetar.
‘Kenapa kak Johan malah minta maaf di saat aku... sedang bingung seperti
sekarang...’ tanya Angelica dalam hati.
Mereka tetap terdiam. Karena tidak ada jawaban, akhirnya Johan mengangkat
badan dan kepalanya lagi. Ia melihat wajah Angelica yang masih terlihat tak ingin
melihatnya. Johan mengerti, dan mengubah raut wajahnya menjadi sedih sambil
tersenyum dengan paksa.
“Baiklah. Tidak apa-apa jika kau tidak mau memaafkanku. Wajar saja,
sih...... tapi, meski begitu, tolong bersikaplah seperti biasa padaku selama di
Dewan Siswa saja. Aku tidak mau ada komentar macam-macam lagi di sekolah
itu...” perintah Johan sambil berdiri.
“Ya..... aku mengerti...” jawab Angelica dengan tetap menunduk.
Johan tersenyum sambil menghela napas. Ia membuka pintu.
“Baiklah, aku akan ke Dewan Siswa sekarang. Kau boleh tidak datang hari
ini, biar aku semua yang urus. Tapi jangan bolos saat hari Senin sampai hari
pembukaan, ya” perintahnya lagi.
“Ya...” jawab Angelica pelan.
Johan yang sudah berdiri di luar pintu, akhirnya menutup pintu dengan
pelan. Angelica masih berada dalam posisinya, berpikir...
“Bersikap... seperti biasa... ya...”
Akhirnya, sudah hari Senin lagi. Angelica kembali disibukkan dengan urusan
festival yang akan dimulai hari Kamis nanti selama tiga hari. Baik dirinya,
Johan, maupun Russell sama-sama sedang tidak punya waktu untuk memikirkan
hubungan mereka. Meski terkadang Russell tetap berusaha menemui Angelica untuk
memastikan keadaannya, namun ia sendiri belum mengatakannya pada Russell, apa
yang ingin ia lakukan. Sementara Johan tetap menjalankan tugas yang memang
mesti ia lakukan...
Sehari sebelum festival.
“Semua sudah beres. Tiga gerbang di sebelah barat, timur, dan selatan sudah
selesai dibuat. Pintu belakang di sebelah utara hanya digunakan untuk akses
panitia festival. Jadwal, pamflet, serta makalah penelitian masing-masing klub
sudah diserahkan ke Dewan Siswa” lapor Patricia dalam rapat sore di Dewan
Siswa.
“Baguslah. Semuanya, aku tahu hari ini pun kalian lelah. Karenanya kalian
boleh langsung kembali ke rumah masing-masing. Bersemangatlah untuk festival
tiga hari ke depan!!” perintah Johan memberi semangat.
“Yaaa!!” jawab anggota lain dengan kompak.
Johan menutup rapat. Aldias, Michaelis, dan Patricia pun pamit lebih dulu.
Angelica masih merapikan barangnya dan bersiap untuk kembali ke asrama.
“Angelica” panggil Johan.
“Ya?” sahut Angelica sambil mengalihkan pandangan padanya.
“Semoga festivalnya menyenangkan untukmu, ya!”
Johan mengatakannya sambil tersenyum. Angelica berdebar-debar melihatnya,
namun ia membalasnya dengan senyuman...
“Ya...”
Dan akhirnya, festival sekolah dimulai! Seluruh bagian sekolah berseru
menyambut dimulainya festival setelah pernyataan pembukaan dari ketua Dewan
Perguruan Siswa, Russell. Para pengunjung pun mulai berdatangan dan para siswa
menyambutnya dengan senang.
“Selamat datang di festival Perguruan Afiliasi Escoriale! Hari ini akan ada
pameran penelitian dan stan makanan serta hiburan dari semua siswa-siswi
sekolah kami. Mau beli pamflet? Harganya 3 pound!!”
“Presentasi penelitian dimulai setengah jam lagi! Silakan datang ke Aula
Besar satu untuk penelitian bidang Ilmu Alam!”
“Presentasi penelitian bidang teknik dan Arsitektur di Aula Besar tiga!
Silakan beli tiketnya di counter!!”
“Selamat datang! Kami menjual tiket masuk untuk pameran presentasi
penelitian seluruh bidang pendidikan sampai esok hari! Harga tiket semua
pameran 150 pound, namun jika beli tiket lanjutan hanya 100 pound! Silakan
pilih!”
Sementara itu, Angelica dan Johan yang sedang bertugas mengawasi jalannya
festival sedang berada di atas atap bagian SMA.
“Waaaaw!! Luar biasa ramaaai!! Padahal masih pagi, tapi banyak rombongan siswa-siswi
dari sekolah lain!? Waaah, banyak yang bolos, ya!!” seru Angelica terkejut
melihat pengunjung yang membludak tepat saat gerbang sebelah timur yang
merupakan gerbang terdekat dengan SMA, dibuka saat itu.
“Mereka tidak bolos, tapi memang sekolah lain banyak yang diliburkan atau
menjadikan dua hari ini sebagai studi lapangan bagi sekolah mereka!” jawab
Johan.
“Hah!? Studi lapangan di sekolah kita!?” tanya Angelica terkejut.
“Ini perguruan bergengsi. Perguruan kita banyak menyumbangkan hasil
penelitian yang berguna dan bermanfaat bagi masyarakat banyak, sehingga sekolah
kita dijadikan pelopor bagi perkembangan dunia pendidikan di Inggris. Sekolah
lain banyak yang mengakui keberhasilan perguruan kita, dan menjadikan hari ini
sebagai ajang mereka untuk mendapatkan dan menambah pengetahuan mereka lewat
festival ini. Karenanya... ini tahun yang luar biasa, ya!!” jelas Johan panjang
lebar.
“Tahun yang... luar biasa, ya...” komentar Angelica.
“Yaaah, karena festival ini sebenarnya diadakan empat tahun sekali” jawab
Johan sambil manggut-manggut.
“Waah, pantas saja mereka begitu bersemangat...” komentarnya lagi...
“Ngomong-ngomong... kau tidak ambil bagian dari klub di festival ini?”
tanya Johan.
“Tidak. Mereka tahu aku bakal sibuk di Dewan Siswa, jadi aku hanya sibuk di
belakang layar!” jawab Angelica. Johan hanya menanggapi dengan biasa...
“Ooh”
Menjelang siang hari, masalah kecil pun mulai terjadi di dalam festival.
“Hei, Angelica!”
“Eh? Kenapa kak Johan?”
“Kau mengurus pemilihan Putri dan Pangeran, kan!? Kenapa tidak ada yang
jaga stannya!?”
“Eh? Bukankah kak Patricia..”
“Preminger baru akan datang siang nanti! Kemarin ia sudah bilang kan!?”
“Baiklah, aku gantikan! Maaf aku lupa!”
Setelah berbagai macam kejadian, akhirnya festival hari pertama selesai dan
berjalan lancar. Dan di hari kedua, para siswa dan panitia pun mempromosikan
penelitian mereka.
“Presentasi penelitian hari ini di bidang Seni Budaya Internasional di Aula
Besar satu, Hukum dan Hubungan Internasional di Aula Besar dua, Kedokteran dan
Kesehatan di Aula Utama sebelah barat, dan Ekonomi dan Pembangunan di Aula
Utama sebelah timur!!”
“Setelah jam makan siang, ada presentasi penelitian di bidang Ilmu Sosial
di Aula Besar dua, bidang Psikologi di Aula Besar satu, dan bidang Olahraga di
gedung Olahraga! Silakan datang!!”
Sementara itu di Aula Besar satu, Angelica mengurus bagian klub Bahasa
Jepangnya yang seharusnya menjadi orang di balik layar, tapi...
“Kenapa aku jadi bagian presentasinya!? Bukankah seharusnya aku bagian
praktiknya!?” protes Angelica.
“Senior yang seharusnya jadi presentasi mendadak ada pekerjaan. Hanya kau
yang bisa!” jawab salah seorang teman se-klubnya.
“Tolong ya!” mohon salah seorang lagi.
“Aduuuh, kak Johan! Bagaimana ini!?” tanya Angelica meminta pendapat pada
Johan yang kebetulan ada disitu karena mengurus klub yang punya masalah kecil
disitu.
“Sudah cepat gantikan, sana!” teriak Johan pasrah.
Dan di hari ketiga, merupakan festival hiburan, di mana di hari terakhir
ini dimanfaatkan untuk bersenang-senang serta menunjukkan kebolehan
masing-masing kelas dan klub. Tapi... masalah banyak terjadi di sekitar...
“Wakil ketua, ada masalah di ruang
klub masak!”
“Wakil ketua, bisa tolong tangani masalah di sini!?”
“Wakil ketua, papan namanya ambruk!!”
“Huaaaa!! Kenapa sesibuk ini, siiihh!?! Kak Michaelis, kak Johan di mana!?”
teriak Angelica panik menghadapi masalah tersebut.
“Eh? Bukankah tadi dia minta izin ikut kegiatan kelasnya sampai jam makan
siang nanti?” jawab Michaelis.
“Heeeh!? Di saat seperti ini!? Baiklah, akan kutemui dia!”
“Dan... kenapa kau kemariii!!?”
Angelica datang menghampiri Johan di taman air mancur tempat restoran kelas
Johan dibuka, yang ternyata...
‘Waah, ternyata pelayan cowoknya pakai kostum pangeran!’ teriak Angelica
dalam hati. Namun ia segera menggelengkan kepala menyadari situasi.
“Tenaga kita sedikit karena banyak yang mengurus bagian kelasnya! Bagaimana
ini!?” tanya Angelica panik.
“Apa gunanya kau sebagai wakil, sih!?”
“Aku kewalahan, tahu!!”
TUNG TONG TANG TING! Tanda sebuah pengumuman akan diumumkan.
“Pengumuman kepada seluruh pengunjung, sekarang akan diumumkan penobatan siswa
dan siswi yang menjadi Putri dan Pangeran. Jika ingin melihat, harap datang ke
Aula bagian SMA setelah pentas drama berakhir”
“Gawat! Giliranku untuk mengurus itu!” teriak Angelica panik.
“Aku akan selesai sepuluh menit lagi di sini. Cepat ke sana dan jangan lupa
beritahu kak Michaelis untuk mengkoordinir sampai aku selesai!” perintahnya
pada Angelica.
“Baiiik!”
Angelica pun berjalan kembali ke bagian SMA, dan sekilas mengintip Johan
yang sedang bekerja. Ia menggumam sendiri.
‘Tapi, kak Johan... kelihatan keren sekali dengan baju itu... mungkin?”
Di Aula bagian SMA, Angelica berlari menghampiri Patricia.
“Kak Patricia, bagaimana keadaannya?” tanya Angelica.
“Cukup baik! Kau bisa lanjutkan disini sendiri? Aku harus mengurus anak
hilang!” perintah Patricia dengan terburu-buru.
“Baiik!”
Setelah menjawab begitu, Angelica yang sedang berdiri di atas gondola untuk
mengawasi jalannya pengumuman pemilihan Putri dan Pangeran. Di atas panggung,
sepasang presenter hadir dan memulai acara ini.
‘Presenternya dari klub presenter, ya? Mereka luar biasa!’ puji Angelica
dalam hati.
“Selamat siang semuanya! Hari ini kami akan mengumumkan Putri dan Pangeran
sekolah kita, lhooo!! Buat yang berada di bagian SMA, silakan merapat!!” sapa
si presenter cewek.
Para penonton yang mayoritas adalah siswa SMA, berseru dengan ramai.
“Huaaa!! Seramai ini yang nonton!!?” teriak Angelica terkejut.
“Kualifikasi untuk menjadi kandidat hanyalah, ia dari siswa sekolah SMA
kita. Karena ini acara khusus dari bagian sekolah kita!!” kata presenter cowok
memberi syarat.
“Baiklah! Kalian penasaran, kan? Penasaran? Ayo kita mulaaaii!!” teriak
presenter cewek bersemangat.
Suara semakin ramai untuk menanti pengumuman. Tak lama, seisi ruangan
semakin membludak karena bukan hanya siswa SMA, tapi siswa bagian sekolah lain
dan pengunjung yang juga memberi suara pun ikut penasaran.
‘Aku tidak menyangka, ternyata murid-murid sekolah dengan tipikal nona dan
tuan muda ini bisa jadi liar seperti ini! Tapi... keseharian mereka memang
membuat mereka cukup penat. Dan ini adalah satu hari terpenting untuk
melepasnya... semoga bisa lancar sampai akhir...’ doa Angelica dalam hati.
“Nah untuk yang pertama, kita akan mengumumkan siapa yang menempatkan
posisi Pangeran. Dia adalaaahh....”
Si presenter cewek berhenti sesaat untuk membuat penasaran, dan....
“Sang Ketua Dewan Siswa, Johan Robin
Harcourt Sabrishion!!!” teriaknya bersemangat. Para penonton pun berseru atas
terpilihnya Pangeran di acara tersebut.
‘Serius!?! Itu berarti dia lebih populer dari kak Russell!? Hebaaaat,
ternyata fans-nya sebanyak itu! Heee, kak Johan muncul! Tapi dia keringetan,
tuh!!! Pasti habis lari-lari saat menuju ke sini!!’ kata Angelica dalam hati
seraya terkejut.
Johan naik ke atas panggung dan sudah berganti kostum dengan seragam. Saat
di panggung, ia menggerutu ‘kenapa aku dinobatkan sama yang beginian, sih?
Menyusahkan!’
“Kemudian yang menempatkan posisi Putri adalaaahh.... oow, orang ini pernah
tertimpa gosip aneh belum lama ini, tapi itu tidak membuat pamor orang ini
jatuh! Sang Wakil Ketua Dewan Siswa, Angelica Steva Fiammatta Sandoras!!!”
teriak presenter cowok mengumumkan.
‘A, akuuuuu!?!?!’ Angelica sangat terkejut mendengar pengumuman itu. Saat ia
naik ke atas panggung, terdengar celaan dari para siswa.
“Iiih, si Sandoras!? Dia kan masih kelas satu!”
“Bukannya gosipnya dia memanfaatkan Sabrishion, tuh?”
“Hei, itu tidak benar, tahu! Sabrishion dan Orlando sudah bilang yang
sebenarnya!”
Angelica jelas mendengar celaan-celaan itu dan sedikit menggerutu dalam
hati.
‘Ternyata masih ada ya, gosip kayak gitu. Tapi kenapa bisa dinobatkan,
sih!?’
“Hooi, senyum, senyum! Mau difoto, tuh!” kata Johan yang berdiri di
sebelahnya. Angelica tergugup.
“Selamat untuk Ketua dan Wakil Ketua Dewan Siswa kita! Bagaimana perasaannya
mendapatkan gelar ini?” tanya presenter cewek kepada Johan.
“Eeengg... sama sekali tidak menyangka. Tapi terima kasih untuk semua yang
telah memberikan suaranya pada kami!! Sekalian saja, kami tegaskan lagi. Aku
dan Sandoras tidak punya hubungan apapun. Hari itu kami hanya pergi belanja
untuk keperluan Dewan Siswa, dan ayahku marah dengan menuduh macam-macam sampai
aku dipukuli seperti itu!” kata Johan memberikan pembenaran, yang spontan
membuat audiens tertawa.
“Hahaha! Apaan tuh!”
“Jadi benar cuma belanja, tuh”
“Dan jika masih ada yang bermasalah dengan gosip itu, silakan datang
padaku!” kata Johan kemudian. Angelica begitu terpana melihat dia yang
mengatakannya dengan tegas.
‘Kak Johan... keren, dia membereskannya dengan tenang...’
“Baiklah, demikian pernyataan yang diberikan Ketua! Semoga kalian paham!”
tutup presenter cowok.
“Dan dengan begini, acaranya berakhir! Terima kasih telah hadir di sini!
Jangan lupa lusa nanti ada pesta dansa yang ditunggu-tunggu!!” sapa presenter
cowok menutup acara.
Para penonton pun mulai membubarkan diri. Tak jauh dari situ, Russell
memperhatikan panggung dengan menyandarkan punggungnya ke pintu, dan Angelica
menemukannya. Kemudian ia menghampirinya.
“Kak Russell!” panggil Angelica.
“Selamat atas penobatan Putrinya. Kau juga, Johan” puji Russell.
“Itu sih, mudah. Aku kan memang lebih populer daripada kau!” kata Johan
menyombongkan diri.
“Haha iya, deh” Russell mengalah.
“Baiklah. Cepat kembali ke Dewan Siswa, ya!” perintah Johan pada Angelica.
“Baiik”
Kemudian Johan berlalu meninggalkan Angelica dan Russell.
“Angelica, kau sudah dapat pasangan untuk pesta dansa?” tanya Russell
kemudian.
“Ah, tentu saja belum. Aku bahkan belum memikirkannya. Bagaimana dengan
kakak?” tanyanya balik.
“Ah, belum... kalau begitu, kita berpasangan, ya” katanya lagi.
“Eh... tapi...” Angelica menundukkan kepala, ia merasa malu.
‘Bohong..! aku senang sekali...!’ katanya dalam hati.
“Ng? Kalau kau tidak mau, aku tidak akan memaksa, kok” kata Russell.
“Ah, bukan begitu! Ng... baiklah, kalau kau tidak keberatan denganku...”
kata Angelica menerimanya.
“Syukurlah... kalau begitu sampai lusa nanti!” sapa Russell sambil berlalu,
dan Angelica melambaikan tangannya.
‘Pesta dansa... aku dengan kak Russell... bagaimana dengan kak Johan...? Dia
sudah dapat pasangankah...?’ tanya Angelica dalam hati. Namun kemudian terkejut
sendiri.
“Aku... kenapa memikirkan kak Johan...?”
0 comment:
Posting Komentar