Sabtu, 28 Maret 2015

Wings of Melodies~LoveStory Edition - Chapter 18



‘K
ak... Johan...’
Johan dan Angelica sedang berada di posisi yang jelas akan membuat orang lain yang melihatnya terkejut. Ia terus mendorong Angelica hingga menabrak meja yang biasa dipakai Johan hingga ia terduduk dan tertidur. Semakin lama Johan semakin memaksanya.
“He...... hentikan!!!” teriak Angelica.
PLAK!
Akhirnya Johan kembali berdiri seperti semula setelah tamparan dari Angelica menyadarkan sikapnya. Angelica terengah-engah setelah berjuang melepaskan diri dari kekangan Johan yang
memaksanya untuk... menciumnya. Badan Angelica bergetar hingga akhirnya menangis. Johan terdiam, namun tak lama akhirnya Johan sadar akan perlakuannya setelah melihat Angelica menangis. Ia menekuk lututnya dan membungkuk.
“Maafkan aku...”
Johan meminta maaf dengan bersujud. Dan Angelica tak kuasa melihat Johan seperti itu. Ia bergegas mengambil tasnya dan berlari keluar dari ruangan itu dengan mendetektor kartu siswanya, dan saat itu para senior yang baru datang terkejut melihatnya keluar.
“Angelica!” panggil Patricia.
Namun ia tak menghiraukan panggilan Patricia dan tetap berlari dari situ......

‘Kak Johan...... kenapa......’
Angelica berada di kamar asramanya. Ia menangis sendirian dan masih begitu shock atas perlakuan Johan padanya. Semakin lama, akhirnya ia sadar akan satu hal. Hal yang seharusnya sudah ia pahami sejak lama. Dan tak pernah ia pungkiri.
‘Ternyata...... aku memang....... aku sendiri bodoh karena tak bisa menahan diriku, tapi..... tapi.....’ katanya dalam hati.
“Kak Russell...” panggilnya.
Ia masih sesenggukan, meletakkan kepalanya di atas paha, tanpa peduli isi tasnya telah berhamburan saat ia masuk ke kamar. Air matanya menetes di antara kertas-kertas yang berserakan dan tablet yang tak sengaja terlempar keluar. Ia merasa begitu buruk, dan bersalah...

“Angelica, kau baik-baik saja?”
Setelah tahu Angelica tak ada di ruang Dewan Siswa, Russell menemuinya di asrama dan masih mengetuk-ngetuk pintu kamarnya. Angelica sedikit terkejut, ia segera menghapus air matanya, dan membuka pintunya dengan berat hati.
“Kak Russell, selamat sore” sapa Angelica agak lemas.
“Ada apa? Bukankah seharusnya kau mengurus festival hari ini?” tanya Russell dengan nada khawatir.
“Ah, aku... tiba-tiba badanku tidak enak, dan kak Johan..... menyuruhku pulang...” jawab Angelica sekenanya.
‘Akhirnya..... aku berbohong juga....’ lanjutnya dalam hati.
“Benarkah? Seharusnya kau jangan memaksakan diri. Kau baik-baik saja? Sudah makan dan minum obat?” tanya Russell dengan ramah.
“Belum...” jawab Angelica.
‘Maafkan aku, kak... maafkan aku...’
“Kalau begitu, ayo kita keluar. Aku sudah janji mentraktirmu hari ini kan? Kau ingin makan sesuatu?” tanya Russell lagi.
‘Aku sendiri tidak mengerti kenapa diriku seperti ini...’
“Ah... terserah kakak saja... tapi, aku sedang tidak ingin kemanapun di sisa hari ini...” jawab Angelica pelan. Russell menghela nafas.
“Baiklah. Aku akan mengambil makananmu di dapur asrama. Kau tidak boleh pilih makanan, jadi apapun yang kuambil, kau harus makan, ya” kata Russell sambil mengelus kepalanya. Angelica menjadi sedih, ia benar-benar merasa bersalah saat ini....
“... ya...”

Keesokan harinya, sekolah libur. HP Angelica berdering keras karena alarm yang menyuruhnya untuk segera bangun. Ia hanya mengambil HP dan mematikannya. Ia masih menutup dirinya dalam selimutnya. Ternyata ia tidak bisa tidur semalaman dan masih mengenakan seragamnya. Merasa sedikit tidak enak badan, sekaligus masih memikirkan kejadian kemarin.
TOK TOK!
“Angelica, kau sudah bangun? Angelica!!”
Sylvie masih terus mengetok-ngetok pintu kamarnya, ada rasa khawatir di wajahnya. Akhirnya dengan setengah berat hati, ia bangkit dan membukakan pintu.
“Pagi, Sylvie” sapa Angelica lemas, sekaligus masih mengantuk.
“Hei, kau baik-baik saja? Wajahmu agak pucat! Kau masih pakai seragam sejak kemarin? Pasti kau tidak mandi sore. Ayo, sarapan. Sudah siang, lho!” kata Sylvie dengan nada khawatir dan setengah memerintah.
“Aku tidak lapar. Maaf, kau sarapan sendiri saja”
“Angeli...”
CKLEK! Angelica langsung menutup pintunya. Dan hal itu makin membuat Sylvie khawatir.
“Baiklah, aku akan bawakan sarapan ke sini. Kau harus minum obat juga, kan!? Tunggu, ya!” teriak Sylvie dari luar.
Ia masih duduk di balik pintu, menyembunyikan wajahnya di sela-sela pahanya. Ia menangis lagi. Tanpa terasa ia seperti itu cukup lama, sampai akhirnya Sylvie kembali ke kamarnya membawakan sarapan.
“Sylvie...”
“Aku bawakan sarapan untukmu. Obatmu ada, kan? Aku masuk, ya. Waah, kamarmu berantakan sekali! Ini obatmu yang ada di atas meja belajar, kan? Cepat sarapan dan minum obatnya selagi aku merapikan kamarmu!” perintah Sylvie sambil membereskan kamar Angelica yang memang berantakan karena buku berserakan dimana-mana, serta tong sampah dapat dibakar yang terjatuh sehingga isinya berhamburan keluar dan Angelica memang tidak mengembalikan ke tempatnya.
Angelica hanya diam menurut. Ia memakan sandwich daging asap dan telur mata sapi pelan-pelan di atas nampan yang diletakkan di atas meja kotetsu-nya. Kemudian meminum susu rasa vanila dan meminum obatnya dengan air putih yang juga dibawakan Sylvie.
“Setelah sarapan, segera gosok gigi dan cuci muka, ya. Akan kudandani nanti” kata Sylvie sambil membawa sampah untuk ditaruh ke pembuangan besar di belakang asrama.
“Tidak usah...” jawab Angelica pelan.
“Ayolah, jangan selemas itu. Kubantu jika kau masih lemas. Ayo!” perintah Sylvie agak memaksa.
Akhirnya ia terpaksa menurut. Namun karena tidak mandi sejak sore kemarin, ia merasa lebih bugar. Namun wajah sedihnya masih belum berubah. Sylvie memakaikannya baju bergaya lolita yang terlihat cocok dengannya.
“Ini produk baru tokoku. Kuberikan untukmu” kata Sylvie sambil me-resletingkan bagian belakang bajunya.
“Terima kasih” ucap Angelica pelan.
“Kubantu kau menyisir rambutmu, ya. Waah, banyak yang pecah-pecah di ujungnya. Kupotong sedikit tidak apa-apa, ya?”
“Ya, silakan”
Wajah Angelica masih tetap tidak berubah. Hal itu membuat Sylvie khawatir, namun ia menahan diri untuk tidak menanyakannya dahulu, sampai akhirnya ia selesai mendandani Angelica.
“Nah, selesai! Waahh, ternyata hasilnya di luar dugaanku!” teriak Sylvie terkejut.
Setelah melihat wajahnya yang terpantul di kaca, Angelica sedikit tersenyum. Ia merasa sedikit asing karena wajah itu karena seperti bukan dirinya.
“Terima kasih, Sylvie” ucap Angelica sambil tersenyum tipis.
“Sama-sama! Akhirnya kau tersenyum juga, meski sedikit” puji Sylvie senang.
“Ya... maafkan aku membuatmu khawatir” ucap Angelica lagi.
Sylvie menghela napas. Ia pun merapikan peralatan salonnya dan menyapu lantai bekas rambut Angelica yang terpotong. Akhirnya, ia pun memutuskan sesuatu setelah sedikit merenung...
“Sepertinya kau tidak ada kegiatan setelah ini. Mau keluar?”

Sylvie dan Angelica sampai di sebuah kafe yang tak begitu jauh dari sekolahnya. Suasananya begitu tenang, dan berada di atas danau buatan yang terlihat seperti laut, sehingga bahan bangunan dari kafe ini mayoritas adalah kayu dan bambu yang terlihat sangat kuat. Sekolahnya pun seperti terlihat dari seberang danau itu.
“Kau boleh pesan apapun. Dibawa pulang juga boleh. Aku akan traktir” kata Sylvie sambil menuang teh chamomile pesanannya.
“Terima kasih. Tidak kusangka ada cafe di tempat seperti ini. Haha tapi aku baru saja sarapan, lho” kata Angelica yang terpukau dengan tempat itu sambil menggenggam cangkir milk tea di tangannya.
“Yaah, memang cafe ini berada di balik gedung-gedung tinggi. Jarang ada yang menyadarinya juga, sih. Selain itu, kopi, teh, serta kudapan di cafe ini semuanya lezat. Ini tempat favoritku, karenanya aku mengajakmu ke sini” kata Sylvie sambil memangku kepalanya di atas tangan.
“... kenapa?” tanya Angelica tidak mengerti.
“Kita kan, sahabat... karenanya, aku ingin bisa berbagi kesenangan dan kesedihan bersamamu. Aku ingin bisa selalu berada dekat denganmu dan bisa jadi tempat segala hal bagimu. Aku paham jika saat ini kau tidak ingin cerita. Karenanya, aku akan bersabar...”
Sylvie mengatakannya dengan tegar. Angelica sedikit terkejut dengan ekspresi itu. Tak terasa, air matanya menetes. Ia akhirnya menyadari betul siapa Sylvie, meski sebenarnya ia tahu betul di lubuk hatinya.
‘Tak kusangka... ada seseorang lain, yang menganggapku lebih seperti ini... tapi aku malah...’ katanya dalam hati.
“Maafkan aku, Sylvie... bahkan sampai saat ini aku... tidak pernah bisa jadi sahabat yang baik bagimu... aku mengecewakan, ya...” ucap Angelica sambil sesenggukan.
Sylvie yang tadinya memegang cangkir, kini menaruhnya di atas piring kecil di mejanya. Ia pun memperbaiki posisi duduknya.
“Ada saatnya kita ingin sendirian tanpa siapapun. Terutama jika masalah itu begitu berat. Tapi janganlah lupa bahwa selalu ada tempat berbagi untuk kita. Meski terkadang mereka hanya menanggapi dengan ‘ooh’ atau ‘begitu, ya’, itu sudah cukup jika mereka mengerti. Kau memang tidak bisa selalu mengerti isi hati orang yang kau curhati, tapi... orang yang kau curhati paham betul posisimu...” jelas Sylvie panjang lebar.
“Ya...... terima kasih, Sylvie...” jawab Angelica sambil tersenyum.
Akhirnya ia memutuskan untuk menceritakan semuanya pada Sylvie. Semua kejadian sejak ia sadar hari itu, sampai yang terjadi kemarin. Sylvie sedikit terkejut.
“Kau pacaran dengan kak Russell? Serius?” tanya Sylvie untuk meyakinkan.
“... bagaimana, ya... aku memang menyukai kak Russell, tapi yang sebenarnya selalu ada untukku adalah kak Johan... dan aku merasa bersalah pada mereka berdua... apa yang harus kulakukan... aku tidak mengerti...” kata Angelica pelan.
“Kenapa berpikir begitu? Bukankah sudah jelas bahwa kau menyukai kak Johan? Bahkan melihatnya saja aku tahu kau suka, walau sebenarnya kau bimbang, tapi... itu seharusnya sudah jelas, kan?” tanya Sylvie berusaha menyadarkannya.
Angelica kembali menundukkan kepalanya, menangis.
“Aku sebenarnya... tak ingin mencintai seseorang lagi, tapi...”
“Eh? Kenapa?” tanya Sylvie tidak mengerti. Angelica menghapus air matanya.
“Sylvie, apa kau sudah punya tunangan?” tanya Angelica.
“Eh!? Ee... yaah, punya. Tapi aku belum pernah bertemu dengannya. Sama seperti kak Russell dan kak Johan. Kenapa memangnya?” Sylvie bertanya balik.
“Sama seperti kalian, dulu aku punya seorang tunangan... aku sudah menyukainya sejak pertama bertemu, tapi... begitu ekonomi keluargaku jatuh, ia langsung meninggalkanku begitu saja... aku takut... hal itu terjadi lagi...” kata Angelica pelan di akhir kalimatnya.
“Tapi, mereka juga sudah tahu keadaanmu sebenarnya, kan?” tanya Sylvie.
“Mereka hanya kasihan padaku! Karena aku ini miskin dan patut dikasihani! Tapi, saat keluargaku kembali seperti semula, belum tentu mereka tetap ingin bersamaku, kan!?”
Angelica kembali menangis. Sylvie hanya berusaha menahan diri. Tiba-tiba ada suara dering telepon dari HP Sylvie.
“Halo? .... ah, kak Russell.... Angelica sedang keluar bersamaku.... kau ingin bicara dengannya?” tanya Sylvie di telepon dengan Russell.
Sylvie melihat ke arah Angelica yang masih menunduk.
“Sepertinya ia sedang tidak ingin bicara.... baiklah, aku mengerti. Akan kusampaikan.... ya.... selamat pagi, kak. Kak Russell akan ke Amerika selama tiga hari karena urusan pekerjaan. Ia ingin aku menyampaikannya padamu” katanya kemudian setelah menutup teleponnya.
“... iya...” jawab Angelica pelan.
“Ia juga minta maaf karena tidak bilang kemarin dan tidak bisa menemanimu sekarang” katanya lagi.
“Ya.... terima kasih....” ucap Angelica lagi.
Dan anehnya ia tidak merasa sedih mendengar kepergiannya. Ia hanya diam menunduk, sambil mengaduk tehnya. Melihatnya seperti itu, Sylvie menarik nafas panjang. Dan mulai menanyakan pertanyaan yang akan mengguncang perasaan Angelica lebih dalam...
“Angelica, kau tidak apa-apa seperti ini..?”

0 comment:

Posting Komentar

 

Diana Rachmawati Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template