‘K
|
ak... Johan...’
Johan dan Angelica sedang berada di posisi yang jelas akan membuat orang
lain yang melihatnya terkejut. Ia terus mendorong Angelica hingga menabrak meja
yang biasa dipakai Johan hingga ia terduduk dan tertidur. Semakin lama Johan
semakin memaksanya.
“He...... hentikan!!!” teriak Angelica.
PLAK!
Akhirnya Johan kembali berdiri seperti semula setelah tamparan dari
Angelica menyadarkan sikapnya. Angelica terengah-engah setelah berjuang
melepaskan diri dari kekangan Johan yang
memaksanya untuk... menciumnya. Badan Angelica
bergetar hingga akhirnya menangis. Johan terdiam, namun tak lama akhirnya Johan
sadar akan perlakuannya setelah melihat Angelica menangis. Ia menekuk lututnya
dan membungkuk.
“Maafkan aku...”
Johan meminta maaf dengan bersujud. Dan Angelica tak kuasa melihat Johan
seperti itu. Ia bergegas mengambil tasnya dan berlari keluar dari ruangan itu
dengan mendetektor kartu siswanya, dan saat itu para senior yang baru datang
terkejut melihatnya keluar.
“Angelica!” panggil Patricia.
Namun ia tak menghiraukan panggilan Patricia dan tetap berlari dari
situ......
‘Kak Johan...... kenapa......’
Angelica berada di kamar asramanya. Ia menangis sendirian dan masih begitu
shock atas perlakuan Johan padanya. Semakin lama, akhirnya ia sadar akan satu
hal. Hal yang seharusnya sudah ia pahami sejak lama. Dan tak pernah ia
pungkiri.
‘Ternyata...... aku memang....... aku sendiri bodoh karena tak bisa menahan
diriku, tapi..... tapi.....’ katanya dalam hati.
“Kak Russell...” panggilnya.
Ia masih sesenggukan, meletakkan kepalanya di atas paha, tanpa peduli isi
tasnya telah berhamburan saat ia masuk ke kamar. Air matanya menetes di antara
kertas-kertas yang berserakan dan tablet yang tak sengaja terlempar keluar. Ia
merasa begitu buruk, dan bersalah...
“Angelica, kau baik-baik saja?”
Setelah tahu Angelica tak ada di ruang Dewan Siswa, Russell menemuinya di
asrama dan masih mengetuk-ngetuk pintu kamarnya. Angelica sedikit terkejut, ia
segera menghapus air matanya, dan membuka pintunya dengan berat hati.
“Kak Russell, selamat sore” sapa Angelica agak lemas.
“Ada apa? Bukankah seharusnya kau mengurus festival hari ini?” tanya
Russell dengan nada khawatir.
“Ah, aku... tiba-tiba badanku tidak enak, dan kak Johan..... menyuruhku
pulang...” jawab Angelica sekenanya.
‘Akhirnya..... aku berbohong juga....’ lanjutnya dalam hati.
“Benarkah? Seharusnya kau jangan memaksakan diri. Kau baik-baik saja? Sudah
makan dan minum obat?” tanya Russell dengan ramah.
“Belum...” jawab Angelica.
‘Maafkan aku, kak... maafkan aku...’
“Kalau begitu, ayo kita keluar. Aku sudah janji mentraktirmu hari ini kan?
Kau ingin makan sesuatu?” tanya Russell lagi.
‘Aku sendiri tidak mengerti kenapa diriku seperti ini...’
“Ah... terserah kakak saja... tapi, aku sedang tidak ingin kemanapun di
sisa hari ini...” jawab Angelica pelan. Russell menghela nafas.
“Baiklah. Aku akan mengambil makananmu di dapur asrama. Kau tidak boleh
pilih makanan, jadi apapun yang kuambil, kau harus makan, ya” kata Russell
sambil mengelus kepalanya. Angelica menjadi sedih, ia benar-benar merasa
bersalah saat ini....
“... ya...”
Keesokan harinya, sekolah libur. HP Angelica berdering keras karena alarm
yang menyuruhnya untuk segera bangun. Ia hanya mengambil HP dan mematikannya.
Ia masih menutup dirinya dalam selimutnya. Ternyata ia tidak bisa tidur
semalaman dan masih mengenakan seragamnya. Merasa sedikit tidak enak badan,
sekaligus masih memikirkan kejadian kemarin.
TOK TOK!
“Angelica, kau sudah bangun? Angelica!!”
Sylvie masih terus mengetok-ngetok pintu kamarnya, ada rasa khawatir di
wajahnya. Akhirnya dengan setengah berat hati, ia bangkit dan membukakan pintu.
“Pagi, Sylvie” sapa Angelica lemas, sekaligus masih mengantuk.
“Hei, kau baik-baik saja? Wajahmu agak pucat! Kau masih pakai seragam sejak
kemarin? Pasti kau tidak mandi sore. Ayo, sarapan. Sudah siang, lho!” kata
Sylvie dengan nada khawatir dan setengah memerintah.
“Aku tidak lapar. Maaf, kau sarapan sendiri saja”
“Angeli...”
CKLEK! Angelica langsung menutup pintunya. Dan hal itu makin membuat Sylvie
khawatir.
“Baiklah, aku akan bawakan sarapan ke sini. Kau harus minum obat juga,
kan!? Tunggu, ya!” teriak Sylvie dari luar.
Ia masih duduk di balik pintu, menyembunyikan wajahnya di sela-sela
pahanya. Ia menangis lagi. Tanpa terasa ia seperti itu cukup lama, sampai
akhirnya Sylvie kembali ke kamarnya membawakan sarapan.
“Sylvie...”
“Aku bawakan sarapan untukmu. Obatmu ada, kan? Aku masuk, ya. Waah, kamarmu
berantakan sekali! Ini obatmu yang ada di atas meja belajar, kan? Cepat sarapan
dan minum obatnya selagi aku merapikan kamarmu!” perintah Sylvie sambil
membereskan kamar Angelica yang memang berantakan karena buku berserakan
dimana-mana, serta tong sampah dapat dibakar yang terjatuh sehingga isinya
berhamburan keluar dan Angelica memang tidak mengembalikan ke tempatnya.
Angelica hanya diam menurut. Ia memakan sandwich daging asap dan telur mata
sapi pelan-pelan di atas nampan yang diletakkan di atas meja kotetsu-nya.
Kemudian meminum susu rasa vanila dan meminum obatnya dengan air putih yang
juga dibawakan Sylvie.
“Setelah sarapan, segera gosok gigi dan cuci muka, ya. Akan kudandani
nanti” kata Sylvie sambil membawa sampah untuk ditaruh ke pembuangan besar di
belakang asrama.
“Tidak usah...” jawab Angelica pelan.
“Ayolah, jangan selemas itu. Kubantu jika kau masih lemas. Ayo!” perintah
Sylvie agak memaksa.
Akhirnya ia terpaksa menurut. Namun karena tidak mandi sejak sore kemarin,
ia merasa lebih bugar. Namun wajah sedihnya masih belum berubah. Sylvie
memakaikannya baju bergaya lolita yang terlihat cocok dengannya.
“Ini produk baru tokoku. Kuberikan untukmu” kata Sylvie sambil
me-resletingkan bagian belakang bajunya.
“Terima kasih” ucap Angelica pelan.
“Kubantu kau menyisir rambutmu, ya. Waah, banyak yang pecah-pecah di
ujungnya. Kupotong sedikit tidak apa-apa, ya?”
“Ya, silakan”
Wajah Angelica masih tetap tidak berubah. Hal itu membuat Sylvie khawatir,
namun ia menahan diri untuk tidak menanyakannya dahulu, sampai akhirnya ia
selesai mendandani Angelica.
“Nah, selesai! Waahh, ternyata hasilnya di luar dugaanku!” teriak Sylvie
terkejut.
Setelah melihat wajahnya yang terpantul di kaca, Angelica sedikit
tersenyum. Ia merasa sedikit asing karena wajah itu karena seperti bukan
dirinya.
“Terima kasih, Sylvie” ucap Angelica sambil tersenyum tipis.
“Sama-sama! Akhirnya kau tersenyum juga, meski sedikit” puji Sylvie senang.
“Ya... maafkan aku membuatmu khawatir” ucap Angelica lagi.
Sylvie menghela napas. Ia pun merapikan peralatan salonnya dan menyapu
lantai bekas rambut Angelica yang terpotong. Akhirnya, ia pun memutuskan
sesuatu setelah sedikit merenung...
“Sepertinya kau tidak ada kegiatan setelah ini. Mau keluar?”
Sylvie dan Angelica sampai di sebuah kafe yang tak begitu jauh dari
sekolahnya. Suasananya begitu tenang, dan berada di atas danau buatan yang
terlihat seperti laut, sehingga bahan bangunan dari kafe ini mayoritas adalah
kayu dan bambu yang terlihat sangat kuat. Sekolahnya pun seperti terlihat dari
seberang danau itu.
“Kau boleh pesan apapun. Dibawa pulang juga boleh. Aku akan traktir” kata
Sylvie sambil menuang teh chamomile pesanannya.
“Terima kasih. Tidak kusangka ada cafe di tempat seperti ini. Haha tapi aku
baru saja sarapan, lho” kata Angelica yang terpukau dengan tempat itu sambil
menggenggam cangkir milk tea di tangannya.
“Yaah, memang cafe ini berada di balik gedung-gedung tinggi. Jarang ada
yang menyadarinya juga, sih. Selain itu, kopi, teh, serta kudapan di cafe ini
semuanya lezat. Ini tempat favoritku, karenanya aku mengajakmu ke sini” kata
Sylvie sambil memangku kepalanya di atas tangan.
“... kenapa?” tanya Angelica tidak mengerti.
“Kita kan, sahabat... karenanya, aku ingin bisa berbagi kesenangan dan
kesedihan bersamamu. Aku ingin bisa selalu berada dekat denganmu dan bisa jadi
tempat segala hal bagimu. Aku paham jika saat ini kau tidak ingin cerita.
Karenanya, aku akan bersabar...”
Sylvie mengatakannya dengan tegar. Angelica sedikit terkejut dengan
ekspresi itu. Tak terasa, air matanya menetes. Ia akhirnya menyadari betul
siapa Sylvie, meski sebenarnya ia tahu betul di lubuk hatinya.
‘Tak kusangka... ada seseorang lain, yang menganggapku lebih seperti ini...
tapi aku malah...’ katanya dalam hati.
“Maafkan aku, Sylvie... bahkan sampai saat ini aku... tidak pernah bisa
jadi sahabat yang baik bagimu... aku mengecewakan, ya...” ucap Angelica sambil
sesenggukan.
Sylvie yang tadinya memegang cangkir, kini menaruhnya di atas piring kecil
di mejanya. Ia pun memperbaiki posisi duduknya.
“Ada saatnya kita ingin sendirian tanpa siapapun. Terutama jika masalah itu
begitu berat. Tapi janganlah lupa bahwa selalu ada tempat berbagi untuk kita.
Meski terkadang mereka hanya menanggapi dengan ‘ooh’ atau ‘begitu, ya’, itu
sudah cukup jika mereka mengerti. Kau memang tidak bisa selalu mengerti isi
hati orang yang kau curhati, tapi... orang yang kau curhati paham betul
posisimu...” jelas Sylvie panjang lebar.
“Ya...... terima kasih, Sylvie...” jawab Angelica sambil tersenyum.
Akhirnya ia memutuskan untuk menceritakan semuanya pada Sylvie. Semua
kejadian sejak ia sadar hari itu, sampai yang terjadi kemarin. Sylvie sedikit
terkejut.
“Kau pacaran dengan kak Russell? Serius?” tanya Sylvie untuk meyakinkan.
“... bagaimana, ya... aku memang menyukai kak Russell, tapi yang sebenarnya
selalu ada untukku adalah kak Johan... dan aku merasa bersalah pada mereka
berdua... apa yang harus kulakukan... aku tidak mengerti...” kata Angelica
pelan.
“Kenapa berpikir begitu? Bukankah sudah jelas bahwa kau menyukai kak Johan?
Bahkan melihatnya saja aku tahu kau suka, walau sebenarnya kau bimbang, tapi...
itu seharusnya sudah jelas, kan?” tanya Sylvie berusaha menyadarkannya.
Angelica kembali menundukkan kepalanya, menangis.
“Aku sebenarnya... tak ingin mencintai seseorang lagi, tapi...”
“Eh? Kenapa?” tanya Sylvie tidak mengerti. Angelica menghapus air matanya.
“Sylvie, apa kau sudah punya tunangan?” tanya Angelica.
“Eh!? Ee... yaah, punya. Tapi aku belum pernah bertemu dengannya. Sama seperti
kak Russell dan kak Johan. Kenapa memangnya?” Sylvie bertanya balik.
“Sama seperti kalian, dulu aku punya seorang tunangan... aku sudah
menyukainya sejak pertama bertemu, tapi... begitu ekonomi keluargaku jatuh, ia
langsung meninggalkanku begitu saja... aku takut... hal itu terjadi lagi...”
kata Angelica pelan di akhir kalimatnya.
“Tapi, mereka juga sudah tahu keadaanmu sebenarnya, kan?” tanya Sylvie.
“Mereka hanya kasihan padaku! Karena aku ini miskin dan patut dikasihani! Tapi,
saat keluargaku kembali seperti semula, belum tentu mereka tetap ingin bersamaku,
kan!?”
Angelica kembali menangis. Sylvie hanya berusaha menahan diri. Tiba-tiba
ada suara dering telepon dari HP Sylvie.
“Halo? .... ah, kak Russell.... Angelica sedang keluar bersamaku.... kau
ingin bicara dengannya?” tanya Sylvie di telepon dengan Russell.
Sylvie melihat ke arah Angelica yang masih menunduk.
“Sepertinya ia sedang tidak ingin bicara.... baiklah, aku mengerti. Akan
kusampaikan.... ya.... selamat pagi, kak. Kak Russell akan ke Amerika selama
tiga hari karena urusan pekerjaan. Ia ingin aku menyampaikannya padamu” katanya
kemudian setelah menutup teleponnya.
“... iya...” jawab Angelica pelan.
“Ia juga minta maaf karena tidak bilang kemarin dan tidak bisa menemanimu
sekarang” katanya lagi.
“Ya.... terima kasih....” ucap Angelica lagi.
Dan anehnya ia tidak merasa sedih mendengar kepergiannya. Ia hanya diam
menunduk, sambil mengaduk tehnya. Melihatnya seperti itu, Sylvie menarik nafas
panjang. Dan mulai menanyakan pertanyaan yang akan mengguncang perasaan
Angelica lebih dalam...
“Angelica, kau tidak apa-apa seperti ini..?”
0 comment:
Posting Komentar