Jumat, 24 April 2015

Wings of Melodies ~ Memories Edition - Chapter 1



H
 ujan turun cukup deras. Seorang anak kecil menangis dengan terduduk di atas tanah. Di depannya ada sebuah kotak yang cukup indah, namun sedikit kotor. Di lututnya terdapat luka lecet dengan darah sedikit keluar. Sepertinya ia habis terjatuh. Sementara tak jauh dari situ, seorang anak perempuan kecil lain yang ternyata adalah berpakaian indah dan membawa payung menatap anak itu sambil mendekatinya.
“Kau baik-baik saja?” tanya anak perempuan tadi.
Anak kecil yang menangis itu tidak bergeming dan tetap menangis. Anak perempuan tadi menghela napas, kemudian memayungi anak itu. Anak itu terkejut dan melihat ke arahnya.
“Nanti kau sakit” katanya. “Apa isi kotak itu?” tanyanya lagi.
Anak itu terdiam sesaat, dan menjawab.
“Itu...”


Seorang gadis mendadak terbangun. Ia bangkit dari tempat tidurnya dan berpikir sesaat...
“Tadi itu... mimpi...?”

TONG TENG TANG TONG! Sekolah Escoriale bagian SMA. Gadis itu masuk ke dalam kelasnya, yaitu kelas 1-A. Teman-temannya pun menyambutnya.
“Selamat pagi!!” sapanya dengan semangat.
“Selamat pagi!! Waah, hari ini semangat, ya!!” sapa seorang teman sekelasnya.
“Yup! Sudah lepas dari kekangan festival sekolah, sih! Tapi lusa nanti ada festival olahraga sekaligus upacara penutupan semester. Kita harus menang!” teriaknya dengan semangat.
“Kalau harus menang, kau yang jadi pemimpin regu putri kelas kita, ya!” ajak seorang pria yang mengambil topi gadis itu dari belakang.
“Waa! Jangan diambil, dong!!” teriak gadis itu sambil berusaha meraih topinya.
“Hehehe! Yoo, semangat ya, wakil ketua!” kata pria itu sambil mengembalikan topi yang baru diambilnya.
“Haha! Kalau tidak semangat, bukan aku namanya!” teriak gadis itu sambil mengedipkan sebelah matanya.
Gadis itu adalah Angelica Steva Fiammatta Sandoras, siswi kelas 1-A SMA Perguruan Afiliasi Universitas Escoriale, yang merupakan sekolah kalangan para pewaris perusahaan besar di seluruh Inggris. Sehingga mayoritas siswa-siswi sekolah ini adalah anak orang kaya, namun luar biasa cerdas. Sekolah ini mulai menggunakan kurikulum internasional, sehingga pelajarannya berada dua hingga tiga tingkat di atas sekolah-sekolah lain.
“Homeroom hari ini membahas festival olahraga, kan, Harry?” tanya Angelica, yang menjabat sebagai wakil ketua kelas, kepada Harry Albern Stuart Birmingham, si ketua kelas yang tadi mengambil topinya saat baru hadir di sekolah.
“Yup!” jawab Harry, sambil maju dan berdiri di podium. “Perhatian semuanya!! Homeroom akan kita mulai sekarang! Aku akan membahas festival olahraga yang akan diadakan akhir minggu nanti sekaligus upacara penutupan semester!” perintahnya pada teman sekelasnya. Angelica berdiri di sebelahnya untuk mewakili homeroom.
Meski begitu, umur Angelica berada setahun di atas teman-teman sekelasnya, yakni 17 tahun. Selain itu, ia bukanlah berasal dari keluarga kaya raya. Perusahaan sang ayah bangkrut dan menimbulkan hutang besar yang ditimbulkan pamannya, sehingga kini ia jatuh miskin. Namun berkat beasiswa yang diberikan, ia bisa bersekolah di sekolah yang sejak dulu menjadi impiannya. Karena, ia merupakan siswi terpintar di angkatannya.
 “Demikian homeroom hari ini. Setelah ini silahkan ganti baju olahraga dan membantu persiapan festival. Besok pagi kita akan latihan!!” perintah Harry untuk menutup homeroom hari itu, yang kemudian disambut dengan jawaban positif dari teman-teman sekelasnya.
“Waah, hari ini Sylvie tidak hadir, ya? Ada apa dengannya?” tanya Harry setelahnya.
“Kemarin Sylvie pulang ke Newcastle karena ada masalah di cabang pusat toko bajunya. Sepertinya akan kembali ke sini nanti sore” jawab Angelica sambil merapikan tas.
“Ooh, begitu” balas Harry dengan nanda sedikit kecewa.
“Baiklah, aku ke Dewan Siswa sekarang ya” pamit Angelica.
“Yap. Selamat berkencan!” ledeknya sambil tertawa-tawa.
“Iih! Aku mengurus persiapan festival olahraga, tahu!” teriak Angelica dengan wajah merah padam.
“Hahaha! Bercanda, tahu! Jangan lupa part-time hari ini, ya. Soalnya nanti malam ada pesta!” sapa Harry sambil memberi perintah, sebagai pemilik kafe yang memiliki cabang di kota-kota besar di Inggris, kepada Angelica yang bekerja part-time di cabang cafe-nya di London.
“Baik, Bos!” teriaknya sambil memberi hormat.

Angelica berjalan sendirian, menaiki tangga, hingga sampai di lantai lima gedung itu. Selain ketua kelas, Angelica mempunyai jabatan lain di sekolahnya. Ia berdiri di depan pintu sambil menyemangati dirinya sendiri, dan membuka pintu dengan semangat.
“Selamat pagi, Senior!” sapanya dengan hormat.
“Yoo! Selamat pagi!”
“Pagi, My Little Angel!”
“Selamat pagi, wakil ketua!”
Para senior menyambutnya dengan ramah. Yap, selain wakil ketua kelas, ia menjabat sebagai wakil ketua Dewan Siswa.
“Hari ini, kita semangat mengurus persiapan festival olahraga nanti, ya!” teriaknya menyemangati.
“Yaah, aku sudah buat persiapan kasarnya” kata Patricia Mailine Rhine Preminger, siswi kelas dua yang menjabat sebagai sekretaris.
“Duuh, kau rajin banget, sih, Patty!” ledek Aldias Howard, siswa kelas tiga yang menjabat sebagai bendahara.
“My Little Angel, hari ini kau cantik sekali seperti bunga mawar putih!” sapa Michaelis Addison, yang juga siswa kelas tiga yang menjabat sebagai koordinator event siswa, dengan nada masochist.
“Terima kasih, kak”ucapnya dengan sedikit merinding.
PIP PIP PIP! Terdengar suara alarm dari pintu masuk, dimana untuk masuk ke ruangan itu harus menempelkan kartu pelajar. Yang berarti, ada seorang anggota lagi yang datang. Pintu pun terbuka.
“Pagi! Lama tidak bertemu!” sapa cowok itu santai.
“Yoo! Selamat pagi, Ketua!” sapa Aldias.
“Waah, hari ini tepat waktu semua, ya” katanya sambil melihat para anggota satu persatu. “Pagi, Angelica” sapanya kemudian sambil mengelus kepalanya.
“Pa... pagi...” jawab Angelica gugup. Wajahnya langsung berubah merah.
Cowok itu adalah Johan Robin Harcourt Sabrishion, siswa kelas dua yang menjabat sebagai Ketua Dewan Siswa. Ia-lah yang ‘memaksa’ Angelica untuk menjadikannya sebagai Wakil Ketuanya.
“Baiklah, semuanya. Duduklah di kursi masing-masing! Angelica, kau duduk di sini saja, ya!” perintah Johan sambil mempersilahkan Angelica untuk duduk di kursi sebelahnya. Spontan ia langsung menggeleng.
“Duuh romantisnya. Ini masih di Dewan Siswa, lho” ledek Aldias sambil memutar-mutar dirinya di atas kursi.
“Maklum saja, kak Aldias. Johan baru saja kembali dari Belanda sejak seminggu yang lalu. Jadi pasti dia kangen, tuh” balas Patricia tenang.
“Tidaaak! My Little Angel kini berpacaran dengan Ketua! Aku sakit hati, lho, Angel” keluh Michaelis sambil pura-pura menangis.
“Eeeh, itu... aku boleh duduk sekarang? Dan aku cukup duduk di tempat biasanya...” ucap Angelica pelan sambil memasang wajah gugup. Ia pun duduk di bangkunya seperti biasa, di sebelah Michaelis.
“Huuh, tidak adil!” protes Johan. “Baiklah, kita mulai rapatnyaaa~~” perintah Johan dengan nada pura-pura kesal.
“Hei, lihat tempat, dong!” teriak Angelica yang benar-benar kesal.
Benar. Selain Ketua Dewan Siswa, Johan kini berpacaran dengan Angelica sejak pesta dansa untuk penutupan festival sekolah seminggu yang lalu. Banyak hal yang terjadi sebelumnya, sampai akhirnya Johan memberitahunya bahwa esoknya ia harus ke Belanda untuk urusan perkerjaannya sebagai pewaris perusahaan perminyakan yang mendominasi perekonomian Inggris. Meski mereka masih tetap sering bertengkar kecil seperti biasanya, namun mereka sudah saling jujur satu sama lain atas perasaan mereka masing-masing...

Jam di tengah taman perguruan berdentang tiga kali. Sebagai tanda bahwa mereka harus menyudahi kegiatan mereka hari itu. Begitu juga dengan Dewan Siswa.
“Baiklah, itu saja untuk hari ini. Dan kita akan membahas sisanya besok. Kak Michaelis, tolong jangan lupa untuk mendata para siswa dari masing-masing kelas yang akan berpartisipasi dalam festival olahraga nanti” perintah Johan menutup rapat.
“Okay, baby!” jawab Michaelis dengan nada masochist seperti biasa.
“Baiklah, terima kasih untuk hari ini!” sapa Aldias.
“Sampai besok Angelica, Johan” timpal Patricia sambil menutup pintu.
“Yaa! Sampai besok, Senior!” ucap Angelica sambil menunduk.
Akhirnya hanya tinggal mereka berdua di Dewan Siswa. Angelica masih merapikan berkas catatan rapat yang tadi dicatat oleh Patricia dan dirinya untuk disampaikan pada Johan. Sementara Johan sendiri sedang memainkan tablet di mejanya.
“Kau tidak ada kegiatan klub hari ini, Angelica?” tanya Johan tiba-tiba, dengan mata masih tertuju di tabletnya.
“Aku sudah keluar klub panah karena harus part-time mulai jam 6 sore. Klub Bahasa Jepang-ku sudah libur sampai berakhirnya libur musim gugur. Kau sendiri?” jawab Angelica sambil balik bertanya, dengan mata masih tertuju pada berkas catatan rapat.
“Ooh... tak ada yang perlu dikhawatirkan dariku” jawab Johan.
“Apa? Kenapa begitu? Kau ikut klub sepak bola, kan?” tanya Angelica heran, sambil memalingkan wajah pada Johan.
“Aku sedang tidak ingin memikirkannya saja. Lagipula namaku sudah didaftarkan untuk pertandingan musim dingin nanti, tuh” jawab Johan dengan nada malas.
“Waah, hebat” puji Angelica sambil berdiri, dan menyerahkan ringkasan rapat hari itu pada Johan.
“Yaah...” Johan melihat kertas itu sesaat, kemudian memasukkannya ke tas. “Kuantar kamu sampai ke cafe Harry dengan mobilku. Ayo!” ajaknya kemudian.
“Ah, terima kasih!” ucap Angelica sambil mengambil tas di mejanya...

Akhirnya mereka berjalan bersama menuju gerbang sekolah. Kali ini Johan mengambil jalan memutar lewat gerbang barat, dekat dengan bagian SD. Sedikit lebih jauh, karena ia ingin bersama sedikit lebih lama dengan Angelica. Sementara itu, Angelica hanya mengikutinya. Mereka saling terdiam. Tiba-tiba Johan berhenti saat melihat mesin penjual minum otomatis. Itu mengingatkannya satu hal.
“Angelica, mau minum sesuatu?” tanya Johan.
“Eeh... royal milk tea saja” jawab Angelica.
“Oke”
Johan memasukkan uang receh dua kali ke dalam mesin penjual minum otomatis. Ia sendiri memilih black coffee.
“Kopi hitam? Tidak biasanya kau minum itu” tanya Angelica heran.
“Yaah, aku sangat ngantuk sekarang. Tidakkah kau sadar ada yang beda dengan wajahku?” jawab Johan sambil balik bertanya, dan menunjuk ke arah bagian bawah matanya yang menghitam.
“Aahh... kantung matamu terlihat jelas. Dasar, kau pasti begadang selama di sana! Ini, aku ada vitamin untuk menyembuhkan itu. Pakai sebelum tidur, ya!” perintah Angelica sambil memberikan vitamin yang dimaksud.
“Hmm... terima kasih” ucap Johan sambil menerimanya.
“Sama-sama, kak Johan”
“Hei, hentikan panggilanmu itu!” protes Johan.
“Panggilan apa?”
“Panggilan ‘kak Johan’ itu. Kita kan pacaran, setidaknya saat berdua begini, panggil nama saja. Lagipula sebenarnya kita seumuran, kan!” kata Johan sambil memalingkan muka, wajahnya agak merah. Begitu juga Angelica.
“Eeehh, benar tidak apa-apa?” tanya Angelica meyakinkan.
“Hanya saat sedang berdua saja, kok”
Angelica diam sesaat. Ia menghela napas panjang.
“Hmm... baiklah...... Jo-han...”
Angelica memanggilnya pelan. Wajahnya merah tak tertahankan. Sementara Johan menunduk, kemudian memegang kepala Angelica dan mendekapnya di dadanya.
“He, hei! Hentikaan!” teriak Angelica meronta.
“Berisik! Diam saja!”
Johan berteriak karena wajahnya sendiri merah padam, dan tak ingin Angelica melihatnya dalam keadaan seperti itu. Ia merasa aneh dengan panggilan itu. Setelah beberapa saat, mereka berjalan lagi sambil meminum minuman mereka. Johan memulai pembicaraan dengan wajah kembali bersemu merah.
“Hei, Angelica”
“Ng? Ada apa...?” tanya Angelica sambil menyeruput minumannya.
“Hmm... mulai sekarang, boleh aku memanggilmu ‘Angie’?” tanya Johan sambil menunduk.
“Boleh” jawabnya datar.
“Hee? Langsung direspon!?” teriak Johan terkejut.
“Itu panggilan biasa di sekitarku, kok”
“He... hei, kalau panggilan biasa, berarti orang di sekitarmu juga berarti memanggilmu seperti itu, kan!? Berarti tidak spesial, dong” keluh Johan.
“Sylvie dan yang lainnya memanggilku ‘Angelica’, mungkin karena ini sekolah kalangan atas, jadi mereka menghormati satu sama lain dengan tidak memanggil dengan nama julukan atau nama singkat” kata Angelica sambil berpikir.
“Yah, memang. Tapi itu tidak ada hubungannya!” jawab Johan.
“Aku tahu. Lagipula bukan itu maksudku!” protes Angelica.
“Lalu apa?” tanya Johan bingung.
“Ng, itu... meski panggilan biasa, tapi yang memanggilku seperti itu hanya orang tuaku. Makanya... kau orang ketiga yang ingin memanggilku begitu...” jawab Angelica malu-malu.
Angin sedikit berhembus kencang. Mereka saling terdiam sebentar.
“Yaah, jika kau bilang begitu...” respon Johan datar sambil berjalan.
“Responnya begitu saja, nih!? Percuma dong aku berusaha bilang kebenarannya! Huh!” Angelica pura-pura kesal.
“Hahaha bercanda, tahu!” Johan berusaha meredakan kekesalannya dan mengelus kepalanya. “Terima kasih, Angie” katanya lagi.
“Ng... yaaahh...” Angelica kembali bersemu merah.
Mereka kembali berjalan lagi.
“Oh, ya. Ngomong-ngomong...” Johan kembali memulai pembicaraan.
“Apa?” tanya Angelica memotong.
“Kau ingat kejadian di ruang kepala sekolah waktu itu?”
“Ng... yaah...” jawab Angelica pelan. Ia tidak ingin mengingat kejadian naas itu, dan ingin berusaha mengganti topik, tapi kemudian Johan berkata...
“Ayahku ingin bertemu denganmu”
CTAARR! Angelica terkejut bagai tersambar petir. Berbagai pikiran aneh melayang di kepalanya.
‘Ingin bertemu denganku!? Mau apa!? Jangan-jangan nanti aku ditanyai macam-macam, lalu sebagai gantinya aku dipaksa untuk jadi tunangan keduanya!? Atau malah disuruh langsung menikah!? Tidaaaak!’ teriak Angelica dalam hati.
“Ma, maaf. Aku belum siap untuk ke tahap selanjutnyaaa~” jawab Angelica sambil pasang wajah dengan mata berkaca-kaca. Johan yang sedang meminum kopinya, spontan langsung terbatuk bersamaan dengan sisa kopi yang masih ada di dalam mulutnya menyembur keluar. Ia sangat terkejut.
“Hoi hoi, kamu mikir ke mana, sih!? Bukan begitu, tahu! Kalau kesitu juga, aku belum siap!” teriak Johan kemudian.
Angin berhembus sesaat, bersamaan dengan mematungnya mereka berdua. Mereka saling bertatapan dengan pandangan terkejut satu sama lain. Johan langsung salah tingkah.
“Bukan bukan bukaaan!! Aku nggak mikir kesitu, kok!! Ah, tidak!! Sama sekali tidaaak!!” teriak Johan yang kikuk hingga berlarian kesana kemari. Ia sendiri terkejut dengan kalimatnya.
“Ternyata kau sudah berpikir ke sana, yaaa~~” Angelica lemas di tempat, merasa nyawanya melayang sesaat. Johan berusaha membaca situasi.
“Uugh, tenanglah. Bukan itu maksudnya! Ia ingin meyakinkan diri apakah kau benar-benar putri dari Anthony dan Lilica Sandoras. Kau sendiri mendengar nama orang tuamu dari ayahku waktu itu, kan?” tanya Johan sambil berusaha menenangkan diri.
“Ah, benar juga. Tapi... kenapa ayahmu mengenal orang tuaku, ya?” tanya Angelica sambil berpikir.
“Entahlah. Aku sendiri baru tahu waktu itu” jawab Johan.
“Tapi kalau ayahmu mengenal orang tuaku, jangan-jangan... kita pernah bertemu di suatu tempat...?” tanya Angelica pelan.
Angin kembali berhembus. Angelica memandang Johan dengan penuh harap ia mengingat sesuatu karena ia sendiri tidak mengingatnya. Sementara Johan menundukkan wajahnya dan kembali berjalan.
“Itu tidak mungkin... jika waktu kecil, itu tidak mungkin...” jawab Johan pelan.
Angelica terkejut melihat dan mendengar respon Johan. Sesaat ia merasa, Johan menyembunyikan sesuatu darinya.
Dan dari situlah, ia merasa ada sesuatu di balik semua ini. Alasan mengapa ayah Johan mengenal orang tuanya dan dirinya, respon aneh Johan barusan, serta segala hal yang hingga menghubungkannya dengan sekolah dan orang-orang di sekolah ini, yang akan membawanya pada kenyataan yang mungkin menyakitkan baginya...





0 comment:

Posting Komentar

 

Diana Rachmawati Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template