H
|
ujan turun cukup deras. Seorang anak
kecil menangis dengan terduduk di atas tanah. Di depannya ada sebuah kotak yang
cukup indah, namun sedikit kotor. Di lututnya terdapat luka lecet dengan darah
sedikit keluar. Sepertinya ia habis terjatuh. Sementara tak jauh dari situ,
seorang anak perempuan kecil lain yang ternyata adalah berpakaian indah dan
membawa payung menatap anak itu sambil mendekatinya.
“Kau baik-baik saja?” tanya anak
perempuan tadi.
Anak kecil yang menangis itu tidak
bergeming dan tetap menangis. Anak perempuan tadi menghela napas, kemudian
memayungi anak itu. Anak itu terkejut dan melihat ke arahnya.
“Nanti kau sakit” katanya. “Apa isi
kotak itu?” tanyanya lagi.
Anak itu terdiam sesaat, dan menjawab.
“Itu...”
Seorang gadis mendadak
terbangun. Ia bangkit dari tempat tidurnya dan berpikir sesaat...
“Tadi itu... mimpi...?”
TONG TENG TANG TONG! Sekolah
Escoriale bagian SMA. Gadis itu masuk ke dalam kelasnya, yaitu kelas 1-A.
Teman-temannya pun menyambutnya.
“Selamat pagi!!” sapanya dengan
semangat.
“Selamat pagi!! Waah, hari ini
semangat, ya!!” sapa seorang teman sekelasnya.
“Yup! Sudah lepas dari kekangan
festival sekolah, sih! Tapi lusa nanti ada festival olahraga sekaligus upacara
penutupan semester. Kita harus menang!” teriaknya dengan semangat.
“Kalau harus menang, kau yang
jadi pemimpin regu putri kelas kita, ya!” ajak seorang pria yang mengambil topi
gadis itu dari belakang.
“Waa! Jangan diambil, dong!!”
teriak gadis itu sambil berusaha meraih topinya.
“Hehehe! Yoo, semangat ya,
wakil ketua!” kata pria itu sambil mengembalikan topi yang baru diambilnya.
“Haha! Kalau tidak semangat,
bukan aku namanya!” teriak gadis itu sambil mengedipkan sebelah matanya.
Gadis itu adalah Angelica Steva
Fiammatta Sandoras, siswi kelas 1-A SMA Perguruan Afiliasi Universitas
Escoriale, yang merupakan sekolah kalangan para pewaris perusahaan besar di
seluruh Inggris. Sehingga mayoritas siswa-siswi sekolah ini adalah anak orang
kaya, namun luar biasa cerdas. Sekolah ini mulai menggunakan kurikulum
internasional, sehingga pelajarannya berada dua hingga tiga tingkat di atas
sekolah-sekolah lain.
“Homeroom hari ini membahas
festival olahraga, kan, Harry?” tanya Angelica, yang menjabat sebagai wakil
ketua kelas, kepada Harry Albern Stuart Birmingham, si ketua kelas yang tadi
mengambil topinya saat baru hadir di sekolah.
“Yup!” jawab Harry, sambil maju
dan berdiri di podium. “Perhatian semuanya!! Homeroom akan kita mulai sekarang!
Aku akan membahas festival olahraga yang akan diadakan akhir minggu nanti
sekaligus upacara penutupan semester!” perintahnya pada teman sekelasnya.
Angelica berdiri di sebelahnya untuk mewakili homeroom.
Meski begitu, umur Angelica
berada setahun di atas teman-teman sekelasnya, yakni 17 tahun. Selain itu, ia
bukanlah berasal dari keluarga kaya raya. Perusahaan sang ayah bangkrut dan
menimbulkan hutang besar yang ditimbulkan pamannya, sehingga kini ia jatuh
miskin. Namun berkat beasiswa yang diberikan, ia bisa bersekolah di sekolah
yang sejak dulu menjadi impiannya. Karena, ia merupakan siswi terpintar di
angkatannya.
“Demikian homeroom hari ini. Setelah ini
silahkan ganti baju olahraga dan membantu persiapan festival. Besok pagi kita
akan latihan!!” perintah Harry untuk menutup homeroom hari itu, yang kemudian
disambut dengan jawaban positif dari teman-teman sekelasnya.
“Waah, hari ini Sylvie tidak
hadir, ya? Ada apa dengannya?” tanya Harry setelahnya.
“Kemarin Sylvie pulang ke
Newcastle karena ada masalah di cabang pusat toko bajunya. Sepertinya akan
kembali ke sini nanti sore” jawab Angelica sambil merapikan tas.
“Ooh, begitu” balas Harry
dengan nanda sedikit kecewa.
“Baiklah, aku ke Dewan Siswa
sekarang ya” pamit Angelica.
“Yap. Selamat berkencan!”
ledeknya sambil tertawa-tawa.
“Iih! Aku mengurus persiapan
festival olahraga, tahu!” teriak Angelica dengan wajah merah padam.
“Hahaha! Bercanda, tahu! Jangan
lupa part-time hari ini, ya. Soalnya nanti malam ada pesta!” sapa Harry sambil
memberi perintah, sebagai pemilik kafe yang memiliki cabang di kota-kota besar
di Inggris, kepada Angelica yang bekerja part-time di cabang cafe-nya di
London.
“Baik, Bos!” teriaknya sambil
memberi hormat.
Angelica berjalan sendirian,
menaiki tangga, hingga sampai di lantai lima gedung itu. Selain ketua kelas,
Angelica mempunyai jabatan lain di sekolahnya. Ia berdiri di depan pintu sambil
menyemangati dirinya sendiri, dan membuka pintu dengan semangat.
“Selamat pagi, Senior!” sapanya
dengan hormat.
“Yoo! Selamat pagi!”
“Pagi, My Little Angel!”
“Selamat pagi, wakil ketua!”
Para senior menyambutnya dengan
ramah. Yap, selain wakil ketua kelas, ia menjabat sebagai wakil ketua Dewan
Siswa.
“Hari ini, kita semangat
mengurus persiapan festival olahraga nanti, ya!” teriaknya menyemangati.
“Yaah, aku sudah buat persiapan
kasarnya” kata Patricia Mailine Rhine Preminger, siswi kelas dua yang menjabat
sebagai sekretaris.
“Duuh, kau rajin banget, sih,
Patty!” ledek Aldias Howard, siswa kelas tiga yang menjabat sebagai bendahara.
“My Little Angel, hari ini kau
cantik sekali seperti bunga mawar putih!” sapa Michaelis Addison, yang juga
siswa kelas tiga yang menjabat sebagai koordinator event siswa, dengan nada
masochist.
“Terima kasih, kak”ucapnya
dengan sedikit merinding.
PIP PIP PIP! Terdengar suara
alarm dari pintu masuk, dimana untuk masuk ke ruangan itu harus menempelkan
kartu pelajar. Yang berarti, ada seorang anggota lagi yang datang. Pintu pun
terbuka.
“Pagi! Lama tidak bertemu!”
sapa cowok itu santai.
“Yoo! Selamat pagi, Ketua!”
sapa Aldias.
“Waah, hari ini tepat waktu
semua, ya” katanya sambil melihat para anggota satu persatu. “Pagi, Angelica”
sapanya kemudian sambil mengelus kepalanya.
“Pa... pagi...” jawab Angelica
gugup. Wajahnya langsung berubah merah.
Cowok itu adalah Johan Robin
Harcourt Sabrishion, siswa kelas dua yang menjabat sebagai Ketua Dewan Siswa.
Ia-lah yang ‘memaksa’ Angelica untuk menjadikannya sebagai Wakil Ketuanya.
“Baiklah, semuanya. Duduklah di
kursi masing-masing! Angelica, kau duduk di sini saja, ya!” perintah Johan
sambil mempersilahkan Angelica untuk duduk di kursi sebelahnya. Spontan ia
langsung menggeleng.
“Duuh romantisnya. Ini masih di
Dewan Siswa, lho” ledek Aldias sambil memutar-mutar dirinya di atas kursi.
“Maklum saja, kak Aldias. Johan
baru saja kembali dari Belanda sejak seminggu yang lalu. Jadi pasti dia kangen,
tuh” balas Patricia tenang.
“Tidaaak! My Little Angel kini
berpacaran dengan Ketua! Aku sakit hati, lho, Angel” keluh Michaelis sambil
pura-pura menangis.
“Eeeh, itu... aku boleh duduk
sekarang? Dan aku cukup duduk di tempat biasanya...” ucap Angelica pelan sambil
memasang wajah gugup. Ia pun duduk di bangkunya seperti biasa, di sebelah
Michaelis.
“Huuh, tidak adil!” protes
Johan. “Baiklah, kita mulai rapatnyaaa~~” perintah Johan dengan nada pura-pura
kesal.
“Hei, lihat tempat, dong!”
teriak Angelica yang benar-benar kesal.
Benar. Selain Ketua Dewan
Siswa, Johan kini berpacaran dengan Angelica sejak pesta dansa untuk penutupan
festival sekolah seminggu yang lalu. Banyak hal yang terjadi sebelumnya, sampai
akhirnya Johan memberitahunya bahwa esoknya ia harus ke Belanda untuk urusan
perkerjaannya sebagai pewaris perusahaan perminyakan yang mendominasi
perekonomian Inggris. Meski mereka masih tetap sering bertengkar kecil seperti
biasanya, namun mereka sudah saling jujur satu sama lain atas perasaan mereka masing-masing...
Jam di tengah taman perguruan
berdentang tiga kali. Sebagai tanda bahwa mereka harus menyudahi kegiatan
mereka hari itu. Begitu juga dengan Dewan Siswa.
“Baiklah, itu saja untuk hari
ini. Dan kita akan membahas sisanya besok. Kak Michaelis, tolong jangan lupa
untuk mendata para siswa dari masing-masing kelas yang akan berpartisipasi
dalam festival olahraga nanti” perintah Johan menutup rapat.
“Okay, baby!” jawab Michaelis
dengan nada masochist seperti biasa.
“Baiklah, terima kasih untuk
hari ini!” sapa Aldias.
“Sampai besok Angelica, Johan”
timpal Patricia sambil menutup pintu.
“Yaa! Sampai besok, Senior!”
ucap Angelica sambil menunduk.
Akhirnya hanya tinggal mereka
berdua di Dewan Siswa. Angelica masih merapikan berkas catatan rapat yang tadi
dicatat oleh Patricia dan dirinya untuk disampaikan pada Johan. Sementara Johan
sendiri sedang memainkan tablet di mejanya.
“Kau tidak ada kegiatan klub
hari ini, Angelica?” tanya Johan tiba-tiba, dengan mata masih tertuju di
tabletnya.
“Aku sudah keluar klub panah
karena harus part-time mulai jam 6 sore. Klub Bahasa Jepang-ku sudah libur
sampai berakhirnya libur musim gugur. Kau sendiri?” jawab Angelica sambil balik
bertanya, dengan mata masih tertuju pada berkas catatan rapat.
“Ooh... tak ada yang perlu
dikhawatirkan dariku” jawab Johan.
“Apa? Kenapa begitu? Kau ikut
klub sepak bola, kan?” tanya Angelica heran, sambil memalingkan wajah pada
Johan.
“Aku sedang tidak ingin
memikirkannya saja. Lagipula namaku sudah didaftarkan untuk pertandingan musim
dingin nanti, tuh” jawab Johan dengan nada malas.
“Waah, hebat” puji Angelica
sambil berdiri, dan menyerahkan ringkasan rapat hari itu pada Johan.
“Yaah...” Johan melihat kertas
itu sesaat, kemudian memasukkannya ke tas. “Kuantar kamu sampai ke cafe Harry
dengan mobilku. Ayo!” ajaknya kemudian.
“Ah, terima kasih!” ucap
Angelica sambil mengambil tas di mejanya...
Akhirnya mereka berjalan
bersama menuju gerbang sekolah. Kali ini Johan mengambil jalan memutar lewat
gerbang barat, dekat dengan bagian SD. Sedikit lebih jauh, karena ia ingin
bersama sedikit lebih lama dengan Angelica. Sementara itu, Angelica hanya
mengikutinya. Mereka saling terdiam. Tiba-tiba Johan berhenti saat melihat
mesin penjual minum otomatis. Itu mengingatkannya satu hal.
“Angelica, mau minum sesuatu?”
tanya Johan.
“Eeh... royal milk tea saja”
jawab Angelica.
“Oke”
Johan memasukkan uang receh dua
kali ke dalam mesin penjual minum otomatis. Ia sendiri memilih black coffee.
“Kopi hitam? Tidak biasanya kau
minum itu” tanya Angelica heran.
“Yaah, aku sangat ngantuk
sekarang. Tidakkah kau sadar ada yang beda dengan wajahku?” jawab Johan sambil
balik bertanya, dan menunjuk ke arah bagian bawah matanya yang menghitam.
“Aahh... kantung matamu
terlihat jelas. Dasar, kau pasti begadang selama di sana! Ini, aku ada vitamin
untuk menyembuhkan itu. Pakai sebelum tidur, ya!” perintah Angelica sambil
memberikan vitamin yang dimaksud.
“Hmm... terima kasih” ucap
Johan sambil menerimanya.
“Sama-sama, kak Johan”
“Hei, hentikan panggilanmu
itu!” protes Johan.
“Panggilan apa?”
“Panggilan ‘kak Johan’ itu.
Kita kan pacaran, setidaknya saat berdua begini, panggil nama saja. Lagipula
sebenarnya kita seumuran, kan!” kata Johan sambil memalingkan muka, wajahnya
agak merah. Begitu juga Angelica.
“Eeehh, benar tidak apa-apa?”
tanya Angelica meyakinkan.
“Hanya saat sedang berdua saja,
kok”
Angelica diam sesaat. Ia
menghela napas panjang.
“Hmm... baiklah...... Jo-han...”
Angelica memanggilnya pelan.
Wajahnya merah tak tertahankan. Sementara Johan menunduk, kemudian memegang kepala
Angelica dan mendekapnya di dadanya.
“He, hei! Hentikaan!” teriak
Angelica meronta.
“Berisik! Diam saja!”
Johan berteriak karena wajahnya
sendiri merah padam, dan tak ingin Angelica melihatnya dalam keadaan seperti
itu. Ia merasa aneh dengan panggilan itu. Setelah beberapa saat, mereka
berjalan lagi sambil meminum minuman mereka. Johan memulai pembicaraan dengan
wajah kembali bersemu merah.
“Hei, Angelica”
“Ng? Ada apa...?” tanya
Angelica sambil menyeruput minumannya.
“Hmm... mulai sekarang, boleh
aku memanggilmu ‘Angie’?” tanya Johan sambil menunduk.
“Boleh” jawabnya datar.
“Hee? Langsung direspon!?”
teriak Johan terkejut.
“Itu panggilan biasa di
sekitarku, kok”
“He... hei, kalau panggilan
biasa, berarti orang di sekitarmu juga berarti memanggilmu seperti itu, kan!?
Berarti tidak spesial, dong” keluh Johan.
“Sylvie dan yang lainnya
memanggilku ‘Angelica’, mungkin karena ini sekolah kalangan atas, jadi mereka
menghormati satu sama lain dengan tidak memanggil dengan nama julukan atau nama
singkat” kata Angelica sambil berpikir.
“Yah, memang. Tapi itu tidak
ada hubungannya!” jawab Johan.
“Aku tahu. Lagipula bukan itu
maksudku!” protes Angelica.
“Lalu apa?” tanya Johan
bingung.
“Ng, itu... meski panggilan
biasa, tapi yang memanggilku seperti itu hanya orang tuaku. Makanya... kau
orang ketiga yang ingin memanggilku begitu...” jawab Angelica malu-malu.
Angin sedikit berhembus
kencang. Mereka saling terdiam sebentar.
“Yaah, jika kau bilang
begitu...” respon Johan datar sambil berjalan.
“Responnya begitu saja, nih!?
Percuma dong aku berusaha bilang kebenarannya! Huh!” Angelica pura-pura kesal.
“Hahaha bercanda, tahu!” Johan
berusaha meredakan kekesalannya dan mengelus kepalanya. “Terima kasih, Angie”
katanya lagi.
“Ng... yaaahh...” Angelica
kembali bersemu merah.
Mereka kembali berjalan lagi.
“Oh, ya. Ngomong-ngomong...”
Johan kembali memulai pembicaraan.
“Apa?” tanya Angelica memotong.
“Kau ingat kejadian di ruang
kepala sekolah waktu itu?”
“Ng... yaah...” jawab Angelica
pelan. Ia tidak ingin mengingat kejadian naas itu, dan ingin berusaha mengganti
topik, tapi kemudian Johan berkata...
“Ayahku ingin bertemu denganmu”
CTAARR! Angelica terkejut bagai
tersambar petir. Berbagai pikiran aneh melayang di kepalanya.
‘Ingin bertemu denganku!? Mau
apa!? Jangan-jangan nanti aku ditanyai macam-macam, lalu sebagai gantinya aku dipaksa
untuk jadi tunangan keduanya!? Atau malah disuruh langsung menikah!? Tidaaaak!’
teriak Angelica dalam hati.
“Ma, maaf. Aku belum siap untuk
ke tahap selanjutnyaaa~” jawab Angelica sambil pasang wajah dengan mata
berkaca-kaca. Johan yang sedang meminum kopinya, spontan langsung terbatuk bersamaan
dengan sisa kopi yang masih ada di dalam mulutnya menyembur keluar. Ia sangat
terkejut.
“Hoi hoi, kamu mikir ke mana,
sih!? Bukan begitu, tahu! Kalau kesitu juga, aku belum siap!” teriak Johan
kemudian.
Angin berhembus sesaat,
bersamaan dengan mematungnya mereka berdua. Mereka saling bertatapan dengan
pandangan terkejut satu sama lain. Johan langsung salah tingkah.
“Bukan bukan bukaaan!! Aku
nggak mikir kesitu, kok!! Ah, tidak!! Sama sekali tidaaak!!” teriak Johan yang
kikuk hingga berlarian kesana kemari. Ia sendiri terkejut dengan kalimatnya.
“Ternyata kau sudah berpikir ke
sana, yaaa~~” Angelica lemas di tempat, merasa nyawanya melayang sesaat. Johan
berusaha membaca situasi.
“Uugh, tenanglah. Bukan itu
maksudnya! Ia ingin meyakinkan diri apakah kau benar-benar putri dari Anthony
dan Lilica Sandoras. Kau sendiri mendengar nama orang tuamu dari ayahku waktu
itu, kan?” tanya Johan sambil berusaha menenangkan diri.
“Ah, benar juga. Tapi... kenapa
ayahmu mengenal orang tuaku, ya?” tanya Angelica sambil berpikir.
“Entahlah. Aku sendiri baru
tahu waktu itu” jawab Johan.
“Tapi kalau ayahmu mengenal
orang tuaku, jangan-jangan... kita pernah bertemu di suatu tempat...?” tanya
Angelica pelan.
Angin kembali berhembus. Angelica
memandang Johan dengan penuh harap ia mengingat sesuatu karena ia sendiri tidak
mengingatnya. Sementara Johan menundukkan wajahnya dan kembali berjalan.
“Itu tidak mungkin... jika
waktu kecil, itu tidak mungkin...” jawab Johan pelan.
Angelica terkejut melihat dan
mendengar respon Johan. Sesaat ia merasa, Johan menyembunyikan sesuatu darinya.
Dan dari situlah, ia merasa ada
sesuatu di balik semua ini. Alasan mengapa ayah Johan mengenal orang tuanya dan
dirinya, respon aneh Johan barusan, serta segala hal yang hingga
menghubungkannya dengan sekolah dan orang-orang di sekolah ini, yang akan
membawanya pada kenyataan yang mungkin menyakitkan baginya...
0 comment:
Posting Komentar