Jumat, 08 Mei 2015

Wings of Melodies ~ Memories Edition - Chapter 2



“G
yaaaaa~~!!! Terlambat terlambaaaat!!!”
Angelica berteriak sambil berlari menuju sekolah pagi itu. Ia menyusuri jalan dari asrama putri hingga sekolah bagian SMA dengan cepat, hingga akhirnya jam di taman berdentang sembilan kali.
“Ini gara-gara Harry menyuruhku lembur sampai jam 10 malam, padahal aku harus lembur mengerjakan PR sebelum libur semester! Huwaaa tidak bakal keburu, niih!!” teriaknya sendiri sambil terus berlari.
“Ooh, jadi kau menyalahkanku, nih!?” teriak seseorang dari belakang. Angelica terkejut.
“Heh, Harry!? Kau juga terlambat!? Gimana, sih, kau kan ketua kelas!!” teriak Angelica sambil berusaha memukul Harry yang kemudian lari di depannya.
“Mau ketua kelas atau bukan, terlambat tetap saja terlambat! Kau yang wakil ketua kelas juga terlambat, kan!? Lagipula, aku lembur lebih lama dua jam setelah kau pulang, mengerjakan
PR dengan ngebut sampai tidur jam 3 pagi!! Jadi kita impas, kan!?” protes Harry.
“Uugh, tapi tetap sajaaaa!!” teriak Angelica menggerutu kesal. Sampai akhirnya, mereka pun sampai di kelas mereka setelah berlari sekitar sepuluh menit lebih...

“Selamat... paaagiii~~!” sapa mereka berdua dengan lemas di depan pintu kelas.
“Wah waah, ketua dan wakil ketua kelas kita datang barengan!” ceplos salah seorang teman sekelasnya. Yang lainnya ada yang bersiul-siul.
“Uugh, ya maaf kami terlambat!” gerutu Harry sewot. Mereka pun duduk di kursi masing-masing.
“Ya ampun. Bisa-bisanya kalian terlambat sama-sama. Guru baru saja keluar lima menit lalu” sapa Sylvie sambil menghampiri Angelica dan Harry yang duduk bersebelahan. Sementara Sylvie duduk di bangku paling depan deretan Harry.
“Ahahaha...” Angelica hanya tertawa menanggapi, ia masih terduduk lemas.
Sylvie Rosemary Littha Hatter, teman sekelas sekaligus sahabat Angelica yang merupakan pemilik sekaligus desainer butik miliknya yang bermerek ‘Crystal Gallery’, yaitu gaun dengan gaya lolita modern yang sangat diminati banyak kalangan. Siswi dengan peringkat kelima dari seluruh murid kelas satu di Escoriale. Ia sangat cantik dengan rambut panjang bergelombang dan hiasan kupu-kupu berwarna silver diantara poninya.
“Semalam ada yang menyewa kafeku sebagai tempat pesta. Jadinya kami pulang malam dan mengerjakan PR sampai pagi buta tadi” jelas Harry sambil menguap.
“Yaah, tidak heran kalian terlambat. Tapi sebentar lagi festival olahraga, lho. Ayo bangkit!” kata Sylvie sambil memberi semangat.
“Oke. Semuanya, silakan ganti dengan baju olahraga dan berkumpul di gedung olahraga yang dekat dengan bagian SMP. Aku sudah mengajukan pinjaman ke gedung itu!” teriak Harry memberi perintah.
“Baiiik!” jawab semua teman sekelasnya.
“Ayo, Angelica, kita ke ruang ganti” ajak Sylvie.
“Ah, kau duluan saja. Aku mau memberikan PR-ku dulu ke ruang guru” jawab Angelica sambil mengambil tabletnya dari tas. Ia pun keluar bersama Harry.
“Baiklah. Sampai nanti.” sapa Sylvie sambil melambaikan tangannya...

Di gedung olahraga, para siswa kelas 1-A sudah berkumpul untuk latihan olahraga menjelang festival. Mereka pun bersiap untuk pemanasan.
“Semuanya, lari keliling gedung olahraga tiga putaran, setelah itu silakan cari pasangan untuk sit-up, push up dan pemanasan lain!” perintah Harry yang sudah kembali dari ruang guru.
“Kau sendiri tidak pemanasan, nih!? Tiga putaran itu terlalu kejam, lho, Harry!” cerocos salah seorang teman sekelasnya.
“Aku dan Angelica sudah cukup pemanasan setelah lari dari asrama sampai ke sekolah tadi, jadi kalian saja yang lari” jawab Harry sambil tertawa bangga.
“Huu, curang!” protes salah seorang yang lain.
“Hoi, Hans, tunjukkan sedikit etikamu sebagai calon pewaris perusahaan permatamu, dong! Kau sama saja seperti anak sekolah biasa!” protes Harry pada Hans Miller, salah seorang teman sekelas yang bisa dibilang cukup pembuat onar.
“Kenapa cuma aku yang disalahkan, sih!? Yang lain juga sama, tahu!” balas Hans sambil menggerutu kesal.
“Yaah, baiklah baik! Ayo dimulai larinya, sebelum kelas lain datang!” perintah Harry mengakhiri perdebatan. Mereka pun memulai larinya.
Sementara itu, Angelica duduk di pinggir lapangan sambil menulis-nulis sesuatu dengan stylus pen di tabletnya, sambil sesekali berpikir dan melihat ke lapangan. Harry yang heran ketika melihatnya pun akhirnya menghampirinya.
“Sedang apa, Angelica?” tanya Harry kemudian. Ia pun duduk di sebelahnya sambil melakukan pemanasan untuk melenturkan badannya.
“Ah, Harry. Aku hanya sedang iseng” jawab Angelica.
“Iseng?” tanya Harry tidak mengerti.
“Hehe, bisa dibilang aku sedang mengecek kemampuan mereka dalam olahraga, agar aku bisa menentukan siapa yang cocok untuk ikut festival nanti. Walaupun memang, semua kembali lagi pada keinginan mereka untuk ikut dalam lomba apa” jelas Angelica sambil kembali menulis.
“Hoo, kau seperti manajer” komentar Harry.
“Ahaha, baiklah. Pelatihan kuserahkan padamu, ya!” kata Angelica kemudian.
Setelah pemanasan berakhir, mereka pun memulai pelatihan di seluruh cabang olahraga yang akan dilombakan di festival nanti. Latihan yang cukup keras dan menantang, karena Harry memang suka olahraga sehingga sanggup untuk ‘melatih’ mereka yang mayoritas payah dengan olahraga. Namun dalam latihan pertama ini, ia hanya berusaha menaikkan stamina mereka untuk lomba nanti. Angelica sendiri sangat mahir olahraga, dibanding semua cewek-cewek di kelasnya. Sementara Sylvie cukup lemah namun ia yang paling bersemangat untuk membuat baju dalam lomba profesi dan cheerleader nanti sebagai lomba hiburan.
Jam di sekolah berdentang dua belas kali, dan bel tanda istirahat siang dibunyikan kemudian. Harry membunyikan peluit dan memberikan instruksi.
“Selesai! Semuanya, silakan istirahat dulu selama 45 menit. Setelah itu, kumpul lagi di sini untuk latihan berikutnya!”
“Baiiik!!”
Mereka pun perlahan keluar dari gedung olahraga, namun ada beberapa yang masih tetap di dalam. Harry pun memilih tetap di dalam dan memakan bekal yang dibawanya.
“Harry” panggil seseorang.
“Ooh, Hans. Ayo duduk” ajak Harry kemudian. Hans pun duduk di sebelahnya.
“Hei... menurutmu, Sandoras itu menarik?” tanya Hans kemudian sambil melihat ke arah Angelica dari jauh, yang sedang memakan bekalnya bersama Sylvie dan teman-teman lainnya.
“Ng? Kok tiba-tiba tanya begitu?” tanya Harry dengan mulut penuh makanan.
“Yaah, habisnya... kau kan cukup dekat dengannya. Lagipula dia memang menarik, kan?” komentar Hans sambil balik bertanya. Ia membuka kotak bekalnya.
“Yaah, kalau dibilang menarik mungkin kurang tepat. Dia pandai, berusaha keras dan sangat supel. Tapi dia pemalu dan... sedikit pasif kurasa” jawab Harry mengeluarkan opininya.
“Yaa. Sayang, ya, ia sudah pacaran dengan kak Orlando” keluh Hans.
“Ng? Dia tidak pacaran dengan kak Russell, kok” jawab Harry.
“Hah!? Serius!? Lalu yang waktu festival sekolah kemarin itu apa!? Kak Sabrishion sendiri lho yang bilang!!” teriak Hans terkejut.
“Iya makanya soal itu...!”
Hah! Harry terkejut sendiri. Ia tiba-tiba teringat dengan kata-kata Johan padanya, serta Sylvie dan Russell, setelah pesta dansa waktu itu.

“Ingat, ya? Hubunganku dan Angelica harus dirahasiakan sampai saatnya tiba. Setelah pernyataanku waktu festival kemarin lusa, jelas mereka akan mengira aku berbohong. Cukup jika mereka tahu bahwa Angelica masih berpacaran dengan Russell. Walau aku tahu ini berat bagi mereka untuk tetap membiarkan kebohongan, namun ini demi kebaikan kita semua. Aku mohon pada kalian semua” mohon Johan pada mereka.
“Intinya, menunggu masalah ini mereda dulu, kan? Aku sih, tidak masalah. Toh ini menyangkut kalian” jawab Russell setuju, meski ia agak keberatan.
“Aku juga mengerti. Memang tidak mudah meredakan gosip. Apalagi ini cukup berbahaya bagi Angelica karena ia dekat dengan kalian berdua. Sehingga nanti fans cewek kalian berbuat nekat. Tapi aku akan melindunginya, sebagai pemimpin kelasnya” jawab Harry.
“Aku juga mengerti. Tapi jangan biarkan ini terlalu lama, ya” jawab Sylvie dengan nada khawatir....

“Hoi, Harry! Kenapa kau tiba-tiba diam, sih?” panggil Hans sambil menggoyang-goyangkan badan Harry, yang kemudian tersadar.
“Oh, tidak. Maksudku... eeh, mereka sedang ada masalah, jadi mereka sedang putus! Nanti juga balik lagi! Biasalah, hubungan pacaran masa SMA kan sedang labil-labilnya!” jawab Harry sambil tertawa-tawa untuk menutupi kegugupannya.
“Oh! Kalau begitu... apa aku coba dekati Sandoras, ya?” tanya Hans dengan polos. Harry terkejut.
“Ka... kau tidak serius, kan?” tanyanya meyakinkan.
“Serius! Sudah lama aku tertarik dengannya. Kemarin saat melihatmu bekerja part-time di kafemu, ia sangat menawan. Selain itu ia baik, meski agak galak. Tapi aku suka!” ucap Hans memberi opininya.
“Tapi... kau tahu keluarganya seperti apa, kan? Kau tidak keberatan dengan itu?” tanya Harry.
Memang, soal keadaan keluarga Angelica, semua teman sekelasnya mengetahuinya, karena mereka memang harus saling tahu pekerjaan dan perusahaan yang mereka jalani satu sama lain untuk saling mengenal dan urusan bisnis perusahaan mereka. Namun Harry sudah meminta teman-teman sekelasnya untuk merahasiakannya dari anak-anak kelas yang lain demi melindunginya dari hal-hal yang tidak diinginkan, dan demi diri Angelica sendiri. Karenanya, Angelica tidak merasa dibedakan karena mereka semua baik, meski Angelica sendiri yang merasa tidak enak bersama mereka. Dan inilah salah satu tugas Harry sebagai ketua kelas.
“Tidak apa-apa. Toh perusahaan keluarganya bangkrut, kan? Aku bisa saja membantunya untuk mendirikan perusahaan pertaniannya lagi. Perusahaan Sandoras kan memang sangat besar waktu itu” jawab Hans meyakinkan.
Harry sedikit tergugah dengan ucapan Hans, namun ia jelas tidak yakin karena ia tahu siapa Angelica, dan tahu betul untuk siapa perasaannya berlabuh. Karenanya ia hanya menjawab...
“Yaah, kalau memang begitu, coba saja dekati dia...”

Jam di tengah taman kembali berbunyi tiga kali dan bel sekolah berbunyi kemudian, tanda berakhirnya kegiatan sekolah Latihan kelas 1-A pun berakhir hari itu.
“Semuanya, kalian sudah berusaha keras untuk hari ini. Jangan lupa untuk kembali berlatih esok hari. Bubar!!” tutup Harry mengakhiri latihan. Mereka pun membubarkan diri dan beranjak ke ruang ganti.
“Sandoras!” panggil seseorang, yang ternyata adalah Hans. Ia sudah mulai melancarkan aksinya mendekati Angelica. setelah mendengar panggilan Hans dengan nama keluarganya, Angelica sangat terkejut.
“Ah! Eehh, Miller... a, ada apa?” tanya Angelica gugup.
“Oh, tidak. Begini, setelah ini kau ada waktu? Aku ingin bicara denganmu” ajak Hans dengan nada senang.
“Eeng, aku... setelah ini... ada kegiatan di Dewan Siswa.. la, lalu...” Angelica sedikit gugup, dan terlihat tidak ingin bicara dengan Hans. Sehingga, ia sedikit memalingkan wajah darinya.
“Baiklah. Kutunggu sampai kegiatan Dewan Siswamu selesai, ya!” jawab Hans sambil tersenyum ramah. Ia pun berlalu ke ruang ganti.
Angelica hanya memandang punggung Hans dengan gugup. Sekaligus dengan pandangan sedih. Tapi ia merasa bahwa Hans tidak tahu ‘sesuatu’ yang membuatnya mendekatinya. Sementara Sylvie yang melihatnya, kemudian mendekatinya.
“Tidak biasanya Hans menyapamu, Angelica” tanyanya.
“Ah, eehh... yaah... a, aku sendiri juga tidak mengerti...” jawab Angelica gugup. Hal itu membuat Sylvie penasaran.
“Kau baik-baik saja, Angelica? wajahmu sedikit pucat. Sebaiknya kau istirahat sebentar, takut terjadi apa-apa nanti” tanya Sylvie sambil memberi saran.
“Yah, baik-baik saja, kok. Aku akan mandi, ganti baju, dan ke Dewan Siswa sekarang” jawab Angelica. mereka pun pergi bersama.
Harry yang memerhatikan Angelica dari jauh sejak Hans mulai melancarkan aksinya sedikit panik, dan merasa khawatir. Bukan karena takut hubungan Angelica dan Johan yang mungkin bakal terjadi masalah, namun karena raut wajah Angelica yang tiba-tiba panik saat Hans mendekatinya. Ia merasa aneh dan ingin mencari tahu apa yang terjadi padanya dan kenapa tiba-tiba panik. Karena, ia yakin rasa panik Angelica bukanlah karena takut Johan cemburu. Tapi ada hal lain yang terjadi....

Angelica kembali ke kelas untuk mengemas barang-barangnya yang tertinggal. Setelah menggesek kartu pelajarnya untuk membuka pintu, tiba-tiba Hans menghalanginya.
“Yo, Sandoras!” sapanya santai. Angelica kembali terkejut.
“Mi, Miller...!”
“Aku menunggumu. Hari ini bisa, kan, kita bicara?” tanyanya sambil memutar-mutarkan lingkaran gantungan sebuah kunci dengan aksesori gantungan permata emerald. “Hari ini aku bawa mobil, kok” tambahnya lagi.
Keluarga Miller memiliki usaha perhiasan dari batu permata yang sudah sangat terkenal dengan merek nama keluarganya.
“Ta, tadi kan aku sudah bilang, aku ada kegiatan di Dewan Siswa. Sudah dulu, ya!” jawab Angelica sambil bergegas pergi dari situ.
“Et, tunggu dulu!” panggil Hans lagi sambil memegang lengannya. “Aku memaksa, nih. Kau terlalu serius di organisasi seperti itu. Sesekali bolos tidak masalah, kan?” tanya Hans dengan nada meledek, sambil mengedipkan matanya.
Tiba-tiba, seseorang datang dan melepaskan tangan Hans yang memegang lengan Angelica dengan halus.
“Ooh, jadi ada yang berani mengajak Angie untuk bolos sekarang?” tanya Johan dengan nada menantang.
“Kak Johan!” panggil Angelica terkejut.
“Ah! Ti, tidak, kak Sabrishion. Kupikir kau terlalu memaksa Sandoras untuk ‘bekerja’ di Dewan Siswa, jadi aku mengajaknya untuk refreshing” jawab Hans memberi alasan.
“Ah, terima kasih. Tapi tidak di saat-saat begini, kan? Sebentar lagi festival olahraga. Kalau kau bersedia menggantikan posisi Angie selama festival, aku tidak keberatan membiarkan ia bersenang-senang!” gerutu Johan berusaha menahan amarahnya.
“Haha, kurasa tidak. Aku sendiri saat ini sibuk mengurus perusahaanku. Kalau begitu, setelah festival tidak masalah, kan?” jawab Hans sambil bertanya pada Angelica. Namun Angelica hanya berusaha bersembunyi di balik punggung Johan dengan badan sedikit bergetar. Johan sedikit terkejut, namun ia berusaha menyembunyikannya.
“Kalau begitu, sampai besok, Sandoras” sapa Hans kemudian setelah tak mendapat jawaban, sambil kemudian berlalu dari situ.
“Kau baik-baik saja, Angie? Kenapa?” tanya Johan kemudian, setelah menyadari sikap anehnya barusan.
Aku… baik-baik saja. Eehh.. aku ke restroom dulu, ya. Kau duluan saja, Johan” jawab Angelica sambil segera berlalu.
Johan terkejut sesaat, ia merasa ada yang aneh dengan Angelica. Kemudian berjalan sendiri ke ruang Dewan Siswa.
Sementara itu, di sisi lain, terdapat sebuah geng yang seperti menanti sesuatu…
“Ayo!”

Angelica berada di depan kaca restroom putri. Ia menengadahkan tangannya di bawah kran air di wastafel, sehingga air keluar dari kran karena menerima sensor tangannya. Ia langsung mencipratkannya ke wajahnya, dan merenungi sesuatu.
‘Di antara semua orang… kenapa… harus Miller lagi…? Padahal selama ini aku berusaha menjauhinya karena tak ingin terlibat lagi… tapi… mungkinkah ia…’
CKLEK! Terdengar suara pintu terbuka dan beberapa orang wanita masuk ke dalam restroom. Angelica memalingkan muka, dan mereka balas menatapnya kemudian tersenyum padanya. Dan salah satu dari mereka tiba-tiba mengunci restroom itu.
“Kenapa dikunci?” tanya Angelica heran. “Tak akan ada cowok yang masuk, bukan? Ini bukan restroom campur.” Katanya lagi.
“Ah, tidak. Justru biar tidak ada yang masuk makanya dikunci” jawab salah seorang dari mereka.
‘Scarf warna ungu… tiga diantara mereka siswi kelas dua. Sisanya kelas satu. Lalu yang bicara padaku sekarang…….’  ucap Angelica dalam hati.
“Kalian ingin apa dariku?” tanya Angelica dengan nada sinis pada cewek yang menjawab pertanyaannya tadi. Sepertinya ia pemimpinnya karena hanya ia yang scarf-nya berwarna hitam, tanda bahwa ia murid kelas tiga.
Mereka tertawa. Kemudian anak kelas tiga tadi menendang tembok yang persis berada di samping Angelica. Angelica menghindar dengan terkejut.
“Kau cuma anak kelas satu dan wakil ketua Dewan Siswa, tapi hebat juga bisa menggoda Johan dan kak Russell dan membuatnya mau bersama cewek centil sepertimu!” teriak salah seorang anak kelas dua yang berada di belakangnya.
“Menggoda?” tanya Angelica. “Memangnya aku berbuat apa sampai kalian tuduh aku menggoda mereka?”
Mereka tertawa lagi. “Kau lupa dengan pernyataan Johan yang bilang bahwa kau berpacaran dengan Russell di festival sekolah lalu!? Jangan pura-pura lupa, centil!!” teriak si anak kelas tiga hingga menggema di seluruh restroom.
“Aku ingat, kok. Memangnya kenapa?” tanya Angelica tenang. “Kalian hanyalah fans, sementara aku bisa dekat dengan mereka karena posisiku di sekolah ini. Kalau kalian cemburu, kenapa tidak katakan saja pada mereka perasaan kalian sebenarnya? Atau… akan lebih baik jika kau bergabung dengan organisasi” sambungnya.
“Dasar banyak bicara!!” teriak si anak kelas dua, kemudian menampar pipinya hingga merah. Angelica sedikit meringis, dan tiba-tiba langsung merubah pandangannya.
“Kalian hanya berani di belakang, ya. Hebat!” puji Angelica dengan nada menantang. Mereka semakin geram, kemudian mulai membanting badan Angelica ke tembok beberapa kali dengan menarik scarf-nya hingga ia tercekik. Namun ia berhasil melawan dengan menghajar perut si anak kelas tiga dengan lututnya.
“Sial!” teriaknya. Teman-temannya membantunya berdiri.
“Cih!” Angelica meludah. Meski yang keluar adalah darah, namun ia tidak peduli dan tetap berusaha berdiri walau sedikit terhuyung.
“Orang sirik selalu saja begini, menindas yang mereka kira lemah bersama-sama…” ucap Angelica kesal.
Salah satu dari anak kelas dua itu mulai geram. Kemudian berusaha mendorong Angelica lagi dengan badannya hingga terbentur tembok untuk kesekian kalinya.
“Tahu diri sedikit!! Kau sudah punya Russell, tapi masih mendekati Johan!! Wanita murahan!!” teriaknya kesal.
BUK! Angelica menghajar wanita itu tepat di pipinya. Kali ini ia benar-benar geram.
“Wanita murahan, seharusnya tidak berkata pada orang lain ia murahan, bodoooohh!!!!” teriak Angelica memenuhi restroom. Ia kembali terlibat perkelahian. Menjambak rambut, saling menampar, bahkan mereka tidak segan menghajar, namun Angelica berhasil menghindar. Sebaliknya, mereka-lah yang selalu terkena hajarannya. Sayangnya, tenaga Angelica yang habis setelah latihan untuk festival olahraga membuatnya sedikit lengah. Ia mulai merasa aneh dengan badannya.
PIP PIP PIP! Tiba-tiba terdengar suara alarm seseorang membuka kunci pintu restroom. Mereka yang ada di dalam semuanya terkejut. Pintu terbuka dengan terbanting keras.
“Angie!!!” teriak Johan dari luar.
“Kak Johan…” panggil Angelica lemas. Johan segera menangkapnya saat Angelica akan roboh.
“Aku mendengar teriakanmu dari luar dan segera kesini. Tapi pintunya terkunci. Aku sudah menduga ada yang aneh” jelas Johan.
“Maaf… ya…” ucap Angelica lemas. Ia pun perlahan memejamkan matanya, dan tertidur.
Johan kemudian menyandarkan kepala Angelica di dadanya agar ia merasa nyaman. “Istirahatlah dulu dengan tenang…” ucapnya pelan, walau ia tahu Angelica tidak akan mendengarnya karena sudah tak sadarkan diri.
Kemudian Johan beralih pandangan ke arah para wanita itu dengan geram, mereka berniat segera melarikan diri. Namun ternyata anggota Dewan Siswa lain menghalanginya keluar.
“Kabur pun percuma. Aku tahu semua siapa kalian” kata Aldias sambil menatap mereka sinis.
“Ukh… tapi kalian liat sendiri siapa yang babak belur, kan!? Kami! Dia tidak seberapa terluka!” teriak anak kelas satu membela diri.
“Angie bisa tidak terluka parah karena salah satu keahliannya adalah beladiri” ucap Johan sambil menggendong Angelica. “Ia tidak punya alasan untuk berkelahi dengan kalian karena ia bahkan tidak tahu siapa kalian. Satu lawan lima, tapi kalian yang babak belur. Siapa suruh untuk memulai!!?” teriak Johan kesal. Ia benar-benar marah.
Mereka hening sesaat. Para wanita itu terlihat sedang mencari alasan, namun Patricia memotong pemikiran mereka.
“Baiklah, sudah cukup. Kalian berlima akan kami bawa ke Dewan Perguruan Siswa untuk perlakuan lebih lanjut karena kalian sudah menuai kesalahan berat, berkelahi dan melukai siswa. Angelica juga akan ditindak lebih lanjut setelah ia sadar, agar adil. Tapi aku yakin, mereka tidak akan memberi hukuman berat pada Angelica, karena kalian-lah yang memulai” perintahnya dengan nada sinis sambil membela.
“Dewan Perguruan Siswa!?” teriak anak kelas satu terkejut. Ia tidak menyangka akan berurusan dengan organisasi tersebut.
“Meskipun kami yang terluka berat?” tanya si anak kelas tiga. “Kalian membelanya hanya agar terlihat baik di depan para anggota Dewan Perguruan, kan!? Huh! Jangan bercanda!”
Michaelis geram dan tertawa sinis. “Hei hei, kalian tidak sadar dengan posisi kalian? Satu lawan lima itu tidak mungkin kalian yang kalah, jika yang kalian lawan adalah ahli bela diri! Kalian yang membuli My Little Angel hanya karena kecemburuan, tidak akan berpengaruh baginya!!!”
Para anggota Dewan Siswa sangat terkejut melihat dan mendengar teriakan Michaelis. Mereka mematung sesaat dengan pandangan penuh tanda tanya sekaligus heran.
“Ayo, ikut kami!” perintah Michaelis lagi sambil berjalan mendahului para wanita itu. Anggota Dewan Siswa yang lain pun bertanya-tanya.
“Ka... Kak Michaelis...” Patricia begitu shock.
“Ternyata orang masochist seperti dia seram banget marahnya” komentar Johan yang juga shock.
“Ah, baru pernah lihat dia marah, ya? Aku sih, sudah pernah” ucap Aldias santai. Johan dan Patricia terkejut.
“Me, memangnya seperti itu ya, kalau dia marah?” tanya Patricia takut-takut.
“Yaah, seperti yang kalian lihat tadi. Bahkan kalau ada barang, semuanya bisa melayang, lho!” ucap Aldias santai.
Perkataannya jelas membuat Johan dan Patricia merinding. Mereka saling bertatapan, membayangi kengerian itu benar-benar terjadi.
 Tidak usah dipikirkan, dia jarang kok semarah itu. Patrice dan aku akan ke ruang Dewan Perguruan sekarang. Tenang saja, Johan. Biar kami yang urus mereka” kata Aldias sebelum pergi.
“Ya. Terima kasih, kak Aldias” ucap Johan sambil membiarkan mereka berlalu.
Johan kini seorang diri di dalam restroom sambil menggendong Angelica. Kemudian keluar dari situ dan membawanya ke ruang kesehatan dengan pandangan sedih diiringi para siswa-siswi lain yang sempat berkumpul di depan restroom kini saling berbisik. Johan tidak memedulikannya, dan hanya bisa melihat wajah Angelica dengan pandangan sedih...
“Angelica...”

0 comment:

Posting Komentar

 

Diana Rachmawati Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template