“G
|
yaaaaa~~!!! Terlambat
terlambaaaat!!!”
Angelica berteriak sambil
berlari menuju sekolah pagi itu. Ia menyusuri jalan dari asrama putri hingga
sekolah bagian SMA dengan cepat, hingga akhirnya jam di taman berdentang
sembilan kali.
“Ini gara-gara Harry menyuruhku
lembur sampai jam 10 malam, padahal aku harus lembur mengerjakan PR sebelum
libur semester! Huwaaa tidak bakal keburu, niih!!” teriaknya sendiri sambil
terus berlari.
“Ooh, jadi kau menyalahkanku, nih!?”
teriak seseorang dari belakang. Angelica terkejut.
“Heh, Harry!? Kau juga
terlambat!? Gimana, sih, kau kan ketua kelas!!” teriak Angelica sambil berusaha
memukul Harry yang kemudian lari di depannya.
“Mau ketua kelas atau bukan,
terlambat tetap saja terlambat! Kau yang wakil ketua kelas juga terlambat,
kan!? Lagipula, aku lembur lebih lama dua jam setelah kau pulang, mengerjakan
PR dengan ngebut sampai tidur jam 3 pagi!! Jadi kita impas, kan!?” protes
Harry.
“Uugh, tapi tetap sajaaaa!!”
teriak Angelica menggerutu kesal. Sampai akhirnya, mereka pun sampai di kelas
mereka setelah berlari sekitar sepuluh menit lebih...
“Selamat... paaagiii~~!” sapa
mereka berdua dengan lemas di depan pintu kelas.
“Wah waah, ketua dan wakil
ketua kelas kita datang barengan!” ceplos salah seorang teman sekelasnya. Yang
lainnya ada yang bersiul-siul.
“Uugh, ya maaf kami terlambat!”
gerutu Harry sewot. Mereka pun duduk di kursi masing-masing.
“Ya ampun. Bisa-bisanya kalian
terlambat sama-sama. Guru baru saja keluar lima menit lalu” sapa Sylvie sambil
menghampiri Angelica dan Harry yang duduk bersebelahan. Sementara Sylvie duduk
di bangku paling depan deretan Harry.
“Ahahaha...” Angelica hanya
tertawa menanggapi, ia masih terduduk lemas.
Sylvie Rosemary Littha Hatter, teman sekelas sekaligus
sahabat Angelica yang merupakan pemilik sekaligus desainer butik miliknya yang
bermerek ‘Crystal Gallery’, yaitu gaun dengan gaya lolita modern yang sangat
diminati banyak kalangan. Siswi dengan peringkat kelima dari seluruh murid kelas
satu di Escoriale. Ia sangat cantik dengan rambut panjang bergelombang dan
hiasan kupu-kupu berwarna silver diantara poninya.
“Semalam ada yang menyewa
kafeku sebagai tempat pesta. Jadinya kami pulang malam dan mengerjakan PR
sampai pagi buta tadi” jelas Harry sambil menguap.
“Yaah, tidak heran kalian
terlambat. Tapi sebentar lagi festival olahraga, lho. Ayo bangkit!” kata Sylvie
sambil memberi semangat.
“Oke. Semuanya, silakan ganti
dengan baju olahraga dan berkumpul di gedung olahraga yang dekat dengan bagian
SMP. Aku sudah mengajukan pinjaman ke gedung itu!” teriak Harry memberi
perintah.
“Baiiik!” jawab semua teman
sekelasnya.
“Ayo, Angelica, kita ke ruang
ganti” ajak Sylvie.
“Ah, kau duluan saja. Aku mau
memberikan PR-ku dulu ke ruang guru” jawab Angelica sambil mengambil tabletnya
dari tas. Ia pun keluar bersama Harry.
“Baiklah. Sampai nanti.” sapa
Sylvie sambil melambaikan tangannya...
Di gedung olahraga, para siswa
kelas 1-A sudah berkumpul untuk latihan olahraga menjelang festival. Mereka pun
bersiap untuk pemanasan.
“Semuanya, lari keliling gedung
olahraga tiga putaran, setelah itu silakan cari pasangan untuk sit-up, push up
dan pemanasan lain!” perintah Harry yang sudah kembali dari ruang guru.
“Kau sendiri tidak pemanasan,
nih!? Tiga putaran itu terlalu kejam, lho, Harry!” cerocos salah seorang teman
sekelasnya.
“Aku dan Angelica sudah cukup
pemanasan setelah lari dari asrama sampai ke sekolah tadi, jadi kalian saja
yang lari” jawab Harry sambil tertawa bangga.
“Huu, curang!” protes salah
seorang yang lain.
“Hoi, Hans, tunjukkan sedikit
etikamu sebagai calon pewaris perusahaan permatamu, dong! Kau sama saja seperti
anak sekolah biasa!” protes Harry pada Hans Miller, salah seorang teman sekelas
yang bisa dibilang cukup pembuat onar.
“Kenapa cuma aku yang
disalahkan, sih!? Yang lain juga sama, tahu!” balas Hans sambil menggerutu
kesal.
“Yaah, baiklah baik! Ayo
dimulai larinya, sebelum kelas lain datang!” perintah Harry mengakhiri
perdebatan. Mereka pun memulai larinya.
Sementara itu, Angelica duduk di
pinggir lapangan sambil menulis-nulis sesuatu dengan stylus pen di tabletnya,
sambil sesekali berpikir dan melihat ke lapangan. Harry yang heran ketika
melihatnya pun akhirnya menghampirinya.
“Sedang apa, Angelica?” tanya
Harry kemudian. Ia pun duduk di sebelahnya sambil melakukan pemanasan untuk
melenturkan badannya.
“Ah, Harry. Aku hanya sedang
iseng” jawab Angelica.
“Iseng?” tanya Harry tidak
mengerti.
“Hehe, bisa dibilang aku sedang
mengecek kemampuan mereka dalam olahraga, agar aku bisa menentukan siapa yang
cocok untuk ikut festival nanti. Walaupun memang, semua kembali lagi pada
keinginan mereka untuk ikut dalam lomba apa” jelas Angelica sambil kembali
menulis.
“Hoo, kau seperti manajer”
komentar Harry.
“Ahaha, baiklah. Pelatihan
kuserahkan padamu, ya!” kata Angelica kemudian.
Setelah pemanasan berakhir,
mereka pun memulai pelatihan di seluruh cabang olahraga yang akan dilombakan di
festival nanti. Latihan yang cukup keras dan menantang, karena Harry memang
suka olahraga sehingga sanggup untuk ‘melatih’ mereka yang mayoritas payah
dengan olahraga. Namun dalam latihan pertama ini, ia hanya berusaha menaikkan
stamina mereka untuk lomba nanti. Angelica sendiri sangat mahir olahraga,
dibanding semua cewek-cewek di kelasnya. Sementara Sylvie cukup lemah namun ia
yang paling bersemangat untuk membuat baju dalam lomba profesi dan cheerleader
nanti sebagai lomba hiburan.
Jam di sekolah berdentang dua
belas kali, dan bel tanda istirahat siang dibunyikan kemudian. Harry
membunyikan peluit dan memberikan instruksi.
“Selesai! Semuanya, silakan
istirahat dulu selama 45 menit. Setelah itu, kumpul lagi di sini untuk latihan
berikutnya!”
“Baiiik!!”
Mereka pun perlahan keluar dari
gedung olahraga, namun ada beberapa yang masih tetap di dalam. Harry pun
memilih tetap di dalam dan memakan bekal yang dibawanya.
“Harry” panggil seseorang.
“Ooh, Hans. Ayo duduk” ajak
Harry kemudian. Hans pun duduk di sebelahnya.
“Hei... menurutmu, Sandoras itu
menarik?” tanya Hans kemudian sambil melihat ke arah Angelica dari jauh, yang
sedang memakan bekalnya bersama Sylvie dan teman-teman lainnya.
“Ng? Kok tiba-tiba tanya
begitu?” tanya Harry dengan mulut penuh makanan.
“Yaah, habisnya... kau kan
cukup dekat dengannya. Lagipula dia memang menarik, kan?” komentar Hans sambil
balik bertanya. Ia membuka kotak bekalnya.
“Yaah, kalau dibilang menarik
mungkin kurang tepat. Dia pandai, berusaha keras dan sangat supel. Tapi dia
pemalu dan... sedikit pasif kurasa” jawab Harry mengeluarkan opininya.
“Yaa. Sayang, ya, ia sudah
pacaran dengan kak Orlando” keluh Hans.
“Ng? Dia tidak pacaran dengan
kak Russell, kok” jawab Harry.
“Hah!? Serius!? Lalu yang waktu
festival sekolah kemarin itu apa!? Kak Sabrishion sendiri lho yang bilang!!”
teriak Hans terkejut.
“Iya makanya soal itu...!”
Hah! Harry terkejut sendiri. Ia
tiba-tiba teringat dengan kata-kata Johan padanya, serta Sylvie dan Russell,
setelah pesta dansa waktu itu.
“Ingat, ya? Hubunganku dan Angelica
harus dirahasiakan sampai saatnya tiba. Setelah pernyataanku waktu festival
kemarin lusa, jelas mereka akan mengira aku berbohong. Cukup jika mereka tahu
bahwa Angelica masih berpacaran dengan Russell. Walau aku tahu ini berat bagi
mereka untuk tetap membiarkan kebohongan, namun ini demi kebaikan kita semua.
Aku mohon pada kalian semua” mohon Johan pada mereka.
“Intinya, menunggu masalah ini mereda
dulu, kan? Aku sih, tidak masalah. Toh ini menyangkut kalian” jawab Russell
setuju, meski ia agak keberatan.
“Aku juga mengerti. Memang tidak mudah
meredakan gosip. Apalagi ini cukup berbahaya bagi Angelica karena ia dekat
dengan kalian berdua. Sehingga nanti fans cewek kalian berbuat nekat. Tapi aku
akan melindunginya, sebagai pemimpin kelasnya” jawab Harry.
“Aku juga mengerti. Tapi jangan biarkan
ini terlalu lama, ya” jawab Sylvie dengan nada khawatir....
“Hoi, Harry! Kenapa kau
tiba-tiba diam, sih?” panggil Hans sambil menggoyang-goyangkan badan Harry,
yang kemudian tersadar.
“Oh, tidak. Maksudku... eeh,
mereka sedang ada masalah, jadi mereka sedang putus! Nanti juga balik lagi!
Biasalah, hubungan pacaran masa SMA kan sedang labil-labilnya!” jawab Harry
sambil tertawa-tawa untuk menutupi kegugupannya.
“Oh! Kalau begitu... apa aku
coba dekati Sandoras, ya?” tanya Hans dengan polos. Harry terkejut.
“Ka... kau tidak serius, kan?”
tanyanya meyakinkan.
“Serius! Sudah lama aku
tertarik dengannya. Kemarin saat melihatmu bekerja part-time di kafemu, ia
sangat menawan. Selain itu ia baik, meski agak galak. Tapi aku suka!” ucap Hans
memberi opininya.
“Tapi... kau tahu keluarganya
seperti apa, kan? Kau tidak keberatan dengan itu?” tanya Harry.
Memang, soal keadaan keluarga
Angelica, semua teman sekelasnya mengetahuinya, karena mereka memang harus
saling tahu pekerjaan dan perusahaan yang mereka jalani satu sama lain untuk
saling mengenal dan urusan bisnis perusahaan mereka. Namun Harry sudah meminta
teman-teman sekelasnya untuk merahasiakannya dari anak-anak kelas yang lain
demi melindunginya dari hal-hal yang tidak diinginkan, dan demi diri Angelica
sendiri. Karenanya, Angelica tidak merasa dibedakan karena mereka semua baik,
meski Angelica sendiri yang merasa tidak enak bersama mereka. Dan inilah salah
satu tugas Harry sebagai ketua kelas.
“Tidak apa-apa. Toh perusahaan
keluarganya bangkrut, kan? Aku bisa saja membantunya untuk mendirikan
perusahaan pertaniannya lagi. Perusahaan Sandoras kan memang sangat besar waktu
itu” jawab Hans meyakinkan.
Harry sedikit tergugah dengan
ucapan Hans, namun ia jelas tidak yakin karena ia tahu siapa Angelica, dan tahu
betul untuk siapa perasaannya berlabuh. Karenanya ia hanya menjawab...
“Yaah, kalau memang begitu,
coba saja dekati dia...”
Jam di tengah taman kembali
berbunyi tiga kali dan bel sekolah berbunyi kemudian, tanda berakhirnya
kegiatan sekolah Latihan kelas 1-A pun berakhir hari itu.
“Semuanya, kalian sudah
berusaha keras untuk hari ini. Jangan lupa untuk kembali berlatih esok hari.
Bubar!!” tutup Harry mengakhiri latihan. Mereka pun membubarkan diri dan
beranjak ke ruang ganti.
“Sandoras!” panggil seseorang,
yang ternyata adalah Hans. Ia sudah mulai melancarkan aksinya mendekati
Angelica. setelah mendengar panggilan Hans dengan nama keluarganya, Angelica
sangat terkejut.
“Ah! Eehh, Miller... a, ada
apa?” tanya Angelica gugup.
“Oh, tidak. Begini, setelah ini
kau ada waktu? Aku ingin bicara denganmu” ajak Hans dengan nada senang.
“Eeng, aku... setelah ini...
ada kegiatan di Dewan Siswa.. la, lalu...” Angelica sedikit gugup, dan terlihat
tidak ingin bicara dengan Hans. Sehingga, ia sedikit memalingkan wajah darinya.
“Baiklah. Kutunggu sampai
kegiatan Dewan Siswamu selesai, ya!” jawab Hans sambil tersenyum ramah. Ia pun
berlalu ke ruang ganti.
Angelica hanya memandang
punggung Hans dengan gugup. Sekaligus dengan pandangan sedih. Tapi ia merasa
bahwa Hans tidak tahu ‘sesuatu’ yang membuatnya mendekatinya. Sementara Sylvie
yang melihatnya, kemudian mendekatinya.
“Tidak biasanya Hans menyapamu,
Angelica” tanyanya.
“Ah, eehh... yaah... a, aku
sendiri juga tidak mengerti...” jawab Angelica gugup. Hal itu membuat Sylvie penasaran.
“Kau baik-baik saja, Angelica?
wajahmu sedikit pucat. Sebaiknya kau istirahat sebentar, takut terjadi apa-apa
nanti” tanya Sylvie sambil memberi saran.
“Yah, baik-baik saja, kok. Aku
akan mandi, ganti baju, dan ke Dewan Siswa sekarang” jawab Angelica. mereka pun
pergi bersama.
Harry yang memerhatikan
Angelica dari jauh sejak Hans mulai melancarkan aksinya sedikit panik, dan
merasa khawatir. Bukan karena takut hubungan Angelica dan Johan yang mungkin
bakal terjadi masalah, namun karena raut wajah Angelica yang tiba-tiba panik
saat Hans mendekatinya. Ia merasa aneh dan ingin mencari tahu apa yang terjadi
padanya dan kenapa tiba-tiba panik. Karena, ia yakin rasa panik Angelica bukanlah
karena takut Johan cemburu. Tapi ada hal lain yang terjadi....
Angelica kembali ke kelas untuk
mengemas barang-barangnya yang tertinggal. Setelah menggesek kartu pelajarnya
untuk membuka pintu, tiba-tiba Hans menghalanginya.
“Yo, Sandoras!” sapanya santai.
Angelica kembali terkejut.
“Mi, Miller...!”
“Aku menunggumu. Hari ini bisa,
kan, kita bicara?” tanyanya sambil memutar-mutarkan lingkaran gantungan sebuah
kunci dengan aksesori gantungan permata emerald. “Hari ini aku bawa mobil, kok”
tambahnya lagi.
Keluarga Miller memiliki usaha
perhiasan dari batu permata yang sudah sangat terkenal dengan merek nama
keluarganya.
“Ta, tadi kan aku sudah bilang,
aku ada kegiatan di Dewan Siswa. Sudah dulu, ya!” jawab Angelica sambil
bergegas pergi dari situ.
“Et, tunggu dulu!” panggil Hans
lagi sambil memegang lengannya. “Aku memaksa, nih. Kau terlalu serius di
organisasi seperti itu. Sesekali bolos tidak masalah, kan?” tanya Hans dengan
nada meledek, sambil mengedipkan matanya.
Tiba-tiba, seseorang datang dan
melepaskan tangan Hans yang memegang lengan Angelica dengan halus.
“Ooh, jadi ada yang berani
mengajak Angie untuk bolos sekarang?” tanya Johan dengan nada menantang.
“Kak Johan!” panggil Angelica
terkejut.
“Ah! Ti, tidak, kak Sabrishion.
Kupikir kau terlalu memaksa Sandoras untuk ‘bekerja’ di Dewan Siswa, jadi aku
mengajaknya untuk refreshing” jawab Hans memberi alasan.
“Ah, terima kasih. Tapi tidak
di saat-saat begini, kan? Sebentar lagi festival olahraga. Kalau kau bersedia
menggantikan posisi Angie selama festival, aku tidak keberatan membiarkan ia bersenang-senang!”
gerutu Johan berusaha menahan amarahnya.
“Haha, kurasa tidak. Aku
sendiri saat ini sibuk mengurus perusahaanku. Kalau begitu, setelah festival
tidak masalah, kan?” jawab Hans sambil bertanya pada Angelica. Namun Angelica
hanya berusaha bersembunyi di balik punggung Johan dengan badan sedikit
bergetar. Johan sedikit terkejut, namun ia berusaha menyembunyikannya.
“Kalau begitu, sampai besok,
Sandoras” sapa Hans kemudian setelah tak mendapat jawaban, sambil kemudian
berlalu dari situ.
“Kau baik-baik saja, Angie?
Kenapa?” tanya Johan kemudian, setelah menyadari sikap anehnya barusan.
“Aku… baik-baik saja. Eehh.. aku ke restroom dulu, ya.
Kau duluan saja, Johan” jawab Angelica sambil segera berlalu.
Johan terkejut sesaat, ia merasa ada yang aneh dengan
Angelica. Kemudian berjalan sendiri ke ruang Dewan Siswa.
Sementara itu, di sisi lain, terdapat sebuah geng yang
seperti menanti sesuatu…
“Ayo!”
Angelica berada di depan kaca restroom putri. Ia
menengadahkan tangannya di bawah kran air di wastafel, sehingga air keluar dari
kran karena menerima sensor tangannya. Ia langsung mencipratkannya ke wajahnya,
dan merenungi sesuatu.
‘Di antara semua orang… kenapa… harus Miller lagi…?
Padahal selama ini aku berusaha menjauhinya karena tak ingin terlibat lagi…
tapi… mungkinkah ia…’
CKLEK! Terdengar suara pintu terbuka dan beberapa
orang wanita masuk ke dalam restroom. Angelica memalingkan muka, dan mereka
balas menatapnya kemudian tersenyum padanya. Dan salah satu dari mereka
tiba-tiba mengunci restroom itu.
“Kenapa dikunci?” tanya Angelica heran. “Tak akan ada
cowok yang masuk, bukan? Ini bukan restroom campur.” Katanya lagi.
“Ah, tidak. Justru biar tidak ada yang masuk makanya
dikunci” jawab salah seorang dari mereka.
‘Scarf warna ungu… tiga diantara mereka siswi kelas
dua. Sisanya kelas satu. Lalu yang bicara padaku sekarang…….’ ucap Angelica
dalam hati.
“Kalian ingin apa dariku?” tanya Angelica dengan nada
sinis pada cewek yang menjawab pertanyaannya tadi. Sepertinya ia pemimpinnya
karena hanya ia yang scarf-nya berwarna hitam, tanda bahwa ia murid kelas tiga.
Mereka tertawa. Kemudian anak kelas tiga tadi
menendang tembok yang persis berada di samping Angelica. Angelica menghindar
dengan terkejut.
“Kau cuma anak kelas satu dan wakil ketua Dewan Siswa,
tapi hebat juga bisa menggoda Johan dan kak Russell dan membuatnya mau bersama
cewek centil sepertimu!” teriak salah seorang anak kelas dua yang berada di
belakangnya.
“Menggoda?” tanya Angelica. “Memangnya aku berbuat apa
sampai kalian tuduh aku menggoda mereka?”
Mereka tertawa lagi. “Kau lupa dengan pernyataan Johan
yang bilang bahwa kau berpacaran dengan Russell di festival sekolah lalu!?
Jangan pura-pura lupa, centil!!” teriak si anak kelas tiga hingga menggema di
seluruh restroom.
“Aku ingat, kok. Memangnya kenapa?” tanya Angelica
tenang. “Kalian hanyalah fans, sementara aku bisa dekat dengan mereka karena
posisiku di sekolah ini. Kalau kalian cemburu, kenapa tidak katakan saja pada
mereka perasaan kalian sebenarnya? Atau… akan lebih baik jika kau bergabung
dengan organisasi” sambungnya.
“Dasar banyak bicara!!” teriak si anak kelas dua,
kemudian menampar pipinya hingga merah. Angelica sedikit meringis, dan
tiba-tiba langsung merubah pandangannya.
“Kalian hanya berani di belakang, ya. Hebat!” puji
Angelica dengan nada menantang. Mereka semakin geram, kemudian mulai membanting
badan Angelica ke tembok beberapa kali dengan menarik scarf-nya hingga ia
tercekik. Namun ia berhasil melawan dengan menghajar perut si anak kelas tiga
dengan lututnya.
“Sial!” teriaknya. Teman-temannya membantunya berdiri.
“Cih!” Angelica meludah. Meski yang keluar adalah
darah, namun ia tidak peduli dan tetap berusaha berdiri walau sedikit
terhuyung.
“Orang sirik selalu saja begini, menindas yang mereka
kira lemah bersama-sama…” ucap Angelica kesal.
Salah satu dari anak kelas dua itu mulai geram.
Kemudian berusaha mendorong Angelica lagi dengan badannya hingga terbentur
tembok untuk kesekian kalinya.
“Tahu diri sedikit!! Kau sudah punya Russell, tapi
masih mendekati Johan!! Wanita murahan!!” teriaknya kesal.
BUK! Angelica menghajar wanita itu tepat di pipinya.
Kali ini ia benar-benar geram.
“Wanita murahan, seharusnya tidak berkata pada orang
lain ia murahan, bodoooohh!!!!” teriak Angelica memenuhi restroom. Ia kembali
terlibat perkelahian. Menjambak rambut, saling menampar, bahkan mereka tidak
segan menghajar, namun Angelica berhasil menghindar. Sebaliknya, mereka-lah
yang selalu terkena hajarannya. Sayangnya, tenaga Angelica yang habis
setelah latihan untuk festival olahraga membuatnya sedikit lengah. Ia mulai
merasa aneh dengan badannya.
PIP PIP PIP! Tiba-tiba terdengar suara alarm seseorang
membuka kunci pintu restroom. Mereka yang ada di dalam semuanya terkejut. Pintu
terbuka dengan terbanting keras.
“Angie!!!” teriak Johan dari luar.
“Kak Johan…” panggil Angelica lemas. Johan segera
menangkapnya saat Angelica akan roboh.
“Aku mendengar teriakanmu dari luar dan segera kesini.
Tapi pintunya terkunci. Aku sudah menduga ada yang aneh” jelas Johan.
“Maaf… ya…” ucap Angelica lemas. Ia pun perlahan
memejamkan matanya, dan tertidur.
Johan kemudian menyandarkan kepala Angelica di dadanya
agar ia merasa nyaman. “Istirahatlah dulu dengan tenang…” ucapnya pelan, walau
ia tahu Angelica tidak akan mendengarnya karena sudah tak sadarkan diri.
Kemudian Johan beralih pandangan ke arah para wanita
itu dengan geram,
mereka berniat segera melarikan diri. Namun ternyata anggota Dewan Siswa lain
menghalanginya keluar.
“Kabur pun percuma. Aku tahu semua siapa kalian” kata
Aldias sambil menatap mereka sinis.
“Ukh… tapi kalian liat sendiri siapa yang babak belur,
kan!? Kami! Dia tidak seberapa terluka!” teriak anak kelas satu membela diri.
“Angie bisa tidak terluka parah karena salah satu keahliannya adalah beladiri” ucap
Johan sambil menggendong Angelica. “Ia tidak punya alasan untuk berkelahi
dengan kalian karena ia bahkan tidak tahu siapa kalian. Satu lawan lima, tapi
kalian yang babak belur. Siapa suruh untuk memulai!!?” teriak Johan kesal. Ia benar-benar marah.
Mereka hening sesaat. Para wanita itu terlihat sedang
mencari alasan, namun Patricia memotong pemikiran mereka.
“Baiklah, sudah cukup. Kalian berlima akan kami bawa ke Dewan
Perguruan Siswa untuk perlakuan lebih lanjut karena kalian sudah menuai
kesalahan berat, berkelahi dan melukai siswa. Angelica juga akan ditindak lebih
lanjut setelah ia sadar, agar adil. Tapi aku yakin, mereka tidak akan memberi
hukuman berat pada Angelica, karena kalian-lah yang memulai” perintahnya dengan
nada sinis sambil membela.
“Dewan Perguruan Siswa!?”
teriak anak kelas satu terkejut. Ia tidak menyangka akan berurusan dengan
organisasi tersebut.
“Meskipun kami yang terluka
berat?” tanya si anak kelas tiga. “Kalian membelanya hanya agar terlihat baik
di depan para anggota Dewan Perguruan, kan!? Huh! Jangan bercanda!”
Michaelis geram dan tertawa
sinis. “Hei hei, kalian tidak sadar dengan posisi kalian? Satu lawan lima itu
tidak mungkin kalian yang kalah, jika yang kalian lawan adalah ahli bela diri!
Kalian yang membuli My Little Angel hanya karena kecemburuan, tidak akan
berpengaruh baginya!!!”
Para anggota Dewan Siswa sangat
terkejut melihat dan mendengar teriakan Michaelis. Mereka mematung sesaat
dengan pandangan penuh tanda tanya sekaligus heran.
“Ayo, ikut kami!” perintah Michaelis lagi sambil berjalan mendahului para wanita itu.
Anggota Dewan Siswa yang lain pun bertanya-tanya.
“Ka... Kak Michaelis...”
Patricia begitu shock.
“Ternyata orang masochist
seperti dia seram banget marahnya” komentar Johan yang juga shock.
“Ah, baru pernah lihat dia
marah, ya? Aku sih, sudah pernah” ucap Aldias santai. Johan dan Patricia
terkejut.
“Me, memangnya seperti itu ya,
kalau dia marah?” tanya Patricia takut-takut.
“Yaah, seperti yang kalian
lihat tadi. Bahkan kalau ada barang, semuanya bisa melayang, lho!” ucap Aldias
santai.
Perkataannya jelas membuat Johan
dan Patricia merinding. Mereka saling bertatapan, membayangi kengerian itu
benar-benar terjadi.
“Tidak
usah dipikirkan, dia jarang kok semarah itu. Patrice dan aku akan ke ruang
Dewan Perguruan sekarang. Tenang
saja, Johan. Biar kami yang urus mereka” kata Aldias sebelum pergi.
“Ya. Terima kasih, kak Aldias” ucap Johan sambil
membiarkan mereka berlalu.
Johan kini seorang diri di
dalam restroom sambil menggendong Angelica. Kemudian keluar dari situ dan
membawanya ke ruang kesehatan dengan pandangan sedih diiringi para siswa-siswi
lain yang sempat berkumpul di depan restroom kini saling berbisik. Johan tidak
memedulikannya, dan hanya bisa melihat wajah Angelica dengan pandangan sedih...
“Angelica...”
0 comment:
Posting Komentar