“J
|
o, Johan... aku malu, nih...”
keluh Angelica tiba-tiba.
“Kenapa kau malu begitu, sih?
Itu kan gaun pilihanmu sendiri!” kata Johan menggerutu.
“Iya, sih. Tapi ternyata
setelah dicoba, jadi...” Angelica tak melanjutkan. Ia masih berputar-putar di
depan pintu masuk menuju ruang pesta yang kebetulan terdiri dari beberapa kaca
besar disana.
Gaun dengan dominan warna
kuning gading itu terlihat serasi dengan tuxedo milik Johan yang berwarna
hampir sama. Gaun tanpa lengan dengan renda di bagian dadanya dengan bagian
belakang terbuka, serta rok sedikit span dengan bagian belakang panjang sedikit
menyeret. Tuxedo Johan pun menggunakan dasi yang sedikit kendur ke bawah,
dengan scarf di kantong dan sedikit renda di bawah dan lipatan blazernya
membuat mereka berdua begitu menawan.
Ya, hari ini Johan dan Angelica
menghadiri pesta pembukaan Jewelry Shop milik keluarga Miller cabang di Berlin,
yang diadakan di atas kapal pesiar besar. Mereka berdua diundang secara khusus
oleh Hans.
‘Lagipula, ini pesta yang tidak
disangka-sangka, sih...’ keluh Angelica dalam hati.
Tadi pagi,
“Baiklah, aku pergi ke kantor sekarang.
Angie, kau yakin tak mau ikut?” tanya Johan saat akan memasuki mobilnya.
“Kau ini, mana mungkin aku ikut! Itu kan
soal pekerjaan. Lagipula aku sedang tak mau berpikir yang sulit-sulit seperti
kerjaan” tolak Angelica sambil melipat kedua tangannya.
“Jadi itu balasanmu setelah kuajak ke
Berlin? Tahu begini, kutinggal saja kau di London dan kerja part-time di cafe
Harry!” balas Johan pura-pura marah.
“Bercanda, tahu! Tapi, kalau aku ikut,
aku tidak tahu harus apa... meski calon pewaris, dulu aku tidak pernah
diikutsertakan dalam urusan pekerjaan...” keluh Angelica.
Johan tertawa kecil. “Aku juga bercanda,
kok. Aku memang sedikit berniat memintamu menjadi sekretarisku selama di sini,
sih, tapi... sepertinya nanti saja” Johan mengelus kepala Angelica.
“Johan...” panggil Angelica pelan.
“Ah, benar juga!” Johan teringat sesuatu,
kemudian mengeluarkan dompetnya dari balik blazernya.
“Ada apa?” tanya Angelica tidak
mengerti.
“Ini, bawalah kartu kreditku. Kau pasti
tidak bawa gaun, dan kita ada pesta nanti malam” jawab Johan.
“Ah, benar juga! Pestanya Miller!”
teriak Angelica saat mengingatnya.
“Yap. Limitnya cukup besar, kok. Kau
boleh beli gaun berapapun harganya. Jangan lupa dengan sepatu dan aksesorisnya
juga, ya!” Johan memperingatkan.
“Eh, lalu kamu sendiri bagaimana? Kau
juga tidak mungkin pakai baju kerja di pesta, kan?”
“Hmm, kalau begitu, aku serahkan sense
baju pestaku padamu. Boleh, kan?”
“Hee? Tapi aku tidak tahu ukuranmu,
lho!”
“Kau bisa bawa salah satu setelanku
sebagai contoh ukuranku. Minta Helga untuk menyiapkannya nanti”
“Hmm, baiklah” jawab Angelica pasrah.
‘Memang sih, aku yang memilih.
Tapi rasanya kok aneh begini, sih...’ Angelica masih mengeluh dalam hati.
“Nona Angelica sangat cantik,
lho! Beruntung aku membantu memilihkan warna yang serasi dengan setelan Tuan
Muda Johan!” kata Helga bersemangat.
“Sudah kuduga ini keinginanmu,
Helga” Alan memberi komentar.
“Sudahlah, jangan mengeluh
terus” Johan maju beberapa langkah, kemudian mengulurkan tangannya. “Ayo
kupegangi. Meski ini akan jadi hari yang menakutkan bagimu, juga bagiku
sekalipun, kita akan tetap bersama”
Johan mengatakannya dengan
tenang sambil tersenyum, membuat Angelica terpana mendengarnya. Ia pun meraih
tangan Johan dengan sedikit gemetar. Meski ini pesta, namun tujuannya adalah
untuk menguak sesuatu antara dirinya dengan Miller, yang tidak diketahui oleh
Johan.
“Kami berdua akan menunggu
disini. Segera hubungi kami jika Anda ingin segera kembali ke hotel” Helga dan
Alan membungkukkan badannya.
“Terima kasih...” balas
Angelica pelan...
Akhirnya mereka pun tiba di
ruang pesta. Mereka pun takjub melihat suasana pesta yang sudah cukup ramai.
“Waah, keren! Padahal di atas
pesiar, tapi rasanya bukan di pesiar!” gumam Angelica saking takjubnya.
“Yaah, memang keren, sih. Tapi
pendapatmu itu sedikit aneh...” komentar Johan sambil melihat-lihat. Ia pun
berniat menuruni tangga dari tempat mereka berdiri.
“Hei hei, bukannya itu Johan
Sabrishion, pewaris perusahaan Sabrishion Inc.?”
“Benar, benar. Itu dia! Sedang
apa dia di Berlin?”
“Wanita yang bersamanya itu
siapa, ya? Sepertinya aku pernah lihat”
“Kau tidak tahu? Dia pewaris
Sandoras Farm Corporation yang bangkrut dua tahun lalu!”
“Mereka saling kenal!? Dan
lagi, pewaris Sandoras diundang?”
“Tapi, gadis itu bukannya...”
Terdengar banyak ocehan dan
bisik-bisik antara para tamu. Angelica sedikit tidak enak mendengar semua
ocehan itu. Terlebih lagi, banyak mereka yang mengetahui ‘hubungan’ antara
dirinya dengan keluarga Miller. Namun, Johan menggenggam erat tangannya,
seperti berkata ‘jangan dipedulikan apa kata mereka.’ Dan itu membuatnya
sedikit lega.
“Baiklah, semuanya!”
Terdengar sambutan yang cukup
keras dari balkon lantai dua, dan itu merupakan salah satu anggota keluarga
Miller. Ada Hans juga di sana. Ia berdiri di sisi kanan berderetan dengan
anggota keluarga Miller yang lain. Angelica dan Johan yang menyadari keberadaan
Hans, hanya bisa saling mengangguk.
“Selamat datang di pesta
pembukaan cabang toko permataku di Jerman ini. Aku mengucapkan terima kasih
banyak atas kedatangan kalian yang sudah jauh-jauh kemari. Mari, silakan
menikmati pesta hari ini!” sambutnya dengan ramah.
“Dia, kan...” Angelica
menduga-duga.
“Kurasa salah satu anggota
keluarga utama Miller, tapi aku lupa namanya. Dia pernah beberapa kali terlihat
di tv dan media massa. Kudengar ia juga sering main film...” kata Johan sambil
berpikir.
“Ooh, pantas saja! Rasanya aku
sering melihatnya!” Angelica mengingat kembali. Kemudian mereka berdua kembali
memperhatikan sambutan dari keluarga Miller tersebut.
“Bersamaan dengan pesta
pembukaan ini, saya sebagai perwakilan keluarga utama Miller, akan mengumumkan
pewaris utama keluarga yang sah. Dia merupakan salah satu anggota keluarga kami
yang selama ini menghilang. Orang itu adalah...”
Angelica terkejut, dan entah
kenapa ia merasa tahu siapa orang itu. Melihat gelagatnya yang langsung
berubah, entah kenapa Johan langsung menyadari siapa orang itu. Sampai
akhirnya, nama sang pewaris disebut dan menunjukkan dirinya di balkon.
Johan semakin terkejut
mendengar namanya, dan berbagai macam pertanyaan muncul dalam benaknya.
‘Sejak kapan orang ini
memutuskan untuk kembali!? Berarti sejak awal, Hans sudah tahu mengenai
keberadaannya!?’
BRUK!
Tiba-tiba seseorang menubruki
Johan dari samping, yang ternyata adalah... Angelica! ia jatuh pingsan sejak
mendengar nama orang itu dan muncul di balkon. Johan terkejut dan segera
mengambil tindakan. Sementara, Hans yang menyadari situasi itu langsung turun
dan ikut membantu Johan.....
Angelica, Johan, dan Hans sedang berada di salah satu kamar yang tersedia dalam pesiar itu, yang memang digunakan oleh para tamu undangan untuk bersiap-siap. Seorang dokter keluarga Miller yang dipanggil sedang memeriksa keadaan Angelica. Johan dan Hans hanya berdiri mengapit tempat tidur Angelica.
“Bagaimana keadaannya?” tanya
Johan setelah Dokter itu selesai memeriksa.
Sang Dokter menghela nafas.
“Tuan, sejak kapan Nona ini menderita penyakit ini?”
“... sejak kecil, tapi...
keadaannya makin parah sejak ia lulus SMP tahun lalu. Ada apa?” jawab Johan
sambil balik bertanya.
Sejenak, Dokter itu sedikit
ragu menjelaskan diagnosanya.
“Nona ini mengidap trauma akut
dan berisiko terkena hepatitis A. Benar?”
“Ya... Dokter keluargaku yang
memeriksanya” Johan tersenyum lemah.
“Kurasa, diagnosa dokter Anda
ada yang sedikit meleset, Tuan. Mohon maaf sebelumnya” ucap Dokter itu sedikit
takut.
“Maksud Dokter!?” tanya Johan
terkejut.
“Nona ini, Angelica Sandoras,
kan? Saya pernah memeriksanya beberapa kali” jawab Dokter itu.
Mendengar itu, Johan terkejut
dan langsung melihat ke arah Hans. Hans hanya mengangguk, seakan berkata,
‘nanti kujelaskan semuanya.’
“Lalu?” lanjut Johan.
“Nona ini memang mengalami
trauma akut berkepanjangan yang disebabkan karena stres yang sudah memuncak.
Namun...” Dokter itu menundukkan kepalanya sedikit. “Penyakit yang berisiko
untuknya bukanlah hepatitis A. Meski mirip, namun bukan itu”
Johan semakin bingung. “Lalu
kalau bukan hepatitis A, apa sebenarnya?”
Dokter itu kembali menghela
nafas. “Mohon maaf, Tuan. Tapi saya tidak akan menyalahkan diagnosa dokter
Anda, hanya sedikit meleset saja. Sekilas, memang gejala dan pergerakan
virusnya mirip dengan hepatitis A, tapi...”
“Tapi?” tanya Johan meyakinkan.
“Sungguh minta maaf, Tuan. Sampai
sekarang saya benar-benar tidak tahu apa penyakit sebenarnya dari Nona
Sandoras” Dokter itu membungkukkan badan.
Johan merenung sebentar.
“Sejak dulu memang tidak bisa
ditentukan apa penyakitnya, kan? Mungkin lebih mirip kalau disebabkan oleh
stress berat” Hans menimpali Dokter itu.
“Sudah kuduga ada yang aneh,
saat kuperiksa hasil X-Ray Angie...”gumam Johan pelan.
Kemudian Dokter itu mencatat
sesuatu dari buku kecil yang dibawanya. “Mungkin benar yang dikatakan Tuan Muda
Hans, Tuan. Namun untuk sementara ia baik-baik saja. Ia masih punya obat
terakhir sebelum pemeriksaan hari ini, kan?”
“Ah... ya...” jawab Johan
lemas.
“Baiklah kalau begitu. Dan jika
diizinkan, saya ingin melihat hasil X-Ray Nona Sandoras yang terakhir”
“Hasilnya ada di London. Ini
kartu nama dokter keluargaku. Kau bisa meminta padanya saat kembali” kata Johan
sambil menyerahkan kartu namanya.
“Baiklah. Terima kasih, Tuan”
jawab Dokter itu sambil berpamitan.
Johan berdiri diam mematung.
Menatap wajah Angelica dengan penuh kesedihan. Dia tidak pernah tega melihatnya
selalu shock seperti ini sampai tidak sadarkan diri. Perlahan-lahan ia menekuk
lututnya, dan menggenggam tangannya sambil menunduk.
“Kau baik-baik saja, kak
Sabrishion?”tanya Hans kemudian.
“Ya... izinkan aku
menemaninya...” pinta Johan.
Hans menghela nafas. “Baiklah.
Akan kuminta pelayan membawakan sesuatu untukmu kesini”
“Tidak perlu” balas Johan.
Hans tidak membalas. Ia hanya
menghela nafas lagi dan baru akan beranjak keluar dari ruangan itu...
“Kau tidak perlu mengusirnya
seperti itu”
Johan terkejut mendengar suara
Angelica tiba-tiba. Ya, ia sadar setelah setengah jam lamanya. Begitu juga
dengan Hans. Ia langsung kembali lagi karena terkejut.
“Angie...!” teriak Johan
senang.
“Maaf, aku menyusahkanmu
lagi...” katanya dengan suara lemah.
“Tidak, Angie. Aku...” Johan
tak sanggup berkata-kata lagi.
Angelica tertawa kecil.
“Seharusnya aku yang minta maaf padamu, Johan...”
Johan sedikit terkejut,
kemudian ia mengernyitkan dahi dan memasang tampang serius.
“Angie, kau pingsan saat
mendengar nama pewarisnya. Sebenarnya siapa dia?” tanya Johan begitu penasaran,
namun dengan nada simpati. Angelica membalas genggaman tangan Johan sambil
memejamkan mata. Ia menghela nafas pelan.
“Kurasa memang sudah saatnya
kau tahu semuanya. Aku sungguh minta maaf telah menyembunyikannya selama ini
darimu. Tadinya aku merasa, aku harus mengatakannya tepat saat perasaan sakit
ini hilang. Aku masih terguncang saat mengingat hari di mana keluargaku
jatuh... tapi... kini aku telah pasrah...”
Angelica menggumam pelan,
sambil melihat ke arah Hans. Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu,
dan orang itu beranjak masuk tanpa minta izin mereka yang ada di dalam.
Orang itu masuk dengan dua
pengawal dibiarkan di luar. Johan dan Hans melihat ke arah pintu dan sangat
terkejut, dan Hans langsung memberi hormat padanya. Angelica yang hanya bisa
duduk di tempat tidurnya, ia yang juga terkejut lalu terpaku sebentar, kemudian
tersenyum. Orang yang baru datang itu pun membalas senyumannya. Ia terlihat
lega saat melihat senyuman Angelica yang masih sedikit lemah, namun pasrah.
“Lama tidak bertemu,
Angelica...” sapa orang itu dengan nada sangat lega.
Angelica terkejut, dan ia hampir
menangis mendengar suaranya. Ya, suara yang sudah lama ia rindukan dan kini
orang itu ada di hadapannya. Meski perasaannya tak menentu dan terguncang, ia
sungguh merindukannya.
“Lama tidak bertemu, dan
selamat telah menjadi pewaris...”
Semua bergeming. Senyuman dan
tatapan Angelica berubah dalam sekejap.
“Tunanganku, Ethan Miller...”
0 comment:
Posting Komentar