Selasa, 15 Desember 2015

Wings of Melodies ~ Memories Edition, Chapter 9

“J
o, Johan... aku malu, nih...” keluh Angelica tiba-tiba.
“Kenapa kau malu begitu, sih? Itu kan gaun pilihanmu sendiri!” kata Johan menggerutu.
“Iya, sih. Tapi ternyata setelah dicoba, jadi...” Angelica tak melanjutkan. Ia masih berputar-putar di depan pintu masuk menuju ruang pesta yang kebetulan terdiri dari beberapa kaca besar disana.
Gaun dengan dominan warna kuning gading itu terlihat serasi dengan tuxedo milik Johan yang berwarna hampir sama. Gaun tanpa lengan dengan renda di bagian dadanya dengan bagian belakang terbuka, serta rok sedikit span dengan bagian belakang panjang sedikit menyeret. Tuxedo Johan pun menggunakan dasi yang sedikit kendur ke bawah, dengan scarf di kantong dan sedikit renda di bawah dan lipatan blazernya membuat mereka berdua begitu menawan.

Ya, hari ini Johan dan Angelica menghadiri pesta pembukaan Jewelry Shop milik keluarga Miller cabang di Berlin, yang diadakan di atas kapal pesiar besar. Mereka berdua diundang secara khusus oleh Hans.
‘Lagipula, ini pesta yang tidak disangka-sangka, sih...’ keluh Angelica dalam hati.

Tadi pagi,
“Baiklah, aku pergi ke kantor sekarang. Angie, kau yakin tak mau ikut?” tanya Johan saat akan memasuki mobilnya.
“Kau ini, mana mungkin aku ikut! Itu kan soal pekerjaan. Lagipula aku sedang tak mau berpikir yang sulit-sulit seperti kerjaan” tolak Angelica sambil melipat kedua tangannya.
“Jadi itu balasanmu setelah kuajak ke Berlin? Tahu begini, kutinggal saja kau di London dan kerja part-time di cafe Harry!” balas Johan pura-pura marah.
“Bercanda, tahu! Tapi, kalau aku ikut, aku tidak tahu harus apa... meski calon pewaris, dulu aku tidak pernah diikutsertakan dalam urusan pekerjaan...” keluh Angelica.
Johan tertawa kecil. “Aku juga bercanda, kok. Aku memang sedikit berniat memintamu menjadi sekretarisku selama di sini, sih, tapi... sepertinya nanti saja” Johan mengelus kepala Angelica.
“Johan...” panggil Angelica pelan.
“Ah, benar juga!” Johan teringat sesuatu, kemudian mengeluarkan dompetnya dari balik blazernya.
“Ada apa?” tanya Angelica tidak mengerti.
“Ini, bawalah kartu kreditku. Kau pasti tidak bawa gaun, dan kita ada pesta nanti malam” jawab Johan.
“Ah, benar juga! Pestanya Miller!” teriak Angelica saat mengingatnya.
“Yap. Limitnya cukup besar, kok. Kau boleh beli gaun berapapun harganya. Jangan lupa dengan sepatu dan aksesorisnya juga, ya!” Johan memperingatkan.
“Eh, lalu kamu sendiri bagaimana? Kau juga tidak mungkin pakai baju kerja di pesta, kan?”
“Hmm, kalau begitu, aku serahkan sense baju pestaku padamu. Boleh, kan?”
“Hee? Tapi aku tidak tahu ukuranmu, lho!”
“Kau bisa bawa salah satu setelanku sebagai contoh ukuranku. Minta Helga untuk menyiapkannya nanti”
“Hmm, baiklah” jawab Angelica pasrah.

‘Memang sih, aku yang memilih. Tapi rasanya kok aneh begini, sih...’ Angelica masih mengeluh dalam hati.
“Nona Angelica sangat cantik, lho! Beruntung aku membantu memilihkan warna yang serasi dengan setelan Tuan Muda Johan!” kata Helga bersemangat.
“Sudah kuduga ini keinginanmu, Helga” Alan memberi komentar.
“Sudahlah, jangan mengeluh terus” Johan maju beberapa langkah, kemudian mengulurkan tangannya. “Ayo kupegangi. Meski ini akan jadi hari yang menakutkan bagimu, juga bagiku sekalipun, kita akan tetap bersama”
Johan mengatakannya dengan tenang sambil tersenyum, membuat Angelica terpana mendengarnya. Ia pun meraih tangan Johan dengan sedikit gemetar. Meski ini pesta, namun tujuannya adalah untuk menguak sesuatu antara dirinya dengan Miller, yang tidak diketahui oleh Johan.
“Kami berdua akan menunggu disini. Segera hubungi kami jika Anda ingin segera kembali ke hotel” Helga dan Alan membungkukkan badannya.
“Terima kasih...” balas Angelica pelan...

Akhirnya mereka pun tiba di ruang pesta. Mereka pun takjub melihat suasana pesta yang sudah cukup ramai.
“Waah, keren! Padahal di atas pesiar, tapi rasanya bukan di pesiar!” gumam Angelica saking takjubnya.
“Yaah, memang keren, sih. Tapi pendapatmu itu sedikit aneh...” komentar Johan sambil melihat-lihat. Ia pun berniat menuruni tangga dari tempat mereka berdiri.
“Hei hei, bukannya itu Johan Sabrishion, pewaris perusahaan Sabrishion Inc.?”
“Benar, benar. Itu dia! Sedang apa dia di Berlin?”
“Wanita yang bersamanya itu siapa, ya? Sepertinya aku pernah lihat”
“Kau tidak tahu? Dia pewaris Sandoras Farm Corporation yang bangkrut dua tahun lalu!”
“Mereka saling kenal!? Dan lagi, pewaris Sandoras diundang?”
“Tapi, gadis itu bukannya...”
Terdengar banyak ocehan dan bisik-bisik antara para tamu. Angelica sedikit tidak enak mendengar semua ocehan itu. Terlebih lagi, banyak mereka yang mengetahui ‘hubungan’ antara dirinya dengan keluarga Miller. Namun, Johan menggenggam erat tangannya, seperti berkata ‘jangan dipedulikan apa kata mereka.’ Dan itu membuatnya sedikit lega.
“Baiklah, semuanya!”
Terdengar sambutan yang cukup keras dari balkon lantai dua, dan itu merupakan salah satu anggota keluarga Miller. Ada Hans juga di sana. Ia berdiri di sisi kanan berderetan dengan anggota keluarga Miller yang lain. Angelica dan Johan yang menyadari keberadaan Hans, hanya bisa saling mengangguk.
“Selamat datang di pesta pembukaan cabang toko permataku di Jerman ini. Aku mengucapkan terima kasih banyak atas kedatangan kalian yang sudah jauh-jauh kemari. Mari, silakan menikmati pesta hari ini!” sambutnya dengan ramah.
“Dia, kan...” Angelica menduga-duga.
“Kurasa salah satu anggota keluarga utama Miller, tapi aku lupa namanya. Dia pernah beberapa kali terlihat di tv dan media massa. Kudengar ia juga sering main film...” kata Johan sambil berpikir.
“Ooh, pantas saja! Rasanya aku sering melihatnya!” Angelica mengingat kembali. Kemudian mereka berdua kembali memperhatikan sambutan dari keluarga Miller tersebut.
“Bersamaan dengan pesta pembukaan ini, saya sebagai perwakilan keluarga utama Miller, akan mengumumkan pewaris utama keluarga yang sah. Dia merupakan salah satu anggota keluarga kami yang selama ini menghilang. Orang itu adalah...”
Angelica terkejut, dan entah kenapa ia merasa tahu siapa orang itu. Melihat gelagatnya yang langsung berubah, entah kenapa Johan langsung menyadari siapa orang itu. Sampai akhirnya, nama sang pewaris disebut dan menunjukkan dirinya di balkon.
Johan semakin terkejut mendengar namanya, dan berbagai macam pertanyaan muncul dalam benaknya.
‘Sejak kapan orang ini memutuskan untuk kembali!? Berarti sejak awal, Hans sudah tahu mengenai keberadaannya!?’
BRUK!
Tiba-tiba seseorang menubruki Johan dari samping, yang ternyata adalah... Angelica! ia jatuh pingsan sejak mendengar nama orang itu dan muncul di balkon. Johan terkejut dan segera mengambil tindakan. Sementara, Hans yang menyadari situasi itu langsung turun dan ikut membantu Johan.....

Angelica, Johan, dan Hans sedang berada di salah satu kamar yang tersedia dalam pesiar itu, yang memang digunakan oleh para tamu undangan untuk bersiap-siap. Seorang dokter keluarga Miller yang dipanggil sedang memeriksa keadaan Angelica. Johan dan Hans hanya berdiri mengapit tempat tidur Angelica.
“Bagaimana keadaannya?” tanya Johan setelah Dokter itu selesai memeriksa.
Sang Dokter menghela nafas. “Tuan, sejak kapan Nona ini menderita penyakit ini?”
“... sejak kecil, tapi... keadaannya makin parah sejak ia lulus SMP tahun lalu. Ada apa?” jawab Johan sambil balik bertanya.
Sejenak, Dokter itu sedikit ragu menjelaskan diagnosanya.
“Nona ini mengidap trauma akut dan berisiko terkena hepatitis A. Benar?”
“Ya... Dokter keluargaku yang memeriksanya” Johan tersenyum lemah.
“Kurasa, diagnosa dokter Anda ada yang sedikit meleset, Tuan. Mohon maaf sebelumnya” ucap Dokter itu sedikit takut.
“Maksud Dokter!?” tanya Johan terkejut.
“Nona ini, Angelica Sandoras, kan? Saya pernah memeriksanya beberapa kali” jawab Dokter itu.
Mendengar itu, Johan terkejut dan langsung melihat ke arah Hans. Hans hanya mengangguk, seakan berkata, ‘nanti kujelaskan semuanya.’
“Lalu?” lanjut Johan.
“Nona ini memang mengalami trauma akut berkepanjangan yang disebabkan karena stres yang sudah memuncak. Namun...” Dokter itu menundukkan kepalanya sedikit. “Penyakit yang berisiko untuknya bukanlah hepatitis A. Meski mirip, namun bukan itu”
Johan semakin bingung. “Lalu kalau bukan hepatitis A, apa sebenarnya?”
Dokter itu kembali menghela nafas. “Mohon maaf, Tuan. Tapi saya tidak akan menyalahkan diagnosa dokter Anda, hanya sedikit meleset saja. Sekilas, memang gejala dan pergerakan virusnya mirip dengan hepatitis A, tapi...”
“Tapi?” tanya Johan meyakinkan.
“Sungguh minta maaf, Tuan. Sampai sekarang saya benar-benar tidak tahu apa penyakit sebenarnya dari Nona Sandoras” Dokter itu membungkukkan badan.
Johan merenung sebentar.
“Sejak dulu memang tidak bisa ditentukan apa penyakitnya, kan? Mungkin lebih mirip kalau disebabkan oleh stress berat” Hans menimpali Dokter itu.
“Sudah kuduga ada yang aneh, saat kuperiksa hasil X-Ray Angie...”gumam Johan pelan.
Kemudian Dokter itu mencatat sesuatu dari buku kecil yang dibawanya. “Mungkin benar yang dikatakan Tuan Muda Hans, Tuan. Namun untuk sementara ia baik-baik saja. Ia masih punya obat terakhir sebelum pemeriksaan hari ini, kan?”
“Ah... ya...” jawab Johan lemas.
“Baiklah kalau begitu. Dan jika diizinkan, saya ingin melihat hasil X-Ray Nona Sandoras yang terakhir”
“Hasilnya ada di London. Ini kartu nama dokter keluargaku. Kau bisa meminta padanya saat kembali” kata Johan sambil menyerahkan kartu namanya.
“Baiklah. Terima kasih, Tuan” jawab Dokter itu sambil berpamitan.
Johan berdiri diam mematung. Menatap wajah Angelica dengan penuh kesedihan. Dia tidak pernah tega melihatnya selalu shock seperti ini sampai tidak sadarkan diri. Perlahan-lahan ia menekuk lututnya, dan menggenggam tangannya sambil menunduk.
“Kau baik-baik saja, kak Sabrishion?”tanya Hans kemudian.
“Ya... izinkan aku menemaninya...” pinta Johan.
Hans menghela nafas. “Baiklah. Akan kuminta pelayan membawakan sesuatu untukmu kesini”
“Tidak perlu” balas Johan.
Hans tidak membalas. Ia hanya menghela nafas lagi dan baru akan beranjak keluar dari ruangan itu...
“Kau tidak perlu mengusirnya seperti itu”
Johan terkejut mendengar suara Angelica tiba-tiba. Ya, ia sadar setelah setengah jam lamanya. Begitu juga dengan Hans. Ia langsung kembali lagi karena terkejut.
“Angie...!” teriak Johan senang.
“Maaf, aku menyusahkanmu lagi...” katanya dengan suara lemah.
“Tidak, Angie. Aku...” Johan tak sanggup berkata-kata lagi.
Angelica tertawa kecil. “Seharusnya aku yang minta maaf padamu, Johan...”
Johan sedikit terkejut, kemudian ia mengernyitkan dahi dan memasang tampang serius.
“Angie, kau pingsan saat mendengar nama pewarisnya. Sebenarnya siapa dia?” tanya Johan begitu penasaran, namun dengan nada simpati. Angelica membalas genggaman tangan Johan sambil memejamkan mata. Ia menghela nafas pelan.
“Kurasa memang sudah saatnya kau tahu semuanya. Aku sungguh minta maaf telah menyembunyikannya selama ini darimu. Tadinya aku merasa, aku harus mengatakannya tepat saat perasaan sakit ini hilang. Aku masih terguncang saat mengingat hari di mana keluargaku jatuh... tapi... kini aku telah pasrah...”
Angelica menggumam pelan, sambil melihat ke arah Hans. Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu, dan orang itu beranjak masuk tanpa minta izin mereka yang ada di dalam.
Orang itu masuk dengan dua pengawal dibiarkan di luar. Johan dan Hans melihat ke arah pintu dan sangat terkejut, dan Hans langsung memberi hormat padanya. Angelica yang hanya bisa duduk di tempat tidurnya, ia yang juga terkejut lalu terpaku sebentar, kemudian tersenyum. Orang yang baru datang itu pun membalas senyumannya. Ia terlihat lega saat melihat senyuman Angelica yang masih sedikit lemah, namun pasrah.
“Lama tidak bertemu, Angelica...” sapa orang itu dengan nada sangat lega.
Angelica terkejut, dan ia hampir menangis mendengar suaranya. Ya, suara yang sudah lama ia rindukan dan kini orang itu ada di hadapannya. Meski perasaannya tak menentu dan terguncang, ia sungguh merindukannya.
“Lama tidak bertemu, dan selamat telah menjadi pewaris...”
Semua bergeming. Senyuman dan tatapan Angelica berubah dalam sekejap.

“Tunanganku, Ethan Miller...”

0 comment:

Posting Komentar

 

Diana Rachmawati Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template