Sabtu, 12 Desember 2015

Wings of Melodies ~ Memories Edition - Chapter 8

Gadis kecil dan anak laki-laki itu kini berjalan bersama. Karena lama terdiam, akhirnya gadis itu bertanya padanya.
“Hei, kau mau kemana?”
“Entahlah. Kau sendiri?” jawab anak itu sambil balik bertanya.
“Aku juga tidak tahu. Kira-kira ujung jalan ini dimana, ya?” tanya gadis itu lagi.
Anak kecil itu tidak menjawab apa-apa. Ia hanya terus melihat ke depan diikuti oleh gadis itu yang memandangnya penuh dengan tanda tanya. Sampai akhirnya...

“WAAAA~!!!”
Mereka tiba di sebuah kota dengan bunga-bunga di sekelilingnya.
“Bunga Lily!! Kereeeenn!!” teriak gadis itu bahagia. Ia segera berlari menghampiri padang bunga itu dan berlari-lari di sekelilingnya.
Sementara anak laki-laki itu terkejut melihat gadis itu yang tiba-tiba pergi dari sampingnya untuk menghampiri bunga-bunga itu. Ia hanya tersenyum tipis, kemudian menghampirinya.
“Hei…!” panggil anak laki-laki itu.
“Ada apa?” sahut gadis itu. Dan anak laki-laki itu…
“Ini untukmu”
Mengulurkan kotak yang ia bawa pada gadis itu….

“Angelica, Angie! Bangun!” terdengar suara seseorang yang membangunkan Angelica sambil mengguncang-guncangkan badannya.
“Nnngg~~  sebentar lagiii~~~” jawabnya merajuk.
“Sebentar lagi kita akan mendarat, jadi cepat bangun!” perintah orang itu yang masih membangunkannya, yaitu Johan.
Tapi Angelica tidak bergeming juga. Akhirnya Johan memasang sabuk pengamannya dan Angelica sambil berpikir, dan melakukan sesuatu atas idenya itu.
“Kalau tidak bangun juga, kucium, nih” ucapnya pelan di telinganya.
“Bangun! Bangun! Aku bangun sekaraang!!” teriak Angelica panik sambil memasang kuda-kuda perlindungan dengan kedua tangannya.
“Segitu nggak maunya? Padahal aku kan pacarmu” kata Johan pura-pura merajuk.
“Bu, bukan begitu!” jawab Angelica segera dengan wajah merah padam. “Ha, habisnya aku belum siap mental, nih!”
Johan terkejut, begitu juga Angelica yang wajahnya semakin merah padam. Ia berteriak sambil menutupi wajah dengan tasnya.
“Y, ya sudah. Duduklah dengan benar” perintah Johan sambil memalingkan muka, karena wajahnya sendiri pun berubah merah padam mendengar kalimatnya barusan.
Sementara, Angelica berusaha mengganti suasana hatinya, dan bertanya-tanya dalam hati.
‘Mimpi itu berlanjut lagi... sebenarnya apa maksudnya...?’

Bandara Internasional Berlin-Schonefeld, adalah bandara internasional terbesar di Jerman. Angelica dan Johan akhirnya tiba juga disini!
“Waaa!! Kereeenn!!!” teriak Angelica melihat pemandangan kota Berlin yang terlihat santai, namun begitu ramai meski ini adalah hari biasa. Banyak orang-orang sedang berbelanja, saling mengobrol di cafe-cafe yang ada di sekitar situ, serta berjalan-jalan sambil menikmati street food. Selain itu samar-samar terdengar suara musik klasik karya Chopin yang ia kenal dari seluruh penjuru jalanan. Ia begitu bersemangat.
“Semangat, sih, boleh. Tapi jangan lupa barang bawaanmu, dong” gerutu Johan yang kerepotan membawa empat koper serta kedua tas jinjing sendirian.
“Uups! Maaf, maaf! Sini aku bawa barangku sendiri” katanya memohon pada Johan. “Hei Johan! Disini ramai sekali, ya! Berbeda sekali dengan di London, disini begitu tenang! Kereen!” katanya lagi sambil berlari-lari seperti anak kecil. Mau tak mau, Johan tersenyum melihatnya begitu bahagia.
“Hei, Johan! Kelihatannya apple pie itu enaaak! Mampir sebentar yaaa!” mohon Angelica pada Johan dengan mata berbinar, setelah beberapa saat mereka berjalan dan melewati sebuah cafe yang dari jendelanya terpajang apple pie yang baru saja matang. Johan menelan ludah, karena sebenarnya ia pun mulai menginginkannya.
“Boleh saja. Toh jemputan kita datang setengah jam lagi. Masuklah untuk memesan. Kita duduk di luar saja. Oh, ya, pesankan Vanilla Latte untukku, ya” jawab Johan sambil memberi instruksi.
“Baiklah. Aku titip tasku, ya” jawab Angelica sambil meletakkan tasnya diatas meja yang akan mereka gunakan dan masuk ke dalam cafe.
Cafe itu bergaya Jerman klasik. Dengan chandelier kuno, dan beberapa ornamen serta souvenir-souvenir yang terlihat berumur ratusan tahun. Suasana cafe yang tidak ramai itu sangat terasa tentram.
“Waah, keren! Seharusnya kita di dalam saja. Tapi... mungkin di luar juga nyaman” katanya bicara sendiri. Setelah melihat-lihat isi cafe, Angelica berjalan ke kasir.
“Permisi, saya mau pesan untuk meja di luar” katanya pada salah satu waiter yang sedang menjepit pesanan baru diatas tali yang tergantung di depan jendela yang menghadap dapur.
“Ah, baik Nona. Apa pesanan Anda?” tanya waiter itu sambil memegang notes kecil dan pensil. Kemudian terdengar suara bel dari pintu, tanda tamu baru datang lagi.
“Hei, Master! Aku pesan seperti biasa, ya!” teriak orang yang baru datang tersebut kepada waiter yang baru akan mencatat pesanan Angelica.
“Baik, Tuan Muda!” jawab waiter itu.
‘Eh, rasanya...’ tanya Angelica dalam hati, keheranan. Ya, ia merasa sering mendengar suara itu. Kemudian ia berbalik badan untuk memastikan siapa orangnya.
“Lho? Sandoras?” tanya orang itu.
“Ha, Hans Miller!?” teriak Angelica terkejut.
“Waah, tidak disangka bertemu di Berlin, ya!” sapa Hans dengan ceria.
“Ka, kamu sendiri sedang apa disini?” tanya Angelica yang masih shock karena terkejut.
“Aku? Aku sedang mengurus pembukaan cabang toko permataku dekat sini. Oh, ya, cewek kan suka yang seperti itu, ya. Kau mau mampir? Pembukaannya dua hari lagi!” jawab Hans sambil mengajaknya.
“Eeh, boleh saja” jawab Angelica malu-malu.
“Ooh. Oh, ya, kau ke Berlin bersama siapa? Tidak mungkin sendirian, kan?” tanya Hans lagi beralih topik.
“Eeehh... itu...”

“Hans Miller?” tanya Johan, yang hampir tersedak saat meminum kopinya saat mendengar nama yang tak asing itu.
“Yap! Jangan bilang, kakak telah melupakanku, ya!” sapa Hans dengan nada ceria sekaligus agresif.
“Ooh, yang waktu itu mengajakmu bolos dari kegiatan Dewan Siswa, ya, Angie?” tanya Johan pada Angelica, dengan nada sinis.
“Ah, kau ingat, ya!?” jawab Angelica terkejut.
“Ooh, jadi kalian beneran pacaran, ya. Aku jadi sedikit kecewa, nih. Tapi... aku tidak akan kalah darimu, lho, kak Sabrishion” tantang Hans sambil melirik tajam pada Johan.
“Heh!?” Angelica kembali terkejut.
“.... heh, jangan bercanda kau, Miller. Aku tahu bahwa kau tidak tulus dengan Angie hanya dari logatmu menantangku, dan aku tidak takut” jawab Johan tenang.
“Johan!?” panggil Angelica yang masih shock.
“Hahaha, kau percaya diri sekali, ya, kak Sabrishion! Boleh juga!”
“Heeei, hentikaaan! Aku bukan barang untuk diperebutkan!” teriak Angelica protes.
Tiba-tiba terdengar suara klakson mobil dari jauh. Mereka pun beralih ke arah datangnya suara tersebut. Dan disana terdapat sebuah limousine yang di depan pintunya terdapat seorang maid.
“Kami sudah menunggu kalian, Tuan Muda Johan dan Nona Angelica. selamat datang di Berlin” sapa maid itu dengan ramah sambil mengibarkan roknya.
“Ooh, jadi kau maid yang akan bekerja padaku selama empat hari ini?” tanya Johan.
“Benar. Namaku Helga, salam kenal, Tuan Muda dan Nona” kata maid itu memperkenalkan diri sambil tersenyum manis.
“Aku Alan, yang akan menjadi supir pribadi kalian. Salam kenal” sapa supir itu sambil membungkukkan badannya.
“Salam kenal, Helga dan Alan” sapa Angelica yang sejak tadi memperhatikan mereka.
“Sudah ah, basa-basinya. Antar kami ke hotel sekarang” perintah Johan segera pada Alan.
“He!? Sekarang!? Tapi, kuenya masih...”
“Bungkus saja! Helga, minta waiternya membungkus kuenya dan bayar pakai ini, sekarang!” perintahnya segera.
“Hooi, kita kan belum selesai ngobrol!” panggil Hans mengingatkan mereka dengan panik.
“Ngobrolnya lain kali saja. Lagipula, aku tidak berminat pada orang yang berniat merebut Angie dariku!” balas Johan dengan sinis, sambil memeluk Angelica dari belakang.
“Yaah sayang banget. Padahal sebenarnya, kita pernah menjalin hubungan yang dalam ya, Sandoras?”
DEG! Jantung Angelica berdebar keras. Wajahnya berubah panik. Johan yang menyadari perubahan sikap Angelica, tak segan menanyakan maksudnya pada Hans.
“Kurasa, Sandoras jauh lebih bisa menjelaskannya daripada aku” jawab Hans pada Johan. Namun Johan semakin geram, kemudian menarik nafas panjang.
“Ada apa antara kau dan Miller, Angie?” tanya Johan, yang berusaha keras menahan amarahnya.
Angelica diam seribu bahasa. Ia hanya memegangi lengan Johan yang masih menahannya dengan kedua tangannya yang bergetar sambil menunduk. Johan pun diam menanti jawaban Angelica yang tak kunjung datang. Namun...
“Kau jangan memaksanya bicara, kak Sabrishion. Dia shock berat, tuh” Hans berusaha membuat Johan memahami keadaannya.
“Cih! Aku mulai kesal dengan situasi seperti ini” Johan memalingkan muka, ingin melepaskan diri dari Angelica, tapi...
“Maafkan aku.... maafkan aku.... maaf, Johan....” Angelica menahan lengan Johan kuat-kuat. Ia tak kuasa melepaskannya.
“Sudah kubilang, kau jangan memaksanya, kak Sabrishion! Kalau kau sampai memukulnya, biarkan Sandoras menginap bersamaku!” teriak Hans yang berusaha menghentikan Johan yang hendak memukul Angelica.
Johan segera menyadari sikapnya, kemudian menepis lengan Hans dengan kasar. Mereka terdiam sesaat. Kemudian Hans menghela nafas.
“Baiklah, begini saja” Hans memberi ide. Kemudian mengeluarkan sesuatu dari small pocket yang tergantung di celananya, yang ternyata adalah kartu undangan. “Besok malam ada pesta pembukaan toko cabang permata keluargaku. Kalian datanglah berdua. Akan kujelaskan situasi ini padamu” jelas Hans sambil memberikannya pada Johan.
“Jangan!” teriak Angelica tiba-tiba. “Tidak boleh! Johan tidak...!”
“Aku benar-benar tidak boleh tahu?”
“Bukan! Bukan begitu, aku...!” Angelica menghentikan kalimatnya sendiri. Ia sadar bahwa tidak ada gunanya lagi merahasiakan hal ‘itu’ darinya.
Johan menghela nafas lagi. “Baiklah, aku akan datang. Kau juga, kan, Angie?”
Angelica hanya mengangguk perlahan.
“Baiklah, sudah diputuskan! Terima kasih traktirannya, kak Sabrishion!” Hans pamit dan berjalan ke arah lain.
“Ayo pergi, Alan. Helga, kau duduk di depan” perintah Johan sambil menunduk.
Alan dan Helga yang sejak tadi tak bisa berbuat apa-apa menghadapi situasi mereka, hanya bisa menuruti kemauan Johan karena tak bisa macam-macam. Meski sejak tadi mereka tak kuasa melihat Angelica yang sudah beberapa kali berusaha menghentikan tangisnya sendiri. Dan selama perjalanan ke hotel, mereka berempat duduk dalam bisu...

Saat mereka sampai di hotel, hari sudah menjelang sore. Alan dan Helga sibuk menurunkan barang-barang Angelica dan Johan yang menempati Executive Lounge hotel tersebut. Sementara Johan sudah langsung membuka berkas pekerjaannya begitu sampai dan menemukan tempat yang dirasa cocok baginya. Selama itu, Johan berbicara hanya saat penentuan kamar dengan Angelica.
Melihat Johan seperti itu, Angelica tak kuasa menahan tangisnya yang kemudian pecah saat ia memasuki kamarnya sendiri.
‘Padahal ini liburan kami... padahal ini hari-hari terpenting buat kami... kenapa jadi begini...’

TOK TOK! Terdengar suara seseorang mengetuk pintu kamar Angelica.
“Angie, ganti bajumu. Kita makan malam di luar”
Terdengar suara Johan memberi instruksi. Angelica terkejut mendengarnya.
“Angie, kau di dalam, kan? Cepatlah”
“Ta, tapi...”
“Nanti saja bicaranya! Ayo cepat”
Suara langkah kaki Johan terdengar menjauh. Angelica hanya diam, namun mau tak mau ia menuruti instruksinya...
Menjelang malam, mereka berdua berjalan dengan Angelica berada di belakang Johan. Mereka saling terdiam, namun tentu saja ia bertanya-tanya dalam hati ke mana sebenarnya Johan ingin membawanya.
“Tidak apa-apa kan, kita makan malam disini?” tanya Johan tiba-tiba.
“Eh?” Angelica mengangkat kepalanya yang sejak tadi tertunduk, dan terkejut.
“Waaaahh!! Kereeeeen!!” teriaknya dengan mata terbelalak.
Ternyata, Johan mengajaknya ke tempat di mana warung-warung tenda berjejer di sepanjang jalan. Berbeda dengan tempat yang terdiri dari kafe dan restoran mewah yang mereka lihat saat baru mendarat tadi. Tempat ini jelas jauh lebih sederhana, namun sangat ramai. Terlihat banyak orang-orang yang baru saja pulang bekerja minum minuman keras bersama-sama. Namun ada juga anak-anak seumuran mereka yang berkumpul bersama teman-temannya. Ada juga pasangan seperti mereka yang saling bergandeng tangan dan berbagi street food yang dibelinya.
“Kok, kau tahu tempat seperti ini?” tanya Angelica dengan nada takjub.
“Russell menyuruhku kemari saat tahu kita akan ke Berlin. Sejujurnya, meski sering ke luar negeri, ini juga pertama kalinya aku ke sini. Makanya aku bersyukur bisa pergi bersamamu”
Angelica terbelalak dengan pernyataan Johan. Apa itu berarti ia tidak marah? Pikirnya tidak mengerti.
“Ya sudah, tidak usah dipikirkan soal yang tadi. Maaf, aku benar-benar kekanakan. Walau sebenarnya aku memang masih kesal karena... kamu masih menyembunyikan sesuatu dariku...” Johan menggaruk-garuk kepalanya.
Angelica tersenyum perlahan. Dan air matanya keluar.
“Maafkan aku, Johan... tapi, kau juga sama, kan...” Angelica menghapus air matanya sendiri sambil tertawa kecil.
“Ya, kau benar. Aku juga masih menyembunyikan sesuatu darimu. Karenanya... aku akan menunggu sampai kau siap menceritakan semuanya... kau juga, bersediakah menungguku?” kata Johan sambil balik bertanya. Ia menghapus airmata Angelica dan mengacungkan jari kelingkingnya.
“Ya! Aku akan menunggu!” jawab Angelica, sambil mengaitkan jari kelingkingnya pada Johan.
Dan akhirnya, mereka melewati malam itu dengan makan bersama, melihat beberapa pertunjukan jalanan, menikmati street food serta berjalan-jalan ke beberapa tempat bersejarah serta berfoto bersama. Baik Johan maupun Angelica sama-sama sudah melupakan apa yang terjadi diantara mereka barusan. Meski tentu saja di hati Angelica, ia harus siap menerima situasi bahwa, Johan akan mengetahui ‘keadaan’ yang sebenarnya hanya dalam beberapa jam lagi...

Sementara itu di tempat lain.
“Kau baru kembali, Hans? Darimana saja?” tanya seseorang.
“Dari toko, sekalian mampir ke suatu tempat” jawab Hans dengan nada nyeleneh.
“Jangan terlalu capek. Besok akan ada pesta besar menyambut pembukaan toko dan untukmu juga, lho” nasehatnya.
“Tidak usah khawatir. Oh, ya...” Hans memperbaiki cara berdirinya. “Dia akan datang besok”
Orang itu bingung. “Siapa maksudmu?”
Hans tersenyum tipis. “Kurasa kau mengerti. Dia ada di Berlin”
Orang itu terkejut, sama sekali tidak menyangka. Kemudian wajah terkejut itu berubah menjadi senyuman bahagia.
“Benarkah...!?”
Hans hanya melirik orang itu tajam tanpa menoleh, kemudian berjalan lagi menaiki tangga tanpa memberi tanggapan.
Sementara orang itu tersenyum tipis. Kemudian menggumam sendiri dengan nada sangat menanti.

“Semoga besok, acaranya menyenangkan, ya...”

1 comment:

 

Diana Rachmawati Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template