Gadis kecil dan anak laki-laki itu kini
berjalan bersama. Karena lama terdiam, akhirnya gadis itu bertanya padanya.
“Hei, kau mau kemana?”
“Entahlah. Kau sendiri?” jawab anak itu
sambil balik bertanya.
“Aku juga tidak tahu. Kira-kira ujung
jalan ini dimana, ya?” tanya gadis itu lagi.
Anak kecil itu tidak menjawab apa-apa.
Ia hanya terus melihat ke depan diikuti oleh gadis itu yang memandangnya penuh
dengan tanda tanya. Sampai akhirnya...
“WAAAA~!!!”
Mereka tiba di sebuah kota dengan
bunga-bunga di sekelilingnya.
“Bunga Lily!! Kereeeenn!!” teriak gadis itu bahagia. Ia segera berlari
menghampiri padang bunga itu dan berlari-lari di sekelilingnya.
Sementara anak laki-laki itu terkejut melihat gadis itu yang tiba-tiba
pergi dari sampingnya untuk menghampiri bunga-bunga itu. Ia hanya tersenyum
tipis, kemudian menghampirinya.
“Hei…!” panggil anak laki-laki itu.
“Ada apa?” sahut gadis itu. Dan anak laki-laki itu…
“Ini untukmu”
Mengulurkan kotak yang ia bawa pada gadis itu….
“Angelica, Angie! Bangun!”
terdengar suara seseorang yang membangunkan Angelica sambil mengguncang-guncangkan
badannya.
“Nnngg~~ sebentar lagiii~~~” jawabnya merajuk.
“Sebentar lagi kita akan
mendarat, jadi cepat bangun!” perintah orang itu yang masih membangunkannya,
yaitu Johan.
Tapi Angelica tidak bergeming
juga. Akhirnya Johan memasang sabuk pengamannya dan Angelica sambil berpikir,
dan melakukan sesuatu atas idenya itu.
“Kalau tidak bangun juga,
kucium, nih” ucapnya pelan di telinganya.
“Bangun! Bangun! Aku bangun
sekaraang!!” teriak Angelica panik sambil memasang kuda-kuda perlindungan
dengan kedua tangannya.
“Segitu nggak maunya? Padahal
aku kan pacarmu” kata Johan pura-pura merajuk.
“Bu, bukan begitu!” jawab
Angelica segera dengan wajah merah padam. “Ha, habisnya aku belum siap mental,
nih!”
Johan terkejut, begitu juga
Angelica yang wajahnya semakin merah padam. Ia berteriak sambil menutupi wajah
dengan tasnya.
“Y, ya sudah. Duduklah dengan
benar” perintah Johan sambil memalingkan muka, karena wajahnya sendiri pun
berubah merah padam mendengar kalimatnya barusan.
Sementara, Angelica berusaha
mengganti suasana hatinya, dan bertanya-tanya dalam hati.
‘Mimpi itu berlanjut lagi...
sebenarnya apa maksudnya...?’
Bandara Internasional
Berlin-Schonefeld, adalah bandara internasional terbesar di Jerman. Angelica
dan Johan akhirnya tiba juga disini!
“Waaa!! Kereeenn!!!” teriak
Angelica melihat pemandangan kota Berlin yang terlihat santai, namun begitu
ramai meski ini adalah hari biasa. Banyak orang-orang sedang berbelanja, saling
mengobrol di cafe-cafe yang ada di sekitar situ, serta berjalan-jalan sambil menikmati
street food. Selain itu samar-samar terdengar suara musik klasik karya Chopin
yang ia kenal dari seluruh penjuru jalanan. Ia begitu bersemangat.
“Semangat, sih, boleh. Tapi
jangan lupa barang bawaanmu, dong” gerutu Johan yang kerepotan membawa empat
koper serta kedua tas jinjing sendirian.
“Uups! Maaf, maaf! Sini aku
bawa barangku sendiri” katanya memohon pada Johan. “Hei Johan! Disini ramai
sekali, ya! Berbeda sekali dengan di London, disini begitu tenang! Kereen!”
katanya lagi sambil berlari-lari seperti anak kecil. Mau tak mau, Johan
tersenyum melihatnya begitu bahagia.
“Hei, Johan! Kelihatannya apple
pie itu enaaak! Mampir sebentar yaaa!” mohon Angelica pada Johan dengan mata
berbinar, setelah beberapa saat mereka berjalan dan melewati sebuah cafe yang
dari jendelanya terpajang apple pie yang baru saja matang. Johan menelan ludah,
karena sebenarnya ia pun mulai menginginkannya.
“Boleh saja. Toh jemputan kita datang
setengah jam lagi. Masuklah untuk memesan. Kita duduk di luar saja. Oh, ya,
pesankan Vanilla Latte untukku, ya” jawab Johan sambil memberi instruksi.
“Baiklah. Aku titip tasku, ya”
jawab Angelica sambil meletakkan tasnya diatas meja yang akan mereka gunakan
dan masuk ke dalam cafe.
Cafe itu bergaya Jerman klasik.
Dengan chandelier kuno, dan beberapa ornamen serta souvenir-souvenir yang
terlihat berumur ratusan tahun. Suasana cafe yang tidak ramai itu sangat terasa
tentram.
“Waah, keren! Seharusnya kita
di dalam saja. Tapi... mungkin di luar juga nyaman” katanya bicara sendiri.
Setelah melihat-lihat isi cafe, Angelica berjalan ke kasir.
“Permisi, saya mau pesan untuk
meja di luar” katanya pada salah satu waiter yang sedang menjepit pesanan baru
diatas tali yang tergantung di depan jendela yang menghadap dapur.
“Ah, baik Nona. Apa pesanan Anda?”
tanya waiter itu sambil memegang notes kecil dan pensil. Kemudian terdengar
suara bel dari pintu, tanda tamu baru datang lagi.
“Hei, Master! Aku pesan seperti
biasa, ya!” teriak orang yang baru datang tersebut kepada waiter yang baru akan
mencatat pesanan Angelica.
“Baik, Tuan Muda!” jawab waiter
itu.
‘Eh, rasanya...’ tanya Angelica
dalam hati, keheranan. Ya, ia merasa sering mendengar suara itu. Kemudian ia
berbalik badan untuk memastikan siapa orangnya.
“Lho? Sandoras?” tanya orang
itu.
“Ha, Hans Miller!?” teriak
Angelica terkejut.
“Waah, tidak disangka bertemu
di Berlin, ya!” sapa Hans dengan ceria.
“Ka, kamu sendiri sedang apa
disini?” tanya Angelica yang masih shock karena terkejut.
“Aku? Aku sedang mengurus
pembukaan cabang toko permataku dekat sini. Oh, ya, cewek kan suka yang seperti
itu, ya. Kau mau mampir? Pembukaannya dua hari lagi!” jawab Hans sambil
mengajaknya.
“Eeh, boleh saja” jawab
Angelica malu-malu.
“Ooh. Oh, ya, kau ke Berlin
bersama siapa? Tidak mungkin sendirian, kan?” tanya Hans lagi beralih topik.
“Eeehh... itu...”
“Hans Miller?” tanya Johan, yang
hampir tersedak saat meminum kopinya saat mendengar nama yang tak asing itu.
“Yap! Jangan bilang, kakak
telah melupakanku, ya!” sapa Hans dengan nada ceria sekaligus agresif.
“Ooh, yang waktu itu mengajakmu
bolos dari kegiatan Dewan Siswa, ya, Angie?” tanya Johan pada Angelica, dengan
nada sinis.
“Ah, kau ingat, ya!?” jawab
Angelica terkejut.
“Ooh, jadi kalian beneran
pacaran, ya. Aku jadi sedikit kecewa, nih. Tapi... aku tidak akan kalah darimu,
lho, kak Sabrishion” tantang Hans sambil melirik tajam pada Johan.
“Heh!?” Angelica kembali
terkejut.
“.... heh, jangan bercanda kau,
Miller. Aku tahu bahwa kau tidak tulus dengan Angie hanya dari logatmu
menantangku, dan aku tidak takut” jawab Johan tenang.
“Johan!?” panggil Angelica yang
masih shock.
“Hahaha, kau percaya diri
sekali, ya, kak Sabrishion! Boleh juga!”
“Heeei, hentikaaan! Aku bukan
barang untuk diperebutkan!” teriak Angelica protes.
Tiba-tiba terdengar suara
klakson mobil dari jauh. Mereka pun beralih ke arah datangnya suara tersebut.
Dan disana terdapat sebuah limousine yang di depan pintunya terdapat seorang
maid.
“Kami sudah menunggu kalian,
Tuan Muda Johan dan Nona Angelica. selamat datang di Berlin” sapa maid itu
dengan ramah sambil mengibarkan roknya.
“Ooh, jadi kau maid yang akan
bekerja padaku selama empat hari ini?” tanya Johan.
“Benar. Namaku Helga, salam
kenal, Tuan Muda dan Nona” kata maid itu memperkenalkan diri sambil tersenyum
manis.
“Aku Alan, yang akan menjadi
supir pribadi kalian. Salam kenal” sapa supir itu sambil membungkukkan
badannya.
“Salam kenal, Helga dan Alan”
sapa Angelica yang sejak tadi memperhatikan mereka.
“Sudah ah, basa-basinya. Antar
kami ke hotel sekarang” perintah Johan segera pada Alan.
“He!? Sekarang!? Tapi, kuenya
masih...”
“Bungkus saja! Helga, minta
waiternya membungkus kuenya dan bayar pakai ini, sekarang!” perintahnya segera.
“Hooi, kita kan belum selesai
ngobrol!” panggil Hans mengingatkan mereka dengan panik.
“Ngobrolnya lain kali saja.
Lagipula, aku tidak berminat pada orang yang berniat merebut Angie dariku!”
balas Johan dengan sinis, sambil memeluk Angelica dari belakang.
“Yaah sayang banget. Padahal
sebenarnya, kita pernah menjalin hubungan yang dalam ya, Sandoras?”
DEG! Jantung Angelica berdebar
keras. Wajahnya berubah panik. Johan yang menyadari perubahan sikap Angelica,
tak segan menanyakan maksudnya pada Hans.
“Kurasa, Sandoras jauh lebih
bisa menjelaskannya daripada aku” jawab Hans pada Johan. Namun Johan semakin
geram, kemudian menarik nafas panjang.
“Ada apa antara kau dan Miller,
Angie?” tanya Johan, yang berusaha keras menahan amarahnya.
Angelica diam seribu bahasa. Ia
hanya memegangi lengan Johan yang masih menahannya dengan kedua tangannya yang
bergetar sambil menunduk. Johan pun diam menanti jawaban Angelica yang tak
kunjung datang. Namun...
“Kau jangan memaksanya bicara,
kak Sabrishion. Dia shock berat, tuh” Hans berusaha membuat Johan memahami
keadaannya.
“Cih! Aku mulai kesal dengan
situasi seperti ini” Johan memalingkan muka, ingin melepaskan diri dari
Angelica, tapi...
“Maafkan aku.... maafkan
aku.... maaf, Johan....” Angelica menahan lengan Johan kuat-kuat. Ia tak kuasa
melepaskannya.
“Sudah kubilang, kau jangan
memaksanya, kak Sabrishion! Kalau kau sampai memukulnya, biarkan Sandoras
menginap bersamaku!” teriak Hans yang berusaha menghentikan Johan yang hendak
memukul Angelica.
Johan segera menyadari
sikapnya, kemudian menepis lengan Hans dengan kasar. Mereka terdiam sesaat.
Kemudian Hans menghela nafas.
“Baiklah, begini saja” Hans
memberi ide. Kemudian mengeluarkan sesuatu dari small pocket yang tergantung di
celananya, yang ternyata adalah kartu undangan. “Besok malam ada pesta
pembukaan toko cabang permata keluargaku. Kalian datanglah berdua. Akan
kujelaskan situasi ini padamu” jelas Hans sambil memberikannya pada Johan.
“Jangan!” teriak Angelica
tiba-tiba. “Tidak boleh! Johan tidak...!”
“Aku benar-benar tidak boleh
tahu?”
“Bukan! Bukan begitu, aku...!”
Angelica menghentikan kalimatnya sendiri. Ia sadar bahwa tidak ada gunanya lagi
merahasiakan hal ‘itu’ darinya.
Johan menghela nafas lagi.
“Baiklah, aku akan datang. Kau juga, kan, Angie?”
Angelica hanya mengangguk
perlahan.
“Baiklah, sudah diputuskan!
Terima kasih traktirannya, kak Sabrishion!” Hans pamit dan berjalan ke arah
lain.
“Ayo pergi, Alan. Helga, kau
duduk di depan” perintah Johan sambil menunduk.
Alan dan Helga yang sejak tadi
tak bisa berbuat apa-apa menghadapi situasi mereka, hanya bisa menuruti kemauan
Johan karena tak bisa macam-macam. Meski sejak tadi mereka tak kuasa melihat
Angelica yang sudah beberapa kali berusaha menghentikan tangisnya sendiri. Dan
selama perjalanan ke hotel, mereka berempat duduk dalam bisu...
Saat mereka sampai di hotel,
hari sudah menjelang sore. Alan dan Helga sibuk menurunkan barang-barang
Angelica dan Johan yang menempati Executive Lounge hotel tersebut. Sementara
Johan sudah langsung membuka berkas pekerjaannya begitu sampai dan menemukan
tempat yang dirasa cocok baginya. Selama itu, Johan berbicara hanya saat
penentuan kamar dengan Angelica.
Melihat Johan seperti itu,
Angelica tak kuasa menahan tangisnya yang kemudian pecah saat ia memasuki
kamarnya sendiri.
‘Padahal ini liburan kami...
padahal ini hari-hari terpenting buat kami... kenapa jadi begini...’
TOK TOK! Terdengar suara seseorang
mengetuk pintu kamar Angelica.
“Angie, ganti bajumu. Kita
makan malam di luar”
Terdengar suara Johan memberi
instruksi. Angelica terkejut mendengarnya.
“Angie, kau di dalam, kan?
Cepatlah”
“Ta, tapi...”
“Nanti saja bicaranya! Ayo
cepat”
Suara langkah kaki Johan
terdengar menjauh. Angelica hanya diam, namun mau tak mau ia menuruti
instruksinya...
Menjelang malam, mereka berdua
berjalan dengan Angelica berada di belakang Johan. Mereka saling terdiam, namun
tentu saja ia bertanya-tanya dalam hati ke mana sebenarnya Johan ingin
membawanya.
“Tidak apa-apa kan, kita makan
malam disini?” tanya Johan tiba-tiba.
“Eh?” Angelica mengangkat
kepalanya yang sejak tadi tertunduk, dan terkejut.
“Waaaahh!! Kereeeeen!!”
teriaknya dengan mata terbelalak.
Ternyata, Johan mengajaknya ke
tempat di mana warung-warung tenda berjejer di sepanjang jalan. Berbeda dengan
tempat yang terdiri dari kafe dan restoran mewah yang mereka lihat saat baru
mendarat tadi. Tempat ini jelas jauh lebih sederhana, namun sangat ramai.
Terlihat banyak orang-orang yang baru saja pulang bekerja minum minuman keras
bersama-sama. Namun ada juga anak-anak seumuran mereka yang berkumpul bersama
teman-temannya. Ada juga pasangan seperti mereka yang saling bergandeng tangan
dan berbagi street food yang dibelinya.
“Kok, kau tahu tempat seperti
ini?” tanya Angelica dengan nada takjub.
“Russell menyuruhku kemari saat
tahu kita akan ke Berlin. Sejujurnya, meski sering ke luar negeri, ini juga
pertama kalinya aku ke sini. Makanya aku bersyukur bisa pergi bersamamu”
Angelica terbelalak dengan
pernyataan Johan. Apa itu berarti ia tidak marah? Pikirnya tidak mengerti.
“Ya sudah, tidak usah
dipikirkan soal yang tadi. Maaf, aku benar-benar kekanakan. Walau sebenarnya
aku memang masih kesal karena... kamu masih menyembunyikan sesuatu dariku...”
Johan menggaruk-garuk kepalanya.
Angelica tersenyum perlahan.
Dan air matanya keluar.
“Maafkan aku, Johan... tapi,
kau juga sama, kan...” Angelica menghapus air matanya sendiri sambil tertawa
kecil.
“Ya, kau benar. Aku juga masih
menyembunyikan sesuatu darimu. Karenanya... aku akan menunggu sampai kau siap
menceritakan semuanya... kau juga, bersediakah menungguku?” kata Johan sambil
balik bertanya. Ia menghapus airmata Angelica dan mengacungkan jari
kelingkingnya.
“Ya! Aku akan menunggu!” jawab
Angelica, sambil mengaitkan jari kelingkingnya pada Johan.
Dan akhirnya, mereka melewati
malam itu dengan makan bersama, melihat beberapa pertunjukan jalanan, menikmati
street food serta berjalan-jalan ke beberapa tempat bersejarah serta berfoto
bersama. Baik Johan maupun Angelica sama-sama sudah melupakan apa yang terjadi
diantara mereka barusan. Meski tentu saja di hati Angelica, ia harus siap
menerima situasi bahwa, Johan akan mengetahui ‘keadaan’ yang sebenarnya hanya
dalam beberapa jam lagi...
Sementara itu di tempat lain.
“Kau baru kembali, Hans?
Darimana saja?” tanya seseorang.
“Dari toko, sekalian mampir ke
suatu tempat” jawab Hans dengan nada nyeleneh.
“Jangan terlalu capek. Besok
akan ada pesta besar menyambut pembukaan toko dan untukmu juga, lho”
nasehatnya.
“Tidak usah khawatir. Oh,
ya...” Hans memperbaiki cara berdirinya. “Dia akan datang besok”
Orang itu bingung. “Siapa
maksudmu?”
Hans tersenyum tipis. “Kurasa
kau mengerti. Dia ada di Berlin”
Orang itu terkejut, sama sekali
tidak menyangka. Kemudian wajah terkejut itu berubah menjadi senyuman bahagia.
“Benarkah...!?”
Hans hanya melirik orang itu
tajam tanpa menoleh, kemudian berjalan lagi menaiki tangga tanpa memberi
tanggapan.
Sementara orang itu tersenyum
tipis. Kemudian menggumam sendiri dengan nada sangat menanti.
“Semoga besok, acaranya
menyenangkan, ya...”
Dua jempol dehhh cerita'a keren bgt...
BalasHapus