Kamis, 11 Februari 2016

Wings of Melodies ~ Memories Edition - Chapter 11



“M
engambil alih aset keluarga Sandoras!? Apa maksudmu!?” tanya Johan meyakinkan.
Ia dan Angelica tidak yakin dengan apa yang barusan mereka dengar. Hans yang berbalik badan melihat laut, tak terlihat seperti apa ekspresinya saat ini.
“Kak Sabrishion, sebagai pewaris perusahaan perminyakan terbesar di Inggris, kau seharusnya lebih memahaminya, kan?” kata Hans balik bertanya.
“Tapi itu tidak masuk akal! Bagaimana bisa keluarga lain mengincar kekayaan keluarga
Sandoras jika mereka tidak punya hubungan apapun!? Dan lagi, dengan cara membunuh seorang pewaris!? Apa yang mereka harapkan!?” teriak Johan kesal.
Hans diam sesaat, menundukkan kepalanya. Johan masih merasa dibakar amarah. Mereka berpikir dengan cara mereka masing-masing.
“Bukankah itu sudah jelas? Pamanku tetap punya bukti bersalah”
Angelica menggumam dan itu membuat Hans maupun Johan terkejut sekilas.
“Kau masih yakin atas hal itu?” tanya Hans. Angelica mengangguk.
“Hal itu tidaklah aneh. Untuk apa Ayahku mencari Pamanku yang ‘gagal’ sampai berniat menyita harta perusahaan? Lagipula, keluargaku tidak punya keluarga cabang seperti keluarga kalian. Ayahku membangun usaha ini dari nol tanpa bantuan siapapun. Siapa lagi yang bisa kucurigai?” jelas Angelica.
Johan dan Hans kembali berpikir masing-masing. Teka-teki ini masih begitu aneh bagi mereka semua.
“Masuk akal” jawab Johan dengan masih berpikir keras.
“Pertanyaanku sekarang, apa Pamanmu yang diduga sebagai provokator itu sudah berkeluarga?” tanya Hans serius.
“... belum. Saat pergi dari rumahku pun... ia belum menikah, tapi...” jawab Angelica sambil melirik ke arah lain dan berpikir.
“Kalau begitu, lebih masuk akal kalau keluarga lain yang mengincar!” seru Hans memberi hipotesis.
“Jika memang begitu, apa kau benar-benar yakin yang mengincar adalah ‘keluarga’, bukan ‘individu’??” tanya Johan.
“So, soal itu...” Hans menggaruk-garuk pipi dengan jari telunjuknya.
“Yang penting sekarang kita tahu bahwa, ada yang mengincar harta keluarga Sandoras dengan cara ingin membunuh si pewaris, yaitu Angie. Karena itu Anthony Sandoras meminta Ethan untuk ‘membangkrutkan’ perusahaannya demi melindunginya dari pembunuhan itu” jelas Johan yang berusaha menghubungkan apa yang telah terjadi.
Hans mengangguk. “Dan ini sebenarnya yang dirahasiakan Ethan darimu, Sandoras” lanjutnya.
“Ayahku... sampai melakukan itu demi aku...?” gumam Angelica pelan.
“Tapi, dari semua ini tetap menimbulkan dua pertanyaan” kata Johan memberi kesimpulan.
“Pertanyaan?” tanya Hans dan Angelica bersamaan.
“Ya. Pertama, kenapa Angelica dan Ibunya masih tetap dikejar oleh gangster? Meski perusahaan yang berhutang itu wajar, namun bukankah seharusnya mereka menagih pada orang yang membeli obligasi perusahaannya?”
“Benar juga. Itu tetap aneh!” seru Hans yang langsung menangkap maksud Johan.
“Kedua, jika memang Anthony Sandoras dan Ethan Miller melakukan proses pembangkrutan ini untuk melindungi Angie, berarti mereka berdua tahu siapa pelakunya, kan??” lanjut Johan.
Hans dan Angelica saling bertatapan, terkejut. Angelica berpikir keras, namun tak bisa menemukan jawaban yang pasti.
“Aku hanya bisa berpikir, ini semua benar-benar dilakukan Pamanku”
“Ayolah, Angie. Kau harus berpikir terbuka! Pamanmu memang ‘orang terduga’, tapi kita tetap harus memikirkan semua kemungkinan yang terjadi, kan?” jelas Johan berusaha membuka mata Angelica.
Namun entah bagaimana, Angelica tetap merasa tidak bisa menerima semua hipotesis Johan. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri apa yang terjadi, apa yang dikatakan oleh para gangster yang telah mengubah hidupnya sejak saat itu. Ia hanya memasang wajah sedih karena bingung dan tidak mengerti. Ia benar-benar tidak tahu apa yang terjadi pada usaha Ayahnya sekalipun ia pewaris, karena beliau hanya ingin Angelica benar-benar serius belajar saat ini, selama ini. Hingga akhirnya, ia hanya bisa menggeleng.
“Sulit diterima, memang. Tapi sebaiknya kau tidak perlu memikirkannya sekarang” Hans berusaha memberi pendapat dan mencairkan suasana. Angelica mengangguk tanda setuju.
Melihatnya, Johan hanya bisa menyerah. Ia hanya bisa berpikir bahwa ia tak boleh memaksanya berpikir keras. Ia sudah shock dengan kehadiran Ethan hari ini dan tak ingin membuatnya drop kembali.
“Angie, kau mau pulang?” tanya Johan setelah berpikir sesaat.
“Ya” jawab Angelica singkat.
“Baiklah, aku akan menelepon Alan. Dia pasti sudah pulang karena berpikir kita bakal lama disini. Kau makan saja dulu di dalam” kata Johan memberi saran.
Angelica mengangguk.
“Hans, tolong jaga Angie sebentar” pinta Johan pada Hans.
“Ya...”

Angelica dan Hans kembali ke dalam. Pesta itu sangat meriah, para tamu berdansa waltz dengan lincah. Ada juga diantara mereka yang mengobrol dengan anggota Miller. Dari kejauhan, Ethan terlihat sedang berkumpul dengan beberapa wanita yang ingin berdansa dengannya, namun ia menolaknya dengan halus dan kembali ke balkon. Sepertinya ia masih mencari-cari Angelica, namun karena mereka melihat dari kejauhan dan Angelica langsung bersembunyi di balik punggung Hans saat melihatnya, mereka tidak ketahuan. Dan Ethan pun berlalu.
“Terima kasih, Miller...” ucap Angelica.
“Kita teman sekelas. Panggil saja Hans” katanya memberi saran.
“Baiklah, Hans...” panggilnya dengan pipi merona.
“Nah, begitu lebih baik” balasnya sambil tersenyum.
Mereka berdua kembali melihat ke arah lantai dansa. Musik dan jenis dansanya telah berganti menjadi dansa tango. Angelica meminum cherry soda yang disediakan di meja minuman dekat tempatnya berdiri sambil memakan mini pie yang juga tersedia disitu. Sementara Hans meminum cocktail, mengikuti pandangannya.
“Begini, Hans” Angelica membuka percakapan.
“Hmm?” sahut Hans sambil melihat ke arahnya.
“Aku minta maaf, sudah menjauhimu selama ini”
Angelica menundukkan kepala dalam-dalam. Hans sedikit terkejut, kemudian tersenyum.
“Tidak apa-apa, aku mengerti, kok. Yaah... meski sebenarnya, aku tidak ada hubungannya dengan apa yang terjadi antara kau dan Tuan Muda Ethan, tapi tetap saja rasanya kesal” Hans pura-pura mengeluh.
“Huuh, makanya aku minta maaf!” Angelica pura-pura merajuk.
“Iya, iya, wakil ketua”
Mereka saling bertatapan, kemudian tertawa lepas.
“Aku juga, ingin memberitahu satu hal padamu, Sandoras”
“Angelica saja. Untuk apa...?”
“Yaah” Hans memperbaiki cara berdirinya. “Sebelum aku tahu kau dan kak Sabrishion berpacaran, aku berniat mendekatimu. Bukan sebagai Miller, tapi sebagai laki-laki”
“Maksudmu?” tanyanya tidak mengerti.
Hans menyipitkan matanya. Ia meletakkan gelas cocktailnya dan menatap mata Angelica secara langsung.
“Angelica Steva Fiammatta Sandoras, aku menyukaimu”
Lagu untuk dansa kembali berubah menjadi lagu dengan tempo lambat. Lampu-lampu sorot berubah menjadi lebih redup karena menggunakan cahaya biru dongker. Dansa kembali berubah menjadi dansa biasa. Angelica masih terkejut dengan pernyataan Hans hingga tak bisa berkata apapun. Berkat lagu itu, tak ada tamu yang menyadari pernyataan Hans barusan.
“Memang benar, semua berawal dari permintaan keluarga Miller agar aku diam-diam mengawasimu sebagai tunangan Tuan Muda Ethan”
“Mengawasiku?” tanya Angelica. Hans mengangguk.
“Aku selalu melihatmu selama ini. Sampai sekarang, bahkan aku tidak tahu apa yang membuatku menyukaimu. Saat aku bilang pada Harry bahwa aku menyukaimu dan ingin mendekatimu pun, itu semua sebenarnya demi misi dan tak ada perasaan apapun. Walau aku tahu kau tak ingin dekat denganku karena aku seorang Miller” jelas Hans.
“Hans...” panggil Angelica pelan.
“Tapi entah kenapa, aku malah senang menjalaninya. Sekalipun kau menolak, aku merasa tak ingin menyerah. Bukan karena perintah Tuan Muda Ethan, tapi karena keinginanku sendiri. Melihatmu selama ini, aku paham satu hal kenapa mereka, Tuan Muda Ethan dan kak Sabrishion, menyukaimu. Kau adalah wanita yang menarik, Angelica. Mungkin karena itulah mereka berdua ingin mendukungmu” lanjut Hans panjang lebar.
Angelica terkejut mendengar kalimat terakhir Hans. Ia tak menyangka Hans akan berkata seperti itu. Ia tak pernah menyadari bahwa tatapan mata Hans padanya selama ini berbeda dari apa yang ia artikan sendiri. Ia tersenyum lega. Dan mulai mengerti daya tariknya sendiri yang selama ini tak pernah disadarinya.
“Terima kasih, Hans” gumam Angelica.
“Hmm?” Hans menyahut.
“Kau sudah mengawasiku selama ini sekalipun aku menolak keberadaanmu. Meski kau melakukannya karena keinginan Ethan, aku senang mendengarnya. Tapi...” Angelica menghentikan kalimatnya. wajahnya berubah sedih. Namun...
“Aku tak butuh jawabannya, kok” kata Hans kemudian. “Lagipula aku tak akan menang melawan kak Sabrishion, walau bukan berarti aku menyerah. Aku hanya ingin menyampaikan perasaanku saja” lanjutnya.
“Hans...”
“Mulai sekarang, kau tidak akan menolak keberadaanku lagi, kan, Angelica?” tanya Hans dengan santai.
Angelica menatap Hans dengan mata berkaca-kaca. Ia memang menyesal atas apa yang telah ia lakukan pada orang tak bersalah sepertinya. Dan mulai sekarang, ia harus merubah sikap itu dan berpikir terbuka.
“Ya. Mulai sekarang, mohon bantuannya, ya, Hans!” katanya sambil tersenyum bahagia.
“Yap. Mohon bantuannya, wakil ketua kelas!” balas Hans. Mereka saling bertatapan, dan tertawa lagi...

Angelica dan Johan sudah tiba di hotel. Setelah obrolan tadi, Johan datang dan memberi tahu bahwa Alan sudah tiba di lokasi pesta untuk menjemput mereka. Kini mereka sedang bersiap-siap tidur. Helga sedang membantu Angelica merapikan rambutnya yang berubah menjadi bob karena efek negatif hair spray yang dipakainya, sambil melihat dan memainkan HP-nya dan bersenandung dengan senang.
“Setelah apa yang terjadi, sekarang kau bersenandung dengan senang?” kata Johan sambil melihat dan mengetik sesuatu di laptopnya.
“Yaahh... sejujurnya, perasaanku campur aduk hari ini” katanya sambil meneguk hot chocolate yang diambilnya dari meja, yang baru dibuatkan oleh Helga.
Johan kaget sekilas, kemudian tersenyum. Ia menatap Angelica dengan dalam. Helga yang menyadari posisi itu langsung menarik diri setelah selesai merapikan rambut Angelica.
“Ada apa, Johan?”
“Tidak...” Johan kembali beralih ke laptopnya. “Kupikir, hari ini kau bakal menangis semalaman, jadi...”
“Aku baik-baik saja, kok...” jawab Angelica pelan. “Aku memang sangat kaget saat Ethan muncul, bahkan sampai pingsan. Tapi... entah kenapa hal itu tidak menggangguku lagi... aku justru merasa bersalah pada Hans...”
“Kenapa begitu?” tanyanya tidak mengerti.
“Selama ini aku menjauhinya karena dia seorang Miller, padahal dia tidak salah apa-apa... dan aku tidak mengerti, apa yang membuatnya menyukaiku...” jawabnya sambil menyandarkan punggungnya di kursi yang didudukinya.
Johan kaget. “Hans Miller itu menyukaimu!? Tadi dia menyatakan perasaannya padamu!?”
Angelica mengangguk. “Ta, tapi aku menolaknya, kok! Le, lebih tepatnya ia berusaha untuk tahu diri...”
Johan menggertakkan giginya. Kemudian menaruh dirinya kembali di kursi dengan kasar dan memangku dagunya. “Sial, kenapa sainganku harus Miller, sih!?” gerutunya kemudian.
“Sudahlah, sudah. Meski Ethan belum menyerah, tapi Hans tidak punya maksud lain untuk menyampaikan perasaannya padaku, kan...” Angelica menenangkan Johan.
“Iya, sih...” rajuk Johan. Ia menghela nafas panjang, dan kembali ke laptopnya.
Angelica duduk seperti tadi, sambil memegang dan menatap cangkir hot chocolate-nya. Mereka terdiam dalam posisi itu selama lima menit.
“Eeeh, Tuan Muda dan Nona, boleh aku izin pulang?” Helga minta izin dan itu memecah kegiatan dan lamunan mereka.
“Ah, eeeh... baiklah. Oh, ya. Ini, kunci pintu masuk ke sini. Kau harus datang lebih pagi dan menyiapkan sarapan untuk kami besok. Bersama suamimu juga” perintah Johan.
“Baik, Tuan Muda” jawab Helga sambil memberi hormat.
“Su, suami?” tanya Angelica bingung.
“Lho, kamu tidak tahu? Helga dan Alan itu suami istri. Aku sudah menyuruh mereka tinggal disini selama kita disini, tapi Alan menolak” keluh Johan.
“Haha, begitulah, Nona” jawab Helga meyakinkan.
“Hee, kukira kalian adik kakak. Soalnya kalian berdua agak mirip! Terutama warna mata kalian!” puji Angelica dengan mata berbinar.
“Aku menghargai pujianmu, Nona. Tapi kami memang sudah menikah” jawab Helga sambil tertawa kecil.
“Baiklah. Sampai besok, ya. Hati-hati karena ini sudah malam”
“Baik, Nona. Saya permisi” Helga memberi hormat lagi dan keluar dari hotel.
Kini mereka tinggal berdua. Angelica dan Johan berdiri sebelahan sambil menatap pintu keluar. Kemudian mereka saling bertatapan. Sadar, mereka langsung memalingkan muka dengan cepat, dengan wajah merah padam.
“Ki, kita tidur sekarang?” tanya Johan gugup.
“I, iya...” begitu juga Angelica.
“Ka, kalau begitu aku ke kamarku sekarang. Se, selamat tidur...” Johan memberi salam, sambil berlalu membawa laptopnya.
“Se, selamat tidur...” balas Angelica.
Johan menutup pintu kamarnya. Angelica langsung terduduk lemas.
‘Benar juga... kami tinggal berdua disini... meski sudah dua hari, tetap saja rasanya...’
“Maluuuu~~” teriaknya pelan.
Angelica langsung melipat kakinya dan menyembunyikan wajah di sela pahanya. Sementara Johan di balik pintu juga sama malunya. Ia terduduk di depan pintu dan melakukan hal yang sama dengannya.....

“Kenapa kau tidak menghubungiku kalau kau menemukan Angelica!?”
Di kapal pesiar tempat diselenggarakannya pesta keluarga Miller, Ethan protes pada Hans yang sedang beranjak kembali ke kamarnya karena lelah. Ethan menatapnya tajam dan penuh kemarahan, namun Hans berusaha menanggapinya dengan santai.
“Dia tidak ingin bertemu denganmu, karena ia sudah tidak lagi menganggapmu sebagai tunangannya”
“Itu bukan urusanmu! Tugasmu hanya mengawasi Angelica dan membawanya padaku! Kenapa kau malah berpihak pada Harcourt!?” Ethan begitu kesal dan emosi.
“Aku tidak berpihak padamu ataupun kak Sabrishion. Aku hanya berpihak pada teman sekelasku, Angelica” jawab Hans sambil berjalan lagi.
“Kau...! sebenarnya apa maumu...!?” teriak Ethan, hingga suaranya menggema di seluruh ruangan.
“Aku? Aku hanya ingin kau sadar pada dirimu sendiri, Tuan Muda Ethan” Hans menghentikan langkahnya.
“Apa maksudmu!?” tanya Ethan merendahkan suaranya.
“Aku ingin kau sadar bahwa, kau yang sudah meninggalkan Angelica tanpa pesan apapun, serta takkan minta maaf padanya atas apa yang terjadi, apa masih berhak untuk menahannya denganmu?”
Ethan terkejut mendengar pertanyaannya. Ia diam seribu bahasa. Sementara Hans membiarkan pertanyaan itu tak terjawab dengan beranjak dari situ.
“Kau sudah tahu apa yang terjadi sebenarnya, kan?”
Pertanyaan Ethan itu membuat Hans gantian terkejut dan berbalik. Ia berusaha menanggapinya dengan suara merendah.
“Walau aku tahu, aku tidak tahu siapa pelaku sebenarnya. Kau yang paling tahu, bukan?” jawab Hans.
Ethan kembali diam, menundukkan kepala. Hans hanya menatapnya dengan tajam. Sejujurnya meski mereka sepupu jauh, namun hubungan mereka jauh dari kata akur. Lebih tepatnya, Hans sudah lama membenci Ethan yang terkadang tidak tahu diri. Hal itu jelas terlihat dari apa yang ia lakukan pada Angelica. Ia mematuhi Ethan karena terpaksa, dan tak lebih sebagai perintah yang diberikan keluarga utama untuk salah satu keluarga cabang sepertinya.
“Ya, aku tahu. Namun takkan kuberitahu padamu. Ini demi Angelica sendiri” pinta Ethan dengan jantan.
Hans tak bereaksi apa-apa, selain berbalik dan berjalan kembali ke kamarnya. Karena ia harus sadar diri, siapa dia disini...
“Terserah kau saja...”
Keesokan harinya.
“Pagiii~ huaaahhmm~~”
Angelica baru keluar dari kamarnya dan menguap lebar dengan mata masih tertutup.
“Pagi, Angie. Tepat waktu” sapa Russell yang sedang membuka tabletnya sambil minum teh di bangku panjang yang ada di ruang tamu. Ia sudah rapi mengenakan setelan kemeja, dasi dan celana bahan serta pantofel hitam favoritnya.
“Hee~ kenapa? Kok serius begitu? Kau sudah rapi? Hoaaahhhmm~~” tanya Angelica sambil menguap lagi. Ia masih belum bisa membaca situasi karena baru bangun.
“Tidak pantas cewek menguap seperti itu, tahu!” Johan mencubit kedua pipi Angelica dengan gemas, dan ia mengaduh dengan nada orang mengantuk. Johan tertawa.
“Dasar. Angie, segera rapikan barang-barangmu. Sore ini kita ke Indonesia” perintah Johan kemudian.
“Hee!? Bukankah harusnya besok!? Aku belum beli oleh-oleh!” protes Angelica.
“Urusanku selesai lebih cepat sehari dan aku tidak mau menunda-nunda. Nanti Natal keburu tiba, tahu” Johan menjelaskan alasannya.
“Heee, Natal masih tiga minggu lagi, kaaan~?”
“Hei, kita bakal lama di Indonesia! Seminggu sebelumnya kita ke Jepang, dan kita janji dengan para anggota Dewan Siswa dan teman-temanmu untuk merayakan natal di London, kan!?” Johan mengingatkan. “Pokoknya, semua harus beres saat aku kembali dari kantor nanti. Daah, Angie”
Johan buru-buru mengenakan jas, mengambil tas dan menaruh tabletnya di dalam, dan beranjak dari situ...
“Hieeee!?”

0 comment:

Posting Komentar

 

Diana Rachmawati Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template