|
“M
|
engambil alih aset keluarga
Sandoras!? Apa maksudmu!?” tanya Johan meyakinkan.
Ia dan Angelica tidak yakin
dengan apa yang barusan mereka dengar. Hans yang berbalik badan melihat laut,
tak terlihat seperti apa ekspresinya saat ini.
“Kak Sabrishion, sebagai
pewaris perusahaan perminyakan terbesar di Inggris, kau seharusnya lebih
memahaminya, kan?” kata Hans balik bertanya.
“Tapi itu tidak masuk akal!
Bagaimana bisa keluarga lain mengincar kekayaan keluarga
Sandoras jika mereka
tidak punya hubungan apapun!? Dan lagi, dengan cara membunuh seorang pewaris!?
Apa yang mereka harapkan!?” teriak Johan kesal.
Hans diam sesaat, menundukkan
kepalanya. Johan masih merasa dibakar amarah. Mereka berpikir dengan cara
mereka masing-masing.
“Bukankah itu sudah jelas?
Pamanku tetap punya bukti bersalah”
Angelica menggumam dan itu
membuat Hans maupun Johan terkejut sekilas.
“Kau masih yakin atas hal itu?”
tanya Hans. Angelica mengangguk.
“Hal itu tidaklah aneh. Untuk
apa Ayahku mencari Pamanku yang ‘gagal’ sampai berniat menyita harta
perusahaan? Lagipula, keluargaku tidak punya keluarga cabang seperti keluarga
kalian. Ayahku membangun usaha ini dari nol tanpa bantuan siapapun. Siapa lagi
yang bisa kucurigai?” jelas Angelica.
Johan dan Hans kembali berpikir
masing-masing. Teka-teki ini masih begitu aneh bagi mereka semua.
“Masuk akal” jawab Johan dengan
masih berpikir keras.
“Pertanyaanku sekarang, apa
Pamanmu yang diduga sebagai provokator itu sudah berkeluarga?” tanya Hans
serius.
“... belum. Saat pergi dari
rumahku pun... ia belum menikah, tapi...” jawab Angelica sambil melirik ke arah
lain dan berpikir.
“Kalau begitu, lebih masuk akal
kalau keluarga lain yang mengincar!” seru Hans memberi hipotesis.
“Jika memang begitu, apa kau
benar-benar yakin yang mengincar adalah ‘keluarga’, bukan ‘individu’??” tanya
Johan.
“So, soal itu...” Hans
menggaruk-garuk pipi dengan jari telunjuknya.
“Yang penting sekarang kita
tahu bahwa, ada yang mengincar harta keluarga Sandoras dengan cara ingin
membunuh si pewaris, yaitu Angie. Karena itu Anthony Sandoras meminta Ethan
untuk ‘membangkrutkan’ perusahaannya demi melindunginya dari pembunuhan itu”
jelas Johan yang berusaha menghubungkan apa yang telah terjadi.
Hans mengangguk. “Dan ini
sebenarnya yang dirahasiakan Ethan darimu, Sandoras” lanjutnya.
“Ayahku... sampai melakukan itu
demi aku...?” gumam Angelica pelan.
“Tapi, dari semua ini tetap
menimbulkan dua pertanyaan” kata Johan memberi kesimpulan.
“Pertanyaan?” tanya Hans dan
Angelica bersamaan.
“Ya. Pertama, kenapa Angelica
dan Ibunya masih tetap dikejar oleh gangster? Meski perusahaan yang berhutang
itu wajar, namun bukankah seharusnya mereka menagih pada orang yang membeli
obligasi perusahaannya?”
“Benar juga. Itu tetap aneh!”
seru Hans yang langsung menangkap maksud Johan.
“Kedua, jika memang Anthony
Sandoras dan Ethan Miller melakukan proses pembangkrutan ini untuk melindungi
Angie, berarti mereka berdua tahu siapa pelakunya, kan??” lanjut Johan.
Hans dan Angelica saling
bertatapan, terkejut. Angelica berpikir keras, namun tak bisa menemukan jawaban
yang pasti.
“Aku hanya bisa berpikir, ini
semua benar-benar dilakukan Pamanku”
“Ayolah, Angie. Kau harus
berpikir terbuka! Pamanmu memang ‘orang terduga’, tapi kita tetap harus
memikirkan semua kemungkinan yang terjadi, kan?” jelas Johan berusaha membuka
mata Angelica.
Namun entah bagaimana, Angelica
tetap merasa tidak bisa menerima semua hipotesis Johan. Ia melihat dengan mata
kepalanya sendiri apa yang terjadi, apa yang dikatakan oleh para gangster yang
telah mengubah hidupnya sejak saat itu. Ia hanya memasang wajah sedih karena
bingung dan tidak mengerti. Ia benar-benar tidak tahu apa yang terjadi pada
usaha Ayahnya sekalipun ia pewaris, karena beliau hanya ingin Angelica
benar-benar serius belajar saat ini, selama ini. Hingga akhirnya, ia hanya bisa
menggeleng.
“Sulit diterima, memang. Tapi
sebaiknya kau tidak perlu memikirkannya sekarang” Hans berusaha memberi
pendapat dan mencairkan suasana. Angelica mengangguk tanda setuju.
Melihatnya, Johan hanya bisa
menyerah. Ia hanya bisa berpikir bahwa ia tak boleh memaksanya berpikir keras.
Ia sudah shock dengan kehadiran Ethan hari ini dan tak ingin membuatnya drop
kembali.
“Angie, kau mau pulang?” tanya
Johan setelah berpikir sesaat.
“Ya” jawab Angelica singkat.
“Baiklah, aku akan menelepon
Alan. Dia pasti sudah pulang karena berpikir kita bakal lama disini. Kau makan
saja dulu di dalam” kata Johan memberi saran.
Angelica mengangguk.
“Hans, tolong jaga Angie
sebentar” pinta Johan pada Hans.
“Ya...”
Angelica dan Hans kembali ke
dalam. Pesta itu sangat meriah, para tamu berdansa waltz dengan lincah. Ada
juga diantara mereka yang mengobrol dengan anggota Miller. Dari kejauhan, Ethan
terlihat sedang berkumpul dengan beberapa wanita yang ingin berdansa dengannya,
namun ia menolaknya dengan halus dan kembali ke balkon. Sepertinya ia masih
mencari-cari Angelica, namun karena mereka melihat dari kejauhan dan Angelica
langsung bersembunyi di balik punggung Hans saat melihatnya, mereka tidak
ketahuan. Dan Ethan pun berlalu.
“Terima kasih, Miller...” ucap
Angelica.
“Kita teman sekelas. Panggil
saja Hans” katanya memberi saran.
“Baiklah, Hans...” panggilnya
dengan pipi merona.
“Nah, begitu lebih baik”
balasnya sambil tersenyum.
Mereka berdua kembali melihat
ke arah lantai dansa. Musik dan jenis dansanya telah berganti menjadi dansa tango.
Angelica meminum cherry soda yang disediakan di meja minuman dekat tempatnya
berdiri sambil memakan mini pie yang juga tersedia disitu. Sementara Hans
meminum cocktail, mengikuti pandangannya.
“Begini, Hans” Angelica membuka
percakapan.
“Hmm?” sahut Hans sambil
melihat ke arahnya.
“Aku minta maaf, sudah
menjauhimu selama ini”
Angelica menundukkan kepala
dalam-dalam. Hans sedikit terkejut, kemudian tersenyum.
“Tidak apa-apa, aku mengerti,
kok. Yaah... meski sebenarnya, aku tidak ada hubungannya dengan apa yang
terjadi antara kau dan Tuan Muda Ethan, tapi tetap saja rasanya kesal” Hans
pura-pura mengeluh.
“Huuh, makanya aku minta maaf!”
Angelica pura-pura merajuk.
“Iya, iya, wakil ketua”
Mereka saling bertatapan,
kemudian tertawa lepas.
“Aku juga, ingin memberitahu
satu hal padamu, Sandoras”
“Angelica saja. Untuk apa...?”
“Yaah” Hans memperbaiki cara
berdirinya. “Sebelum aku tahu kau dan kak Sabrishion berpacaran, aku berniat
mendekatimu. Bukan sebagai Miller, tapi sebagai laki-laki”
“Maksudmu?” tanyanya tidak
mengerti.
Hans menyipitkan matanya. Ia
meletakkan gelas cocktailnya dan menatap mata Angelica secara langsung.
“Angelica Steva Fiammatta
Sandoras, aku menyukaimu”
Lagu untuk dansa kembali
berubah menjadi lagu dengan tempo lambat. Lampu-lampu sorot berubah menjadi
lebih redup karena menggunakan cahaya biru dongker. Dansa kembali berubah
menjadi dansa biasa. Angelica masih terkejut dengan pernyataan Hans hingga tak
bisa berkata apapun. Berkat lagu itu, tak ada tamu yang menyadari pernyataan
Hans barusan.
“Memang benar, semua berawal
dari permintaan keluarga Miller agar aku diam-diam mengawasimu sebagai tunangan
Tuan Muda Ethan”
“Mengawasiku?” tanya Angelica.
Hans mengangguk.
“Aku selalu melihatmu selama
ini. Sampai sekarang, bahkan aku tidak tahu apa yang membuatku menyukaimu. Saat
aku bilang pada Harry bahwa aku menyukaimu dan ingin mendekatimu pun, itu semua
sebenarnya demi misi dan tak ada perasaan apapun. Walau aku tahu kau tak ingin
dekat denganku karena aku seorang Miller” jelas Hans.
“Hans...” panggil Angelica
pelan.
“Tapi entah kenapa, aku malah
senang menjalaninya. Sekalipun kau menolak, aku merasa tak ingin menyerah.
Bukan karena perintah Tuan Muda Ethan, tapi karena keinginanku sendiri.
Melihatmu selama ini, aku paham satu hal kenapa mereka, Tuan Muda Ethan dan kak
Sabrishion, menyukaimu. Kau adalah wanita yang menarik, Angelica. Mungkin
karena itulah mereka berdua ingin mendukungmu” lanjut Hans panjang lebar.
Angelica terkejut mendengar
kalimat terakhir Hans. Ia tak menyangka Hans akan berkata seperti itu. Ia tak
pernah menyadari bahwa tatapan mata Hans padanya selama ini berbeda dari apa
yang ia artikan sendiri. Ia tersenyum lega. Dan mulai mengerti daya tariknya
sendiri yang selama ini tak pernah disadarinya.
“Terima kasih, Hans” gumam
Angelica.
“Hmm?” Hans menyahut.
“Kau sudah mengawasiku selama
ini sekalipun aku menolak keberadaanmu. Meski kau melakukannya karena keinginan
Ethan, aku senang mendengarnya. Tapi...” Angelica menghentikan kalimatnya.
wajahnya berubah sedih. Namun...
“Aku tak butuh jawabannya, kok”
kata Hans kemudian. “Lagipula aku tak akan menang melawan kak Sabrishion, walau
bukan berarti aku menyerah. Aku hanya ingin menyampaikan perasaanku saja”
lanjutnya.
“Hans...”
“Mulai sekarang, kau tidak akan
menolak keberadaanku lagi, kan, Angelica?” tanya Hans dengan santai.
Angelica menatap Hans dengan
mata berkaca-kaca. Ia memang menyesal atas apa yang telah ia lakukan pada orang
tak bersalah sepertinya. Dan mulai sekarang, ia harus merubah sikap itu dan
berpikir terbuka.
“Ya. Mulai sekarang, mohon
bantuannya, ya, Hans!” katanya sambil tersenyum bahagia.
“Yap. Mohon bantuannya, wakil
ketua kelas!” balas Hans. Mereka saling bertatapan, dan tertawa lagi...
Angelica dan Johan sudah tiba
di hotel. Setelah obrolan tadi, Johan datang dan memberi tahu bahwa Alan sudah
tiba di lokasi pesta untuk menjemput mereka. Kini mereka sedang bersiap-siap
tidur. Helga sedang membantu Angelica merapikan rambutnya yang berubah menjadi
bob karena efek negatif hair spray yang dipakainya, sambil melihat dan
memainkan HP-nya dan bersenandung dengan senang.
“Setelah apa yang terjadi,
sekarang kau bersenandung dengan senang?” kata Johan sambil melihat dan
mengetik sesuatu di laptopnya.
“Yaahh... sejujurnya,
perasaanku campur aduk hari ini” katanya sambil meneguk hot chocolate yang
diambilnya dari meja, yang baru dibuatkan oleh Helga.
Johan kaget sekilas, kemudian
tersenyum. Ia menatap Angelica dengan dalam. Helga yang menyadari posisi itu
langsung menarik diri setelah selesai merapikan rambut Angelica.
“Ada apa, Johan?”
“Tidak...” Johan kembali
beralih ke laptopnya. “Kupikir, hari ini kau bakal menangis semalaman, jadi...”
“Aku baik-baik saja, kok...”
jawab Angelica pelan. “Aku memang sangat kaget saat Ethan muncul, bahkan sampai
pingsan. Tapi... entah kenapa hal itu tidak menggangguku lagi... aku justru
merasa bersalah pada Hans...”
“Kenapa begitu?” tanyanya tidak
mengerti.
“Selama ini aku menjauhinya
karena dia seorang Miller, padahal dia tidak salah apa-apa... dan aku tidak
mengerti, apa yang membuatnya menyukaiku...” jawabnya sambil menyandarkan
punggungnya di kursi yang didudukinya.
Johan kaget. “Hans Miller itu
menyukaimu!? Tadi dia menyatakan perasaannya padamu!?”
Angelica mengangguk. “Ta, tapi
aku menolaknya, kok! Le, lebih tepatnya ia berusaha untuk tahu diri...”
Johan menggertakkan giginya.
Kemudian menaruh dirinya kembali di kursi dengan kasar dan memangku dagunya.
“Sial, kenapa sainganku harus Miller, sih!?” gerutunya kemudian.
“Sudahlah, sudah. Meski Ethan
belum menyerah, tapi Hans tidak punya maksud lain untuk menyampaikan
perasaannya padaku, kan...” Angelica menenangkan Johan.
“Iya, sih...” rajuk Johan. Ia
menghela nafas panjang, dan kembali ke laptopnya.
Angelica duduk seperti tadi,
sambil memegang dan menatap cangkir hot chocolate-nya. Mereka terdiam dalam
posisi itu selama lima menit.
“Eeeh, Tuan Muda dan Nona,
boleh aku izin pulang?” Helga minta izin dan itu memecah kegiatan dan lamunan mereka.
“Ah, eeeh... baiklah. Oh, ya.
Ini, kunci pintu masuk ke sini. Kau harus datang lebih pagi dan menyiapkan
sarapan untuk kami besok. Bersama suamimu juga” perintah Johan.
“Baik, Tuan Muda” jawab Helga
sambil memberi hormat.
“Su, suami?” tanya Angelica
bingung.
“Lho, kamu tidak tahu? Helga
dan Alan itu suami istri. Aku sudah menyuruh mereka tinggal disini selama kita
disini, tapi Alan menolak” keluh Johan.
“Haha, begitulah, Nona” jawab
Helga meyakinkan.
“Hee, kukira kalian adik kakak.
Soalnya kalian berdua agak mirip! Terutama warna mata kalian!” puji Angelica
dengan mata berbinar.
“Aku menghargai pujianmu, Nona.
Tapi kami memang sudah menikah” jawab Helga sambil tertawa kecil.
“Baiklah. Sampai besok, ya.
Hati-hati karena ini sudah malam”
“Baik, Nona. Saya permisi”
Helga memberi hormat lagi dan keluar dari hotel.
Kini mereka tinggal berdua.
Angelica dan Johan berdiri sebelahan sambil menatap pintu keluar. Kemudian
mereka saling bertatapan. Sadar, mereka langsung memalingkan muka dengan cepat,
dengan wajah merah padam.
“Ki, kita tidur sekarang?”
tanya Johan gugup.
“I, iya...” begitu juga
Angelica.
“Ka, kalau begitu aku ke
kamarku sekarang. Se, selamat tidur...” Johan memberi salam, sambil berlalu
membawa laptopnya.
“Se, selamat tidur...” balas
Angelica.
Johan menutup pintu kamarnya.
Angelica langsung terduduk lemas.
‘Benar juga... kami tinggal
berdua disini... meski sudah dua hari, tetap saja rasanya...’
“Maluuuu~~” teriaknya pelan.
Angelica langsung melipat
kakinya dan menyembunyikan wajah di sela pahanya. Sementara Johan di balik
pintu juga sama malunya. Ia terduduk di depan pintu dan melakukan hal yang sama
dengannya.....
“Kenapa kau tidak menghubungiku
kalau kau menemukan Angelica!?”
Di kapal pesiar tempat
diselenggarakannya pesta keluarga Miller, Ethan protes pada Hans yang sedang
beranjak kembali ke kamarnya karena lelah. Ethan menatapnya tajam dan penuh
kemarahan, namun Hans berusaha menanggapinya dengan santai.
“Dia tidak ingin bertemu
denganmu, karena ia sudah tidak lagi menganggapmu sebagai tunangannya”
“Itu bukan urusanmu! Tugasmu
hanya mengawasi Angelica dan membawanya padaku! Kenapa kau malah berpihak pada
Harcourt!?” Ethan begitu kesal dan emosi.
“Aku tidak berpihak padamu
ataupun kak Sabrishion. Aku hanya berpihak pada teman sekelasku, Angelica”
jawab Hans sambil berjalan lagi.
“Kau...! sebenarnya apa
maumu...!?” teriak Ethan, hingga suaranya menggema di seluruh ruangan.
“Aku? Aku hanya ingin kau sadar
pada dirimu sendiri, Tuan Muda Ethan” Hans menghentikan langkahnya.
“Apa maksudmu!?” tanya Ethan
merendahkan suaranya.
“Aku ingin kau sadar bahwa, kau
yang sudah meninggalkan Angelica tanpa pesan apapun, serta takkan minta maaf
padanya atas apa yang terjadi, apa masih berhak untuk menahannya denganmu?”
Ethan terkejut mendengar
pertanyaannya. Ia diam seribu bahasa. Sementara Hans membiarkan pertanyaan itu
tak terjawab dengan beranjak dari situ.
“Kau sudah tahu apa yang
terjadi sebenarnya, kan?”
Pertanyaan Ethan itu membuat
Hans gantian terkejut dan berbalik. Ia berusaha menanggapinya dengan suara merendah.
“Walau aku tahu, aku tidak tahu
siapa pelaku sebenarnya. Kau yang paling tahu, bukan?” jawab Hans.
Ethan kembali diam, menundukkan
kepala. Hans hanya menatapnya dengan tajam. Sejujurnya meski mereka sepupu
jauh, namun hubungan mereka jauh dari kata akur. Lebih tepatnya, Hans sudah
lama membenci Ethan yang terkadang tidak tahu diri. Hal itu jelas terlihat dari
apa yang ia lakukan pada Angelica. Ia mematuhi Ethan karena terpaksa, dan tak
lebih sebagai perintah yang diberikan keluarga utama untuk salah satu keluarga
cabang sepertinya.
“Ya, aku tahu. Namun takkan
kuberitahu padamu. Ini demi Angelica sendiri” pinta Ethan dengan jantan.
Hans tak bereaksi apa-apa,
selain berbalik dan berjalan kembali ke kamarnya. Karena ia harus sadar diri,
siapa dia disini...
“Terserah kau saja...”
Keesokan harinya.
“Pagiii~ huaaahhmm~~”
Angelica baru keluar dari
kamarnya dan menguap lebar dengan mata masih tertutup.
“Pagi, Angie. Tepat waktu” sapa
Russell yang sedang membuka tabletnya sambil minum teh di bangku panjang yang
ada di ruang tamu. Ia sudah rapi mengenakan setelan kemeja, dasi dan celana
bahan serta pantofel hitam favoritnya.
“Hee~ kenapa? Kok serius
begitu? Kau sudah rapi? Hoaaahhhmm~~” tanya Angelica sambil menguap lagi. Ia
masih belum bisa membaca situasi karena baru bangun.
“Tidak pantas cewek menguap
seperti itu, tahu!” Johan mencubit kedua pipi Angelica dengan gemas, dan ia
mengaduh dengan nada orang mengantuk. Johan tertawa.
“Dasar. Angie, segera rapikan
barang-barangmu. Sore ini kita ke Indonesia” perintah Johan kemudian.
“Hee!? Bukankah harusnya
besok!? Aku belum beli oleh-oleh!” protes Angelica.
“Urusanku selesai lebih cepat
sehari dan aku tidak mau menunda-nunda. Nanti Natal keburu tiba, tahu” Johan
menjelaskan alasannya.
“Heee, Natal masih tiga minggu
lagi, kaaan~?”
“Hei, kita bakal lama di
Indonesia! Seminggu sebelumnya kita ke Jepang, dan kita janji dengan para
anggota Dewan Siswa dan teman-temanmu untuk merayakan natal di London, kan!?”
Johan mengingatkan. “Pokoknya, semua harus beres saat aku kembali dari kantor
nanti. Daah, Angie”
Johan buru-buru mengenakan jas,
mengambil tas dan menaruh tabletnya di dalam, dan beranjak dari situ...
“Hieeee!?”
0 comment:
Posting Komentar