|
S
|
ementara itu di tempat lain,
dengan jarak tiga jam dari Vienna, di hari yang sama dengan pesta pembukaan
toko dan kantor cabang keluarga Miller. Sebentar lagi Russell tiba di desa yang
dimaksud. Ya, Russell sedang berada dalam perjalanan ke sebuah desa di mana
kemungkinan orangtua angkatnya berada.
“Johan dan Angelica akan datang
ke pesta keluarga Miller di pesiar nanti malam?” kata Russell membaca email
yang Johan kirimkan.
“Keluarga Miller pengusaha
permata itu? Aku dengar beritanya bahwa mereka membuka toko dan kantor cabang
di Berlin” jelas Karl, butler Russell, yang ikut dan menyetir mobil dalam
kunjungan itu.
“Permata!? Kereeen!! Aku ingin
lihat permata Emerald!!” teriak Karla memberitahu keinginannya saat mendengar
mereka. Ia melompat senang dari bangku tempatnya duduk.
“Ahaha, nanti kita lihat, Karla!”
kata Russell menenangkan sambil mengelus kepalanya.
“Nah, kita sudah sampai!” kata Karl
setelah beberapa saat. Ia menghentikan mobil dan menarik rem tangannya serta
mematikan mesin mobil.
Russell keluar dari mobil dan
menghirup udara segar, sambil merentangkan kedua tangannya dengan bahagia.
“Kau sering kemari?” tanya Karl
yang ikut turun dari mobil.
“Ya, ke desa ini... Desa
Hallstatt, kampung halaman Ibuku” jawab Russell sambil melihat sekeliling desa.
Desa Hallstatt, merupakan desa
yang sangat indah dimana desa ini diapit oleh danau Hallstattersee dan
pegunungan Alpen yang merupakan pegunungan dengan salju abadi. Karenanya
meskipun ini masih musim panas dan menjelang musim gugur, cuaca sudah cukup
dingin bagi mereka. Desa ini kecil dan penduduknya hanya sekitar 800 jiwa.
Dengan gedung-gedung dan rumah-rumah yang sederhana dan cuaca yang segar serta
pemandangan yang sangat memanjakan mata, membuat desa ini terlihat seperti
negeri dongeng.
“Waaaa, kereeeen!!! Benar-benar
seperti di negeri dongeng!!! Apa benar ini kampung halaman Nyonya Ciara!?”
tanya Karla dengan nada takjub.
“Ya. Sebelum kalian pindah ke
Vienna, aku sering mendatangi desa ini bersama Ayah dan Ibuku. Ah, benar juga.
Meski dibilang kampung halaman, Ibu lahir dan tinggal disini selama lima tahun
semasa hidupnya karena Kakek, Ayahnya Ibu, sering berpindah-pindah kerja.
Kemudian Ibu memulai hidup barunya di London sampai ia memutuskan bersekolah
sambil bekerja sebagai model untuk membuktikan pada Kakek bahwa ia bisa hidup
mandiri” jelas Russell pada Karl dan Karla sambil berjalan masuk ke pusat desa.
“Tapi kudengar, Tuan Besar
meninggal saat kau baru masuk SD, dan dimakamkan di desa ini” Karl
menduga-duga. Russell mengangguk.
“Begitulah. Karena itu, ini
mungkin satu-satunya tempat dimana mereka berada saat ini” jelas Russell.
“Hmm, masuk akal. Kalau begitu,
kita bagaimana sekarang?” tanya Karl sambil membenarkan dasinya.
“Sudah jelas, kan? Kita cari
mereka disini! Ayo!!” ajak Russell dengan semangat. Karla pun menyambutnya
dengan semangat dua kali lipat...
Kemudian Russell, Karl, dan
Karla pun memulai pencarian mereka di tempat yang berbeda. Mereka bertanya
hingga ke pusat desa dimana terdapat banyak toko serta cafe-cafe yang terlihat
baru. Saat makan siang mereka berkumpul kembali untuk saling berbagi info.
Kemudian mencari lagi hingga ke perbatasan desa dan tempat-tempat wisata. Namun
sayangnya, pencarian itu berakhir nihil.
Menjelang malam hari.
“Huaaa! Aku tidak kuat
lagiii~!” Karla langsung membaringkan tubuhnya dengan agak kasar di atas
rumput. Ia sangat kelelahan.
“Tidak ada petunjuk, ya? Aneh
juga” kata Russell sambil berpikir.
“Bukankah ini desa yang sering
kau datangi? Masa’ kau tidak ingat dimana kau sering tinggal!?” protes Karl.
“Keluarga Orlando tidak punya
aset di desa ini, jadi kami sering berpindah-pindah hotel setiap kemari. Dan
lagi rumah Kakekku sudah dibongkar dan tanahnya dijual setelah beliau
meninggal. Aku tidak ingat dimana lokasinya karena saat kecil aku tidak
diizinkan kemanapun sendirian selama disini. Lagipula...” Russell berpikir,
sambil melihat sekeliling.
“Ada apa...?” tanya Karl
keheranan.
“Tempat ini... entah kenapa sedikit
asing bagiku...” lanjut Russell pelan.
Karl dan Karla bingung, dan
saling bertatapan.
“Maksud Tuan Muda...?” tanya
Karla.
“Aku yakin sekali kalau Ayah
dan Ibu ada disini, di desa ini. Tapi... bagaimana menjelaskannya, ya...”
Russell menggaruk-garuk pipi dengan jari telunjuknya.
“Hoi hoi, jelaskan yang benar,
dong!” protes Karl lagi.
“Aku memang merasa tidak asing
dengan tempat ini... dan lagi aku merasa pernah beberapa kali mengunjunginya...
tapi di saat yang sama aku juga merasa tidak terlalu mengenal daerah ini...
begitulah kukira” jelas Russell sedikit bingung.
“Mungkin maksud Tuan Muda, Tuan
Muda dulu sering mengunjungi daerah ini, namun tidak pernah menjamah atau
tinggal di daerah sini...?” Karla meringkas kalimat Russell.
“Ya! Seperti itu maksudku!”
Russell membenarkan.
“Kalau begitu percuma saja kita
mencari disini. Besok kita coba cari di kampung terdekat dengan desa ini. Aku
sudah mendapatkan infonya dari beberapa warga tadi” kata Karl memberi solusi.
“Baiklah. Toh kita semua sudah
lelah. Kita cari penginapan dan lanjutkan pencarian besok” Russell memberi
instruksi pada Karl dan Karla.
“Baik!!”
“Permisiii!!”
Tak jauh dari pusat desa, mereka
menemukan sebuah penginapan yang dinilai ‘layak’ oleh Karl untuk mereka
bertiga, yang ia temukan saat mencari Smith dan Ciara siang tadi. Walaupun
sebenarnya Russell sama sekali tidak keberatan dengan penginapan murah dan
sederhana, tapi Karl tahu Russell yang sebenarnya bisa menggerutu di belakang
dan menghabiskan uang demi kamar yang bersih dan layak baginya. Karenanya, ia
lebih memilih kalau ia sendiri yang mencarinya.
Tak lama kemudian, seseorang
muncul dari balik dinding yang ada di sebelah meja informasi tersebut.
“Iyaaa, selamat malam! Selamat
datang di penginapan kami!” sapa seorang gadis dengan ramah nan ceria. Gadis
itu kira-kira seumuran dengan Russell.
“Ah, eeh...” Russell yang
terkejut dengan sapaan itu langsung gugup dalam sekejap. Wajar saja, toh gadis
itu terlihat baru selesai mandi, sehingga wangi sabun dan sampo yang tercium
darinya sangat menggodanya. Wajahnya langsung berubah merah padam.
“Kau ini, sampai sekarang masih
tidak tahan sama cewek yang baru selesai mandi, ya?” ledek Karl. Ia dan Karla
hampir tertawa saat melihat reaksi Russell.
“A-a-apa kau bilang!? Bi-biasa
saja, tuh!! A-aku tidak terkejut atau malu, atau berpikir yang aneh-aneh!!”
teriak Russell menyangkal.
Melihat reaksi itu, meledaklah
tawa Karl dan Karla. Russell yang gugup berusaha menghentikan tawa mereka.
Sementara gadis itu tak tahu harus bereaksi seperti apa.
“Eeeh, maaf kalau aku menyambut
kalian tidak sopan...” katanya berusaha menyela.
“Ah, a-aku juga minta maaf.
Eeeng...” Russell berusaha mengendalikan diri, kemudian berdehem pelan. “Apakah
ada kamar kosong untuk kami?”
“Ah, tunggu sebentar. Aku cek
dulu” kata gadis itu sambil membuka buku yang ada di meja informasi. Kemudian
ia melanjutkan kalimatnya.
“Aku minta maaf kalau tidak
sopan menyambut kalian. Orangtuaku sedang keluar membeli bahan makan malam, dan
hanya ada aku sendiri disini. Jadi...” gadis itu menundukkan kepalanya sambil
melirik ke arah Russell, dengan wajah merah. Russell hanya terpaku.
“A-ah, eeeh... tidak apa-apa.
Aku mengerti. Ma-maafkan kami karena sudah tidak sopan, ya!” mohon Russell
sambil menundukkan kepala. Gadis itu langsung tersenyum ceria.
“Ya, aku mengerti!” jawab gadis
itu kembali ceria. “Ah, ada 1 kamar untuk 2 orang, dan 3 kamar untuk 1 orang.
kalian ingin ambil yang mana?” tanya gadis itu kemudian.
“Kalau begitu, kami ambil kamar
untuk 2 orang dan 1 orang. Tidak apa-apa, kan?” pesan Russell sambil bertanya
pada Karl dan Karla.
“Tidak masalah bagiku. Kau
tidak apa-apa tidur sendiri, Karla?” tanya Karl pada Karla.
“Heee!? Tidak mau! Aku ingin
tidur dengan kakak!!” rajuk Karla manja.
“Tidak boleh! Kau sudah SMP, lagipula
kau sudah biasa tidur sendiri, kan!?” protes Karl.
“Tapi kakak kan tahu, aku tidak
bisa tidur di tempat lain selain kamarku sendirian! Pokoknya aku mau tidur
denganmu!” balas Karla.
Pertengkaran Karl dan Karla
seputar kamar itu masih berlanjut, dan menjadi tontonan orang-orang yang baru
datang ke penginapan itu. Russell dan gadis itu berusaha cuek dan melanjutkan
transaksinya.
“Abaikan saja mereka, ya” kata
Russell lemas.
“Ah, baiklah...” jawab gadis
itu yang sama lemasnya...
Gadis itu kemudian mengantar
Russell dan yang lainnya ke kamarnya. Mereka menaiki tangga menuju lantai 2 dan
berbelok ke kanan. Gadis itu membuka kunci kamar dengan memasukkan kartu di
lubang yang ada di knop pintu itu.
“Waah, meski di desa, tapi
sudah canggih! Oh ya, kau juga bisa bahasa Inggris!” puji Russell takjub.
“Hahaha, baru sadar, ya! Desa
ini banyak dikunjungi para turis seperti kalian. Sehingga kami juga harus
menyesuaikan peralatan yang modern namun dengan tingkat keamanan yang tinggi.
Di hari libur panjang, sering terjadi pencurian barang-barang dari kamar hotel.
Beruntung bahwa kalian datang di saat yang tepat, karena di awal libur semester
ini masih banyak sekolah yang belum libur dan pengunjung juga masih belum
banyak” kata gadis itu.
“Hee benarkah!? Tapi, kalian
sudah libur!?” tanya Russell pada Karl dan Karla.
“Disini tidak seperti di
Inggris. Sekolah di Austria punya waktu libur yang berbeda-beda, tergantung
dari kebijakan sekolah, meskipun ini sudah musim libur. Dan kebetulan sekolah
kami libur lebih dulu dibanding yang lain” jawab Karla.
“Sekolahku juga baru libur
mulai besok. Karenanya aku yang akan mengurus keperluan kalian selama disini”
lanjut gadis itu.
“Ooh, begitu. Kalau begitu,
selama kami disini, mohon bantuannya!” pinta Russell pada gadis itu.
“Iya, sama-sama. Ah, ini kamar
untuk 2 orang. silakan!” sapa gadis itu lembut. Ia memasukkan kartu yang
menjadi kunci pada knop pintu, dan memutar gagangnya. Mereka pun terbelalak
melihat pemandangan yang terlihat dari jendela besar yang ada di kamar itu.
“Waaah, kereeenn!!” seru Karl.
“Waaai, kamarnya langsung
menghadap danau!! Banyak bintang!! Kereeen sekaliiii~!!” teriak Karla senang
sambil melompat-lompat.
“Kamar ini memang punya view
yang paling bagus, karenanya kami memberi harga sewa yang lebih mahal dibanding
yang lain. Semoga kalian senang!” sapa gadis itu.
“Syukurlah, ya, Karla, kau akan
menempati kamar ini dengan Karl. Jangan bertengkar, ya!” pesan Russell sambil mengelus
kepala Karla.
“Baik! Tapi maafkan aku, Tuan
Muda harus tidur sendirian. Habisnya aku tidak bisa kalau tidak ada Kakak” Karla
berusaha meminta maaf pada Russell.
“Tuan Muda!?” seru gadis itu
terkejut.
“Tidak apa-apa, aku bisa
mengerti. Lagipula kau memang selalu manja pada Karl, dan tak bisa jauh
darinya, kan? Haha” Russell tertawa kecil. “Nah, tolong antarkan aku ke
kamarku, ya” Russell kemudian beralih pada si gadis.
“Ah! Eeeh, baiklah” jawab gadis
itu gugup...
Kemudian gadis itu menutup
pintu dan berjalan menuju kamar yang akan ditempati Russell bersamanya. Gadis
itu memulai percakapan.
“Ternyata kau seorang Tuan
Muda, ya. Kereeen!” puji gadis itu takjub.
“Biasa saja, kok” Russell
berusaha merendah.
“Tapi, kau memang terlihat
hebat. Jangan-jangan, kau kesini untuk berlibur!? Kau dari Inggris, kan!?”
tanya gadis itu. Russell hanya tertawa-tawa.
Kemudian mereka pun sampai ke
kamar Russell. Letaknya agak di pojok dibandingkan dengan kamar Karl dan Karla
yang berada di tengah. Dari situ terlihat pemandangan pegunungan Alpen yang
sedang turun salju.
“Waah, keren” puji Russell saat
melihatnya.
“Tadinya aku ingin
menempatkanmu di sebelah kamar kakak beradik tadi. Tapi kurasa kamar ini yang
paling cocok untukmu” jelas gadis itu sambil melihat pemandangan yang sama.
“Terima kasih, aku sangat
terbantu. Lagipula, aku ingin tidur sendirian kali ini” kata Russell sambil
beralih dan meletakkan barang-barangnya.
“... kau baik-baik saja? Kau
terlihat lelah, dan sedikit tidak nyaman. Maaf, kalau keberadaanku mengganggu.
Aku akan segera keluar” kata gadis itu khawatir.
“Tidak, aku baik-baik saja.
Walau memang aku lelah setelah menempuh perjalanan dari Vienna” kata Russell
sambil duduk merebahkan kakinya di lantai. “Dan lagi, aku bukannya tidak nyaman
karena kau disini, kok” lanjutnya.
Gadis itu sedikit tersipu. “Ah,
eeeh... kalau begitu, aku akan ambilkan minuman dan kudapan untukmu. Tunggu
sebentar, ya”
“Terima kasih” jawab Russell,
dan gadis itu berlalu.
Tak lama kemudian, gadis itu
kembali lagi dengan membawa dua buah kue dan satu gelas minuman.
“Maaf menunggu! Tidak apa-apa
kalau kuberikan teh susu?” tanya gadis itu.
“Ah, terima kasih. Aku makan
sekarang” Russell menggigit kue itu dan merasakannya. “Enak! Enak banget!”
“Haha syukurlah” gadis itu
menanggapi. “Kakak beradik tadi juga sudah kuberikan kudapan, jadi tidak usah
khawatir” lanjutnya.
“Yaah, baiklah”
“Ngomong-ngomong, kakak beradik
itu... apa mereka butler dan maid-mu?”
“Yaah, begitulah. Tapi kami
sudah seperti keluarga. Terutama Karl, kami seumuran, lahir dan besar di tempat
yang sama” jawab Russell.
“Ooh, begitu...”
Mereka berdua terdiam. Russell
memakan kue itu dengan santai dan menghabiskan minumannya dengan cepat.
“Terima kasih atas makanannya”
“Waah! Kau selapar itu!?
Seharusnya tadi kubawakan lebih banyak” keluh gadis itu.
“Tidak usah. Sebentar lagi
makan malam, nanti aku tidak sanggup” Russell menenangkan.
“Ah, benar juga” gadis itu
sambil berpikir. Russell tersenyum ramah.
“Ngomong-ngomong, kita belum
berkenalan. Kau siswa SMA?” tanya Russell memulai topik.
“Ah, ya. Aku siswi kelas 2 SMA
di sekitar sini. Namaku Lisesha Eberbach, panggil saja Lisha. Nenek dari Ayahku
keturunan Inggris, makanya bahasa Inggrisku lancar. Salam kenal” katanya sambil
mengulurkan tangannya.
“Aku Russell Orlando, aku juga
kelas 2 SMA. Salam kenal” Russell menjabat tangannya.
“Serius!? Kita seumuran!? Tapi
kau terlihat lebih dewasa dariku!” kata Lisha terkejut.
“Aku masih 17 tahun, kok. Dan
aku tidak sedewasa kelihatannya. Begitulah teman-temanku bilang” Russell tertawa
kecil.
“Ooh, begitu. Tapi kau memang
terlihat dewasa, bahkan aku bisa merasakannya dari auramu. Sulit dipercaya kita
seumuran” Lisha memuji dengan nada takjub.
“Mungkin karena jabatanku di organisasi
sekolah yang menuntutku untuk bisa lebih bijaksana? Jadi apa boleh buat.
Hahaa...” Russell mengernyitkan dahi.
“Jabatan di sekolah?” tanya Lisha
bingung.
“Aku ketua Dewan Perguruan Siswa
di sekolah, organisasi siswa paling tinggi di sekolahku” jelas Russell.
“Waah, hebat! Itu luar biasa!”
puji Lisha takjub.
Tiba-tiba terdengar suara
seseorang memanggil Lisha dari lantai satu. Ia menyahutnya dan permisi kembali
untuk membantu menyiapkan makan malam dan meminta Russell untuk istirahat.
Russell mengiyakan, dan langsung merebahkan badannya di atas lantai. Ia
menghela nafas kelelahan, dan tertidur...
“Russell... Russell...! bangun,
Nak...!!”
Russell terbangun perlahan dan
mengusap-usap matanya.
“Ibu...! kenapa Ibu disini...!? ini...!”
Ia melihat sekeliling, dan menyadari ia
telah berada di tempat yang sangat tidak asing baginya.
’Tidak mungkin...! Kenapa aku ada... di
rumah keluarga utama Orlando...!? Apa yang terjadi!?’ seru Russell dalam hati,
masih dalam kebingungan.
Selain kebingungan berada di tempat itu,
ia melihat sesuatu yang tak pernah dilihatnya selama ini. Orangtua kandungnya
tengah bertengkar dengan Ayah angkatnya. Mereka meributkan sesuatu, namun ia
tidak mendengarnya sama sekali.
“Ibu, apa yang terjadi? Kenapa mereka
disini?”
“Jangan bilang ‘mereka’, Nak. Itu adalah
Orang tua kandungmu” jawab sang Ibu.
“Tidak mau! Aku tidak akan pernah
mengakui mereka setelah apa yang mereka lakukan padaku! Jangan tinggalkan aku
pada mereka, Bu! Aku mohon!!”
Russell menangis dalam pelukan Ibunya.
Ibunya membalasnya dengan mengelus kepala dan punggungnya. Beliau juga menangis.
“Maafkan kami, Nak. Meski Ayahmu
pewaris, kami tidak bisa melawan perintah keluarga utama. Sekalipun Ayahmu
pewaris, kami tetap dalam kendali mereka. Pilihannya hanyalah melakukannya,
atau keluar dari keluarga Orlando” jelas Ibunya sambil menangis.
Russell terkejut. “Memangnya apa yang
diperintahkan keluarga utama, Bu!? Beritahu aku!”
Ibunya tidak menjawab, beliau hanya
mengelus kepalanya sambil berusaha tersenyum.
“Tenang saja, Russell. Kau akan kami
jadikan pewaris, dan tak akan kami biarkan Ayah kandungmu mengambil alih
warisan itu. Dan kami, akan memberitahu apa yang terjadi disini suatu saat
nanti...” jelas Ibunya sambil beranjak dan pergi menghampiri Ayahnya.
“Tunggu, Ibu!! Beritahu aku apa yang
terjadi!! Beritahu aku apa yang diperintahkan keluarga utama, Bu!! IBUUUU!!!”
“Ibu...!!”
DUAK!
Russell terbangun mendadak, dan
kepalanya membentur sesuatu. Lebih tepatnya, membentur kepala seseorang. Ia dan
orang itu meringis.
“Hoi hoi, kepalamu itu terbuat
dari batu, ya!? Sakit bangeeet!!” serunya kesakitan sambil mengelus dahinya
yang terbentur keras.
“Maafkan aku, Karl! Kau
baik-baik saja? Uugh, kepalaku juga sakit” Russell melakukan hal yang sama
dengan Karl.
“Ah, aku juga minta maaf,
muncul mendadak seperti itu. Uugh~” Karl masih meringis.
Setelah beberapa saat, Karla
datang dan mengobati dahi mereka dengan air hangat dicampur obat seadanya dalam
baskom yang dibawakan Karla.
“Kau baik-baik saja, Tuan Muda?
Maafkan kakakku, ya!” tanya Karla cemas sambil meminta maaf.
“Hoi hoi, kau tidak khawatir
denganku, tapi malah khawatir padanya?” Karl merajuk.
“Salahmu sendiri muncul di
depan wajah Tuan Muda! Lagipula apa yang mau kau lakukan padanya!?” seru Karla.
“Aku mau duduk dan
membangunkannya, tapi dia malah terbangun tiba-tiba! Makanya kepalaku terbentur
olehnya!” seru Karl membela diri.
“Hentikaaan!! Kalau kalian
bertengkar terus, balik sana ke Vienna!!” teriak Russell lebih kencang dari
mereka, secara tiba-tiba.
Karl dan Karla terkejut,
kemudian melihat ke arah Russell bersamaan. Russell sendiri terkejut dengan
bentakannya barusan, kemudian memperbaiki sikap.
“Maaf, aku tidak bermaksud
begitu...” katanya lagi sambil membaringkan badannya lagi.
Karl dan Karla saling
bertatapan, bingung. Karena memang Russell jarang membentak seperti tadi jika
bukan karena sesuatu. Karla mengangguk pada Karl, kemudian ia keluar dari
ruangan sambil membawa baskom tersebut.
“Kau bermimpi sesuatu tentang
Ibumu?” tanya Karl. Ia menuangkan teh yang sebenarnya sudah sejak satu jam lalu
Lisha taruh disitu, ketika Russell tidur.
“Kok, ada teh disitu?” tanya
Russell mengalihkan topik.
“Tadi Lisha kemari ingin
memberitahukanmu makan malam sudah siap, tapi kau tidur. Akhirnya kami makan
duluan dan ia memilih menyiapkan teh darjeeling yang kubawa untukmu. Masih agak
hangat, nih” jelas Karl sambil menunjukkan teko dari alumnium itu.
“Terima kasih” Russell
mengambil gelasnya. “Soal mimpi... ya, aku mimpi bicara dengan Ibuku. Ibu
Ciara. Dia memang menyembunyikan sesuatu dariku...” lanjutnya lemas.
Karl hanya diam, tidak tahu
harus berkomentar apa. Ia jelas mengenal Russell sejak kecil, karena diantara
keluarga Leigner, hanya dia yang seumur dan paling dekat dengannya. Yang lain
hanya memandangnya sebagai Tuan Muda dan pewaris yang harus dijaga baik-baik. Semakin
ia dewasa, Karl semakin menyadari posisinya sebagai ‘asisten pewaris’ meski
Russell tidak memintanya secara langsung. Meski, ia tak tahu apa yang terjadi
sebenarnya dalam keluarga utama Orlando. Terlebih sejak keluarganya dipindah ke
Vienna, ia hanya bisa mengandalkan informasi dari keluarga Leigner di London.
Namun sayangnya, mereka yang bekerja untuk keluarga utama pun tak bisa bicara
banyak, dan ia sebenarnya merasa, tak ada yang ia bisa lakukan. Karenanya sejak
Russell memintanya untuk mencari orangtua angkatnya yang menghilang, hanya
itulah yang ia rasa bisa dilakukannya.
Russell memintanya di hari
orangtuanya menghilang, dan saat itu Karl beserta keluarganya baru diminta
pindah ke Vienna oleh keluarga utama Orlando. Karl pun sebenarnya
bertanya-tanya hingga hari ini. Kenapa ia dipindah ke sini, padahal mereka
sudah menunjuk Russell sebagai pewaris. Dan keluarganya pun tahu betul ia dan
Russell dekat dan ia sangat mengandalkannya. Bukan hanya dirinya, keluarga Karl
pun heran dengan keputusan aneh tersebut. Hanya satu hal yang ia sadari: ada
yang disembunyikan darinya dan Russell, serta keluarga Leigner yang bekerja
untuk keluarga utama Orlando.
“Aku akan minta Lisha membawa
makananmu kesini” kata Karl seraya berdiri.
“Tidak usah, aku akan kesana.
Lagipula, aku harus bertemu dengan orang tuanya” kata Russell sambil ikut
berdiri.
Karl tidak berkomentar apa-apa,
dan mengikuti kemauannya. “Baiklah, tapi aku dan Karla akan pergi berendam dan
langsung tidur. Tidak apa-apa kan, jika kutinggal?” tanyanya kemudian.
“Tidak masalah. Lagipula kau sudah
menyetir mobil dari Vienna ke sini. Kerja yang baik. Istirahatlah” pesan
Russell. Kemudian ia pun beranjak turun tangga dan meninggalkan Karl yang
mengawasinya hingga lantai satu...
“Terima kasih makanannya!”
Di ruang makan, Russell baru
saja menghabiskan makanannya dan baru akan meletakkan piring-piring kotornya ke
rak pencuci piring.
“Biar aku saja” seru Lisha
sambil menghampiri Russell, kemudian mengambil nampan tersebut.
“Ah, tolong, ya” pinta Russell.
“Iya. Karl dan Karla sudah
tidur?”
“Belum. Mereka sedang berendam
dan langsung tidur nanti”
“Oh, begitu. Oh ya, sejak kapan
kau bangun? Tadi aku ke kamarmu, tapi kau tertidur. Aku tidak enak
membangunkanmu, jadi kuseduhkan teh yang dibawa Karl untukmu. Oh ya, maaf aku
seenaknya masuk! Aku sudah minta izin Karl, kok!” mohon Lisha dengan nada
merasa bersalah.
“Ah, tidak apa-apa. Aku sudah
meminumnya. Terima kasih, maaf menyusahkanmu” jawab Russell tersenyum ramah.
“Tenang saja, tenang! Itu sudah
tugasku, kok!”
Mereka pun terdiam. Russell
memerhatikan Lisha yang sedang menaruh piring yang baru digunakannya ke dalam
mesin pencuci piring dan merapikan piring-piring yang telah dicuci ke raknya
masing-masing, karena memang ruang makan itu bersebelahan dengan dapur. Kemudian
ia terpikir sesuatu...
“Lisha...”
“Ya...?”
“Bisa... temani aku sebentar?”
Russell dan Lisha berjalan
menuju danau Hallstattersee. Pegunungan Alpen tidak terlihat karena gelap, namun
banyak sekali kunang-kunang yang hinggap dan berterbangan di sekitar danau.
Ditambah dengan bulan purnama serta bintang-bintang yang menerangi mereka
berdua, itu adalah pemandangan terindah yang pernah Russell lihat.
“Keren. Karl dan Karla rugi
nih, tidak melihatnya” puji Russell sambil tertawa-tawa.
“Yap. Aku juga sangat suka
pemandangan ini. Apalagi keberadaan kunang-kunang itu, membuat danau terlihat
cantiiik sekali!” seru Lisha sambil berlari-lari kecil. “Ah, kita duduk di
sana, yuk!”
Russell dan Lisha kemudian
duduk di atas rumput pinggir danau yang tadi ditunjuk Lisha. Mereka memandangi
pemandangan indah itu dengan perasaan bahagia, sekaligus melahirkan opini
mereka masing-masing. Kemudian Lisha terpaku memandangi Russell dari samping.
Angin dingin bertiup perlahan, menggoyangkan rumput-rumput serta rambut mereka.
“Kenapa melihatku begitu?”
tanya Russell yang kemudian sadar sedang dipandangi.
“Ah, tidak! Eeehh...” Lisha
gugup hingga wajahnya merah, lalu menata hatinya. “Di Inggris, kau tinggal di
London?”
“Ah, ya. Aku juga sekolah di
London, kok” jawab Russell.
“Hee? Kau tahu sekolah
Escoriale? Kalau tidak salah namanya... Sekolah Afiliasi Escoriale... apa gitu,
ya?” Lisha berpikir keras.
“Perguruan Afiliasi Universitas
Escoriale?” Russell menebak.
“Iya, itu!! Sekolah itu cukup
dekat dengan rumah Nenekku di Inggris. Keren bangeeet!! Aku bermimpi bisa
sekolah di sana!! Tapi kudengar, tes masuknya susah banget, melebihi sekolah
biasa. Jadinya kuurungkan niatku, deh!!” seru Lisha sambil berangan-angan.
“Ah, begitu, ya. Tapi, tesnya
tidak terlalu sulit, kok. Asal kau paham dasar dan teorinya, seharusnya mudah”
jelas Russell.
“Hee, kok kau bisa tahu!? Kau
pernah ikut tes masuk di sana!?” tanya Lisha.
“Ya, pernah. Soalnya aku murid
sekolah itu”
Mereka hening sesaat, saling
bertatapan. Saling mematung. Sepuluh detik.
“Apaaaaa!?!? Jadi yang kau
bilang kau adalah ketua Dewan Perguruan itu...”
“Yap. Aku ketua Dewan Perguruan
Siswa sekolah itu” jelas Russell datar.
“Huaaaa!! Tidak mungkiiiin!!
Jangan-jangan, kau ini seleb di sekolah itu, ya!!? Kudengar juga, disana
sekolah untuk kalangan pewaris dan selebriti di seluruh Inggris, apa benar!!?”
Lisha bertanya bertubi-tubi saking shock dan menggebu-gebunya mendengar kedua
pernyataan Russell barusan.
“Te, tenanglah, Lisha!” Russell
berusaha menenangkan.
“Aah, maaf maaf! Habis, saking
senangnya. Ternyata murid sekolah yang aku impi-impikan itu ada sedekat ini!
Apalagi dia ketua Dewan Perguruan Siswa, yang membawahi seluruh Dewan Siswa
bagian sekolah. Itu jabatan terkeren yang pernah ada bagiku!!” jelas Lisha
panjang lebar.
“Ahaha, tidak sekeren namanya,
kok. Soalnya tugasnya banyak sekali sampai ingin nangis, tahu” gerutu Russell
pura-pura sedih.
“Ah, begitu, ya...” Lisha
langsung lemas menanggapi, kemudian memuji lagi. “Tapi sungguh, kau sangat
hebat. Ditambah lagi kau seorang Tuan Muda, membuatku semakin silau melihatmu”
Russell tertawa. “Sudah, ah.
Jangan memuji berlebihan. Nanti aku jadi ge-er, nih!” lanjutnya.
“Baiklah, baik! Habis aku
senang sekali!” seru Lisha untuk yang terakhir kali.
Kini mereka sama-sama terdiam,
menikmati pemandangan danau yang masih dipenuhi kunang-kunang, namun tidak
sebanyak saat mereka datang tadi.
“Kunang-kunangnya mulai
menghilang...” Lisha menerangkan situasi.
“Ya... umur mereka pendek
sekali, ya...” Russell menanggapi. Lisha mengangguk.
“Hei, Russell...” panggil
Lisha.
“Ya?” sahutnya.
“Aku senang bertemu denganmu.
Ini pertama kalinya aku bertemu tamu yang seumur denganku. Semoga betah, ya!”
kata Lisha sambil tersenyum.
Russell kaget sekilas, kemudian
tersenyum. Lalu ia kembali melihat pemandangan.
“Tenang saja. Aku betah selama
apa pun disini. Karena desa ini sudah seperti kampung halamanku di masa lalu”
jelas Russell.
Lisha melihat ke arah Russell,
melihat matanya. Mata berwarna karamel itu terlihat indah, namun memancarkan
aura sedih yang bisa ia rasakan. Begitu dalam. Saking dalamnya, ia sendiri
hampir menangis. Angin pun bertiup perlahan.
“Ada apa? Matamu kemasukan
debu, ya?” tanya Russell begitu menyadari perubahan sikap Lisha.
“Ah, tidak... bukan begitu...”
Lisha langsung gugup, kemudian menghapus airmatanya yang sedikit keluar.
Russell melihatnya sedih.
“Apa kata-kataku ada yang
membuatmu sedih...?” tanya Russell dengan nada sedikit sedih.
“Tidak, sama sekali bukan
seperti itu!” Lisha menggeleng dengan cepat. “Aku... bisa melihat dari matamu.
Kesedihanmu...”
Russell terkejut. Ia tidak
menyangka wanita ini menyadari sesuatu darinya. Sesuatu yang memang membuatnya
sedih belakangan ini. Ia memejamkan mata sesaat, dan melihat langsung mata
Lisha.
“Kau menyadarinya, ya...”
Lisha mengangguk. “Kau sedang
mencari sesuatu. Ah bukan... mencari seseorang...” jelas Lisha membalas
tatapannya.
“Ya, kau benar...” Russell
kembali melihat ke arah danau. “Aku sedang mencari orangtua angkatku...”
“Eh...?” Lisha terkejut.
“Desa ini adalah tempat lahir
Ibu angkatku. Saat masih kecil aku sering datang kemari, meski daerah ini masih
agak asing bagiku. Dan kudengar mereka tinggal di sini sekarang. Hanya saja
karena sudah sangat lama, aku tidak ingat dimana tempatnya meski masih sedikit
ingat seperti apa rumah itu...” jelas Russell.
“Memangnya apa yang terjadi
dengan orangtua kandungmu?” tanya Lisha hati-hati. Namun Russell menggeleng,
tak ingin menceritakan apa yang terjadi.
“Yang pasti, aku tidak ingin
lagi bersama mereka. Karena tempat itu sudah seperti neraka bagiku. Tapi
sebagai pewaris, aku juga tidak bisa meninggalkan London. Karenanya, aku ingin
menjemput mereka kembali” jelas Russell.
“Begitu, ya...”
Lisha terdiam, berpikir
sesuatu. Ia memang tidak seharusnya tahu apa yang terjadi, dan tidak memahami
apa yang dipikirkan oleh orang-orang seperti keluarga Russell. Tapi hanya satu
yang ia tahu, bahwa ia lebih mendapatkan kenyamanan bersama keluarga ‘yang satu
lagi’ dibanding keluarga ‘sebenarnya’. Dan kenyamananlah yang terpenting
baginya saat ini.
“Baiklah! Aku akan membantumu!”
teriak Lisha tiba-tiba.
“.... Hah...?” Russell
terkejut.
“Aku akan membantumu mencari
kedua orangtuamu. Tenang saja!”
“Ta, tapi...”
“Tidak apa-apa! Kau bisa
mengandalkanku, kok! Aku mengenal semua bagian di desa ini, serta mengenal sebagian
besar penduduk di desa ini serta desa sekitar sini. Serahkan padaku!”
Lisha mengatakannya sambil
tersenyum tulus, dan Russell begitu terpana melihat senyuman itu. Ia tidak
menyangka bahwa, ia akan disemangati dan dibantu oleh orang yang baru dikenalnya
beberapa jam yang lalu itu. Tanpa sadar, tangannya telah meraih dan mengelus
kepala Lisha dengan ramah.
“Mohon bantuannya, ya, Lisha”
“Ya! Serahkan saja padaku!”
jawab Lisha bersemangat.
Itu adalah malam yang begitu
indah. Kunang-kunang yang menerangi langit dan danau, kini sudah nyaris tidak
terlihat lagi. Yang menyinari mereka hanyalah cahaya bulan dan bintang yang
bertaburan dengan indahnya. Membentuk rasi bintang-rasi bintang yang serasi dan
langka. Russell dan Lisha pun beranjak kembali ke penginapan, sambil menatap
satu sama lain dengan ceria...
0 comment:
Posting Komentar