Rabu, 24 Februari 2016

Wings of Melodies ~ Memories Edition - Chapter 12



S
ementara itu di tempat lain, dengan jarak tiga jam dari Vienna, di hari yang sama dengan pesta pembukaan toko dan kantor cabang keluarga Miller. Sebentar lagi Russell tiba di desa yang dimaksud. Ya, Russell sedang berada dalam perjalanan ke sebuah desa di mana kemungkinan orangtua angkatnya berada.
“Johan dan Angelica akan datang ke pesta keluarga Miller di pesiar nanti malam?” kata Russell membaca email yang Johan kirimkan.
“Keluarga Miller pengusaha permata itu? Aku dengar beritanya bahwa mereka membuka toko dan kantor cabang di Berlin” jelas Karl, butler Russell, yang ikut dan menyetir mobil dalam kunjungan itu.

“Permata!? Kereeen!! Aku ingin lihat permata Emerald!!” teriak Karla memberitahu keinginannya saat mendengar mereka. Ia melompat senang dari bangku tempatnya duduk.
“Ahaha, nanti kita lihat, Karla!” kata Russell menenangkan sambil mengelus kepalanya.
“Nah, kita sudah sampai!” kata Karl setelah beberapa saat. Ia menghentikan mobil dan menarik rem tangannya serta mematikan mesin mobil.
Russell keluar dari mobil dan menghirup udara segar, sambil merentangkan kedua tangannya dengan bahagia.
“Kau sering kemari?” tanya Karl yang ikut turun dari mobil.
“Ya, ke desa ini... Desa Hallstatt, kampung halaman Ibuku” jawab Russell sambil melihat sekeliling desa.
Desa Hallstatt, merupakan desa yang sangat indah dimana desa ini diapit oleh danau Hallstattersee dan pegunungan Alpen yang merupakan pegunungan dengan salju abadi. Karenanya meskipun ini masih musim panas dan menjelang musim gugur, cuaca sudah cukup dingin bagi mereka. Desa ini kecil dan penduduknya hanya sekitar 800 jiwa. Dengan gedung-gedung dan rumah-rumah yang sederhana dan cuaca yang segar serta pemandangan yang sangat memanjakan mata, membuat desa ini terlihat seperti negeri dongeng.
“Waaaa, kereeeen!!! Benar-benar seperti di negeri dongeng!!! Apa benar ini kampung halaman Nyonya Ciara!?” tanya Karla dengan nada takjub.
“Ya. Sebelum kalian pindah ke Vienna, aku sering mendatangi desa ini bersama Ayah dan Ibuku. Ah, benar juga. Meski dibilang kampung halaman, Ibu lahir dan tinggal disini selama lima tahun semasa hidupnya karena Kakek, Ayahnya Ibu, sering berpindah-pindah kerja. Kemudian Ibu memulai hidup barunya di London sampai ia memutuskan bersekolah sambil bekerja sebagai model untuk membuktikan pada Kakek bahwa ia bisa hidup mandiri” jelas Russell pada Karl dan Karla sambil berjalan masuk ke pusat desa.
“Tapi kudengar, Tuan Besar meninggal saat kau baru masuk SD, dan dimakamkan di desa ini” Karl menduga-duga. Russell mengangguk.
“Begitulah. Karena itu, ini mungkin satu-satunya tempat dimana mereka berada saat ini” jelas Russell.
“Hmm, masuk akal. Kalau begitu, kita bagaimana sekarang?” tanya Karl sambil membenarkan dasinya.
“Sudah jelas, kan? Kita cari mereka disini! Ayo!!” ajak Russell dengan semangat. Karla pun menyambutnya dengan semangat dua kali lipat...

Kemudian Russell, Karl, dan Karla pun memulai pencarian mereka di tempat yang berbeda. Mereka bertanya hingga ke pusat desa dimana terdapat banyak toko serta cafe-cafe yang terlihat baru. Saat makan siang mereka berkumpul kembali untuk saling berbagi info. Kemudian mencari lagi hingga ke perbatasan desa dan tempat-tempat wisata. Namun sayangnya, pencarian itu berakhir nihil.
Menjelang malam hari.
“Huaaa! Aku tidak kuat lagiii~!” Karla langsung membaringkan tubuhnya dengan agak kasar di atas rumput. Ia sangat kelelahan.
“Tidak ada petunjuk, ya? Aneh juga” kata Russell sambil berpikir.
“Bukankah ini desa yang sering kau datangi? Masa’ kau tidak ingat dimana kau sering tinggal!?” protes Karl.
“Keluarga Orlando tidak punya aset di desa ini, jadi kami sering berpindah-pindah hotel setiap kemari. Dan lagi rumah Kakekku sudah dibongkar dan tanahnya dijual setelah beliau meninggal. Aku tidak ingat dimana lokasinya karena saat kecil aku tidak diizinkan kemanapun sendirian selama disini. Lagipula...” Russell berpikir, sambil melihat sekeliling.
“Ada apa...?” tanya Karl keheranan.
“Tempat ini... entah kenapa sedikit asing bagiku...” lanjut Russell pelan.
Karl dan Karla bingung, dan saling bertatapan.
“Maksud Tuan Muda...?” tanya Karla.
“Aku yakin sekali kalau Ayah dan Ibu ada disini, di desa ini. Tapi... bagaimana menjelaskannya, ya...” Russell menggaruk-garuk pipi dengan jari telunjuknya.
“Hoi hoi, jelaskan yang benar, dong!” protes Karl lagi.
“Aku memang merasa tidak asing dengan tempat ini... dan lagi aku merasa pernah beberapa kali mengunjunginya... tapi di saat yang sama aku juga merasa tidak terlalu mengenal daerah ini... begitulah kukira” jelas Russell sedikit bingung.
“Mungkin maksud Tuan Muda, Tuan Muda dulu sering mengunjungi daerah ini, namun tidak pernah menjamah atau tinggal di daerah sini...?” Karla meringkas kalimat Russell.
“Ya! Seperti itu maksudku!” Russell membenarkan.
“Kalau begitu percuma saja kita mencari disini. Besok kita coba cari di kampung terdekat dengan desa ini. Aku sudah mendapatkan infonya dari beberapa warga tadi” kata Karl memberi solusi.
“Baiklah. Toh kita semua sudah lelah. Kita cari penginapan dan lanjutkan pencarian besok” Russell memberi instruksi pada Karl dan Karla.
“Baik!!”

“Permisiii!!”
Tak jauh dari pusat desa, mereka menemukan sebuah penginapan yang dinilai ‘layak’ oleh Karl untuk mereka bertiga, yang ia temukan saat mencari Smith dan Ciara siang tadi. Walaupun sebenarnya Russell sama sekali tidak keberatan dengan penginapan murah dan sederhana, tapi Karl tahu Russell yang sebenarnya bisa menggerutu di belakang dan menghabiskan uang demi kamar yang bersih dan layak baginya. Karenanya, ia lebih memilih kalau ia sendiri yang mencarinya.
Tak lama kemudian, seseorang muncul dari balik dinding yang ada di sebelah meja informasi tersebut.
“Iyaaa, selamat malam! Selamat datang di penginapan kami!” sapa seorang gadis dengan ramah nan ceria. Gadis itu kira-kira seumuran dengan Russell.
“Ah, eeh...” Russell yang terkejut dengan sapaan itu langsung gugup dalam sekejap. Wajar saja, toh gadis itu terlihat baru selesai mandi, sehingga wangi sabun dan sampo yang tercium darinya sangat menggodanya. Wajahnya langsung berubah merah padam.
“Kau ini, sampai sekarang masih tidak tahan sama cewek yang baru selesai mandi, ya?” ledek Karl. Ia dan Karla hampir tertawa saat melihat reaksi Russell.
“A-a-apa kau bilang!? Bi-biasa saja, tuh!! A-aku tidak terkejut atau malu, atau berpikir yang aneh-aneh!!” teriak Russell menyangkal.
Melihat reaksi itu, meledaklah tawa Karl dan Karla. Russell yang gugup berusaha menghentikan tawa mereka. Sementara gadis itu tak tahu harus bereaksi seperti apa.
“Eeeh, maaf kalau aku menyambut kalian tidak sopan...” katanya berusaha menyela.
“Ah, a-aku juga minta maaf. Eeeng...” Russell berusaha mengendalikan diri, kemudian berdehem pelan. “Apakah ada kamar kosong untuk kami?”
“Ah, tunggu sebentar. Aku cek dulu” kata gadis itu sambil membuka buku yang ada di meja informasi. Kemudian ia melanjutkan kalimatnya.
“Aku minta maaf kalau tidak sopan menyambut kalian. Orangtuaku sedang keluar membeli bahan makan malam, dan hanya ada aku sendiri disini. Jadi...” gadis itu menundukkan kepalanya sambil melirik ke arah Russell, dengan wajah merah. Russell hanya terpaku.
“A-ah, eeeh... tidak apa-apa. Aku mengerti. Ma-maafkan kami karena sudah tidak sopan, ya!” mohon Russell sambil menundukkan kepala. Gadis itu langsung tersenyum ceria.
“Ya, aku mengerti!” jawab gadis itu kembali ceria. “Ah, ada 1 kamar untuk 2 orang, dan 3 kamar untuk 1 orang. kalian ingin ambil yang mana?” tanya gadis itu kemudian.
“Kalau begitu, kami ambil kamar untuk 2 orang dan 1 orang. Tidak apa-apa, kan?” pesan Russell sambil bertanya pada Karl dan Karla.
“Tidak masalah bagiku. Kau tidak apa-apa tidur sendiri, Karla?” tanya Karl pada Karla.
“Heee!? Tidak mau! Aku ingin tidur dengan kakak!!” rajuk Karla manja.
“Tidak boleh! Kau sudah SMP, lagipula kau sudah biasa tidur sendiri, kan!?” protes Karl.
“Tapi kakak kan tahu, aku tidak bisa tidur di tempat lain selain kamarku sendirian! Pokoknya aku mau tidur denganmu!” balas Karla.
Pertengkaran Karl dan Karla seputar kamar itu masih berlanjut, dan menjadi tontonan orang-orang yang baru datang ke penginapan itu. Russell dan gadis itu berusaha cuek dan melanjutkan transaksinya.
“Abaikan saja mereka, ya” kata Russell lemas.
“Ah, baiklah...” jawab gadis itu yang sama lemasnya...

Gadis itu kemudian mengantar Russell dan yang lainnya ke kamarnya. Mereka menaiki tangga menuju lantai 2 dan berbelok ke kanan. Gadis itu membuka kunci kamar dengan memasukkan kartu di lubang yang ada di knop pintu itu.
“Waah, meski di desa, tapi sudah canggih! Oh ya, kau juga bisa bahasa Inggris!” puji Russell takjub.
“Hahaha, baru sadar, ya! Desa ini banyak dikunjungi para turis seperti kalian. Sehingga kami juga harus menyesuaikan peralatan yang modern namun dengan tingkat keamanan yang tinggi. Di hari libur panjang, sering terjadi pencurian barang-barang dari kamar hotel. Beruntung bahwa kalian datang di saat yang tepat, karena di awal libur semester ini masih banyak sekolah yang belum libur dan pengunjung juga masih belum banyak” kata gadis itu.
“Hee benarkah!? Tapi, kalian sudah libur!?” tanya Russell pada Karl dan Karla.
“Disini tidak seperti di Inggris. Sekolah di Austria punya waktu libur yang berbeda-beda, tergantung dari kebijakan sekolah, meskipun ini sudah musim libur. Dan kebetulan sekolah kami libur lebih dulu dibanding yang lain” jawab Karla.
“Sekolahku juga baru libur mulai besok. Karenanya aku yang akan mengurus keperluan kalian selama disini” lanjut gadis itu.
“Ooh, begitu. Kalau begitu, selama kami disini, mohon bantuannya!” pinta Russell pada gadis itu.
“Iya, sama-sama. Ah, ini kamar untuk 2 orang. silakan!” sapa gadis itu lembut. Ia memasukkan kartu yang menjadi kunci pada knop pintu, dan memutar gagangnya. Mereka pun terbelalak melihat pemandangan yang terlihat dari jendela besar yang ada di kamar itu.
“Waaah, kereeenn!!” seru Karl.
“Waaai, kamarnya langsung menghadap danau!! Banyak bintang!! Kereeen sekaliiii~!!” teriak Karla senang sambil melompat-lompat.
“Kamar ini memang punya view yang paling bagus, karenanya kami memberi harga sewa yang lebih mahal dibanding yang lain. Semoga kalian senang!” sapa gadis itu.
“Syukurlah, ya, Karla, kau akan menempati kamar ini dengan Karl. Jangan bertengkar, ya!” pesan Russell sambil mengelus kepala Karla.
“Baik! Tapi maafkan aku, Tuan Muda harus tidur sendirian. Habisnya aku tidak bisa kalau tidak ada Kakak” Karla berusaha meminta maaf pada Russell.
“Tuan Muda!?” seru gadis itu terkejut.
“Tidak apa-apa, aku bisa mengerti. Lagipula kau memang selalu manja pada Karl, dan tak bisa jauh darinya, kan? Haha” Russell tertawa kecil. “Nah, tolong antarkan aku ke kamarku, ya” Russell kemudian beralih pada si gadis.
“Ah! Eeeh, baiklah” jawab gadis itu gugup...

Kemudian gadis itu menutup pintu dan berjalan menuju kamar yang akan ditempati Russell bersamanya. Gadis itu memulai percakapan.
“Ternyata kau seorang Tuan Muda, ya. Kereeen!” puji gadis itu takjub.
“Biasa saja, kok” Russell berusaha merendah.
“Tapi, kau memang terlihat hebat. Jangan-jangan, kau kesini untuk berlibur!? Kau dari Inggris, kan!?” tanya gadis itu. Russell hanya tertawa-tawa.
Kemudian mereka pun sampai ke kamar Russell. Letaknya agak di pojok dibandingkan dengan kamar Karl dan Karla yang berada di tengah. Dari situ terlihat pemandangan pegunungan Alpen yang sedang turun salju.
“Waah, keren” puji Russell saat melihatnya.
“Tadinya aku ingin menempatkanmu di sebelah kamar kakak beradik tadi. Tapi kurasa kamar ini yang paling cocok untukmu” jelas gadis itu sambil melihat pemandangan yang sama.
“Terima kasih, aku sangat terbantu. Lagipula, aku ingin tidur sendirian kali ini” kata Russell sambil beralih dan meletakkan barang-barangnya.
“... kau baik-baik saja? Kau terlihat lelah, dan sedikit tidak nyaman. Maaf, kalau keberadaanku mengganggu. Aku akan segera keluar” kata gadis itu khawatir.
“Tidak, aku baik-baik saja. Walau memang aku lelah setelah menempuh perjalanan dari Vienna” kata Russell sambil duduk merebahkan kakinya di lantai. “Dan lagi, aku bukannya tidak nyaman karena kau disini, kok” lanjutnya.
Gadis itu sedikit tersipu. “Ah, eeeh... kalau begitu, aku akan ambilkan minuman dan kudapan untukmu. Tunggu sebentar, ya”
“Terima kasih” jawab Russell, dan gadis itu berlalu.
Tak lama kemudian, gadis itu kembali lagi dengan membawa dua buah kue dan satu gelas minuman.
“Maaf menunggu! Tidak apa-apa kalau kuberikan teh susu?” tanya gadis itu.
“Ah, terima kasih. Aku makan sekarang” Russell menggigit kue itu dan merasakannya. “Enak! Enak banget!”
“Haha syukurlah” gadis itu menanggapi. “Kakak beradik tadi juga sudah kuberikan kudapan, jadi tidak usah khawatir” lanjutnya.
“Yaah, baiklah”
“Ngomong-ngomong, kakak beradik itu... apa mereka butler dan maid-mu?”
“Yaah, begitulah. Tapi kami sudah seperti keluarga. Terutama Karl, kami seumuran, lahir dan besar di tempat yang sama” jawab Russell.
“Ooh, begitu...”
Mereka berdua terdiam. Russell memakan kue itu dengan santai dan menghabiskan minumannya dengan cepat.
“Terima kasih atas makanannya”
“Waah! Kau selapar itu!? Seharusnya tadi kubawakan lebih banyak” keluh gadis itu.
“Tidak usah. Sebentar lagi makan malam, nanti aku tidak sanggup” Russell menenangkan.
“Ah, benar juga” gadis itu sambil berpikir. Russell tersenyum ramah.
“Ngomong-ngomong, kita belum berkenalan. Kau siswa SMA?” tanya Russell memulai topik.
“Ah, ya. Aku siswi kelas 2 SMA di sekitar sini. Namaku Lisesha Eberbach, panggil saja Lisha. Nenek dari Ayahku keturunan Inggris, makanya bahasa Inggrisku lancar. Salam kenal” katanya sambil mengulurkan tangannya.
“Aku Russell Orlando, aku juga kelas 2 SMA. Salam kenal” Russell menjabat tangannya.
“Serius!? Kita seumuran!? Tapi kau terlihat lebih dewasa dariku!” kata Lisha terkejut.
“Aku masih 17 tahun, kok. Dan aku tidak sedewasa kelihatannya. Begitulah teman-temanku bilang” Russell tertawa kecil.
“Ooh, begitu. Tapi kau memang terlihat dewasa, bahkan aku bisa merasakannya dari auramu. Sulit dipercaya kita seumuran” Lisha memuji dengan nada takjub.
“Mungkin karena jabatanku di organisasi sekolah yang menuntutku untuk bisa lebih bijaksana? Jadi apa boleh buat. Hahaa...” Russell mengernyitkan dahi.
“Jabatan di sekolah?” tanya Lisha bingung.
“Aku ketua Dewan Perguruan Siswa di sekolah, organisasi siswa paling tinggi di sekolahku” jelas Russell.
“Waah, hebat! Itu luar biasa!” puji Lisha takjub.
Tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggil Lisha dari lantai satu. Ia menyahutnya dan permisi kembali untuk membantu menyiapkan makan malam dan meminta Russell untuk istirahat. Russell mengiyakan, dan langsung merebahkan badannya di atas lantai. Ia menghela nafas kelelahan, dan tertidur...

“Russell... Russell...! bangun, Nak...!!”
Russell terbangun perlahan dan mengusap-usap matanya.
“Ibu...! kenapa Ibu disini...!? ini...!”
Ia melihat sekeliling, dan menyadari ia telah berada di tempat yang sangat tidak asing baginya.
’Tidak mungkin...! Kenapa aku ada... di rumah keluarga utama Orlando...!? Apa yang terjadi!?’ seru Russell dalam hati, masih dalam kebingungan.
Selain kebingungan berada di tempat itu, ia melihat sesuatu yang tak pernah dilihatnya selama ini. Orangtua kandungnya tengah bertengkar dengan Ayah angkatnya. Mereka meributkan sesuatu, namun ia tidak mendengarnya sama sekali.
“Ibu, apa yang terjadi? Kenapa mereka disini?”
“Jangan bilang ‘mereka’, Nak. Itu adalah Orang tua kandungmu” jawab sang Ibu.
“Tidak mau! Aku tidak akan pernah mengakui mereka setelah apa yang mereka lakukan padaku! Jangan tinggalkan aku pada mereka, Bu! Aku mohon!!”
Russell menangis dalam pelukan Ibunya. Ibunya membalasnya dengan mengelus kepala dan punggungnya. Beliau juga menangis.
“Maafkan kami, Nak. Meski Ayahmu pewaris, kami tidak bisa melawan perintah keluarga utama. Sekalipun Ayahmu pewaris, kami tetap dalam kendali mereka. Pilihannya hanyalah melakukannya, atau keluar dari keluarga Orlando” jelas Ibunya sambil menangis.
Russell terkejut. “Memangnya apa yang diperintahkan keluarga utama, Bu!? Beritahu aku!”
Ibunya tidak menjawab, beliau hanya mengelus kepalanya sambil berusaha tersenyum.
“Tenang saja, Russell. Kau akan kami jadikan pewaris, dan tak akan kami biarkan Ayah kandungmu mengambil alih warisan itu. Dan kami, akan memberitahu apa yang terjadi disini suatu saat nanti...” jelas Ibunya sambil beranjak dan pergi menghampiri Ayahnya.
“Tunggu, Ibu!! Beritahu aku apa yang terjadi!! Beritahu aku apa yang diperintahkan keluarga utama, Bu!! IBUUUU!!!”

“Ibu...!!”
DUAK!
Russell terbangun mendadak, dan kepalanya membentur sesuatu. Lebih tepatnya, membentur kepala seseorang. Ia dan orang itu meringis.
“Hoi hoi, kepalamu itu terbuat dari batu, ya!? Sakit bangeeet!!” serunya kesakitan sambil mengelus dahinya yang terbentur keras.
“Maafkan aku, Karl! Kau baik-baik saja? Uugh, kepalaku juga sakit” Russell melakukan hal yang sama dengan Karl.
“Ah, aku juga minta maaf, muncul mendadak seperti itu. Uugh~” Karl masih meringis.
Setelah beberapa saat, Karla datang dan mengobati dahi mereka dengan air hangat dicampur obat seadanya dalam baskom yang dibawakan Karla.
“Kau baik-baik saja, Tuan Muda? Maafkan kakakku, ya!” tanya Karla cemas sambil meminta maaf.
“Hoi hoi, kau tidak khawatir denganku, tapi malah khawatir padanya?” Karl merajuk.
“Salahmu sendiri muncul di depan wajah Tuan Muda! Lagipula apa yang mau kau lakukan padanya!?” seru Karla.
“Aku mau duduk dan membangunkannya, tapi dia malah terbangun tiba-tiba! Makanya kepalaku terbentur olehnya!” seru Karl membela diri.
“Hentikaaan!! Kalau kalian bertengkar terus, balik sana ke Vienna!!” teriak Russell lebih kencang dari mereka, secara tiba-tiba.
Karl dan Karla terkejut, kemudian melihat ke arah Russell bersamaan. Russell sendiri terkejut dengan bentakannya barusan, kemudian memperbaiki sikap.
“Maaf, aku tidak bermaksud begitu...” katanya lagi sambil membaringkan badannya lagi.
Karl dan Karla saling bertatapan, bingung. Karena memang Russell jarang membentak seperti tadi jika bukan karena sesuatu. Karla mengangguk pada Karl, kemudian ia keluar dari ruangan sambil membawa baskom tersebut.
“Kau bermimpi sesuatu tentang Ibumu?” tanya Karl. Ia menuangkan teh yang sebenarnya sudah sejak satu jam lalu Lisha taruh disitu, ketika Russell tidur.
“Kok, ada teh disitu?” tanya Russell mengalihkan topik.
“Tadi Lisha kemari ingin memberitahukanmu makan malam sudah siap, tapi kau tidur. Akhirnya kami makan duluan dan ia memilih menyiapkan teh darjeeling yang kubawa untukmu. Masih agak hangat, nih” jelas Karl sambil menunjukkan teko dari alumnium itu.
“Terima kasih” Russell mengambil gelasnya. “Soal mimpi... ya, aku mimpi bicara dengan Ibuku. Ibu Ciara. Dia memang menyembunyikan sesuatu dariku...” lanjutnya lemas.
Karl hanya diam, tidak tahu harus berkomentar apa. Ia jelas mengenal Russell sejak kecil, karena diantara keluarga Leigner, hanya dia yang seumur dan paling dekat dengannya. Yang lain hanya memandangnya sebagai Tuan Muda dan pewaris yang harus dijaga baik-baik. Semakin ia dewasa, Karl semakin menyadari posisinya sebagai ‘asisten pewaris’ meski Russell tidak memintanya secara langsung. Meski, ia tak tahu apa yang terjadi sebenarnya dalam keluarga utama Orlando. Terlebih sejak keluarganya dipindah ke Vienna, ia hanya bisa mengandalkan informasi dari keluarga Leigner di London. Namun sayangnya, mereka yang bekerja untuk keluarga utama pun tak bisa bicara banyak, dan ia sebenarnya merasa, tak ada yang ia bisa lakukan. Karenanya sejak Russell memintanya untuk mencari orangtua angkatnya yang menghilang, hanya itulah yang ia rasa bisa dilakukannya.
Russell memintanya di hari orangtuanya menghilang, dan saat itu Karl beserta keluarganya baru diminta pindah ke Vienna oleh keluarga utama Orlando. Karl pun sebenarnya bertanya-tanya hingga hari ini. Kenapa ia dipindah ke sini, padahal mereka sudah menunjuk Russell sebagai pewaris. Dan keluarganya pun tahu betul ia dan Russell dekat dan ia sangat mengandalkannya. Bukan hanya dirinya, keluarga Karl pun heran dengan keputusan aneh tersebut. Hanya satu hal yang ia sadari: ada yang disembunyikan darinya dan Russell, serta keluarga Leigner yang bekerja untuk keluarga utama Orlando.
“Aku akan minta Lisha membawa makananmu kesini” kata Karl seraya berdiri.
“Tidak usah, aku akan kesana. Lagipula, aku harus bertemu dengan orang tuanya” kata Russell sambil ikut berdiri.
Karl tidak berkomentar apa-apa, dan mengikuti kemauannya. “Baiklah, tapi aku dan Karla akan pergi berendam dan langsung tidur. Tidak apa-apa kan, jika kutinggal?” tanyanya kemudian.
“Tidak masalah. Lagipula kau sudah menyetir mobil dari Vienna ke sini. Kerja yang baik. Istirahatlah” pesan Russell. Kemudian ia pun beranjak turun tangga dan meninggalkan Karl yang mengawasinya hingga lantai satu...

“Terima kasih makanannya!”
Di ruang makan, Russell baru saja menghabiskan makanannya dan baru akan meletakkan piring-piring kotornya ke rak pencuci piring.
“Biar aku saja” seru Lisha sambil menghampiri Russell, kemudian mengambil nampan tersebut.
“Ah, tolong, ya” pinta Russell.
“Iya. Karl dan Karla sudah tidur?”
“Belum. Mereka sedang berendam dan langsung tidur nanti”
“Oh, begitu. Oh ya, sejak kapan kau bangun? Tadi aku ke kamarmu, tapi kau tertidur. Aku tidak enak membangunkanmu, jadi kuseduhkan teh yang dibawa Karl untukmu. Oh ya, maaf aku seenaknya masuk! Aku sudah minta izin Karl, kok!” mohon Lisha dengan nada merasa bersalah.
“Ah, tidak apa-apa. Aku sudah meminumnya. Terima kasih, maaf menyusahkanmu”  jawab Russell tersenyum ramah.
“Tenang saja, tenang! Itu sudah tugasku, kok!”
Mereka pun terdiam. Russell memerhatikan Lisha yang sedang menaruh piring yang baru digunakannya ke dalam mesin pencuci piring dan merapikan piring-piring yang telah dicuci ke raknya masing-masing, karena memang ruang makan itu bersebelahan dengan dapur. Kemudian ia terpikir sesuatu...
“Lisha...”
“Ya...?”
“Bisa... temani aku sebentar?”

Russell dan Lisha berjalan menuju danau Hallstattersee. Pegunungan Alpen tidak terlihat karena gelap, namun banyak sekali kunang-kunang yang hinggap dan berterbangan di sekitar danau. Ditambah dengan bulan purnama serta bintang-bintang yang menerangi mereka berdua, itu adalah pemandangan terindah yang pernah Russell lihat.
“Keren. Karl dan Karla rugi nih, tidak melihatnya” puji Russell sambil tertawa-tawa.
“Yap. Aku juga sangat suka pemandangan ini. Apalagi keberadaan kunang-kunang itu, membuat danau terlihat cantiiik sekali!” seru Lisha sambil berlari-lari kecil. “Ah, kita duduk di sana, yuk!”
Russell dan Lisha kemudian duduk di atas rumput pinggir danau yang tadi ditunjuk Lisha. Mereka memandangi pemandangan indah itu dengan perasaan bahagia, sekaligus melahirkan opini mereka masing-masing. Kemudian Lisha terpaku memandangi Russell dari samping. Angin dingin bertiup perlahan, menggoyangkan rumput-rumput serta rambut mereka.
“Kenapa melihatku begitu?” tanya Russell yang kemudian sadar sedang dipandangi.
“Ah, tidak! Eeehh...” Lisha gugup hingga wajahnya merah, lalu menata hatinya. “Di Inggris, kau tinggal di London?”
“Ah, ya. Aku juga sekolah di London, kok” jawab Russell.
“Hee? Kau tahu sekolah Escoriale? Kalau tidak salah namanya... Sekolah Afiliasi Escoriale... apa gitu, ya?” Lisha berpikir keras.
“Perguruan Afiliasi Universitas Escoriale?” Russell menebak.
“Iya, itu!! Sekolah itu cukup dekat dengan rumah Nenekku di Inggris. Keren bangeeet!! Aku bermimpi bisa sekolah di sana!! Tapi kudengar, tes masuknya susah banget, melebihi sekolah biasa. Jadinya kuurungkan niatku, deh!!” seru Lisha sambil berangan-angan.
“Ah, begitu, ya. Tapi, tesnya tidak terlalu sulit, kok. Asal kau paham dasar dan teorinya, seharusnya mudah” jelas Russell.
“Hee, kok kau bisa tahu!? Kau pernah ikut tes masuk di sana!?” tanya Lisha.
“Ya, pernah. Soalnya aku murid sekolah itu”
Mereka hening sesaat, saling bertatapan. Saling mematung. Sepuluh detik.
“Apaaaaa!?!? Jadi yang kau bilang kau adalah ketua Dewan Perguruan itu...”
“Yap. Aku ketua Dewan Perguruan Siswa sekolah itu” jelas Russell datar.
“Huaaaa!! Tidak mungkiiiin!! Jangan-jangan, kau ini seleb di sekolah itu, ya!!? Kudengar juga, disana sekolah untuk kalangan pewaris dan selebriti di seluruh Inggris, apa benar!!?” Lisha bertanya bertubi-tubi saking shock dan menggebu-gebunya mendengar kedua pernyataan Russell barusan.
“Te, tenanglah, Lisha!” Russell berusaha menenangkan.
“Aah, maaf maaf! Habis, saking senangnya. Ternyata murid sekolah yang aku impi-impikan itu ada sedekat ini! Apalagi dia ketua Dewan Perguruan Siswa, yang membawahi seluruh Dewan Siswa bagian sekolah. Itu jabatan terkeren yang pernah ada bagiku!!” jelas Lisha panjang lebar.
“Ahaha, tidak sekeren namanya, kok. Soalnya tugasnya banyak sekali sampai ingin nangis, tahu” gerutu Russell pura-pura sedih.
“Ah, begitu, ya...” Lisha langsung lemas menanggapi, kemudian memuji lagi. “Tapi sungguh, kau sangat hebat. Ditambah lagi kau seorang Tuan Muda, membuatku semakin silau melihatmu”
Russell tertawa. “Sudah, ah. Jangan memuji berlebihan. Nanti aku jadi ge-er, nih!” lanjutnya.
“Baiklah, baik! Habis aku senang sekali!” seru Lisha untuk yang terakhir kali.
Kini mereka sama-sama terdiam, menikmati pemandangan danau yang masih dipenuhi kunang-kunang, namun tidak sebanyak saat mereka datang tadi.
“Kunang-kunangnya mulai menghilang...” Lisha menerangkan situasi.
“Ya... umur mereka pendek sekali, ya...” Russell menanggapi. Lisha mengangguk.
“Hei, Russell...” panggil Lisha.
“Ya?” sahutnya.
“Aku senang bertemu denganmu. Ini pertama kalinya aku bertemu tamu yang seumur denganku. Semoga betah, ya!” kata Lisha sambil tersenyum.
Russell kaget sekilas, kemudian tersenyum. Lalu ia kembali melihat pemandangan.
“Tenang saja. Aku betah selama apa pun disini. Karena desa ini sudah seperti kampung halamanku di masa lalu” jelas Russell.
Lisha melihat ke arah Russell, melihat matanya. Mata berwarna karamel itu terlihat indah, namun memancarkan aura sedih yang bisa ia rasakan. Begitu dalam. Saking dalamnya, ia sendiri hampir menangis. Angin pun bertiup perlahan.
“Ada apa? Matamu kemasukan debu, ya?” tanya Russell begitu menyadari perubahan sikap Lisha.
“Ah, tidak... bukan begitu...” Lisha langsung gugup, kemudian menghapus airmatanya yang sedikit keluar. Russell melihatnya sedih.
“Apa kata-kataku ada yang membuatmu sedih...?” tanya Russell dengan nada sedikit sedih.
“Tidak, sama sekali bukan seperti itu!” Lisha menggeleng dengan cepat. “Aku... bisa melihat dari matamu. Kesedihanmu...”
Russell terkejut. Ia tidak menyangka wanita ini menyadari sesuatu darinya. Sesuatu yang memang membuatnya sedih belakangan ini. Ia memejamkan mata sesaat, dan melihat langsung mata Lisha.
“Kau menyadarinya, ya...”
Lisha mengangguk. “Kau sedang mencari sesuatu. Ah bukan... mencari seseorang...” jelas Lisha membalas tatapannya.
“Ya, kau benar...” Russell kembali melihat ke arah danau. “Aku sedang mencari orangtua angkatku...”
“Eh...?” Lisha terkejut.
“Desa ini adalah tempat lahir Ibu angkatku. Saat masih kecil aku sering datang kemari, meski daerah ini masih agak asing bagiku. Dan kudengar mereka tinggal di sini sekarang. Hanya saja karena sudah sangat lama, aku tidak ingat dimana tempatnya meski masih sedikit ingat seperti apa rumah itu...” jelas Russell.
“Memangnya apa yang terjadi dengan orangtua kandungmu?” tanya Lisha hati-hati. Namun Russell menggeleng, tak ingin menceritakan apa yang terjadi.
“Yang pasti, aku tidak ingin lagi bersama mereka. Karena tempat itu sudah seperti neraka bagiku. Tapi sebagai pewaris, aku juga tidak bisa meninggalkan London. Karenanya, aku ingin menjemput mereka kembali” jelas Russell.
“Begitu, ya...”
Lisha terdiam, berpikir sesuatu. Ia memang tidak seharusnya tahu apa yang terjadi, dan tidak memahami apa yang dipikirkan oleh orang-orang seperti keluarga Russell. Tapi hanya satu yang ia tahu, bahwa ia lebih mendapatkan kenyamanan bersama keluarga ‘yang satu lagi’ dibanding keluarga ‘sebenarnya’. Dan kenyamananlah yang terpenting baginya saat ini.
“Baiklah! Aku akan membantumu!” teriak Lisha tiba-tiba.
“.... Hah...?” Russell terkejut.
“Aku akan membantumu mencari kedua orangtuamu. Tenang saja!”
“Ta, tapi...”
“Tidak apa-apa! Kau bisa mengandalkanku, kok! Aku mengenal semua bagian di desa ini, serta mengenal sebagian besar penduduk di desa ini serta desa sekitar sini. Serahkan padaku!”
Lisha mengatakannya sambil tersenyum tulus, dan Russell begitu terpana melihat senyuman itu. Ia tidak menyangka bahwa, ia akan disemangati dan dibantu oleh orang yang baru dikenalnya beberapa jam yang lalu itu. Tanpa sadar, tangannya telah meraih dan mengelus kepala Lisha dengan ramah.
“Mohon bantuannya, ya, Lisha”
“Ya! Serahkan saja padaku!” jawab Lisha bersemangat.
Itu adalah malam yang begitu indah. Kunang-kunang yang menerangi langit dan danau, kini sudah nyaris tidak terlihat lagi. Yang menyinari mereka hanyalah cahaya bulan dan bintang yang bertaburan dengan indahnya. Membentuk rasi bintang-rasi bintang yang serasi dan langka. Russell dan Lisha pun beranjak kembali ke penginapan, sambil menatap satu sama lain dengan ceria...

0 comment:

Posting Komentar

 

Diana Rachmawati Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template