Selasa, 06 September 2016

Wings of Melodies ~ Memories Edition - Chapter 20

D
i ruang Dewan Siswa, jam istirahat kedua. Angelica dan yang lainnya sedang mendengarkan penjelasan Johan mengenai pengajuan pendirian klub baru dari para siswa, program-program kegiatan siswa, festival sekolah, serta festival olahraga. Cecile dan Richard yang merupakan anggota baru mendengarkan baik-baik semua yang dijelaskan serta mengajukan beberapa pertanyaan.
Selama menjawab, Johan dibantu oleh Patricia untuk memberikan penjelasan mengenai pertanyaan tersebut. Sementara Angelica yang kebagian tugas sebagai notulen rapat hari itu mendengarkan dengan baik.
Tidak... sebenarnya, ia setengah mendengarkannya. Ia masih kepikiran dengan cerita Arthur saat istirahat pertama tadi.
‘Berarti... kejadian saat di ruang Kepala Sekolah waktu itu... bukan yang pertama kalinya... sebenarnya... apa yang terjadi dengan keluarga Johan...?’
Ia melirik ke arah Johan dengan jari-jarinya tetap mengetik apa yang dikatakannya. Ia terlihat begitu menawan, tegas, sekaligus serius menjelaskan di depan. Pandangan yang biasa diberikan oleh seorang cewek yang menyukai cowok yang ada di hadapannya.
“Sekarang, aku akan jelaskan tugas Grandvalley dan Alberto secara rinci. Angie, tolong diketik......”
Johan sedikit tidak percaya apa yang dilihatnya. Angelica yang sedang berhenti mengetik itu sedang melihat dirinya. Wajahnya begitu manis, dan entah kenapa terlihat bersinar. Ia melihatnya dengan pandangan antara khawatir dan senang.
“Angie, kau baik-baik saja?” tanya Johan sedikit bingung. Angelica langsung gelagapan.
“Ah, eh... tidak masalah!”
“Hah? Kau ini mendengarkan tidak, sih!?” Johan menaikkan suaranya.
“Tugas ini penting untuk Grandvalley dan Richard, jadi tolong catat baik-baik! Kau malah menatapku seperti itu. Kalau ada yang salah dengan wajahku, katakan saja!” seru Johan. Bingung menghadapinya, ia hanya menganga. Sementara anggota lain tertawa kecil.
“Sabrishion, aku tahu kau malu. Tapi jangan segalak itu dengannya” ledek Patricia.
“Kak Johan sangat keren saat serius. Mungkin itulah kenapa kak Angelica melihatmu dengan senang” lanjut Cecile.
“Kak Johan, hadapilah rasa malumu dengan wajar” tambah Richard sambil memejamkan mata.
“Ke, kenapa kalian malah menambahkan, sih!?” teriak Johan dengan nada malu-malu. Menanggapi, mereka bertiga tertawa cekikikan. Angelica yang masih bingung dengan situasi tersebut hanya memandangi mereka dengan penuh tanda tanya. Setelah suasana tersebut cair, mereka kembali ke work-mode.
Sembari Johan menjelaskan, pandangan Angelica tak bisa lepas darinya...

Sepuluh menit sebelum bel masuk, Angelica, Johan, dan Patricia baru turun dari lantai lima menuju lantai dua, dimana lantai kelas tiga berada. Kemudian pandangan mereka terpaku pada layar LCD besar yang ada di dekat tangga, yang berfungsi sebagai papan pengumuman serta majalah dinding sekolah. Para siswa berkerumun di depan layar tersebut. Mereka bertiga saling berpandangan.
“Ah, hari ini pengumuman tes awal semester kemarin, ya” seru Patricia mengingatkan.
“Hee, benar juga. Tumben selang satu hari” tambah Johan.
“Ah, memangnya biasanya langsung diumumkan, ya?” tanya Angelica.
“Biasanya sih, memang langsung diumumkan setelah pulang sekolah. Tapi... mungkin para guru sedang sibuk untuk memutuskan pergantian ketua Dewan Perguruan Siswa baru dan jadi terlupakan dengan tes ini” jelas Patricia.
“Memangnya sesulit itu, ya, memilih ketua Dewan Perguruan Siswa?” tanya Angelica.
“Seharusnya, sih, iya. Karena ruang lingkup organisasinya juga lebih luas, jadi mereka benar-benar harus memilih kandidatnya yang lebih diatas rata-rata. Karena itu, pengalaman organisasi saja tidak cukup. Kita harus menjalankan beberapa tes akademik, kepemimpinan, serta keadilan” jelas Johan.
“Kau pernah ikut, Johan?”
“Tentu saja setiap tahun aku ikut”
Angelica terkejut. Itu adalah hal yang pertama kalinya ia dengar.
“Setiap akhir tahun ajaran lama, Para staf Perguruan menerima pendaftaran para kandidat setiap ketua Dewan Perguruan Siswa maupun ketua Dewan Siswa setiap bagian sekolah. Dari situ dimulailah tesnya. Johan sempat ikut tes ketua Dewan Perguruan Siswa bersama Russell waktu SMP, tapi dia gagal di tes ketiga dan malah Russell yang terpilih. Dan akhirnya ia dialihkan untuk mengikuti tes menjadi ketua Dewan Siswa SMP, dan akhirnya diterima” jelas Patricia panjang lebar.
“Hee, kau sudah jadi ketua Dewan Siswa sejak SMP?” tanya Angelica pada Johan.
“Hanya saat kelas tiga SMP, sih. Soalnya dua tahun pertama... aku masih sibuk dengan peralihan tugas sebagai pewaris.....”
Kalimat Johan terdengar bingung, sekaligus seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Angelica paham hal itu, dan segera berganti topik.
“Tapi, kenapa tahun lalu, Johan bisa semudah itu memintaku jadi Wakilnya? Bukankah seharusnya yang menjadi wakil adalah yang menjadi peringkat kedua dari tes pemilihan itu?” tanya Angelica masih bingung.
“Tidak. Para pengurus lain dipilih langsung oleh aku yang jadi Ketua, tentunya sistem pemilihan maupun kriterianya ditentukan olehku sendiri. Itu adalah hak Ketua Dewan Perguruan maupun Ketua Dewan Siswa” jelas Johan.
“Waah, hebat. Pantas saja kau sangat objektif saat memilih pengurus baru kemarin” puji Angelica.
“Yaah, aku memang memilih Richard dan Grandvalley bukan hanya karena mereka anggota inti Dewan Siswa SMP tahun lalu, sih. Tapi mereka sudah membuktikan kemampuannya sendiri” jawab Johan sambil tersenyum puas.
“Sayangnya kita sebagai stafnya tidak boleh ikut andil dalam pemilihan, ya” tambah Patricia.
Ia menemukan satu lagi kelebihan Johan. Kini ia sama sekali tidak merasa Johan sama sekali tidak bisa diandalkan. Namun karena ia sendiri pun sudah membuktikan sampai batas maksimal kemampuannya. Ia tersenyum dengan senang mendengarnya.
“Hei, lihat. Sandoras si siswi lompat kelas itu peringkat satu!”
Mereka bertiga terkejut, dan menoleh ke sumber suara yang berasal dari kerumunan di depan papan pengumuman. Rupanya pengumuman yang dipampang di layar LCD besar itu adalah pengumuman nilai ujian awal semester.
“Waah, benar. Ethan dan Johan di peringkat kedua dan ketiga! Dan lagi, nilai mereka beda tipis!” seru yang lainnya.
“Hah!? Ethan!? Kapan dia ambil ujian awal semesternya!? Dia kan baru masuk hari ini!” protes Johan saat mendengar pengumuman itu.
“Mungkin karena itu pengumumannya telat sehari. Rupanya menunggu Ethan, ya” ujar Patricia menebak.
“Apa Ethan sebegitu kuatnya punya pengaruh di sekolah ini?” tanya Angelica.
“Guru-guru dari dulu banyak yang segan padanya. Mungkin karena itu saat mendengar Ethan pindah kembali kesini, mereka sangat menyambutnya” jawab Patricia sambil sedikit mendengus.
“Ngomong-ngomong, selamat Angelica. kau di peringkat pertama. Hebat, lho” tambah Patricia.
“Hehe, terima kasih. Tapi...”
Angelica melirik ke arah Johan, yang sedang menyuruh para siswa menyingkir dan melihat hasilnya sendiri. Kini ia benar-benar kesal hingga api membara di sekitar tubuhnya. Ia langsung berlari menuju kelas.
“Jo, Johan! Aduuuh, berantem lagi!? Patricia, aku duluan!”
“Iya. Berjuanglah, Angelica!”
“Berjuang!? Oh iya, aku harus berjuang menghentikannya!” Angelica langsung lari menuju kelasnya.
Patricia melihat punggung mereka, belum beranjak sedikitpun. Memandang punggung Angelica sampai akhirnya ia berbelok ke kelasnya. Memandang jauh dengan datar, sambil menggenggam mainan kalung yang tersimpan di balik seragamnya...
“Kurasa... aku harus melakukan sesuatu sekarang...”

TRONG TRENG TRANG TRONG!
Bel pulang sekolah pun berbunyi. Angelica menelungkupkan badannya dengan lemas dan capek setelah berjuang keras menghentikan pertengkaran Johan dan Ethan sejak jam istirahat kedua hingga pelajaran terakhir ini.
“Berdiri, salam”
“Terima kasih banyak!”
Guru pun beranjak dari mejanya, kemudian kembali ke arah para murid.
“Oh, iya. Kalian semua jangan pulang dulu. Karena ada pengumuman dari Kepala Yayasan dan diminta untuk berkumpul di Aula Utama”
Setelah memberi pengumuman tersebut, sang guru keluar dari kelas. Karena pengumuman itu, para murid jadi saling bicara.
“Dari Ketua Yayasan?”
“Jangan-jangan, soal pemilihan Ketua Dewan Perguruan Siswa baru?”
“Masa, sih? Bukankah langsung digantikan sama yang dapat peringkat kedua dari pengujian kandidat?”
Mendengar perbincangan itu, Johan langsung panas.
“Hei, sudah, sudah! Ayo, semuanya pergi ke Aula! Kita akan dengar nanti dari Kepala!”
Mendengar instruksi Johan, teman-teman sekelasnya pun beranjak dari kelas. Angelica juga penasaran dengan pengumuman tersebut. Dan Ethan meliriknya dengan tajam...

Di Aula Utama Perguruan, Angelica dan yang lainnya terkejut hingga bola matanya hampir keluar. Mereka nyaris tidak percaya dengan pengumuman yang baru saja diberikan oleh Kepala Yayasan kepada semua murid di sekolah. Tidak, seluruh bagian sekolah.
“Sekali lagi saya umumkan, Ketua Dewan Perguruan Siswa yang baru adalah... Ethan Miller!!”
Angelica duduk mematung di tempatnya. Ia terbengong dengan mata terbuka lebar dan mulut menganga. Ini berarti, keberadaan Ethan di sekolah ini memang begitu berpengaruh bahkan hingga ke petinggi-petinggi sekolah. Memangnya dia pernah berjasa apa, sih, di sekolah ini...?
“Perkenalkan, saya Ethan Farnes Evolian Miller. Mulai tahun ini saya akan menjalani tugas sebagai Ketua Dewan Perguruan Siswa. Mohon bantuannya!”
Angelica masih tidak percaya, hingga dalam hati ia berteriak...

‘Ini... tidak mungkin, kaaaann!!?’

0 comment:

Posting Komentar

 

Diana Rachmawati Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template