|
D
|
i ruang Dewan Siswa, jam istirahat
kedua. Angelica dan yang lainnya sedang mendengarkan penjelasan Johan mengenai
pengajuan pendirian klub baru dari para siswa, program-program kegiatan siswa,
festival sekolah, serta festival olahraga. Cecile dan Richard yang merupakan
anggota baru mendengarkan baik-baik semua yang dijelaskan serta mengajukan
beberapa pertanyaan.
Selama menjawab, Johan dibantu oleh Patricia untuk
memberikan penjelasan mengenai pertanyaan tersebut. Sementara Angelica yang
kebagian tugas sebagai notulen rapat hari itu mendengarkan dengan baik.
Tidak... sebenarnya, ia
setengah mendengarkannya. Ia masih kepikiran dengan cerita Arthur saat
istirahat pertama tadi.
‘Berarti... kejadian saat di
ruang Kepala Sekolah waktu itu... bukan yang pertama kalinya... sebenarnya...
apa yang terjadi dengan keluarga Johan...?’
Ia melirik ke arah Johan dengan
jari-jarinya tetap mengetik apa yang dikatakannya. Ia terlihat begitu menawan,
tegas, sekaligus serius menjelaskan di depan. Pandangan yang biasa diberikan
oleh seorang cewek yang menyukai cowok yang ada di hadapannya.
“Sekarang, aku akan jelaskan
tugas Grandvalley dan Alberto secara rinci. Angie, tolong diketik......”
Johan sedikit tidak percaya apa
yang dilihatnya. Angelica yang sedang berhenti mengetik itu sedang melihat
dirinya. Wajahnya begitu manis, dan entah kenapa terlihat bersinar. Ia
melihatnya dengan pandangan antara khawatir dan senang.
“Angie, kau baik-baik saja?”
tanya Johan sedikit bingung. Angelica langsung gelagapan.
“Ah, eh... tidak masalah!”
“Hah? Kau ini mendengarkan tidak,
sih!?” Johan menaikkan suaranya.
“Tugas ini penting untuk
Grandvalley dan Richard, jadi tolong catat baik-baik! Kau malah menatapku
seperti itu. Kalau ada yang salah dengan wajahku, katakan saja!” seru Johan.
Bingung menghadapinya, ia hanya menganga. Sementara anggota lain tertawa kecil.
“Sabrishion, aku tahu kau malu.
Tapi jangan segalak itu dengannya” ledek Patricia.
“Kak Johan sangat keren saat
serius. Mungkin itulah kenapa kak Angelica melihatmu dengan senang” lanjut
Cecile.
“Kak Johan, hadapilah rasa
malumu dengan wajar” tambah Richard sambil memejamkan mata.
“Ke, kenapa kalian malah
menambahkan, sih!?” teriak Johan dengan nada malu-malu. Menanggapi, mereka
bertiga tertawa cekikikan. Angelica yang masih bingung dengan situasi tersebut
hanya memandangi mereka dengan penuh tanda tanya. Setelah suasana tersebut
cair, mereka kembali ke work-mode.
Sembari Johan menjelaskan,
pandangan Angelica tak bisa lepas darinya...
Sepuluh menit sebelum bel
masuk, Angelica, Johan, dan Patricia baru turun dari lantai lima menuju lantai
dua, dimana lantai kelas tiga berada. Kemudian pandangan mereka terpaku pada
layar LCD besar yang ada di dekat tangga, yang berfungsi sebagai papan
pengumuman serta majalah dinding sekolah. Para siswa berkerumun di depan layar
tersebut. Mereka bertiga saling berpandangan.
“Ah, hari ini pengumuman tes
awal semester kemarin, ya” seru Patricia mengingatkan.
“Hee, benar juga. Tumben selang
satu hari” tambah Johan.
“Ah, memangnya biasanya
langsung diumumkan, ya?” tanya Angelica.
“Biasanya sih, memang langsung
diumumkan setelah pulang sekolah. Tapi... mungkin para guru sedang sibuk untuk
memutuskan pergantian ketua Dewan Perguruan Siswa baru dan jadi terlupakan
dengan tes ini” jelas Patricia.
“Memangnya sesulit itu, ya,
memilih ketua Dewan Perguruan Siswa?” tanya Angelica.
“Seharusnya, sih, iya. Karena
ruang lingkup organisasinya juga lebih luas, jadi mereka benar-benar harus
memilih kandidatnya yang lebih diatas rata-rata. Karena itu, pengalaman
organisasi saja tidak cukup. Kita harus menjalankan beberapa tes akademik,
kepemimpinan, serta keadilan” jelas Johan.
“Kau pernah ikut, Johan?”
“Tentu saja setiap tahun aku
ikut”
Angelica terkejut. Itu adalah
hal yang pertama kalinya ia dengar.
“Setiap akhir tahun ajaran
lama, Para staf Perguruan menerima pendaftaran para kandidat setiap ketua Dewan
Perguruan Siswa maupun ketua Dewan Siswa setiap bagian sekolah. Dari situ
dimulailah tesnya. Johan sempat ikut tes ketua Dewan Perguruan Siswa bersama
Russell waktu SMP, tapi dia gagal di tes ketiga dan malah Russell yang
terpilih. Dan akhirnya ia dialihkan untuk mengikuti tes menjadi ketua Dewan
Siswa SMP, dan akhirnya diterima” jelas Patricia panjang lebar.
“Hee, kau sudah jadi ketua
Dewan Siswa sejak SMP?” tanya Angelica pada Johan.
“Hanya saat kelas tiga SMP,
sih. Soalnya dua tahun pertama... aku masih sibuk dengan peralihan tugas
sebagai pewaris.....”
Kalimat Johan terdengar
bingung, sekaligus seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Angelica paham hal
itu, dan segera berganti topik.
“Tapi, kenapa tahun lalu, Johan
bisa semudah itu memintaku jadi Wakilnya? Bukankah seharusnya yang menjadi
wakil adalah yang menjadi peringkat kedua dari tes pemilihan itu?” tanya
Angelica masih bingung.
“Tidak. Para pengurus lain
dipilih langsung oleh aku yang jadi Ketua, tentunya sistem pemilihan maupun
kriterianya ditentukan olehku sendiri. Itu adalah hak Ketua Dewan Perguruan
maupun Ketua Dewan Siswa” jelas Johan.
“Waah, hebat. Pantas saja kau
sangat objektif saat memilih pengurus baru kemarin” puji Angelica.
“Yaah, aku memang memilih
Richard dan Grandvalley bukan hanya karena mereka anggota inti Dewan Siswa SMP
tahun lalu, sih. Tapi mereka sudah membuktikan kemampuannya sendiri” jawab
Johan sambil tersenyum puas.
“Sayangnya kita sebagai stafnya
tidak boleh ikut andil dalam pemilihan, ya” tambah Patricia.
Ia menemukan satu lagi
kelebihan Johan. Kini ia sama sekali tidak merasa Johan sama sekali tidak bisa
diandalkan. Namun karena ia sendiri pun sudah membuktikan sampai batas maksimal
kemampuannya. Ia tersenyum dengan senang mendengarnya.
“Hei, lihat. Sandoras si siswi
lompat kelas itu peringkat satu!”
Mereka bertiga terkejut, dan
menoleh ke sumber suara yang berasal dari kerumunan di depan papan pengumuman.
Rupanya pengumuman yang dipampang di layar LCD besar itu adalah pengumuman nilai
ujian awal semester.
“Waah, benar. Ethan dan Johan
di peringkat kedua dan ketiga! Dan lagi, nilai mereka beda tipis!” seru yang
lainnya.
“Hah!? Ethan!? Kapan dia ambil
ujian awal semesternya!? Dia kan baru masuk hari ini!” protes Johan saat
mendengar pengumuman itu.
“Mungkin karena itu
pengumumannya telat sehari. Rupanya menunggu Ethan, ya” ujar Patricia menebak.
“Apa Ethan sebegitu kuatnya
punya pengaruh di sekolah ini?” tanya Angelica.
“Guru-guru dari dulu banyak
yang segan padanya. Mungkin karena itu saat mendengar Ethan pindah kembali
kesini, mereka sangat menyambutnya” jawab Patricia sambil sedikit mendengus.
“Ngomong-ngomong, selamat
Angelica. kau di peringkat pertama. Hebat, lho” tambah Patricia.
“Hehe, terima kasih. Tapi...”
Angelica melirik ke arah Johan,
yang sedang menyuruh para siswa menyingkir dan melihat hasilnya sendiri. Kini
ia benar-benar kesal hingga api membara di sekitar tubuhnya. Ia langsung
berlari menuju kelas.
“Jo, Johan! Aduuuh, berantem
lagi!? Patricia, aku duluan!”
“Iya. Berjuanglah, Angelica!”
“Berjuang!? Oh iya, aku harus
berjuang menghentikannya!” Angelica langsung lari menuju kelasnya.
Patricia melihat punggung
mereka, belum beranjak sedikitpun. Memandang punggung Angelica sampai akhirnya
ia berbelok ke kelasnya. Memandang jauh dengan datar, sambil menggenggam mainan
kalung yang tersimpan di balik seragamnya...
“Kurasa... aku harus melakukan
sesuatu sekarang...”
TRONG TRENG TRANG TRONG!
Bel pulang sekolah pun
berbunyi. Angelica menelungkupkan badannya dengan lemas dan capek setelah
berjuang keras menghentikan pertengkaran Johan dan Ethan sejak jam istirahat
kedua hingga pelajaran terakhir ini.
“Berdiri, salam”
“Terima kasih banyak!”
Guru pun beranjak dari mejanya,
kemudian kembali ke arah para murid.
“Oh, iya. Kalian semua jangan
pulang dulu. Karena ada pengumuman dari Kepala Yayasan dan diminta untuk
berkumpul di Aula Utama”
Setelah memberi pengumuman
tersebut, sang guru keluar dari kelas. Karena pengumuman itu, para murid jadi
saling bicara.
“Dari Ketua Yayasan?”
“Jangan-jangan, soal pemilihan
Ketua Dewan Perguruan Siswa baru?”
“Masa, sih? Bukankah langsung
digantikan sama yang dapat peringkat kedua dari pengujian kandidat?”
Mendengar perbincangan itu,
Johan langsung panas.
“Hei, sudah, sudah! Ayo,
semuanya pergi ke Aula! Kita akan dengar nanti dari Kepala!”
Mendengar instruksi Johan,
teman-teman sekelasnya pun beranjak dari kelas. Angelica juga penasaran dengan
pengumuman tersebut. Dan Ethan meliriknya dengan tajam...
Di Aula Utama Perguruan,
Angelica dan yang lainnya terkejut hingga bola matanya hampir keluar. Mereka
nyaris tidak percaya dengan pengumuman yang baru saja diberikan oleh Kepala
Yayasan kepada semua murid di sekolah. Tidak, seluruh bagian sekolah.
“Sekali lagi saya umumkan,
Ketua Dewan Perguruan Siswa yang baru adalah... Ethan Miller!!”
Angelica duduk mematung di
tempatnya. Ia terbengong dengan mata terbuka lebar dan mulut menganga. Ini
berarti, keberadaan Ethan di sekolah ini memang begitu berpengaruh bahkan
hingga ke petinggi-petinggi sekolah. Memangnya dia pernah berjasa apa, sih, di
sekolah ini...?
“Perkenalkan, saya Ethan Farnes
Evolian Miller. Mulai tahun ini saya akan menjalani tugas sebagai Ketua Dewan
Perguruan Siswa. Mohon bantuannya!”
Angelica masih tidak percaya,
hingga dalam hati ia berteriak...
‘Ini... tidak mungkin,
kaaaann!!?’
0 comment:
Posting Komentar