G
|
adis kecil dan anak laki-laki itu saling
berhadapan, dengan sebuah kotak yang diberikan olehnya pada si gadis itu. Ia
hanya bisa menatap kebingungan.
“Kenapa... diberikan untukku...?” tanya
gadis itu penasaran.
“Karena... kamu sudah memenuhi
persyaratanku” jawab laki-laki itu.
“Persyaratan?” tanya gadis itu bingung.
“Ahaha...” laki-laki itu bingung
menjelaskannya. “Yaah, sebenarnya... aku memang belum yakin apakah suatu saat
nanti kau akan menerimaku apa adanya. Aku juga memberimu kotak ini tanpa
menanyakan perasaanmu lebih dulu” lanjutnya.
“Aku suka, kok !” seru gadis itu.
“Heh?” anak laki-laki itu terkejut.
“Aku suka saat bersamamu! Tapi... mungkin
nanti aku yang dibenci karena sifatku ini” kata gadis itu dengan nada sedih.
“Maksudmu?” kini gantian anak laki-laki
itu yang tidak mengerti.
“Habis, sejak tadi kau marah padaku.
Walau begitu aku ingin bersamamu, karena aku suka bersamamu...!”
Anak laki-laki itu terpana mendengar
jawabannya, kemudian tersenyum senang. Terlihat bahwa ia puas mendengar
jawabannya.
“Baiklah, begini saja” ia memberi solusi lain. “Aku akan tetap
berikan ini padamu”
“Eh...?” gadis kecil itu menerimanya
dengan bingung.
“Jika saatnya tiba... tidak, jika kita
bertemu lagi... kita akan buka kotak ini dengan kunci ini” kata anak itu sambil
menunjukkan kunci pasangannya padanya.
“Hee? Lalu kunci itu...?” tanya gadis
kecil itu bingung.
“Kunci ini akan kupegang sampai saat
itu. Karenanya...” ia mengulurkan tangannya. “Ayo bertemu lagi!”
Gadis kecil itu terlihat bahagia. Ia pun
membalas uluran tangan itu dengan menyalaminya...
“Ng!!”
‘Aku penasaran... sudah berapa
lama hari itu berlalu...’
“... e...”
‘dan lagi, laki-laki itu... dan
tempat itu’
“... Ngie...!”
‘... aku sama sekali tidak
ingat...’
“Angie, bangun!”
Angelica langsung bangkit dari
mejanya, dan terdengar suara bel masuk sekolah yang berbunyi sedetik kemudian.
Ia celingak-celinguk melihat sekeliling, dan mendapati Johan yang duduk di
sebelahnya, yang terkejut melihatnya.
“Ah... sejak kapan aku tidur di
kelas...?” tanyanya pada diri sendiri.
“Yang kuingat, saat aku tiba
disini kau sudah tidur” jawab Johan sambil mengeluarkan pad tab dari tasnya.
“Masa...? oh, iya, ya...” Angelica
menepuk dahi.
“Ada apa? Kalau segitunya ingin
lanjut tidur, lanjutkan saja di asrama” gerutu Johan sebal.
“Kenapa sebal begitu, sih? Aku
tidak mau terlambat ke sekolah, makanya aku datang lebih a...”
DRAK!
Suara itu mengejutkan mereka
berdua, yang membuat mereka beralih pandangan ke sumber suara, yaitu orang yang
datang di depan meja Johan sambil terengah-engah.
“Saaafe!” serunya sambil
mengacungkan ‘peace’ pada mereka yang melihatnya.
“Kau ini tersesat dimana, sih?
Selalu saja datang saat bel, Arthur!” gerutu Johan pada Arthur yang masih
menaruh badannya di atas mejanya yang kini di depan Angelica, kecapekan.
Johan dan Angelica bertukar
kursi sesuai permintaan Wali Kelasnya di homeroom jam terakhir sekolah kemarin,
sehingga kini Angelica dan Arthur yang duduk di pinggir jendela. Dan Johan
duduk di tempat Angelica sebelumnya, di sebelahnya.
“Walau buta arah, aku masih
hafal jalan ke sekolah, tahu! Banyak laporan kerjaan masuk ke emailku dan harus
beres minggu ini. Mabuk laporan, nih!” jawab Arthur yang sudah merasa setengah
nyawanya melayang.
“Ahaha... kau baik-baik saja?
Ada yang bisa kubantu?” tawar Angelica ragu-ragu.
“Benarkah!? Kau mau membantuku,
Angelica!?” seru Arthur dengan mata berbinar-binar.
“Eeeh, kalau kau berkenan
tentunya...” jawab Angelica pelan.
“Tentu saja aku berkenan
seratus persen! Kebetulan aku baru kehilangan asisten, jadi aku menerima
tawaranmu dengan tangan terbuka! Angelica, maukah kau jadi asistenku!?” tawar
Arthur dengan mata masih berbinar.
“Hmm, baiklah. Dengan senang
hati” jawab Angelica sambil tersenyum.
“Kenapa malah balik nawarin,
sih? Dan Angie. Bukankah kau masih kerja part-time dengan Harry?” tanya Johan
penasaran.
“Ah, kontrakku dengan Harry
hanya setahun. Tadinya ia ingin memperpanjang lagi, tapi setelah kejadian itu,
aku meminta agar aku bisa berhenti” jelas Angelica.
“Kau yang meminta?” tanya Johan
dengan bingung. Namun kemudian menyadari hal penting yang membuatnya berhenti.
Angelica hanya tersenyum.
“Hee, kau kerja part-time?
Keluargamu?” tanya Arthur bingung.
Angelica mengalihkan
senyumannya pada Arthur. “Aku baru mau ‘membangun kembali’ usaha keluargaku”
jawabnya kemudian.
Arthur sedikit bingung. Ia
berpikir sesaat, dan baru menyadari sesuatu yang penting.
“Ah, Sandoras, ya!?
Jangan-jangan, Sandoras Farm Corp yang bangkrut!? Kau... pewarisnya!?” seru
Arthur.
“Ti, tidak usah seterkejut
itu..! Toh, memang itu yang terjadi” jawab Angelica gugup.
“Yaah, aku memang terkejut. Aku
tidak pernah menyangka kau Sandoras yang itu” terang Arthur sambil duduk di
bangkunya dan meminum susu rasa melon yang disimpan di kantong blazernya.
“Seharusnya dari nama
keluarganya kau sadar itu, kan?” tanya Johan, dan pertanyaan itu mengakhiri
pembicaraan mereka seiring masuknya Wali Kelas mereka.
“Semuanya, duduk!” serunya di
depan kelas. Para siswa langsung memperhatikan di depan kelas.
“Mulai hari ini kita kedatangan
murid baru. Seharusnya ia datang kemarin, tetapi karena ia baru kembali dari
luar negeri dan lamanya proses pengurusan kepindahannya, ia baru datang hari
ini” jelas wali kelas.
Mendengar info tersebut, para
siswa mulai berbicara kembali.
“Murid pindahan? Sudah kelas
tiga, lho!”
“Kalau dia murid biasa, bisa
mengulang setahun lagi, tuh!”
Mendengar hal itu, Angelica
terkejut.
“Mengulang... setahun...?”
tanyanya ragu.
“Memang, sih, pindah ke sekolah
ini di tahun terakhir sekolah sama saja bunuh diri” Johan beropini dengan
malas.
“Dan kalau kita mengulang
setahun, susah banget untuk bisa diterima di universitas negeri” sambung Arthur
merinding.
Komentar keduanya membuat
Angelica makin pias. Sebegitu sulitnyakah lulus dari sekolah ini? Mungkin aku
sudah salah loncat kelas! pikirnya takut.
“Baiklah, silakan masuk!” seru
wali kelas kemudian.
Murid pindahan itu menjawab
‘Ya’ dari luar, dan masuk perlahan.
Para siswa dan siswi mulai
saling berkomentar lagi satu sama lain. Murid pindahan itu laki-laki, dan sudah
mengenakan seragam sekolah mereka. Diantara para siswi, ada yang tersipu malu
dan samar-samar berkomentar bahwa ia adalah murid yang keren.
Namun hal itu berbeda dengan
Angelica dan Johan. Mereka terkejut, saking terkejutnya wajah mereka berubah
pucat. Terlebih lagi, Johan yang geram karena harus melihat laki-laki itu
‘lagi’ di sekolah ini padahal ia sudah tak ingin bertemu dengannya. Sementara
Angelica, ia masih bertanya-tanya di dalam kepalanya. Kenapa harus ‘dia’ yang
pindah kesini.
Murid baru itu kemudian mengetik
namanya dengan keyboard yang ada di atas meja guru yang tersambung di layar LCD.
Setelah itu, kembali melihat ke arah para siswa, dan memperkenalkan diri.
“Selamat pagi. Saya Ethan
Farnes Evolian Miller. Sampai kelas 2 SMP, saya bersekolah disini, namun
kemudian harus pindah ke Belanda karena urusan pekerjaan. Mohon bantuan
semuanya!”
Mendengarnya, para siswa
kembali riuh.
“Ethan Miller? Dia pernah
sekolah disini!?”
“Jangan-jangan Ethan Miller
yang itu!?”
“Serius!? Dia sudah balik lagi
ke London!? sekilas aku tidak mengenalnya!”
“Semuanya, harap diam! Baiklah,
Miller. Kursimu di tempat yang kosong itu, di sebelah Sabrishion” terang wali
kelas padanya.
“Haah!? Di sebelahnya!? Tidak sudi!”
seru Johan sambil berdiri dari kursinya.
Ethan terkejut sekilas,
terlebih saat melihat Angelica yang duduk persis di sebelah Johan. Saat bertemu
pandang dengannya, Angelica langsung mengalihkan pandangannya ke jendela.
“Ada apa, Sabrishion!? Ada masalah?”
tanya wali kelas.
“Maaf, Bu” Ethan menyanggah.
“Aku ingin duduk di sebelah Sandoras. Bisa minta Sabrishion untuk pindah ke
kursi yang Ibu minta aku duduk disana?” tanyanya dengan sopan. Sang Wali Kelas
terkejut sekilas.
“Kenapa kau malah suruh aku
yang pindah!?” seru Johan protes.
“Hmm? Kau mengenal Sandoras,
apa itu alasannya?” tanya wali kelas.
“Sangat mengenalnya. Lagipula,
dia tunanganku” jawab Ethan tenang.
Para siswa berseru ‘EEEEHH!?!?’
hingga memenuhi ruangan, dan semua pandangan beralih ke Angelica. Ia juga
langsung terkejut, dan agak takut dengan pandangan tajam mereka padanya. Dengan
nada bingung nan panik, ia lalu berusaha mencairkan suasana.
“Ti, tidak seperti itu, kok,
Bu! Ini Cuma salah pa...!”
“Ooh, jadi pertunangan yang
sudah berjalan selama empat tahun ini cuma ‘Candaan’ bagimu, Angelica?” tanya
Ethan, dengan nada mengintimidasi.
Para siswi kemudian
memandangnya lagi, lebih tajam. Angelica jadi semakin tidak berdaya. Ia panik
setengah mati bagaimana mencairkan suasana itu, karena kalimat Ethan jelas
malah makin memperkeruh suasana.
“Sekalipun kau tunangannya, kau
hanyalah tunangan yang diputuskan oleh keluarga! Angie milikku! Tidak akan
kuserahkan padamu!” seru Johan membela diri. Hal itu membuat Angelica makin bingung.
Ia merasa pusing.
“Aku sudah bilang, kan?
Sekalipun kau berpacaran dengan Angelica, itu tetap tidak mengubah status
hubunganku dengannya yang lebih tinggi darimu. Lagipula, Angelica sudah setuju,
bukan?” jawab Ethan sambil bertanya balik.
“Tu, tunggu! Aku sudah bilang
kalau aku ingin memutuskan tali pertunangan ini, kan!?” Angelica membantah.
“Kau hanya baru ‘ingin’, kan?
Bukan berarti pertunangan kita ‘sudah’ putus. Lagipula, cincin pertunangan kita
yang satunya lagi masih ada padamu” jelas Ethan.
Angelica terkejut. ia baru
menyadarinya. Benar juga, seharusnya saat aku ke pesta Ethan waktu di Berlin,
aku kembalikan cincin ini, pikirnya.
“Angie, kau belum
melakukannya!?” tanya Johan geram.
“Ma, mana mungkin aku sempat
memikirkan itu setelah semua hal yang terjadi!?” jawab Angelica membela diri.
“Mohon bantuanmu, Bu” Ethan
memohon pada wali kelasnya. Kemudian beliau menghela nafas, seakan-akan tidak
mempedulikan perdebatan kedua siswanya.
“Baiklah, kalau begitu...”
TRONG TRENG TRANG TRONG! Bel
jam istirahat pun berbunyi kemudian. Angelica, Johan, dan Ethan sama-sama
tumbang di bangku masing-masing, karena wali kelas akhirnya mengubah susunan
bangku mereka. Dimana Angelica yang tadinya duduk di pinggir jendela, bertukar
kursi dengan Johan dengan Ethan tetap duduk di bangku yang disuruh Wali Kelasnya
itu.
Selama jam pelajaran, Johan dan
Ethan bersaing keras dalam pelajaran, praktek lab sains, olahraga, sampai
pertandingan sepak bola yang dilakukan setelah jam olahraga selesai. Angelica
berusaha keras menghentikan mereka berdua yang sudah berusaha main baku hantam
setiap jam pelajaran selesai, hingga akhirnya ia pun ikut tumbang.
“Uugh, kalau hal ini terjadi
setiap hari, perang dunia ketiga bakalan pecah, nih~~” gumam Angelica lemas.
“Angie” panggil Johan kemudian.
“Ayo, makan siang. Kau pasti lapar setelah semua yang terjadi, kan?”
“Ah, aku...” ia ingin menolak
karena sedang badmood, tapi...
“Angelica, kau tidak seharusnya
menerima ajakannya di depan mataku, kan?” sela Ethan tiba-tiba.
“Hah!?” seru Johan sebal.
“Sebagai tunanganmu, aku tetap
tidak terima. Jadi, ayo kita makan siang bersama sekaligus menemaniku keliling
bagian SMA ini” ajak Ethan dan nada manis nan menggoda.
“Kalau kau mau keliling, minta pada
ketua kelas, sana. Tidak usah melibatkan Angie segala!” gerutu Johan kesal.
Mendengarnya, Angelica jadi
bingung. Sementara semua mata anak-anak sekelas tertuju pada mereka bertiga yang
saling berbisik. Ia berpikir keras, namun...
“Kalian tidak usah rebutan
begitu. Karena Angelica akan makan siang denganku!”
Seruan seseorang itu membuat
mereka beralih pandangan ke sumber suara, dan ia sudah memegang lengan Angelica
yang masih terkejut dengan kehadiran...
“Arthur!?”
... yang sejak tadi menunggu
kesempatan untuk membuka suara.
“Aku masih banyak urusan
pekerjaan, dan Angelica sudah setuju untuk jadi asistenku. Jadi aku yang akan
menemaninya makan siang” jelas Arthur sambil tersenyum penuh kemenangan.
Kemudian ia menarik lengan Angelica dan berlalu dari kelas tanpa peduli
wajahnya yang masih bingung dan terkejut, serta suara Johan dan Ethan yang
berteriak memanggil mereka...
Mereka sampai di kantin
sekolah. Kantin tersebut berada di sudut gedung sekolah sebelah barat. Cukup
luas untuk menampung setengah dari seluruh murid SMA sekolah ini. Bagian kantin
dibagi dua, yaitu kantin indoor dan kantin semi-outdoor. Disebut semi-outdoor
karena berada di luar gedung sekolah yang dibatasi dengan kaca dan tanaman
hias. Namun ada peraturan terselubung bahwa yang boleh ke kantin semi-outdoor
tersebut hanya para siswa yang mengikuti organisasi sekolah maupun perguruan,
walau nyatanya siswa biasa pun banyak yang berada disana.
Angelica dan Arthur langsung
mengambil jatah makanan mereka dan mengambil tempat di kantin semi-outdoor
tersebut. Mereka mengambil tempat agak di pojok karena tempat itu agak sepi dan
lebih rindang.
Begitu tiba di meja, Arthur
langsung merapikan berkas-berkas fisik kerjanya dan membuka tabletnya.
Sementara Angelica meletakkan makanannya dan menghela nafas dengan lelah.
“Sekolah masih berlanjut
setelah istirahat siang, lho. Bersemangatlah” Arthur berusaha menyemangatinya.
“Aah, iya. Oh, iya. Terima
kasih sudah menyelamatkanku dari mereka” ucap Angelica sambil sedikit
menundukkan kepalanya.
“Hahaha, ‘menyelamatkan’
terkesan sedikit jahat, lho. Mereka kan pacar dan tunanganmu” Arthur mulai
menyuap makanannya.
“Hmm, benar juga... tapi, aku
tidak menemukan kata yang lebih tepat selain itu...” Angelica kembali berpikir.
“Yaah, sudahlah tidak usah
dipikirkan. Sama-sama, lagipula aku sungguh-sungguh minta bantuanmu sekarang.
Karena saat pulang sekolah nanti, mereka pasti mencekokiku dengan pertanyaan
‘laporannya sudah selesai?’, dan itu membuatku merasa ingin makan mayonaise
saja” Arthur merinding takut.
“Hah, kok mayonaise?”
“Habis, makan mayonaise saja
tidak enak, kan? Hambar gimana, gitu”
“Ooh, begitu. Hahaha,
perumpamaan yang aneh!” Angelica tertawa dengan senang. Arthur tersenyum.
“Syukurlah, sudah kembali
ceria”
“Eh?”
“Habisnya sejak Ethan datang,
wajahmu kelihatan panik, sekaligus ada rasa takut yang kulihat”
Angelica berusaha berdalih.
“Ha, hanya perasaanmu saja, kok. Lagipula... masalahku dengan Ethan, dengan
Miller... seharusnya sudah selesai, tapi...”
Angelica kembali murung, dan
itu membuat Arthur penasaran.
“Ada yang masih mengganjal di
hatimu, ya?”
Angelica mengangguk dengan
ragu, tanpa jawaban. Arthur sedikit menghela nafas.
“Minoritas siswa di sekolah ini
sudah punya tunangan, termasuk juga Johan dan mendiang Russell. Tapi mayoritas
diantara mereka tak ada yang tahu siapa tunangannya karena semua itu diputuskan
oleh keluarga. Makanya, kau bersyukur telah mengetahuinya sejak awal, lho”
jelas Arthur sambil meminum air putih yang juga dibawanya. Angelica menggeleng.
“Pertunanganku... memang
diputuskan keluarga, tapi... aku dan Ethan memang sudah berteman sejak kecil.
Karena itu mereka ‘mengikat’ kami. Waktu itu kami sama sekali tidak keberatan
karena... kami memang saling menyukai...” Angelica menceritakannya dengan
pelan, dan hati-hati.
“Lalu, apa yang terjadi sampai
sekarang kau malah ingin bersama Johan?” tanya Arthur penasaran.
“Itu karena... Ethan
meninggalkanku di hari dinyatakan bangkrutnya perusahaan keluargaku... saat itu
aku hancur karena Ayahku menghilang bersamaan dengan hutang yang harus
keluargaku tanggung... perasaan itu berubah jadi kebencian padanya, tapi...
sekarang, aku justru meragukannya...”
Wajah Angelica berubah sedih,
namun wajah Arthur berubah datar. Ia kembali bertanya.
“Kudengar, kepergian Russell
ada hubungannya dengan kebangkrutan keluargamu. Tapi... apa itu juga ada
hubungannya dengan Ethan Miller...?”
Angelica tidak menjawab. Ia
hanya menyuap makanannya. Arthur yang diam menunggu jawaban sambil berusaha
menebak apa yang ada di pikirannya. Sepuluh detik tidak ada jawaban, ia memilih
untuk menyerah dan seketika kembali ceria.
“Yaah, yang penting sekarang
kau selesaikan dulu masalahmu dengan Miller, baru kau pikirkan Johan!”
Angelica sedikit terkejut
mendengar kalimat Arthur yang terdengar ceria. Ia mengangkat kepalanya, dan
melihat senyum yang tersungging di bibirnya, seakan pembicaraan barusan tidak
pernah terjadi.
“Yaah, aku memang tidak tahu
apa yang terjadi, tapi menurutku alasan kau ragu dengan Ethan adalah... karena
kau tidak yakin pada pilihanmu sendiri...”
“Aku... ragu dengan Ethan...?”
gumam Angelica sambil terkejut. Arthur tersenyum.
“Aku yakin, kau sudah tahu
alasan kenapa Ethan meninggalkanmu. Dan sejak saat itu kau justru jadi ragu
apakah keputusanmu sudah tepat, melupakan Ethan dan membuka lembaran baru
dengan Johan” tebak Arthur.
“Itu... benar, sih...” jawab
Angelica malu-malu.
“Aku cukup mengenal Johan.
Meski kami baru dekat saat SMA, tapi kami sudah berteman saat ia menjadi Ketua
Dewan Siswa SMP. Sementara Ethan... bahkan bagi kami para cowok, dia itu
perfect. Di masa SD dan SMP, ia selalu berada di peringkat satu mengalahkan
Russell. Dia memang agak dingin dan kata-katanya selalu menusuk, tapi tanpa
diduga dia adalah orang yang paling peduli dengan orang lain. Dengan kata lain,
Ethan dan Johan itu dua orang berbeda dengan pemikiran yang sama. Kau juga
berpikir begitu?” terang Arthur.
“... iya... mereka memang
seperti itu, sih...” gumam Angelica pelan.
“Maaf, aku berkata seperti ini
bukan untuk membela Ethan. Tapi... ia memang selalu melakukan segala hal lebih
baik dibanding Johan. Sebagai teman mereka, itulah penilaianku. Makanya saat
Russell dinobatkan sebagai Ketua Dewan Perguruan Siswa dan Johan sebagai Ketua
Dewan Siswa saat itu, diam-diam banyak yang protes. Namun Ethan dengan
santainya menjawab ‘Nggak masalah, kan? Toh mereka lebih baik dariku’... dia
mengatakannya sambil memandang jauh. Aku yakin sebenarnya ia ingin jadi
Ketua...” Arthur tersenyum.
Angelica mulai memahami sedikit
demi sedikit sisi Ethan yang selama ini tak pernah diketahuinya. Sisi Ethan
selama ia menjadi murid sekolah ini. Padahal Ethan yang ia kenal adalah dirinya
yang tegas dan selalu bisa diandalkan. Ia juga selalu ceria saat bersamanya.
Memang sejak ia menjadi pewaris, ia mulai berubah menjadi dingin, namun tetap
memperlakukannya seperti biasa. Mengetahui hal itu, Angelica hanya menjawab...
“Begitu, ya...”
Arthur, entah kenapa sedikit
lega telah menceritakan soal Ethan yang ia ketahui pada Angelica, walau
sebenarnya ia punya maksud tersendiri terhadapnya. Ia memang tidak membela
siapapun, terlebih kini Johan adalah teman dekatnya.
“Sementara Johan... ah, benar
juga, ya...” Arthur mengingat-ingat.
“Kenapa?” tanya Angelica
bingung.
“Yaah, menurutku Johan-lah yang
paling berubah drastis...” jawab Arthur sambil menunjuk ke arahnya. Angelica
jadi semakin tidak mengerti.
“Maksudmu...?”
“Hmm...” Arthur meneguk lemon
tea-nya dari sedotan, kemudian bicara lagi.
“Waktu SD, aku sering melihat
Johan di kelas. Ia tidak banyak bicara namun sangat pandai di pelajaran. Tapi
sejak Russell pindah ke sekolah ini, ia mulai berteman juga dengan yang
lainnya, walaupun waktunya lebih banyak mereka untuk berdua...” Arthur
mengambil salah satu berkas pekerjaan dan melihatnya, kemudian mengetik sesuatu
di tabletnya. Angelica juga mulai membantu.
“Lalu... apa yang terjadi?”
tanyanya penasaran.
Arthur tidak langsung menjawab.
Ia berhenti mengetik, dan mengepalkan salah satu tangannya, bergetar. Angelica
yang menyadarinya mulai khawatir.
“Arthur...?” panggil Angelica
pelan. Panggilan itu menyadarkannya, dan ia kembali melanjutkan ceritanya.
“Johan... dinyatakan sebagai
pewaris sejak masuk SMP... selama tahun pertama SMP-nya, ia berubah jadi
semakin pendiam dan agak emosional... tidak, bahkan ia sangat emosional...”
Badan Arthur semakin bergetar,
dan entah kenapa itu membuat Angelica sedikit takut mendengar kelanjutannya.
Namun rasa penasarannya jauh lebih memenuhi dirinya dibanding rasa takutnya. Ia
memilih diam, menunggu Arthur kembali bicara.
“Ia bahkan... tidak mengizinkan
siapapun menyentuhnya.... dan yang lebih heran lagi, ia tetap pakai seragam
musim dingin sekalipun musim panas... aku, serta para siswa lain tentu merasa
heran dengannya. Namun karena tak ada yang berani bicara padanya, kami membiarkannya
begitu saja... sampai suatu hari aku mengetahui, kalau...”
Arthur menghentikan kalimatnya.
Ia menaruh berkasnya perlahan dan menutup tabletnya. Ia sudah tidak fokus,
pikir Angelica. Melihat badan Arthur bergetar semakin hebat, membuatnya semakin
merasa takut. Ia juga mulai merasa tangannya bergetar.
“Suatu hari, Johan tidak masuk
sekolah dan juga tidak hadir di sekolah online selama beberapa hari. Aku
sebagai teman sekelasnya datang ke rumahnya membawa catatan selama ia tidak
masuk karena aku tidak bisa mengirim ke emailnya yang entah kenapa sedang
ditutup, sekaligus membawakan oleh-oleh... dan...”
Tiba-tiba ‘kejadian itu’
membuat Angelica terhenyak. Ia masih mengingat dengan jelas kejadian yang
terjadi di depan matanya itu. Ia sedikit shock. Entah kenapa ia sedikit sudah
bisa menebak apa yang akan dikatakan Arthur. Ia menundukkan kepala dalam-dalam,
tanpa tahu bahwa wajahnya berubah ketakutan.
“Saat...... aku kesana... ia...
melihatku yang shock menatapnya...... aku pun tak bisa... menyembunyikan kekagetanku...
karena ia... babak belur...... karena sedang...... dihajar Ayahnya sendiri.....”
terang Arthur sambil menggigit bibirnya.
Angelica semakin shock. Ia sama
sekali tidak pernah menyangka Johan menerima perlakuan itu sejak kecil. Tubuhnya
semakin bergetar, menahan teriakan yang ingin ia keluarkan bersama dengan air
matanya yang mulai jatuh...
0 comment:
Posting Komentar