Rabu, 17 Agustus 2016

Wings of Melodies ~ Memories Edition - Chapter 19

G
adis kecil dan anak laki-laki itu saling berhadapan, dengan sebuah kotak yang diberikan olehnya pada si gadis itu. Ia hanya bisa menatap kebingungan.
“Kenapa... diberikan untukku...?” tanya gadis itu penasaran.
“Karena... kamu sudah memenuhi persyaratanku” jawab laki-laki itu.
“Persyaratan?” tanya gadis itu bingung.
“Ahaha...” laki-laki itu bingung menjelaskannya. “Yaah, sebenarnya... aku memang belum yakin apakah suatu saat nanti kau akan menerimaku apa adanya. Aku juga memberimu kotak ini tanpa menanyakan perasaanmu lebih dulu” lanjutnya.

“Aku suka, kok !” seru gadis itu.
“Heh?” anak laki-laki itu terkejut.
“Aku suka saat bersamamu! Tapi... mungkin nanti aku yang dibenci karena sifatku ini” kata gadis itu dengan nada sedih.
“Maksudmu?” kini gantian anak laki-laki itu yang tidak mengerti.
“Habis, sejak tadi kau marah padaku. Walau begitu aku ingin bersamamu, karena aku suka bersamamu...!”
Anak laki-laki itu terpana mendengar jawabannya, kemudian tersenyum senang. Terlihat bahwa ia puas mendengar jawabannya.
“Baiklah, begini saja”  ia memberi solusi lain. “Aku akan tetap berikan ini padamu”
“Eh...?” gadis kecil itu menerimanya dengan bingung.
“Jika saatnya tiba... tidak, jika kita bertemu lagi... kita akan buka kotak ini dengan kunci ini” kata anak itu sambil menunjukkan kunci pasangannya padanya.
“Hee? Lalu kunci itu...?” tanya gadis kecil itu bingung.
“Kunci ini akan kupegang sampai saat itu. Karenanya...” ia mengulurkan tangannya. “Ayo bertemu lagi!”
Gadis kecil itu terlihat bahagia. Ia pun membalas uluran tangan itu dengan menyalaminya...
“Ng!!”

‘Aku penasaran... sudah berapa lama hari itu berlalu...’
“... e...”
‘dan lagi, laki-laki itu... dan tempat itu’
“... Ngie...!”
‘... aku sama sekali tidak ingat...’
“Angie, bangun!”
Angelica langsung bangkit dari mejanya, dan terdengar suara bel masuk sekolah yang berbunyi sedetik kemudian. Ia celingak-celinguk melihat sekeliling, dan mendapati Johan yang duduk di sebelahnya, yang terkejut melihatnya.
“Ah... sejak kapan aku tidur di kelas...?” tanyanya pada diri sendiri.
“Yang kuingat, saat aku tiba disini kau sudah tidur” jawab Johan sambil mengeluarkan pad tab dari tasnya.
“Masa...? oh, iya, ya...” Angelica menepuk dahi.
“Ada apa? Kalau segitunya ingin lanjut tidur, lanjutkan saja di asrama” gerutu Johan sebal.
“Kenapa sebal begitu, sih? Aku tidak mau terlambat ke sekolah, makanya aku datang lebih a...”
DRAK!
Suara itu mengejutkan mereka berdua, yang membuat mereka beralih pandangan ke sumber suara, yaitu orang yang datang di depan meja Johan sambil terengah-engah.
“Saaafe!” serunya sambil mengacungkan ‘peace’ pada mereka yang melihatnya.
“Kau ini tersesat dimana, sih? Selalu saja datang saat bel, Arthur!” gerutu Johan pada Arthur yang masih menaruh badannya di atas mejanya yang kini di depan Angelica, kecapekan.
Johan dan Angelica bertukar kursi sesuai permintaan Wali Kelasnya di homeroom jam terakhir sekolah kemarin, sehingga kini Angelica dan Arthur yang duduk di pinggir jendela. Dan Johan duduk di tempat Angelica sebelumnya, di sebelahnya.
“Walau buta arah, aku masih hafal jalan ke sekolah, tahu! Banyak laporan kerjaan masuk ke emailku dan harus beres minggu ini. Mabuk laporan, nih!” jawab Arthur yang sudah merasa setengah nyawanya melayang.
“Ahaha... kau baik-baik saja? Ada yang bisa kubantu?” tawar Angelica ragu-ragu.
“Benarkah!? Kau mau membantuku, Angelica!?” seru Arthur dengan mata berbinar-binar.
“Eeeh, kalau kau berkenan tentunya...” jawab Angelica pelan.
“Tentu saja aku berkenan seratus persen! Kebetulan aku baru kehilangan asisten, jadi aku menerima tawaranmu dengan tangan terbuka! Angelica, maukah kau jadi asistenku!?” tawar Arthur dengan mata masih berbinar.
“Hmm, baiklah. Dengan senang hati” jawab Angelica sambil tersenyum.
“Kenapa malah balik nawarin, sih? Dan Angie. Bukankah kau masih kerja part-time dengan Harry?” tanya Johan penasaran.
“Ah, kontrakku dengan Harry hanya setahun. Tadinya ia ingin memperpanjang lagi, tapi setelah kejadian itu, aku meminta agar aku bisa berhenti” jelas Angelica.
“Kau yang meminta?” tanya Johan dengan bingung. Namun kemudian menyadari hal penting yang membuatnya berhenti. Angelica hanya tersenyum.
“Hee, kau kerja part-time? Keluargamu?” tanya Arthur bingung.
Angelica mengalihkan senyumannya pada Arthur. “Aku baru mau ‘membangun kembali’ usaha keluargaku” jawabnya kemudian.
Arthur sedikit bingung. Ia berpikir sesaat, dan baru menyadari sesuatu yang penting.
“Ah, Sandoras, ya!? Jangan-jangan, Sandoras Farm Corp yang bangkrut!? Kau... pewarisnya!?” seru Arthur.
“Ti, tidak usah seterkejut itu..! Toh, memang itu yang terjadi” jawab Angelica gugup.
“Yaah, aku memang terkejut. Aku tidak pernah menyangka kau Sandoras yang itu” terang Arthur sambil duduk di bangkunya dan meminum susu rasa melon yang disimpan di kantong blazernya.
“Seharusnya dari nama keluarganya kau sadar itu, kan?” tanya Johan, dan pertanyaan itu mengakhiri pembicaraan mereka seiring masuknya Wali Kelas mereka.
“Semuanya, duduk!” serunya di depan kelas. Para siswa langsung memperhatikan di depan kelas.
“Mulai hari ini kita kedatangan murid baru. Seharusnya ia datang kemarin, tetapi karena ia baru kembali dari luar negeri dan lamanya proses pengurusan kepindahannya, ia baru datang hari ini” jelas wali kelas.
Mendengar info tersebut, para siswa mulai berbicara kembali.
“Murid pindahan? Sudah kelas tiga, lho!”
“Kalau dia murid biasa, bisa mengulang setahun lagi, tuh!”
Mendengar hal itu, Angelica terkejut.
“Mengulang... setahun...?” tanyanya ragu.
“Memang, sih, pindah ke sekolah ini di tahun terakhir sekolah sama saja bunuh diri” Johan beropini dengan malas.
“Dan kalau kita mengulang setahun, susah banget untuk bisa diterima di universitas negeri” sambung Arthur merinding.
Komentar keduanya membuat Angelica makin pias. Sebegitu sulitnyakah lulus dari sekolah ini? Mungkin aku sudah salah loncat kelas! pikirnya takut.
“Baiklah, silakan masuk!” seru wali kelas kemudian.
Murid pindahan itu menjawab ‘Ya’ dari luar, dan masuk perlahan.
Para siswa dan siswi mulai saling berkomentar lagi satu sama lain. Murid pindahan itu laki-laki, dan sudah mengenakan seragam sekolah mereka. Diantara para siswi, ada yang tersipu malu dan samar-samar berkomentar bahwa ia adalah murid yang keren.
Namun hal itu berbeda dengan Angelica dan Johan. Mereka terkejut, saking terkejutnya wajah mereka berubah pucat. Terlebih lagi, Johan yang geram karena harus melihat laki-laki itu ‘lagi’ di sekolah ini padahal ia sudah tak ingin bertemu dengannya. Sementara Angelica, ia masih bertanya-tanya di dalam kepalanya. Kenapa harus ‘dia’ yang pindah kesini.
Murid baru itu kemudian mengetik namanya dengan keyboard yang ada di atas meja guru yang tersambung di layar LCD. Setelah itu, kembali melihat ke arah para siswa, dan memperkenalkan diri.
“Selamat pagi. Saya Ethan Farnes Evolian Miller. Sampai kelas 2 SMP, saya bersekolah disini, namun kemudian harus pindah ke Belanda karena urusan pekerjaan. Mohon bantuan semuanya!”
Mendengarnya, para siswa kembali riuh.
“Ethan Miller? Dia pernah sekolah disini!?”
“Jangan-jangan Ethan Miller yang itu!?”
“Serius!? Dia sudah balik lagi ke London!? sekilas aku tidak mengenalnya!”
“Semuanya, harap diam! Baiklah, Miller. Kursimu di tempat yang kosong itu, di sebelah Sabrishion” terang wali kelas padanya.
“Haah!? Di sebelahnya!? Tidak sudi!” seru Johan sambil berdiri dari kursinya.
Ethan terkejut sekilas, terlebih saat melihat Angelica yang duduk persis di sebelah Johan. Saat bertemu pandang dengannya, Angelica langsung mengalihkan pandangannya ke jendela.
“Ada apa, Sabrishion!? Ada masalah?” tanya wali kelas.
“Maaf, Bu” Ethan menyanggah. “Aku ingin duduk di sebelah Sandoras. Bisa minta Sabrishion untuk pindah ke kursi yang Ibu minta aku duduk disana?” tanyanya dengan sopan. Sang Wali Kelas terkejut sekilas.
“Kenapa kau malah suruh aku yang pindah!?” seru Johan protes.
“Hmm? Kau mengenal Sandoras, apa itu alasannya?” tanya wali kelas.
“Sangat mengenalnya. Lagipula, dia tunanganku” jawab Ethan tenang.
Para siswa berseru ‘EEEEHH!?!?’ hingga memenuhi ruangan, dan semua pandangan beralih ke Angelica. Ia juga langsung terkejut, dan agak takut dengan pandangan tajam mereka padanya. Dengan nada bingung nan panik, ia lalu berusaha mencairkan suasana.
“Ti, tidak seperti itu, kok, Bu! Ini Cuma salah pa...!”
“Ooh, jadi pertunangan yang sudah berjalan selama empat tahun ini cuma ‘Candaan’ bagimu, Angelica?” tanya Ethan, dengan nada mengintimidasi.
Para siswi kemudian memandangnya lagi, lebih tajam. Angelica jadi semakin tidak berdaya. Ia panik setengah mati bagaimana mencairkan suasana itu, karena kalimat Ethan jelas malah makin memperkeruh suasana.
“Sekalipun kau tunangannya, kau hanyalah tunangan yang diputuskan oleh keluarga! Angie milikku! Tidak akan kuserahkan padamu!” seru Johan membela diri. Hal itu membuat Angelica makin bingung. Ia merasa pusing.
“Aku sudah bilang, kan? Sekalipun kau berpacaran dengan Angelica, itu tetap tidak mengubah status hubunganku dengannya yang lebih tinggi darimu. Lagipula, Angelica sudah setuju, bukan?” jawab Ethan sambil bertanya balik.
“Tu, tunggu! Aku sudah bilang kalau aku ingin memutuskan tali pertunangan ini, kan!?” Angelica membantah.
“Kau hanya baru ‘ingin’, kan? Bukan berarti pertunangan kita ‘sudah’ putus. Lagipula, cincin pertunangan kita yang satunya lagi masih ada padamu” jelas Ethan.
Angelica terkejut. ia baru menyadarinya. Benar juga, seharusnya saat aku ke pesta Ethan waktu di Berlin, aku kembalikan cincin ini, pikirnya.
“Angie, kau belum melakukannya!?” tanya Johan geram.
“Ma, mana mungkin aku sempat memikirkan itu setelah semua hal yang terjadi!?” jawab Angelica membela diri.
“Mohon bantuanmu, Bu” Ethan memohon pada wali kelasnya. Kemudian beliau menghela nafas, seakan-akan tidak mempedulikan perdebatan kedua siswanya.
“Baiklah, kalau begitu...”

TRONG TRENG TRANG TRONG! Bel jam istirahat pun berbunyi kemudian. Angelica, Johan, dan Ethan sama-sama tumbang di bangku masing-masing, karena wali kelas akhirnya mengubah susunan bangku mereka. Dimana Angelica yang tadinya duduk di pinggir jendela, bertukar kursi dengan Johan dengan Ethan tetap duduk di bangku yang disuruh Wali Kelasnya itu.
Selama jam pelajaran, Johan dan Ethan bersaing keras dalam pelajaran, praktek lab sains, olahraga, sampai pertandingan sepak bola yang dilakukan setelah jam olahraga selesai. Angelica berusaha keras menghentikan mereka berdua yang sudah berusaha main baku hantam setiap jam pelajaran selesai, hingga akhirnya ia pun ikut tumbang.
“Uugh, kalau hal ini terjadi setiap hari, perang dunia ketiga bakalan pecah, nih~~” gumam Angelica lemas.
“Angie” panggil Johan kemudian. “Ayo, makan siang. Kau pasti lapar setelah semua yang terjadi, kan?”
“Ah, aku...” ia ingin menolak karena sedang badmood, tapi...
“Angelica, kau tidak seharusnya menerima ajakannya di depan mataku, kan?” sela Ethan tiba-tiba.
“Hah!?” seru Johan sebal.
“Sebagai tunanganmu, aku tetap tidak terima. Jadi, ayo kita makan siang bersama sekaligus menemaniku keliling bagian SMA ini” ajak Ethan dan nada manis nan menggoda.
“Kalau kau mau keliling, minta pada ketua kelas, sana. Tidak usah melibatkan Angie segala!” gerutu Johan kesal.
Mendengarnya, Angelica jadi bingung. Sementara semua mata anak-anak sekelas tertuju pada mereka bertiga yang saling berbisik. Ia berpikir keras, namun...
“Kalian tidak usah rebutan begitu. Karena Angelica akan makan siang denganku!”
Seruan seseorang itu membuat mereka beralih pandangan ke sumber suara, dan ia sudah memegang lengan Angelica yang masih terkejut dengan kehadiran...
“Arthur!?”
... yang sejak tadi menunggu kesempatan untuk membuka suara.
“Aku masih banyak urusan pekerjaan, dan Angelica sudah setuju untuk jadi asistenku. Jadi aku yang akan menemaninya makan siang” jelas Arthur sambil tersenyum penuh kemenangan. Kemudian ia menarik lengan Angelica dan berlalu dari kelas tanpa peduli wajahnya yang masih bingung dan terkejut, serta suara Johan dan Ethan yang berteriak memanggil mereka...

Mereka sampai di kantin sekolah. Kantin tersebut berada di sudut gedung sekolah sebelah barat. Cukup luas untuk menampung setengah dari seluruh murid SMA sekolah ini. Bagian kantin dibagi dua, yaitu kantin indoor dan kantin semi-outdoor. Disebut semi-outdoor karena berada di luar gedung sekolah yang dibatasi dengan kaca dan tanaman hias. Namun ada peraturan terselubung bahwa yang boleh ke kantin semi-outdoor tersebut hanya para siswa yang mengikuti organisasi sekolah maupun perguruan, walau nyatanya siswa biasa pun banyak yang berada disana.
Angelica dan Arthur langsung mengambil jatah makanan mereka dan mengambil tempat di kantin semi-outdoor tersebut. Mereka mengambil tempat agak di pojok karena tempat itu agak sepi dan lebih rindang.
Begitu tiba di meja, Arthur langsung merapikan berkas-berkas fisik kerjanya dan membuka tabletnya. Sementara Angelica meletakkan makanannya dan menghela nafas dengan lelah.
“Sekolah masih berlanjut setelah istirahat siang, lho. Bersemangatlah” Arthur berusaha menyemangatinya.
“Aah, iya. Oh, iya. Terima kasih sudah menyelamatkanku dari mereka” ucap Angelica sambil sedikit menundukkan kepalanya.
“Hahaha, ‘menyelamatkan’ terkesan sedikit jahat, lho. Mereka kan pacar dan tunanganmu” Arthur mulai menyuap makanannya.
“Hmm, benar juga... tapi, aku tidak menemukan kata yang lebih tepat selain itu...” Angelica kembali berpikir.
“Yaah, sudahlah tidak usah dipikirkan. Sama-sama, lagipula aku sungguh-sungguh minta bantuanmu sekarang. Karena saat pulang sekolah nanti, mereka pasti mencekokiku dengan pertanyaan ‘laporannya sudah selesai?’, dan itu membuatku merasa ingin makan mayonaise saja” Arthur merinding takut.
“Hah, kok mayonaise?”
“Habis, makan mayonaise saja tidak enak, kan? Hambar gimana, gitu”
“Ooh, begitu. Hahaha, perumpamaan yang aneh!” Angelica tertawa dengan senang. Arthur tersenyum.
“Syukurlah, sudah kembali ceria”
“Eh?”
“Habisnya sejak Ethan datang, wajahmu kelihatan panik, sekaligus ada rasa takut yang kulihat”
Angelica berusaha berdalih. “Ha, hanya perasaanmu saja, kok. Lagipula... masalahku dengan Ethan, dengan Miller... seharusnya sudah selesai, tapi...”
Angelica kembali murung, dan itu membuat Arthur penasaran.
“Ada yang masih mengganjal di hatimu, ya?”
Angelica mengangguk dengan ragu, tanpa jawaban. Arthur sedikit menghela nafas.
“Minoritas siswa di sekolah ini sudah punya tunangan, termasuk juga Johan dan mendiang Russell. Tapi mayoritas diantara mereka tak ada yang tahu siapa tunangannya karena semua itu diputuskan oleh keluarga. Makanya, kau bersyukur telah mengetahuinya sejak awal, lho” jelas Arthur sambil meminum air putih yang juga dibawanya. Angelica menggeleng.
“Pertunanganku... memang diputuskan keluarga, tapi... aku dan Ethan memang sudah berteman sejak kecil. Karena itu mereka ‘mengikat’ kami. Waktu itu kami sama sekali tidak keberatan karena... kami memang saling menyukai...” Angelica menceritakannya dengan pelan, dan hati-hati.
“Lalu, apa yang terjadi sampai sekarang kau malah ingin bersama Johan?” tanya Arthur penasaran.
“Itu karena... Ethan meninggalkanku di hari dinyatakan bangkrutnya perusahaan keluargaku... saat itu aku hancur karena Ayahku menghilang bersamaan dengan hutang yang harus keluargaku tanggung... perasaan itu berubah jadi kebencian padanya, tapi... sekarang, aku justru meragukannya...”
Wajah Angelica berubah sedih, namun wajah Arthur berubah datar. Ia kembali bertanya.
“Kudengar, kepergian Russell ada hubungannya dengan kebangkrutan keluargamu. Tapi... apa itu juga ada hubungannya dengan Ethan Miller...?”
Angelica tidak menjawab. Ia hanya menyuap makanannya. Arthur yang diam menunggu jawaban sambil berusaha menebak apa yang ada di pikirannya. Sepuluh detik tidak ada jawaban, ia memilih untuk menyerah dan seketika kembali ceria.
“Yaah, yang penting sekarang kau selesaikan dulu masalahmu dengan Miller, baru kau pikirkan Johan!”
Angelica sedikit terkejut mendengar kalimat Arthur yang terdengar ceria. Ia mengangkat kepalanya, dan melihat senyum yang tersungging di bibirnya, seakan pembicaraan barusan tidak pernah terjadi.
“Yaah, aku memang tidak tahu apa yang terjadi, tapi menurutku alasan kau ragu dengan Ethan adalah... karena kau tidak yakin pada pilihanmu sendiri...”
“Aku... ragu dengan Ethan...?” gumam Angelica sambil terkejut. Arthur tersenyum.
“Aku yakin, kau sudah tahu alasan kenapa Ethan meninggalkanmu. Dan sejak saat itu kau justru jadi ragu apakah keputusanmu sudah tepat, melupakan Ethan dan membuka lembaran baru dengan Johan” tebak Arthur.
“Itu... benar, sih...” jawab Angelica malu-malu.
“Aku cukup mengenal Johan. Meski kami baru dekat saat SMA, tapi kami sudah berteman saat ia menjadi Ketua Dewan Siswa SMP. Sementara Ethan... bahkan bagi kami para cowok, dia itu perfect. Di masa SD dan SMP, ia selalu berada di peringkat satu mengalahkan Russell. Dia memang agak dingin dan kata-katanya selalu menusuk, tapi tanpa diduga dia adalah orang yang paling peduli dengan orang lain. Dengan kata lain, Ethan dan Johan itu dua orang berbeda dengan pemikiran yang sama. Kau juga berpikir begitu?” terang Arthur.
“... iya... mereka memang seperti itu, sih...” gumam Angelica pelan.
“Maaf, aku berkata seperti ini bukan untuk membela Ethan. Tapi... ia memang selalu melakukan segala hal lebih baik dibanding Johan. Sebagai teman mereka, itulah penilaianku. Makanya saat Russell dinobatkan sebagai Ketua Dewan Perguruan Siswa dan Johan sebagai Ketua Dewan Siswa saat itu, diam-diam banyak yang protes. Namun Ethan dengan santainya menjawab ‘Nggak masalah, kan? Toh mereka lebih baik dariku’... dia mengatakannya sambil memandang jauh. Aku yakin sebenarnya ia ingin jadi Ketua...” Arthur tersenyum.
Angelica mulai memahami sedikit demi sedikit sisi Ethan yang selama ini tak pernah diketahuinya. Sisi Ethan selama ia menjadi murid sekolah ini. Padahal Ethan yang ia kenal adalah dirinya yang tegas dan selalu bisa diandalkan. Ia juga selalu ceria saat bersamanya. Memang sejak ia menjadi pewaris, ia mulai berubah menjadi dingin, namun tetap memperlakukannya seperti biasa. Mengetahui hal itu, Angelica hanya menjawab...
“Begitu, ya...”
Arthur, entah kenapa sedikit lega telah menceritakan soal Ethan yang ia ketahui pada Angelica, walau sebenarnya ia punya maksud tersendiri terhadapnya. Ia memang tidak membela siapapun, terlebih kini Johan adalah teman dekatnya.
“Sementara Johan... ah, benar juga, ya...” Arthur mengingat-ingat.
“Kenapa?” tanya Angelica bingung.
“Yaah, menurutku Johan-lah yang paling berubah drastis...” jawab Arthur sambil menunjuk ke arahnya. Angelica jadi semakin tidak mengerti.
“Maksudmu...?”
“Hmm...” Arthur meneguk lemon tea-nya dari sedotan, kemudian bicara lagi.
“Waktu SD, aku sering melihat Johan di kelas. Ia tidak banyak bicara namun sangat pandai di pelajaran. Tapi sejak Russell pindah ke sekolah ini, ia mulai berteman juga dengan yang lainnya, walaupun waktunya lebih banyak mereka untuk berdua...” Arthur mengambil salah satu berkas pekerjaan dan melihatnya, kemudian mengetik sesuatu di tabletnya. Angelica juga mulai membantu.
“Lalu... apa yang terjadi?” tanyanya penasaran.
Arthur tidak langsung menjawab. Ia berhenti mengetik, dan mengepalkan salah satu tangannya, bergetar. Angelica yang menyadarinya mulai khawatir.
“Arthur...?” panggil Angelica pelan. Panggilan itu menyadarkannya, dan ia kembali melanjutkan ceritanya.
“Johan... dinyatakan sebagai pewaris sejak masuk SMP... selama tahun pertama SMP-nya, ia berubah jadi semakin pendiam dan agak emosional... tidak, bahkan ia sangat emosional...”
Badan Arthur semakin bergetar, dan entah kenapa itu membuat Angelica sedikit takut mendengar kelanjutannya. Namun rasa penasarannya jauh lebih memenuhi dirinya dibanding rasa takutnya. Ia memilih diam, menunggu Arthur kembali bicara.
“Ia bahkan... tidak mengizinkan siapapun menyentuhnya.... dan yang lebih heran lagi, ia tetap pakai seragam musim dingin sekalipun musim panas... aku, serta para siswa lain tentu merasa heran dengannya. Namun karena tak ada yang berani bicara padanya, kami membiarkannya begitu saja... sampai suatu hari aku mengetahui, kalau...”
Arthur menghentikan kalimatnya. Ia menaruh berkasnya perlahan dan menutup tabletnya. Ia sudah tidak fokus, pikir Angelica. Melihat badan Arthur bergetar semakin hebat, membuatnya semakin merasa takut. Ia juga mulai merasa tangannya bergetar.
“Suatu hari, Johan tidak masuk sekolah dan juga tidak hadir di sekolah online selama beberapa hari. Aku sebagai teman sekelasnya datang ke rumahnya membawa catatan selama ia tidak masuk karena aku tidak bisa mengirim ke emailnya yang entah kenapa sedang ditutup, sekaligus membawakan oleh-oleh... dan...”
Tiba-tiba ‘kejadian itu’ membuat Angelica terhenyak. Ia masih mengingat dengan jelas kejadian yang terjadi di depan matanya itu. Ia sedikit shock. Entah kenapa ia sedikit sudah bisa menebak apa yang akan dikatakan Arthur. Ia menundukkan kepala dalam-dalam, tanpa tahu bahwa wajahnya berubah ketakutan.

“Saat...... aku kesana... ia... melihatku yang shock menatapnya...... aku pun tak bisa... menyembunyikan kekagetanku... karena ia... babak belur...... karena sedang...... dihajar Ayahnya sendiri.....” terang Arthur sambil menggigit bibirnya.


Angelica semakin shock. Ia sama sekali tidak pernah menyangka Johan menerima perlakuan itu sejak kecil. Tubuhnya semakin bergetar, menahan teriakan yang ingin ia keluarkan bersama dengan air matanya yang mulai jatuh...

0 comment:

Posting Komentar

 

Diana Rachmawati Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template