Sabtu, 10 Desember 2016

Wings of Melodies ~ Memories Edition - Chapter 21

“A
pa maksudnya semua ini, Ethaaaann!?!?”
Seruan Johan memenuhi seluruh ruangan Dewan Perguruan Siswa, yang berada di lantai puncak menara jam di pusat sekolah. Para anggota Dewan Perguruan Siswa lain maupun anggota Dewan Siswa bagian sekolah lain yang juga berada disitu karena permintaan ketua mereka yang baru untuk berkumpul dan membahas program-program sekolah.
“Hentikan, Johan! Tidak enak dilihat anggota laiiin!” Angelica berusaha menghentikan Johan yang sedetik lagi tidak ia hentikan, kepalan tangannya akan melayang ke pipi Ethan dengan cara menarik lengannya sekuat tenaga.
“Tolong hentikan, kak Johan! Nanti kau bisa diskors!” seru Richard yang juga membantunya menghentikan kelakuan Johan.
Sementara Wakil Ketua Dewan Perguruan Siswa yang baru, Mark Flencer, yang sekarang duduk di kelas tiga SMP berdiri di depan meja Ethan untuk menghadang Johan. Sekaligus ia kebingungan.
“Bagaimana ini, kak Miller?” tanya Mark pada Ethan dengan meliriknya di belakangnya.
Ethan menghela nafas. Ia meletakkan tabletnya dan bangkit dari kursinya. Ia beranjak dari mejanya dan menghadapi Johan. sekilas Mark panik, lalu ia dan Richard segera bersiaga untuk menghentikan kejadian yang tak diinginkan.
“Tenanglah, kak Angelica. serahkan padaku dan Mark” ujar Richard menenangkan. Angelica akhirnya merendahkan pundaknya, walau khawatir masih tergambar jelas di wajahnya.
“Kau ini...” Ethan membuka suara. “Kenapa kau merasa sebegitu kesalnya padaku, sih? Tidak bisa sekali saja ya, untuk tidak mengusikku? Kalau kau memang merasa sekalah itu padaku, kau bisa bersaing secara sehat, kan?”
Johan makin geram. “Hah? Lalu kau dengan pedenya merasa menang hanya karena kau sudah jadi Ketua Dewan Perguruan Siswa? Asal kau tahu saja, aku tidak sudi posisi sahabatku digantikan olehmu!”
“Sekalipun kau tidak sudi, Ketua Yayasan tidak akan mendengar pendapat pribadimu. Karena bagaimanapun, kini aku berada di atas posisimu saat ini”
Johan menggigit bibir. Ethan melawannya dengan tenang dan tatapan dingin seperti biasa. Angelica, mau tidak mau harus mengakui bahwa yang dikatakan Ethan memang benar. Sebagai anggota Dewan Siswa SMA, ia maupun yang lainnya tidak diperkenankan ikut campur dalam keputusan Dewan Yayasan, alias para orang dewasa. Biar bagaimanapun mereka tidak berdaya sekalipun ketuanya nanti adalah seorang berandalan sekalipun. Karenanya, keputusan sepihak bahwa Ethan telah menggantikan Russell adalah suatu hal yang tak bisa mereka apa-apakan lagi. Kecuali sampai mereka bisa menemukan satu kesalahan fatal yang bisa memecatnya dengan instan dari posisinya saat ini.
“Sekarang kalau kau sudah mengerti, silakan duduk di bangkumu, karena aku akan memulai rapat” perintah Ethan sambil mengambil tabletnya. Johan yang masih geram, akhirnya mau menurutinya setelah Angelica menarik lengannya perlahan.
“Selamat sore, semuanya. Maaf atas yang terjadi sebelumnya sudah membuat suasana tidak nyaman” Mark membuka rapat sambil meminta maaf.
“Sore ini, kami Dewan Perguruan Siswa menggelar pertemuan untuk menyambut Ketua Dewan Perguruan Siswa yang baru. Silakan” lanjutnya. Ethan maju selangkah di depan Mark, yang berdiri di seberang LCD dari tempatnya berdiri.
“Selamat sore. Perkenalkan, aku Ethan Farnes Evolian Miller, ketua yang baru. Aku memang baru masuk ke sekolah ini hari ini, namun sebelumnya aku adalah murid Perguruan ini hingga akhirnya harus pindah ke Belanda saat kelas 2 SMP. Walau aku akan menjabat posisi ini hanya selama setahun karena sudah kelas tiga SMA, aku harap kita bisa bekerjasama” Ethan memperkenalkan diri sambil sedikit membungkukkan badannya.
“Hee, kelas tiga dan baru masuk hari ini!?”
“Rupanya dia kak Ethan Miller yang itu, ya!”
Para junior di SMP maupun SD yang mengenalnya mulai membicarakannya. Namun Mark menghentikan mereka untuk tidak membuat keributan.
“Baiklah, hari ini aku hanya akan mendengar program-program yang akan dijalankan di setiap bagian sekolah, serta apa yang akan dan sudah dilakukan untuk program tersebut. Dan aku juga perlu mengetahui persiapan apa yang telah tiap bagian sekolah lakukan untuk program yang telah kami buat. Silakan dimulai dari Dewan Siswa SD”
“Baik”
Ketua Dewan Siswa SD bangkit dari tempat duduknya dan mulai mempresentasikan programnya. Ethan memperhatikannya dengan serius, sambil sesekali bertanya padanya dan mendiskusikannya dengan para anggota lain yang duduk di sebelahnya.
Selama itu, Angelica melihatnya dengan perasaan bercampur. Takjub sekaligus...
‘Kenapa... perasaanku begini, ya... rasanya...’
Ia semakin menekan dadanya, dan mengepalkan tangannya...
‘Sedih...’

Setelah bel menara sekolah berdentang lima kali, Ethan menyudahi rapat hari itu. Para anggota Dewan Siswa sekolah lainnya pun keluar dari ruangan setelah instruksi dari Mark.
“Johan, Angelica, kami tunggu di bawah” pinta Patricia sambil beranjak dari ruangan bersama Cecil dan Richard.
“Ah, iya” balas Johan sambil mengetik sesuatu di laptopnya.
“Angelica, aku duluan” pamit Ethan pada Angelica yang masih merapikan mejanya.
“Ah, eeehh...” mendengarnya, Angelica sedikit panik. Ia buru-buru bangkit dari kursinya, sementara Ethan yang sudah berdiri di depan pintu kemudian berbalik, memandang wajahnya yang terlihat bingung bercampur sedih.
“... kau baik-baik saja?” tanya Ethan. Ia perlahan menghampiri Angelica dan hendak memegang pipinya.
PLAK!
“Jaga sikapmu, Ethan” cegah Johan yang sebelumnya menepis lengan Ethan dengan kasar.
“Dia tunanganku. Aku tidak perlu menutupi apapun padanya”
“Ooh, kau lupa bahwa kau sudah menutupi kejadian sebenarnya?”
Ethan terdiam. Ia memandangi Angelica yang kini sedikit menunduk dengan tatapan dingin. Lalu menghela nafas, mengeluarkan HP dari saku blazernya dan menelepon nomor yang ditujunya. Setelah terdengar satu kali nada tunggu, orang dari seberang pun menjawab teleponnya.
“Ini aku... ya...... bisakah meetingnya ditunda hari ini? Ada hal penting yang harus kuurus segera....... baiklah, tolong, ya...”
PIP! Ia mengakhiri teleponnya. Lalu melihat Angelica lagi yang kini memandangnya. Seakan menunggunya.
“Aku ingin bicara padamu, Angelica. bisa ikut denganku?” tanya Ethan serius.
Angelica terkejut sekilas dengan tawaran Ethan, namun Johan dengan cepat memotong percakapan mereka.
“Apa yang kau katakan!? Sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan dengannya, kan!?”
“Baiklah”
Johan terkejut dengan jawaban Angelica. Ia beralih padanya.
“Hei, Angie!”
“Tenanglah, Johan. aku bisa jaga diri”
“Tidak, aku tak mengizinkanmu!”
“Ini masalah keluarga, harus dibicarakan baik-baik! Keluargaku sudah banyak bergantung padanya, karena itu...!”
“Apapun itu aku tetap tidak mengizinkanmu. Aku tidak percaya padanya!”
“Jadi kau tidak mempercayaiku!?”
Johan terdiam. Ia berpikir keras sambil memejamkan mata. Setelah beberapa saat, ia kembali ke mejanya, merapikannya, dan keluar dari ruangan itu. Angelica memanggilnya karena Johan tak ada reaksi sama sekali.
“Baiklah aku mengerti. Aku juga ada urusan penting, makanya aku memajukan rapatnya saat istirahat siang tadi” pinta Johan dengan nada biasa. Angelica tersenyum.
Melihatnya, senyum pahit juga tersungging di bibir Johan. Kemudian ia melihat ke arah Ethan, yang langsung menyadari arah pandangannya padanya.
“Jaga Angie baik-baik jika kau serius”
Ethan terkejut sekilas, lalu tersenyum tipis.
“Tentu saja”

Kemudian Johan keluar dari pintu depan dan menutupnya. Ia bersandar di pintu, menghela nafas panjang sambil melihat langit-langit koridor yang terhubung dengan lift yang langsung menuju lantai dasar menara sekolah dengan pandangan menerawang. Kemudian mengambil sesuatu dari sakunya.
“Karena aku pun... harus mengembalikan ini padanya...”

Di bawah menara sekolah, Cecil dan Richard sedang duduk di bangku taman sambil mengobrol dan minum minuman dari mesin penjual otomatis. Sementara Patricia duduk di bangku lainnya yang berada tidak jauh dari mereka sambil melihat ke atas langit. Memandangnya dengan wajah datar dengan sedikit senyum...

Angelica kini berada di mobil Ethan. Mereka saling terdiam tanpa satu patah kata pun, meski saat perjalanan dari menara sekolah, asrama putri (karena Angelica ingin berganti baju sebelum pergi) hingga tempat parkir, mereka sempat saling bicara. Namun yang terdengar sekarang hanyalah suara deru mobil yang sebenarnya nyaris tak terdengar. Angelica melihat keluar jendela dengan takjub, dimana langit telah berubah menjadi gelap dan kilauan lampu gedung-gedung perkantoran mulai bermunculan.
“Indah, ya” Ethan mulai membuka suara.
“Eh?” Angelica berbalik.
“Meski indah, namun banyak menyimpan kenangan maupun pengalaman pahit bagi yang berada di dalamnya”
Ethan ikut memandang keluar dengan tatapan dingin. Angelica berusaha mencerna kata-kata Ethan walau ia paham maksud tersiratnya. Ia pun pernah mengalami berada di dalamnya walau hanya sebentar...

Akhirnya mereka sampai di tempat tujuan, yaitu kapal pesiar yang pernah Angelica datangi bersama Johan dan yang lainnya. Meski sudah sering melihatnya, ia tetap berpikir bahwa pesiar merupakan sesuatu yang hebat yang pernah diciptakan manusia baginya. Selain saat ia dan teman-temannya kesini saat awal masuk sekolah, mereka juga melakukannya bersama anggota Dewan Siswa yang dulu setelah resital Patricia tahun lalu.
“Kau pernah kesini?” tanya Ethan.
“Beberapa kali. Ini salah satu aset keluarga Johan, kan?” tebak Angelica.
“Bukan ‘keluarga Johan’, tapi ini milik pribadi Johan sendiri” jawab Ethan.
“... begitu, ya...” balasnya datar.
“... kau tidak kaget?”
“Tidak. Karena aku tahu Johan bukanlah orang yang suka pamer. Yaah, meski dengan berkata ‘milik keluarga Johan’ juga terdengar pamer, sih”
Ethan tersenyum tipis.
“... baiklah, ayo masuk”

Setelah memesan makanan dan minuman, mereka mulai melakukan table manner dengan meletakkan kain di atas paha.
“Ethan, boleh aku tanya sesuatu?” tanya Angelica memulai topik.
“Apa?” balas Ethan, dengan melihat matanya langsung.
“Kenapa... kau mengajakku ke tempat dimana pemiliknya membencimu?” lanjutnya hati-hati.
“Walau begitu aku tidak pernah membenci Johan. Hanya saja sejak dulu dia selalu merasa tersaingi” jawab Ethan tenang.
“Eh? Meski ia selalu meneriakimu seperti hari ini?” Angelica terbelalak.
“Begitulah” Ethan membetulkan cara duduknya. “Sebenarnya, saingan terbesarku adalah Russell. Tapi setiap kali Russell kalah di peringkat ujian, Johan-lah yang selalu meneriakiku. Padahal Russell sendiri tidak mempermasalahkannya. Itulah sisi yang belum berubah darinya” jelas Ethan.
Karena penjelasan itu, membuat Angelica berpikir, ternyata sejak dulu Johan sudah seperti ini. Sisi baik yang sedikit merepotkan. Walau begitu ia tersenyum senang mendengarnya.
“Makanya saat ia meneriakiku saat sebelum rapat tadi, aku sama sekali tidak merasa bahwa ia lancang. Malah entah kenapa, aku justru senang mendengarnya membela Russell sampai seperti itu. Sekalipun ia sudah tidak ada di sini...” pinta Ethan sambil meneguk anggurnya yang telah dituangkan oleh sang butler.
“Iya, ya...” Angelica menunduk sedih. Biar bagaimanapun ia minta maaf, ia jelas merasa bersalah padanya dan pada Russell.
“Jangan pasang wajah seperti itu di depan tunanganmu. Tidakkah kau tahu betapa cemburunya aku melihatmu begitu?”
Angelica mengangkat kepalanya. Kaget. Melihat ke arah Ethan yang menatap matanya secara langsung. Ia pun balas menatapnya, berusaha mencari tahu ‘arti’ dari tatapannya. Bola mata berwarna tosca itu benar-benar menawan hatinya. Dadanya berdegup kencang, dan tanpa sadar isi kepalanya dipenuhi oleh kenangan yang ia lalui bersamanya sejak kecil.
Ethan yang merasa hanyut dengan tatapan mata Angelica yang berwarna sapphire, perlahan mengulurkan tangannya dan memegang pipi Angelica.
“Sudah enam bulan sejak terakhir kita bertemu... aku sangat merindukanmu...”
Walau sudah berusaha menahan diri untuk tidak bertemu lagi dan masih membawa perasaan ini, akhirnya Angelica pun luluh juga. Ia menarik nafas karena terkejut. Wajahnya berubah sedih dan ingin menangis. Ia menggenggam tangan Ethan yang memegang pipinya perlahan. Dengan airmata yang sudah tak tertahankan lagi, ia tersenyum padanya...

“Aku juga... Ethan...”  

0 comment:

Posting Komentar

 

Diana Rachmawati Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template