“A
|
pa maksudnya semua ini,
Ethaaaann!?!?”
Seruan Johan memenuhi seluruh
ruangan Dewan Perguruan Siswa, yang berada di lantai puncak menara jam di pusat
sekolah. Para anggota Dewan Perguruan Siswa lain maupun anggota Dewan Siswa
bagian sekolah lain yang juga berada disitu karena permintaan ketua mereka yang
baru untuk berkumpul dan membahas program-program sekolah.
“Hentikan, Johan! Tidak enak
dilihat anggota laiiin!” Angelica berusaha menghentikan Johan yang sedetik lagi
tidak ia hentikan, kepalan tangannya akan melayang ke pipi Ethan dengan cara
menarik lengannya sekuat tenaga.
“Tolong hentikan, kak Johan!
Nanti kau bisa diskors!” seru Richard yang juga membantunya menghentikan
kelakuan Johan.
Sementara Wakil Ketua Dewan
Perguruan Siswa yang baru, Mark Flencer, yang sekarang duduk di kelas tiga SMP
berdiri di depan meja Ethan untuk menghadang Johan. Sekaligus ia kebingungan.
“Bagaimana ini, kak Miller?”
tanya Mark pada Ethan dengan meliriknya di belakangnya.
Ethan menghela nafas. Ia
meletakkan tabletnya dan bangkit dari kursinya. Ia beranjak dari mejanya dan
menghadapi Johan. sekilas Mark panik, lalu ia dan Richard segera bersiaga untuk
menghentikan kejadian yang tak diinginkan.
“Tenanglah, kak Angelica.
serahkan padaku dan Mark” ujar Richard menenangkan. Angelica akhirnya
merendahkan pundaknya, walau khawatir masih tergambar jelas di wajahnya.
“Kau ini...” Ethan membuka
suara. “Kenapa kau merasa sebegitu kesalnya padaku, sih? Tidak bisa sekali saja
ya, untuk tidak mengusikku? Kalau kau memang merasa sekalah itu padaku, kau
bisa bersaing secara sehat, kan?”
Johan makin geram. “Hah? Lalu
kau dengan pedenya merasa menang hanya karena kau sudah jadi Ketua Dewan
Perguruan Siswa? Asal kau tahu saja, aku tidak sudi posisi sahabatku digantikan
olehmu!”
“Sekalipun kau tidak sudi,
Ketua Yayasan tidak akan mendengar pendapat pribadimu. Karena bagaimanapun,
kini aku berada di atas posisimu saat ini”
Johan menggigit bibir. Ethan
melawannya dengan tenang dan tatapan dingin seperti biasa. Angelica, mau tidak
mau harus mengakui bahwa yang dikatakan Ethan memang benar. Sebagai anggota
Dewan Siswa SMA, ia maupun yang lainnya tidak diperkenankan ikut campur dalam
keputusan Dewan Yayasan, alias para orang dewasa. Biar bagaimanapun mereka
tidak berdaya sekalipun ketuanya nanti adalah seorang berandalan sekalipun.
Karenanya, keputusan sepihak bahwa Ethan telah menggantikan Russell adalah
suatu hal yang tak bisa mereka apa-apakan lagi. Kecuali sampai mereka bisa
menemukan satu kesalahan fatal yang bisa memecatnya dengan instan dari
posisinya saat ini.
“Sekarang kalau kau sudah
mengerti, silakan duduk di bangkumu, karena aku akan memulai rapat” perintah
Ethan sambil mengambil tabletnya. Johan yang masih geram, akhirnya mau
menurutinya setelah Angelica menarik lengannya perlahan.
“Selamat sore, semuanya. Maaf
atas yang terjadi sebelumnya sudah membuat suasana tidak nyaman” Mark membuka
rapat sambil meminta maaf.
“Sore ini, kami Dewan Perguruan
Siswa menggelar pertemuan untuk menyambut Ketua Dewan Perguruan Siswa yang
baru. Silakan” lanjutnya. Ethan maju selangkah di depan Mark, yang berdiri di
seberang LCD dari tempatnya berdiri.
“Selamat sore. Perkenalkan, aku
Ethan Farnes Evolian Miller, ketua yang baru. Aku memang baru masuk ke sekolah
ini hari ini, namun sebelumnya aku adalah murid Perguruan ini hingga akhirnya
harus pindah ke Belanda saat kelas 2 SMP. Walau aku akan menjabat posisi ini hanya
selama setahun karena sudah kelas tiga SMA, aku harap kita bisa bekerjasama”
Ethan memperkenalkan diri sambil sedikit membungkukkan badannya.
“Hee, kelas tiga dan baru masuk
hari ini!?”
“Rupanya dia kak Ethan Miller
yang itu, ya!”
Para junior di SMP maupun SD
yang mengenalnya mulai membicarakannya. Namun Mark menghentikan mereka untuk
tidak membuat keributan.
“Baiklah, hari ini aku hanya
akan mendengar program-program yang akan dijalankan di setiap bagian sekolah,
serta apa yang akan dan sudah dilakukan untuk program tersebut. Dan aku juga
perlu mengetahui persiapan apa yang telah tiap bagian sekolah lakukan untuk
program yang telah kami buat. Silakan dimulai dari Dewan Siswa SD”
“Baik”
Ketua Dewan Siswa SD bangkit
dari tempat duduknya dan mulai mempresentasikan programnya. Ethan
memperhatikannya dengan serius, sambil sesekali bertanya padanya dan
mendiskusikannya dengan para anggota lain yang duduk di sebelahnya.
Selama itu, Angelica melihatnya
dengan perasaan bercampur. Takjub sekaligus...
‘Kenapa... perasaanku begini,
ya... rasanya...’
Ia semakin menekan dadanya, dan
mengepalkan tangannya...
‘Sedih...’
Setelah bel menara sekolah
berdentang lima kali, Ethan menyudahi rapat hari itu. Para anggota Dewan Siswa
sekolah lainnya pun keluar dari ruangan setelah instruksi dari Mark.
“Johan, Angelica, kami tunggu
di bawah” pinta Patricia sambil beranjak dari ruangan bersama Cecil dan
Richard.
“Ah, iya” balas Johan sambil
mengetik sesuatu di laptopnya.
“Angelica, aku duluan” pamit
Ethan pada Angelica yang masih merapikan mejanya.
“Ah, eeehh...” mendengarnya,
Angelica sedikit panik. Ia buru-buru bangkit dari kursinya, sementara Ethan
yang sudah berdiri di depan pintu kemudian berbalik, memandang wajahnya yang
terlihat bingung bercampur sedih.
“... kau baik-baik saja?” tanya
Ethan. Ia perlahan menghampiri Angelica dan hendak memegang pipinya.
PLAK!
“Jaga sikapmu, Ethan” cegah
Johan yang sebelumnya menepis lengan Ethan dengan kasar.
“Dia tunanganku. Aku tidak
perlu menutupi apapun padanya”
“Ooh, kau lupa bahwa kau sudah
menutupi kejadian sebenarnya?”
Ethan terdiam. Ia memandangi
Angelica yang kini sedikit menunduk dengan tatapan dingin. Lalu menghela nafas,
mengeluarkan HP dari saku blazernya dan menelepon nomor yang ditujunya. Setelah
terdengar satu kali nada tunggu, orang dari seberang pun menjawab teleponnya.
“Ini aku... ya...... bisakah
meetingnya ditunda hari ini? Ada hal penting yang harus kuurus segera.......
baiklah, tolong, ya...”
PIP! Ia mengakhiri teleponnya.
Lalu melihat Angelica lagi yang kini memandangnya. Seakan menunggunya.
“Aku ingin bicara padamu,
Angelica. bisa ikut denganku?” tanya Ethan serius.
Angelica terkejut sekilas
dengan tawaran Ethan, namun Johan dengan cepat memotong percakapan mereka.
“Apa yang kau katakan!? Sudah
tidak ada lagi yang perlu dibicarakan dengannya, kan!?”
“Baiklah”
Johan terkejut dengan jawaban
Angelica. Ia beralih padanya.
“Hei, Angie!”
“Tenanglah, Johan. aku bisa
jaga diri”
“Tidak, aku tak mengizinkanmu!”
“Ini masalah keluarga, harus
dibicarakan baik-baik! Keluargaku sudah banyak bergantung padanya, karena
itu...!”
“Apapun itu aku tetap tidak
mengizinkanmu. Aku tidak percaya padanya!”
“Jadi kau tidak
mempercayaiku!?”
Johan terdiam. Ia berpikir keras
sambil memejamkan mata. Setelah beberapa saat, ia kembali ke mejanya,
merapikannya, dan keluar dari ruangan itu. Angelica memanggilnya karena Johan
tak ada reaksi sama sekali.
“Baiklah aku mengerti. Aku juga
ada urusan penting, makanya aku memajukan rapatnya saat istirahat siang tadi”
pinta Johan dengan nada biasa. Angelica tersenyum.
Melihatnya, senyum pahit juga tersungging
di bibir Johan. Kemudian ia melihat ke arah Ethan, yang langsung menyadari arah
pandangannya padanya.
“Jaga Angie baik-baik jika kau
serius”
Ethan terkejut sekilas, lalu
tersenyum tipis.
“Tentu saja”
Kemudian Johan keluar dari
pintu depan dan menutupnya. Ia bersandar di pintu, menghela nafas panjang
sambil melihat langit-langit koridor yang terhubung dengan lift yang langsung
menuju lantai dasar menara sekolah dengan pandangan menerawang. Kemudian
mengambil sesuatu dari sakunya.
“Karena aku pun... harus
mengembalikan ini padanya...”
Di bawah menara sekolah, Cecil
dan Richard sedang duduk di bangku taman sambil mengobrol dan minum minuman
dari mesin penjual otomatis. Sementara Patricia duduk di bangku lainnya yang
berada tidak jauh dari mereka sambil melihat ke atas langit. Memandangnya
dengan wajah datar dengan sedikit senyum...
Angelica kini berada di mobil
Ethan. Mereka saling terdiam tanpa satu patah kata pun, meski saat perjalanan
dari menara sekolah, asrama putri (karena Angelica ingin berganti baju sebelum
pergi) hingga tempat parkir, mereka sempat saling bicara. Namun yang terdengar
sekarang hanyalah suara deru mobil yang sebenarnya nyaris tak terdengar.
Angelica melihat keluar jendela dengan takjub, dimana langit telah berubah
menjadi gelap dan kilauan lampu gedung-gedung perkantoran mulai bermunculan.
“Indah, ya” Ethan mulai membuka
suara.
“Eh?” Angelica berbalik.
“Meski indah, namun banyak
menyimpan kenangan maupun pengalaman pahit bagi yang berada di dalamnya”
Ethan ikut memandang keluar
dengan tatapan dingin. Angelica berusaha mencerna kata-kata Ethan walau ia
paham maksud tersiratnya. Ia pun pernah mengalami berada di dalamnya walau
hanya sebentar...
Akhirnya mereka sampai di tempat
tujuan, yaitu kapal pesiar yang pernah Angelica datangi bersama Johan dan yang
lainnya. Meski sudah sering melihatnya, ia tetap berpikir bahwa pesiar
merupakan sesuatu yang hebat yang pernah diciptakan manusia baginya. Selain
saat ia dan teman-temannya kesini saat awal masuk sekolah, mereka juga
melakukannya bersama anggota Dewan Siswa yang dulu setelah resital Patricia
tahun lalu.
“Kau pernah kesini?” tanya
Ethan.
“Beberapa kali. Ini salah satu
aset keluarga Johan, kan?” tebak Angelica.
“Bukan ‘keluarga Johan’, tapi
ini milik pribadi Johan sendiri” jawab Ethan.
“... begitu, ya...” balasnya
datar.
“... kau tidak kaget?”
“Tidak. Karena aku tahu Johan
bukanlah orang yang suka pamer. Yaah, meski dengan berkata ‘milik keluarga
Johan’ juga terdengar pamer, sih”
Ethan tersenyum tipis.
“... baiklah, ayo masuk”
Setelah memesan makanan dan
minuman, mereka mulai melakukan table manner dengan meletakkan kain di atas
paha.
“Ethan, boleh aku tanya
sesuatu?” tanya Angelica memulai topik.
“Apa?” balas Ethan, dengan
melihat matanya langsung.
“Kenapa... kau mengajakku ke
tempat dimana pemiliknya membencimu?” lanjutnya hati-hati.
“Walau begitu aku tidak pernah
membenci Johan. Hanya saja sejak dulu dia selalu merasa tersaingi” jawab Ethan
tenang.
“Eh? Meski ia selalu
meneriakimu seperti hari ini?” Angelica terbelalak.
“Begitulah” Ethan membetulkan
cara duduknya. “Sebenarnya, saingan terbesarku adalah Russell. Tapi setiap kali
Russell kalah di peringkat ujian, Johan-lah yang selalu meneriakiku. Padahal
Russell sendiri tidak mempermasalahkannya. Itulah sisi yang belum berubah
darinya” jelas Ethan.
Karena penjelasan itu, membuat
Angelica berpikir, ternyata sejak dulu Johan sudah seperti ini. Sisi baik yang
sedikit merepotkan. Walau begitu ia tersenyum senang mendengarnya.
“Makanya saat ia meneriakiku
saat sebelum rapat tadi, aku sama sekali tidak merasa bahwa ia lancang. Malah
entah kenapa, aku justru senang mendengarnya membela Russell sampai seperti itu.
Sekalipun ia sudah tidak ada di sini...” pinta Ethan sambil meneguk anggurnya
yang telah dituangkan oleh sang butler.
“Iya, ya...” Angelica menunduk
sedih. Biar bagaimanapun ia minta maaf, ia jelas merasa bersalah padanya dan
pada Russell.
“Jangan pasang wajah seperti
itu di depan tunanganmu. Tidakkah kau tahu betapa cemburunya aku melihatmu
begitu?”
Angelica mengangkat kepalanya.
Kaget. Melihat ke arah Ethan yang menatap matanya secara langsung. Ia pun balas
menatapnya, berusaha mencari tahu ‘arti’ dari tatapannya. Bola mata berwarna
tosca itu benar-benar menawan hatinya. Dadanya berdegup kencang, dan tanpa
sadar isi kepalanya dipenuhi oleh kenangan yang ia lalui bersamanya sejak
kecil.
Ethan yang merasa hanyut dengan
tatapan mata Angelica yang berwarna sapphire, perlahan mengulurkan tangannya
dan memegang pipi Angelica.
“Sudah enam bulan sejak
terakhir kita bertemu... aku sangat merindukanmu...”
Walau sudah berusaha menahan
diri untuk tidak bertemu lagi dan masih membawa perasaan ini, akhirnya Angelica
pun luluh juga. Ia menarik nafas karena terkejut. Wajahnya berubah sedih dan
ingin menangis. Ia menggenggam tangan Ethan yang memegang pipinya perlahan.
Dengan airmata yang sudah tak tertahankan lagi, ia tersenyum padanya...
“Aku juga... Ethan...”
0 comment:
Posting Komentar