H
|
ari
ini adalah hari upacara masuk asrama. Angelica memulai hari pertamanya di
sekolah itu terhitung mulai hari ini.
“Selamat pagii!!”
“Iya! Selamat pagii!!”
Ia
menyapa gadis-gadis yang sedang lewat di dekat kamar asramanya dengan sopan,
meski tidak saling kenal. Ia pun mulai bersiap-siap.
“Hiyaaa!
Seragamnya bagus sekali! Kereeen! Sekolah elite memang hebat!!” ia berseru
sendiri saat
membuka lemari yang baru berisi seragam sekolahnya.
membuka lemari yang baru berisi seragam sekolahnya.
Kamar
asrama Angelica bernomor 1003, terletak di lantai empat gedung asrama putri.
Letaknya agak disudut dengan posisi hook, sehingga kamarnya sedikit lebih luas
dibanding penghuni yang lain. Satu kamar ditempati oleh satu orang dengan
fasilitas tempat tidur, meja belajar, lemari baju dan penyimpanan yang cukup
besar, kamar mandi, serta beberapa perlengkapan masak otomatis. Para penghuni
asrama harus mengolah sendiri sarapan paginya dengan bahan yang didapat dari
pihak sekolah hari sebelumnya, namun makan siang dan malam disediakan di ruang
makan utama asrama. Cowok boleh masuk ke asrama cewek dan sebaliknya, namun
dibatasi hingga jam 7 malam. Untuk membuka pintu kamar asrama menggunakan
scanning kartu pelajar elektronik dan password, sehingga keamanannya sangat
dijamin.
Angelica
selesai merapikan diri. Ia begitu bersemangat menyambut upacara masuk asramanya
hari itu. Meski ia tidak wajib ikut karena datang sehari sebelum upacara, namun
ia merasa harus berpartisipasi dan menemukan kenalan yang akan disebut ‘teman’.
“Angelica
Steva Fiammatta Sandoras, siap untuk hari iniii!!”
Di
halaman auditorium, suasana sudah mulai ramai dipenuhi siswa-siswi baru yang
juga akan masuk asrama seperti dirinya.
“Uugh,
bagaimana ini? Aku masih bingung dengan penempatan duduknya~~”
“Kalau
kau bingung kan bisa kau tanyakan padaku”
“Iya,
sih. Eh?”
Angelica
terkejut dengan suara yang bersedia yang membantunya itu. Ia menoleh ke arah
suara itu, dan ternyata...
“Selamat
pagi, Angelica! Boleh kupanggil dengan nama depan?”
“Se,
selamat pagi, kak Russell!! Bo, boleh saja!”
Angelica
kembali gugup dan wajahnya merah. Ia masih begitu terpesona melihat Russell
yang begitu ramah menyapanya.
“Ini
upacara masuk asrama, jadi kau boleh duduk bebas, kok! Setelah itu langsung
ikut upacara masuk sekolah, ya”
“Ba,
baiik! Kenapa kak Russell ada di sini?”
“Aku
harus memberi salam penyambutan untuk seluruh siswa baru di sini”
‘Ah,
benar juga! Kak Russell kan ketua Dewan Perguruan Siswa di sini. Uuggh,,
rasanya jauuh~~’
Perguruan
Escoriale terdiri dari SD sampai Universitas. Meski berada dalam satu lingkup
perguruan, bagian Universitas dibuat terpisah agar tidak berbaur dengan
siswa-siswi sekolah. Untuk mengkoordinir pendapat seluruh murid dan mahasiswa
di perguruan itu, maka dibuatlah organisasi yang disebut Dewan Perguruan Siswa,
yang anggotanya berasal dari seluruh murid dan mahasiswa setiap bagian sekolah
yang dianggap pantas dan mampu menjalankan organisasi tersebut.
Karena
itulah Angelica begitu menghormati Russell, karena jabatannya itu yang
membuatnya begitu disegani seluruh bagian sekolah. Setelah itu, seseorang
memanggil Russell.
“Hei,
Russell!! Sedang apa kau di sini? Upacaranya mau mulai kan!?”
‘Eh..?’
Mendengar
suara orang yang memanggil Russell, Angelica merasa sedikit tak asing dengan
suara itu.
“Ah,
Johan. Maaf maaf. Dia sedang kebingungan jadi kubantu”
‘Eh..?
dia.. diaaaa..!!!’
Orang
itu terus perlahan mendekat, dan Angelica akhirnya ingat siapa orang itu dan
mulai merasa kesal.
“Angelica,
ini kuperkenalkan. Dia ketua Dewan Siswa SMA sekolah ini, Johan Robin Harcourt
Sabrishion. Johan, ini Angelica Steva Fiammatta Sandoras, siswa baru sekolah
ini”
“Aaaaahhh!!”
mereka berdua saling berteriak.
“Kau
orang yang kemarin minta pertanggung jawaban padaku atas peti itu kan!? Aku
tidak akan memaafkanmuu~~!!”
GROOR!!
Angelica seakan terbakar saat melihat orang yang kemarin memarahinya gara-gara
peti tidak jelas itu. Russell terkejut dan bingung.
“Eh?
Eh!? Kalian sudah kenal!?”
Cowok
yang dipanggil Johan itu hanya menatapnya dengan malas, kemudian ia menghela
napas dan memegang pinggang sebelah kanannya dengan tangan kanan.
“Kau
yang kemarin tidak menangkap peti itu kan!? Dasar cewek merepotkan!!’
“Apa
katamu!? Dasar laki-laki egois!!”
Mereka
mulai saling memukul dan memarahi satu sama lain. Hal itu membuat heboh
orang-orang di sekitarnya. Melihatnya, Russell yang tadinya diam karena bingung
akhirnya merasa kesal dan...
“Kalian
berdua.. tenaaaaaanng!!!”
GREB!
GREB! Russell melerai mereka dengan memegang kepala mereka. Mereka yang
terkejut, berusaha menatap Russell yang meski ia tersenyum, namun bagai senyum
kematian bagi mereka.
“Nah,,
ayo masuk ke aula, Johan!! Angelica juga!!”
“Ba...
baiik~~”
Di
dalam aula besar, Angelica duduk sekenanya sambil menggerutu kesal.
‘Dasar!
Apa-apaan cowok itu! Sudah ketemu lagi, ternyata dia siswa sekolah ini pula!
Benar-benar..’
“Menyebalkaaan!”
“Kau
heboh sekali di pintu masuk tadi”
“Eh”
Seorang
cewek berambut ombak sepinggang menyapanya dengan nada sedikit sinis. Waah,,
cantik sekali, pikirnya. Ia mengenakan seragam dengan scarf warna oranye, yang
menandakan bahwa ia juga kelas satu sama seperti dirinya.
“Selamat
pagi” katanya kemudian dengan ramah. Angelica masih sedikit terkejut.
“Se,
selamat pagi. Maaf jika keributan itu membuatmu terganggu” jawabnya. Kemudian
gadis itu duduk di sebelahnya.
“Ah,
bagiku tidak, kok. Hanya saja, kak Russell dan kak Johan punya banyak penggemar
dari angkatan kita. Aku takut saja jika terjadi sesuatu padamu nanti.
Hati-hati, ya”
Dia
mencemaskanku?, pikirnya. Namun Angelica kembali tersenyum.
“Baik.
Terima kasih banyak sudah mengingatkanku. Ah, aku Angelica Steva Fiammatta
Sandoras, siswa baru sekolah ini!”
“Aku
Sylvie Rosemary Littha Hatter, aku juga siswa baru”
“Benarkah?
Kupikir kau siswa lanjutan!”
Hampir
semua siswa Escoriale adalah siswa lanjutan, dimana mereka bersekolah di sini
sejak SD hingga SMA ini. Namun mayoritas diantara mereka mengambil pendidikan
universitas di luar negeri atau universitas elite di Inggris.
“Ya,
aku pindah dari Newcastle ke sini”
“Waah,
Newcastle. Aku sejak dulu ingin ke sana!”
“Begitu,
ya. Kalau begitu saat liburan sekolah nanti,, kau boleh datang ke rumahku kok”
“Benarkah!?
Waah, senangnya! Tapi, apa kau benar-benar tidak keberatan?”
“Tidak.
Silakan datang”
“Terima
kasih! Aku tidak sabar menunggu liburan!”
Tak
lama kemudian, upacara masuk asrama pun dimulai. Selama upacara, Angelica dan
Sylvie mulai sedikit demi sedikit mengenal satu sama lain.
“Dengan demikian, semoga kalian betah berada
di sekolah ini dan dapat membawa prestasi untuk sekolah kita!”
PLOK
PLOK PLOK PLOK! Para siswa pun bertepuk tangan riuh setelah mendengar kalimat
penutup pidato dari Russell. Mereka mulai saling bicara.
“Kak
Russell memang keren, ya!”
“Tak
hanya keren, dia siswa yang sangat populer di sekolah ini. Dari sekolah tingkat
SD sampai SMA kita ini, semua sangat mengenal dan menghormatinya, bahkan sebelum
ia diangkat sebagai ketua Dewan Perguruan Siswa!”
“Waah,
hebat!!”
“Selain
populer karena ketampanannya, dia sangat cerdas! Pokoknya perfect deh!!”
“Kau
benar-benar tahu kak Russell, Sylvie”
“Yaah,
begitulah! Habis dia dan ketua Dewan Siswa kita itu Pangeran Perguruan, sih”
Angelica
hanya mengangguk-angguk. Kemudian ia menyadari sesuatu paling penting.
‘Ternyata..
mereka semua benar-benar sangat berbeda jauh dariku.. tapi, hanya kak Russell
seorang yang tahu bagaimana kehidupanku. Ya.. meski hanya kehidupanku..’
“Eh?
Memangnya siapa ketua Dewan Siswa kita?” tanyanya polos. MC upacara pun mulai
menyampaikan acara selanjutnya.
“Selanjutnya,
mari kita dengarkan pidato dari ketua Dewan Siswa SMA kita. Silakan naik ke
podium!”
Angelica
sangat terkejut saat orang yang naik ke podium itu adalah...
“Selamat
pagi, saya Johan Robin Harcourt Sabrishion, Ketua Dewan Siswa SMA sekolah ini!”
‘A...
APAAAA!?’
“Jo, Johan.. Ketua dewan..!?”
“Bukankah tadi kak Russell sudah
bilang padamu?”
Angelica mencoba mengingatnya.
“Ah,
benar juga! Tadi dia mengatakannya. Uugh, rasanya tidak percaya laki-laki ini
ketua dewan. Apalagi mengingat kejadian kemarin. Menyebalkaaan!”
“Kejadian
kemarin?”
“Ah,
soal itu..”
Selesai
upacara masuk asrama, mereka duduk di bangku taman yang ada di luar aula untuk
menunggu pengumuman selanjutnya. Angelica menceritakan pertemuannya dengan
Johan, dan kejadian yang masih begitu membuatnya kesal.
“Ooh
begitu, ya”
“Benar,
kan!? Mendengarnya saja sudah menyebalkan, kan!? Aku benar-benar kesal!”
“Hmm,
tapi.. kalau kau sampai bisa bertemu dengannya dengan cara seperti itu
jangan-jangan memang takdirmu untuk berada di sekolah ini. Secara arti sempitnya,
sih”
Angelica
mulai berpikir mendengar perkataan Sylvie.
‘Begitukah..
tapi..’
“Atau
mungkin kalian jodoh ya..?”
“Tidak
tidak tidak tidak!! Itu benar-benar tidak mungkin!! Laki-laki super menyebalkan
seperti itu sebaiknya mati sajaaa!!”
“Ooh,
kau benar-benar ingin aku mati, ya?”
GLEK!
Angelica mendengar suara yang tidak asing. Suara yang sama dengan suara ketua
Dewan Siswa yang pidato di depan aula tadi. Pertama melihatnya, ia hanya fokus
pada scarf ungu yang dipakainya, tanda bahwa ia adalah siswa kelas dua, serta
bros emas untuk menahan agar scarf-nya tidak lepas. Sampai akhirnya, ia melihat
wajah cowok itu.
“Ka,
kaaau!! Kenapa di siniiii!!?”
“Yoo,
cewek kasar. Upacara masuk sekolahnya jadi dimulai besok karena ada gangguan
teknis. Kau boleh istirahat sekarang”
“Aku
tidak peduli dengan upacara!! Sedang apa kau di sini, haa!!?”
“Minta
pertanggung jawaban atas peti itu”
BLETAK!!
Ia memukul kepala Johan dengan keras.
“Aduh!!
Kaaau!! Berani-beraninya..!!”
“Apa!?
Mau main kasar sama cewek!!? Pergi sana, cowok bodoh!!!”
“Angelica,
jaga ucapanmu” kata Sylvie berusaha menghentikan tindakan Angelica.
“Baik
baik! Aku bercanda, tahu!! Russell mencarimu!”
“Eh?
Mencariku? Ada apa?”
Ia terkejut
mendengar Russell mencarinya. Apakah ada kesalahan dariku?, pikirnya.
“Lihat
sendiri saja nanti. Ayo ikut aku. Kau ingin menemuinya, kan?”
“Hmm,
ya..”
Angelica
hanya menjawab dan mengikuti Johan. Sylvie hanya diam.
Di koridor
tempat tujuan mereka, Angelica masih memikirkan alasan Russell memanggilnya. Sylvie
hanya menatap punggung Angelica dan Johan, karena ia sendiri tak punya alasan
untuk tinggal
‘Tapi,
ada apa kak Russell mencariku? Seingatku aku tak punya janji apapun’
“Russell,
sudah datang, nih”
KREEK!
Johan membuka pintu sebuah ruangan dan memberitahu Russell yang ada didalamnya.
Angelica dan Sylvie begitu terpukau melihat Russell yang duduk di ruangan yang
begitu luas dengan pemandangan seluruh sekolah di belakangnya.
“Ah,
selamat datang di ruang Dewan Perguruan Siswa, Angelica. Silakan duduk, Sylvie
juga silakan duduk”
“Baik,
terima kasih. Maaf aku juga ikut datang”
“Ahaha,
tidak masalah”
Ruangan
itu sangat luas. Ruangan itu berbentuk persegi panjang dimana salah satu
sisinya dibatasi dengan full kaca dengan pemandangan seluruh sekolah terbentang
luas di luar. Chandelier yang tergantung sangat mewah, di dinding tergantung
beberapa frame foto digital yang menampilkan wajah dan profil siswa secara
bergantian, dan foto-foto itu adalah ketua Dewan Perguruan Siswa sebelumnya. Terdapat
meja panjang dengan enam buah kursi yang sangat nyaman. Di depan meja itu ada enam
buah anak tangga dan diatasnya terdapat meja yang lebih kecil dengan bangku
yang lebih nyaman lagi, disitulah Russell duduk. Dan Angelica tak
henti-hentinya merasa kagum.
“Ngg,
kak Russell ada apa mencariku?”
“Ah,
yaah aku punya permintaan padamu. Hmm.. hei, Johan, bukankah sebaiknya kau saja
yang mengatakannya?” katanya sambil menoleh ke arah Johan yang berdiri di
sebelahnya.
“Dia
tidak mempercayaiku. Lagipula lebih pantas jika kau yang mengatakannya”
“Hei,
apa maksudmu aku tidak mempercayaimu!?” teriak Angelica yang merasa tersinggung
dengan kalimat Johan barusan.
“Memang
itu kenyataannya, kan!?”
“Aku
tidak pernah bilang begitu! Seenaknya saja menuduh yang tidak-tidak!!”
Mereka
terdiam sesaat. Angelica berdiri dan masih tenggelam dalam amarah dan kesal
yang belum berhenti sejak kejadian kemarin. Johan hanya menatapnya polos. Akhirnya
ia berjalan ke arah jendela besar di belakang meja Russell.
“Baiklah,
terserah! Aku tidak akan bilang apa-apa lagi”
“Tentu
saja! Dasar menyebalkan! Lagipula kau tidak ada hubungannya dengan pembicaraan
kami, sebaiknya keluar saja!”
Mendengar
diperlakukan kasar, Johan berbalik.
“Kau
berani mengusirku!? Kau sadar posisimu, tidak, siswa baru!?”
“Kau
juga siswa di sini, kan!? Hargai juga aku sebagai adik kelasmu!”
“Angelica,
tahan dirimu!”
“Sudah
cukup!
Russell
dan Sylvie berdiri dari tempatnya duduk, berusaha menghentikan perdebatan
mereka. Kalimat terakhir Russell-lah yang benar-benar menghentikan mereka. Mereka
kembali terdiam sesaat. Russell menghela napas.
“Angelica,
justru karena Johan memanggilmu, dia ada hubungannya dengan pembicaraan ini”
“Apa?
Maksud kakak apa?”
Russell
terdiam lagi.
“Kau
yakin? Hubunganmu seburuk ini dengannya”
“Terserah.
Kau yang memutuskan. Aku hanya diam menurut”
“Hei,
apa yang kalian bicarakan? Apa maksud semua ini, kak Russell!?”
Melihat
Angelica yang tidak paham isi pembicaraan mereka, Russell berusaha
menjelaskannya dengan tegas.
“Saat
ini posisi wakil ketua Dewan Siswa SMA sedang kosong karena wakil ketua sebelumnya
pindah sekolah secara mendadak. Karena Johan belum menemukan orang yang tepat
sebagai wakilnya selama setahun ini, Johan ingin... memintamu sebagai pengganti
wakilnya”
“Eh..
eh.. apaaa!!? Akuuuu!!?”
0 comment:
Posting Komentar