Sabtu, 28 Februari 2015

Wings of Melodies~LoveStory Edition - Chapter 2



H
ari ini adalah hari upacara masuk asrama. Angelica memulai hari pertamanya di sekolah itu terhitung mulai hari ini.
“Selamat pagii!!”
“Iya! Selamat pagii!!”
Ia menyapa gadis-gadis yang sedang lewat di dekat kamar asramanya dengan sopan, meski tidak saling kenal. Ia pun mulai bersiap-siap.
“Hiyaaa! Seragamnya bagus sekali! Kereeen! Sekolah elite memang hebat!!” ia berseru sendiri saat
membuka lemari yang baru berisi seragam sekolahnya.
Kamar asrama Angelica bernomor 1003, terletak di lantai empat gedung asrama putri. Letaknya agak disudut dengan posisi hook, sehingga kamarnya sedikit lebih luas dibanding penghuni yang lain. Satu kamar ditempati oleh satu orang dengan fasilitas tempat tidur, meja belajar, lemari baju dan penyimpanan yang cukup besar, kamar mandi, serta beberapa perlengkapan masak otomatis. Para penghuni asrama harus mengolah sendiri sarapan paginya dengan bahan yang didapat dari pihak sekolah hari sebelumnya, namun makan siang dan malam disediakan di ruang makan utama asrama. Cowok boleh masuk ke asrama cewek dan sebaliknya, namun dibatasi hingga jam 7 malam. Untuk membuka pintu kamar asrama menggunakan scanning kartu pelajar elektronik dan password, sehingga keamanannya sangat dijamin.
Angelica selesai merapikan diri. Ia begitu bersemangat menyambut upacara masuk asramanya hari itu. Meski ia tidak wajib ikut karena datang sehari sebelum upacara, namun ia merasa harus berpartisipasi dan menemukan kenalan yang akan disebut ‘teman’.
“Angelica Steva Fiammatta Sandoras, siap untuk hari iniii!!”

Di halaman auditorium, suasana sudah mulai ramai dipenuhi siswa-siswi baru yang juga akan masuk asrama seperti dirinya.
“Uugh, bagaimana ini? Aku masih bingung dengan penempatan duduknya~~”
“Kalau kau bingung kan bisa kau tanyakan padaku”
“Iya, sih. Eh?”
Angelica terkejut dengan suara yang bersedia yang membantunya itu. Ia menoleh ke arah suara itu, dan ternyata...
“Selamat pagi, Angelica! Boleh kupanggil dengan nama depan?”
“Se, selamat pagi, kak Russell!! Bo, boleh saja!”
Angelica kembali gugup dan wajahnya merah. Ia masih begitu terpesona melihat Russell yang begitu ramah menyapanya.
“Ini upacara masuk asrama, jadi kau boleh duduk bebas, kok! Setelah itu langsung ikut upacara masuk sekolah, ya”
“Ba, baiik! Kenapa kak Russell ada di sini?”
“Aku harus memberi salam penyambutan untuk seluruh siswa baru di sini”
‘Ah, benar juga! Kak Russell kan ketua Dewan Perguruan Siswa di sini. Uuggh,, rasanya jauuh~~’
Perguruan Escoriale terdiri dari SD sampai Universitas. Meski berada dalam satu lingkup perguruan, bagian Universitas dibuat terpisah agar tidak berbaur dengan siswa-siswi sekolah. Untuk mengkoordinir pendapat seluruh murid dan mahasiswa di perguruan itu, maka dibuatlah organisasi yang disebut Dewan Perguruan Siswa, yang anggotanya berasal dari seluruh murid dan mahasiswa setiap bagian sekolah yang dianggap pantas dan mampu menjalankan organisasi tersebut.
Karena itulah Angelica begitu menghormati Russell, karena jabatannya itu yang membuatnya begitu disegani seluruh bagian sekolah. Setelah itu, seseorang memanggil Russell.
“Hei, Russell!! Sedang apa kau di sini? Upacaranya mau mulai kan!?”
‘Eh..?’
Mendengar suara orang yang memanggil Russell, Angelica merasa sedikit tak asing dengan suara itu.
“Ah, Johan. Maaf maaf. Dia sedang kebingungan jadi kubantu”
‘Eh..? dia.. diaaaa..!!!’
Orang itu terus perlahan mendekat, dan Angelica akhirnya ingat siapa orang itu dan mulai merasa kesal.
“Angelica, ini kuperkenalkan. Dia ketua Dewan Siswa SMA sekolah ini, Johan Robin Harcourt Sabrishion. Johan, ini Angelica Steva Fiammatta Sandoras, siswa baru sekolah ini”
“Aaaaahhh!!” mereka berdua saling berteriak.
“Kau orang yang kemarin minta pertanggung jawaban padaku atas peti itu kan!? Aku tidak akan memaafkanmuu~~!!”
GROOR!! Angelica seakan terbakar saat melihat orang yang kemarin memarahinya gara-gara peti tidak jelas itu. Russell terkejut dan bingung.
“Eh? Eh!? Kalian sudah kenal!?”
Cowok yang dipanggil Johan itu hanya menatapnya dengan malas, kemudian ia menghela napas dan memegang pinggang sebelah kanannya dengan tangan kanan.
“Kau yang kemarin tidak menangkap peti itu kan!? Dasar cewek merepotkan!!’
“Apa katamu!? Dasar laki-laki egois!!”
Mereka mulai saling memukul dan memarahi satu sama lain. Hal itu membuat heboh orang-orang di sekitarnya. Melihatnya, Russell yang tadinya diam karena bingung akhirnya merasa kesal dan...
“Kalian berdua.. tenaaaaaanng!!!”
GREB! GREB! Russell melerai mereka dengan memegang kepala mereka. Mereka yang terkejut, berusaha menatap Russell yang meski ia tersenyum, namun bagai senyum kematian bagi mereka.
“Nah,, ayo masuk ke aula, Johan!! Angelica juga!!”
“Ba... baiik~~”

Di dalam aula besar, Angelica duduk sekenanya sambil menggerutu kesal.
‘Dasar! Apa-apaan cowok itu! Sudah ketemu lagi, ternyata dia siswa sekolah ini pula! Benar-benar..’
“Menyebalkaaan!”
“Kau heboh sekali di pintu masuk tadi”
“Eh”
Seorang cewek berambut ombak sepinggang menyapanya dengan nada sedikit sinis. Waah,, cantik sekali, pikirnya. Ia mengenakan seragam dengan scarf warna oranye, yang menandakan bahwa ia juga kelas satu sama seperti dirinya.
“Selamat pagi” katanya kemudian dengan ramah. Angelica masih sedikit terkejut.
“Se, selamat pagi. Maaf jika keributan itu membuatmu terganggu” jawabnya. Kemudian gadis itu duduk di sebelahnya.
“Ah, bagiku tidak, kok. Hanya saja, kak Russell dan kak Johan punya banyak penggemar dari angkatan kita. Aku takut saja jika terjadi sesuatu padamu nanti. Hati-hati, ya”
Dia mencemaskanku?, pikirnya. Namun Angelica kembali tersenyum.
“Baik. Terima kasih banyak sudah mengingatkanku. Ah, aku Angelica Steva Fiammatta Sandoras, siswa baru sekolah ini!”
“Aku Sylvie Rosemary Littha Hatter, aku juga siswa baru”
“Benarkah? Kupikir kau siswa lanjutan!”
Hampir semua siswa Escoriale adalah siswa lanjutan, dimana mereka bersekolah di sini sejak SD hingga SMA ini. Namun mayoritas diantara mereka mengambil pendidikan universitas di luar negeri atau universitas elite di Inggris.
“Ya, aku pindah dari Newcastle ke sini”
“Waah, Newcastle. Aku sejak dulu ingin ke sana!”
“Begitu, ya. Kalau begitu saat liburan sekolah nanti,, kau boleh datang ke rumahku kok”
“Benarkah!? Waah, senangnya! Tapi, apa kau benar-benar tidak keberatan?”
“Tidak. Silakan datang”
“Terima kasih! Aku tidak sabar menunggu liburan!”
Tak lama kemudian, upacara masuk asrama pun dimulai. Selama upacara, Angelica dan Sylvie mulai sedikit demi sedikit mengenal satu sama lain.
 “Dengan demikian, semoga kalian betah berada di sekolah ini dan dapat membawa prestasi untuk sekolah kita!”
PLOK PLOK PLOK PLOK! Para siswa pun bertepuk tangan riuh setelah mendengar kalimat penutup pidato dari Russell. Mereka mulai saling bicara.
“Kak Russell memang keren, ya!”
“Tak hanya keren, dia siswa yang sangat populer di sekolah ini. Dari sekolah tingkat SD sampai SMA kita ini, semua sangat mengenal dan menghormatinya, bahkan sebelum ia diangkat sebagai ketua Dewan Perguruan Siswa!”
“Waah, hebat!!”
“Selain populer karena ketampanannya, dia sangat cerdas! Pokoknya perfect deh!!”
“Kau benar-benar tahu kak Russell, Sylvie”
“Yaah, begitulah! Habis dia dan ketua Dewan Siswa kita itu Pangeran Perguruan, sih”
Angelica hanya mengangguk-angguk. Kemudian ia menyadari sesuatu paling penting.
‘Ternyata.. mereka semua benar-benar sangat berbeda jauh dariku.. tapi, hanya kak Russell seorang yang tahu bagaimana kehidupanku. Ya.. meski hanya kehidupanku..’
“Eh? Memangnya siapa ketua Dewan Siswa kita?” tanyanya polos. MC upacara pun mulai menyampaikan acara selanjutnya.
“Selanjutnya, mari kita dengarkan pidato dari ketua Dewan Siswa SMA kita. Silakan naik ke podium!”
Angelica sangat terkejut saat orang yang naik ke podium itu adalah...
“Selamat pagi, saya Johan Robin Harcourt Sabrishion, Ketua Dewan Siswa SMA sekolah ini!”
‘A... APAAAA!?’
“Jo, Johan.. Ketua dewan..!?”
“Bukankah tadi kak Russell sudah bilang padamu?”
Angelica mencoba mengingatnya.
“Ah, benar juga! Tadi dia mengatakannya. Uugh, rasanya tidak percaya laki-laki ini ketua dewan. Apalagi mengingat kejadian kemarin. Menyebalkaaan!”
“Kejadian kemarin?”
“Ah, soal itu..”

Selesai upacara masuk asrama, mereka duduk di bangku taman yang ada di luar aula untuk menunggu pengumuman selanjutnya. Angelica menceritakan pertemuannya dengan Johan, dan kejadian yang masih begitu membuatnya kesal.
“Ooh begitu, ya”
“Benar, kan!? Mendengarnya saja sudah menyebalkan, kan!? Aku benar-benar kesal!”
“Hmm, tapi.. kalau kau sampai bisa bertemu dengannya dengan cara seperti itu jangan-jangan memang takdirmu untuk berada di sekolah ini. Secara arti sempitnya, sih”
Angelica mulai berpikir mendengar perkataan Sylvie.
‘Begitukah.. tapi..’
“Atau mungkin kalian jodoh ya..?”
“Tidak tidak tidak tidak!! Itu benar-benar tidak mungkin!! Laki-laki super menyebalkan seperti itu sebaiknya mati sajaaa!!”
“Ooh, kau benar-benar ingin aku mati, ya?”
GLEK! Angelica mendengar suara yang tidak asing. Suara yang sama dengan suara ketua Dewan Siswa yang pidato di depan aula tadi. Pertama melihatnya, ia hanya fokus pada scarf ungu yang dipakainya, tanda bahwa ia adalah siswa kelas dua, serta bros emas untuk menahan agar scarf-nya tidak lepas. Sampai akhirnya, ia melihat wajah cowok itu.
“Ka, kaaau!! Kenapa di siniiii!!?”
“Yoo, cewek kasar. Upacara masuk sekolahnya jadi dimulai besok karena ada gangguan teknis. Kau boleh istirahat sekarang”
“Aku tidak peduli dengan upacara!! Sedang apa kau di sini, haa!!?”
“Minta pertanggung jawaban atas peti itu”
BLETAK!! Ia memukul kepala Johan dengan keras.
“Aduh!! Kaaau!! Berani-beraninya..!!”
“Apa!? Mau main kasar sama cewek!!? Pergi sana, cowok bodoh!!!”
“Angelica, jaga ucapanmu” kata Sylvie berusaha menghentikan tindakan Angelica.
“Baik baik! Aku bercanda, tahu!! Russell mencarimu!”
“Eh? Mencariku? Ada apa?”
Ia terkejut mendengar Russell mencarinya. Apakah ada kesalahan dariku?, pikirnya.
“Lihat sendiri saja nanti. Ayo ikut aku. Kau ingin menemuinya, kan?”
“Hmm, ya..”
Angelica hanya menjawab dan mengikuti Johan. Sylvie hanya diam.

Di koridor tempat tujuan mereka, Angelica masih memikirkan alasan Russell memanggilnya. Sylvie hanya menatap punggung Angelica dan Johan, karena ia sendiri tak punya alasan untuk tinggal
‘Tapi, ada apa kak Russell mencariku? Seingatku aku tak punya janji apapun’
“Russell, sudah datang, nih”
KREEK! Johan membuka pintu sebuah ruangan dan memberitahu Russell yang ada didalamnya. Angelica dan Sylvie begitu terpukau melihat Russell yang duduk di ruangan yang begitu luas dengan pemandangan seluruh sekolah di belakangnya.
“Ah, selamat datang di ruang Dewan Perguruan Siswa, Angelica. Silakan duduk, Sylvie juga silakan duduk”
“Baik, terima kasih. Maaf aku juga ikut datang”
“Ahaha, tidak masalah”
Ruangan itu sangat luas. Ruangan itu berbentuk persegi panjang dimana salah satu sisinya dibatasi dengan full kaca dengan pemandangan seluruh sekolah terbentang luas di luar. Chandelier yang tergantung sangat mewah, di dinding tergantung beberapa frame foto digital yang menampilkan wajah dan profil siswa secara bergantian, dan foto-foto itu adalah ketua Dewan Perguruan Siswa sebelumnya. Terdapat meja panjang dengan enam buah kursi yang sangat nyaman. Di depan meja itu ada enam buah anak tangga dan diatasnya terdapat meja yang lebih kecil dengan bangku yang lebih nyaman lagi, disitulah Russell duduk. Dan Angelica tak henti-hentinya merasa kagum.
“Ngg, kak Russell ada apa mencariku?”
“Ah, yaah aku punya permintaan padamu. Hmm.. hei, Johan, bukankah sebaiknya kau saja yang mengatakannya?” katanya sambil menoleh ke arah Johan yang berdiri di sebelahnya.
“Dia tidak mempercayaiku. Lagipula lebih pantas jika kau yang mengatakannya”
“Hei, apa maksudmu aku tidak mempercayaimu!?” teriak Angelica yang merasa tersinggung dengan kalimat Johan barusan.
“Memang itu kenyataannya, kan!?”
“Aku tidak pernah bilang begitu! Seenaknya saja menuduh yang tidak-tidak!!”
Mereka terdiam sesaat. Angelica berdiri dan masih tenggelam dalam amarah dan kesal yang belum berhenti sejak kejadian kemarin. Johan hanya menatapnya polos. Akhirnya ia berjalan ke arah jendela besar di belakang meja Russell.
“Baiklah, terserah! Aku tidak akan bilang apa-apa lagi”
“Tentu saja! Dasar menyebalkan! Lagipula kau tidak ada hubungannya dengan pembicaraan kami, sebaiknya keluar saja!”
Mendengar diperlakukan kasar, Johan berbalik.
“Kau berani mengusirku!? Kau sadar posisimu, tidak, siswa baru!?”
“Kau juga siswa di sini, kan!? Hargai juga aku sebagai adik kelasmu!”
“Angelica, tahan dirimu!”
“Sudah cukup!
Russell dan Sylvie berdiri dari tempatnya duduk, berusaha menghentikan perdebatan mereka. Kalimat terakhir Russell-lah yang benar-benar menghentikan mereka. Mereka kembali terdiam sesaat. Russell menghela napas.
“Angelica, justru karena Johan memanggilmu, dia ada hubungannya dengan pembicaraan ini”
“Apa? Maksud kakak apa?”
Russell terdiam lagi.
“Kau yakin? Hubunganmu seburuk ini dengannya”
“Terserah. Kau yang memutuskan. Aku hanya diam menurut”
“Hei, apa yang kalian bicarakan? Apa maksud semua ini, kak Russell!?”
Melihat Angelica yang tidak paham isi pembicaraan mereka, Russell berusaha menjelaskannya dengan tegas.
“Saat ini posisi wakil ketua Dewan Siswa SMA sedang kosong karena wakil ketua sebelumnya pindah sekolah secara mendadak. Karena Johan belum menemukan orang yang tepat sebagai wakilnya selama setahun ini, Johan ingin... memintamu sebagai pengganti wakilnya”
“Eh.. eh.. apaaa!!? Akuuuu!!?”

0 comment:

Posting Komentar

 

Diana Rachmawati Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template