Sabtu, 28 Februari 2015

Wings of Melodies~LoveStory Edition - Chapter 3



K
eesokan harinya, upacara masuk sekolah.
‘A.. apa-apaan iniiii!!? Kenapa aku harus ikut berdiri di sini bersama laki-laki menyebalkan iniiii!!!?’
“Karenanya kuharap semoga semuanya dapat membawa nama baik sekolah ini seperti yang dilakukan para pendahulu kita. Selamat pagi!”
Mereka bertepuk tangan setelah mendengar pidato serta peraturan dari Johan, Ketua Dewan Siswa, yang kini sedang berdiri di podium bersama Angelica.
‘Dan lagi, kenapa tidak ada yang merasa heran aku berdiri disini! Hei, aku masih kelas satu, lho! Lihat, scarf-
ku warna oranye, sama seperti kalian! Huhuuu tidak ada yang sadaaar~~’
Angelica merasa begitu buruk. Pikirannya kacau karena permintaan dari Russell kemarin, dan ia hanya bisa mengiyakan karena permintaannya adalah absolut. Sementara itu, Russell dan Sylvie berdiri di sisi lain di barisan.
“Eeeh, kak Russell. Kau yakin dengan semua ini? Hubungan mereka seburuk itu”
“Haha, sebenarnya aku juga sedikit khawatir. Tapi karena Johan yang memintanya, kurasa akan baik-baik saja”
“Eh? Kak Johan yang meminta?”
“Begitulah. Tapi karena hubungan mereka seburuk itu, ia tidak bisa bilang secara langsung. Karenanya, lihat saja nanti. Lagipula Angelica mampu, kok. Dia punya potensi besar untuk maju di posisi tinggi. Dan ia juga punya pengalaman di bidang Dewan Siswa, sih”
“Tapi, aku benar-benar khawatir jika semua ini terus berlanjut. Hmm, bagaimana ini..”
“... karena itulah aku memintamu ke sini, kan?”
“Eh?”
Sylvie terkejut dengan pernyataan itu. Ia hanya menatap wajah Russell.
“Kak Russell..?”

TENG TENG TENG! Selesai upacara masuk sekolah. Siswa baru berkerumun di depan papan pengumuman digital yang menampilkan nama para siswa untuk pembagian kelas.
“Waah! Kelas 1-A! Asyiiik, kita sekelas, Sylvie!!”
“Benar! Mulai sekarang, mohon bantuannya, ya!!”
“Sama-sama. Ah!”
Ia menyadari seseorang menghampirinya, dan orang itu...
“Selamat pagi, kak Russell”
“Selamat pagi, Angelica. Sudah lihat papan pengumuman pembagian kelas?”
“Sudah. Kami sama-sama di kelas 1-A, lho!”
“Ah, syukurlah dapat kelas istimewa di tahun pertama kalian, ya”
“Eh? Kelas istimewa?” tanyanya tidak mengerti.
“Begini, untuk siswa tahun pertama kelas dibagi berdasarkan dari nilai tes dan CV-nya. Kalau nilai tes dan CV-nya sangat bagus, akan dimasukkan ke kelas istimewa. Tapi hanya berlaku untuk siswa tahun pertama. Seterusnya hanya berdasarkan lotere saja”
“Ah, begitu ya. Kalau begitu, nilai tes-mu tinggi ya, Sylvie?” tanyanya sambil menoleh ke arah Sylvie.
“Eeh, kemarin aku hanya ranking lima dari seluruh siswa baru. Jadi tidak bisa dibilang bagus”
“Waaah, kereeen!! Kau pasti sangat pintar!!”
“Tidak kok. Kalau kau, Angelica?”
“Angelica adalah siswa yang mendapat beasiswa penuh di sini, jadi tidak perlu ujian masuk” jawab Russell dengan nada tinggi. Otomatis siswa lain yang mendengar terkejut dengan pernyataan itu.
“Hee, dia yang tadi berdiri di samping kak Sabrishion, kan!? Jadi dia siswa teladan itu!?”
“Aku memang dengar gosip tahun ini ada siswa yang mendapat beasiswa, ternyata kabar itu benar, ya!!? Padahal susah sekali dapat beasiswa di sini!!”
“Dan lagi, dia ternyata wakil ketua baru, lho!!”
Mendengar siswa-siswi yang lain menanggapi pernyataan itu, Sylvie pun memujinya dengan senang sekaligus terkejut.
“Hebat, semua tahu tentangmu!”
 “Ahahaha, aku tidak pintar, kok. Sungguh. Oh iya, kak Russell dan cowok bodoh itu di kelas mana? Aku diminta untuk tahu kelasnya” tanyanya kembali pada Russell.
“Jangan dipanggil cowok bodoh. Kami sekelas di kelas 2-C”
“Ah, kalian sekelas, ya? Hmm..”
“Kenapa? Kelihatannya kau kecewa kami sekelas”
Johan tiba-tiba datang menemui mereka. Angelica memasang wajah dongkol. Ia membuang muka padanya.
‘Wajar saja aku kecewa! Kenapa harus sekalian melihat mukamu di kelas yang sama dengan kak Russell!!’ teriaknya dalam hati.
“Angelica, kita harus ke kelas sekarang”
“Ah, tunggu! Sampai nanti, kak Russell! Cowok bodoh!”
“Apa katamu!?”
“Sudahlah, Johan. Kita juga harus masuk”

TENG TENG TENG! Istirahat siang tiba. Mendengar bel itu Angelica langsung menyandarkan badannya di atas meja.
“Haah, akhirnya istirahaaatt~~”
TING! TONG! Suara tanda pengumuman dari ruang siaran berbunyi.
<Kepada siswa kelas 1-A bernama Angelica Sandoras, harap segera ke ruang Dewan Siswa! Saya ulangi..>
“Eeh? Suara kak Johan?” tanya Sylvie sambil berjalan menghampiri Angelica. Mereka tidak duduk bersebelahan.
“Ya! Dan pasti cowok bodoh itu ingin menyuruhku mengerjakan tugas yang merepotkan! Baiklah! Aku akan terima tantangannya!!”
WHOORR!
“Angelica, kau terbakar!!”

Di lorong sekolah, lantai 5. Angelica merasa begitu bingung menemukan tempat yang dituju.
“Aduuh,, aku belum hapal jalan ke sini. Sekarang malah tersesat begini~~”
‘Seharusnya tadi aku menerima tawaran Sylvie untuk menemaniku. Sekarang jadi tersesat begini. Lagipula ini kan jam istirahat, kenapa lorongnya sepi banget, sih!’
“Ah, kau Sandoras, kan?”
‘Eh?’
Seorang gadis cantik nan tinggi itu mengajaknya bicara. Ia sangat terpesona dengan wanita itu. Wajahnya oval, berambut ombak sebahu berwarna gold dan mata berwarna ametis itu mengenakan seragam dengan scarf ungu, tanda bahwa ia kelas dua.
‘Waaah, cantik sekali! Seperti model! Bukan, seperti putri!!’
“Ah, be, benar!”
“Pasti kau mau ke ruang dewan, kan? Ayo kita ke sana sama-sama”
“Ah, baik! Eeh, kakak...”
“NamakuPatricia Mailline Rhine Preminger, sekretaris dewan siswa, kelas 2-E. Salam kenal!”
“Ah, salam kenal juga, kak Patricia”
Mereka terdiam sesaat. Akhirnya Patricia mulai mengajaknya bicara.
“Ngomong-ngomong, kau mengenal Johan sejak kapan?”
“Ah, saat aku baru tiba di kota ini, aku bertabrakan dengannya di dekat stasiun. Tapi saat itu aku belum tahu bahwa kak Johan juga murid sekolah ini”
“Ooh, pertemuan pertama, ya...”
“Begitulah”
Melihat tanggapan Patricia agak aneh, Angelica mulai berpikir.
‘Hmm... sepertinya kak Patricia sedikit tidak mempercayaiku. Wajar, sih, aku masih kelas satu tapi tiba-tiba dipilih menjadi wakil ketua Dewan Siswa...’
“Sepertinya, Johan memang sudah mempercayaimu sebagai wakilnya” katanya kemudian dengan ramah.
“Eh?” Angelica bingung, tak mengerti maksudnya.
“Yaah, selama ini ia mencari seseorang yang cocok di posisi itu dan membiarkan posisi itu kosong selama setahun ini. Kuharap kau tidak mengecewakannya, ya, Sandoras”
Patricia kembali mengatakannya dengan ramah. Melihat seperti itu, Angelica mulai bersemangat.
“Aku akan berusaha! Panggil aku Angelica saja!”
“Baiklah. Ah, kita sudah sampai”
“Ah? Eh!? Lho!? Lho!?” ia kebingungan melihat ujung koridor dengan ujung lainnya. Kemudian merasa lemas.
“Ada apa?”
“Ma, maaf!! Karena keasyikan ngobrol, aku tidak memperhatikan jalan! Jadinyaa~~”
“Ahaha, kau tidak hafal jalan kesini, ya. Nanti akan kuantar lagi sampai di depan tangga, ya” jawabnya lagi dengan ramah
“Baik~~ maafkan aku~~”
Pintu dibuka oleh Patricia. Dan dibalik pintu terdapat beberapa orang yang duduk disana.
 “Selamat siang, Johan. Angelica sudah datang”
“Ah, Patricia rupanya. Kau sudah datang, Angelica. Selamat datang di ruang Dewan Siswa!”
Angelica kembali terkejut dengan ruangan itu. Meski tidak sebesar dan semewah ruang Dewan Perguruan Siswa, namun ruangan itu terlihat berkilau baginya. Terdapat chandelier tergantung di atap meski tidak terlalu mewah. Ada meja besar dengan buku-buku rapi diatasnya yang diapit dengan empat bangku yang terbuat dari beludru, dan dua di antaranya diduduki oleh anggota. Sementara di depannya ada meja tempat Johan duduk, yang diukir sedemikian rupa dengan bangku besar ala bos perusahaan.
‘Waah!! Ruangannya benar-benar hebat!! Ditambah lagi anggota Dewan Siswa juga semuanya ada di sini!! Mereka terlihat luar biasa!’
“Ah, kau ya, cewek yang ribut denganmu di upacara masuk sekolah, Johan!?” tanya salah seorang anggota yang duduk disitu.
“Begitulah!”
‘Tapi, sepertinya mereka mengenalku!’ teriaknya lagi dalam hati. Angelica menatap Johan dengan sinis, namun Johan tidak mempedulikannya.
“Baiklah! Rapat siang akan kita mulai. Sebelumnya, aku akan memperkenalkan wakil ketua Dewan Siswa yang baru”
Angelica kemudian berjalan menuju sebelah Johan. Ia berdiri dan memperkenalkan diri.
“Eeeh.. Selamat siang, aku Angelica Steva Fiammatta Sandoras, kelas 1-A, yang akan menjabat sebagai wakil ketua Dewan Siswa selama setahun ini. Mohon bantuannya!”
“Dia akan menjabat sebagai wakilku sampai masa jabat ketua Dewanku habis. Walaupun dia masih kelas satu dan kupilih secara mendadak tanpa mempertimbangkan pendapat kalian, kuharap kalian bisa bekerjasama dengannya”
Johan mengatakannya dengan tegas. Dan saat itu Angelica menyadari sesuatu yang aneh.
‘Sesaat, kak Johan terlihat sangat berbeda. Auranya tajam dan tegas. Dia tidak main-main memilihku, meski ia juga menganggapku menyebalkan’
“Tapi hati-hati padanya. Karena sepertinya ia mantan tukang pukul, jadi emosinya tidak mudah dikontrol”
BLETAK!! Ia memukul kepala Johan tanpa pikir panjang setelah mendengar kalimat menyebalkan itu.
“Dasar cowok bodoh!!!”
‘Tapi aku... akan berusaha memenuhi harapannya...’

TONG TENG TANG TONG! Waktu pulang sekolah akhirnya tiba. Di kelas 1-A.
“Sampai besok!!”
“Daaah!! Sampai bertemu besok!!”
Angelica masih duduk di mejanya sambil memutar-mutarkan pulpen di tangannya. Sylvie menghampirinya.
“Angelica, kau sudah mengisi formulir pemilihan klub?”
“Ah, aku sedang mengisinya, tapi masih bingung. Kau sudah memutuskan, Sylvie?”
“Sudah! Aku masuk klub desain”
“Hmm desain, ya... kau suka sekali desain baju, Sylvie??”
“Begitulah. Ini bidang yang aku ingin lebih tekuni lagi saat lulus SMA nanti. Agar nanti desain baju di tokoku bisa lebih bervariasi!”
“Tokomu? Kau sudah punya toko sendiri!?”
“Eeeh, kau tau merek ‘Crystal Gallery’?? Sebenarnya, itu merek tokoku”
“Apaaaa!?!?” teriaknya dengan keras. Ia begitu terkejut dengan nama merek yang sangat ia kenali itu.
‘Bohong!?!? Waktu SMP teman-temanku sangat menggandrungi merek ini!! Desain baju bergaya  lolita klasik yang disegani banyak kalangan itu, adalah miliknya!?!?!’
“Tapi, merekku tidak seterkenal itu, Angelica” katanya merendah.
“Siapa bilang!! Teman-teman SMP-ku sangaaat menyukai bajumu!! Menurutku, baju-baju itu sangat indah dan sangat menonjolkan estetika dan kelebihan wanita yang memakainya!! Benar-benar baju impian!! Tapi, karena kami tidak bisa membelinya, kami hanya meniru desainnya dan membuatnya sendiri dengan bahan-bahan yang murah. Ah! Tapi aku punya satu baju dari merekmu, lho! Aku rahasiakan karena sayang memakainya, sih”
“Ahaha, benarkah!? Kau terlalu memujiku, Angelica. Tapi aku senang jika mendengar ada yang menyukai bajuku hingga seperti itu. Terima kasih banyak, Angelica. Kalau begitu lain kali, aku akan mengajakmu ke toko cabang di sini, ya!”
“Benarkah!? Terima kasih banyak!”
“Kalian, ngobrolnya sudah selesai?? Formulirnya aku ambil, ya” kata sebuah suara.
“Ah, aaah! Tunggu, aku belum mengisinya!” katanya sambil berusaha merebut kertas formulirnya. Angelica terkejut dengan orang itu.
Ternyata dia seorang cowok yang lumayan tinggi. Rambutnya agak tebal berwarna hitam legam, dengan mata berwarna kuning keemasan. Ia cukup tampan.
“Ng, kau... siapa, ya?”
“Angelica, dia ketua kelas kita, lho. Kau tidak mendengarkan saat home room tadi, ya??”
“Ketua kelas!?”
Kemudian cowok itu turun dari meja tempat ia duduk sebelumnya.
“Harry Albern Stuart Brimingham, ketua kelasmu. Salam kenal, Angelica Steva Fiammatta Sandoras, sang wakil ketua Dewan Siswa baru!” katanya sambil mengedipkan sebelah matanya. Kemudian ia menyerahkan formulir itu kembali pada Angelica.
“Aah, maaf, Brimingham! Sebentar lagi, ya!” katanya sambil mengambil kembali formulirnya
“Panggil aku Harry saja. Cepat sedikit, tinggal kau saja yang belum mengisinya!”
“Baiklah, hmm... hei, Harry, kira-kira aku cocok di klub apa, ya?”
“Hei, jadi kau belum memutuskan, ya? Dasar. Tapi, aku belum mengenalmu, jadi ini hanya penilaian secara fisik saja, ya”
“Baiklah!”
Harry berpikir sejenak.
“Hmmm... mungkin kau cocok di bidang rumah tangga. Ah, tapi kau juga cocok masuk klub bela diri seperti kendo atau silat, mungkin??”
“Ah, aku pernah ikut silat sampai sabuk hitam, lho”
“Kau serius!?”
“Yaa, tapi beberapa hari kemudian aku berhenti silat karena tertarik dengan panah. Jadi ...”
“Pantas saja. Kau memang tukang pukul sebelumnya, cewek kasar” kata seseorang yang tiba-tiba masuk ke kelasnya.
‘Muncul!?!?’ teriak Angelica dalam hati. Ia buru-buru menjauhi diri dari... Johan.
“Ah! Selamat sore, kak Johan! Senang bertemu denganmu” sapa Harry.
“Ooh, kau murid nilai tertinggi saat ujian masuk, kan? Kalau tidak salah namamu Brimingham” katanya terkejut.
“Benar, Harry Brimingham. Panggil Harry saja”
“Ok. Dan aku ada perlu dengan cewek ini. Aku sudah bilang untuk cepat ke ruang Dewan Siswa setelah pulang sekolah, bukan? Hei, cewek kasar!?” katanya kemudian sambil mengalihkan pandangannya pada Angelica.
“Maaf, formulir klubnya belum kuisi. Aku akan datang sebentar lagi. Tinggalkan aku!” jawabnya ketus.
“Kau ini bodoh, ya? Kau belum menentukan masuk klub apa!?”
BRAAAK!! Angelica memukul meja dengan tangannya. Ia merasa diremehkan.
“Sekali lagi kau bilang aku bodoh, aku berhenti sebagai wakil Dewan Siswa!!”
“Tidak bisa. Keputusanku mutlak. Biar kau mengadu pada Russell pun, ia tak bisa apa-apa!”
“Kalau begitu, aku akan mengancammu!”
“Kau bisa dikeluarkan dari sekolah saat kau benar-benar melakukannya!”
Angelica langsung merasa lemas mendengarnya.
“Keputusan mutlak, ya?” tanya Harry.
“Ia benar-benar tak bisa apa-apa sekarang” kata Sylvie.
“Pokoknya cepat kau isi! Aku akan menunggumu di koridor!” katanya kemudian. Lalu ia keluar sambil menutup pintu kelas. Slyvie dan Harry kemudian melihat Angelica dengan rasa kasihan.
 “Angelica.. kau baik-baik saja..?” tanya Sylvie takut-takut.
Angelica tidak bergeming. Ia terdiam agak lama, kemudian ia bertanya pada mereka berdua.
“Sylvie, Harry, apa kalian tahu cowok kasar itu masuk klub apa?”
“Eeh, kalau tidak salah klub sepak bola dan panah. Tapi ia juga ikut klub anggar di luar sekolah”
“Baiklah!!”
SRET SRET SRET SRET!! Ia menulis formulirnya dengan cepat, kemudian menyerahkannya pada Harry.
“Ini! Terima kasih sudah menunggu!! Aku akan ke ruang Dewan Siswa sekarang! Sylvie, pulang nanti tunggu aku!” katanya sambil berlalu.
“Ah, Angelica!!” panggil Sylvie. Namun Angelica sudah keluar dari kelas. Kemudian Harry dan Sylvie melihat isi formulir Angelica.
“Klub panah.. dan klub bahasa Jepang?”

Di luar kelas, Johan berdiri menyandarkan punggungnya sambil memainkan handphone-nya. Kemudian ia sadar saat Angelica keluar.
“Aah, sudah selesai? Kukira bakal lama”
“Sudah, Ketua!! Ada lagi yang ingin dilakukaaan~!?!?” tanyanya kesal.
“... kenapa? Kau terlihat sangat kesal”
“Tidak usah dibilang kau juga mengerti kan!?!? Dasar cowok kasaaarr!!!!”
Angelica berjalan sendiri. Johan hanya melihat punggungnya sambil menghela napas.
“Ya ampun, cewek ini. Hoi, memangnya kau tahu jalan ke ruang Dewan Siswa??” tanyanya agak keras, karena Angelica sudah agak jauh darinya.
“Aku tinggal tanya senior yang lain, bo... KYAAA!!!”
Ia tidak sengaja menapak salah satu anak tangga terlalu ke pinggir sehingga ia jatuh.
“Angelica!!!”
Johan berusaha meraih tangannya. Meski berhasil, namun karena tak memegang pegangan tangga di tangan satunya, mereka akhirnya jatuh bersama dengan posisi Angelica berada di atas badan Johan. Kini mereka sama-sama meringis kesakitan. Namun, Angelica menyadari satu hal.
‘Tadi... tadi dia...’
“Adududuh... Kau baik-baik saja, kan?” tanyanya setelah berusaha menyadarkan diri.
“Eeeh, iya...” jawabnya gugup.
“Dasar bodoh. Hati-hati, dong. Kalau nanti kena kepala, kau tahu sendiri akibatnya, kaan!?”
“Ti... tidak usah dibilang bodoh aku juga mengerti!” teriaknya menyangkal. Namun ia segera merubah sikapnya.
“Tapi... terima kasih...!” ucapnya sambil menyandarkan kepalanya di dada Johan.
‘Tadi... dia memanggilku dengan namaku...’ katanya dalam hati. Entah kenapa, muncul perasaan senang di hatinya saat itu.
“Yaah, syukurlah. Kau benar baik-baik saja, kan?? Bisa berdiri??” tanyanya sambil berusaha berdiri dan meraih tangan Angelica.
“Ya... eeh, kau sendiri bagaimana?” tanyanya kembali sambil berusaha berdiri dibantu oleh Johan.
“Tenang saja. Kalau hanya jatuh dari tangga, badanku masih kuat” jawabnya santai sambil menepuk-nepuk seragamnya yang agak kotor karena jatuh tadi. “Nah, ayo!”
‘Kurasa... ia memang punya sisi baik...’ kata Angelica dalam hati lagi. Dan ia kembali tersentuh dengan kebaikan Johan.

“Dasar... seharusnya kau bisa bersikap jujur, Johan...”kata Russell, yang berdiri di balik dinding dan memerhatikan mereka sejak tadi....

0 comment:

Posting Komentar

 

Diana Rachmawati Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template