Jumat, 13 Maret 2015

Wings of Melodies~LoveStory Edition - Chapter 4

“J
adi, dengan hipotesis ini...”
“Hoaaamm~~”
‘Selamat siang! Angelica di sini. Kelas siang ini sedang berlangsung pelajaran yang sangat tidak kuminati, Biologi. Ya, aku tidak suka pelajaran hafalan
“Hei, Angelica. Ini dari Hatter” bisik seorang teman sekelas Angelica, yang duduk di depannya. Ia menyerahkan sebuah kertas kecil yang merupakan pemberitahuan. Ia membacanya dengan santai.
‘Hari ini sudah seminggu sejak kejadian itu. Tapi sejak saat itu juga kak Johan tidak masuk sekolah tanpa alasan yang jelas. Padahal aku kebingungan dengan tugas Dewan Siswa di sekolah ini. Tugasnya berbeda dengan OSIS’
“Yeei! Pulang sekolah nanti!!” teriaknya pelan. Ia begitu senang dengan pemberitahuan yang
diberikan oleh Sylvie, dan sangat menantikannya.
‘Tapi, aku sudah terbiasa menjalaninya’

TONG TENG TANG TONG!
“Huuuft, akhirnya selesaaaii~” keluh Angelica sambil menyandarkan punggungnya di bangkunya. Kemudian Sylvie menghampirinya. Benar, Sylvie duduk di bangku paling depan deretan sebelah Angelica. Sementara Angelica sendiri duduk di baris paling belakang.
“Hari ini semua kegiatan klub diliburkan. Ayo kita keliling kota ini!” katanya dengan semangat. Dan inilah isi surat pemberitahuan Sylvie tadi.
“Ya! Kita belum sempat mengelilingi kota sejak tiba di London. Aku ingin makan pastaa~” katanya dengan malas. Ia terlihat begitu capek.
“Ini bukan Italia, Angelica. Harry, kau mau ikut?” Tanya Sylvie kemudian pada Harry.
“Boleh saja. Aku juga senggang setelah ini” jawab Harry sambil merapikan tablet dan buku tulisnya. Ia duduk di baris ketiga dan satu deret dengan Angelica.
“Hmm, karena Harry ikut, kau jadi tour guide kami, ya!” perintah Angelica dengan senang.
“Tidak mungkin. Aku juga siswa asrama di sini. Asalku dari Norwich” katanya sambil berdiri dan menghampiri mereka berdua.
“Waah, Norwich! Aku juga ingin ke sanaaa~~!!” kata Angelica sambil berangan-angan.
“Boleh saja! Saat libur panjang nanti kita ke sana, ya!” ajak Harry.
“Ah, kalian sudah merencanakan liburan? Sekolah baru berjalan seminggu, lho” jawab sebuah suara. Mereka pun mengalihkan pandangan ke pintu masuk kelas.
“Kak Russell! Kak Johan, lama tidak bertemu!” seru Sylvie senang. Ia pun memberi salam.
“Yo!” balas Johan dengan memberi tanda ‘peace’. Kemudian mereka masuk dan menghampiri meja Angelica.
‘Kak Johan..’
“Selamat siang, lama tidak bertemu, kak” salam Harry sambil sedikit menundukkan kepalanya.
“Tidak usah formal begitu. Ini sudah di luar jam sekolah, kok!” jawab Russell santai.
“Tapi kalian orang yang kusegani! Karena itu aku menghormatinya!” jawab Harry sambil menggebu-gebu. Melihatnya, Angelica dan Sylvie berkomentar dalam hati.
‘Ternyata, Harry orangnya sangat berterus terang~~’
“Oh ya. Kak Johan kemana saja selama hampir seminggu ini?” Tanya Sylvie.
“Ah, aku harus membantu perusahaan keluargaku. Kemarin selama seminggu ada masalah kecil. Tapi sekarang sudah selesai, kok” jawab Johan dengan santai.
“Ah, soal resesi yang katanya berdampak pada beberapa perusahaan besar di London, ya? Aku lihat beritanya di TV dan internet!” kata Harry ikut berkomentar.
“Ya. Perusahaan keluargaku terkena dampak resesi itu. Untungnya hanya sedikit, jadi masalahnya cepat selesai” jawab Johan.
“Memangnya keluargamu punya usaha apa?” Tanya Angelica tidak mengerti.
“Kamu nggak tahu, Angelica? Perusahaan Sabrishion Petroleum Company, perusahaan perminyakan yang sudah mendominasi kebutuhan bahan bakar dan gas di seluruh Inggris. Kabarnya sekarang perusahaan ini juga sedang mencoba bisnis batu bara” jawab Sylvie sambil melihat ke arah Johan.
“Kabar itu benar, kok” kata Johan kemudian.
“Aaah aku tahu! Ternyata perusahaan itu milik keluargamu, ya. Hebaaat puji Angelica dengan mata berkilauan.
“... aku tak akan berkomentar. Aku tak suka pamer” kata Johan sambil mengalihkan pandangan dari Angelica. Ia pun menggerutu kesal.
“Uugh..! kalau keluarga kak Russell?” tanyanya lagi pada Russell.
“Keluargaku punya bisnis hasil pertambangan. Tapi sekarang diakui sebagai milik pemerintah, sih” jawab Russell ramah.
“Kalau Harry?”
“Keluargaku mengelola bisnis di bidang musik. Mulai dari kursus, galeri musik, bahkan sekarang mau memulai bisnis jazz cafe” jawab Harry bangga.
Kemudian mereka pun menanyakan usaha Sylvie, sambil berkomentar hal-hal lain yang berhubungan dengan usaha mereka. Melihatnya seperti itu, Angelica merasa aneh dan sedikit tersisih.
‘Mereka, benar-benar hebat... rasanya sangat jauh... apa mereka sungguh-sungguh berteman denganku...?’ tanyanya dalam hati. Ia merasa begitu gundah, dan tanpa sadar jadi melamun.
“Angelica, kenapa kau melamun?? Ayo kita pergi! Hari ini kita pergi ke tempat yang kita suka!” kata Sylvie menyadarkan lamunannya. Ia hanya tersenyum.
‘Tapi... aku ingin tetap bersama mereka...’
“Ayo!!” jawabnya senang kemudian.


Saat sampai di pusat kota,
“Waaaaaahh!!! Restoran bintang lima!! Karaoke besar!! Toko aksesoris!!! Kereeeenn!!!” teriak Angelica yang begitu terpukau melihat keramaian pusat kota London yang cukup sibuk itu. Kedua sisi dipenuhi toko-toko yang menurutnya menarik dan lucu. Ia sangat bahagia.
“Sepertinya Angelica yang paling bahagia di sini” komentar Sylvie.
“Kita ke Shopping Center saja, yuk!” ajak Johan.
“Tujuan kita mau keliling kota, Johan. Kalau ke sana Cuma menghabiskan waktu saja! Nah, Angelica, Sylvie, Harry, ada tempat yang ingin kalian kunjungi??” kata Russell sambil melihat mereka bertiga.
“Lihat Gereja Katedral Durham!! Mau lihaaatt!!!” teriak Angelica senang.
“Ke mana saja boleh, kok!” jawab Sylvie tenang.
“Aku ingin lihat Big Ben! Kastil Windsor juga!! Terus Tower of London!!” jawab Harry yang tak kalah semangat.
“Baiklah! Ayo kita ke sana!!” ajak Russell dengan semangat. Mereka pun menjawabnya dengan tak kalah semangat.
Selama keliling kota London, mereka sangat bersenang-senang. Mereka memulai perjalanan dengan berhenti di salah satu café untuk afternoon tea, berkunjung ke Big Ben, Gereja Katedral Durham, Big Ben, hingga ke taman pusat. Dan tanpa disadari waktu sudah hampir malam.
“Waaah!! Lapaaarr!!” teriak Harry sambil melemparkan tubuhnya di tengah rumput taman yang ada di sekitar situ.
“Hmm, sudah hampir waktunya makan malam ya?? Ayo kita cari tempat!” ajak Russell.
“Ingin makan Wagyu Steak, Huzarensia, lalu Braise Sauce” kata Johan mengutarakan keinginannya.
“Haha, kalau begitu ayo kita makan di restoranmu, Johan!” ajak Russell lagi.
“Waah, keluarga kak Johan punya restoran juga!?” Tanya Harry terkejut.
“Begitulah. Restoran pesiar yang ada di pinggir kota. Agak jauh, sih” jawabnya sambil berpikir.
“Eeeng, teman-teman... Angelica...” Sylvie berusaha menyela mereka, karena Angelica…
“Eeeh... menghilang...??
Mereka hening sesaat. Kemudian Johan menghela napas.
“...... dasar cewek merepotkan. Kalian pergi duluan ke restoranku, aku akan menyusul! Titip tasku, Russell!” kata Johan kemudian sambil berlalu ke arah pusat kota.
“Kak Johan!! Kakak, sebaiknya kita...!” Sylvie berusaha memanggil Johan yang sudah semakin jauh.
“Biarkan dia pergi, Sylvie!” kata Russell berusaha menghentikan Sylvie.
“Eh, tapi...”
“Di saat seperti ini lebih efektif yang mencari satu orang. Kalian juga belum hafal kota ini, kan??” kata Russell berusaha menenangkan mereka.
“Hmm, iya, sih...” jawabnya kemudian, namun masih begitu tidak enak pada Russell dan Johan
“Nah, kalau begitu ayo ke restoran! Kalian juga sudah lapar, kan?” ajak Russell. Ia pun kemudian berjalan menuju restoran.
Yaah… baiklah. Ayo, Sylvie” jawab Harry pasrah sambil mengajak Sylvie yang masih begitu khawatir.
“Lagipula.. tak ada yang bisa menemukan selain dia, sih..” kata Russell pada dirinya sendiri…

Di saat yang sama, Angelica...
“Uuuh, bagaimana ini? Aku tersesaat! Baterai handphone-ku juga habis. Aku lupa bawa pengisi daya nirkabel!” keluhnya. Ia sedang terduduk di jalan kecil antara pertokoan pusat kota. Maklum, ia sama sekali belum hafal jalan disini. Sejak tiba di London seminggu lalu, ia tak pergi ke manapun dan hanya berusaha menghafal jalan sekitar sekolahnya yang sangat besar. Angelica menunduk dan menyelipkan kepala di antara kedua lututnya. Ia merasa sepi.
‘Aku, kenapa jadi merasa sesepi ini...? bukankah sebelum ini sudah biasa...? sejak hari itu...’

“Angelica yang itu!?”
“Dia pintar, tapi lemah!”
“Semoga kita cepat lulus agar tak bertemu lagi dengannya!”

Ia hampir menangis memikirkannya. Namun sebuah suara memanggilnya dengan keras sambil mengguncang-guncang badannya.
“.. i! ... oi!! ... hoooi, cewek kasar!!” teriak Johan.
Angelica mengangkat kepalanya, dan menatap Johan dengan lega.
“... cowok bodoh... kenapa kau ada di sini??” tanyanya masih linglung.
“Hentikan panggilan itu! Aku mencarimu, tahu! Kenapa mendadak menghilang!?” Tanya Johan sambil mengambil tas Angelica yang ada di sebelahnya.
“Ha, habis... tadi aku melihat anak kecil...”
“Anak kecil?” Tanya Johan bingung.
“Ku, kukira ia terpisah dari ibunya, jadi aku mengikutinya. Tapi... ternyata ibunya menunggunya di depan toko di sana. Sa.. saat sadar...” Angelica menjawabnya dengan sedikit sesenggukan. Air matanya pun mulai keluar.
“... haah, dasar cewek aneh..” cela Johan sambil berdiri.
“Ka, kau sendiri juga berhenti memanggilku begitu! Aku sangat takut tersesat, tahu! Apalagi di pusat kota yang belum kutahu ini! Aku.. aku... hiks hiks~~” Angelica pun mulai menangis.
PUK PUK PUK! Tepat sebelum Angelica mulai menangis, Johan menepuk-nepuk kepalanya. Ia kembali berjongkok dan mengusap air matanya.
“Sudahlah. Untung saja kau tidak diganggu orang-orang aneh! Ayo, kita temui yang lain di restoranku!” ajak Johan, dan ia pun kemudian tersenyum ramah sambil membantunya berdiri. Angelica sempat berdebar, namun ia menjawabnya dengan spontan.
“Baik!! Eh, ‘di restoranku’??” tanyanya kemudian tidak mengerti. Ia mendongak ke arah Johan.
“... kenapa??” Tanya Johan.
“Kau... sendirian mencariku..??” Tanya Angelica pelan. Mendengar pertanyaan itu, Johan berusaha mengalihkan pandangannya dari Angelica.
“Mereka sudah kelaparan dan tak punya tenaga mencarimu. Jadi aku turun tangan sendirian!!” jawabnya sambil menahan malu. GRYUUUK! Suara perut pun terdengar dari perut Johan.
“Aaah~~ sial! Aku jadi tambah lapar!! Pokoknya kau harus tanggung jawab!! Kau berhutang padaku lagi, nih!!” teriaknya dengan masih menahan malu. Melihat itu, Angelica tertawa.
“A, apanya yang lucu sih!? Ya sudahlah, aku jalan duluan!!” teriak Johan gelagapan. Ia pun berjalan dengan membawa tas Angelica dengan menggantungkannya di pundaknya.
A, ah tunggu!!” teriaknya. Ia menarik baju Johan. Ia menundukkan kepalanya. Kemudian…
Terima kasih sudah mencariku, kak Johan!!” ucap Angelica sambil tersenyum. Johan pun sedikit tersipu, dan menjawabnya dengan anggukan.
‘Tapi... kuharap kesepian itu tidak lagi berlanjut... kuharap mereka selalu ada untukku..’
“Ah, sebelumnya... kak Johan tahu toko aksesoris yang kulihat siang tadi!?” Tanya Angelica sambil berjalan bersama.
“Hmm, kau ingin ke sana??” tanyanya balik.
“Sebentar saja. Ada yang ingin kubeli di etalase toko itu!!” ajaknya sambil menarik-narik baju Johan.
‘Inilah tempat di mana aku bisa jadi diriku sendiri... aku sangat senang...’
Kemudian di toko aksesoris.
“Silakan, Nona!” kata pelayan toko sambil memberikan aksesoris rambut yang diinginkannya.
“Ah! Syukurlah masih ada! Ng...... ah, gawat! Uangku kurang!” serunya sambil mengocek-ngocek kantong bajunya.
“Apa boleh buat. Ini!” kata Johan, sambil menyerahkan uang dan mengambil aksesoris rambut itu.
“Terima kasih, silakan datang kembali!”
Mereka pun berjalan keluar toko.
“Maaf, kak Johan. Aku berhutang padamu lagi” kata Angelica lemah.
“... tidak usah. Ini untukmu!” jawab Johan sambil memberikannya pada Angelica.
‘Dan... kuharap aku bisa berada di sisinya terus, sebagai wakil Dewan Siswa-nya’
“Kau yakin tidak mau diganti, kak Johan??” tanyanya terkejut.
“Tidak perlu! Anggap saja ini hutangku selama seminggu membiarkanmu mengerjakan tugas Dewan Siswa!” katanya sambil berjalan lebih dulu.
“Ah, ternyata kakak bisa merasa berhutang juga, ya?” ledek Angelica.
“Tidak juga! Kalau padamu tentunya!”
“Dasar tidak jujur!”
‘Semoga... suatu saat nanti...’
Dan mereka pun berjalan bersama, mengakhiri hari mereka berdua…

0 comment:

Posting Komentar

 

Diana Rachmawati Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template