“J
|
adi, dengan hipotesis ini...”
“Hoaaamm~~”
‘Selamat siang! Angelica di sini. Kelas siang ini sedang berlangsung
pelajaran yang sangat tidak kuminati, Biologi. Ya, aku tidak suka pelajaran hafalan’
“Hei, Angelica. Ini dari Hatter” bisik seorang teman
sekelas Angelica, yang duduk di depannya. Ia menyerahkan sebuah kertas kecil
yang merupakan pemberitahuan. Ia membacanya dengan santai.
‘Hari ini sudah seminggu sejak kejadian itu. Tapi sejak saat itu juga kak
Johan tidak masuk sekolah tanpa alasan yang jelas. Padahal aku kebingungan
dengan tugas Dewan Siswa di sekolah ini. Tugasnya berbeda dengan OSIS’
“Yeei! Pulang sekolah nanti!!” teriaknya pelan. Ia
begitu senang dengan pemberitahuan yang
diberikan oleh Sylvie, dan sangat
menantikannya.
‘Tapi, aku sudah terbiasa menjalaninya’
TONG TENG TANG TONG!
“Huuuft, akhirnya selesaaaii~” keluh Angelica sambil
menyandarkan punggungnya di bangkunya. Kemudian Sylvie menghampirinya. Benar,
Sylvie duduk di bangku paling depan deretan sebelah Angelica. Sementara Angelica
sendiri duduk di baris paling belakang.
“Hari ini semua kegiatan klub diliburkan. Ayo kita keliling kota ini!”
katanya dengan semangat. Dan inilah isi surat pemberitahuan Sylvie tadi.
“Ya! Kita belum sempat mengelilingi kota sejak tiba di London. Aku ingin
makan pastaa~” katanya dengan malas. Ia terlihat begitu capek.
“Ini bukan Italia, Angelica. Harry, kau mau ikut?”
Tanya
Sylvie kemudian pada Harry.
“Boleh saja. Aku juga senggang setelah ini” jawab Harry
sambil merapikan tablet dan buku tulisnya. Ia duduk di baris ketiga dan satu
deret dengan Angelica.
“Hmm, karena Harry ikut, kau jadi tour guide kami, ya!”
perintah Angelica dengan senang.
“Tidak mungkin. Aku juga siswa asrama di sini. Asalku dari Norwich”
katanya sambil berdiri dan menghampiri mereka berdua.
“Waah, Norwich! Aku juga ingin ke sanaaa~~!!” kata
Angelica sambil berangan-angan.
“Boleh saja! Saat libur panjang nanti kita ke sana, ya!”
ajak Harry.
“Ah, kalian sudah merencanakan liburan? Sekolah baru berjalan seminggu, lho”
jawab sebuah suara. Mereka pun mengalihkan pandangan ke pintu masuk kelas.
“Kak Russell! Kak Johan, lama tidak bertemu!” seru Sylvie
senang. Ia pun memberi salam.
“Yo!” balas Johan dengan memberi tanda ‘peace’. Kemudian
mereka masuk dan menghampiri meja Angelica.
‘Kak Johan..’
“Selamat siang, lama tidak bertemu, kak” salam Harry sambil
sedikit menundukkan kepalanya.
“Tidak usah formal begitu. Ini sudah di luar jam sekolah, kok!”
jawab Russell santai.
“Tapi kalian orang yang kusegani! Karena itu aku menghormatinya!”
jawab Harry sambil menggebu-gebu. Melihatnya, Angelica dan Sylvie berkomentar
dalam hati.
‘Ternyata, Harry orangnya sangat berterus terang~~’
“Oh ya. Kak Johan kemana saja selama hampir seminggu ini?”
Tanya
Sylvie.
“Ah, aku harus membantu perusahaan keluargaku. Kemarin selama seminggu ada
masalah kecil. Tapi sekarang sudah selesai, kok”
jawab
Johan dengan santai.
“Ah, soal resesi yang katanya berdampak pada beberapa perusahaan besar di
London, ya? Aku lihat beritanya di TV dan internet!”
kata Harry ikut berkomentar.
“Ya. Perusahaan keluargaku terkena dampak resesi itu. Untungnya hanya
sedikit, jadi masalahnya cepat selesai” jawab Johan.
“Memangnya keluargamu punya usaha apa?”
Tanya
Angelica tidak mengerti.
“Kamu nggak tahu, Angelica? Perusahaan Sabrishion Petroleum Company,
perusahaan perminyakan yang sudah mendominasi kebutuhan bahan bakar dan gas di
seluruh Inggris. Kabarnya sekarang perusahaan ini juga sedang mencoba bisnis
batu bara” jawab Sylvie sambil melihat ke arah Johan.
“Kabar itu benar, kok” kata Johan kemudian.
“Aaah aku tahu! Ternyata perusahaan itu milik keluargamu, ya.
Hebaaat”
puji Angelica dengan mata berkilauan.
“... aku tak akan berkomentar. Aku tak suka pamer”
kata Johan sambil mengalihkan pandangan dari Angelica. Ia pun menggerutu kesal.
“Uugh..! kalau keluarga kak Russell?” tanyanya
lagi pada Russell.
“Keluargaku punya bisnis hasil pertambangan. Tapi sekarang diakui sebagai
milik pemerintah, sih” jawab Russell ramah.
“Kalau Harry?”
“Keluargaku mengelola bisnis di bidang musik. Mulai dari kursus, galeri
musik, bahkan sekarang mau memulai bisnis jazz cafe”
jawab Harry bangga.
Kemudian mereka pun
menanyakan usaha Sylvie, sambil berkomentar hal-hal lain yang berhubungan
dengan usaha mereka. Melihatnya seperti itu, Angelica merasa aneh dan sedikit
tersisih.
‘Mereka, benar-benar hebat... rasanya sangat jauh... apa mereka
sungguh-sungguh berteman denganku...?’ tanyanya dalam
hati. Ia merasa begitu gundah, dan tanpa sadar jadi melamun.
“Angelica, kenapa
kau melamun?? Ayo kita pergi! Hari ini kita pergi ke tempat yang kita suka!”
kata Sylvie menyadarkan lamunannya. Ia hanya tersenyum.
‘Tapi... aku ingin
tetap bersama mereka...’
“Ayo!!”
jawabnya senang kemudian.
Saat sampai di pusat
kota,
“Waaaaaahh!!! Restoran bintang lima!! Karaoke besar!! Toko aksesoris!!!
Kereeeenn!!!” teriak Angelica yang begitu terpukau melihat
keramaian pusat kota London yang cukup sibuk itu. Kedua sisi dipenuhi toko-toko
yang menurutnya menarik dan lucu. Ia sangat bahagia.
“Sepertinya Angelica
yang paling bahagia di sini” komentar Sylvie.
“Kita ke Shopping
Center saja, yuk!” ajak Johan.
“Tujuan kita mau keliling kota, Johan. Kalau ke sana Cuma menghabiskan
waktu saja! Nah, Angelica, Sylvie, Harry, ada tempat yang ingin kalian
kunjungi??” kata Russell sambil melihat mereka bertiga.
“Lihat Gereja Katedral Durham!! Mau lihaaatt!!!”
teriak Angelica senang.
“Ke mana saja boleh, kok!” jawab Sylvie tenang.
“Aku ingin lihat Big Ben! Kastil Windsor juga!! Terus Tower of London!!”
jawab Harry yang tak kalah semangat.
“Baiklah! Ayo kita ke sana!!” ajak Russell dengan
semangat. Mereka pun menjawabnya dengan tak kalah semangat.
Selama keliling kota London, mereka sangat bersenang-senang.
Mereka memulai perjalanan dengan berhenti di salah satu café untuk afternoon
tea, berkunjung ke Big Ben, Gereja Katedral Durham, Big Ben, hingga ke taman
pusat. Dan tanpa disadari waktu
sudah hampir malam.
“Waaah!! Lapaaarr!!” teriak Harry sambil melemparkan tubuhnya
di tengah rumput taman yang ada di sekitar situ.
“Hmm, sudah hampir waktunya makan malam ya?? Ayo kita cari tempat!”
ajak Russell.
“Ingin makan Wagyu Steak, Huzarensia, lalu Braise Sauce”
kata Johan mengutarakan keinginannya.
“Haha, kalau begitu ayo kita makan di restoranmu, Johan!”
ajak Russell lagi.
“Waah, keluarga kak Johan punya restoran juga!?”
Tanya
Harry terkejut.
“Begitulah. Restoran pesiar yang ada di pinggir kota. Agak jauh, sih”
jawabnya sambil berpikir.
“Eeeng, teman-teman... Angelica...” Sylvie berusaha menyela
mereka, karena Angelica…
“Eeeh... menghilang...??”
Mereka hening sesaat. Kemudian
Johan menghela napas.
“...... dasar cewek merepotkan. Kalian pergi duluan ke restoranku, aku akan
menyusul! Titip tasku, Russell!” kata Johan kemudian
sambil berlalu ke arah pusat kota.
“Kak Johan!! Kakak, sebaiknya kita...!” Sylvie berusaha
memanggil Johan yang sudah semakin jauh.
“Biarkan dia pergi, Sylvie!” kata Russell berusaha
menghentikan Sylvie.
“Eh, tapi...”
“Di saat seperti ini lebih efektif yang mencari satu orang. Kalian juga
belum hafal kota ini, kan??” kata Russell berusaha menenangkan
mereka.
“Hmm, iya, sih...”
jawabnya kemudian, namun masih begitu tidak enak pada Russell dan Johan
“Nah, kalau begitu ayo ke restoran! Kalian juga sudah lapar, kan?”
ajak Russell. Ia pun kemudian berjalan menuju restoran.
“Yaah…
baiklah. Ayo, Sylvie” jawab Harry pasrah sambil mengajak Sylvie yang masih
begitu khawatir.
“Lagipula.. tak ada
yang bisa menemukan selain dia, sih..” kata Russell pada
dirinya sendiri…
Di saat yang sama,
Angelica...
“Uuuh, bagaimana ini? Aku tersesaat! Baterai handphone-ku juga habis. Aku
lupa bawa pengisi daya nirkabel!” keluhnya. Ia sedang
terduduk di jalan kecil antara pertokoan pusat kota. Maklum, ia sama sekali
belum hafal jalan disini. Sejak tiba di London seminggu lalu, ia tak pergi ke
manapun dan hanya berusaha menghafal jalan sekitar sekolahnya yang sangat
besar. Angelica menunduk dan menyelipkan kepala di antara kedua lututnya. Ia merasa
sepi.
‘Aku, kenapa jadi
merasa sesepi ini...? bukankah sebelum ini sudah biasa...? sejak hari itu...’
“Angelica yang itu!?”
“Dia pintar, tapi
lemah!”
“Semoga kita cepat lulus
agar tak bertemu lagi dengannya!”
Ia hampir menangis
memikirkannya. Namun sebuah suara memanggilnya dengan keras sambil
mengguncang-guncang badannya.
“.. i! ... oi!!
... hoooi, cewek kasar!!” teriak Johan.
Angelica mengangkat kepalanya, dan menatap Johan
dengan lega.
“... cowok
bodoh... kenapa kau ada di sini??” tanyanya masih
linglung.
“Hentikan panggilan itu! Aku mencarimu, tahu! Kenapa mendadak menghilang!?”
Tanya
Johan sambil mengambil tas Angelica yang ada di sebelahnya.
“Ha, habis...
tadi aku melihat anak kecil...”
“Anak kecil?”
Tanya
Johan bingung.
“Ku, kukira ia terpisah dari ibunya, jadi aku mengikutinya. Tapi...
ternyata ibunya menunggunya di depan toko di sana. Sa.. saat sadar...” Angelica
menjawabnya dengan sedikit sesenggukan. Air matanya pun mulai keluar.
“... haah, dasar cewek aneh..” cela Johan sambil
berdiri.
“Ka, kau sendiri juga berhenti memanggilku begitu! Aku sangat takut
tersesat, tahu! Apalagi di pusat kota yang belum kutahu ini! Aku.. aku... hiks
hiks~~”
Angelica pun mulai menangis.
PUK PUK PUK! Tepat sebelum
Angelica mulai menangis, Johan menepuk-nepuk kepalanya. Ia kembali berjongkok
dan mengusap air matanya.
“Sudahlah. Untung saja kau tidak diganggu orang-orang aneh! Ayo, kita temui
yang lain di restoranku!” ajak Johan, dan ia pun kemudian
tersenyum ramah sambil membantunya berdiri. Angelica sempat berdebar, namun ia
menjawabnya dengan spontan.
“Baik!! Eh, ‘di restoranku’??” tanyanya kemudian
tidak mengerti. Ia mendongak ke arah Johan.
“... kenapa??” Tanya Johan.
“Kau... sendirian mencariku..??” Tanya
Angelica pelan. Mendengar pertanyaan itu, Johan berusaha mengalihkan
pandangannya dari Angelica.
“Mereka sudah kelaparan dan tak punya tenaga mencarimu. Jadi aku turun
tangan sendirian!!” jawabnya sambil menahan malu. GRYUUUK! Suara
perut pun terdengar dari perut Johan.
“Aaah~~ sial! Aku jadi tambah lapar!! Pokoknya kau harus tanggung jawab!!
Kau berhutang padaku lagi, nih!!” teriaknya dengan
masih menahan malu. Melihat itu, Angelica tertawa.
“A, apanya yang lucu
sih!? Ya sudahlah, aku jalan duluan!!” teriak Johan gelagapan. Ia pun berjalan
dengan membawa tas Angelica dengan menggantungkannya di pundaknya.
“A,
ah tunggu!!”
teriaknya. Ia menarik baju Johan. Ia menundukkan kepalanya. Kemudian…
“Terima kasih sudah mencariku, kak Johan!!”
ucap Angelica sambil tersenyum. Johan pun sedikit tersipu, dan menjawabnya
dengan anggukan.
‘Tapi... kuharap kesepian itu tidak lagi berlanjut... kuharap mereka selalu
ada untukku..’
“Ah, sebelumnya... kak Johan tahu toko aksesoris yang kulihat siang tadi!?”
Tanya
Angelica sambil berjalan bersama.
“Hmm, kau ingin ke sana??” tanyanya balik.
“Sebentar saja. Ada yang ingin kubeli di etalase toko itu!!”
ajaknya sambil menarik-narik baju Johan.
‘Inilah tempat di mana aku bisa jadi diriku sendiri... aku sangat
senang...’
Kemudian di toko
aksesoris.
“Silakan, Nona!” kata pelayan toko sambil memberikan aksesoris
rambut yang diinginkannya.
“Ah! Syukurlah masih ada! Ng...... ah, gawat! Uangku kurang!”
serunya sambil mengocek-ngocek kantong bajunya.
“Apa boleh buat. Ini!” kata Johan, sambil menyerahkan
uang dan mengambil aksesoris rambut itu.
“Terima kasih, silakan datang kembali!”
Mereka pun berjalan
keluar toko.
“Maaf, kak Johan. Aku berhutang padamu lagi” kata
Angelica lemah.
“... tidak usah. Ini untukmu!” jawab Johan sambil
memberikannya pada Angelica.
‘Dan... kuharap aku bisa berada di sisinya terus, sebagai wakil Dewan
Siswa-nya’
“Kau yakin tidak mau diganti, kak Johan??” tanyanya
terkejut.
“Tidak perlu! Anggap saja ini hutangku selama seminggu membiarkanmu
mengerjakan tugas Dewan Siswa!” katanya sambil berjalan lebih
dulu.
“Ah, ternyata kakak bisa merasa berhutang juga, ya?”
ledek Angelica.
“Tidak juga! Kalau padamu tentunya!”
“Dasar tidak jujur!”
‘Semoga... suatu saat nanti...’
Dan mereka pun
berjalan bersama, mengakhiri hari mereka berdua…
0 comment:
Posting Komentar