“Y
|
ang mendapat rekomendasi beasiswa dari SMA Perguruan Afiliasi Universitas
Escoriale adalah Angelica Sandoras! Selamat, ya!”
Di kelas 3 SMP sebuah kota,
semua anak-anak sekelas memberi tepukan tangan pada seorang gadis yang mendapat
rekomendasi sebuah sekolah bergengsi di Inggris. Gadis itu memang sangat
cerdas. Meski begitu, beberapa di antara mereka…
“Terima kasih!!”
Ada yang memandangnya dengan
pandangan kesal dan iri…
CRAASH! Gadis itu
tiba-tiba disiram air oleh keempat teman sekelasnya saat jam istirahat tiba. Kemudian memojokkannya di bagian sekolah yang jarang
ada orang. Ia kebetulan lewat situ setelah selesai makan siang di
dekat taman sekolah, dan itu adalah jalan pintas yang memang jarang dilalui.
“Jadi itu yang dilakukan murid pintar selama ini!? Menghasut guru agar
dapat nilai bagus dan rekomendasi beasiswa!?” tanya salah seorang dari mereka
dengan pandangan geram.
“Iya! Aku melakukannya dengan caraku sendiri!! Hanya saja aku tidak menggunakan
cara pengecut seperti menghasut guru yang kalian tuduhkan ini!!” balas gadis
itu dengan tenang.
“Jangan belagu, kamu!! Kau memang cari muka, bukan!?” teriak salah satunya
lagi.
“Yang cari muka itu bukannya kalian!? Kalian lemah dalam pelajaran, bersikap
centil pada Mr. Harris, tapi kalian yang seenaknya menuduh!! Sebaiknya kalian
sadar sedang bicara pada siapa!!” teriak gadis itu melawan,
tapi…
CRAASSH!! Ia kembali disiram air dengan ember kedua.
“Sekali lagi kau membantah, akan kubuat kau menyesal!!” kata seorang lagi, yang baru saja
menyiraminya, dengan nada jengkel.
“Heei!! Ada apa di sana!!?” teriak salah seorang, yang kebetulan lewat
disitu.
“Gawat!! Kepala sekolah!! Ayo lari!!” kata seorang temannya. Kemudian
mereka pun berlari dari situ. Kepala sekolah mendengus dengan jengkel.
“Mereka lagi, ya. Dasar
murid yang menyusahkan!” gerutunya. Kemudian melihat keadaan anak yang di-bully itu. Ia
terkejut melihat siapa murid yang di-bully itu.
“Lho, kau... Sandoras...!?”
CLIK! Sebuah mata pun terbuka. Ia bangkit dari tempat tidurnya.
“Ah... mimpi... kenapa...?” katanya bicara sendiri.
Angelica pun bangkit dari tempat tidurnya. Kemudian bersiap-siap keluar. TOK
TOK TOK! Terdengar seseorang mengetok pintu dari luar. Ia pun membukakan pintu.
“Angelica! Kau masih tidur!? Ayo, kita ikut ibadah pagi!” ajak Sylvie
menongolkan kepalanya di depan pintu.
“Ah, selamat pagi, Sylvie. Aku sudah mau pergi, kok!” jawab
Angelica sambil mengepang rambutnya.
“Lho? Pakai seragam sekolah?? Kau ada kegiatan klub??” tanya Sylvie
bingung. Memang, ini sebenarnya hari Sabtu dan sekolah libur.
“Yaah, ada kegiatan di Dewan Siswa juga. Sylvie bagaimana??” tanyanya
sambil mengambil tasnya dari meja.
“Aku akan ke toko cabang dari toko baju keluargaku untuk membantu mengecek
desain baru. Kebetulan kegiatan klubku diliburkan saat hari Sabtu begini!”
jawabnya senang.
“Waaah! Aku ingin sekali lihaaat~!!” katanya dengan mata berkilauan.
“Aku akan ajak ke sana lain kali, ya!”
“Baiklah! Aku menantikannya!! Hmm.. masih ada waktu sebelum ibadah pagi.
Aku akan buat bekal dulu! Kau boleh pergi duluan!” kata Angelica kemudian.
Ia
mengambil bungkusan kertas besar berisi bahan makanan dari kulkas.
“Waah, kau mau masak!? Aku ingin mencobanya!” katanya dengan pandangan
ingin.
“Boleh saja! Aku sudah dapat izin pinjam dapur asrama. Ayo ke sana!”
ajaknya.
“Ah, boleh buatkan aku juga, ya!”
“Tentu saja!! Kita buat untuk sama-sama!!”
Pagi hari setelah ibadah, Angelica memulai dari kegiatan klub Bahasa Jepang.
Siang hari setelah makan siang, klub panah. Sore harinya, kegiatan Dewan Siswa
dimulai.
“Sandoras, apa kau tidak lelah??” tanya Aldias, yang merupakan anggota
Dewan Siswa bagian koordinasi dengan Dewan Perguruan Siswa.
“Ah, tidak! Aku baik-baik saja, kak Aldias. Semalam aku mimpi aneh!”
jawabnya sambil mengantuk.
“Seperti apa
mimpinya??”
“Ngg..”
Angelica mencoba
mengingat mimpinya, tapi...
“E, entahlah... aku
sudah tidak ingat..” katanya tergugup.
“Waah, sayang
sekali. Tapi mimpi memang mudah dilupakan, ya. Aku juga tidak ingat mimpiku
pagi ini” kata Aldias sambil mengambil berkas dari rak.
“Begitulah, apalagi mimpi itu begitu mengena di hati” jawab Patricia sambil mengubah posisi
duduknya.
“Eh...??”
“Iya kan,
Sandoras..?” tanya Patricia lagi.
“Eeehh,
begitulah...” jawabnya tergugup.
“Hei hei, sudah
hentikan ngobrolnya. Tugasnya sudah selesai, belum?” sela Johan, yang sejak
tadi mengecek tablet sambil menyetempel surat-surat.
“Sudah. Selanjutnya tinggal survei dan presentasi proposal ini ke Dewan
Perguruan Siswa dan Kepala Yayasan” jawab Michaelis, bagian bendahara Dewan
Siswa.
“Presentasi?? Apa kita akan buat acara?” tanya Angelica.
“Festival Perguruan Escoriale, musim gugur nanti. Setiap tahunnya acara ini
sangat meriah. Bahkan Presiden Inggris pun sampai datang! Festival Perguruan
kita terbesar se-Inggris, lho!” jawab Aldias senang.
“Hee, begitu, ya! Pantas saja Dewan Perguruan Siswa sudah terlihat sibuk
sampai menyita waktu sekolah!” katanya terkejut.
“Apa boleh buat. Perguruan kita sudah akan menginjak Standar Internasional
tidak lama lagi. Mayoritas siswa-siswi di sini adalah pewaris perusahaan besar
dan orang-orang yang akan mengabdi pada negara. Terutama SMA kita, mayoritas
siswanya sudah mulai belajar mengenal perusahaan yang akan mereka warisi
kelanjutannya. Belum lagi pelajaran di sekolah kita yang sudah standar
olimpiade internasional. Setiap klub pun sudah banyak meraih prestasi di
tingkat internasional. Makanya sekolah ini sangat luar biasa!! Kau juga
berpikir begitu, kan, Sandoras!?” kata Patricia panjang lebar.
Angelica melihat para anggota satu persatu. Kemudian tersenyum bangga.
“... ya... aku sangat bangga jadi siswa sekolah ini!! Terima kasih banyak, kak
Michaelis, kak Preminger, kak Aldias, dan kak Johan!!”
katanya lagi sambil menundukkan kepalanya sebagai rasa terima kasih.
Semua senior pun ikut tersenyum bangga.
“Syukurlah!! Kami pun sangat bangga jadi murid di sini!!”
kata Aldias bangga.
“Benar, benar!!!” Michaelis meyakinkan.
“Jangan sia-siakan saat-saat terakhir kita di SMA ini, Michaelis!!” kata
Aldias. Michaelis dan Aldias memang duduk di kelas tiga saat ini,
sehingga mereka adalah anggota paling tua diantara ketiganya.
“Hahaha. Ayo sudah pompa semangatnya. Selanjutnya kita harus menjalani
rencana untuk menyukseskan festival sekolah!!” teriak Johan menyemangati.
“Hoooii!!!”
Sepulang sekolah, di pintu gerbang sekolah.
Angelica
berdiri di depan pintu sambil menatap langit.
“Waah, sudah hampir gelap. Tugas wakil Dewan Siswa berat juga, ya. Apalagi
saat menjelang festival tiba nanti. Gawat, nih” kata Angelica bicara sendiri.
Ia berjalan dan berniat pergi ke mini market untuk membeli makan malam, karena ia tahu
makan malam di asrama pasti sudah habis. Ia berjalan sendirian sambil mengecek
hp-nya. Kemudian sebuah mobil lewat di sampingnya.
“Angelica!” teriak seseorang.
“Eeh... kak Russell!!”
Angelica terkejut
tiba-tiba. Karena diajak,
Angelica ikut dengan Russell untuk makan malam, yang ternyata di sebuah restoran hotel yang cukup mewah.
Ia
sangat terpukau melihat restoran hotel bintang tiga itu. Meski sudah terbiasa
dengan pemandangan itu, ia merasa tidak cukup nyaman berada disitu.
“Kau boleh makan sebanyak yang kau mau. Aku akan traktir” kata Russell yang
duduk di seberang meja tempat Angelica duduk.
Mereka
duduk agak di pojok dengan meja untuk dua orang. Seorang waiter menuangkan
minuman pada mereka.
“Eeehh, bukan itu masalahnya. Maaf, aku... tidak terbiasa...” Angelica
gugup sambil melihat sekeliling.
‘Mereka semua terlihat bagus, sementara aku dan kak
Russell hanya pakai seragam. Uugh! Kak
Russell terbiasa ke sini pakai seragam ya!?’ teriaknya dalam hati.
“... maaf, aku mengajakmu ke tempat yang tidak membuatmu nyaman, ya? Kalau
begitu kita pindah restoran saja” katanya sambil berdiri.
“Eeehh, tidak usah! Itu... maafkan aku, kak Russell... aku tidak
bermaksud...” Angelica kembali gugup. Melihatnya seperti itu, Russell kemudian
tertawa.
“Hahaha tenang saja. Aku sangat senang kau jujur!” katanya sambil
tersenyum. Angelica berdebar-debar.
“Eeh, sekali lagi, aku benar-benar minta maaf!! Tapi karena kakak
mengajakku ke sini, aku akan berusaha!!” katanya sambil menyemangati diri
sendiri. Ia berusaha cuek dengan
keadaan sekitar yang beberapa diantara mereka melihat ke arah mereka berdua.
“Ahaha, baiklah!” kata Russell kemudian.
“Baiklah! Eeng, untuk makan ini, kita pakai yang... ini saja!” katanya
bicara sendiri. Melihatnya serius memilih alat makan, Russell memulai percakapan.
“Angelica, bagaimana dengan Dewan Siswa..??”
tanya
Russell sambil mulai mengangkat alat makannya sendiri.
“Eeeh, kenapa tiba-tiba mulai menanyakan itu..??” tanya Angelica balik.
“Tidak apa-apa. Aku seenaknya memintamu untuk jadi wakil Dewan Siswa tanpa
mempertimbangkan keputusanmu” katanya tidak enak.
“Tidak, kok! Kak Russell sendiri yang bilang bahwa kak Johan yang ingin aku
jadi wakilnya! Tapi... aku sangat bersyukur saat kakak memintaku untuk hal itu.
Sejujurnya, kukira siswa-siswi di sekolah itu tidak ingin berteman denganku
karena...”
“Aku sudah tahu. Kau sudah menceritakannya padaku saat kau pertama kali
datang” kata Russell sambil mengambil minum.
“Ya, begitulah. Tapi dengan keberadaanku di Dewan Siswa, aku sangat senang
karena aku dibutuhkan dan aku ’ada’ bagi mereka. Walaupun tugasnya cukup berat, aku
sangat bersyukur. Aku, ingin berterima kasih pada kakak, yang sudah membantuku
membuka jalan untuk memulai karirku di SMA ini” katanya sambil menundukkan
kepalanya. Russell hanya tersenyum
kecil.
“... aku tidak melakukan apa-apa. Kau selama ini menjalani semuanya sesuai
yang kau yakini. Kau sama sekali tidak perlu berterima kasih padaku, Angelica.
Bukankah kau tadi bilang bahwa Johan-lah yang memintamu menjadi wakilnya..??”
katanya lagi.
“... begitulah... tapi, kakak-lah yang sudah merekomendasikanku” katanya
sambil tersenyum.
Mereka hening sesaat.
“Aku... berteman dengan Johan sejak kecil, lho” kata Russell kemudian
sambil memainkan gelasnya.
“Eeehh, benarkah..?” tanya Angelica terkejut.
Russell mulai bercerita masa lalunya.
“... waktu SD, aku ini sangat pendiam, sehingga tidak mudah disadari orang
lain. Sebaliknya Johan adalah tipe orang yang sangat mudah berteman. Saat itu
aku sedang berlatih sendiri untuk pemilihan yang akan diikutkan dalam kejuaraan
regional...”
“Orlando, kau ikut klub atletik, ya!? Sudah sore, cepatlah pulang!” teriak
Johan kecil.
“Aku harus latihan sedikit lagi. Terima kasih sudah mengingatkanku”
“Setelah berkata seperti itu, ia pergi. Kukira ia pulang, tapi...”
“Orlando, ini untukmu!!” teriak Johan sambil melempar sesuatu.
TLUK! Sesuatu itu mendarat di kepala Russell kecil.
“Berusahalah saat pemilihan nanti! Aku akan mendukungmu!!” teriaknya sambil
mengayun-ayunkan tangannya.
“Aah! Terima kasih, Sabrishion!!”
“Sejak saat itu, kami mulai berteman dekat. Johan selalu menungguiku
selesai berlatih dan membelikanku minuman. Di hari pemilihan, aku terpilih
untuk ikut marathon 5 kilometer. Johan dan aku masih berteman seperti biasa,
hingga suatu hari, 3 hari sebelum kompetisi...”
Di Game Center, hari sudah beranjak gelap. Johan masih begitu serius
memainkan game battle combat. Sementara Russell sudah mulai merajuk.
“Johan, ayo kita pulang! Ini sudah malam! Nanti ayahku marah!” kata Russell
sambil menggoncang-goncang badan Johan.
“Kita main sebentar lagi. Aku akan mengantarmu pulang dengan mobilku, kok!”
katanya sambil tetap bermain.
“Tapi, Johan, ini sudah terlalu sore! Hari ini ada PR sangat banyak!!”
Russell semakin menggoncangkan badannya. Akhirnya, Johan mengalah.
“Iya iya, ayo kita pulang! Mobilku menunggu di sekolah, jadi kita kembali
ke sana, ya!” katanya kemudian.
Saat berjalan menuju kembali ke sekolah, di pinggir sungai.
“Ya, ampun, uangku sudah habis semua. Bagaimana ini? Ayah akan marah” kata
Russell lemas.
“Kenapa bicara begitu. Ayahmu punya banyak uang, kan? Minta saja!” jawabnya
bangga.
“Ayahku mengajariku untuk berhemat. Kalau aku boros, pasti akan dimarahi
nanti” kata Russell pelan. Johan mulai merasa tidak enak.
“... kalau begitu maafkan aku. Aku akan menggantinya besok!” kata Johan
kemudian. Namun Russell menggeleng.
“Tidak apa-apa, Johan. Aku juga sangat senang hari ini. Terima kasih!” kata
Russell tersenyum.
“Yaah, syukurlah kalau begi... aah!!”
Johan tidak sengaja terpeleset tanggul yang cukup curam. Russell berusaha
meraih tangannya.
“Johan!!” teriak Russell. Ia berhasil meraih tangannya, namun ia sendiri
ikut terguling.
BRUUK!!
Mereka mulai meringis kesakitan. Johan mulai berusaha menyadarkan diri atas
kondisi mereka.
“Aduduuh... hei, Russell, kau tidak apa-a...”
“Uuugghh~~”
Johan terkejut. Ia melihat kaki Russell mulai mengalir darah dengan agak deras.
Kakinya agak membiru.
“Russell!! Kakimu..!! Russell!! Russell!!!”
0 comment:
Posting Komentar