T
|
RONG TRENG TRANG TRONG! Bel tanda sekolah hari itu sekolah
sudah berakhir. Angelica berjalan
sendiri di koridor lantai lima menuju ruang Dewan Siswa. Koridor itu agak sepi
karena ruangan-ruangan yang ada di sekitar situ hanyalah laboratorium dan ruang
persiapan pelajaran. Setelah beberapa saat, ia sampai di ruang Dewan Siswa. Ia
meng-scan kartu pelajar, memasukkan password, serta mencap fingerprint untuk
masuk ke ruangan itu.
CKLEK!
Ia membuka pintu. Dan bertanya pada dirinya sendiri.
“Waah, belum ada
yang datang, ya? Hahaa benar juga, aku datang persis saat bel pulang! Eh?”
Ia terkejut melihat
sebuah tas di atas meja tempat biasa para anggota selain Johan duduk. Ia
bertanya-tanya dalam hati.
‘Lho... ada orang,
ya...? Tasnya punya scrap ungu.. Siapa...?’
“Hoaaaahmm~~ sudah jam pulang yaaa~~” tanya seseorang dengan
nada baru bangun. Angelica terkejut saat melihat orang itu yang kemudian
memutar bangku tempat Ketua biasa duduk.
“Ka, Kak Johan!? Sedang apa kau di sini!? Kau tidak masuk kelas!?”
tanya Angelica dengan nada masih
terkejut. Ia menghampiri Johan.
“Ah, selamat siang. Tadi aku sekolah, hanya saja aku pulang saat jam
istirahat tadi karena ada urusan. Begitu kembali, sudah tinggal 30 menit
sebelum pelajaran berakhir” jawabnya sambil menguap kemudian.
Ia kemudian meregangkan badannya.
“Aah, begitu, toh. Pantas saja aku tidak melihatmu hari ini. Urusan
perusahaan lagi?” tanya Angelica sambil membuka berkas
yang ada di mejanya dan mengecek tablet. Namun belum sempat pertanyaan itu
dijawab, suara pintu dibuka dan teriakan seorang cowok mengejutkan mereka.
“Yeeii!! Aku yang pertama!! Eeehh, Sandoras dan Sabrishion sudah di
sini!?!”
teriak Aldias yang tadinya semangat, kini terkejut melihat Johan dan Angelica.
“Selamat siang, kak Aldias!”
sapa Angelica.
“Yoo, kau menang lagi, kak Aldias!?” tanya Johan sambil
bangkit dari tempat duduknya.
“Tentu saja aku kalah!! Kukira aku bakal jadi yang pertama sampai di sini!” jawab Aldias sambil menggaruk-garuk
kepalanya.
“Hentikan, Aldias. Lihat wajah bingung Angel-ku yang manis. Kuharap kau
sering-sering memberi wajah itu untukku, ya, Angel??”
kata Michaelis yang kemudian masuk dan menghampiri Angelica serta memberinya
bunga mawar merah yang baru saja dicurinya dari kebun sekolah.
“Selamat siang, kak Michaelis. Terima kasih sudah menyebutku manis”
sapa Angelica sopan. Ia sedikit merinding saat Michaelis yang masochist itu
mendekatinya.
“Hentikan, kak Michaelis. Jangan menggoda adik kelas, dong. Semuanya harap
duduk, kita segera mulai rapatnya. Ng, Preminger belum datang?”
perintah Johan, sambil melihat ke arah para anggota.
“Tadi aku bertemu dengannya, dia bilang ada urusan di klub musik klasik,
jadi akan terlambat!” jawab Aldias sambil duduk dan mengambil
tablet dari tasnya.
“Yaah, baiklah. Kita mulai rapatnya. Rapat hari ini akan membahas tentang
pembagian tugas persiapan untuk festival nanti. Aku ingin kak Michaelis
bertanggung jawab atas revisi proposal festival yang akan dipresentasikan pada
Dewan Perguruan Siswa dan Ketua Yayasan. Tolong selesaikan semuanya sore ini!”
perintah Johan tegas.
“Baiklah, serahkan padaku!” jawab Michaelis sambil memberi
hormat.
“Kak Aldias akan bertanggung jawab atas proposal untuk dipresentasikan pada
Kepala Sekolah. Tolong buat sebaik mungkin. Kalau ada yang kurang yakin atau
membingungkanmu, tolong segera hubungi aku!” perintah Johan lagi.
“Beres! Tenang saja!” jawab Aldias dengan nada meyakinkan.
“Aku dan Angelica akan bertanggung jawab untuk delegasi dan presentasi dari
masing-masing klub sekolah yang akan berpartisipasi. Kami akan menyerahkan
formulirnya pada masing-masing ketua klub”
“Hee?? Bukankah itu tanggung jawab Dewan Perguruan Siswa??”
tanya Aldias bingung.
“Memang, tapi kita hanya bertanggung jawab pada delegasinya dan
presentasinya saja. Kita tak punya hak untuk persetujuan ikut atau tidaknya
klub dalam festival nanti.” Jawab Johan dengan nada sopan
“Dengan kata lain, kita membantu Dewan Perguruan Siswa??”
tanya Angelica.
“Begitulah, lagipula mayoritas pengurus klub adalah siswa SMA, jadi kita
tidak terlalu terbebani atas pencarian orang sampai menyebrang bagian sekolah. Lalu,
tolong katakan pada Preminger bahwa tugasnya adalah membuat daftar orang-orang
penting yang akan diundang, terutama alumni SMA ini. Apa ada pertanyaan??”
tanya Johan mengakhiri pembicaraannya.
“Tidak ada! Selamat bekerja saja untuk kalian, ya!”
kata Aldias menyemangati.
“Kalau begitu, kami permisi dulu. Ayo!” katanya sambil mengajak Angelica.
Angelica hanya mengangguk dan mereka keluar bersama. Aldias dan Michaelis pun
bertanya-tanya.
“Hei hei, apa kau tidak merasa kalau Johan hari ini terlalu lunak dengan
Sandoras?” tanya Aldias dengan nada nakal.
“Ah, benar juga.. Jangan-jangan..! tidaaak, Angel-ku akan direbut!”
teriaknya sambil menangis dengan latar mawar berguguran. Aldias hanya pasrah…
Di koridor sekolah, Angelica dan Johan berjalan bersama.
Angelica yang masih bingung akhirnya bertanya pada Johan.
“Kak Johan, kita... mau ke mana sekarang?”
“Ke ruang arsip, untuk memfotokopi formulir ini dan didistribusikan ke
masing-masing klub” jawab Johan yang berjalan sambil
mengecek tabletnya.
“Hmm, tapi aku bingung. Kenapa kita harus perlu persetujuan Kepala Sekolah
segala??” tanyanya lemas.
“Ternyata kau masih bingung sistem perizinan festival di sini, ya. Jadi
begini, festival sekolah dirayakan 3 hari sebelum ulang tahun sekolah, yaitu di
bulan Oktober. Setiap bagian sekolah dari SD sampai SMA sudah harus membuat
persiapan menjelang awal musim semi. Persiapan dimulai dari proposal tiap
bagian sekolah yang kemudian disampaikan ke Kepala Sekolah. Jika disetujui,
baru kemudian proposal dibuat lagi untuk disampaikan pada Ketua Yayasan. Jika
salah satu bagian sekolah tidak disetujui proposalnya, sebagai gantinya dia
hanya boleh berpartisipasi dalam klub dan sebagai orang di balik layar. Tapi
jika tidak disetujui oleh Kepala Sekolah, mereka tidak diizinkan berpartisipasi
sama sekali dan menjalani hari-hari sekolah biasa. Tapi... biasanya mereka boleh
ikut pesta, sih” jawab Johan panjang lebar.
“Ada pesta setelah festival!?” teriak Angelica
terkejut.
“Yaa, sehari setelah penutupan. Pesta dansa waltz. Hari itu para siswa
berlomba-lomba mengajak pasangan yang mereka sukai. Dan biasanya mulai banyak
yang jadi pasangan hari itu. Tapi festival ini hanya untuk siswa SMP dan SMA.
Siswa SD biasanya hanya liburan keluar negeri” jelas Johan.
“Oohh, begitu! Waah, sepertinya menyenangkan! Jadi tidak sabar!”
kata Angelica sambil begitu menantikannya.
“Kau sudah punya kandidat pasangan toh. Jangan-jangan... Russell??”
tanya Johan menebak-nebak.
“Heeeehhh!!?!? Ko, kok tahuuu~~!!?!?!?” teriak Angelica
terkejut. Johan berkacak pinggang.
“Dilihat juga sudah ketahuan kalau kau suka dia, tahu. Tapi, apa tidak
berlebihan?? Russell sangat populer. Dia sudah menjadi ketua Dewan Perguruan
Siswa sejak kelas 3 SMP, seakan tak ada yang bisa menggantikan dia”
kata Johan dengan nada iri.
“Uugh~~ orang populer kok, bilang orang lain populer! Jadi maksudnya kau
merasa kalah dengan kak Russell!?” tanya Angelica meledek.
“Mana mungkin. Merepotkan jadi orang populer!!”
jawab Johan sambil mengambil hp-nya dari kantong blazernya.
‘Dasar cowok bodoh! Jadi dirinya tidak sadar kalau dia populer!? Uugh!!’
gerutu Angelica dalam hati.
“Eeehh, ta, tapi... jangan bilang kak Russell soal ini, ya! Aku, akan
mengajaknya sendiri!” mohon Angelica. Johan bengong. Angelica hanya terpaku.
“Tidak mungkin”
“Ke, kenapa!?”
“Kalau cewek yang ngajak cowok, biasanya malah berdampak sebaliknya, tahu.
Dengan kata lain, kau bakalan dibenci oleh Russell!”
“Eeeeehh!?!? Bo, bohong... yang benar saja~~” kata Angelica
lemas setelah mendengar Johan. Johan langsung merasa tidak enak.
“Aku bohong”
“Eeh??” tanyanya bingung.
“Aku takkan bilang pada siapapun, termasuk Russell. Aku janji”
kata Johan. Ia menunjukkan keseriusan di wajahnya. Angelica terkejut
melihatnya.
‘Matanya... sangat serius...’ katanya dalam hati.
Mereka sempat bertatapan agak lama. Namun Johan melanjutkan jalannya yang
sempat terhenti karena situasi itu.
“Ayo, kita harus cepat menyelesaikannya” perintah Johan sambil
berlalu duluan.
“Eh... ya...” jawab Angelica pelan. Ia masih berhenti
disitu dengan melihat punggung Johan.
‘Kak Johan... selalu terlihat berbeda di saat seperti ini...’
Beberapa saat kemudian setelah
selesai fotokopi, mereka beranjak mendistribusikan formulir itu dan sampai di
tujuan pertama mereka, ruang klub
musik klasik perguruan. Ruang klub saat itu cukup ramai dan
penuh dengan siswa-siswi berbagai tingkat sekolah.
“Permisi. Waaahh!! Biola!!” teriak Angelica yang terpukau
melihat biola serta pemainnya, Patricia.
“Ah, rupanya kalian
Angelica, Johan” sapa Patricia setelah menyelesaikan
permainannya.
“Kau masih di sini dan belum datang juga ke ruang Dewan? Ya ampun..”
kata Johan sambil menepuk dahinya. Angelica berlalu mengelilingi ruang klub.
“Maaf. Aku ketua klub, jadi..” Patricia bingung
melanjutkan kalimatnya. Namun Johan hanya menyodorkan kertas padanya.
“Ya sudahlah. Ini formulirnya. Tolong kembalikan paling lama satu bulan
lagi, ya” perintah Johan datar.
“Terima kasih,
Johan. Aku menyusahkanmu” kata Patricia sambil menerimanya.
“Tidak masalah! Tapi sepertinya, anggotanya bertambah banyak, ya”
katanya sambil melihat sekeliling.
“Ya. Tapi anak-anak baru di SMP dan SMA tahun ini banyak yang amatir hanya
karena tertarik dengan penampilanku di upacara masuk sekolah lalu”
jawab Patricia sambil menghela napas.
“Sepertinya bakal berat. Pantas saja kau terlambat. Ya sudahlah. Angelica,
ayo...”
belum selesai Johan mengucapkan kalimatnya, ia mendapati Angelica yang sedang
terpukau dengan…
“Waaahh, pianonya warna putih! Kereeeen!!” katanya dengan
mata berkilauan. Itu adalah pertama kalinya ia melihat piano putih.
“Ka, kalau kakak mau, silakan...” kata seorang anak yang
sedang bermain, mempersilahkannya duduk.
“Eeeh, boleh main!?” tanyanya lagi. Ia kemudian duduk di
depan piano tersebut.
“Hei, kita masih punya tu...”
Belum selesai Johan
menyelesaikan kalimatnya lagi, ia terkejut melihat Angelica yang tiba-tiba
menjadi serius. Ia menarik napas panjang dan mulai bermain dengan… sangat
menakjubkan!
“Angelica hebat! Itu lagu Ravel, kan!?” teriak Patricia yang
terkejut mendengar dan melihatnya.
‘Luar biasa..! suasananya berubah total! Ditambah lagi... begitu damai...
sebenarnya... siapa dia?’ tanya Johan dalam hati, yang begitu
terpukau melihat penampilan Angelica saat itu.
PLOK PLOK PLOK PLOK! Para anggota lain bertepuk tangan setelah Angelica
menyelesaikan bagian Allegramente-nya.
“Hebaat!! Kakak luar biasa hebaaat!!”
“Kakak pernah belajar di mana!? Ajari aku, ya!!”
“Eeeh, aku...” Angelica bingung menghadapi pertanyaan
para anak SMP yang berkerumun di situ. Namun Johan segera menariknya dari
kerumunan itu.
“Ayo, cepat! Kita tak punya waktu!” perintah Johan dengan
menariknya hingga keluar ruangan.
“Eeh, baik! Permisi, ya! Kak Patricia, terima kasih pianonya!”
katanya sambil memberi salam. Patricia hanya melihat ke arah mereka yang sudah
berlalu di balik pintu.
Di taman, Johan berjalan lebih dulu setelah berusaha menarik
Angelica keluar. Angelica yang lebih lamban berusaha mengejarnya.
“Kak Johan! Kakaak!! Tungguu!! Hosh hosh hosh~~”
teriak Angelica sambil ngos-ngosan setelah berhasil mengejarnya.
“Kau ini bodoh atau apa..!?”
“Eeh?”
“Kita sedang bertugas! Tolong jangan main-main dan jangan lupa posisimu!”
teriak Johan dengan nada marah. Angelica takut mendengarnya.
“Huwaaa! Maafkan aku! Tidak akan begitu lagi!!”
katanya sambil membungkuk dengan spontan.
“Hmpft~ hahahaha!!” tawa Johan meledak. Angelica bingung
melihatnya, namun ia langsung menyadari situasi itu.
“Ke, kenapa tertawa!? Senang melihatku begini, ya!”
teriaknya menahan malu.
“Hahaha! Lucu sekali menggodamu yang seperti itu, cewek kasar!”
kata Johan sambil masih sedikit tawa di sela-sela ledekannya.
“Uuukh! Kak Johan menyebalkaaan!! Kau senang sekali menggodaku, sih!?!”
protes Angelica sambil berusaha memukul tangan Johan.
“Tadi itu... luar biasa, lho” puji Johan sambil
tersenyum bangga. Angelica sedikit berdebar-debar.
“Be, benarkah...?” tanyanya meyakinkan.
“Ya.. kau pernah belajar khusus?”
“Sama sekali tidak. Aku masih ingat. Sebelum ekonomi keluargaku jatuh, di
rumahku ada piano putih yang besar. Aku selalu main, sambil meniru musik klasik
yang kudengar. Aku sangat menyukai lagu Concerto Piano in G Major-nya Ravel.
Dan sampai sekarang hanya satu itu yang masih kuingat!”
jawabnya sambil mengingat-ingat.
“Kau belajar lagu secepat itu hanya berdasarkan pendengaranmu!?”
tanya Johan terkejut.
“Waktu itu aku belum punya buku musiknya. Lagipula aku lebih mampu
mengandalkan pendengaranku dibanding membaca bukunya. Aku belajar lagu itu
sampai benar-benar sempurna sampai setahun lebih, lho”
katanya membanggakan diri.
“Apa pernah ikut kontes?”
“Pernah, sampai tingkat Nasional”
“Serius!? Jangan-jangan, Angelica Sandoras yang katanya berhasil dengan
nilai hampir sempurna di kejuaraan Nasional empat tahun lalu itu..!”
kata Johan terkejut.
“Ehehehee.. rupanya kau tahu, ya” jawab Angelica sambil
menggaruk kepalanya.
“Haahh, dasar! Sulit kupercaya itu kau! Padahal kau kasar begini!”
ledek Johan lagi.
“Tidak sopaann!!” protes Angelica dengan nada sewot.
“Tapi... kudengar kau menolak ikut kejuaraan internasional. Kenapa? Kau
tidak yakin? Lagipula, kau juga sepertinya tidak ikut klub musik manapun, ya,
kan?”
tanya Johan menyelidik.
“Eeehh... a, ada banyak yang terjadi saat itu... la, lagipula bermusik itu
hanya hobiku! Jadi...”
“Ooh begitu. Sayang sekali, ya” jawab Johan kemudian.
Ia berusaha tidak mendengar kelanjutan pembicaraan Angelica karena merasa bukan
urusannya. Sementara Angelica berkata dalam hati.
‘Mana mungkin, kan.. mana mungkin kubiarkan.. kak Johan tahu..’
“Eeehh.. tolong lupakan.. saja yang tadi, ya..”
katanya kemudian sambil berjalan duluan. Hal itu membuat Johan bingung.
“Ada apa dengannya?”
Malam hari, di asrama putri. Angelica baru selesai mandi dan ia
merebahkan dirinya di Kasur. Ia berkata-kata sendiri.
“Kak Johan... mana mungkin kubiarkan kakak tahu, kan... aku......”
ia menghentikan sendiri kalimatnya. Ia mengangkat tangannya untuk menutup
silauan lampu.
‘Tanpa kusadari, begitu melihat piano putih itu, aku selalu tertarik untuk
bermain seperti magnet. Perasaan itu, rupanya belum berubah...’
katanya dalam hati. Hal itu membuatnya kembali teringat masa lalu.
“Aaah, kalau Sandoras sih, pasti menyuap para juri, tuh!”
“Bagaimana mungkin! Dia kan orang miskin!”
“Walaupun dulunya orang kaya raya, sih!”
“Hahahaha!!”
Angelica berusaha menghentikan ingatannya dengan menutup
kepalanya sendiri dengan bantal.
“Uuuukh~~!!” teriaknya kesal. Ia merasa sendirian
lagi…
Saat itu…
0 comment:
Posting Komentar