D
|
i rumah sakit, Russell sudah dipindahkan ke ruang opname. Namun
Johan kecil yang takut masih mengguncang-guncangkan badan Russell yang tak
kunjung sadar sejak mendapat perawatan.
“Russell! Bangunlah, Russell!! Russell!!!” teriak Johan sambil
menangis-nangis. Tak lama kemudian jari Russell bergerak-gerak. Ia berusaha
keras membuka matanya dan menahan sakit.
“...... a... ah... Johan...... ini di...” Johan berusaha
bicara dan menyadari keadaan dirinya.
“Russell!! Syukurlah!! Bagaimana keadaanmu!? Masih ada yang sakit!?”
teriak Johan senang sekaligus khawatir, sambil berusaha memegang-megang anggota
badan Russell yang lain.
“... aku baik-baik saja,
Johan... kau tidak perlu khawatir...” jawab Russell masih lemah.
BRAK! Pintu kamar dibuka dengan
keras. Dan orang yang membukanya
ternyata adalah… ayah Russell.
“Russell! Kau di sini!? Apa yang terjadi, nak!?”
teriak ibunya yang kemudian masuk dan langsung menghamburkan pelukan padanya.
“Ayah, Ibu! Eehh, aku...” Russell berusaha bangkit saat ibunya memeluknya,
tapi…
PLAK! Sebuah tamparan melayang ke
pipi Russell. Johan yang masih ada disitu tiba-tiba merasa ketakutan.
“Sayang!! Apa-apaan kau...!!”
bentak ibu Russell pada ayahnya. Namun ayahnya menghiraukan bentakan ibunya dan
memasang tampang geram pada Russell.
“Kau belum kembali ke rumah sejak sekolah selesai, tapi kau malah
menyusahkan kami seperti ini!!” bentak ayah Russell tak kalah keras. Russell
berusaha menahan, antara takut dan tangisnya.
“Ma... maafkan aku, Ayah... aku tak akan mengulanginya! Maafkan aku...!”
Russell berusaha menunduk meski sekujur badannya masih sakit. Sementara Johan
berusaha mengundurkan diri hingga di luar kamar.
“Cukup!! Kau sudah menyusahkan Ayah!!” teriak sang ayah yang tidak
mempedulikan tempat itu. Ia sangat emosi melihat keadaan Russell.
“Hentikan, Sayang!! Kau sudah keterlaluan pada anak kita!! Ini kejadian
yang tidak diduga, jadi hentikan sikapmu itu!!” bentak sang ibu
membelanya. Melihat ibunya yang mulai geram, ayahnya mengalah.
“Ugh... terserah!! Urus sendiri anakmu!!”
BRAK! Ia langsung membanting pintu
keluar kamar, dan berjalan menuju keluar rumah sakit.
“...... Russell...” panggil Johan yang bersembunyi di sisi lain
kamar Russell. Ia takut setengah mati melihat kemarahan ayah Russell. Ia kembali
menangis.
“Johan...” panggil seseorang.
“Eeh... Papa...” panggil Johan pada orang itu. Kemudian ayah
Johan menghampirinya, dan menekuk lututnya hingga setinggi anaknya saat itu. Lalu
ia mengelus kepala Johan.
“Papa sudah dengar kejadiannya
dari supirmu, nak. Dia menolongmu yang jatuh dari tanggul, kan?”
tanyanya lembut.
“Ya... Papa... kakinya terluka karena kesalahanku! Padahal sebentar lagi
dia akan ikut kejuaraan atletik! Dan ia dimarahi ayahnya karena aku!! Ini
salahku, Pa!! Huaaa~!!” teriak Johan sambil menangis keras. Ia berlari
menuju pelukan ayahnya itu. Ayahnya terdiam sesaat.
“... Papa mengerti, nak. Sekarang kau harus tebus kesalahanmu. Kau juga
bersalah karena pulang malam, nanti akan Papa beri hukuman untukmu. Untuk
sekarang, kau tidak perlu khawatir. Papa akan minta maaf pada temanmu dan orang
tuanya, ya” katanya menenangkan Johan.
“Ya... Papa...” jawab Johan, yang kemudian begitu lega
mendengar nasihat ayahnya.
Keesokan harinya, di sekolah. Johan
turun dari mobilnya sambil menghela napas.
‘Aku... sedikit tidak semangat...’ katanya dalam hati.
“Selamat pagi, Johan!” sapa seseorang. Johan melihat ke arah
suara orang itu.
“Eh...?? Russell!! Bukankah kau masih dirawat!? Kenapa ada di sini!?”
tanyanya terkejut. Russell masih dalam keadaan kaki diperban dan menggunakan
penyangga di sebelah kanannya untuk membantunya berjalan.
“Eeh... aku tidak apa-apa. Aku tidak bisa bolos sekolah hanya karena
kakiku. Selain itu, aku harus menjelaskan keadaanku ini pada senior. Kalau
tidak mereka bisa salah paham...” jawab Russell pelan sambil
menundukkan kepalanya.
“Russell...”
Angelica masih sedikit
terkejut. Ia tidak menyangka karena Johan bisa berlaku seperti itu pada
Russell. Dan Russell masih melanjutkan ceritanya.
“Saat itu aku hampir putus asa karena keadaan kakiku. Pikiran buruk terus
memenuhiku. Aku takut kakiku takkan sembuh, padahal aku selalu berharap untuk
ikut turnamen itu. Aku menangis semalaman tanpa ibuku, yang menjagaku, tahu hal
itu. Kemudian...”
Istirahat siang, di ruang klub atletik.
“Maafkan aku, Senior!! Pak Guru, maafkan aku!!” Russell
membungkukkan badannya sebagai tanda permintaan maafnya.
“Kau seharusnya bisa membatasi dirimu sebelum turnamen. Itu juga salah satu
latihan, Orlando!” kata Pak Guru dengan pandangan sedikit kesal
pada Russell.
“Aku benar-benar minta maaf! Ini terjadi karena kecerobohanku! Izinkan aku
untuk tetap
ikut turnamen berikutnya! Aku pasti akan memenangkannya!”
katanya
masih memohon. Pak Guru pun merasa tidak enak.
“... yaah, kurasa tidak ada pilihan lain. Ada yang bersedia menggantikan
Orlando??” katanya kemudian pada anggota atletik lain. Namun mereka
mengurungkan niat untuk menyatakan kesediaan mereka, sampai…
“Ada!!!”
BRAAKK!! Seseorang melabrak masuk dan
menyatakan kesediaannya untuk ikut turnamen.
“Jo... Johan!?” teriak Russell kaget.
“Aku bersedia menggantikan Russell!! Izinkan aku melakukannya!!!”
mohon Johan sambil membungkukkan badannya.
“Kau Sabrishion, kan?? Kau bukan anggota klub ini, jadi...” Pak
Guru agak ragu.
“Hanya karena bukan anggota klub, lantas aku tidak boleh!? Apa klub ini
begitu percaya diri, padahal diantara mereka tak ada yang berani menggantikan
Russell, kan!!? Jadi izinkan aku menggantikannya!!”
jawab Johan tegas. Ia masih membungkuk.
“Sabrishion...” panggil pak Guru.
“Johan, sudahlah!” cegat Russell.
“Russell terluka karena kesalahanku, izinkan aku menebusnya!! Aku ikut klub
sepak bola, jadi lari bukanlah masalah buatku!! Kumohon!!”
mohon Johan. Kali ini ia ‘bersujud pada gurunya itu. Melihatnya sampai seperti
itu, akhirnya Russell…
“Senior, Pak Guru, aku juga memohon!!” ia juga ikut memohon.
“Russell...” panggil Johan yang sedikit terkejut bahwa ia
juga memohon.
“... kurasa tak ada pilihan lain. Tapi, walaupun kau dari klub sepak bola,
bersiaplah untuk tetap berlatih!! Tinggal 2 hari lagi, Sabrishion!!”
perintah Pak Guru tegas. Johan dan Russell tersenyum senang.
“... baik!!!”
Angelica masih memberi
tampang setengah tidak percaya dengan itu. Tapi ia berusaha memberi tanggapan
pada Russell.
“Rupanya ada kejadian seperti itu di masa lalu, ya... lalu, bagaimana
turnamennya??” tanya Angelica.
“Johan berjuang semampunya. Tapi karena dia punya skill dari sepak bolanya,
hal itu mudah baginya. Kami berhasil maju di turnamen tingkat nasional”
jawab Russell bangga.
“Hebaat!! Ternyata, kak Johan dan kak Russell memang hebat!!”
puji Angelica senang.
“... ahaha, jangan memujiku”
“Eehh, memang benar, kok! Selain itu, kak Johan juga sangat bertanggung jawab.
Tak heran dia dipilih jadi ketua Dewan Siswa!” katanya lagi..
“... begitu, ya... Angelica, apa ceritamu ini mengubah pandanganmu terhadap
Johan??”
tanya Russell dengan pandangan serius.
“Eh...??”
“Habis, kalian sering sekali bertengkar. Jadi aku sedikit berpikir, mungkin
kau membencinya”
“Eeeng... soal itu... aku...” Angelica gugup. Ia masih
bingung bagaimana menjawab pertanyaan itu.
“... Johan tidak pernah menyesali keputusannya. Walau kalian sering
bertengkar, walau di luar sana banyak orang yang lebih mampu memegang kendali
sebagai wakil Dewan Siswa, tapi dia justru memilihmu. Itu karena dia yakin kau
punya kemampuan lebih dan kau adalah orang yang bisa dipercayainya. Selain
itu...”
Russell menghentikan pembicaraannya, yang tentu membuat Angelica bingung.
“Selain itu...??”
“... Selain itu, hanya aku dan Johan yang tahu!”
jawabnya sambil memberi pandangan nakal. Angelica langsung ciut.
“Uuuh, curang. Tapi... kak Russell, terima kasih untuk hari ini!”
ucapnya sambil menunduk.
“Eh...?? untuk apa??”
tanya Russell tidak mengerti.
“Sedikitnya... sedikitnya, aku bisa mengubah pandanganku terhadap kak Johan.
Aku akan menyampaikan rasa terima kasihku padanya!” kata Angelica sambil tersenyum lega.
“... baguslah kalau begitu...” kata Russell mengakhiri.
Keesokan harinya, Angelica berlari kecil dan memberi salam
pada Sylvie.
“Selamat pagi, Sylvie!! Aku duluan, ya!! Terima kasih roti dan susunya!!”
“Ya! Sampai bertemu di kelas!!” salam Sylvie.
Di sekolah, Angelica masih menggigit roti ketiga
pemberian Sylvie yang membuatkannya sarapan sebelum berangkat tadi. Benar, hari
ini ia kebagian piket di Dewan Siswa, dan harus datang jam 7 pagi. Tapi..
“Hooi, wakil!! Kau terlambat, tahu!!” teriak Johan dari depan
gerbang sekolah.
“Egh, belum terlambat, kok!! Kau saja yang datang terlalu cepat!!”
protes Angelica.
“Wakil harus datang 10 menit lebih cepat dari ketua!!”
kata Johan sambil memukul kepala Angelica dengan gulungan buku daftar pelanggar
peraturan sekolah.
“Uuugh, wakil, wakil!! Aku punya nama manis Angelica, tahu!!”
protesnya lagi.
“Namanya sih, lumayan, sayangnya orangnya punya watak devil!!” jawab Johan santai.
BUAK!! Angelica memukul Johan
dengan keras saking tidak tahan lagi.
“Lebih baik aku ke
kelas!! Urus saja piketmu sendiri!!!” katanya kesal sambil
berlalu.
“Hei, mau kabur, ya!?” panggil Johan. Namun Angelica tidak
mempedulikannya.
TAP! Akhirnya ia melingkarkan
lengannya ke leher Angelica dan menariknya keluar sekolah.
“... ayo, cepat! Murid lain sudah mulai berdatangan!”
kata Johan serius.
“Uuugh!!
Eeeh, anu... kak Johan!” panggil
Angelica.
“Apa??”
“Eeeng, eeeh... terima kasih banyak. Kak Johan sudah mempercayaiku sebagai
wakilmu. Selama ini aku... selalu ingin berterima kasih. Aku... akan
berjuang...!!” katanya sambil menundukkan kepalanya. Johan terdiam
sesaat sambil menahan malu.
“... baguslah kalau kau paham” jawab Johan sambil
mengalihkan pandangannya dari Angelica.
“Eeeh... jangan-jangan, kakak...” Angelica menduga-duga
sesuatu, tapi…
“Kau bilang mau berjuang, padahal kenyataannya sekarang kau mau kabur,
kan??”
tanya Johan dengan polos. Angelica kembali geram.
“Aku tidak kabur!! Kau sendiri yang pagi-pagi sudah bikin kesal!!”
teriaknya kesal.
“Kau sendiri yang kesal. Ayo cepat, cewek kasar”
“Uuugghh~~ dasar bodoooohh!!!” teriak Angelica hingga
terdengar seisi sekolah.
‘Setidaknya, kini aku mampu mengubah pandanganku terhadap
kak Johan. Yaah, walau hanya sedikit... tapi, aku akan tetap mendampinginya...
sampai selesai...’
0 comment:
Posting Komentar