Senin, 16 Maret 2015

Wings of Melodies~LoveStory Edition - Chapter 6

D
i rumah sakit, Russell sudah dipindahkan ke ruang opname. Namun Johan kecil yang takut masih mengguncang-guncangkan badan Russell yang tak kunjung sadar sejak mendapat perawatan.
“Russell! Bangunlah, Russell!! Russell!!!” teriak Johan sambil menangis-nangis. Tak lama kemudian jari Russell bergerak-gerak. Ia berusaha keras membuka matanya dan menahan sakit.
“...... a... ah... Johan...... ini di...” Johan berusaha bicara dan menyadari keadaan dirinya.
“Russell!! Syukurlah!! Bagaimana keadaanmu!? Masih ada yang sakit!?” teriak Johan senang sekaligus khawatir, sambil berusaha memegang-megang anggota badan Russell yang lain.
“... aku baik-baik saja, Johan... kau tidak perlu khawatir...” jawab Russell masih lemah.
BRAK! Pintu kamar dibuka dengan keras. Dan orang yang membukanya
ternyata adalah… ayah Russell.
“Russell! Kau di sini!? Apa yang terjadi, nak!?” teriak ibunya yang kemudian masuk dan langsung menghamburkan pelukan padanya.
“Ayah, Ibu! Eehh, aku...” Russell berusaha bangkit saat ibunya memeluknya, tapi…
PLAK! Sebuah tamparan melayang ke pipi Russell. Johan yang masih ada disitu tiba-tiba merasa ketakutan.
“Sayang!! Apa-apaan kau...!! bentak ibu Russell pada ayahnya. Namun ayahnya menghiraukan bentakan ibunya dan memasang tampang geram pada Russell.
“Kau belum kembali ke rumah sejak sekolah selesai, tapi kau malah menyusahkan kami seperti ini!!” bentak ayah Russell tak kalah keras. Russell berusaha menahan, antara takut dan tangisnya.
“Ma... maafkan aku, Ayah... aku tak akan mengulanginya! Maafkan aku...!” Russell berusaha menunduk meski sekujur badannya masih sakit. Sementara Johan berusaha mengundurkan diri hingga di luar kamar.
“Cukup!! Kau sudah menyusahkan Ayah!!” teriak sang ayah yang tidak mempedulikan tempat itu. Ia sangat emosi melihat keadaan Russell.
“Hentikan, Sayang!! Kau sudah keterlaluan pada anak kita!! Ini kejadian yang tidak diduga, jadi hentikan sikapmu itu!!” bentak sang ibu membelanya. Melihat ibunya yang mulai geram, ayahnya mengalah.
“Ugh... terserah!! Urus sendiri anakmu!!”
BRAK! Ia langsung membanting pintu keluar kamar, dan berjalan menuju keluar rumah sakit.
“...... Russell...” panggil Johan yang bersembunyi di sisi lain kamar Russell. Ia takut setengah mati melihat kemarahan ayah Russell. Ia kembali menangis.
“Johan...” panggil seseorang.
“Eeh... Papa...” panggil Johan pada orang itu. Kemudian ayah Johan menghampirinya, dan menekuk lututnya hingga setinggi anaknya saat itu. Lalu ia mengelus kepala Johan.
 “Papa sudah dengar kejadiannya dari supirmu, nak. Dia menolongmu yang jatuh dari tanggul, kan?” tanyanya lembut.
“Ya... Papa... kakinya terluka karena kesalahanku! Padahal sebentar lagi dia akan ikut kejuaraan atletik! Dan ia dimarahi ayahnya karena aku!! Ini salahku, Pa!! Huaaa~!!” teriak Johan sambil menangis keras. Ia berlari menuju pelukan ayahnya itu. Ayahnya terdiam sesaat.
“... Papa mengerti, nak. Sekarang kau harus tebus kesalahanmu. Kau juga bersalah karena pulang malam, nanti akan Papa beri hukuman untukmu. Untuk sekarang, kau tidak perlu khawatir. Papa akan minta maaf pada temanmu dan orang tuanya, ya” katanya menenangkan Johan.
“Ya... Papa...” jawab Johan, yang kemudian begitu lega mendengar nasihat ayahnya.

Keesokan harinya, di sekolah. Johan turun dari mobilnya sambil menghela napas.
‘Aku... sedikit tidak semangat...’ katanya dalam hati.
“Selamat pagi, Johan!” sapa seseorang. Johan melihat ke arah suara orang itu.
“Eh...?? Russell!! Bukankah kau masih dirawat!? Kenapa ada di sini!?” tanyanya terkejut. Russell masih dalam keadaan kaki diperban dan menggunakan penyangga di sebelah kanannya untuk membantunya berjalan.
“Eeh... aku tidak apa-apa. Aku tidak bisa bolos sekolah hanya karena kakiku. Selain itu, aku harus menjelaskan keadaanku ini pada senior. Kalau tidak mereka bisa salah paham...” jawab Russell pelan sambil menundukkan kepalanya.
“Russell...”

Angelica masih sedikit terkejut. Ia tidak menyangka karena Johan bisa berlaku seperti itu pada Russell. Dan Russell masih melanjutkan ceritanya.
“Saat itu aku hampir putus asa karena keadaan kakiku. Pikiran buruk terus memenuhiku. Aku takut kakiku takkan sembuh, padahal aku selalu berharap untuk ikut turnamen itu. Aku menangis semalaman tanpa ibuku, yang menjagaku, tahu hal itu. Kemudian...”

Istirahat siang, di ruang klub atletik.
“Maafkan aku, Senior!! Pak Guru, maafkan aku!!” Russell membungkukkan badannya sebagai tanda permintaan maafnya.
“Kau seharusnya bisa membatasi dirimu sebelum turnamen. Itu juga salah satu latihan, Orlando!” kata Pak Guru dengan pandangan sedikit kesal pada Russell.
“Aku benar-benar minta maaf! Ini terjadi karena kecerobohanku! Izinkan aku untuk tetap ikut turnamen berikutnya! Aku pasti akan memenangkannya!” katanya masih memohon. Pak Guru pun merasa tidak enak.
“... yaah, kurasa tidak ada pilihan lain. Ada yang bersedia menggantikan Orlando??” katanya kemudian pada anggota atletik lain. Namun mereka mengurungkan niat untuk menyatakan kesediaan mereka, sampai…
“Ada!!!”
BRAAKK!! Seseorang melabrak masuk dan menyatakan kesediaannya untuk ikut turnamen.
“Jo... Johan!?” teriak Russell kaget.
“Aku bersedia menggantikan Russell!! Izinkan aku melakukannya!!!” mohon Johan sambil membungkukkan badannya.
“Kau Sabrishion, kan?? Kau bukan anggota klub ini, jadi...” Pak Guru agak ragu.
“Hanya karena bukan anggota klub, lantas aku tidak boleh!? Apa klub ini begitu percaya diri, padahal diantara mereka tak ada yang berani menggantikan Russell, kan!!? Jadi izinkan aku menggantikannya!!” jawab Johan tegas. Ia masih membungkuk.
“Sabrishion...” panggil pak Guru.
“Johan, sudahlah!” cegat Russell.
“Russell terluka karena kesalahanku, izinkan aku menebusnya!! Aku ikut klub sepak bola, jadi lari bukanlah masalah buatku!! Kumohon!!” mohon Johan. Kali ini ia ‘bersujud pada gurunya itu. Melihatnya sampai seperti itu, akhirnya Russell…
“Senior, Pak Guru, aku juga memohon!!” ia juga ikut memohon.
“Russell...” panggil Johan yang sedikit terkejut bahwa ia juga memohon.
“... kurasa tak ada pilihan lain. Tapi, walaupun kau dari klub sepak bola, bersiaplah untuk tetap berlatih!! Tinggal 2 hari lagi, Sabrishion!!” perintah Pak Guru tegas. Johan dan Russell tersenyum senang.
“... baik!!!”

Angelica masih memberi tampang setengah tidak percaya dengan itu. Tapi ia berusaha memberi tanggapan pada Russell.
“Rupanya ada kejadian seperti itu di masa lalu, ya... lalu, bagaimana turnamennya??” tanya Angelica.
“Johan berjuang semampunya. Tapi karena dia punya skill dari sepak bolanya, hal itu mudah baginya. Kami berhasil maju di turnamen tingkat nasional” jawab Russell bangga.
“Hebaat!! Ternyata, kak Johan dan kak Russell memang hebat!!” puji Angelica senang.
“... ahaha, jangan memujiku”
“Eehh, memang benar, kok! Selain itu, kak Johan juga sangat bertanggung jawab. Tak heran dia dipilih jadi ketua Dewan Siswa!” katanya lagi..
“... begitu, ya... Angelica, apa ceritamu ini mengubah pandanganmu terhadap Johan??” tanya Russell dengan pandangan serius.
“Eh...??”
“Habis, kalian sering sekali bertengkar. Jadi aku sedikit berpikir, mungkin kau membencinya”
“Eeeng... soal itu... aku...” Angelica gugup. Ia masih bingung bagaimana menjawab pertanyaan itu.
“... Johan tidak pernah menyesali keputusannya. Walau kalian sering bertengkar, walau di luar sana banyak orang yang lebih mampu memegang kendali sebagai wakil Dewan Siswa, tapi dia justru memilihmu. Itu karena dia yakin kau punya kemampuan lebih dan kau adalah orang yang bisa dipercayainya. Selain itu...” Russell menghentikan pembicaraannya, yang tentu membuat Angelica bingung.
“Selain itu...??”
“... Selain itu, hanya aku dan Johan yang tahu!” jawabnya sambil memberi pandangan nakal. Angelica langsung ciut.
“Uuuh, curang. Tapi... kak Russell, terima kasih untuk hari ini!” ucapnya sambil menunduk.
“Eh...?? untuk apa?? tanya Russell tidak mengerti.
“Sedikitnya... sedikitnya, aku bisa mengubah pandanganku terhadap kak Johan. Aku akan menyampaikan rasa terima kasihku padanya!” kata Angelica sambil tersenyum lega.
“... baguslah kalau begitu...” kata Russell mengakhiri.

Keesokan harinya, Angelica berlari kecil dan memberi salam pada Sylvie.
“Selamat pagi, Sylvie!! Aku duluan, ya!! Terima kasih roti dan susunya!!”
“Ya! Sampai bertemu di kelas!!” salam Sylvie.

Di sekolah, Angelica masih menggigit roti ketiga pemberian Sylvie yang membuatkannya sarapan sebelum berangkat tadi. Benar, hari ini ia kebagian piket di Dewan Siswa, dan harus datang jam 7 pagi. Tapi..
“Hooi, wakil!! Kau terlambat, tahu!!” teriak Johan dari depan gerbang sekolah.
“Egh, belum terlambat, kok!! Kau saja yang datang terlalu cepat!!” protes Angelica.
“Wakil harus datang 10 menit lebih cepat dari ketua!!” kata Johan sambil memukul kepala Angelica dengan gulungan buku daftar pelanggar peraturan sekolah.
“Uuugh, wakil, wakil!! Aku punya nama manis Angelica, tahu!!” protesnya lagi.
“Namanya sih, lumayan, sayangnya orangnya punya watak devil!!” jawab Johan santai.
BUAK!! Angelica memukul Johan dengan keras saking tidak tahan lagi.
“Lebih baik aku ke kelas!! Urus saja piketmu sendiri!!!” katanya kesal sambil berlalu.
“Hei, mau kabur, ya!?” panggil Johan. Namun Angelica tidak mempedulikannya.
TAP! Akhirnya ia melingkarkan lengannya ke leher Angelica dan menariknya keluar sekolah.
“... ayo, cepat! Murid lain sudah mulai berdatangan!” kata Johan serius.
Uuugh!! Eeeh, anu... kak Johan!” panggil Angelica.
“Apa??”
“Eeeng, eeeh... terima kasih banyak. Kak Johan sudah mempercayaiku sebagai wakilmu. Selama ini aku... selalu ingin berterima kasih. Aku... akan berjuang...!!” katanya sambil menundukkan kepalanya. Johan terdiam sesaat sambil menahan malu.
“... baguslah kalau kau paham” jawab Johan sambil mengalihkan pandangannya dari Angelica.
“Eeeh... jangan-jangan, kakak...” Angelica menduga-duga sesuatu, tapi…
“Kau bilang mau berjuang, padahal kenyataannya sekarang kau mau kabur, kan??” tanya Johan dengan polos. Angelica kembali geram.
“Aku tidak kabur!! Kau sendiri yang pagi-pagi sudah bikin kesal!!” teriaknya kesal.
“Kau sendiri yang kesal. Ayo cepat, cewek kasar”
“Uuugghh~~ dasar bodoooohh!!!” teriak Angelica hingga terdengar seisi sekolah.

Setidaknya, kini aku mampu mengubah pandanganku terhadap kak Johan. Yaah, walau hanya sedikit... tapi, aku akan tetap mendampinginya... sampai selesai...

0 comment:

Posting Komentar

 

Diana Rachmawati Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template