B
|
eberapa hari kemudian, di kelas 1-A.
Seusai sekolah, Sylvie
dan Harry berkumpul di meja Angelica membahas sesuatu, yaitu…
“Begitulah! Hari ini ayo kita ke cafe
baru di sini!!”
ajak Harry semangat, sambil meletakkan sebuah brosur di tengah meja dengan
semangat.
“ ‘Forget Me Cafe! Meski ingin
dilupakan, tetap tak akan terlupakan! Datanglah sekarang juga!’ begitu bahasa
iklannya” kata
Angelica setelah membaca isi brosur itu.
“Ini cafe bergaya Inggris klasik! Aku
belum pernah merasakannya! Ayolah, kalian tidak ada kegiatan setelah ini kan!?
Lagipula, semua kegiatan ekstra sekolah diliburkan tiap Jum’at” kata Harry sambil memohon dengan mendempetkan
kedua tangannya.
“Yaah, iya, sih...” kata Sylvie merasa tidak enak.
“Ah, kami juga ikut lagi, ya!” kata sebuah suara, yang ternyata
adalah…
“Kak Russell! Kak Johan! Selamat siang! Kalian hampir
setiap minggu datang, ya!”
kata Sylvie santai.
“Ahaha. Tidak boleh, ya!?” tanya Johan bercanda.
“Tentu saja! Ayo kalian berdua juga
ikut! Angelica juga ikut, kan?”
ajak Harry sambil
memalingkan wajahnya pada Angelica.
“Yaah. Baiklah!” jawab Angelica dengan pasrah, sambil
beranjak berdiri dan mengangkat tasnya.
“Yosh! Ayo kita pergiii!!” teriak Harry semangat.
‘Aku.. tidak bisa membiarkan mereka
tahu.. masa laluku ini, kan?’
kata Angelica dalam hati. Ia masih memikirkan kejadian beberapa hari lalu yang
membuatnya teringat masa lalunya. Melihatnya seperti itu, Johan bertanya karena
khawatir.
“Ada apa? Kau tidak bersemangat”
Angelica langsung gugup, kemudian mengubah mimik wajahnya
dan mengajaknya dengan ceria.
“Ah, aku baik-baik saja. Ayo kita
pergi!”
Sesampainya di Forget Me Cafe, yaitu kafe yang berada tak jauh
dari sekolah mereka. Di sekeliling kafe masih berupa pohon-pohon besar,
sehingga terasa sangat tentram. Mereka pun sempat takjub dengan pemandangan
yang sangat berbeda dari kafe kebanyakan. Akhirnya mereka pun masuk dan disambut
ramah oleh dua pelayan wanita.
“Selamat siang! Selamat datang di Forget Me Cafe! Pesan meja untuk berapa
orang?”
tanya salah satu pelayan pada Angelica dan yang lain.
“Tolong meja
untuk lima orang!” jawab Russell sambil memberi
isyarat.
“Baik, silakan
lewat sini”
Kemudian setelah duduk dan memesan menu, hanya
sepuluh menit, pesanan mereka
disajikan di meja.
“Waaaah!! Cafe-nya sangat kereeen! Benar-benar gaya klasik!”
kata Angelica memberi tanggapan senang.
“Benar, kan? Cafe ini masih baru, sih! Syukurlah kau senang, Angelica!”
pinta
Harry sambil menuang susu ke dalam café macchiato-nya.
“Eh... apa
maksudmu, Harry?” tanyanya tidak mengerti.
“Hehe... beberapa hari ini kau terlihat lelah dan sering menghela napas.
Kau juga tidak biasanya tidak memperhatikan pelajaran. Kukira kau bosan, jadi
aku mengajakmu pergi!” jawab Harry sambil tersenyum ramah.
“Kalau ada hal yang mengganggumu, kau bisa ceritakan pada kami! Kita teman,
kan??”
kata Sylvie yang juga memberi senyuman padanya.
“Sylvie.. Harry..” panggil Angelica yang begitu
tersentuh dengan kalimat mereka dengan mata berbinar.
“Aku juga, akan selalu ada jika kau membutuhkanku. Hubungi aku kapanpun kau
mau, ya, Angelica” kata Russell sambil memberikan kartu
namanya.
“Kak Russell... semuanya... terima kasih banyak! Sebelumnya maaf karena,
aku membuat kalian khawatir. Tapi.. aku baik-baik saja mulai sekarang!”
jawab Angelica sambil tersenyum.
“Syukurlah!” jawab mereka.
Namun tentu saja di
antara mereka, Johan merasa ada yang aneh dari Angelica…
Setelah selesai dari
café, mereka pun berjalan- jalan.
“Nah, setelah ini, ada tempat lain yang ingin dikunjungi? Toko buku, atau
karaoke!? Atau kita main ke taman!?” tanya Russell
dengan penuh semangat.
“Haha. Di sisa hari ini kita menjauhkan diri dari buku, deh! Ayo ke
karaoke! Aku yang akan
traktir!”
ajak Harry sambil melihat ke arah teman-temannya.
“Malam ini, kita makan di restoranku lagi, ya! Kali ini kutraktir kalian di
pesiar!”
ajak Johan dengan nada santai.
“Serius, kak Johan!? Kalau begitu ayo saja!!” jawab
Angelica yang begitu senang.
“Tapi, sebaiknya kalian telepon butler kalian dulu. Kita tidak mungkin
pakai seragam sekolah di pesiar, kan? Malam ini ada pesta dansa, sebaiknya
kalian bersiap!” perintah Johan pada yang lainnya.
“Waah, bakal jadi malam yang panjang, nih!” kata Harry
sambil menyentuh layar hp-nya untuk menghubungi butler-nya.
“Sepertinya akan menyenangkan!” kata Sylvie sambil
melakukan hal yang sama.
Setelah itu, Johan melihat ke arah Angelica yang masih sedikit menunjukkan
muka sedihnya. Wajahnya pun sedikit merah. Johan hanya terpaku, dan menampakkan
wajah penuh tanya pada keadaan itu…
Saat di karaoke,
“Baiklah! Karena kita punya waktu 2 jam, siapa yang mau nyanyi duluan??”
tanya Russell yang memegang kedua mic, dan salah satunya ia gunakan.
“Tunggu sebentar! Sebelumnya, ayo kita adakan kompetisi nyanyi!”
ajak Harry dengan semangat sambil menunjuk ke teman-temannya.
“Ma, maksudnya kita taruhan??” tanya Sylvie
berusaha memahami.
“Yang kalah harus traktir teh di cafe lagi setelah makan malam!”
kata Harry sambil mengedipkan sebelah matanya.
“Makan lagi!?” tanya Johan dengan mimic wajah
berasa mau muntah.
“Boleh saja. Ayo adakan 2 sesi kompetisi. Sesi pertama kita nyanyi
sendiri-sendiri. Kemudian sesi kedua kita nyanyi berpasangan. Bagaimana? Untuk
yang berpasangan, yang kalah harus turuti kemauan yang menang”
kata Russell memberi ide.
“Baiklah! Aku siaaapp!! Ayo mulaaaii!!!” teriak Harry
semangat.
Kemudian, Angelica terlihat berusaha menikmatinya di awal. Namun terlihat sedih kembali, ia seperti
menahan sesuatu. Dan hanya Johan
yang menyadari itu tanpa berkata apa-apa…
Selesai kompetisi pertama. Seseorang
yang kalah saat itu merasa begitu buruk hingga duduk di pojok ruangan sambil
menunduk. Dan orang itu…
“Kak Russell yang kalah, ya” kata Harry pelan.
“Waah, aku tidak menyangka suaramu sangat fals, Russell. Pantas saja setiap
ujian vokal, kamu selalu minta sesi sendirian” ledek Johan
sambil mengambil tablet pemilih lagu.
“Diam kau, Johan!” teriak Russell menahan malu. Johan tertawa
bangga.
‘Hehehe... tidak menyangka, ternyata kak Russell yang terlihat elegan dan
sangat berdedikasi saat menjadi ketua dewan perguruan siswa itu punya kelemahan
seperti ini...’ kata Angelica dalam hati, sambil
tersenyum sendiri. Melihatnya seperti itu, Johan sedikit lega.
“Baiklah, selanjutnya kompetisi berpasangan. Karena kita berlima, aku jadi
juri saja, ya” kata Harry sambil menggeser duduknya di depan
teman-temannya.
“Curang kau, Harry!” protes Johan. Harry hanya tertawa.
“Hahaha biar saja! Aku yang akan tentukan pasangannya, ya! Kak Russell
dengan Sylvie, lalu Kak Johan dengan Angelica!”
“Heeeeehhh!?!?!” teriak Angelica dan Johan,
bersamaan.
“Ke, kenapa aku harus nyanyi bersamamu!?” protes
Angelica pada Johan.
“Aku juga tidak ingin melakukannya!! Ganti!! Pasangannya gantiii!!!”
protes Johan tak kalah keras. Namun Harry menggoyangkan jari telunjuknya
memberi isyarat bahwa pasangan tidak boleh diganti.
“Keputusan juri sudah mutlak. Atau... kalian takut kalah??”
ledek Harry dengan wajah serius.
“Uuuuggh~~” gerutu mereka kesal. Akhirnya mereka
berusaha menahan keegoisan mereka.
“Jangan sampai salah lirik lho, cewek kasar!” perintah
Johan.
“Kau sendiri jangan terpeleset nadanya, cowok bodoh!!”
timpal Angelica kesal. Dan hal itu memicu pertengkaran mereka.
“Kau masih memanggilku ‘cowok bodoh’!? berani sekali, kau, bocah tengil!!”
“Kau sendiri masih berani memanggilku ‘cewek kasar’?? Ingin kugantung di
puncak jam Universitas Oxford, hah!?”
Mereka masih tetap
bertengkar, dan Harry memulai pertandingan tanpa mempedulikan pertengkaran
mereka.
“Baiklah. Mission staaart!!”
Saat menjelang makan malam, mereka telah menghabiskan
jamnya di karaoke. Dan mereka masih berdiri di depan karaoke box karena…
“Seharusnya kau bilang kalau kau tidak ingat liriknya!!”
“Kau sendiri banyak nada yang meleset!! Ditambah lagi suaramu juga fals di
nada tinggi!!”
“Aku memang payah suara seriosa, tahu!!”
“Itu tidak ada hubungannya, dasar cowok bodoh!!”
Mereka masih tetap
bertengkar. Sementara Sylvie dan yang lainnya hanya melihat mereka dari jauh…
“Angelica dan kak Johan kalah, ya” kata Sylvie lemas.
“Semangat di awal sih sudah sangat bagus, tapi saat penampilannya
benar-benar...” Harry menghentikan omongannya karena
takut menyinggung pada apa yang sebenarnya terjadi dengan nyanyian mereka.
“Angelica sudah
memulainya dengan sangat bagus. Pada saat masuk reff sudah mulai di nada
tinggi, tapi suara melengking kak Johan benar-benar bisa bikin sapi pingsan tuh”
ledek Sylvie yang masih memerhatikan mereka.
“Sudah, lupakan saja mereka. Hmm, masih ada waktu sampai jam makan malam. Ada tempat
yang ingin dikunjungi?” tanya Russell pada Sylvie dan Harry.
“Kita ke taman dekat restoranmu saja, Russell. Bersantai sebentar,
mungkin?” jawab Johan tiba-tiba.
“Kalian, bertengkarnya sudah selesai?” tanya Harry yang
terkejut melihat mereka.
“Ah, benar juga. Ayo kita ke sana, toh sudah cukup lelah”
ajak Sylvie. Mereka bertiga pun berjalan bersama.
“Hooi, ayo kita
pergi dari sini” ajak Johan.
Namun Angelica tidak
bergeming. Ia masih menunduk setelah pertengkaran tadi. Akhirnya Johan
mendekatinya.
“Eh.. jangan bilang
kalau kau menangis…” tanya Johan. Ia berusaha meraih pipi Angelica pelan-pelan,
tapi..
“Aku baik-baik saja,
kak Johan” jawabnya sambil tiba-tiba mengangkat kepalanya. Ia pun berjalan
menghampiri Sylvie dan yang lain. Johan masih berdiri di situ sambil memandangi
punggung Angelica..
“Wajahnya merah… dan
tadi, suhu badannya…”
Setelah beberapa saat, mereka sampai di taman yang
dimaksud. Angin sore berhembus cukup kencang saat itu.
“Huaaahh!! Matahari terbenamnya kelihatan banget!!”
teriak Harry sambil meletakkan tangan di atas alisnya untuk menahan silau.
“Waah, ternyata di sekitar sini ada tempat seperti ini! Benar-benar
indah!!”
teriak Sylvie senang.
“Haha, begitu, ya. Aku sendiri baru pernah datang ke sini, sih”
kata Russell.
“Hoi, Russell, bukankah kau sering ke restoran itu?”
tanya Johan yang berada di belakangnya.
“Yaa, tapi tak pernah berjalan-jalan di sekitar sini, sih. Hahaa!”
jawab Russell sambil tertawa.
“Ngomong-ngomong, aku mau beli minuman. Kalian mau apa?”
tanya Harry sambil menaruh tasnya di atas rumput.
“Yoghurt!” jawab Sylvie.
“Aku teh susu saja” jawab Russell.
“Kopi hitam!” jawab Johan.
“Yap, Angelica, kau ingin apa?” tanya Harry. Namun Angelica
tidak bergeming.
“...? hoi!” teriak Johan, sambil menepuk
pundaknya.
“Ah! Ti, tidak ingin apa-apa” jawab Angelica
gugup.
“Benarkah? Baiklah kalau begitu. Tunggu sebentar ya!”
kata Harry sambil berlalu.
“Huuf, sepertinya Steak Wagyu enak untuk makan malam!”
kata Russell sambil duduk di atas rumput di sebelah Sylvie.
“Kak Russell sudah lapar? Aku ingin makan cappelini!”
timpal Sylvie sambil menunjukkan mimik keinginannya.
“Aah, tapi itu kan makanan pembuka!” kata Russell
membenarkan.
Setelah itu, mereka
berdua masih tetap mengobrol hal lain. Sementara Johan menghampiri Angelica
yang bersikap aneh.
“...... hoi! Kau baik-baik saja? Setelah bertengkar kau langsung diam. Apa
masih begitu marah padaku?” tanya Johan. Ia sedikit
menunduk untuk melihat wajah Angelica secara langsung. Angelica mengalihkan
pandangan darinya.
“... mana mungkin aku tidak marah, bodoh!” jawab
Angelica sedikit ketus, namun terdengar lemah. Dan itu membuatnya semakin
bingung.
“Kau ini kenapa, sih? Kalau tiba-tiba diam seperti itu...”
“Semuanya, minumannya sudah datang!!” teriak Harry,
sebelum Johan menyelesaikan kalimatnya.
“Huwaa! Cepat
sekali!”
kata Russell terkejut.
“Hahaaa! Cepat kan!? Sudah kuduga kalian akan bilang begitu! Ini, Sylvie.
Tutupnya sudah kubukakan kok” kata Harry sambil menyerahkan
botol yoghurt pada Sylvie.
“Terima kasih. Waah, rasa anggur!” katanya sambil
melihat label rasa pada botol itu.
“Ah, aku sering melihatmu beli itu di mesin penjual otomatis. Ternyata itu
rasa kesukaanmu, ya? Padahal aku cuma menebak!” kata Harry
berusaha menarik perhatian.
“Hehe, terima kasih, Harry!” ucap Sylvie senang.
“Angelica, kau baik-baik saja? Apa kau merasa tidak enak badan?”
tanya Russell yang tiba-tiba menghampiri Angelica. Angelica hanya diam menunduk, seperti tidak mendengarkan.
“Hoi!” teriak Johan lagi, menyadarkannya.
“Ah! A, aku tidak apa-apa, kak Russell! Hanya.. sedikit lelah..”
jawabnya lemah.
“Begitu, ya. Kalau begitu mungkin kita harus istirahat agak lama disini”
kata Russell sambil mempersilahkan Angelica duduk.
“Eeeh, ya.. maaf, ya..” katanya pelan.
‘Muncul lagi.. kenapa muncul lagi.. perasaan ini..’
katanya dalam hati. Kemudian Angelica merasa sesak napas sambil memegangi
dadanya dengan keras. Johan langsung menyadari hal aneh itu.
“Angelica! Kau..!” teriak Johan yang masih berada di sebelahnya.
Ia langsung menahan badan Angelica yang hampir ambruk.
‘Aku tak ingin... merasakannya... lagi.....’ katanya lagi
dalam hati sebelum…
BRUK!
“Angelica! Angelica!! Bertahanlah, Angelica..! Angel... ica...”
Ia ambruk dan
kehilangan kesadaran……
Di hari Angelica sadar, ia berusaha membuka matanya. Kemudian
berusaha menyadari situasi.
“Uuukh.. apa yang terjadi...?”
Saat bertanya seperti
itu, ia melihat sekeliling. Ia merasa ini bukan di kamar asramanya karena di
tangan kirinya terdapat selang infus. Tapi ia juga merasa bukan di rumah sakit.
‘Ini.. di mana yah..? Rasanya sangat asing... dan ada danau..? Ah, bukan.
Tapi kolam renang’ katanya dalam hati, berusaha
meyakinkan.
Tiba-tiba terdengar
suara seseorang membuka pintu kamar itu. Angelica menoleh, dan orang itu~yang
sedang membawa bubur di tangannya~meletakkannya di meja dekat situ dan
menghampirinya.
“Ah, kau sudah bangun!? Kau baik-baik saja!?” tanyanya
khawatir. ia langsung memegang bagian-bagian vital tubuh Angelica. Karena orang
itu…
“Eh, kak Johan. Aku baik-baik saja. Apa... yang terjadi padaku? Ini di
mana?”
tanya Angelica bingung.
“Sudah kuduga kau tidak ingat. Tiga hari lalu kau pingsan di taman saat
kita keliling kota. Sebelumnya kau bersikap aneh karena tiba-tiba diam setelah
bertengkar denganku. Ngomong-ngomong, ini rumahku”
jelas Johan singkat. Dan kini Angelica yang sedikit terkejut.
“Tiga hari? Aku sudah pingsan selama itu?” tanyanya
tidak yakin.
“Yaah, terkadang kau mengigau” katanya
sambil mengambil bubur tadi dari meja sebelumnya.
“Begitu, ya... sepertinya memang, rasa sakit itu masih ada...”
katanya pelan. Johan kemudian mengambil bangku dan duduk di sebelahnya.
“Ada sesuatu yang terjadi di masa lalumu, ya?”
tanya Johan.
Angelica diam menunduk. Johan menatapnya dan meletakkan bubur
di depannya.
Ia
menghela napas.
“Pokoknya, hari ini kau harus istirahat. Kupinjamkan laptopku, kau bisa
hadir di sekolah online, kan? Tapi kau tidak perlu memaksakan diri”
katanya sambil menunjuk ke arah meja tempat laptopnya diletakkan.
“... aku baik-baik saja, kak Johan. Aku bisa pergi ke sekolah, kok”
katanya sambil membalik selimut. Johan mencegahnya.
“Tidak akan kuizinkan kau keluar. Ini di rumahku, jadi kau harus patuh
peraturan di rumahku” perintah Johan.
“Tapi aku tidak memintamu untuk disini, kan!?”
teriak Angelica tiba-tiba. Johan tersentak, dan mereka saling menatap. Kemudian Angelica sadar atas
kata-katanya pada Johan barusan.
“Ma, maaf. Aku..” Angelica bingung dengan kata-kata
yang harus diucapkan. Namun Johan mengangkat kaki Angelica dan kembali
menyelimutinya.
“Hari ini, istirahatlah. Kalau kau tidak sanggup hadir di
sekolah online, tidak masalah. Toh wali kelasmu sudah tahu kondisimu disini”
kata Johan pelan.
“Kak Johan. Maafkan aku! Aku...” kata-katanya
kembali tertahan saat Johan tiba-tiba
mengelus kepala Angelica.
“Istirahatlah, Angelica. Jangan memaksakan diri. Kumohon...”
kata Johan dengan menunjukkan wajah sedih. Angelica terkejut dengan situasi
yang membuatnya tak bisa berkutik itu…
‘Kak Johan...’
Tak lama setelah
itu, terdengar suara mobil dari arah luar. Sepertinya Johan berangkat ke sekolah. Namun Angelica
hanya bisa tiduran sambil berpikir di kamarnya.
‘Kenapa... kak Johan baik sekali kepadaku? Jangan-jangan...’
“Tidak mungkin... dia suka padaku, kan?” katanya menggumam
sendiri.
“Siapa yang suka padamu?” tanya seseorang yang tiba-tiba
masuk ke kamarnya. Angelica terkejut melihat kedatangannya.
“Eh? Ka, kak Russell! Kenapa ada di sini!?”
“Yoo! Johan bilang kau sudah sadar. Jadi aku datang ke sini.
Ini bunga untukmu”
katanya sambil menyerahkan buket bunga campuran chrysanthemum, azalea, dan iris
pada Angelica.
“Tapi kenapa!? Sekolah sudah hampir dimulai, bukan!?”
tanyanya meyakinkan.
“Hmm, hari ini aku ada urusan di perusahaan keluargaku, jadi tidak akan ke
sekolah. Dan aku menyempatkan diri untuk menemuimu”
katanya sambil duduk sebelah Angelica.
“Kak Russell...”
“Kau baik-baik saja? Apa ada yang terluka?” tanyanya
ramah. Angelica merasa berdebar-debar.
“Ah, aku.. baik-baik saja. Sepertinya penyakit anemia-ku kambuh lagi”
jawabnya tenang.
“Ah, kau punya anemia? Kalau begitu kau harus banyak makan daging dan
sayuran. Apa ada makanan yang kau ingin makan?” tanya
Russell lagi.
“Ti, tidak usah! Aku baru saja selesai sarapan. Aku sudah baik-baik saja.
Kakak tidak usah khawatir. Besok aku pasti sudah hadir di sekolah!”
“Baiklah. Pulang sekolah nanti Sylvie akan kesini, mungkin bersama Harry.
Tadi dia mengirim e-mail padaku”
“Ah, tidak usah merepotkan”
“Ya ampun, kau ini tidak perlu khawatir soal ini, Angelica! Kita teman,
bukan!? Yaah, walau aku seniormu, sih” jawab Russell. Angelica
kembali tersenyum.
“Iya. Terima kasih banyak, kak Russell!”
‘Benar... aku punya teman di sini... meski hidupku berat...’
kata Angelica dalam hati.
“Sepertinya pengorbanan Johan membuahkan hasil, ya. Buktinya kau baik-baik
saja”
katanya sambil berdiri.
“Eh? Pengorbanan kak Johan? Maksud kakak?” tanya
Angelica tidak mengerti.
“Ah? Apa... Johan tidak memberitahumu apapun..?”
tanya Russell balik. Angelica semakin bingun dengan tatapan itu…
Angelica keluar dari kamarnya. Di koridor lantai tiga rumah Johan, ia
mencari-cari ruangan kerjanya. Siang hari, saat jam istirahat sekolah online.
‘Kak
Johan ternyata tidak sekolah… Kenapa... kak Johan sampai seperti ini demi aku..?’
tanya Angelica dalam hati.
“Apa Johan tidak memberitahumu? Selama kau belum siuman tiga hari ini, dia
tidak hadir di sekolah demi menjagamu, walaupun di rumahnya ada butler dan
beberapa maid wanita. Gara-gara ini, aku jadi sibuk mengurusi festival untuk
bagian Johan juga”
‘Kak Johan...’
“Tapi, keesokan harinya saat kau pingsan, ia sempat hadir di sekolah, sih.
Dia minta izin ke wali kelasmu mengenai kondisimu dan ke pengurus asrama wanita
untuk membiarkanmu tinggal di rumah ini. Pengurus asrama itu sempat marah, tapi
ia paham kondisinya dan tahu bahwa Johan tak akan berlaku macam-macam. Setelah
itu ia terus menjagamu”
Setelah mengecek ruangan
satu-persatu, akhirnya Angelica menemukan ruangan di mana Johan ada di
dalamnya. Saat membuka
pintu, ia melihat Johan sedang berdiri di beranda sambil memegang tabletnya. Ia
terlihat sedikit tidak bersemangat.
“Ka... Kak Johan!” panggil Angelica.
“Ah... Angelica. Sudah kubilang untuk tidak meninggalkan kamarmu, kan?”
katanya san sambil berlari kecil menghampiri Angelica.
“Kenapa!? Kenapa kakak sampai seperti ini demi menjagaku!?”
teriak Angelica. Johan sedikit bingung.
“Apa maksud...”
“Aku sudah dengar semuanya dari kak Russell! Aku... aku sudah sangat
berterima kasih karena kau mau membiarkanku tinggal dan dirawat di sini,
tapi... tidak seharusnya kau mengorbankan diri untuk menjagaku juga, kan!?”
kata Angelica dengan suara keras. Johan terdiam sesaat.
“Siapa yang mengorbankan diri? Itu hanya bentuk tanggung jawabku, kok”
“Tanggung jawab?”
“Kau pingsan karena kau masih marah di hari kita pergi ke karaoke, kan? Kau
tiba-tiba diam lalu seperti ini, siapa yang tidak merasa bersalah, hah!? Dasar
bodoh!”
“Ta... tapi, walau aku tidak ingat jelas, bukan karena itu, kok! Bukan
karena.. itu..”
Angelica kembali
merasa lemas. Johan dengan sigap langsung menahan agar tubuhnya tidak terpental
ke lantai.
“Angelica! Tuh, kan, kau belum sehat benar!” kata Johan
sambil mengambil tangan kiri Angelica untuk dilingkarkan ke lehernya.
“Maafkan aku, kak Johan...” katanya memohon. Ia merasa
begitu lemas.
Johan memindahkan Angelica ke bangku panjang yang ada di ruangan itu.
Kemudian memangku kepalanya.
“Dokter yang memeriksamu bilang bahwa kau shock berat sehingga kau sampai
anemia seperti ini. Sepertinya masa lalumu berat...”
kata Johan pelan sambil mengelus-ngelus kepala Angelica. Angelica terdiam
sesaat.
“... ya... aku begini sejak saat itu...” katanya sambil
berusaha memejamkan mata, berusaha membuka memori masa lalunya….
0 comment:
Posting Komentar