‘A
|
ku...
sudah lama tertarik padamu...’
‘Duuh.. kata-kata itu masih terngiang di telingaku..’
Di ruang Dewan Siswa, Angelica sedang mengerjakan tugas-tugasnya. Namun ia merasa
tidak begitu bersemangat karena masih teringat dengan situasi tadi, situasi
yang seharusnya tidak ia dengar.
‘Baru kali ini aku tidak sengaja melihat seseorang menyatakan perasaannya.
Tapi... bagaimana dengan kak Johan, ya..?’
tanya Angelica dalam hati, sambil melihat ke arah Johan.
“Ada apa melihatku seperti itu? Ada yang tidak kau pahami, cewek kasar?”
tanya Johan, begitu ia menyadari Angelica menatapnya. Angelica langsung salah
tingkah.
“Bisakah kau berhenti memanggilku begitu, cowok bodoh!? Aku tersinggung
setiap kali kau memanggilku begitu, tahu!”
teriaknya menahan malu.
“Benarkah? Kukira kau sangat senang dengan panggilan itu”
jawabnya santai sambil beralih
pandangan ke depan tablet.
“Itu..! tidak..! mungkiiiin!!!”
PLETAK! Angelica melemparinya dengan berkas
tebal. Johan meringis karena berkas itu mengenai dahinya hingga benjol.
“Sa... sakiiiit!! Kau sadar tidak sih, melemparku pakai apa!?!”
teriaknya sambil memegangi dahinya.
“Kalau kau sadar itu sakit, cepat bangun dan panggil dengan namaku, cowok
bodoh!!” teriak Angelica kesal.
“Kalau aku bodoh, aku tidak akan jadi ketua Dewan Siswa, tahu!!”
teriak Johan membela diri.
“Mereka bertengkar lagi...” kata Patricia
pelan.
“Ayo kita taruhan! 5 poundsterling untuk Angelica!”
kata Michaelis menantangi Aldias.
“20 poundsterling untuk Johan!” balas
Aldias.
“Kenapa kalian malah menambahkan, sih?”
Patricia menghela napas.
TOK TOK! Suara pintu dari dalam ruangan
terdengar.
“Johan, apa kau sudah... menyerahkan...”
Yang baru masuk ruang Dewan Siswa itu adalah Russell, yang kemudian terpana
melihat Angelica dan Johan sedang mencubit pipi satu sama lain.
Russell terdiam sejenak, kemudian…
“Kaliaaan~~ masih saja bertengkaar!!”
teriak Russell hingga suaranya memenuhi
ruangan. Angelica dan Johan langsung ketakutan, dan...
“Ampuni
kamiiii~~” kata mereka bersamaan, sambil menyembah-nyembah Russell demi permohonan maaf.
‘Ternyata, mereka baru takluk saat kemarahan Russell meledak...’
kata para anggota Dewan Siswa dalam hati…
Setelah
beberapa saat, akhirnya mereka kembali tenang.
“Bukankah kau sendiri yang bilang akan menyerahkan proposalnya? Rapat Besar
sebentar lagi akan dimulai, Johan. Akhirnya aku yang jadi datang untuk
menjemputmu begini, kan? Kalau festival bagian SMA tidak berpartisipasi,
bagaimana denganku nanti!?” kata Russell sambil
menunjuk-nunjuk dada Johan.
“Yaah, aku minta maaf. Aku sudah mau ke sana, tahu!”
kata Johan.
“Eeh, Rapat Besar itu...” Angelica tidak
mengerti. Russell menatap Angelica datar.
“Johan, kau tidak memberitahu apa-apa pada Angelica?”
tanya Russell dengan pandangan kesal.
“Apa boleh buat. Dia baru siuman kemarin, kan?”
kata Johan membela diri. Akhirnya Russell menghela napas.
“Dasar! Ah, ya. Ini pertama kali untukmu, Angelica. Rapat Besar adalah
penentuan apakah setiap sekolah diizinkan untuk mengikuti festival atau tidak.
Selain presentasi saat rapat nanti, prestasi sekolah juga dinilai”
jelas Russell.
“Apa festival sekolah kita serumit itu?”
tanyanya sambil berpikir.
“Mau bagaimana lagi. Sekolah kita sudah menjadi panutan besar terhadap
sekolah-sekolah lain di seluruh Inggris. Selain memperlihatkan kreativitas dan
kekhasan sekolah, kita juga memperlihatkan seberapa mampu sekolah kita
menerapkan ilmu yang didapat dengan mempraktekkannya”
kata Aldias menerangkan.
“Dengan kata lain, selain untuk bisnis, kita juga membagi ilmu kita untuk
orang lain. Festival sekolah kita dapat predikat pengunjung terbanyak setiap
tahunnya. Bahkan orang-orang penting di Inggris pun datang, bukan?”
Patricia menambahkan.
“Benar. Perguruan kita mendominasi seluruh sistem pendidikan di Inggris.
Karenanya murid-murid sekolah ini bukan murid sembarangan”
simpul Russell.
“Begitu, ya. Hmm... eh, Rapat Besar-nya hari ini!?!”
teriak Angelica terkejut.
“Ya. Ketua dan Wakil Ketua Dewan Siswa yang wajib hadir”
jawab Johan sambil bersiul.
“Bohong! Kenapa kau tidak bilang apa-apa padaku, cowok bodoh!? Aku bahkan
tidak tahu apa-apaaa~~!!” kata Angelica
lemas. Ia merasa kebingungan, tapi…
PUK! Johan memukul kepala Angelica pelan
dengan gulungan sebuah jilidan kertas.
“Ini. Kalau baca sesaat sebelum festival, kau bisa memahaminya, kan!?”
kata Johan sambil menyerahkannya pada Angelica.
“Eh?”
Di gedung utama Perguruan Escoriale, tepatnya di Ruang Rapat Besar,
beberapa anggota Dewan Siswa dari tingkat SD, SMP, bahkan Perguruan Tinggi
sudah hadir. Angelica begitu terpana melihat situasi tersebut.
“Waahh! Hebat, bahkan Dewan Siswa SD pun harus presentasi di sini?”
tanya Angelica takjub.
“Tapi, mereka hanya siswa SD, lho” kata Johan
sedikit meremehkan.
TOK TOK! Suara palu terdengar dari meja juri.
Russell berdiri di sisi kanan podium.
“Rapat Besar akan segera dimulai. Para peserta rapat, silakan duduk di
kursi masing-masing. Saya ketua Dewan Perguruan Siswa, Russell Brian Micheline
Orlando, kini duduk di kelas dua SMA yang akan menjadi moderator sekaligus juri dalam rapat besar
ini. Selain saya, juri yang lain di antaranya adalah kepala Perguruan, kepala
Sekolah bagian SD, SMP dan SMA, Rektor Perguruan Tinggi, serta pengurus Dewan
Perguruan Siswa. Sekarang, mari kita mulai dari bagian Perguruan Tinggi
terlebih dahulu. Kepada Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Escoriale
serta wakilnya dipersilakan untuk menuju podium”
jelas Russell di atas panggung.
“Presentasi kita setelah ini. Jadi pahami baik-baik isi proposal itu”
kata Johan dengan serius.
“Eeh, iya..” jawab Angelica gugup. Ia
melirik ke arah Johan.
‘Hebat. Kak Johan terlihat begitu tenang. Bahkan, ia terlihat begitu
berbeda di saat seperti ini. Ia menjadi serius sekali saat dihadapkan dengan
pekerjaan dan tugas Dewan Siswa... apa mungkin... ia sedang memikirkan
pernyataan kak Patricia tadi..?’ tanyanya dalam
hati. Ia pun hanya sekilas membaca isi berkas itu. Tak lama kemudian, bagian
universitas pun telah menyelesaikan presentasinya.
“Baik. Selanjutnya mari kita saksikan presentasi dari bagian SMA. Kepada
ketua Dewan Siswa, Johan Robin Harcourt Sabrishion serta wakilnya, Angelica
Steva Fiammatta Sandoras dipersilakan untuk menuju podium”
“Baik!” jawab Johan dengan tegas. Ketegasan
itu membuat Angelica sedikit terkejut.
Setelah dipanggil, mereka berdua langsung menuju podium.
“Selamat sore. Mari jangan membuang waktu. Dari hasil survei kami sebagai
Dewan Siswa yang dilakukan selama dua bulan, inilah hasilnya. Bisa dilihat
bahwa prestasi dari para siswa semakin meningkat. Bahkan mayoritas dari mereka
yang merupakan ketua klub yang ada di perguruan ini mampu membawa prestasi
mereka hingga menginjak kejuaraan internasional”
kata Johan memulai presentasi.
“Selain itu, ini merupakan hasil survei nilai dan keahlian dari para siswa
SMA. Seperti yang dapat dilihat, prestasi di bidang olahraga dan akademik cukup
tinggi dan bahkan dilihat dari grafik selama lima tahun, terus meningkat. Ini
berarti bagian SMA dapat mengikuti seluruh cabang ilmu untuk dipresentasikan
hasil penelitian ilmiahnya di festival
nanti” lanjut Angelica.
“Kemudian mengenai kreativitas, kami sebagai Dewan Siswa memiliki beberapa
perencanaan untuk memeriahkan acara festival nanti. Salah satu diantaranya
adalah dating’s couple. Karena festival sekolah diadakan di musim gugur, musim
ini dianggap yang paling cocok sebagai musim percintaan. Dalam acara ini, kami akan
meramalkan seberapa besar persentase kesanggupan pasangan dalam menjalani
hubungannya yang akan dites dengan psikotes, tanya jawab, bahkan kuesioner
mengenai pasangan masing-masing” jelas Johan di
gilirannya.
“Kemudian untuk kekhasan, kami masih akan menerapkan budaya dari para
pendahulu bagian SMA, khususnya di bidang akademik.
Untuk kekurangan bagian lain, diharapkan kami dapat menyempurnakannya dalam
festival nanti”
lanjut Angelica.
“Demikian presentasi dari kami. Setidaknya kami sudah melakukan semaksimal
mungkin demi presentasi ini. Terima kasih banyak!”
tutup Johan.
Para
peserta lain dan juri pun bertepuk tangan. Johan dan Angelica saling menatap, kemudian tertawa bersama…
Setelah selesai rapat, mereka berjalan bersama kembali ke gedung SMA.
“Duuh, aku tegang sekali tadi!” kata
Angelica merasa lega.
“Dasar. Apa kau tidak pernah bicara di depan orang banyak?”
tanya Johan sambil memasukkan koin di mesin penjual minum otomatis.
“Pernah, sih. Tapi yaah... ini pengalamanku yang berharga, sih!”
jawab Angelica sambil menerima minuman kaleng Royal Milk Tea favoritnya, sambil
tersenyum bahagia.
Melihat senyum Angelica yang bahagia, membuat Johan terpesona. Kemudian
mengalihkan pandangannya dan membuka kaleng
minuman cola-nya.
“Yah.. semoga saja kita lulus, ya!”
Setelah berkata begitu, gantian Johan yang memberi senyum ramah pada
Angelica. Kali ini dialah yang terpesona. Dan ia mulai berdebar-debar.
Mereka saling bertatapan.
‘Kak Johan... kini aku mengerti kenapa ia menjadi ketua Dewan Siswa...
karena ia begitu bisa diandalkan... bahkan di saat seperti ini...’
katanya dalam hati, dengan wajah merah merona.
“Ah, sudah jam segini. Aku harus segera ke kantor ayahku karena ada urusan”
kata Johan sambil melihat jam di taman yang telah berdentang empat kali.
“Baiklah. Terima kasih untuk hari ini, kak Johan. Dan juga, untuk empat
hari ini. Aku akan segera membalasnya!”
kata Angelica dengan pandangan berusaha.
Johan tersenyum, kemudian mengelus kepala Angelica.
“Kau juga. Cepat kembali ke asramamu dan istirahatlah”
kata Johan, sambil berlalu.
“Ya. Sampai besok!” salam Angelica
dengan melambaikan tangannya…
Malam hari, di ruang makan. Angelica telah
mengambil makanannya dan mencari-cari meja kosong.
“Angelica! Sini, sini!” panggil seseorang.
“Ah! Sylvie, Harry. Rupanya kalian sudah duluan, ya”
kata Angelica sambil menghampiri dan duduk di seberang mereka.
“Ah, tadi sore setelah kegiatan klub aku langsung ke toko cabangku di sini.
Kemudian bertemu Harry di jalan pulang”
jawab Sylvie sambil melihat ke arah Harry.
“Hee, pantas saja kalian masih pakai seragam. Kau sendiri dari mana,
Harry?” tanya Angelica. Ia sendiri sudah
pulang ke asrama sejak berpisah dengan Johan tadi.
“Aku hanya berkeliling, kok. Ngomong-ngomong, makanmu sedikit, Angelica”
kata Harry sambil memperhatikan nampan berisi makanan yang diambil Angelica.
“Haha, aku sedang sedikit tidak berselera”
jawab Angelica sekenanya.
“Jangan begitu! Kau habis sakit, kan? Makanlah yang banyak. Obatnya juga
diminum” katanya lagi sambil mengambil obat
yang ada di sebelah nampan Angelica ke atas nampannya.
“Aku tidak sakit sampai separah itu, kok. Tenang saja!”
protes Angelica.
“Hmm, oh ya. Bagaimana Rapat Besar hari ini?”
tanya Sylvie mengalihkan pembicaraan.
“Berjalan cukup lancar. Semoga saja sekolah bagian kita lulus. Gawat kan
kalau tidak?” jawab Angelica sambil menyuap
makanannya.
“Memangnya kenapa?” tanya Harry tidak
mengerti.
“Kalau kita tidak lulus, sekolah bagian kita sama sekali tidak diizinkan
berpartisipasi dalam festival sekolah, bakal berjalan tidak mulus nantinya.
Lagipula, kak Russell yang merupakan ketua Dewan Perguruan Siswa juga tidak
boleh ikut campur” jawab Angelica.
“Serius!? Berarti semua anak SMA kita yang mayoritas ketua klub juga tidak
boleh ikut!?” kata Sylvie terkejut.
“Yap. Kalau ketahuan ikut, jabatannya bakal dicabut. Itu yang kudengar, sih”
jawab Angelica sambil mengingat-ingat.
“Wah, sekolah kita kejam juga, ya. Maklum juga, sih”
kata Harry sambil menuang minuman.
“Ah ya, ngomong-ngomong, Harry ikut klub apa?”
tanya Angelica.
“Hmm, aku ikut klub anggar, taekwondo, dan penelitian ilmiah. Semua anggota
klubku juga sudah mempersiapkan diri untuk festival nanti”
jawab Harry bangga.
“Sepertinya, tidak lazim disebut festival yah. Malah lebih pantas disebut
pameran penelitian” timpal Sylvie
sedikit tidak bersemangat.
“Benar juga. Tapi, yang mengadakan pameran penelitian hanya klub, kok.
Kelas-kelas boleh bikin kedai makanan atau permainan”
kata Angelica berusaha menghibur.
“Ah, benar juga. Kelas kita belum merencanakan apa-apa, ya?”
tanya Sylvie
“Kalau kedai untuk masing-masing kelas, diputuskan setelah ada kepastian
kita boleh berpartisipasi atau tidak. Hei, Harry, sebagai ketua kelas kita,
kira-kira kau ingin bikin kedai apa?” tanya
Angelica lagi.
“Hmm. Yang ada di pikiranku sekarang sih... kita main drama!!”
teriak Harry semangat.
“Main...”
“Drama..??” kata Sylvie dan Angelica
meyakinkan pendengaran mereka.
“Tapi belum tentu yang lainnya setuju, kan. Aku harus dengar pendapat yang
lainnya juga” katanya lagi dengan nada biasa.
“Kalau kalian berdua yang jadi tokoh utamanya, aku setuju saja!”
kata Angelica menyemangati.
“Tidak tidak tidak! Kenapa harus kami!?”
teriak Sylvie menahan malu.
“Habisnya kalian berdua cocok, sih!”
jawab Angelica meyakinkan.
“Yaah, kalau Angelica maunya seperti itu, sih...”
kata Harry.
“Harry!!” teriak Sylvie masih menahan malu,
namun mereka terdiam sejenak, dan tertawa bersama…
Keesokan harinya, setelah pulang sekolah. Di Ruang Dewan Siswa. Russell
datang kesana dan memberitahu bahwa...
“Kita tidak lulus”
“Eeeeehhh!?!?!” teriak para anggota Dewan Siswa bersamaan. Mereka
benar-benar terkejut mendengar pemberitahuan hasil Rapat Besar kemarin ini.
“Be... bercanda, kan, Russell??” tanya Johan yang masih begitu panik untuk
meyakinkan.
“Memang hanya bercanda” kata Russell lagi dengan nada santai. Johan
langsung mengepalkan tangannya.
“Kau iniii!! Aku sudah panik setengah mati, tahu!! Kalau sekolah bagian
kita tidak lulus, kau mau bakal ada konfrontasi antara murid dan Dewan Siswa di
sini, haaa!?!” teriak Johan hingga memenuhi ruangan. Ia benar-benar ketakutan.
“A, aku juga kaget. Kukira benar-benar tidak lulus” kata Angelica sambil
menghela napas lega, namun masih sedikit panik.
“Aku sengaja bilang begitu. Soalnya aku begitu ingin melihat wajahmu yang
terkejut, Angelica” kata Russell sambil tersenyum ke arahnya. Wajah Angelica
langsung merah padam.
“Baik baik, terima kasih atas informasinya, Ketua. Silakan kembali
bertugas!” teriak Johan sambil mendorong Russell keluar ruangan karena masih
merasa kesal.
“Ahahaha. Kau cemburu, Johan?” tanya Russell sambil tertawa.
‘Ce, cemburu!?’ teriak Angelica dalam hati.
“Mana mungkin aku suka sama cewek kasar seperti dia, kan?” jawab Johan
santai.
BLETAK BLETAK! Dua buah berkas kembali melayang ke kepala Johan. Ia meringis
kesakitan.
“Aduuh!! Hei, tidak bisa melempar sekali saja, hah!?” teriaknya pada
Angelica.
“Maaf, ya, mungkin aku memang bukan tipe cowok bodoh sepertimu. Tapi
setidaknya aku masih lebih baik darimu, dan akan mendapatkan laki-laki yang
lebih dari segala-galanya daripada kau, dasar bodoh!!”
Setelah berteriak begitu, Angelica keluar ruangan dengan membanting pintu. Johan
merasa bingung dengan sikapnya.
“Apaan, sih? Kenapa marah begitu?”
Di koridor, Angelica membuka jendela yang ada tak jauh dari pintu masuk
ruang Dewan Siswa. Ia menggerutu kesal.
“Dasar aku ini bodoh! Kenapa malah marah saat dia bilang aku bukan
tipenya!? Memangnya aku menyukainya!? Tidak tidak tidak tidak! Ini pasti mimpi
buruuuk~~!! Duuh, cepat bangun, dong, akuuu~~!!” teriaknya ke luar jendela di
akhir kalimatnya. Setelah berteriak, ia memangku kepala di atas tangannya,
memberi pandangan sedih ke luar.
“Angelica” panggil seseorang yang baru saja keluar dari ruang Dewan Siswa. Angelica
menoleh.
“Ah, kak Russell. Mau kembali ke Ruang Perguruan Siswa?” tanya Angelica
yang langsung mengubah suasana hatinya.
“Tidak. Aku ada urusan di kantor ayahku, jadi aku akan langsung ke sana”
jawab Russell sambil tersenyum ramah.
“Ah, begitu, ya..” katanya mengakhiri. Mereka terdiam sejenak.
“Angelica... kenapa kau marah?” tanya Russell dengan serius. Angelica sedikit
tersentak, lalu ia menundukkan kepalanya.
“A, aku... aku hanya tersinggung dengan kata-katanya yang bilang bahwa aku
ini cewek kasar. Apa.. aku memang sekasar itu, ya...” katanya sambil berusaha
tersenyum, namun ia sebenarnya sedih. Russell berpikir sebentar.
“... Kurasa tidak. Kau hanya kasar seperti itu di depan Johan, lho. Dan
kurasa kau tidak menyadarinya, bukan?” tanyanya lagi sambil sedikit memiringkan
kepalanya. Angelica terkejut.
“Maksudnya... kakak mengira aku menyukai kak Johan? Haha itu tidak mungkin,
kan...” katanya sambil tertawa-tawa.
“Kenapa tidak?”
“Sebenarnya, ini rahasia, tapi... kemarin aku tidak sengaja... melihat kak
Patricia menyatakan perasaannya pada kak Johan” jawab Angelica pelan. Kini gantian
Russell yang terkejut.
“Preminger suka Johan? Hmm, aku tidak menyadarinya. Lalu, Johan
mengiyakan?” tanya Russell mencari tahu. Namun Angelica menggeleng.
“Kak Johan belum menjawabnya saat aku memergokinya. Tapi... mungkin setelah
itu ia menerimanya...” jawab Angelica semakin menunduk. Russell menghela napas,
kemudian berdiri di sebelah Angelica dan memangku tangannya di atas tembok
jendela.
“Ooh begitu. Lalu kau sendiri kenapa menceritakannya padaku?” tanya Russell
tenang. Angelica terdiam sejenak.
“Ada seseorang yang menyukai kak Johan bukan? Lagipula jika seandainya, aku
juga menyukai kak Johan, aku sama sekali tidak pantas buatnya. Aku tahu betul
perasaan seseorang yang menyukai laki-laki yang sama denganku. Dulu aku pernah
merasakannya, dan itu menyakitkan. Karenanya, menurutku akan lebih baik jika
kak Johan bersama kak Patricia, bukan? Dan lagipula, aku punya orang lain yang
kusukai...” jelas Angelica sambil berusaha tersenyum. Namun entah kenapa ada
perasaan aneh dalam dirinya. Perasaan yang berbeda dengan saat bersama Johan.
Russell berpikir lagi, namun agak lama.
“Itu hanya kesimpulanmu, Angelica. Hal itu belum tentu baik bagi Johan
sendiri. Lagipula Johan tidak menceritakannya padaku. Berarti dia tidak ambil
pusing soal itu” jawab Russell tenang.
“Eh...?” Angelica menatap Russell.
“Tapi, jika masalahnya kau suka orang lain, itu lain soal. Ah, sudah
waktunya. Aku duluan, ya. Sampai besok!” kata Russell lagi sambil melihat jam
tangannya dan berlalu.
“Eh, tunggu dulu! Maksudnya apa, kak Russell!?” teriak Angelica pada
Russell yang sudah berada dua meter di depannya.
Russell menghentikan larinya, dan berbalik ke arah Angelica.
“Kau tunggu saja sampai semuanya terungkap”
Russell pun berlalu. Angelica hanya menatap punggung Russell sampai
kemudian berbelok menuruni tangga. Kemudian ia kembali masuk ke ruang Dewan
Siswa, dan meyakinkan sesuatu dalam hatinya, yang sudah lama ia rasakan sejak
ia tiba di sekolah ini.
‘Saat itu... aku menyadari sesuatu yang seharusnya tidak pantas
kurasakan... aku hanya... suka kak Russell, lho...’
0 comment:
Posting Komentar