D
|
ua tahun lalu, di kota terpencil Inggris. Angelica, 15 tahun.
“Ibu, ayah, aku pergi dulu!”
“Hati-hati, nak. Jangan tidur saat pelajaran berlangsung, ya!”
‘Aku bersekolah di SMP di mana siswa-siswinya adalah golongan
biasa. Sementara aku yang berada di golongan atas saat itu merasa terbebani
dengan sikap iri dan dengki mereka.’
“Hei anak orang kaya! Kau kan tidak pernah bersih-bersih di rumahmu!”
teriak salah satu anak sekelasnya sambil memberikan sapu padanya.
“Hari ini gantikan kami, ya!” timpal yang lainnya.
Angelica hanya diam, sementara mereka tertawa puas mengerjainya. Tapi…
BRAAAK!! Angelica memukul meja yang ada di dekatnya. Spontan
tindakan itu membuat yang lainnya kaget.
“Apa kalian tidak dengar apa yang dikatakan pak guru tadi? Yang kabur
dari
bersih-bersih hari ini akan mendapat PR dua kali lipat dari yang diberikan dan
harus selesai besok. Aku bersedia saja menggantikan kalian, toh kalian sendiri
yang terima hukumannya. Benar, kan!?” kata Angelica dengan nada
dan pandangan sinis.
“Uuukh~~” gerutu teman-temannya, hingga akhirnya merebut sapu dari
tangan Angelica dan pergi darinya.
‘Tapi, aku sanggup melawan mereka. Saat itu, aku merasa
keberadaan keluargaku yang mendominasi kota itulah yang membuatku mampu menghadapi semua itu. Aku
meremehkan mereka hingga mereka tak mampu melawan. Hingga suatu hari saat aku pulang sekolah...’
“Aku pula...”
BRAAAKK!! Sebuah barang terjatuh sangat keras karena dibanting
seseorang dari dalam rumahnya. Sementara Angelica berada di pintu masuk.
“A... ada apa ini!?! Ibu!!” teriaknya terkejut.
“Angelica!!” panggil Ibunya yang terjerembab di lantai.
“Rupanya kau putri laki-laki brengsek itu, ya!?!”
tanya seorang pria besar dengan nyeleneh. Sepertinya pria itulah yang telah
membanting barangnya hingga keluar ruangan tadi. Pria besar dan berotot, serta
mengenakan baju ala preman. Pria itu menghampiri Angelica dan memegang
wajahnya. Angelica langsung ketakutan.
“Hentikan!! Mau kau apakan dia!?” teriak Ibunya yang telah berusaha
berdiri
“Mau apa!? Tentu saja kujual dia ke bangsawan, kan!? Dengan begitu kau bisa
melunasi hutang suamimu yang brengsek itu!!” teriak pria itu sambil
tertawa.
“Hutang? Aku dijual!? Apa maksudnya ini, Ibu!?”
tanya Angelica tidak mengerti, sambil menepis tangan pria itu dengan keras.
Namun Ibunya tidak menghiraukannya.
“Tak akan kubiarkan kau melakukan hal bejat seperti itu pada putriku!! Aku
akan mengganti semuanya, setidaknya berikan aku waktu!!”
teriak Ibunya geram dan memberi pandangan mengancam.
“Waktu!? Bahkan jika kau serahkan harta yang ada di rumah ini sekalipun
semuanya tak akan tergantikan, bodoh!!” kata pria itu sambil
tertawa lagi. Kemudian ia meminum botol yang berisi bir yang tergantung di ikat
pinggang sebelah kanannya. Lalu hendak melayangkan pukulan pada sang Ibu. Angelica
langsung menghadang.
“Hentikan!! Jangan sakiti Ibu!? Apa yang terjadi, katakan padaku!!”
teriaknya sedikit gemetar. Namun ia tidak gentar.
“Heuh, anak bodoh! Baiklah, akan kuberitahu!!” teriaknya sambil
meminum birnya lagi. “Ayahmu berhutang 50
juta poundsterling padaku dan kabur!! Dan kau akan kujual untuk melunasi
sisanya!!”
“Bagaimana bisa ayahku berhutang sebesar itu padamu!?”
tanyanya setelah menahan rasa terkejutnya.
“Sebenarnya yang berhutang itu pamanmu, adik Ibumu! Namun di surat perjanjian ia menulis nama ayahmu
sebagai penanggung jawab atas hutang itu! Jadi aku datang untuk menagihnya!”
“Untuk apa pamanku meminjam uang 50 juta poundsterling itu!?”
“Tentu saja untuk berjudi, bodoh! Kau lupa bahwa pamanmu yang sama
brengseknya dengan ayahmu itu adalah penjudi!?”
“Beraninya
menghina ayahku!! Bagaimana bisa...!”
belum sempat Angelica menyelesaikan pertanyaannya, pria itu telah menggenggam
tangannya.
“Sekarang, kau ikut denganku atau tetap di sini dan membayar hutangmu
seumur hidup bersama ibu tersayangmu!?” tanya laki-laki itu dengan
geram. Angelica menunduk, kemudian tak lama mengangkat kepalanya.
“Kenapa kau sendiri menanyakan hal sebodoh itu? Tentu saja
aku tetap di sini bersama Ibu! Walau seumur hidup akan kubayar semua itu!!”
teriaknya dengan tegas.
“Heuh, baiklah!! Waktu kalian untuk melunasinya adalah tiga tahun!! Jika dalam
tiga tahun kau masih tidak mampu melunasinya, kujual
kau!!”
teriak pria itu.
“Baiklah!! Sesukamu saja!!” jawab Angelica masih tetap tegas. Mereka
beradu mata. Namun pria itu langsung mengalihkan pandangannya.
“... ayo pergi!!”
Tak lama kemudian mereka
pergi. Setelah memastikan mereka benar-benar telah keluar, Angelica menghampiri
Ibunya yang kembali terduduk lemas.
“Ibu, kau baik-baik saja?” tanyanya khawatir. Ia berusaha membantu
ibunya untuk duduk di atas bangku panjang yang ada disitu.
“Ibu baik-baik saja, nak. Maafkan Ibu karena kau harus mengalami hal
seperti ini” kata Ibunya sambil memegangi pipi Angelica.
“Kenapa, bu? Kenapa Paman bisa setega ini pada kita.. Ayah tidak bersalah,
kenapa malah...” Angelica menangis. Namun Ibunya berusaha
membela.
“Ayahmu tidak lari, nak. Ayahmu sudah tahu hal ini akan terjadi. Sebelum
pergi, ia minta maaf pada Ibu dan menceritakan semuanya. Ibu bahkan tidak pernah tahu
Charles,
adik Ibu, sampai menyusahkan
ayahmu seperti ini. Maafkan Ibu, nak! Ini juga salah Ibu!”
kata Ibunya sambil menangis.
“Kalau begitu, sekarang Ayah...”
“Ayahmu pergi mencari Charles yang entah berada di mana. Karena
ia-lah yang sebenarnya
bertanggung jawab atas semua ini”
jawab Ibunya dalam isak tangis. Angelica merasa geram.
“Paman keterlaluan... benar-benar... keterlaluan…” katanya lagi sambil menangis…
‘Berita mengenai keluargaku pun cepat menyebar di kota
itu. Di sekolah, aku semakin diejek, bahkan dibuli oleh mereka. Kini aku sadar tak ada ‘keluargaku’ lagi di balik semua itu.
Dengan cepat aku menyadari bahwa seharusnya bukan untuk itu aku membela diri.
Semua demi menghadapi mereka yang iri dan dengki terhadap kehidupanku yang
serba mewah. Namun aku dan ibuku benar-benar jatuh miskin. Aku mati-matian
belajar dan mencari beasiswa, hingga akhirnya ada seorang bangsawan yang
bersedia membiayai sekolahku yang tinggal beberapa bulan lagi selesai itu.
Sebagai gantinya, aku bekerja di rumah itu.
‘Tak ada kabar sedikitpun dari ayahku sejak kejadian itu.
Kami berdua hidup dengan serba sulit. Namun aku tetap bersyukur karena aku
masih bisa membayar hutang itu dari hasil kerja kami berdua. Tak lama kemudian,
aku mendapat rekomendasi beasiswa di SMA Escoriale, dan lulus tes di sana.
‘Hari-hari penuh penindasan masih berlanjut di hidupku.
Semua makin parah sejak aku jadi satu-satunya penerima beasiswa itu.
Gosip-gosip aneh seperti menjilat guru atau yang lainnya menyebar di sekolah. Di
hari kelulusan, aku tak sanggup lagi menerima gunjingan-gunjingan tak beralasan
itu di sekolah. Hingga saat menyanyikan lagu kelulusan, aku ambruk secara
tiba-tiba...
‘Saat terbangun, hari upacara masuk SMA sudah lewat.
Beasiswaku di SMA Escoriale diputus di tahun itu. Beruntungnya, mereka
memberiku kesempatan di tahun depan. Dan... aku pun tertinggal sekolah satu
tahun sejak itu...’
“Begitu... ternyata ada kejadian seperti itu…
dan seharusnya kau berada di
tahun yang sama denganku...” kata Johan pelan, sambil
menunjukkan rasa sedih.
“Ya.. tapi, itu semua tidak menyurutkan semangatku untuk belajar dan membayar
hutang itu. Aku sering diam-diam ikut pelajaran di sekolah SMA yang tempat
SMP-ku dulu. Penjaga sekolah itu sering memergokiku, namun dia bisa mengerti.
Karenanya aku berharap nanti, aku bisa loncat kelas dan berada di tahun seharusnya
di mana aku belajar. Sebenarnya, keluarga bangsawan yang mempekerjakanku itu
juga ingin membiayai sekolahku di SMA, tapi kutolak”
katanya sambil tertawa kecil.
“Kenapa?”
“Sudah jelas, kan? Aku… ingin sekolah di Escoriale. Aku tidak sanggup harus
terus di kota itu. Ibuku pun memahami hal itu, karena itu ia mengizinkanku
pindah dengan syarat aku tidak melupakan hutang itu”
katanya sambil memejamkan mata, mencoba untuk tidak melupakannya.
“Begitu ya... kalau begitu, berarti sudah setahun kau mengembalikan hutangmu, kan?”
tanya Johan mengingatkan.
“Yaah, aku baru membayarnya 30.000 poundsterling. Aku sudah berniat mencari
kerja part-time di sini, tapi...” Angelica
menghentikan ucapannya.
PUK PUK! Johan hanya menepuk-nepuk kepala Angelica tanpa berkata apa-apa.
Angelica pun hanya diam menatapnya. Dan
mereka masih saling menatap cukup lama…..
Keesokan harinya, di sekolah. Kelas
1-A bagian SMA.
“Maaf sudah menyusahkan kalian!” mohon Angelica
sambil menundukkan kepalanya. Sylvie dan Harry merasa lega.
“Angelicaaa~~!! Kau baik-baik saja, kan!? Syukurlaahh!!”
teriak Sylvie yang kemudian memeluk Angelica sambil menangis.
“Untunglah kau bisa hadir di sekolah lagi” kata Harry
lega.
“Iya. Terima kasih semuanya, kalian sudah mau menjengukku”
ucap Angelica lagi.
“Itu bukan masalah. Yang penting kau bisa kembali ke sekolah lagi, kan?”
kata Sylvie berusaha mencairkan suasana. Angelica sedikit terkejut.
“Hehehe” Angelica tertawa.
Setelah pembicaraan
itu selesai, kini Russell, Harry dan Johan...
“Hei, Johan. Apa saja yang kau lakukan pada Angelica selama 4 hari ini??”
tanya Russell meledek sambil menyikut lengan Johan
“Wah, benar juga, ya. Aku juga ingin tahu, kak Johan”
timpal Harry yang juga penasaran serta melakukan hal yang sama dengan Johan.
“Apa-apaan kalian? Kenapa memandangku seakan mesum begitu sih!?”
tanya Johan merinding. Ia berusaha menjauhkan diri.
“Jangan-jangan kalian berdua…” Harry berusaha
tidak melanjutkannya, karena membiarkan yang lainnya membayangkan sendiri.
“Hooi!! Jangan mikir
macam-macaaam!!” teriak Johan berusaha menyangkal.
“Angelicaa~~ aku tidak menyangkaa~~” kata Sylvie sambil
menangis dan mengigit saputangannya.
“Hei hei, selama tiga hari aku pingsan, lho! Tiga hari! Aku bahkan tidak
sadar jika hari sudah berlalu selama itu!” teriak Angelica
berusaha memberi penjelasan. Ia sendiri berusaha menahan malu karena ia pun tak
urung dari bayangan-bayangan aneh.
“Nah, kalian dengar sendiri, kan? Memangnya kalau aku berlaku macam-macam,
aku harus cerita ke kalian?” kata Johan yang juga menahan
malu, karena ia pun berlaku sama dengan Angelica.
“Tentu saja!” jawab Russell
membenarkan.
“Itu kan rahasia
laki-laki yang harus dibagi, benar, kan?” timpal Harry meyakinkan.
“Apa-apaan kalian ini!?” teriak Johan makin merinding.
‘Ya ampun! Kalau Harry aku tidak kaget, tapi tak kusangka ternyata kak
Russell punya sisi seperti ini! Tapi biar bagaimanapun juga, dia laki-laki, sih’
kata Angelica dalam hati.
Setelah selesai
dengan Harry dan Russell, Johan mengalihkan pandangan pada Angelica.
“Angelica, istirahat siang nanti datanglah ke ruang Dewan Siswa.
Dan juga, jangan memaksakan diri”
kata Johan sambil berlalu.
“Baik! Terima kasih sudah
mengantarku ke kelas, kak Johan”
ucap Angelica sambil menunduk. Johan hanya mengacungkan jempol.
Setelah Johan dan Russell keluar kelas, Harry pun ikut berlalu karena
dipanggil seorang teman sekelasnya.
“Angelica, sebenarnya apa yang terjadi hari itu?
Apa
kau punya penyakit aneh?”
tanya Sylvie khawatir.
“Eeh.. aku tidak apa-apa. Sepertinya penyakit anemia-ku kambuh lagi. Sudah
lama juga, sih” jawab Angelica sambil berusaha untuk
tidak gugup.
“Kau baik-baik saja? Sepertinya parah” katanya lagi.
“Tenang saja, tenang! Aku sudah diperiksa dan diberi obat oleh dokter
keluarga kak Johan, kok!” jawab Angelica sambil menunjukkan
bahwa ia baik-baik saja. Sylvie hanya tersenyum.
“Begitu, ya. Syukurlah!”
Siang hari, jam istirahat. Di koridor menuju ruang Dewan Siswa. Angelica
yang baru sampai di lantai 5 gedung sekolahnya itu melihat Johan dari jauh bersama
seorang wanita. Mereka berdiri dengan keadaan Johan bersandar di dekat jendela
sambil menatap keluar. Melihatnya, Angelica langsung sembunyi di balik tembok
dekat tangga itu.
“Kelihatannya kau begitu peduli pada Sandoras”
kata wanita yang sedang bicara dengan Johan. Angelica langsung mengenali suara
itu.
‘Suara itu... Kak Patricia, ya?’ tanyanya dalam
hati. Kemudian mengintip mereka lagi untuk meyakinkan, dan ternyata memang
benar. Johan sedang bicara dengan Patricia.
“Benarkah? Aku hanya bertanggung jawab karena kami bertengkar waktu itu”
jawab Johan santai.
“Bertengkar?” tanya Patricia bingung.
“Yaah. Tiba-tiba ia pingsan setelah bertengkar denganku. Aku tidak mungkin
tidak merasa bersalah, kan?” kata Johan dengan wajah santai.
“Oooh.. begitu..” jawab Patricia setelah merasa yakin.
Namun entah kenapa
hal itu membuat Angelica merasa tidak nyaman. Ia merasa ada yang tidak beres
dengan tubuhnya. Seperti akan rubuh lagi.
‘Walaupun aku tahu itu, tapi... kenapa rasanya...’
katanya dalam hati. Ia merasa aneh.
Sementara di sisi
lain, Patricia dan Johan terdiam sesaat. Tiba-tiba Patricia mengepalkan
tangannya.
“Eeng... Sudah lama aku ingin mengatakannya padamu, Johan. Aku...” Patricia tidak melanjutkan, ia
berusaha menahan rasa takutnya.
“Ng...?” Johan mengalihkan pandangannya pada Patricia.
“Aku... sudah lama tertarik padamu...”
Angin seketika
berhembus dari jendela yang ada di dekat Johan dan Patricia, karena memang
Johan yang membukanya. Keheningan pun terasa di antara mereka. Rasa terkejut,
dan……
0 comment:
Posting Komentar