S
|
ebulan telah berlalu, musim panas pun tiba. Hari-hari Angelica masih
disibukkan dengan sekolah, kegiatan klub, serta festival sekolah musim gugur
nanti.
Selesai pelajaran, hari terakhir sekolah. Di kelas 1-A, Angelica sedang
merapikan tablet dan beberapa bukunya.
“Sebentar lagi libur musim panas. Mau liburan?” tanya Sylvie yang baru saja
menghampirinya.
“Ah, Dewan Siswa hanya dapat libur 2 minggu dari 1 bulan libur. Sisanya
untuk menyelesaikan festival sekolah” jawab Angelica sambil menghela napas.
“Ah, ya. Klub juga akan mulai beraktivitas lagi setelah 2 minggu libur itu,
walau kegiatan belajar belum ada, sih” kata Sylvie memberitahu.
“Festival sekolah kita memikul tanggung jawab berat, ya” komentar Angelica
sambil berusaha tersenyum.
PLOK PLOK PLOK! Harry bertepuk tangan tiga kali di depan kelas untuk
memulai homeroom. Homeroom merupakan waktu di mana para siswa dan wali kelas
membahas struktur organisasi
kelas saat tahun ajaran baru, kegiatan luar
sekolah, serta keluhan antar para siswa. Waktu homeroom adalah 40 menit,
sementara 25 menit sebelumnya telah digunakan wali kelas. Dan Harry berusaha
tetap memanfaatkan sisa waktu homeroom selama 15 menit.
“Yaaak, teman-teman semua, mohon perhatiannya sebentar! Di sisa homeroom
hari ini kita akan mendiskusikan apa yang akan kita tampilkan di acara festival
tahun ini. Karena ini kegiatan kelas, kita tidak akan melakukan penelitian
seperti di klub-klub. Dengan kata lain, kita adalah bagian penghibur. Apa ada
usulan dari kalian?” terang Harry dengan lantang di depan kelas. Angelica sebagai
wakil ketua kelas menginput maksud Harry di layar LCD dengan tablet besar yang
ada di samping podium kelas.
“Ketua kelas, ada batasan kegiatan selain dari penelitian?” tanya salah
seorang teman sekelas.
“Tidak ada, kok. Yang penting bisa bersifat menghibur dan kalau bisa
tradisional. Sebisa mungkin, aku ingin kalian semua harap berpartisipasi, walau
aku yakin kalian merasa berat karena penelitian dari klub kalian. Terlebih
mayoritas siswa di kelas kita mengambil lebih dari dua kegiatan klub, bukan?”
kata Harry. Anggota pun mulai bercakap-cakap.
“Harap tenang! Jika ada usulan, silahkan angkat tangan!” kata Harry lagi.
“Ketua kelas, bagaimana kalau cafe?” usul seorang teman sekelasnya yang
lain.
“Hmm... sebenarnya sudah terlalu biasa bagiku. Tapi tolong tampilkan di
layar, ya. Ada lagi?” tanya Harry lagi.
“Pameran boneka!”
“Fashion show!”
“Main drama!”
“Yeess!! Aku sangat mendukung yang satu itu!! Tampilkaaann!!” teriak Harry
bersemangat hingga matanya berkilauan.
“I, iya!” jawab Angelica yang gugup melihat situasi itu.
‘Harry benar-benar terobsesi dengan drama, nih..’ katanya dalam hati. Harry
kemudian melihat ke layar LCD, dan mengangguk-ngangguk.
“Baiklah, mari kita mulai voting!!”
Homeroom akhirnya selesai. Jam di sekolah berdentang tiga kali. Angelica kini
sedang duduk berdua di air mancur taman pusat dekat bagian SMP bersama Johan. Mereka
bersama Russell telah janjian untuk ke cafe baru milik keluarga Harry untuk
rapat dengan Dewan Siswa bagian SMP.
“Jadi, kelas kalian akan menampilkan drama?” tanya Johan sambil menyeruput
teh hijau kaleng yang dibelinya di mesin penjual otomatis.
“Yaah, begitulah. Toh Harry begitu bersemangat, sampai-sampai dia rela
membuat sendiri naskahnya. Padahal katanya dia sibuk dengan pembukaan cabang
baru cafe-nya” jawab Angelica yang sedang memegang Vanilla Latte kotak sambil
mengayun-ayunkan kakinya.
“Yaah, tidak masalah, sih. Asal jangan drama Putri Salju atau Romeo dan
Juliet, mungkin menarik” ledek Johan.
“Kau ini! Kau sendiri, kelasmu akan menampilkan apa?” tanya Angelica.
“Membuka restoran”
“Haaah!? Re, restoran? Di festival sekolah seperti ini??” tanyanya dengan
terkejut.
“Yap. Jarang, kan!? Restoran kita akan dibuka di area ini!” jawab Johan sambil
melihat sekeliling taman.
“Aah, ternyata boleh ya mendirikan restoran di area terbuka begini..”
katanya pelan. Kemudian Russell pun menghampiri mereka.
“Johan! Angelica! Maaf, aku terlambat! Tadi Sylvie meneleponku, dia bilang
sedang ada masalah pengiriman di tokonya, jadi dia akan menyusul. Lagipula ia
tidak mau mengganggu rapat kita dulu” kata Russell sambil sedikit
terengah-engah.
“Ah, baiklah kalau begitu. Ayo kita pergi ke cafe keluarga Harry!” ajak
Johan.
“Iya!” jawab Angelica.
“Bagaimana keadaan sekolah bagian SMP?” tanya Johan pada Russell.
“Sedikit merepotkan, tapi mereka akan baik-baik saja. Mereka kan cerdas”
jawab Russell.
Melihat mereka saling mengobrol, Angelica memikirkan suatu hal.
‘Sejak saat itu... aku masih sedikit tidak paham. Apa... kak Johan
benar-benar menyukaiku..? Tapi,, jika ia memang suka, bukankah aneh jika ia
bersikap biasa..? atau...’
Sesampainya di Le Petite Cafe, yaitu kafe milik keluarga Harry yang baru
dibuka. Mereka masuk dan disambut oleh pelayan, dan sangat takjub melihat isi
kafe itu.
Lantai keramik bercorak marmer itu sangat indah karena terlihat seperti
hologram. Chandelier yang tergantung di plafon berwarna gold, sangat cantik. Meja
dari marmer serta kursi bercorak bunga mawar itu terlihat sangat kontras. Wallpapernya
dihiasi selang-seling antara corak kelopak bunga dengan warna marun polos. Angelica
sangat takjub. Tak lama setelah duduk, Harry menyambut mereka dengan gembira.
“Selamat datang di cafe keluargaku, semuanya! Lho, Sylvie tidak ada?” tanya
Harry saat menyadari ketiadaan Sylvie..
“Dia sedang ada masalah di tokonya, jadi akan datang terlambat. Kau juga
ikut melayani kami?” tanya Russell.
“Hmm, begitulah. Aku masih agak sibuk sehubungan dengan dibukanya cabang
ini. Tapi semoga kalian senang! Ini menunya!” katanya sambil memberikan menu
pada mereka.
“Waahh hebat! Ada cake dan ice cream! Bahkan ada donat! Waaa~~” Angelica
begitu gembira melihat menu minuman dan dessert yang begitu kreatif.
“Karena ini hari pembukaan, aku kasih diskon, deh!” promosi Harry.
“Hah? Kukira kita gratis!” kata Johan pura-pura mengeluh.
“Kak Johan, harap pahami keadaanku di sini, dong” Harry sedikit membela
diri.
“Habis, bukannya kau sendiri yang mengundang kami ke sini?” tanya Johan.
“Iya, sih. Tapi kalian sendiri yang menanyakan cafe yang nyaman untuk rapat
kalian bertiga, kan? Tidak salah aku mempromosikan cafe baruku, kan?” kata
Harry membela diri.
“Johan, kau sadis” kata Russell datar. Johan memanyunkan mulutnya.
Setelah Johan merasa kalah karena perdebatan itu, ia kembali melihat ke
arah Angelica yang masih berbinar melihat menunya.
“Kau boleh pesan yang kau mau. Aku akan traktir” kata Johan kemudian.
“Eeh, tidak usah! Aku masih punya uang, kok!” kata Angelica berusaha
menolak.
“Tidak usah sungkan” katanya lagi, sambil melihat menunya sendiri.
“Eeeh, baiklah” jawab Angelica menurut. Ia menggerutu lagi dalam hati.
‘Tuh kan, perasaanku jadi aneh lagi. Jangan bersikap seolah peduli begitu,
dong! Nanti aku bisa berharap, nih!’
Setelah bertarung dalam hati nuraninya, Angelica mengajukan pesanannya
tanpa ragu-ragu.
“Baiklah. Cafe au lait dan ice cream rasa raspberry mint ukuran large
dengan topping meses yang banyak!”
“Aku pesan kopi carebian saja” kata Russell.
“Milkshake vanilla saja. Sama kopi hitam juga, ya” kata Johan.
“Baiklah. Tidak ada yang pesan kudapan, nih?” kata Harry sambil menginput
pesanan di layar PDA kecilnya.
“Hmm.. Bawakan saja semuanya” kata Russell.
“Hah!?!” Angelica dan Johan terkejut.
“Russell, jangan macam-macam! Itu neraka buatku, tahu!!” teriak Johan
merinding dan baru akan memukul Russell dengan tasnya.
“Kak Johan, jangaaan!!” Angelica berusaha menghentikannya.
“Habis sepertinya semuanya enak. Tidak masalah, kan?” jawab Russell dengan
tenang.
DOEENG! Johan menaruh wajahnya di atas meja, menutupnya dengan kedua lengannya.
Merasa kalah.
“Kalian akrab sekali, ya. Baiklah, tunggu 10 menit lagi, ya” kata Harry
sambil berlalu dan berbicara dengan seorang pelayan.
“Oke. Nah, baiklah. Mari kita mulai rapat pribadi antara ketua Dewan
Perguruan Siswa dan pengurus inti Dewan Siswa” kata Russell memulai pembicaraan
baru.
“Baik!”
Tepat sebelum rapat dimulai, tiba-tiba sepasang laki-laki dan perempuan
yang masih sekitar SMP itu menghampiri meja mereka. Dan Angelica langsung
menyadari bahwa ia murid SMP dari sekolahnya.
“Selamat sore, kak Orlando. Maaf kami terlambat” kata si perempuan memberi
salam.
“Ah, kalian sudah datang! Ayo, silakan duduk” perintah Russell sambil
menggeser kursi di sebelahnya.
“Kak Russell, mereka...” Angelica tidak paham mengapa mereka datang, dan
hendak bertanya pada Russell.
“Ah, kalian belum kenal, kan? Mereka pengurus inti Dewan Siswa SMP.
Ketuanya Cecil Grandvalley, dan wakilnya Richard Alberto”
“Selamat siang, senior Sabrishion dan wakilnya, senior Sandoras” sapa sang
wakil, Richard, dengan sopan.
“Waah, kalian tahu nama kami? Jadi tidak enak. Salam kenal Grandvalley,
Alberto” balas Angelica dengan menundukkan kepalanya.
“Silakan panggil kami dengan nama depan saja, Cecil dan Richard” kata Cecil
dengan sopan.
“Baiklah. Kalian boleh memanggilku Angelica saja” katanya lagi.
“Sudah perkenalannya? Bisa kita mulai sekarang?” tanya Johan dengan kalimat
tegas.
“Aah, iya, Johan” jawab Russell mengalah.
Kemudian mereka memulai rapat, dan pesanan mereka pun telah diantar oleh
pelayan. Cukup lama mereka rapat. Dan akhirnya, hari telah sudah sore dan rapat
mereka sudah selesai.
“Baiklah, dengan begini, mari kita sukseskan festival sekolah kita! Terima
kasih atas kerjasamanya hari ini!” tutup Russell atas rapat hari itu.
“Akhirnyaaa~” teriak Angelica lega sambil meregangkan badannya.
“Kalau begitu, kami pamit lebih dahulu. Terima kasih untuk hari ini,
Senior” pamit Cecil.
“Sama-sama. Hati-hati saat kalian pulang ya!” kata Russell.
“Terima kasih, Senior Orlando. Semoga hari kalian menyenangkan” kata
Richard sambil berlalu bersama Cecil. Mereka pun keluar bersama dari kafe.
“Eeeh, kak Russell, keluarga
Grandvalley itu pengusaha baju tradisional terbesar di Inggris, kan?” tanya
Angelica berdebar-debar.
“Ahaha, rupanya kamu tahu, ya. Sayangnya tidak banyak yang tahu bahwa
keluarga mereka-lah yang mendominasi baju tradisional negara kita. Dengan kata
lain, mendiang keluarga mereka yang mendesain awal baju itu” jawab Russell.
“Waah, aku tidak tahu! Kalau keluarga Alberto?” tanya Angelica lagi.
“Keluarga mereka adalah dokter secara turun-temurun. Bahkan mereka
mendirikan rumah sakit di luar negeri dan mendirikan klinik di kota-kota kecil
di Inggris” jawab Johan.
“Ah! Jangan-jangan klinik Alberto di kotaku juga, milik keluarganya!?”
teriaknya terkejut, untuk meyakinkan.
“Begitulah. Richard akan jadi penerus berikutnya” jawab Russell.
‘Hebat sekali murid-murid di sekolah ini. Semuanya keluarga bangsawan yang
kaya raya dan pekerjaannya pun bukan main-main’ kata Angelica dalam hati dengan
bangga. Namun tiba-tiba ia merasa sedih. Johan langsung menepuk-nepuk kepala Angelica.
“Tidak usah tiba-tiba minder begitu. Kau tinggal berusaha keras mengejar
impianmu, kan?” kata Johan menyemangati.
“... ya, kau benar...”
“Ah, maaf, aku harus ke kantorku sekarang. Sepertinya sedang ada masalah.
Johan, kau bisa antar Angelica pulang, kan?” tanya Russell pada Johan, yang
sedikit panik setelah melihat jam tangannya.
“Haah? Kenapa harus..!” Johan baru akan protes, namun Russell memotong.
“Hei, tanggung jawablah!” katanya sambil menunjuk-nunjuk ke dahinya.
“Tidak usah. Aku bisa pulang sendiri, kok. Maaf merepotkan kalian” tolak
Angelica dengan halus.
“Eh? Kau yakin? Kau masih pakai seragam, lho. Hati-hati, ya” kata Russell. Anak
sekolah Escoriale memang rawan jika berjalan sendirian di tengah kota. Terlebih
lagi mayoritas siswanya adalah anak orang kaya sehingga sering terjadi
pencopetan dan perampokan.
“Tenang saja, kak Russell. Aku punya senjata, kok!” jawab Angelica sambil
menunjukkan lengannya yang sedikit terlihat berotot.
“Ah, kau ini. Meski begitu, kau tetap seorang wanita, tahu” kata Russell
sambil tertawa.
Sementara Johan hanya diam
mendengarkan percakapan Russell dan Angelica. Hanya menatap...
Russell pergi lebih dulu, sementara Angelica dan Johan sedang berada di
kasir untuk mengurus pembayaran.
“Kak Johan, biar aku bayar bagianku sendiri” kata Angelica sambil
mengeluarkan dompet.
“Tidak usah. Aku sudah bilang akan mentraktirmu, kan? Russell juga minta
dibayarkan sekalian. Dasar dia itu” gerutu Johan sambil meng-scan hp-nya untuk
pembayaran menggunakan debet.
“Kak Johan, biar bagaimanapun kak Russell sahabatmu, bukan? Hanya 30
poundsterling saja kau mengeluh” kata Harry yang kebetulan menangani bagian
kasir disitu.
“30 poundsterling!?” teriak Angelica saat mendengar jumlah tagihannya.
“Ahaha. Ngomong-ngomong, kenapa kau jadi kasirnya, Harry?” tanya Johan
setelah tertawa-tawa mendengar celotehan Harry.
“Yaah, aku masih kekurangan tenaga kerja di sini. Banyak yang melamar, tapi
masih belum memenuhi kualifikasiku” jawab Harry sambil mengeprint struk.
“Ah, begitu ya...” kata Johan menutup pembicaraan.
“Kekurangan... tenaga kerja...?” kata Angelica pelan. Ia pun berpikir, dan
Johan memandangnya dengan bingung......
Di luar cafe, Angelica pamit pada Johan.
“Terima kasih banyak atas traktirannya, kak Johan. Kalau begitu sampai sini
saja”
Kemudian Angelica berbalik arah dan mulai berjalan pulang. Tapi... TEP!
Johan memegangi pundak Angelica dari belakang.
“Tunggu! Siapa yang suruh kau pulang sendiri? Naiklah ke mobilku” perintah
Johan sambil mengambil lengan Angelica.
“Eh, tapi bukankah kau menolak mengantarku? Tidak apa-apa, aku bukan anak
kecil, kok!” teriak Angelica sambil berusaha melepaskan lengannya.
“Jangan egois. Kalau kau kenapa-kenapa, aku yang repot tahu. Sudah cepat
naik!” teriak Johan keras sambil memaksanya naik.
‘Dia mulai lagi...’ gerutu Angelica dalam hati. “Baiklah...” jawabnya
pelan. Ia melanjutkan gerutunya dalam hati.
‘Entahlah.. aku benar-benar tidak bisa mengerti dan memahaminya. Kenapa
tiba-tiba ia malah ingin mengantarku? Padahal tadi menolak...’
Sesampainya di sekolah, Angelica turun dari mobil Johan.
“Sampai di sini saja, kak Johan. Aku akan jalan ke asrama sendiri. Toh
sudah dekat, kok” pamit Angelica. Tapi kemudian Johan ikut turun.
“Tidak. Tadi Russell bilang aku harus tanggung jawab jika terjadi sesuatu
padamu. Akan kuantar sampai kamarmu. Ayo!” katanya sambil berjalan. Angelica
menahannya.
“Tidak usah! Nanti bisa heboh, tahu. Sudahlah, kau pulang saja!” kata
Angelica dengan keras.
Mereka saling diam sesaat. Kemudian Johan menghela napas dan kembali
berjalan.
“Ayo”
Tak ada pilihan lain bagi Angelica, selain mengikuti kemauan Johan.
Mereka sampai di asrama putri, dan situasinya sangat sepi. Saat akan
menaiki tangga, Angelica melihat ke ujung koridor. Ia teringat sesuatu.
“Ah, tunggu. Aku akan ke ruang makan dulu untuk mengambil makan malam” kata
Angelica pada Johan yang sudah naik hingga anak tangga keempat.
“Ya sudah. Aku ikut” katanya kembali turun. Angelica menghela napas.
Sesampainya di ruang makan, ternyata keadaan masih sepi. Namun ternyata...
“Hah!? Sudah habis!? Ini bahkan belum jam makan malam, kan?” keluh Angelica
pada pegawai makanan yang ada di situ.
“Iya, memang. Tapi para penghuni asrama sudah mengambil jatah duluan karena
ingin makan sambil belajar untuk ujian akhir semester nanti. Maaf, ya” jawab si
pegawai sambil menutup korden ruang makan. Angelica lemas seketika.
“Duuh, bagaimana iniii~” keluhnya pelan.
‘Uang sakuku tidak cukup untuk beli makan malam. Masih harus menunggu
seminggu lagi untuk dapat jatah uang saku bulanan. Duuh, aku ini...’ lanjutnya
dalam hati. Ia berpikir sesaat. TEP! Tiba-tiba Johan menggandeng tangan
Angelica dan menariknya.
“Eh, tunggu! Mau ke mana!?” tanya Angelica sambil tergopoh karena ditarik
mendadak oleh Johan.
“Kau tidak dapat makan malam, kan? Sepertinya kita memang terlalu serius
rapat di cafe, sampai lupa perut lapar. Aku juga lapar, jadi kita makan malam
sama-sama saja” katanya dengan tenang. Angelica benar-benar terkejut dengan
ajakan itu!!
‘Eh... eeeeh!?’
0 comment:
Posting Komentar