“K
|
au sudah melakukan apa pada Angelica, Johan?”
Johan jelas masih
teringat pada hal yang seharusnya tidak ia lakukan pada Angelica kemarin. Ia
sedikit gemetaran melihat mata Russell yang terdapat sedikit amarah. Namun ia
berusaha keras untuk tetap tenang.
“Apa maksudmu? Ini bukan urusanmu. Sebaiknya kembali saja kau ke ruang
Dewan Perguruan Siswa!” jawab Johan sedikit ketus, sambil
akan berjalan menjauhi Russell.
BRAAKK! Tiba-tiba Russell meninju tembok yang ada tepat di depan Johan, saat Johan beranjak pergi. Ia kaget melihat
reaksinya.
“Jangan bercanda. Hari ini Angelica benar-benar aneh. Bahkan sekarang ia
jadi murung karena memikirkan sesuatu. Semalam kau jadi mengantarnya pulang,
kan? Ayo jelaskan! Atau kepalan tangan ini melayang ke pipimu!”
teriak Russell geram.
Johan hanya menunduk. Ia sendiri mengepalkan tangannya dengan kencang.
Hingga akhirnya, ia
menepis tangan Russell yang ada di depannya dengan kasar.
“Kubilang, ini bukan urusanmu!! Kalaupun terjadi sesuatu pada Angelica, aku
tak wajib memberitahukannya padamu, kan!? Lagipula untuk apa kau
melindunginya!? Kau bahkan bukan pacarnya!! Lagipula,
kau sendiri sudah punya
tunangan, kan!?!” teriak Johan tak kalah keras.
Russell terkejut.
“Aku...!”
PLETAK! Terdengar suara tas terjatuh. Tersadar suara itu ada di belakang
mereka, Johan dan Russell melihat ke arah tersebut. Ternyata... Angelica, yang sedang berdiri di situ, shock
setelah mendengar semuanya.
“Ah... ee... maaf aku mengganggu!!” teriak Angelica,
kemudian ia berbalik ke arah dan berlari dari situ.
“Angel...!”
“Angelica!!” panggil Johan dengan keras, memotong
panggilan dari Russell. Russell sendiri sedikit terkejut saat melihat reaksi
Johan, dan tak beranjak dari situ…
Johan mengejar Angelica yang kemudian menuruni tangga, melewati koridor,
pintu belakang, sampai akhirnya ia berhasil menangkapnya di halaman
depan sekolah
bagian SMA.
“Tunggu, Angelica!!” teriak Johan sampai akhirnya
menangkap lengan Angelica.
Johan terengah-engah setelah berlari sekitar 2 km dari ruang Dewan Siswa.
Angelica juga terengah-engah.
“Kak Johan, apa benar... kak Russell sudah punya...”
Angelica terbata-bata menanyakannya. Namun ia akhirnya memilih tidak
melanjutkannya.
“Haah... haah.. hoi...” Johan masih terengah-engah. Sementara
Angelica berusaha melepaskan lengannya dari genggaman Johan.
“Lepaskan aku!”
“Lihat kesini!” teriak Johan.
Angelica tidak bergeming juga. Johan sedikit merasa bersalah. Akhirnya ia
mengajaknya untuk duduk di bangku taman air mancur dekat gedung SMP, membelikan
minum dari mesin penjual otomatis, dan memberikan milkshake rasa vanilla pada
Angelica. Ia sendiri membeli teh darjeeling.
Selama
itu, Angelica masih diam menurut.
Angelica masih menunduk. Akhirnya ia mengambil lagi kaleng minuman yang
barusan ia berikan dan membukakannya. Setelah
menghela napas, Johan pun mulai menceritakan keadaan sebenarnya.
“Sebagai pewaris perusahaan, sudah sewajarnya jika kami dijodohkan oleh
seorang pasangan yang juga mewarisi perusahaan dan bisnis dari keluarganya”
“Aku tahu itu! Aku tahu, tapi...” Angelica tidak
melanjutkannya dan menangis. Johan memberikan kaleng itu kembali pada Angelica. Dan ia tetap menangis.
“Alasannya ada berbagai macam. Pertama, karena mereka memang saling
mencintai. Kedua, karena untuk menolong perusahaan tunangan kita yang sedang
berada di ambang kebangkrutan. Dan yang ketiga, karena keinginan orang tua kita
agar bisa menopang perusahaan kita dengan perusahaan pasangan kita, yang dengan
begitu pamor perusahaan kita akan naik. Dan Russell, berada dalam alasan
ketiga”
“Eh?”
Angelica akhirnya mengangkat wajahnya. Ia melihat Johan tersenyum pahit
sambil melihat ke arah minumannya.
“Terus terang, meski disebut tunangan, mereka tidak pernah bertemu satu
sama lain. Ia hanya tahu nama, berasal dari keluarga mana, dan menjalankan
perusahaan apa. Bahkan anehnya, mereka tidak diizinkan melihat satu sama lain
walau hanya dari foto” kata Johan sambil meneguk
minumannya.
“Kalau begitu...”
“Ya. Dengan kata lain, suka atau tidak suka, meski tidak pernah bertemu,
namun saat mereka bertemu pertama kalinya nanti, itulah saat di mana mereka
sudah harus saling menikah”
Angelica perlahan
merubah pandangannya, terkejut. Kali ini, Angelica merasa kasihan pada Russell.
‘Memang, pertunangan antara kedua putra dan putri pewaris perusahaan bukan
hal aneh bagiku. Tapi tak kusangka jika harus sampai seperti ini’
kata Angelica dalam hati.
“Tidak memikirkan bagaimana perasaan Russell,
tidak,
orang-orang
seperti kami, hanyalah boneka yang dimainkan oleh para orang tua demi memenuhi
ambisinya. Bahkan yang terburuk, demi memenuhi ambisi itu, mereka mati-matian
menutup perasaan anaknya dan fokus terhadap bisnis perusahaan”
“Tidak... mungkin...” Angelica terkejut mendengar
pernyataan itu.
“Untunglah orang tuaku dan Russell tidak sampai seperti itu, tapi... kami
tetaplah boneka...” kata Johan pelan.
Johan mengangkat wajahnya, melihat angin yang kemudian berhembus. Ia
menatapnya sedih sambil tersenyum pahit.
‘Pasti orang-orang seperti mereka... bukan hanya memikul beban bisnis dan
warisan mereka... tapi juga penderitaan hati mereka sendiri...’
kata Angelica lagi dengan pandangan sedih.
“Kenapa... kak Johan tahu bahwa kak Russell tidak mencintai tunangannya?” tanya Angelica pelan. Johan kembali
meneguk minuman.
“Yang pertama, karena aku dan Johan adalah teman sejak kecil. Aku tahu
persis apa yang terjadi padanya, pada perasaannya. Russell sudah menceritakan
soal kakinya padamu, kan? Aku bahkan tahu betul seperti apa keluarganya...”
kata Johan sambil tersenyum.
“Kak Johan...”
“Yang kedua... karena aku... sama dengannya... aku juga sudah punya
tunangan... dan aku takkan bertemu dengannya sampai saat diputuskan untuk
menikah dengannya...”
Angin kembali
berhembus dengan kencang, seakan tahu momen paling tepat kapan ia harus
menghembuskan anginnya. Angelica terkejut, sementara Johan kembali melihat ke
depan dengan tetap tersenyum pahit, sekaligus sedih.
“Bohong...”
“Itu benar, kok” sangkal Johan.
Ia lalu mengambil sesuatu dari kantong di balik blazernya, yang
ternyata adalah sebuah cincin.
“Ini...”
“Ya. Ini bukti pertunanganku dengan wanita itu. Kurasa, setelah lulus, aku
akan segera dinikahkan oleh orang tuaku. Russell juga sama”
Johan melihat cincin itu tetap dengan tersenyum pahit. Kemudian melihat ke
arah Angelica dengan wajah sumringah. Angelica pun membalas tatapannya dengan tampang masih terkejut. Dan entah kenapa
tiba-tiba muncul perasaan sakit di hatinya.
‘Kenapa... ini...’ tanyanya dalam hati.
“Jadi, kau tidak perlu khawatir. Kalau Russell punya perasaan yang sama
denganmu, tak ada masalah, kan? Ia pasti akan menentangnya apapun yang terjadi”
kata Johan sambil tersenyum, namun meski dipaksakan, itu adalah senyum
tulusnya. Ia mengelus kepala Angelica yang ada di balik topinya. Sementara Angelica
masih merasa aneh.
‘Kenapa dengan perasaan ini...’
“Ayo kembali. Russell mengkhawatirkanmu, lho” kata Johan
sambil berdiri.
“Eh? Kenapa?” tanya Angelica tidak mengerti.
“Ng... dia hampir menonjokku karena aku telah membuatmu aneh hari ini.
Entah apa yang akan terjadi kalau ia benar-benar tahu yang sebenarnya”
jawab Johan sambil menggaruk pipinya dengan jari telunjuknya sambil membalik
badannya.
Angelica masih memandang punggung Johan yang sudah berdiri. Ia
pun tersenyum sendiri.
“Hehehe...”
“Apaan, sih? Ada yang lucu?” tanya Johan
keheranan.
“Tidak. Kalian memang akrab, ya” puji Angelica.
“Huh... hmm, yah begitulah!”
Johan mengatakannya sambil tersenyum bahagia, yang akhirnya membuat
perasaan Angelica berguncang. Wajahnya merah begitu melihatnya. Namun ia segera
membiasakan diri.
“Ayo kembali. Kita punya banyak sekali tugas di Dewan Siswa, lho”
ajak Johan.
“Ba, baiik!” jawab Angelica sambil memberi
hormat. Johan tertawa.
“Hahaha, dasar aneh!”
“Kak Johan! Menyebalkaaann!!”
Di ruang Dewan Siswa, malam pun tiba. Waktunya para
anggota untuk bubar.
“Terima kasih untuk hari ini. Kami duluan, ya!”
“Ya, hati-hati, kakak-kakak!”
Setelah ketiga senior mereka pergi, Angelica masih
sedikit merapikan tasnya. Johan berjalan ke depan pintu, namun mengalihkan
pandangannya pada Angelica.
“Ayo, kuantar sampai depan asrama” ajak Johan.
“Ah, aku mau beli makan malam dulu. Kalau sudah jam segini, di kantin
asrama pasti sudah habis” jawab Angelica sambil menutup
tasnya.
“Mau makan sama-sama? Kali ini, di tempat yang kau inginkan, deh”
“Eh? Tapi...”
“Johan! Angelica! Kalian baru selesai?” tanya seseorang
dari luar ruangan. Dan orang itu…
“Kak Russell, selamat malam. Kakak juga baru selesai?”
tanya Angelica sambil memberi salam.
“Yaah. Hari ini banyak sekali pekerjaan, kan? Tapi kurasa kita bisa
menyelesaikannya sebelum libur musim panas, kok” jawab
Russell senang.
“Benarkah? Syukurlah!” Angelica juga senang.
“Karena hari ini kita sudah berjuang, bagaimana kalau kutraktir? Kalian
belum makan, kan? Sudah jam 7.30 lho sekarang” ajak Russell
sambil melihat jam tangannya.
“Kita baru saja mau pergi makan, kok. Hanya saja, terserah dia”
jawab Johan sambil menunjuk Angelica.
“Benarkah? Kebetulan sekali. Sekalian, ada yang ingin kubicarakan soal tadi
siang”
Johan dan Angelica
terkejut. Russell menatap
mata Johan dengan tajam. Johan yang gugup mengalihkan
pandangannya ke jendela. Menyadarinya, Angelica gemetaran dan bingung menghadapi
situasi itu...
“Ba, bagaimana iniiii~~”
0 comment:
Posting Komentar