Minggu, 22 Maret 2015

Wings of Melodies~LoveStory Edition - Chapter 13

“K
au sudah melakukan apa pada Angelica, Johan?”
Johan jelas masih teringat pada hal yang seharusnya tidak ia lakukan pada Angelica kemarin. Ia sedikit gemetaran melihat mata Russell yang terdapat sedikit amarah. Namun ia berusaha keras untuk tetap tenang.
“Apa maksudmu? Ini bukan urusanmu. Sebaiknya kembali saja kau ke ruang Dewan Perguruan Siswa!” jawab Johan sedikit ketus, sambil akan berjalan menjauhi Russell.
BRAAKK! Tiba-tiba Russell meninju tembok yang ada tepat di depan Johan, saat Johan beranjak pergi. Ia kaget melihat reaksinya.
“Jangan bercanda. Hari ini Angelica benar-benar aneh. Bahkan sekarang ia jadi murung karena memikirkan sesuatu. Semalam kau jadi mengantarnya pulang, kan? Ayo jelaskan! Atau kepalan tangan ini melayang ke pipimu!” teriak Russell geram.
Johan hanya menunduk. Ia sendiri mengepalkan tangannya dengan kencang. Hingga akhirnya, ia
menepis tangan Russell yang ada di depannya dengan kasar.
“Kubilang, ini bukan urusanmu!! Kalaupun terjadi sesuatu pada Angelica, aku tak wajib memberitahukannya padamu, kan!? Lagipula untuk apa kau melindunginya!? Kau bahkan bukan pacarnya!! Lagipula, kau sendiri sudah punya tunangan, kan!?!” teriak Johan tak kalah keras. Russell terkejut.
“Aku...!”
PLETAK! Terdengar suara tas terjatuh. Tersadar suara itu ada di belakang mereka, Johan dan Russell melihat ke arah tersebut. Ternyata... Angelica, yang sedang berdiri di situ, shock setelah mendengar semuanya.
“Ah... ee... maaf aku mengganggu!!” teriak Angelica, kemudian ia berbalik ke arah dan berlari dari situ.
“Angel...!”
“Angelica!!” panggil Johan dengan keras, memotong panggilan dari Russell. Russell sendiri sedikit terkejut saat melihat reaksi Johan, dan tak beranjak dari situ…

Johan mengejar Angelica yang kemudian menuruni tangga, melewati koridor, pintu belakang, sampai akhirnya ia berhasil menangkapnya di halaman depan sekolah bagian SMA.
“Tunggu, Angelica!!” teriak Johan sampai akhirnya menangkap lengan Angelica.
Johan terengah-engah setelah berlari sekitar 2 km dari ruang Dewan Siswa. Angelica juga terengah-engah.
“Kak Johan, apa benar... kak Russell sudah punya...” Angelica terbata-bata menanyakannya. Namun ia akhirnya memilih tidak melanjutkannya.
“Haah... haah.. hoi...” Johan masih terengah-engah. Sementara Angelica berusaha melepaskan lengannya dari genggaman Johan.
“Lepaskan aku!”
“Lihat kesini!” teriak Johan.
Angelica tidak bergeming juga. Johan sedikit merasa bersalah. Akhirnya ia mengajaknya untuk duduk di bangku taman air mancur dekat gedung SMP, membelikan minum dari mesin penjual otomatis, dan memberikan milkshake rasa vanilla pada Angelica. Ia sendiri membeli teh darjeeling. Selama itu, Angelica masih diam menurut.
Angelica masih menunduk. Akhirnya ia mengambil lagi kaleng minuman yang barusan ia berikan dan membukakannya. Setelah menghela napas, Johan pun mulai menceritakan keadaan sebenarnya.
“Sebagai pewaris perusahaan, sudah sewajarnya jika kami dijodohkan oleh seorang pasangan yang juga mewarisi perusahaan dan bisnis dari keluarganya”
“Aku tahu itu! Aku tahu, tapi...” Angelica tidak melanjutkannya dan menangis. Johan memberikan kaleng itu kembali pada Angelica. Dan ia tetap menangis.
“Alasannya ada berbagai macam. Pertama, karena mereka memang saling mencintai. Kedua, karena untuk menolong perusahaan tunangan kita yang sedang berada di ambang kebangkrutan. Dan yang ketiga, karena keinginan orang tua kita agar bisa menopang perusahaan kita dengan perusahaan pasangan kita, yang dengan begitu pamor perusahaan kita akan naik. Dan Russell, berada dalam alasan ketiga”
“Eh?”
Angelica akhirnya mengangkat wajahnya. Ia melihat Johan tersenyum pahit sambil melihat ke arah minumannya.
“Terus terang, meski disebut tunangan, mereka tidak pernah bertemu satu sama lain. Ia hanya tahu nama, berasal dari keluarga mana, dan menjalankan perusahaan apa. Bahkan anehnya, mereka tidak diizinkan melihat satu sama lain walau hanya dari foto” kata Johan sambil meneguk minumannya.
“Kalau begitu...”
“Ya. Dengan kata lain, suka atau tidak suka, meski tidak pernah bertemu, namun saat mereka bertemu pertama kalinya nanti, itulah saat di mana mereka sudah harus saling menikah”
Angelica perlahan merubah pandangannya, terkejut. Kali ini, Angelica merasa kasihan pada Russell.
‘Memang, pertunangan antara kedua putra dan putri pewaris perusahaan bukan hal aneh bagiku. Tapi tak kusangka jika harus sampai seperti ini’ kata Angelica dalam hati.
“Tidak memikirkan bagaimana perasaan Russell, tidak,  orang-orang seperti kami, hanyalah boneka yang dimainkan oleh para orang tua demi memenuhi ambisinya. Bahkan yang terburuk, demi memenuhi ambisi itu, mereka mati-matian menutup perasaan anaknya dan fokus terhadap bisnis perusahaan”
“Tidak... mungkin...” Angelica terkejut mendengar pernyataan itu.
“Untunglah orang tuaku dan Russell tidak sampai seperti itu, tapi... kami tetaplah boneka...” kata Johan pelan.
Johan mengangkat wajahnya, melihat angin yang kemudian berhembus. Ia menatapnya sedih sambil tersenyum pahit.
‘Pasti orang-orang seperti mereka... bukan hanya memikul beban bisnis dan warisan mereka... tapi juga penderitaan hati mereka sendiri...’ kata Angelica lagi dengan pandangan sedih.
“Kenapa... kak Johan tahu bahwa kak Russell tidak mencintai tunangannya? tanya Angelica pelan. Johan kembali meneguk minuman.
“Yang pertama, karena aku dan Johan adalah teman sejak kecil. Aku tahu persis apa yang terjadi padanya, pada perasaannya. Russell sudah menceritakan soal kakinya padamu, kan? Aku bahkan tahu betul seperti apa keluarganya...” kata Johan sambil tersenyum.
“Kak Johan...”
“Yang kedua... karena aku... sama dengannya... aku juga sudah punya tunangan... dan aku takkan bertemu dengannya sampai saat diputuskan untuk menikah dengannya...”
Angin kembali berhembus dengan kencang, seakan tahu momen paling tepat kapan ia harus menghembuskan anginnya. Angelica terkejut, sementara Johan kembali melihat ke depan dengan tetap tersenyum pahit, sekaligus sedih.
“Bohong...”
“Itu benar, kok” sangkal Johan.
Ia lalu mengambil sesuatu dari kantong di balik blazernya, yang ternyata adalah sebuah cincin.
“Ini...”
“Ya. Ini bukti pertunanganku dengan wanita itu. Kurasa, setelah lulus, aku akan segera dinikahkan oleh orang tuaku. Russell juga sama”
Johan melihat cincin itu tetap dengan tersenyum pahit. Kemudian melihat ke arah Angelica dengan wajah sumringah. Angelica pun membalas tatapannya dengan tampang masih terkejut. Dan entah kenapa tiba-tiba muncul perasaan sakit di hatinya.
‘Kenapa... ini...’ tanyanya dalam hati.
“Jadi, kau tidak perlu khawatir. Kalau Russell punya perasaan yang sama denganmu, tak ada masalah, kan? Ia pasti akan menentangnya apapun yang terjadi” kata Johan sambil tersenyum, namun meski dipaksakan, itu adalah senyum tulusnya. Ia mengelus kepala Angelica yang ada di balik topinya. Sementara Angelica masih merasa aneh.
‘Kenapa dengan perasaan ini...’
“Ayo kembali. Russell mengkhawatirkanmu, lho” kata Johan sambil berdiri.
“Eh? Kenapa?” tanya Angelica tidak mengerti.
“Ng... dia hampir menonjokku karena aku telah membuatmu aneh hari ini. Entah apa yang akan terjadi kalau ia benar-benar tahu yang sebenarnya” jawab Johan sambil menggaruk pipinya dengan jari telunjuknya sambil membalik badannya.
Angelica masih memandang punggung Johan yang sudah berdiri. Ia pun tersenyum sendiri.
“Hehehe...”
“Apaan, sih? Ada yang lucu?” tanya Johan keheranan.
“Tidak. Kalian memang akrab, ya” puji Angelica.
“Huh... hmm, yah begitulah!”
Johan mengatakannya sambil tersenyum bahagia, yang akhirnya membuat perasaan Angelica berguncang. Wajahnya merah begitu melihatnya. Namun ia segera membiasakan diri.
“Ayo kembali. Kita punya banyak sekali tugas di Dewan Siswa, lho” ajak Johan.
“Ba, baiik!” jawab Angelica sambil memberi hormat. Johan tertawa.
“Hahaha, dasar aneh!”
“Kak Johan! Menyebalkaaann!!”

Di ruang Dewan Siswa, malam pun tiba. Waktunya para anggota untuk bubar.
“Terima kasih untuk hari ini. Kami duluan, ya!”
“Ya, hati-hati, kakak-kakak!”
Setelah ketiga senior mereka pergi, Angelica masih sedikit merapikan tasnya. Johan berjalan ke depan pintu, namun mengalihkan pandangannya pada Angelica.
“Ayo, kuantar sampai depan asrama” ajak Johan.
“Ah, aku mau beli makan malam dulu. Kalau sudah jam segini, di kantin asrama pasti sudah habis” jawab Angelica sambil menutup tasnya.
“Mau makan sama-sama? Kali ini, di tempat yang kau inginkan, deh”
“Eh? Tapi...”
“Johan! Angelica! Kalian baru selesai?” tanya seseorang dari luar ruangan. Dan orang itu…
“Kak Russell, selamat malam. Kakak juga baru selesai?” tanya Angelica sambil memberi salam.
“Yaah. Hari ini banyak sekali pekerjaan, kan? Tapi kurasa kita bisa menyelesaikannya sebelum libur musim panas, kok” jawab Russell senang.
“Benarkah? Syukurlah!” Angelica juga senang.
“Karena hari ini kita sudah berjuang, bagaimana kalau kutraktir? Kalian belum makan, kan? Sudah jam 7.30 lho sekarang” ajak Russell sambil melihat jam tangannya.
“Kita baru saja mau pergi makan, kok. Hanya saja, terserah dia” jawab Johan sambil menunjuk Angelica.
“Benarkah? Kebetulan sekali. Sekalian, ada yang ingin kubicarakan soal tadi siang”
Johan dan Angelica terkejut. Russell menatap mata Johan dengan tajam. Johan yang gugup mengalihkan pandangannya ke jendela. Menyadarinya, Angelica gemetaran dan bingung menghadapi situasi itu...

“Ba, bagaimana iniiii~~”

0 comment:

Posting Komentar

 

Diana Rachmawati Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template