“A
|
da yang ingin kubicarakan soal tadi siang”
Situasi masih cukup
tegang saat Russell masih ingin membahas soal tadi siang dengan Johan. Johan
sendiri berusaha keras menahan gugupnya, sementara Angelica sedikit gemetaran
dengan tangan masih di atas tas yang
masih di atas meja. Akhirnya Johan menghela napas panjang untuk mengurangi
ketegangan itu.
“Tidak ada yang harus dibicarakan lagi, kan? Tapi, kalau kau memang ingin
kami makan bersamamu, itu sudah cukup kan?” kata Johan kemudian
dengan nada sedikit sinis.
Russell terkejut sesaat.
“Kenapa? Kalian merahasiakan sesuatu dariku?” tanya
Russell tidak mengerti.
“Tidak, kak! Tidak ada yang dirahasiakan sama sekali, kok! Belakangan ini
aku hanya sedang
tertekan karena besok ujian tengah semester. Aku hanya curhat
sama kak Johan, kok! Iya, kan, kak!?” teriak Angelica
yang juga berusaha keras menutupi.
“Begitulah” jawab Johan santai.
Russell berpikir sebentar untuk menangkap apa yang dikatakan Angelica.
“Ah, begitu. Baiklah. Ayo, kita makan sekarang”
ajak Russell sambil tersenyum.
“Iya!” jawab Angelica.
Akhirnya mereka berjalan menuju keluar sekolah. Johan dan Angelica yang masih
berada di dalam
ruangan, menghela
napas lega dan saling berbisik.
“Ternyata kau pandai bohong juga, ya”
“Ini demi diriku juga, tahu!”
Akhirnya makan malam
mereka pun berakhir tanpa sedikitpun membahas soal kemarin. Angelica langsung
menubrukkan dirinya di atas kasur kamar asramanya, setelah selesai mandi.
“Haaah~~ capeknyaaa~~” keluh Angelica.
‘Syukurlah kak Russell berhasil kukelabui, tapi... padahal seharusnya aku
merasa bersalah, tapi kenapa tidak merasa seperti itu, ya..’
tanyanya dalam hati.
“Aku ini... jahat juga.... ya.......” katanya lagi pada
diri sendiri, hingga tertidur…
Keesokan harinya, adalah hari pertama ujian tengah semester.
Setelah
menjalani tiga mata pelajaran yang diujikan hari itu, akhirnya hari pertama pun
berakhir. Angelica meregangkan badannya di mejanya.
“Huaaaaaa~~~”
“Angelica, bagaimana ujiannya?” tanya Sylvie
menghampirinya.
“Haha entahlah. Semalam aku ketiduran dan tidak belajar sama sekali. Kau
pasti bisa mengerjakannya, ya, Sylvie” puji Angelica.
“Ah, tidak juga. Ada beberapa bagian yang jawabannya meragukanku”
jawab Sylvie.
“Hee, tidak kusangka ternyata kau bisa ragu juga
dengan jawaban”
katanya setengah meledek.
“Kau sendiri bagaimana, Harry?” tanya Sylvie pada
Harry.
“Yang pasti aku percaya diri kalau pelajaran fisika!”
jawab Harry sambil mengacungkan jempol.
“Ahahaha, ternyata kau pandai di pelajaran itu, ya!”
puji Sylvie.
“Hoho, aku ingin jadi arsitek, sih. Angelica, ada apa? Kau hanya menatap
ke luar jendela”
tanyanya kemudian pada Angelica.
“Ah, aku baik-baik saja. Aku duluan, ya” katanya kemudian
sambil mengambil merapikan mejanya.
“Hee? Mau ke mana? Kegiatan Dewan Siswa diliburkan selama ujian, kan?”
tanya Sylvie heran.
“Aku mau ke perpustakaan sekolah untuk belajar materi ujian besok. Ah, kalian mau ikut?”
ajak Angelica.
“Ahaha, tidak bisa. Hari ini ada stock opname di toko cabangku”
jawab Sylvie.
“Aku akan mendemonstrasikan menu baru pada patissier disana. Maaf, ya”
jawab Harry.
“Aku mengerti. Ah, Harry, aku datang sore nanti, ya”
katanya lagi pada Harry.
“Yap! Tenang saja!”
“Sampai nanti, Angelica!” salam Sylvie sambil melambaikan
tangan…
Saat perjalanan menuju gerbang sekolah.
Harry
dan Sylvie berjalan bersama.
“Sylvie, kau mau ke tokomu, kan? Bagaimana kalau kita kesana dengan
mobilku?” ajak Harry.
“Boleh saja. Kebetulan supirku tidak bisa menjemput karena sedang menjemput barang” jawab Sylvie sambil
mengingat-ingat.
“Ah, begitu, ya”
“Nanti, aku boleh datang ke cafe-mu, kan?” tanya Sylvie
sambil tersenyum.
“Tentu saja boleh! Sepertinya kau sedang sibuk sekali mengurus tokomu”
kata Harry mencari topik
“Ahaha, karena ini masih masa grand opening dan penjualannya sangat bagus
di London. Makanya aku sibuk. Kau juga sama sibuknya”
“Ah, tidak juga, kok. Kebetulan, tokoku memang sedang kekurangan pelayan
karena
banyak yang tidak sesuai
kualifikasiku, sih”
“Ooh, begitu...”
Mereka terdiam
sesaat, namun tiba-tiba Sylvie teringat sesuatu.
“Harry, ada apa antara kau dan Angelica?”
“Maksudmu?” tanya Harry tidak mengerti.
“Tadi Angelica bilang ‘aku datang sore nanti.’ Kalian mau membicarakan
apa?”
tanya Sylvie penasaran.
“Ah, soal itu... kau ingin tahu?” tanya Harry balik,
membuatnya penasaran.
“Tentu saja! Kita teman, lho!” protes Sylvie.
“Ahahaha. Kalau kau datang sore nanti, aku tidak perlu memberitahumu
sekarang”
Sylvie masih tidak
mengerti apa maksud Harry. Ia terlihat bingung.
“Maksudmu..?”
Di koridor lantai lima. Angelica
berjalan sendiri menuju ruang Dewan Siswa. Ia penasaran dengan sesuatu.
“Walau hari ini diliburkan, aku tetap khawatir. Dan lagi, kenapa
perpustakaan jadi lebih ramai saat ujian, sih”
CKLEK! Suara pintu terbuka
terdengar olehnya.
“Lho, tidak dikunci?” tanyanya terkejut. Memang seharusnya
ruangan klub dan organisasi dikunci saat ujian karena tidak dibolehkan
mengadakan kegiatan. Karenanya Angelica sedikit keheranan.
Saat beranjak masuk ke ruang Dewan Siswa, hal pertama
yang dilihat Angelica adalah Johan tertidur di mejanya dengan
tablet dan hp berada di atas dock, namun buku tebal dan kertas bercecer berantakan. Sepertinya ia cukup kelelahan.
“Eh... kak... Johan...?” panggilnya heran.
‘Kenapa dia di sini...? Bagaimana ia
bisa masuk...?’ lanjutnya dalam hati. Saat masih
bertanya-tanya seperti itu, Johan tiba-tiba terbangun.
“Nnngg~~ ah, cewek kasar” panggil Johan.
“Hentikan panggilan itu. Kau sedang apa di sini, kak Johan? Bukankah
kegiatan Dewan Siswa diliburkan?” tanya Angelica
bingung.
“Yaah, aku hanya numpang belajar karena di sini lebih sepi. Perpustakaan
ramai sekali di hari ujian, sih” jawab Johan dengan
lemas sambil menaruh kepalanya di atas meja.
“Ah, aku juga dari sana tadi. Ramai sekali, ya”
keluh Angelica.
“Kau juga mau ke perpustakaan? Bagaimana kalau ke sana sama-sama?”
ajak Johan sambil bangkit.
“Eh? Kan tadi sudah kubilang sangat ramai” protes
Angelica.
“Bukan perpustakaan sekolah, tapi perpustakaan pusat. Di sana ramai, sih,
tapi ada tempat yang sepi, kok” kata Johan sambil merapikan
mejanya.
“Eehh... boleh saja. Aku belum pernah ke sana, sih…” jawab Angelica pelan.
Setelah itu, mereka sampai di perpustakaan pusat perguruan Escoriale.
Perpustakaan itu merupakan gedung yang cukup megah dengan gaya bangunan Inggris
klasik,
yang terletak di antara Aula Besar dan gedung sekolah bagian SD.
“Kereeeenn!” teriak Angelica senang.
“Ng? Bukankah kau sering melewatinya?” tanya Johan heran.
“Tidak. Ini cukup jauh dari asrama putri. Lagipula aku masih belum hafal seluruh sekolah” jawab Angelica
sambil tertawa-tawa.
“Dasar. Yuk!” ajak Johan masuk.
Setelah mereka masuk dan mencari buku yang dibutuhkan, akhirnya mereka
sampai di pojok tempat mereka akan mempelajari buku itu. Pojok itu terdiri dari
buku-buku cerita klasik, dibatasi dengan jendela segienam, dan meja dari marmer
yang ditengahnya ada teko berisi teh susu yang masih agak
mengepul, serta kue scone.
“Waaah, ternyata ada tempat seperti ini!” teriak
Angelica yang begitu takjub dengan tempat itu.
“Tempat ini jarang didatangi karena letaknya di pojok. Katanya di sini
horor, sih, tapi aku tidak pernah menemukan suatu keanehan, tuh. Sebaliknya,
tempat ini sangat segar, tenang, dan nyaman. Ini tempat favoritku yang tak
pernah kuberitahu siapapun” kata Johan sambil tersenyum
melihat atap ruangan itu.
“Eh...”
“Kecuali Russell, tentunya. Kau adalah orang kedua yang kuajak kesini”
kata Johan pada Angelica sambil tersenyum. Angelica kembali berdebar-debar.
‘Eh... apa itu barusan? Kenapa... aku jadi berharap...?’
tanya Angelica dalam hati, kebingungan. Yap, ia jadi tidak mengerti perasaannya
sendiri.
Johan mulai
membereskan buku dan tabletnya dan membuat mejanya menjadi nyaman. Angelica yang
duduk di seberangnya melakukan hal yang sama sambil berdiri. Setelah selesai,
Johan menuang teh susu tersebut ke dalam cangkir yang tersedia, dan
meletakkannya di kotak khusus untuk meletakkan cangkir teh, untuk menghindari teh
itu menumpahkan buku.
“Ayo mulai. Tehnya setiap hari diganti baru, jadi nggak akan bikin mati,
kok”
kata Johan kemudian.
“Eeh... itu... apa aku tidak mengganggu...?” tanya
Angelica ragu-ragu.
“Tidak sama sekali, tuh. Sudah, duduklah” perintah
Johan.
“Ah, ya”
Setelah itu, mereka melewatinya dengan belajar bersama-sama. Saling mengajari satu sama lain.
Dan saling bertanya apabila ada yang tidak dimengerti. Bahkan
sedikit canda tawa untuk mengurangi kejenuhan menjawab soal. Hingga tanpa terasa, sore sudah tiba.
Jam
yang ada di sekolah berdentang lima kali.
“Ah, sudah jam lima” kata Angelica berusaha menyadarkan
diri.
“Perpustakaan tutup satu jam lagi, kok. Santai saja”
kata Johan menenangkan.
“Bukan begitu, setelah ini aku ada keperluan” katanya lagi
pada Johan sambil merapikan buku.
“Ah, begitu, ya. Baiklah. Terima kasih kau sudah mengajariku. Tidak
kusangka kau juga mahir pelajaran kelas dua. Aku jadi paham bagian yang tidak kumengerti”
puji Johan.
“Sama-sama. Aku ingin lompat kelas, sih. Aku juga sudah diajari oleh kakak
di bagian yang tidak kupahami. Terima kasih banyak. Selamat berjuang untuk ujian besok”
kata Angelica sambil tersenyum.
“Ya. Kau juga”
“Selamat sore, kak Johan. Sampai besok” salam Angelica
sambil berlalu…
Setelah itu, Johan masih tetap belajar sambil membuka tabletnya untuk
mengecek perkembangan perusahaannya. Tak terasa sudah sejam berlalu.
“Ah, Sabrishion. Perpustakaannya sudah akan tutup. Tolong bereskan bukunya,
ya”
perintah petugas perpustakaan saat melihat Johan.
“Ah, celaka. Baik, terima kasih peringatannya”
kata Johan sambil merapikan meja.
Setelah itu, ia berjalan keluar dari perpustakaan, terlihat bingung.
“Gawat, masih ada bagian yang tidak kupahami dan aku belum memecahkannya.
Hmm... ah, aku ke cafe Harry saja, deh” katanya pada diri
sendiri…
Saat sampai di cafe milik keluarga Harry, Johan turun
dari mobilnya. Namun ia bertemu
pandang dengan...
“Sylvie” panggil Johan.
“Ah, kak Johan. Selamat malam. Kau dari sekolah?”
sapa Sylvie.
“Iya, aku dari perpustakaan pusat. Kau mau kesini?”
tanya Johan sambil menunjuk kafe Harry yang ada di depannya.
“Ya, sudah janji dengan Harry dan Angelica, sih”
kata Sylvie sambil menoleh.
“Angelica? Dia kesini?” tanya Johan penasaran.
“Sepertinya mereka mau membicarakan sesuatu. Jadi aku datang ke sini”
jawab Sylvie sekenanya.
“Ah, begitu”
Kemudian Sylvie dan
Johan masuk ke kafe bersama.
“Selamat datang di Le Petite Cafe!” sambut seorang
pelayan. Namun betapa terkejutnya mereka berdua saat menyadari bahwa orang yang
memberi sambutan itu adalah…
“Aaah!! Angelica!?!”
0 comment:
Posting Komentar