Minggu, 22 Maret 2015

Wings of Melodies~LoveStory Edition - Chapter 14

“A
da yang ingin kubicarakan soal tadi siang”
 Situasi masih cukup tegang saat Russell masih ingin membahas soal tadi siang dengan Johan. Johan sendiri berusaha keras menahan gugupnya, sementara Angelica sedikit gemetaran dengan tangan masih di  atas tas yang masih di atas meja. Akhirnya Johan menghela napas panjang untuk mengurangi ketegangan itu.
“Tidak ada yang harus dibicarakan lagi, kan? Tapi, kalau kau memang ingin kami makan bersamamu, itu sudah cukup kan?” kata Johan kemudian dengan nada sedikit sinis.
Russell terkejut sesaat.
“Kenapa? Kalian merahasiakan sesuatu dariku?” tanya Russell tidak mengerti.
“Tidak, kak! Tidak ada yang dirahasiakan sama sekali, kok! Belakangan ini aku hanya sedang
tertekan karena besok ujian tengah semester. Aku hanya curhat sama kak Johan, kok! Iya, kan, kak!?” teriak Angelica yang juga berusaha keras menutupi.
“Begitulah” jawab Johan santai.
Russell berpikir sebentar untuk menangkap apa yang dikatakan Angelica.
“Ah, begitu. Baiklah. Ayo, kita makan sekarang” ajak Russell sambil tersenyum.
“Iya! jawab Angelica.
Akhirnya mereka berjalan menuju keluar sekolah. Johan dan Angelica yang masih berada di dalam ruangan, menghela napas lega dan saling berbisik.
“Ternyata kau pandai bohong juga, ya”
“Ini demi diriku juga, tahu!”

Akhirnya makan malam mereka pun berakhir tanpa sedikitpun membahas soal kemarin. Angelica langsung menubrukkan dirinya di atas kasur kamar asramanya, setelah selesai mandi.
“Haaah~~ capeknyaaa~~” keluh Angelica.
‘Syukurlah kak Russell berhasil kukelabui, tapi... padahal seharusnya aku merasa bersalah, tapi kenapa tidak merasa seperti itu, ya..’ tanyanya dalam hati.
“Aku ini... jahat juga.... ya.......” katanya lagi pada diri sendiri, hingga tertidur…

Keesokan harinya, adalah hari pertama ujian tengah semester. Setelah menjalani tiga mata pelajaran yang diujikan hari itu, akhirnya hari pertama pun berakhir. Angelica meregangkan badannya di mejanya.
“Huaaaaaa~~~”
“Angelica, bagaimana ujiannya?” tanya Sylvie menghampirinya.
“Haha entahlah. Semalam aku ketiduran dan tidak belajar sama sekali. Kau pasti bisa mengerjakannya, ya, Sylvie” puji Angelica.
“Ah, tidak juga. Ada beberapa bagian yang jawabannya meragukanku” jawab Sylvie.
“Hee, tidak kusangka ternyata kau bisa ragu juga dengan jawaban katanya setengah meledek.
“Kau sendiri bagaimana, Harry?” tanya Sylvie pada Harry.
“Yang pasti aku percaya diri kalau pelajaran fisika!” jawab Harry sambil mengacungkan jempol.
“Ahahaha, ternyata kau pandai di pelajaran itu, ya!” puji Sylvie.
“Hoho, aku ingin jadi arsitek, sih. Angelica, ada apa? Kau hanya menatap ke luar jendela” tanyanya kemudian pada Angelica.
“Ah, aku baik-baik saja. Aku duluan, ya” katanya kemudian sambil mengambil merapikan mejanya.
“Hee? Mau ke mana? Kegiatan Dewan Siswa diliburkan selama ujian, kan?” tanya Sylvie heran.
“Aku mau ke perpustakaan sekolah untuk belajar materi ujian besok. Ah, kalian mau ikut?” ajak Angelica.
“Ahaha, tidak bisa. Hari ini ada stock opname di toko cabangku” jawab Sylvie.
“Aku akan mendemonstrasikan menu baru pada patissier disana. Maaf, ya” jawab Harry.
“Aku mengerti. Ah, Harry, aku datang sore nanti, ya” katanya lagi pada Harry.
“Yap! Tenang saja!”
“Sampai nanti, Angelica!” salam Sylvie sambil melambaikan tangan…

Saat perjalanan menuju gerbang sekolah. Harry dan Sylvie berjalan bersama.
“Sylvie, kau mau ke tokomu, kan? Bagaimana kalau kita kesana dengan mobilku?” ajak Harry.
“Boleh saja. Kebetulan supirku tidak bisa menjemput karena sedang menjemput barang” jawab Sylvie sambil mengingat-ingat.
“Ah, begitu, ya”
“Nanti, aku boleh datang ke cafe-mu, kan?” tanya Sylvie sambil tersenyum.
“Tentu saja boleh! Sepertinya kau sedang sibuk sekali mengurus tokomu” kata Harry mencari topik
“Ahaha, karena ini masih masa grand opening dan penjualannya sangat bagus di London. Makanya aku sibuk. Kau juga sama sibuknya
“Ah, tidak juga, kok. Kebetulan, tokoku memang sedang kekurangan pelayan karena banyak yang tidak sesuai kualifikasiku, sih”
“Ooh, begitu...
Mereka terdiam sesaat, namun tiba-tiba Sylvie teringat sesuatu.
Harry, ada apa antara kau dan Angelica?”
“Maksudmu?” tanya Harry tidak mengerti.
“Tadi Angelica bilang ‘aku datang sore nanti.’ Kalian mau membicarakan apa?” tanya Sylvie penasaran.
“Ah, soal itu... kau ingin tahu?” tanya Harry balik, membuatnya penasaran.
“Tentu saja! Kita teman, lho!” protes Sylvie.
“Ahahaha. Kalau kau datang sore nanti, aku tidak perlu memberitahumu sekarang”
Sylvie masih tidak mengerti apa maksud Harry. Ia terlihat bingung.
Maksudmu..?”

Di koridor lantai lima. Angelica berjalan sendiri menuju ruang Dewan Siswa. Ia penasaran dengan sesuatu.
“Walau hari ini diliburkan, aku tetap khawatir. Dan lagi, kenapa perpustakaan jadi lebih ramai saat ujian, sih”
CKLEK! Suara pintu terbuka terdengar olehnya.
“Lho, tidak dikunci?” tanyanya terkejut. Memang seharusnya ruangan klub dan organisasi dikunci saat ujian karena tidak dibolehkan mengadakan kegiatan. Karenanya Angelica sedikit keheranan.
Saat beranjak masuk ke ruang Dewan Siswa, hal pertama yang dilihat Angelica adalah Johan tertidur di mejanya dengan tablet dan hp berada di atas dock, namun buku tebal dan kertas bercecer berantakan. Sepertinya ia cukup kelelahan.
“Eh... kak... Johan...?” panggilnya heran.
 ‘Kenapa dia di sini...? Bagaimana ia bisa masuk...?’ lanjutnya dalam hati. Saat masih bertanya-tanya seperti itu, Johan tiba-tiba terbangun.
“Nnngg~~ ah, cewek kasar” panggil Johan.
“Hentikan panggilan itu. Kau sedang apa di sini, kak Johan? Bukankah kegiatan Dewan Siswa diliburkan?” tanya Angelica bingung.
“Yaah, aku hanya numpang belajar karena di sini lebih sepi. Perpustakaan ramai sekali di hari ujian, sih” jawab Johan dengan lemas sambil menaruh kepalanya di atas meja.
“Ah, aku juga dari sana tadi. Ramai sekali, ya” keluh Angelica.
“Kau juga mau ke perpustakaan? Bagaimana kalau ke sana sama-sama?” ajak Johan sambil bangkit.
“Eh? Kan tadi sudah kubilang sangat ramai” protes Angelica.
“Bukan perpustakaan sekolah, tapi perpustakaan pusat. Di sana ramai, sih, tapi ada tempat yang sepi, kok” kata Johan sambil merapikan mejanya.
“Eehh... boleh saja. Aku belum pernah ke sana, sih jawab Angelica pelan.

Setelah itu, mereka sampai di perpustakaan pusat perguruan Escoriale. Perpustakaan itu merupakan gedung yang cukup megah dengan gaya bangunan Inggris klasik, yang terletak di antara Aula Besar dan gedung sekolah bagian SD.
“Kereeeenn!” teriak Angelica senang.
“Ng? Bukankah kau sering melewatinya?” tanya Johan heran.
“Tidak. Ini cukup jauh dari asrama putri. Lagipula aku masih belum hafal seluruh sekolah” jawab Angelica sambil tertawa-tawa.
“Dasar. Yuk!” ajak Johan masuk.

Setelah mereka masuk dan mencari buku yang dibutuhkan, akhirnya mereka sampai di pojok tempat mereka akan mempelajari buku itu. Pojok itu terdiri dari buku-buku cerita klasik, dibatasi dengan jendela segienam, dan meja dari marmer yang ditengahnya ada teko berisi teh susu yang masih agak mengepul, serta kue scone.
“Waaah, ternyata ada tempat seperti ini!” teriak Angelica yang begitu takjub dengan tempat itu.
“Tempat ini jarang didatangi karena letaknya di pojok. Katanya di sini horor, sih, tapi aku tidak pernah menemukan suatu keanehan, tuh. Sebaliknya, tempat ini sangat segar, tenang, dan nyaman. Ini tempat favoritku yang tak pernah kuberitahu siapapun” kata Johan sambil tersenyum melihat atap ruangan itu.
“Eh...”
“Kecuali Russell, tentunya. Kau adalah orang kedua yang kuajak kesini” kata Johan pada Angelica sambil tersenyum. Angelica kembali berdebar-debar.
‘Eh... apa itu barusan? Kenapa... aku jadi berharap...?’ tanya Angelica dalam hati, kebingungan. Yap, ia jadi tidak mengerti perasaannya sendiri.
Johan mulai membereskan buku dan tabletnya dan membuat mejanya menjadi nyaman. Angelica yang duduk di seberangnya melakukan hal yang sama sambil berdiri. Setelah selesai, Johan menuang teh susu tersebut ke dalam cangkir yang tersedia, dan meletakkannya di kotak khusus untuk meletakkan cangkir teh, untuk menghindari teh itu menumpahkan buku.
“Ayo mulai. Tehnya setiap hari diganti baru, jadi nggak akan bikin mati, kok” kata Johan kemudian.
“Eeh... itu... apa aku tidak mengganggu...?” tanya Angelica ragu-ragu.
“Tidak sama sekali, tuh. Sudah, duduklah” perintah Johan.
“Ah, ya”
Setelah itu, mereka melewatinya dengan belajar bersama-sama. Saling mengajari satu sama lain. Dan saling bertanya apabila ada yang tidak dimengerti. Bahkan sedikit canda tawa untuk mengurangi kejenuhan menjawab soal. Hingga tanpa terasa, sore sudah tiba. Jam yang ada di sekolah berdentang lima kali.
“Ah, sudah jam lima” kata Angelica berusaha menyadarkan diri.
“Perpustakaan tutup satu jam lagi, kok. Santai saja” kata Johan menenangkan.
“Bukan begitu, setelah ini aku ada keperluan” katanya lagi pada Johan sambil merapikan buku.
“Ah, begitu, ya. Baiklah. Terima kasih kau sudah mengajariku. Tidak kusangka kau juga mahir pelajaran kelas dua. Aku jadi paham bagian yang tidak kumengerti” puji Johan.
“Sama-sama. Aku ingin lompat kelas, sih. Aku juga sudah diajari oleh kakak di bagian yang tidak kupahami. Terima kasih banyak. Selamat berjuang untuk ujian besok” kata Angelica sambil tersenyum.
“Ya. Kau juga”
“Selamat sore, kak Johan. Sampai besok” salam Angelica sambil berlalu…

Setelah itu, Johan masih tetap belajar sambil membuka tabletnya untuk mengecek perkembangan perusahaannya. Tak terasa sudah sejam berlalu.
“Ah, Sabrishion. Perpustakaannya sudah akan tutup. Tolong bereskan bukunya, ya” perintah petugas perpustakaan saat melihat Johan.
“Ah, celaka. Baik, terima kasih peringatannya” kata Johan sambil merapikan meja.
Setelah itu, ia berjalan keluar dari perpustakaan, terlihat bingung.
“Gawat, masih ada bagian yang tidak kupahami dan aku belum memecahkannya. Hmm... ah, aku ke cafe Harry saja, deh” katanya pada diri sendiri…

Saat sampai di cafe milik keluarga Harry, Johan turun dari mobilnya. Namun ia bertemu pandang dengan...
“Sylvie” panggil Johan.
“Ah, kak Johan. Selamat malam. Kau dari sekolah?” sapa Sylvie.
“Iya, aku dari perpustakaan pusat. Kau mau kesini?” tanya Johan sambil menunjuk kafe Harry yang ada di depannya.
“Ya, sudah janji dengan Harry dan Angelica, sih” kata Sylvie sambil menoleh.
“Angelica? Dia kesini?” tanya Johan penasaran.
“Sepertinya mereka mau membicarakan sesuatu. Jadi aku datang ke sini” jawab Sylvie sekenanya.
“Ah, begitu”
Kemudian Sylvie dan Johan masuk ke kafe bersama.
“Selamat datang di Le Petite Cafe!” sambut seorang pelayan. Namun betapa terkejutnya mereka berdua saat menyadari bahwa orang yang memberi sambutan itu adalah…

“Aaah!! Angelica!?!”

0 comment:

Posting Komentar

 

Diana Rachmawati Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template