“T
|
u, tunggu dulu, kak Johan! A, aku tidak bisa menerimanya!” teriak Angelica
sambil melepaskan tangan Johan dengan sedikit kasar. Ia menunduk, Johan hanya
menatapnya.
“Kenapa?” tanya Johan, namun ia tidak membalik badannya.
“I, itu... aku sudah berhutang banyak padamu. Aku tidak mau menerimanya
lebih banyak lagi. Itu hanya membuatku semakin sulit membayarnya! Lagipula, kau
hanya kasihan padaku. Aku tidak mau... dikasihani olehmu!” teriak Angelica di
akhir kalimatnya.
Mereka terdiam sejenak. Badan Angelica sedikit bergetar dan ia menundukkan
kepalanya. Johan hanya melihat ke arahnya. Kini ia berbalik dan berusaha
mengelus kepala yang ada di balik topi seragamnya, namun ia menahannya. Ia
langsung berbalik.
“Kalau memang di matamu aku seperti itu, itu terserah padamu. Yang jelas, aku...
tidak pernah
merasa dihutangi, dan aku hanya membantu siswa yang kesulitan yang
sudah jadi tugasku sebagai ketua. Ayo, nanti kita kemalaman. Kau juga harus
belajar, kan?”
Johan kemudian berjalan sendiri menuju gerbang utama. Jam di taman pusat
berdentang hingga terdengar di asrama putri bagian SMA, yang letaknya 300 meter
dari sana, tujuh kali. Angelica hanya bisa memandangi punggungnya dan bertanya
dalam hati, sambil pelan-pelan mengikutinya.
‘Apa... maksudnya... aku tidak mengerti... padahal kebaikannya ini...
begitu berlebihan bagiku...’
Sesampainya di restoran, ternyata...
“Kenapa... lagi-lagi... aku diajak ke tempat seperti iniii!?” teriak
Angelica memenuhi restoran. Yap, Angelica lagi-lagi diajak ke tempat restoran
bintang tiga yang memang mahal. Walau paham table manner, namun ini membuatnya
tidak nyaman.
“Apa maksudmu ‘tempat seperti ini’? Tempat ini yang paling dekat dengan
sekolah. Lagipula aku suka salad disini” jawab Johan sambil melanjutkan
makannya. Angelica langsung lemas mendengar alasannya yang menurutnya tidak
logis.
“Uuugh! Jadi cuma demi salad, ya? Kau vegetarian, kak Johan?” tanya
Angelica dengan nada sedikit kesal.
“Tidak. Hanya saja seharian ini aku makan daging terus. Asupan sayurku
kurang. Jadi begitulah” jawab Johan sambil tetap makan. Angelica makin kesal.
“Apanya yang begitulah!? Dan aku dipesankan wagyu steak begini. Ini kan
mahal!” protes Angelica dengan keras.
“Makan saja, tidak usah protes! Kau butuh tenaga sampai besok pagi, kan!?
Kalau kau masih mau protes, kutambah porsinya, nih! Lagipula wagyu steak begini
tidak semahal itu, tahu!” teriak Johan. Kali ini ia ikut merasa kesal.
“Itu hanya omongan orang kaya yang bilang ‘tidak semahal itu’!” protes
Angelica lagi. Johan akhirnya melakukan ancamannya.
“Pelayan, tambah wagyu steak satu lagi, ya!” perintah Johan pada pelayan
yang ada di dekatnya.
“Apa!? Jangaan! Aku tidak sanggup makan sebanyak itu!” teriak Angelica
menahannya.
“Kalau begitu apa susahnya melakukan table manner dan makan!!? Aku sudah
menahan sabar sejak tadi, karenanya sekarang turuti aku!!! Jika tidak, aku akan
pergi dari sini sekarang juga!!!” teriak Johan emosi.
DEG! Angelica sangat terkejut, dan sadar bahwa ternyata ia malah memancing
emosi Johan untuk keluar. Akhirnya ia diam, duduk di kursinya, dan mulai
memakannya. Johan yang kemudian sadar telah membentak Angelica, memperbaiki
posisi duduknya, merasa tidak enak.
“Maaf. Aku tidak bermaksud untuk marah. Tolonglah, kali ini saja... turuti
aku...”
Johan mengatakannya sambil memalingkan wajahnya melihat keluar jendela.
Angelica merasa sangat bersalah.
“Ya...” jawabnya pelan.....
Setelah selesai makan, Angelica kembali diantar Johan sampai depan asrama.
“Terima kasih banyak hari ini, kak Johan. Dan... aku minta maaf” ucap
Angelica sambil membungkuk.
“Ng? Kenapa..?” tanya Johan tidak mengerti.
“Tidak, itu... kupikir, kau hanya
khawatir berlebihan terhadapku. Tapi kau tidak perlu sampai seperti itu lagi.
Aku pasti bisa melakukannya dengan baik, kok! Mungkin tubuhku lemah, tapi untuk
yang satu ini, aku cukup kuat! Karena itu, maafkan aku... dan... terima
kasih...” ucap Angelica sambil membungkuk lagi. Ia merasa senang dalam hatinya.
‘Kak Johan sama sekali tidak melihatku dengan perasaan itu... Syukurlah...
kak Johan mau menerimaku yang seperti ini’
Johan kembali menatap Angelica yang telah bangkit dari bungkuknya. Ia berjalan
mendekati Angelica tanpa berkata-kata. Kemudian mendekati wajahnya. Hingga
semakin dekat. Dan...
Keesokan harinya, di perjalanan menuju sekolah. Angelica berjalan dengan
tergopoh karena masih begitu mengantuk. Ia menggerutu dalam hati.
‘Uuggh... aku tidak bisa tidur... semalaman belajar seperti orang gila
saja. Padahal ujiannya masih sebulan lagi... dan lagi semalam... semalam...’
dan, ia kembali teringat dengan kejadian tadi malam.
“Aaaagh!! Aku tidak memancingnya untuk melakukan itu, kok! Tidaaakkk!!”
teriak Angelica pada langit, karena memang kebetulan tak ada siapapun di
sekitar situ, kecuali...
“Melakukan apa?” tanya seseorang dari belakang. Angelica terkejut dan
menoleh.
“Ah! Se, selamat pagi, kak Russell! Ka, kau datang pagi sekali!” sapa
Angelica basa-basi dengan sangat gugup. Wajahnya masih merah padam.
“Selamat pagi, Angelica. Hari ini aku dapat giliran piket, dan aku juga ada
urusan dengan Dewan Mahasiswa Universitas. Tapi... sepertinya kau sama sekali
tidak tidur, ya. Kantung matamu terlihat jelas, tuh. Terus... wajahmu juga
merah. Kau sakit, ya?” tanya Russell di akhir kalimatnya. Ia mendekatkan
wajahnya ke wajah Angelica, hingga spontan ia menjauh.
“Ahaha. Aku baik-baik saja, kak Russell. A, aku juga harus piket di Dewan
Siswa dan ada latihan pagi di klub!” jawab Angelica masih begitu gugup.
PUK PUK! Russell menepuk-nepuk punggung Angelica. Dan ia merasa
berdebar-debar.
“Kau baik-baik saja? Tadi kepikiran apa?” tanya Russell dengan tenang.
“Ah, ee... eeee... tidak apa-apa, kok!” jawab Angelica makin gugup. Ia merasa
jantungnya bakal meledak.
“... hmm, jangan-jangan terjadi sesuatu antara kamu dan Johan semalam?”
tebak Russell sambil menghampiri mesin penjual minum otomatis. Wajah Angelica
langsung meledak karena dugaannya tepat sasaran. Untungnya, Russell tidak
melihatnya.
“Ti, tidak! Tidak ada apa-apa! Sungguh!!” Angelica masih berusaha
menutupinya.
KLONTANG! Russell memasukkan koin dua kali ke mesin penjual minuman
otomatis. Setelah kedua kalengnya jatuh, ia kemudian membukakan kaleng dan
memberikan french vanilla coffee kepada Angelica. Kemudian membuka minuman
black coffee-nya sendiri.
“Terima kasih” ucap Angelica sambil menerimanya.
“Aku tidak akan memaksamu menceritakannya, kok. Johan memang susah untuk
jujur, ya” kata Johan tanpa melihat balik ke Angelica.
“Eh?” Angelica terkejut, sambil melihat ke arah Russell, namun ia berlari
duluan.
“Aku duluan, ya. Nanti keburu yang lain datang” ucapnya sambil melambaikan
tangannya dari belakang.
“Ah, eh... tu... tunggu, kak!” teriak Angelica, namun percuma. Russell
perlahan berlari menjauh. Sementara Angelica masih berdiri di tempatnya. Ia
menunduk sambil meminum kopinya. Pandangannya sedih, namun ia memaksakan diri
untuk tersenyum.
“Manis...”
Selesai pelajaran pagi, kemudian istirahat. Angelica berjalan dengan
langkah perlahan menaiki tangga menuju atap sekolah. Saat sampai, ia membuka
pintu perlahan-lahan, memastikan tidak ada orang di sana dengan mengintip di
balik pintu. Angin musim panas bertiup perlahan.
“Syukurlah tak ada orang. Hmm... angin musim panas yang segaaar~~” katanya
sambil meregangkan badannya.
‘Sudah lama tidak menikmati hari sendirian. Banyak yang terjadi sejak aku
masuk ke sekolah ini. Dan lagi, kak Johan... uuggh! Rupanya masih menempel jelas
di kepalakuuu! Pergi dong, kejadian semalaaam!!’ teriak Angelica dalam hati
sambil berusaha mengusirnya dengan tangannya di udara.
“Waah, anginnya segar!” puji seseorang yang datang dari pintu berlawanan
dengan Angelica. Ia terkejut, Angelica berbalik badan ke arah suara itu. Dan makin
panik saat tahu bahwa orangnya adalah...
“Ka... kak Johan...” panggilnya gugup.
“Ah... rupanya kau...” kata Johan juga gugup dengan wajah agak merah.
“Se, selamat siang” ucap Angelica berusaha sopan.
“Hmm... ya” jawabnya sambil beralih ke pagar pembatas atap.
Mereka terdiam sejenak. Mereka sama-sama berada di pinggir pembatas, namun
mereka saling berdiri berjauhan. Merasa tidak nyaman dengan situasi itu,
akhirnya Angelica berusaha mati-matian memulai pembicaraan.
“Eeeh, kau sering kesini?” tanya Angelica berusaha menahan gugupnya.
“Eh... tidak juga. Aku sedang tidak fokus, jadi...” jawab Johan dengan
kalimat terpotong karena ia pun gugup.
“Ooh...”
‘Duuh, bagaimana ini! Aku tidak bisa melihat wajahnya! Dan lagi, kenapa
dari sekian banyak orang harus bertemu dengannya, sih!? Tapi, dia juga sedang
tidak fokus. Jangan-jangan...’ Angelica berusaha menduga-duga.
“Kau sendiri?” tanya Johan balik.
“Eh?”
“Tumben kau kesini...?”
“Eeh, aku... terpikir sesuatu, jadi...”
“Ooh, begitu...”
Mereka kembali diam. Karena penasaran, Angelica berusaha keras melihat ke
arah Johan. Dan ternyata saat itu Johan juga sedang berusaha keras melihat ke
arah Angelica. Sadar mereka saling melihat satu sama lain, keduanya langsung
mengalihkan pandangannya lagi dengan cepat. Ya, wajah mereka sama-sama merah
padam.
‘Aduuh, aku ini! Kenapa melihat ke arahnya, siiih!? Tapi... wajah kak Johan
juga merah padam. Dia juga sedang memikirkan kejadian semalam, ya...’ kata
Angelica dalam hati. Wajahnya semakin semerah warna tomat, bahkan cabe.
Mereka sama-sama terdiam lagi. Johan menghela napas panjang.
“Kemarin... maaf, ya...” ucap Johan.
“Eh?”
“Aku sendiri, tanpa sadar melakukannya... aku... tidak bermaksud
melakukannya... lagipula... itu... itu yang pertama bagiku...” kata Johan
sambil malu-malu. Ia merasa begitu buruk.
‘Eh... kak Johan juga...!?’ teriak Angelica dalam hati. Ia sangat kaget dan
panik.
“Tapi, jika kau marah, kau boleh
hukum aku sesukamu. Aku akan lakukan apapun yang kau mau. Ah, iya ya... kau
suka Russell, kan... aku akan berusaha mendekatkanmu dengannya, deh... jika hal
itu bisa membuatmu memaafkanku...” kata Johan sambil menatapnya.
“Eh, ee...” Angelica menjadi gugup. Namun tidak separah tadi.
‘Di saat seperti ini aku harus bilang apa, ya...?’ tanyanya dalam hati.
“Ti, tidak perlu sampai seperti itu... aku... mengerti, kok... itu juga...
yang pertama bagiku...” kata Angelica pelan sambil menunduk.
“Ah, benarkah!?” teriak Johan karena terkejut. Wajahnya kembali merah
padam. Ia tidak bisa menghentikan rasa malunya. Namun, ia juga merasa bersalah.
“Maaf! Aku benar-benar minta maaf! Aku sama sekali tidak tahu! Aku akan
berusaha tidak mengulanginya lagi, karena itu...” kalimat Johan terputus karena
Angelica berusaha membangunkan Johan yang meminta maaf hingga sampai bersujud.
“Su, sudahlah! Aku juga... aku juga sudah memaafkanmu, kok... tidak perlu
sampai seperti itu... tidak apa-apa...” Angelica tiba-tiba menangis. Johan jadi
semakin gelagapan.
“Ah, hei, jangan menangis! Duuh, bagaimana ini? Kalau kau belum bisa
memaafkan, jangan memaksakan diri bilang seperti itu, dong! Duuh...”
“Huuu~”
Tangisan Angelica semakin deras. Akhirnya tak ada pilihan lain bagi Johan
selain memeluknya. Ia membuka topi Angelica dan mengelus kepalanya.
“Sudahlah, sudah... jangan memaksakan diri jika kau tidak memaafkanku. Aku
bisa mengerti, kok...” kata Johan pelan dengan rasa bersalah.
“Ti, tidak. Bukan begitu, kak. Aku sudah memaafkanmu, tapi... aku menangis
bukan karena itu, tahu...!” teriak Angelica dalam pelukan Johan sambil
memukul-mukul dadanya.
“Eh..? lalu karena apa?” tanya Johan bingung sambil berusaha menghentikan
pukulan itu.
‘Kenapa... kenapa dengan perasaan ini... aku tidak bisa menghentikannya...
dan lagi, dipeluk seperti ini, kenapa membuatku merasa nyaman...’ tanya
Angelica dalam hati, dan dalam sesenggukan tangisannya.
“Yaah, kalau memang begitu, ya sudah... Maaf ya, maafkan aku”
“Ya...”
“Aku benar-benar merasa bersalah, Angelica”
“Ya...”
“Kau boleh pukul aku jika kau benar-benar merasa kesal...”
“Ya...”
“Aku akan ada di sini sampai tangismu berhenti. Karenanya, menangislah
sepuasmu”
Angelica semakin tersentuh dengan kata-katanya. Membuatnya semakin ingin
mendekap wajahnya dalam pelukan Johan dalam-dalam. Semakin ia berusaha, Johan
semakin mendekapnya, hingga tangisnya semakin deras......
“Ya...”
TONG TENG TANG TONG! Bel tanda selesai pelajaran telah berbunyi. Kelas 1-A
bersiap-siap untuk pulang.
“Berdiri! Salam!”
“Terima kasih banyak!”
Setelah guru keluar, kelas itu pun segera bubar.
“Teman-teman, yang hari ini piket jangan keluar kelas dulu, ya! Tolong
kerjakan laporan kelas hari ini!” teriak Harry memberi instruksi.
“Baik!” jawab para anggota kelasnya.
Setelah memberi instruksi itu, Harry melihat ke arah Angelica yang sedang
membereskan meja dengan wajah sumringah. Akhirnya ia memutuskan untuk
mendekatinya dan mengajaknya bicara.
“Hei, wakil ketua! Ada apa denganmu?” tanyanya setengah bercanda.
“Hmm, yaa.. hahaha.. aku hanya sedikit lelah, kok. Tapi aku baik-baik saja”
jawab Angelica sedikit lemas.
“Mungkin karena pekerjaanmu di Dewan Siswa dan klub terlalu banyak. Bolos
saja hari ini, wajahmu kelihatan butuh istirahat, tuh!” pinta Harry dengan
maksud baik. Ia menunjukkan sedikit kekhawatiran di wajahnya. Angelica tersenyum.
“Mana mungkin, kan? Waktu Festival semakin dekat. Aku tidak mungkin istirahat
sekarang” katanya pelan.
‘Lagipula, jika berdiam diri hanya membuatku semakin memikirkannya. Tapi,
setelah ini kami akan bertemu di Dewan Siswa kan? Harus bagaimana aku
menghadapinya?’ lanjutnya dalam hati. Tiba-tiba ia teringat sesuatu.
“Harry, hari ini kau akan ke cafe-mu?” tanya Angelica.
“Aku akan ke cafe nanti malam karena masih harus mengurus penelitian dan
latihan di klub. Kenapa memangnya?” tanya Harry tidak mengerti.
“Ee... ada yang ingin kubicarakan denganmu, Harry” katanya dengan serius. Harry
sedikit memberi pandangan tidak mengerti...
“Ng?”
Di koridor lantai lima, Johan berjalan menuju ruang Dewan Siswa. Di sana ia
bertemu Russell yang menunggunya di jendela dekat ruang Dewan Siswa. Russell meliriknya
tajam
“Lama sekali piketmu, Johan” cela Russell santai.
“Apa boleh buat. Aku ketua kelas, dan harus memastikan semuanya selesai.
Ada apa? Tumben kau ke sini. Masalah Festival lagi?” tanya Johan tanpa curiga.
Russell membenarkan cara berdirinya. Kemudian mendekatkan dirinya pada
Johan.
“Kau sudah melakukan apa pada Angelica?” tanya Russell sinis. Ia memandang
Johan dengan sedikit amarah di matanya.
“Hah?” Johan sangat terkejut. Ia sedikit takut dengan pandangan Russell
tersebut, namun menahannya dalam kepalan salah satu tangannya.
“Tadi pagi aku bertemu dengannya. Dia meneriaki dirinya sendiri ‘aku tidak
memancingnya untuk melakukannya.’ Apa maksudnya itu, Johan? Kamu tahu sesuatu,
kan?” teriaknya dalam amarah, namun ia masih berusaha menahannya.
Sementara Johan semakin panik. Keringat dingin mulai mengalir di dahi
sebelah kanannya. Pandangan Russell semakin membuatnya takut,, dan ia merasa
hal buruk akan terjadi padanya meski ia jujur sekalipun....
0 comment:
Posting Komentar