Senin, 23 Maret 2015

Wings of Melodies~LoveStory Edition - Chapter 15



“A
ngelica!? Kenapa... pakai baju seperti itu!?”
Sylvie dan Johan begitu terkejut saat melihat Angelica mengenakan seragam pelayan di kafe milik Harry. Memang, dress seragam dengan pita di sebelah kanan pinggang dan rok dengan renda berlapis itu sangat cocok dengan Angelica, dan terlihat begitu manis.
“Ah, kau sudah datang, Sylvie. Oh, selamat malam, kak Johan” sapa Angelica dengan sopan sambil tersenyum. Johan sedikit geram.
“Harry, apa maksudnya ini? Kenapa Angelica pakai baju begitu!?” tanya Johan pada Harry yang sedang berdiri di sampingnya sambil membawa gelas dan piring kotor.
“Oh, soal itu... mulai hari ini, Angelica kerja part-time disini. Sylvie, inilah maksud pembicaraanku dengan Angelica tadi siang” jawab Harry pada mereka berdua.
“Kenapa... sampai begini!? Angelica, apa kau butuh biaya hidup sampai seperti ini!? Orangtuamu
tak bisa memenuhi keuanganmu?” tanya Sylvie bertubi-tubi. Namun Johan sedikit terkejut dengan pertanyaan Sylvie pada Angelica.
‘Sylvie... jangan-jangan tidak pernah tahu keadaan ekonomi keluarga Angelica sampai sekarang?’ tanya Johan dalam hati.
Johan menatap Angelica dengan pandangan penuh tanya. Angelica paham maksud pandangan itu, dan hanya tersenyum padanya. Memang, ia pernah menceritakan keadaan itu pada Johan. Karenanya hingga sampai saat ini, Johan-lah yang selalu berusaha menopangnya, walau Angelica selalu menolak.
“Sebaiknya kalian duduk dulu. Ayo kuantar ke meja kalian” kata Angelica kemudian sambil berjalan masuk.
“Angelica...” panggil Sylvie pelan. Ia berjalan mengikuti Angelica. Sementara Johan mengikutinya bersama Harry. Merasa penasaran, Johan pun menanyakan sesuatu pada Harry.
“Harry, kau... sudah tahu tentang keluarga Angelica?”
Harry sedikit terkejut, namun ia berusaha tetap tenang.
“... begitulah. Jangan lupa, aku ini ketua kelasnya. Mengetahui latar belakang teman-teman sekelasku juga bagian dari tugasku” jawab Harry dengan pandangan sedikit sedih.
“Bagaimana reaksimu setelah tahu hal itu?” tanya Johan datar. Harry berpikir sesaat.
“... tentu saja terkejut, sekaligus kasihan. Tapi seperti yang kau lihat selama ini, ia tetap tegar dan berusaha keras. Karenanya sebisa mungkin, aku ingin membantunya walau mungkin tak seberapa” jawab Harry dengan sedikit tersenyum, namun tetap menampakkan wajah sedih. Johan pun berwajah sama saat melihat Angelica dari jauh.
“... begitu... Harry, selama Angelica bekerja disini, aku mohon jaga dia”
Harry kaget dengan permohonan Johan. Ia bahkan memohon sambil menundukkan kepalanya. Harry jadi sedikit gelagapan.
“Kak... hahaha, kau ini! Kenapa memohon begitu? Aku tahu ia wakilmu di Dewan Siswa, tapi tidak sampai seperti itu seharusnya, kan!?” jawab Harry sambil tertawa-tawa, dan tiba-tiba tersadar sesuatu.  
“Atau jangan-jangan, kakak...” Harry menduga sesuatu. Namun akhirnya ia tidak melanjutkannya karena panggilan dari Sylvie.
“Harry, kak Johan! Mau sampai kapan disitu? Ayo duduk!” ajak Sylvie yang duduk di bangku pojok dekat jendela untuk empat orang. angelica berdiri di sampingnya.
“Aku akan kembali ke staff room! Kalian nikmati saja selama disini, ya!” pamit Harry.
Sebelum beranjak, ia menepuk bahu Johan dan tersenyum padanya. Johan balas tersenyum karena paham maksud Harry. Setelah itu, ia kembali melihat ke arah Angelica dan Sylvie, yang kemudian tersenyum padanya....

Setelah jam tutup, Angelica pulang bersama Sylvie dengan diantar Johan. Mereka duduk berhadapan, dengan Sylvie bersebelahan dengan Angelica. Ia menundukkan kepala.
“Maafkan aku, Angelica”
“Eh?” Angelica terkejut.
“Aku... selama ini aku tidak pernah tahu keadaan keluargamu. Aku seenaknya mengakui diriku sebagai sahabatmu. Aku malu... sekaligus sedih... tidak seharusnya aku...”
Sylvie meminta maaf dengan terbata-bata, kemudian menangis. Ya, Angelica telah menceritakan keadaan keluarganya yang sebenarnya pada Sylvie, dan itu membuat Angelica dan Johan saling bertatapan. Akhirnya ia tersenyum.
“Sebaliknya, akulah yang harus minta maaf karena tidak pernah menceritakan keadaan sebenarnya dari keluargaku. Aku memang berharap bisa menceritakan padamu disaat yang tepat, dan kau bisa mengerti. Tapi... asal kamu menerimaku yang seperti ini, aku senang kok!” jawab Angelica sambil tersenyum ramah.
“Ya... aku masih boleh... berteman denganmu, kan?” tanya Sylvie berusaha menghentikan tangisnya.
“Tentu saja! Kita berteman sampai kapanpun!!” kata Angelica sambil memeluk Sylvie. Sylvie memejamkan mata dan menyampaikan rasa terima kasih lewat hasratnya.
“Hooi, kalian ini. Peluk-pelukan sesama perempuan di depanku. Risih, tahu!” protes Johan yang duduk di depan mereka.
“Apaan, sih!? Kau juga ingin ikut pelukan?” ledek Angelica.
“Haaah!? Kau bercanda, kan!? Tidak mungkin, bodoh!” kata Johan merinding.
“Apaa!? Seenaknya menganggapku bodoh! Kak Johan payaaahh!!” protes Angelica sambil berusaha memukul Johan, sehingga mereka pun bertengkar kecil.
“Hihihi” Sylvie hanya tertawa. Kemudian melihat mereka berdua dengan pandangan bahagia, dan berkata dalam hati.
‘Ternyata memang... kak Johan suka Angelica...’

Sampai di depan gerbang sekolah, mereka pun turun dari mobil.
“Aku masuk duluan, ya! Kak Johan, terima kasih tumpangannya!” salam Sylvie sambil berlalu.
“Yaa!” balas Johan sambil melambaikan tangan.
Setelah Sylvie masuk, Angelica tinggal berdua dengan Johan. Mereka terdiam sesaat.
“... kak Johan, terima kasih sudah mengantar kami pulang” ucap Angelica sambil menundukkan kepala.
“Tidak masalah. Anggap saja ini balasan karena kau sudah mengajariku hari ini. Ah, besok lagi, ya! Karena lusa pelajaran Ilmu Sosial!” kata Johan.
“Boleh saja... eeeng, anu...”
“Hm? Kenapa..?” tanya Johan penasaran.
“Kak Johan... apa kakak kaget melihatku tiba-tiba kerja sambilan?” tanya Angelica.
“Eh?” Johan terkejut.
“Aku... mungkin tidak akan punya banyak waktu di Dewan Siswa seperti sebelumnya. Aku juga... sudah berhenti jadi manajer klub sepak bola karena pekerjaan ini... karena itu... maaf aku seenaknya!” mohon Angelica sambil menundukkan kepalanya lagi. Johan sedikit bingung bagaimana harus menanggapinya.
“Ah... tidak masalah bagiku, kok... jangan lupakan pelajaranmu, ya...” kata Johan sambil mengelus kepalanya.
“Ah... ke, kenapa...?” tanya Angelica.
“Apanya?” tanyanya balik, tidak mengerti.
“Tidak, itu... kukira kakak akan marah padaku karena hal itu...” kata Angelica takut-takut. Johan tertawa.
“Buat apa aku marah... aku juga, punya kesibukan lain sebagai pewaris perusahaan... kadang-kadang aku sampai menelantarkan tugasku juga, kan...? Karenanya, aku tidak akan marah. Yang penting, kau harus pertahankan prestasimu, atau dikeluarkan dari sini nanti!” kata Johan sambil mengelus kepala Angelica lagi.
“Ya... terima kasih, kak Johan!” ucap Angelica sambil tersenyum.
Johan sedikit berdebar-debar. Mereka saling bertatapan. Angelica sendiri tak bisa memalingkan mata dari Johan. Perlahan Johan meraih pundak Angelica. hingga mendekapnya di dadanya.......

TONG TENG TANG TONG! Keesokan harinya bel berbunyi, tanda berakhirnya ujian hari itu.
“Waktunya habis, kumpulkan segera dari belakang!” perintah pengawas dari belakang. Angelica yang duduk di bangku paling belakang lebih dulu menyerahkan lembar jawabannya pada teman di bangku depannya dan meregangkan badan.
“Angelicaaa~ nomor 2 bisa?” tanya Harry yang duduk di sebelahnya.
“Ah... aku sedikit lupa rumusnya, jadi mungkin hanya dapat nilai setengah” jawab Angelica.
“Howaaa~~ tak kusangka ujiannya sesulit inii~~” keluh Sylvie menghampiri mereka.
“Yang penting hari ini sudah berakhir, kan! Besok ujian Ilmu Sosial” kata Harry kembali bersemangat, kemudian ia dan Sylvie pun mengobrol. Angelica merenung di mejanya melihat ke luar.
‘Semalam... lagi-lagi kak Johan... seperti itu... sebenarnya apa, sih, yang dipikirkan tentangku..? haaahh...’ keluh Angelica dalam hati. Namun kali ini ia tidak semurung seperti kejadian saat Johan menciumnya.
“Angelica, kau baik-baik saja?” panggil Sylvie.
“Yaah... aku akan ke perpustakaan sekarang” jawab Angelica sambil berdiri dan mengambil tasnya.
“Baiklah, selamat belajar, ya!” ucap Sylvie lagi.
Angelica hendak bersiap keluar dari kelas lewat pintu belakang. Tapi, tepat di pintu luar kelas, anak-anak yang lewat di depan kelasnya berbisik karena seseorang yang menunggu anak kelasnya sambil memainkan handphone-nya.
“Itu kak Johan, kan?”
“Benar benar! Dia keren sekali, ya!”
“Tapi sedang apa di depan kelas 1-A?”
Angelica menghampirinya. Kini ia tahu siapa yang menunggu di depan sekelasnya saat mendengar bisik-bisik itu. Ia menyapanya dengan sedikit sinis.
“Kak Johan? Sedang menunggu siapa?” tanya Angelica.
“Tentu saja kau. Kita mau belajar bareng, kan? Ayo” ajak Johan sambil berjalan.
“Eh... ya...” katanya menurut.
‘Lagi-lagi... dia bersikap seperti itu... aku harus bagaimana... padahal aku suka kak Russell...’ gerutunya dalam hati. Dan hal itu mengingatkannya pada satu hal.
“Oh ya, beberapa hari ini aku tidak melihat kak Russell. Dia kemana?” tanya Angelica pada Johan. Johan menghentikan main handphone-nya dan melihat ke arah Angelica.
“Dia langsung pulang setelah selesai ujian. Karena malamnya harus mengurus perusahaannya yang sedang dilanda krisis. Jadi ia sedang kerepotan. Tugasnya di Dewan Perguruan Siswa pun jadi ia telantarkan” jawab Johan sambil melihat ke layar hp-nya lagi.
“Apa? Di hari ujian seperti ini?” Angelica terkejut.
“Dewan Siswa memang libur, tapi tidak bagi Dewan Perguruan Siswa. Mereka punya banyak tugas dan keluhan, tuh” kata Johan sambil menuruni tangga.
“Ah... begitu...” keluh Angelica pelan. Ia hanya menunduk...

Malam harinya, Angelica masih mengulas pelajaran untuk ujian besok. Sesekali ia resah sambil memandang hp-nya.
“Apa aku... coba kirim email padanya, ya...” katanya pada diri sendiri.
TRIING TRIING! Tiba-tiba hp-nya berdering. Ia terkejut, dan merasa keheranan saat menerima email yang tak ia kenal. Ia pun membuka email tersebut.
Malam, Angelica.
Lama tidak bertemu. Setelah selesai ujian hari ini aku langsung pulang (tapi beberapa hari ini juga seperti itu, sih, hehe). Aku sibuk sekali dengan ujian, tugas di Dewan Perguruan Siswa, bahkan perusahaanku yang terkena krisis. Aku mengirimimu email karena tadi kau menanyakan aku pada Johan, kan? Terima kasih sudah mengkhawatirkanku. Aku akan luangkan waktu untuk mentraktirmu saat ujian berakhir nanti. Karenanya untuk ujian besok, berusahalah!

Russell Brian Micheline Orlando
‘Bohong... kak Russell mengirim email padaku..’
Angelica masih begitu terkejut, tidak menyangka, berangan-angan hal aneh, hingga akhirnya tertawa sendiri.
“Terima kasih... kak Russell... Ahahaha! Yeeeii, cheer up!!!” teriaknya sambil lompat kegirangan di atas kasurnya. Ia masih berteriak kesenangan sehingga Sylvie yang kamarnya berada di sebelah pun keheranan dan bertanya padanya...
“Angelica, ada apa!?”

Keesokan harinya, hari masih sangat pagi namun matahari sudah menampakkan wajahnya. Angelica berjalan sendirian menuju sekolah dengan langkah agak lebar sambil melompat-lompat.
‘Senangnya... kak Russell mengirimiku email. Syukurlah, kukira aku sudah dilupakan. Ujian hari ini, semangat, Angelica!’ teriaknya dalam hati.
Saat sedang bersemangat seperti itu, Angelica melihat Russell dari balik pohon, yang...
“Ah, kak Rus...”
... sedang bicara dengan Johan. Angelica sedikit panik, kemudian spontan ia bersembunyi di balik salah satu pohon yang dekat dengan mereka. Ia penasaran pada apa yang mereka bicarakan.
“Kau sudah mengiriminya email?” tanya Johan pada Russell.
“Sudah. Ia juga menyemangatiku kemarin. Kau sendiri bagaimana?” tanya Russell balik.
“... maksudmu?” tanya Johan tidak mengerti.
“Ng? Bukankah kau menyukai Angelica? Aku tahu hanya dengan melihatnya, lho” kata Russell dengan nada santai.
“Mana mungkin aku menyukainya! Lagipula, ia suka pada...!” Johan terkejut hingga menghentikan sendiri kata-katanya. Karena ia tahu Russell-lah yang disukai Angelica.
“Siapa?” tanya Russell bingung.
“Yang pasti ia suka orang lain. Sudah ah, aku harus piket, nih!” kata Johan kemudian sambil berbalik. Russell diam sesaat.
“Kalau begitu, aku boleh merebutnya, kan?” tanya Russell pelan.
Mereka berdua~Johan dan Angelica~spontan kaget dengan ucapan Russell barusan.
“Hah?”
“Kalau soal ia sedang menyukai orang lain, aku tinggal merubah perasaannya, kan? Lagipula, kelihatannya Angelica ada hati padaku. Kalau kunyatakan perasaanku, mungkin langsung diterima, ya” kata Russell dengan nada begitu percaya diri.
PLAAK! Johan menampar Russell tiba-tiba, dan jelas membuat Angelica yang melihatnya terkejut.
“Apa kau berniat... mempermainkannya... Russell!?!” teriak Johan geram. Ia mengepalkan salah satu tangannya, sementara tangan satunya menarik bajunya dan akan bersiap menonjoknya.
‘Kak Johan...!’ panggil Angelica dalam hati.
Russell masih menunduk sambil memegang pipinya, dan kemudian tertawa.
“Hahaha... tuh, kan, kau tidak jujur... aku serius dengan Angelica, dan tak ada niat main-main dengannya” jawab Russell tenang.
‘Kak Russell...’
Johan begitu geram hingga menggertakkan giginya. Ia langsung melepas posisinya. Dan berusaha keras untuk tenang.
“Baguslah... kalau begitu, tembak saja dia... tapi jika kau main-main, tidak akan pernah kumaafkan kau, walau kita berteman sejak kecil!!” teriak Johan.
Russell diam, kemudian merapikan baju dan syalnya.
“Huh...! kau memang, suka Angelica, kan!? Johan!!” teriak Russell.
Johan tersentak karena dua hal bersamaan, dan tidak segera menjawab. Pertama, karena Russell yang memaksanya menyawab pertanyaannya. Kedua, ia menyadari seseorang sedang mendengar pembicaraan mereka dari salah satu pohon, yang ternyata adalah Angelica. Namun dengan perasaan berkecamuk, akhirnya ia memilih untuk menjawab yang sebenarnya...
“Mungkin saja.....”

0 comment:

Posting Komentar

 

Diana Rachmawati Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template