“A
|
ngelica!? Kenapa... pakai baju seperti itu!?”
Sylvie dan Johan begitu terkejut saat melihat Angelica mengenakan seragam
pelayan di kafe milik Harry. Memang, dress seragam dengan pita di sebelah kanan
pinggang dan rok dengan renda berlapis itu sangat cocok dengan Angelica, dan
terlihat begitu manis.
“Ah, kau sudah datang, Sylvie. Oh, selamat malam, kak Johan” sapa Angelica
dengan sopan sambil tersenyum. Johan sedikit geram.
“Harry, apa maksudnya ini? Kenapa Angelica pakai baju begitu!?” tanya Johan
pada Harry yang sedang berdiri di sampingnya sambil membawa gelas dan piring
kotor.
“Oh, soal itu... mulai hari ini, Angelica kerja part-time disini. Sylvie,
inilah maksud pembicaraanku dengan Angelica tadi siang” jawab Harry pada mereka
berdua.
“Kenapa... sampai begini!? Angelica, apa kau butuh biaya hidup sampai
seperti ini!? Orangtuamu
tak bisa memenuhi keuanganmu?” tanya Sylvie
bertubi-tubi. Namun Johan sedikit terkejut dengan pertanyaan Sylvie pada
Angelica.
‘Sylvie... jangan-jangan tidak pernah tahu keadaan ekonomi keluarga
Angelica sampai sekarang?’ tanya Johan dalam hati.
Johan menatap Angelica dengan pandangan penuh tanya. Angelica paham maksud
pandangan itu, dan hanya tersenyum padanya. Memang, ia pernah menceritakan
keadaan itu pada Johan. Karenanya hingga sampai saat ini, Johan-lah yang selalu
berusaha menopangnya, walau Angelica selalu menolak.
“Sebaiknya kalian duduk dulu. Ayo kuantar ke meja kalian” kata Angelica
kemudian sambil berjalan masuk.
“Angelica...” panggil Sylvie pelan. Ia berjalan mengikuti Angelica.
Sementara Johan mengikutinya bersama Harry. Merasa penasaran, Johan pun
menanyakan sesuatu pada Harry.
“Harry, kau... sudah tahu tentang keluarga Angelica?”
Harry sedikit terkejut, namun ia berusaha tetap tenang.
“... begitulah. Jangan lupa, aku ini ketua kelasnya. Mengetahui latar
belakang teman-teman sekelasku juga bagian dari tugasku” jawab Harry dengan
pandangan sedikit sedih.
“Bagaimana reaksimu setelah tahu hal itu?” tanya Johan datar. Harry
berpikir sesaat.
“... tentu saja terkejut, sekaligus kasihan. Tapi seperti yang kau lihat
selama ini, ia tetap tegar dan berusaha keras. Karenanya sebisa mungkin, aku
ingin membantunya walau mungkin tak seberapa” jawab Harry dengan sedikit
tersenyum, namun tetap menampakkan wajah sedih. Johan pun berwajah sama saat
melihat Angelica dari jauh.
“... begitu... Harry, selama Angelica bekerja disini, aku mohon jaga dia”
Harry kaget dengan permohonan Johan. Ia bahkan memohon sambil menundukkan
kepalanya. Harry jadi sedikit gelagapan.
“Kak... hahaha, kau ini! Kenapa memohon begitu? Aku tahu ia wakilmu di
Dewan Siswa, tapi tidak sampai seperti itu seharusnya, kan!?” jawab Harry
sambil tertawa-tawa, dan tiba-tiba tersadar sesuatu.
“Atau jangan-jangan, kakak...” Harry menduga sesuatu. Namun akhirnya ia
tidak melanjutkannya karena panggilan dari Sylvie.
“Harry, kak Johan! Mau sampai kapan disitu? Ayo duduk!” ajak Sylvie yang
duduk di bangku pojok dekat jendela untuk empat orang. angelica berdiri di
sampingnya.
“Aku akan kembali ke staff room! Kalian nikmati saja selama disini, ya!”
pamit Harry.
Sebelum beranjak, ia menepuk bahu Johan dan tersenyum padanya. Johan balas
tersenyum karena paham maksud Harry. Setelah itu, ia kembali melihat ke arah
Angelica dan Sylvie, yang kemudian tersenyum padanya....
Setelah jam tutup, Angelica pulang bersama Sylvie dengan diantar Johan.
Mereka duduk berhadapan, dengan Sylvie bersebelahan dengan Angelica. Ia
menundukkan kepala.
“Maafkan aku, Angelica”
“Eh?” Angelica terkejut.
“Aku... selama ini aku tidak pernah tahu keadaan keluargamu. Aku seenaknya
mengakui diriku sebagai sahabatmu. Aku malu... sekaligus sedih... tidak
seharusnya aku...”
Sylvie meminta maaf dengan terbata-bata, kemudian menangis. Ya, Angelica
telah menceritakan keadaan keluarganya yang sebenarnya pada Sylvie, dan itu
membuat Angelica dan Johan saling bertatapan. Akhirnya ia tersenyum.
“Sebaliknya, akulah yang harus minta maaf karena tidak pernah menceritakan
keadaan sebenarnya dari keluargaku. Aku memang berharap bisa menceritakan
padamu disaat yang tepat, dan kau bisa mengerti. Tapi... asal kamu menerimaku
yang seperti ini, aku senang kok!” jawab Angelica sambil tersenyum ramah.
“Ya... aku masih boleh... berteman denganmu, kan?” tanya Sylvie berusaha
menghentikan tangisnya.
“Tentu saja! Kita berteman sampai kapanpun!!” kata Angelica sambil memeluk
Sylvie. Sylvie memejamkan mata dan menyampaikan rasa terima kasih lewat
hasratnya.
“Hooi, kalian ini. Peluk-pelukan sesama perempuan di depanku. Risih, tahu!”
protes Johan yang duduk di depan mereka.
“Apaan, sih!? Kau juga ingin ikut pelukan?” ledek Angelica.
“Haaah!? Kau bercanda, kan!? Tidak mungkin, bodoh!” kata Johan merinding.
“Apaa!? Seenaknya menganggapku bodoh! Kak Johan payaaahh!!” protes Angelica
sambil berusaha memukul Johan, sehingga mereka pun bertengkar kecil.
“Hihihi” Sylvie hanya tertawa. Kemudian melihat mereka berdua dengan
pandangan bahagia, dan berkata dalam hati.
‘Ternyata memang... kak Johan suka Angelica...’
Sampai di depan gerbang sekolah, mereka pun turun dari mobil.
“Aku masuk duluan, ya! Kak Johan, terima kasih tumpangannya!” salam Sylvie
sambil berlalu.
“Yaa!” balas Johan sambil melambaikan tangan.
Setelah Sylvie masuk, Angelica tinggal berdua dengan Johan. Mereka terdiam
sesaat.
“... kak Johan, terima kasih sudah mengantar kami pulang” ucap Angelica
sambil menundukkan kepala.
“Tidak masalah. Anggap saja ini balasan karena kau sudah mengajariku hari
ini. Ah, besok lagi, ya! Karena lusa pelajaran Ilmu Sosial!” kata Johan.
“Boleh saja... eeeng, anu...”
“Hm? Kenapa..?” tanya Johan penasaran.
“Kak Johan... apa kakak kaget melihatku tiba-tiba kerja sambilan?” tanya
Angelica.
“Eh?” Johan terkejut.
“Aku... mungkin tidak akan punya banyak waktu di Dewan Siswa seperti
sebelumnya. Aku juga... sudah berhenti jadi manajer klub sepak bola karena
pekerjaan ini... karena itu... maaf aku seenaknya!” mohon Angelica sambil
menundukkan kepalanya lagi. Johan sedikit bingung bagaimana harus
menanggapinya.
“Ah... tidak masalah bagiku, kok... jangan lupakan pelajaranmu, ya...” kata
Johan sambil mengelus kepalanya.
“Ah... ke, kenapa...?” tanya Angelica.
“Apanya?” tanyanya balik, tidak mengerti.
“Tidak, itu... kukira kakak akan marah padaku karena hal itu...” kata
Angelica takut-takut. Johan tertawa.
“Buat apa aku marah... aku juga, punya kesibukan lain sebagai pewaris
perusahaan... kadang-kadang aku sampai menelantarkan tugasku juga, kan...? Karenanya,
aku tidak akan marah. Yang penting, kau harus pertahankan prestasimu, atau
dikeluarkan dari sini nanti!” kata Johan sambil mengelus kepala Angelica lagi.
“Ya... terima kasih, kak Johan!” ucap Angelica sambil tersenyum.
Johan sedikit berdebar-debar. Mereka saling bertatapan. Angelica sendiri
tak bisa memalingkan mata dari Johan. Perlahan Johan meraih pundak Angelica.
hingga mendekapnya di dadanya.......
TONG TENG TANG TONG! Keesokan harinya bel berbunyi, tanda berakhirnya ujian
hari itu.
“Waktunya habis, kumpulkan segera dari belakang!” perintah pengawas dari
belakang. Angelica yang duduk di bangku paling belakang lebih dulu menyerahkan
lembar jawabannya pada teman di bangku depannya dan meregangkan badan.
“Angelicaaa~ nomor 2 bisa?” tanya Harry yang duduk di sebelahnya.
“Ah... aku sedikit lupa rumusnya, jadi mungkin hanya dapat nilai setengah”
jawab Angelica.
“Howaaa~~ tak kusangka ujiannya sesulit inii~~” keluh Sylvie menghampiri
mereka.
“Yang penting hari ini sudah berakhir, kan! Besok ujian Ilmu Sosial” kata
Harry kembali bersemangat, kemudian ia dan Sylvie pun mengobrol. Angelica merenung
di mejanya melihat ke luar.
‘Semalam... lagi-lagi kak Johan... seperti itu... sebenarnya apa, sih, yang
dipikirkan tentangku..? haaahh...’ keluh Angelica dalam hati. Namun kali ini ia
tidak semurung seperti kejadian saat Johan menciumnya.
“Angelica, kau baik-baik saja?” panggil Sylvie.
“Yaah... aku akan ke perpustakaan sekarang” jawab Angelica sambil berdiri
dan mengambil tasnya.
“Baiklah, selamat belajar, ya!” ucap Sylvie lagi.
Angelica hendak bersiap keluar dari kelas lewat pintu belakang. Tapi, tepat
di pintu luar kelas, anak-anak yang lewat di depan kelasnya berbisik karena
seseorang yang menunggu anak kelasnya sambil memainkan handphone-nya.
“Itu kak Johan, kan?”
“Benar benar! Dia keren sekali, ya!”
“Tapi sedang apa di depan kelas 1-A?”
Angelica menghampirinya. Kini ia tahu siapa yang menunggu di depan
sekelasnya saat mendengar bisik-bisik itu. Ia menyapanya dengan sedikit sinis.
“Kak Johan? Sedang menunggu siapa?” tanya Angelica.
“Tentu saja kau. Kita mau belajar bareng, kan? Ayo” ajak Johan sambil
berjalan.
“Eh... ya...” katanya menurut.
‘Lagi-lagi... dia bersikap seperti itu... aku harus bagaimana... padahal
aku suka kak Russell...’ gerutunya dalam hati. Dan hal itu mengingatkannya pada
satu hal.
“Oh ya, beberapa hari ini aku tidak melihat kak Russell. Dia kemana?” tanya
Angelica pada Johan. Johan menghentikan main handphone-nya dan melihat ke arah
Angelica.
“Dia langsung pulang setelah selesai ujian. Karena malamnya harus mengurus
perusahaannya yang sedang dilanda krisis. Jadi ia sedang kerepotan. Tugasnya di
Dewan Perguruan Siswa pun jadi ia telantarkan” jawab Johan sambil melihat ke
layar hp-nya lagi.
“Apa? Di hari ujian seperti ini?” Angelica terkejut.
“Dewan Siswa memang libur, tapi tidak bagi Dewan Perguruan Siswa. Mereka
punya banyak tugas dan keluhan, tuh” kata Johan sambil menuruni tangga.
“Ah... begitu...” keluh Angelica pelan. Ia hanya menunduk...
Malam harinya, Angelica masih mengulas pelajaran untuk ujian besok. Sesekali
ia resah sambil memandang hp-nya.
“Apa aku... coba kirim email padanya, ya...” katanya pada diri sendiri.
TRIING TRIING! Tiba-tiba hp-nya berdering. Ia terkejut, dan merasa
keheranan saat menerima email yang tak ia kenal. Ia pun membuka email tersebut.
Malam,
Angelica.
Lama
tidak bertemu. Setelah selesai ujian hari ini aku langsung pulang (tapi
beberapa hari ini juga seperti itu, sih, hehe). Aku sibuk sekali dengan ujian,
tugas di Dewan Perguruan Siswa, bahkan perusahaanku yang terkena krisis. Aku
mengirimimu email karena tadi kau menanyakan aku pada Johan, kan? Terima kasih
sudah mengkhawatirkanku. Aku akan luangkan waktu untuk mentraktirmu saat ujian
berakhir nanti. Karenanya untuk ujian besok, berusahalah!
Russell Brian Micheline Orlando
‘Bohong... kak Russell mengirim email padaku..’
Angelica masih begitu terkejut, tidak menyangka, berangan-angan hal aneh,
hingga akhirnya tertawa sendiri.
“Terima kasih... kak Russell... Ahahaha! Yeeeii, cheer up!!!” teriaknya
sambil lompat kegirangan di atas kasurnya. Ia masih berteriak kesenangan
sehingga Sylvie yang kamarnya berada di sebelah pun keheranan dan bertanya
padanya...
“Angelica, ada apa!?”
Keesokan harinya, hari masih sangat pagi namun matahari sudah menampakkan
wajahnya. Angelica berjalan sendirian menuju sekolah dengan langkah agak lebar
sambil melompat-lompat.
‘Senangnya... kak Russell mengirimiku email. Syukurlah, kukira aku sudah
dilupakan. Ujian hari ini, semangat, Angelica!’ teriaknya dalam hati.
Saat sedang bersemangat seperti itu, Angelica melihat Russell dari balik
pohon, yang...
“Ah, kak Rus...”
... sedang bicara dengan Johan. Angelica sedikit panik, kemudian spontan ia
bersembunyi di balik salah satu pohon yang dekat dengan mereka. Ia penasaran
pada apa yang mereka bicarakan.
“Kau sudah mengiriminya email?” tanya Johan pada Russell.
“Sudah. Ia juga menyemangatiku kemarin. Kau sendiri bagaimana?” tanya
Russell balik.
“... maksudmu?” tanya Johan tidak mengerti.
“Ng? Bukankah kau menyukai Angelica? Aku tahu hanya dengan melihatnya, lho”
kata Russell dengan nada santai.
“Mana mungkin aku menyukainya! Lagipula, ia suka pada...!” Johan terkejut
hingga menghentikan sendiri kata-katanya. Karena ia tahu Russell-lah yang
disukai Angelica.
“Siapa?” tanya Russell bingung.
“Yang pasti ia suka orang lain. Sudah ah, aku harus piket, nih!” kata Johan
kemudian sambil berbalik. Russell diam sesaat.
“Kalau begitu, aku boleh merebutnya, kan?” tanya Russell pelan.
Mereka berdua~Johan dan Angelica~spontan kaget dengan ucapan Russell
barusan.
“Hah?”
“Kalau soal ia sedang menyukai orang lain, aku tinggal merubah perasaannya,
kan? Lagipula, kelihatannya Angelica ada hati padaku. Kalau kunyatakan
perasaanku, mungkin langsung diterima, ya” kata Russell dengan nada begitu
percaya diri.
PLAAK! Johan menampar Russell tiba-tiba, dan jelas membuat Angelica yang
melihatnya terkejut.
“Apa kau berniat... mempermainkannya... Russell!?!” teriak Johan geram. Ia mengepalkan
salah satu tangannya, sementara tangan satunya menarik bajunya dan akan bersiap
menonjoknya.
‘Kak Johan...!’ panggil Angelica dalam hati.
Russell masih menunduk sambil memegang pipinya, dan kemudian tertawa.
“Hahaha... tuh, kan, kau tidak jujur... aku serius dengan Angelica, dan tak
ada niat main-main dengannya” jawab Russell tenang.
‘Kak Russell...’
Johan begitu geram hingga menggertakkan giginya. Ia langsung melepas posisinya.
Dan berusaha keras untuk tenang.
“Baguslah... kalau begitu, tembak saja dia... tapi jika kau main-main,
tidak akan pernah kumaafkan kau, walau kita berteman sejak kecil!!” teriak
Johan.
Russell diam, kemudian merapikan baju dan syalnya.
“Huh...! kau memang, suka Angelica, kan!? Johan!!” teriak Russell.
Johan tersentak karena dua hal bersamaan, dan tidak segera menjawab. Pertama,
karena Russell yang memaksanya menyawab pertanyaannya. Kedua, ia menyadari
seseorang sedang mendengar pembicaraan mereka dari salah satu pohon, yang
ternyata adalah Angelica. Namun dengan perasaan berkecamuk, akhirnya ia memilih
untuk menjawab yang sebenarnya...
“Mungkin saja.....”
0 comment:
Posting Komentar