“M
|
ungkin saja... aku memang menyukainya......”
Siang hari, di kelas 1-A. Ini adalah hari terakhir ujian
tengah semester.
“Waktunya sudah habis!! Kumpulkan hasil ujian dari belakang!! Kalian sudah
berjuang seminggu ini. Semoga hasilnya memuaskan, ya”
“Berdiri! Salam!”
Setelah kelas berakhir, Angelica keluar dari kelas dan sekolah. Ia berjalan
tidak menentu. Hingga saat sadar, ia sampai di taman air mancur dekat gedung
SMP,
tempat biasanya ia duduk bersama Johan menanti waktu berkumpulnya anggota Dewan
Siswa. Tapi kali ini ia datang sendiri. Ia duduk disitu, dan memandang langit
dengan wajah sedih.
‘Awalnya..... aku memang sudah menduga kak Johan menyukaiku..... semua
perlakuannya selama ini pun...... bahkan bila dibandingkan kak Russell......
aku...... ternyata sudah menyakiti kak Johan
tanpa kusadari...... aku juga
bodoh...... karena membohongi diriku sendiri dengan pura-pura tidak tahu dan
menutup mata akan perasaannya...... kak Johan.... aku...... harus
bagaimana......’
Angelica menangis. Ia menangis sendirian sambil menunduk,
sehingga orang-orang yang lewat disitu tidak menyadarinya bahwa ia menangis. Ia merasa sendirian, dan akhirnya rasa sendiri itu
kembali memenuhi dirinya.....
Setelah menangis, Angelica kembali ke gedung SMA dan beranjak masuk ke
ruang Dewan Siswa. Karena ujian sudah selesai, kegiatan mereka akan dimulai
lagi.
“Selamat siang, My Angel! Lama tidak bertemu denganmuuu~~!”
teriak Michaelis sambil memberikan bunga pada Angelica.
“Lama tidak bertemu!” sapa Aldias.
“Selamat siang, kak Aldias. Kak Michaelis, terima
kasih bunga Pansy-nya”
sapa Angelica sopan.
“Tidak bertemu denganmu selama hari ujian, membuat bunga-bunga di hatiku
berguguran dengan derasnya. Tapi mereka kembali mekar karena kau hadir disini!”
kata Aldias pada Angelica dengan gaya masochist. Angelica menunduk malu mendengarnya.
“Kalau bunganya gugur, siram yang banyak” kata Aldias
tiba-tiba.
“Aaaahh, Aldias. Kau tidak boleh menyiram laki-laki tampan seperti... ku...”
kata Michaelis yang kemudian tidak melanjutkan omongannya. Ia tergugup karena Aldias membawa ember berisi air. Yang ia kira...
“Tidaaaaaakk~~!!” teriak Michaelis hingga keluar
ruangan.
“Ng? Aku tidak bermaksud menyirammu, lho!” teriak
Aldias menyangkal.
“Hahahahaha!!” Angelica tertawa saat melihat
kejadian itu.
‘Mereka selalu seperti ini... kak Michaelis, keluarganya adalah ahli bidang fashion. Dan kak Aldias, keluarganya ahli di bidang hukum. Secara pekerjaan,
mereka bertentangan sekali. Tapi... mereka sangat akrab...’
Setelah candaan itu, tinggal Angelica dan Aldias yang berada di Ruang Dewan
Siswa. Karena pada akhirnya kegiatan hari itu ditiadakan, mereka memutuskan
untuk mengobrol. Aldias menuang ember berisi air tadi
ke dalam alat penyiram tanaman dan mulai menyirami pot-pot yang ada di beranda
satu persatu sambil mengobrol dengan Angelica. Meski keluarga Aldias ahli hukum, namun berkebun adalah hobinya
yang menurun dari Ibunya.
“Ahaha... Aldias dan aku berteman saat masuk SMA”
kata Aldias mulai bercerita, saat Angelica memuji hubungannya yang akrab dengan
Michaelis.
“Hee? Bukankah kalian meneruskan dari SMP Escoriale? Setidaknya pernah
saling kenal di suatu tempat?” tanya Angelica bingung.
“Memang. Tapi saat angkatanku masuk, ada sepuluh kelas. Jadi tidak mungkin
hafal semuanya. Memang sih, sifat kami bertentangan. Tapi yaah... akhirnya
entah kenapa jadi akrab karena kami sekelas dua tahun ini!” jawab Aldias sambil tersenyum.
Angelica pun tersenyum.
“Begitu, ya... kak Johan dan kak Russell juga, teman masa kecil...”
kata Angelica pelan. Aldias terkejut.
“Aah, benarkah? Pantas saja mereka dekat banget! Ngg~~ hei, Angelica. Apa
terjadi sesuatu dengan Johan hari ini..?” tanyanya kemudian.
“Ng? Entahlah. Aku... tidak melihatnya akhir-akhir ini...”
jawab Angelica pelan…
Setelah menemani
Aldias menyiram tanaman dan mengobrol, Angelica memutuskan untuk kembali ke
asrama. Dalam perjalanan
itu,
Angelica kembali merenung.
“Kejadian itu... sudah tiga hari berlalu...” kata
Angelica pelan. Ia teringat dengan lanjutan pertanyaan Aldias saat di ruang
Dewan Siswa tadi.
“Apa ada masalah di perusahaannya, ya... kelihatannya dia jadi
uring-uringan, tuh. Kau juga dekat dengannya, kan? Coba ditanya...”
Angelica berjalan sendirian, dan mendadak berhenti. Dari tempatnya berdiri, ia melihat Johan yang sedang
berbicara dengan seseorang. Kelihatannya cukup serius, hingga pembicaraan itu
diakhiri dengan Johan membungkukkan badannya. Lawan bicaranya terlihat kesal dan kemudian ia masuk dengan membanting pintu mobilnya.
Orang itu berlalu, dan Johan menghela nafas.
Menyadari karena diperhatikan, Johan mengalihkan pandangannya pada Angelica,
dan tersenyum. Ia pun menghampiri Angelica yang kemudian
memberi salam padanya.
“Kau mau kembali ke asrama?” tanya Johan.
“Ah, eeeh... ya. Karena kau bilang kegiatan hari ini dibatalkan, kan?” kata Angelica sambil memperbaiki sikap
berdirinya.
“Sebagian besarnya sudah selesai, kok. Sebaiknya kita istirahat sebentar
melepas lelah dari ujian” jawab Johan.
“Baiklah... eeeng, kak Johan. Tadi itu...” Angelica
ragu-ragu menanyakannya, namun tak melanjutkan karena ia pikir Johan mengerti.
Johan terdiam sebentar, kemudian berjalan dan Angelica mengikutinya.
Johan
melihat ke langit yang diikuti dengan hembusan angin.
“Dia... ayahku...”
“Eh??”
“Ya, dia ayahku. Dia tadi kesal karena aku tidak mau pergi ke kantornya hari ini. Tapi dia hanya marah sesaat, kok. Tenang
saja”
jawab Johan sambil berusaha tersenyum.
“Kenapa? Bukankah kegiatan hari ini dibatalkan
karena kakak harus kesana?”
tanya Angelica penasaran.
“Yaahh...” Johan merasa tidak ingin menjawab. Namun
Angelica bisa mengerti.
“Setelah ini kau ada waktu?” tanyanya
lagi.
“Eh? Yaahh.. aku senggang, sih...” jawab Angelica
sambil berpikir.
GREB! Johan tiba-tiba menggandeng tangan Angelica.
“Kalau begitu, kita pergi ke tempat yang kau sukai! Ke pusat kota juga
boleh! Let’s goo!!” teriak Johan sambil menarik tangan Angelica dengan paksa.
Angelica
sangat terkejut.
‘Eeeehh!?!’
Saat sampai di tempat tujuan, Angelica terpana melihat ramainya pusat kota London.
“Waaaaaa!!! Luar biasaaaa~~!!!” teriak Angelica
senang. Karena itu adalah pusat kota yang berbeda dengan yang terakhir kali
mereka datangi bersama Sylvie, Harry, dan Russell.
“Haha, belum pernah kesini, ya?” tanya Johan.
“Ya!! Banyak toko dengan merek yang belum pernah kulihat!! Ada Angel Queen,
Lovely Cakes and Pastries, ada buffet juga!! Hebaaat!!”
teriaknya masih begitu senang. Johan kembali menggandeng tangan Angelica.
“Hari ini kau bebas mau kemanapun. Aku yang traktir. Aku juga sedang jenuh,
jadi tidak usah merasa tidak enak, ya!” katanya sambil
tersenyum. Angelica juga jadi semangat.
“Baiklaah!! Ayo makan kueee!!”
“Hei, appetizer dulu, dong!!”
Angelica dan Johan mengelilingi kota dengan berbelanja, ke kafe, bermain
di game center, ke toko baju…
“Hmm, bagus juga. Beli itu saja!” perintah Johan saat
Angelica mengepaskan bajunya di kaca.
“Hee!? Serius!?”
Dan mereka juga pergi ke toko aksesoris.
“Waaa! Pluggy kunci dan gembok daun semanggi warna-warni itu bagus sekali! Dia jual sepasang! Huaaa, harganya 30
pound!”
teriak Angelica kecewa.
“Hee, tapi lagi diskon, tuh! Bagus juga, sih. Ayo, beli!”
ajak Johan sambil masuk ke toko.
“Serius!?!”
Dan, mereka melalui hari kencan itu dengan menyenangkan.
Malam hari, saat perjalanan pulang. Johan
mengantar Angelica sampai depan asrama putri.
“Kak Johan, terima kasih banyak. Akan kuganti uang bajunya nanti”
kata Angelica dengan rasa terima kasih.
“Tidak usah. Aku juga menikmatinya hari ini. Jadi.. aku yang akan berterima
kasih karena sudah mau menemaniku” kata Johan.
“Kak Johan... hehehe...” Angelica tertawa.
“Kenapa tertawa begitu, sih?” tanya Johan heran.
“Tidak... tadi, kau memang terlihat sangat suntuk tadi. Karenanya aku juga
jadi senang melihatmu yang sekarang terlihat capek, namun bahagia. Ah,
tapi akhirnya kita punya barang kembaran, ya! Terima kasih gembok daun
semangginya!”
kata Angelica sambil tersenyum senang. Namun dalam hatinya, ia sedih.
‘Entah sikapku ini benar atau tidak... padahal aku merasa begitu jahat
padanya karena seperti memanfaatkan perasaannya...’
“Tidak masalah... besok, yang semangat, ya!” ucap Johan
menyemangati sambil melambaikan tangan dan berjalan menuju gerbang sekolah.
‘Tapi kak Johan... begitu bahagia hanya dengan hal seperti ini...’
“Ya... kalau begitu, sampai besok” kata Angelica
membalas lambaian tangannya. Ia merasa ingin menangis…
‘Kalau seperti ini... kalau seperti ini... sebenarnya siapa...... yang
kusukai....?’
Keesokan harinya di sekolah, Angelica baru datang dan menyadari ada sesuatu yang aneh di sekitarnya.
‘Lho... kenapa ini...? mereka...’ tanya Angelica
bingung. Karena semua orang di sekolah itu melihat ke arahnya dan
membicarakannya.
“Ah, dia Sandoras, kan? Wakil Dewan Siswa kita”
“Iya. Ternyata seperti itu, ya”
“Bukannya menjalani tugasnya, malah nampang dengan kak Johan, tuh”
‘Apa
yang terjadi...?’
Angelica bertanya-tanya dalam hati.
“Angelica!” panggil Sylvie dari kejauhan. Ia berlari
dan berhenti tepat di depannya.
“Eh, pagi, Sylvie. Ini... ada apa, ya?” tanya Angelica
bingung. Sylvie masih mengatur napasnya. Ia menjawab dengan wajah begitu panik.
“Cepat...! Ikut aku ke ruang Kepala Sekolah! Kak
Johan…!”
Akhirnya mereka
sampai di ruang Kepala Sekolah dan berdiri di depan pintu yang
setengah terbuka. Angelica
terkejut melihat Johan yang duduk bersimpuh dengan pipi merah, yang sepertinya
adalah bekas tamparan. Selain Johan dan Kepala Sekolah serta Wakil Kepala Sekolah, disitu ada Russell dan... ayah Johan
yang kemarin ia lihat dari jauh.
“Dasar laki-laki bodoh!! Kau tidak datang ke kantor dan malah pergi kencan
dengan wanita lain!! Kau sudah punya tunangan, apa kau lupa itu!!”
teriak ayah Johan sambil menampar Johan untuk kedua kalinya.
“Hentikan, Paman!! Ini di depan kepala sekolah!!”
teriak Russell menahan ayah Johan.
“Pak Sabrishion, tolong hentikan tindakan Anda!!”
teriak Kepala Sekolah.
“Uuugh...”
Johan meringis
kesakitan. Ia terjerembab di lantai, dan dari mulutnya mulai mengeluarkan air
liur. Russell langsung menghampirinya.
“Johan, kau baik-baik saja? Bisa berdiri? Ayo kubantu”
kata Russell sambil membantunya berdiri.
PLETAK! Suara tas
jatuh menyadarkan mereka semua. Itu adalah suara tas Angelica yang terkejut
melihat situasi itu. Johan dan Russell sangat terkejut. Angelica berusaha
menghampirinya.
“Kak... kak Johan...” panggil Angelica pelan. Johan sedikit
terengah-engah.
“... kenapa kau...” Johan berusaha bicara, namun
tamparan ayahnya yang begitu keras membuatnya kesulitan bicara. Ia merasa
mulutnya mati rasa.
SRET! Ayah Johan berdiri di hadapan Angelica dengan pandangan geram,
menghalanginya yang ingin menghampiri Johan. Angelica sedikit terkejut.
“Kau wanita yang kemarin pergi dengan Johan, kan? Rupanya kau masih punya
nyali untuk datang, hah!?” tanya ayah Johan dengan garang.
“A, aku... tidak seharusnya...”
Angelica terbata-bata.
Walau ia takut, namun ia menguatkan diri untuk menghadapinya.
“Apa katamu!? Aku tidak mendengarnya, katakan dengan jelas!!”
teriak ayah Johan hingga menggema ke seluruh ruangan.
Angelica mengepalkan kedua tangannya.
“Tidak seharusnya Anda memaksa kak Johan untuk terus-menerus belajar dan
bekerja, kan!? Dia butuh istirahat dan penyegaran! Dan Anda sebagai orang tua seharusnya
lebih paham hal itu!!” teriak Angelica.
“Apa katamu!?”
“Kami semua habis menghadapi ujian kemarin!! Seharusnya saat hari
itu tiba Anda sebagai orang tua bekerja dua kali dan
tidak membebani anak Anda dengan urusan pekerjaan, kan!? Kau marah hanya karena
kak Johan tidak datang ke kantor Anda kemarin, itu bukan hal yang selalu dilakukan kak Johan
bukan!!? Karenanya tidak seharusnya kau menghukum kak Johan lebih dari ini!!!”
teriak Angelica yang berusaha membela Johan. Sylvie dan Russell terpana dengan
kalimatnya, namun itu membuat ayahnya semakin geram.
“Kau... berani bicara begituuu~~!!!” teriak sang ayah.
Tangan Pak Sabrishion telah berada di atas udara hingga melayang dan akan
mendaratkannya di pipi Angelica. Angelica ketakutan hingga memejamkan mata.
Namun...
PLAK!!
Tangan itu melayang ke pipi Johan yang dengan cepat menghadang Angelica.
Johan
kembali terjerembab dengan mulut mengeluarkan darah.
“Kak Johan!!” teriak Angelica.
“Johan!!” teriak Russell sambil akan menghampiri mereka,
namun Sylvie menahannya.
Sementara Angelica
memangku kepala Johan sambil perlahan menangis.
“Ka... kak Johan... kak Johan, aku...”
Angelica terbata-bata.
Johan menutup kepalanya dengan tangan,
batuk hingga mengeluarkan darah yang terciprat hingga ke seragam Angelica, dan sedikit meringis kesakitan. Namun tak lama
keadaan itu berlangsung, tiba-tiba
ia mengangkat kepalanya, melihat ke arah Angelica dan
tersenyum padanya. Hal itu membuatnya terpana dan tak sanggup menahan diri
untuk menangis. Johan kembali
berdiri dengan dibantu Angelica, dan mengarahkan pandangannya pada ayahnya dengan geram.
“Sekali lagi kau mendaratkan tanganmu padanya... jangan harap aku akan mau
meneruskan untuk mengurus
perusahaan itu!!!” teriak Johan mati-matian.
Kata-kata itu membuat yang lainnya kaget dan terpana. Terlebih Angelica
yang masih berdiri di belakangnya dan memegang lengannya. Johan masih menatap
ayahnya dengan geram. Hal itu membuat ayahnya semakin panas.
“Beraninya kau padaku, Johaaann!!!”
Ayahnya kembali
bersiap menampar untuk ketiga kalinya. Russell dan Sylvie berteriak menyadarkan
Johan.
“Johan!!”
“Kak Johan!!”
Namun Johan sudah
pasrah. Ia memejamkan mata dan membiarkan dirinya ditampar. Tapi…
“Sudah cukup, hentikaaaaaann!!!!”
Angelica berteriak sambil melompat ke arah punggung Johan hingga mereka tersungkur
di lantai. Ia menangis dengan keras di punggung Johan dengan melipat tangannya
di pinggang Johan. Melihat hal itu, Johan yang awalnya kesakitan dengan perlakuan
paksa dari Angelica tersebut kemudian berusaha meraih kepala Angelica, mengelusnya.
Meski ia sendiri masih lemas tak bertenaga, hingga akhirnya
pingsan. Tangis Angelica semakin deras.
“Dasar, anak bodoh! Minggir kau!” teriak Pak
Sabrishion sambil menendang Angelica untuk menyingkir.
Namun Angelica tidak
bergeming. Setelah Pak Sabrishion menghentikan perlakuan itu, Angelica berusaha menghentikan tangisnya, kemudian
bangkit dan menatap pak Sabrishion dengan pandangan yang sama dengan Johan
tadi.
“Anda... sudah keterlaluan, Paman!!!” teriak Angelica
geram.
Pak Sabrishion semakin emosi, dan melayangkan tangannya lagi pada Angelica.
Russell
dan Kepala Sekolah berusaha menyadarkannya.
“Angelica!!! Minggir!!!”
“Sandoras, menyingkir!!!”
Tanpa disadari, tangan pak Sabrishion berhenti. Ia terkejut mendengar nama
keluarga Angelica yang disebut oleh kepala sekolah. Melihat itu, otomatis yang
lainnya ikut terkejut. Angelica yang tadinya memejamkan mata karena takut, kini
berusaha melihat ke arah Pak Sabrishion yang menghentikan perlakuannya.
Ia
sendiri terkejut melihat Pak Sabrishion yang menatapnya dengan penuh tanya. Menyadari situasinya, Russell menghampiri
dan langsung membawa Angelica ke
depan meja kepala sekolah bersama Sylvie. Pak Sabrishion mengikuti
penglihatannya yang masih tertuju kepadanya. Kemudian Pak Sabrishion berjalan pelan ke arah Angelica, dengan Russell menghadangnya
untuk mencegah.
“Kau... Sandoras...?” tanya pak Sabrishion pelan. Angelica
pun terpana mendengar pertanyaan itu dari beliau…
0 comment:
Posting Komentar