Selasa, 24 Maret 2015

Wings of Melodies~LoveStory Edition - Chapter 16

“M
ungkin saja... aku memang menyukainya......”

Siang hari, di kelas 1-A. Ini adalah hari terakhir ujian tengah semester.
“Waktunya sudah habis!! Kumpulkan hasil ujian dari belakang!! Kalian sudah berjuang seminggu ini. Semoga hasilnya memuaskan, ya”
“Berdiri! Salam!”

Setelah kelas berakhir, Angelica keluar dari kelas dan sekolah. Ia berjalan tidak menentu. Hingga saat sadar, ia sampai di taman air mancur dekat gedung SMP, tempat biasanya ia duduk bersama Johan menanti waktu berkumpulnya anggota Dewan Siswa. Tapi kali ini ia datang sendiri. Ia duduk disitu, dan memandang langit dengan wajah sedih.
‘Awalnya..... aku memang sudah menduga kak Johan menyukaiku..... semua perlakuannya selama ini pun...... bahkan bila dibandingkan kak Russell...... aku...... ternyata sudah menyakiti kak Johan
tanpa kusadari...... aku juga bodoh...... karena membohongi diriku sendiri dengan pura-pura tidak tahu dan menutup mata akan perasaannya...... kak Johan.... aku...... harus bagaimana......’
Angelica menangis. Ia menangis sendirian sambil menunduk, sehingga orang-orang yang lewat disitu tidak menyadarinya bahwa ia menangis. Ia merasa sendirian, dan akhirnya rasa sendiri itu kembali memenuhi dirinya.....

Setelah menangis, Angelica kembali ke gedung SMA dan beranjak masuk ke ruang Dewan Siswa. Karena ujian sudah selesai, kegiatan mereka akan dimulai lagi.
“Selamat siang, My Angel! Lama tidak bertemu denganmuuu~~!” teriak Michaelis sambil memberikan bunga pada Angelica.
“Lama tidak bertemu!” sapa Aldias.
“Selamat siang, kak Aldias. Kak Michaelis, terima kasih bunga Pansy-nya sapa Angelica sopan.
“Tidak bertemu denganmu selama hari ujian, membuat bunga-bunga di hatiku berguguran dengan derasnya. Tapi mereka kembali mekar karena kau hadir disini!” kata Aldias pada Angelica dengan gaya masochist. Angelica menunduk malu mendengarnya.
“Kalau bunganya gugur, siram yang banyak” kata Aldias tiba-tiba.
“Aaaahh, Aldias. Kau tidak boleh menyiram laki-laki tampan seperti... ku...” kata Michaelis yang kemudian tidak melanjutkan omongannya. Ia tergugup karena Aldias membawa ember berisi air. Yang ia kira...
“Tidaaaaaakk~~!!” teriak Michaelis hingga keluar ruangan.
“Ng? Aku tidak bermaksud menyirammu, lho!” teriak Aldias menyangkal.
“Hahahahaha!!” Angelica tertawa saat melihat kejadian itu.
‘Mereka selalu seperti ini... kak Michaelis, keluarganya adalah ahli bidang fashion. Dan kak Aldias, keluarganya ahli di bidang hukum. Secara pekerjaan, mereka bertentangan sekali. Tapi... mereka sangat akrab...’
Setelah candaan itu, tinggal Angelica dan Aldias yang berada di Ruang Dewan Siswa. Karena pada akhirnya kegiatan hari itu ditiadakan, mereka memutuskan untuk mengobrol. Aldias menuang ember berisi air tadi ke dalam alat penyiram tanaman dan mulai menyirami pot-pot yang ada di beranda satu persatu sambil mengobrol dengan Angelica. Meski keluarga Aldias  ahli hukum, namun berkebun adalah hobinya yang menurun dari Ibunya.
“Ahaha... Aldias dan aku berteman saat masuk SMA” kata Aldias mulai bercerita, saat Angelica memuji hubungannya yang akrab dengan Michaelis.
“Hee? Bukankah kalian meneruskan dari SMP Escoriale? Setidaknya pernah saling kenal di suatu tempat? tanya Angelica bingung.
“Memang. Tapi saat angkatanku masuk, ada sepuluh kelas. Jadi tidak mungkin hafal semuanya. Memang sih, sifat kami bertentangan. Tapi yaah... akhirnya entah kenapa jadi akrab karena kami sekelas dua tahun ini!” jawab Aldias sambil tersenyum. Angelica pun tersenyum.
“Begitu, ya... kak Johan dan kak Russell juga, teman masa kecil...” kata Angelica pelan. Aldias terkejut.
“Aah, benarkah? Pantas saja mereka dekat banget! Ngg~~ hei, Angelica. Apa terjadi sesuatu dengan Johan hari ini..?” tanyanya kemudian.
“Ng? Entahlah. Aku... tidak melihatnya akhir-akhir ini...” jawab Angelica pelan…

Setelah menemani Aldias menyiram tanaman dan mengobrol, Angelica memutuskan untuk kembali ke asrama. Dalam perjalanan itu, Angelica kembali merenung.
“Kejadian itu... sudah tiga hari berlalu...” kata Angelica pelan. Ia teringat dengan lanjutan pertanyaan Aldias saat di ruang Dewan Siswa tadi.
“Apa ada masalah di perusahaannya, ya... kelihatannya dia jadi uring-uringan, tuh. Kau juga dekat dengannya, kan? Coba ditanya...”
Angelica berjalan sendirian, dan mendadak berhenti. Dari tempatnya berdiri, ia melihat Johan yang sedang berbicara dengan seseorang. Kelihatannya cukup serius, hingga pembicaraan itu diakhiri dengan Johan membungkukkan badannya. Lawan bicaranya terlihat kesal dan kemudian ia masuk dengan membanting pintu mobilnya. Orang itu berlalu, dan Johan menghela nafas.
Menyadari karena diperhatikan, Johan mengalihkan pandangannya pada Angelica, dan tersenyum. Ia pun menghampiri Angelica yang kemudian memberi salam padanya.
“Kau mau kembali ke asrama?” tanya Johan.
“Ah, eeeh... ya. Karena kau bilang kegiatan hari ini dibatalkan, kan?”  kata Angelica sambil memperbaiki sikap berdirinya.
“Sebagian besarnya sudah selesai, kok. Sebaiknya kita istirahat sebentar melepas lelah dari ujian” jawab Johan.
“Baiklah... eeeng, kak Johan. Tadi itu...” Angelica ragu-ragu menanyakannya, namun tak melanjutkan karena ia pikir Johan mengerti.
Johan terdiam sebentar, kemudian berjalan dan Angelica mengikutinya. Johan melihat ke langit yang diikuti dengan hembusan angin.
“Dia... ayahku...”
“Eh??”
“Ya, dia ayahku. Dia tadi kesal karena aku tidak mau pergi ke kantornya hari ini. Tapi dia hanya marah sesaat, kok. Tenang saja” jawab Johan sambil berusaha tersenyum.
“Kenapa? Bukankah kegiatan hari ini dibatalkan karena kakak harus kesana?” tanya Angelica penasaran.
“Yaahh...” Johan merasa tidak ingin menjawab. Namun Angelica bisa mengerti.
“Setelah ini kau ada waktu?” tanyanya lagi.
“Eh? Yaahh.. aku senggang, sih...” jawab Angelica sambil berpikir.
GREB! Johan tiba-tiba menggandeng tangan Angelica.
“Kalau begitu, kita pergi ke tempat yang kau sukai! Ke pusat kota juga boleh! Let’s goo!!” teriak Johan sambil menarik tangan Angelica dengan paksa. Angelica sangat terkejut.
‘Eeeehh!?!’

Saat sampai di tempat tujuan, Angelica terpana melihat ramainya pusat kota London.
“Waaaaaa!!! Luar biasaaaa~~!!!” teriak Angelica senang. Karena itu adalah pusat kota yang berbeda dengan yang terakhir kali mereka datangi bersama Sylvie, Harry, dan Russell.
“Haha, belum pernah kesini, ya?” tanya Johan.
“Ya!! Banyak toko dengan merek yang belum pernah kulihat!! Ada Angel Queen, Lovely Cakes and Pastries, ada buffet juga!! Hebaaat!!” teriaknya masih begitu senang. Johan kembali menggandeng tangan Angelica.
“Hari ini kau bebas mau kemanapun. Aku yang traktir. Aku juga sedang jenuh, jadi tidak usah merasa tidak enak, ya!” katanya sambil tersenyum. Angelica juga jadi semangat.
“Baiklaah!! Ayo makan kueee!!”
“Hei, appetizer dulu, dong!!”
Angelica dan Johan mengelilingi kota dengan berbelanja, ke kafe, bermain di game center, ke toko baju…
“Hmm, bagus juga. Beli itu saja!” perintah Johan saat Angelica mengepaskan bajunya di kaca.
“Hee!? Serius!?”
Dan mereka juga pergi ke toko aksesoris.
“Waaa! Pluggy kunci dan gembok daun semanggi warna-warni itu bagus sekali! Dia jual sepasang! Huaaa, harganya 30 pound!” teriak Angelica kecewa.
“Hee, tapi lagi diskon, tuh! Bagus juga, sih. Ayo, beli!” ajak Johan sambil masuk ke toko.
“Serius!?!”
Dan, mereka melalui hari kencan itu dengan menyenangkan.

Malam hari, saat perjalanan pulang. Johan mengantar Angelica sampai depan asrama putri.
“Kak Johan, terima kasih banyak. Akan kuganti uang bajunya nanti” kata Angelica dengan rasa terima kasih.
“Tidak usah. Aku juga menikmatinya hari ini. Jadi.. aku yang akan berterima kasih karena sudah mau menemaniku” kata Johan.
“Kak Johan... hehehe...” Angelica tertawa.
“Kenapa tertawa begitu, sih?” tanya Johan heran.
“Tidak... tadi, kau memang terlihat sangat suntuk tadi. Karenanya aku juga jadi senang melihatmu yang sekarang terlihat capek, namun bahagia. Ah, tapi akhirnya kita punya barang kembaran, ya! Terima kasih gembok daun semangginya! kata Angelica sambil tersenyum senang. Namun dalam hatinya, ia sedih.
‘Entah sikapku ini benar atau tidak... padahal aku merasa begitu jahat padanya karena seperti memanfaatkan perasaannya...’
“Tidak masalah... besok, yang semangat, ya!” ucap Johan menyemangati sambil melambaikan tangan dan berjalan menuju gerbang sekolah.
‘Tapi kak Johan... begitu bahagia hanya dengan hal seperti ini...’
“Ya... kalau begitu, sampai besok” kata Angelica membalas lambaian tangannya. Ia merasa ingin menangis…
‘Kalau seperti ini... kalau seperti ini... sebenarnya siapa...... yang kusukai....?

Keesokan harinya di sekolah, Angelica baru datang dan menyadari ada sesuatu yang aneh di sekitarnya.
‘Lho... kenapa ini...? mereka...’ tanya Angelica bingung. Karena semua orang di sekolah itu melihat ke arahnya dan membicarakannya.
“Ah, dia Sandoras, kan? Wakil Dewan Siswa kita”
“Iya. Ternyata seperti itu, ya”
“Bukannya menjalani tugasnya, malah nampang dengan kak Johan, tuh”
Apa yang terjadi...?’ Angelica bertanya-tanya dalam hati.
“Angelica!” panggil Sylvie dari kejauhan. Ia berlari dan berhenti tepat di depannya.
“Eh, pagi, Sylvie. Ini... ada apa, ya?” tanya Angelica bingung. Sylvie masih mengatur napasnya. Ia menjawab dengan wajah begitu panik.
“Cepat...! Ikut aku ke ruang Kepala Sekolah! Kak Johan…!

Akhirnya mereka sampai di ruang Kepala Sekolah dan berdiri di depan pintu yang setengah terbuka. Angelica terkejut melihat Johan yang duduk bersimpuh dengan pipi merah, yang sepertinya adalah bekas tamparan. Selain Johan dan Kepala Sekolah serta Wakil Kepala Sekolah, disitu ada Russell dan... ayah Johan yang kemarin ia lihat dari jauh.
“Dasar laki-laki bodoh!! Kau tidak datang ke kantor dan malah pergi kencan dengan wanita lain!! Kau sudah punya tunangan, apa kau lupa itu!!” teriak ayah Johan sambil menampar Johan untuk kedua kalinya.
“Hentikan, Paman!! Ini di depan kepala sekolah!!” teriak Russell menahan ayah Johan.
“Pak Sabrishion, tolong hentikan tindakan Anda!!” teriak Kepala Sekolah.
“Uuugh...”
Johan meringis kesakitan. Ia terjerembab di lantai, dan dari mulutnya mulai mengeluarkan air liur. Russell langsung menghampirinya.
“Johan, kau baik-baik saja? Bisa berdiri? Ayo kubantu” kata Russell sambil membantunya berdiri.
PLETAK! Suara tas jatuh menyadarkan mereka semua. Itu adalah suara tas Angelica yang terkejut melihat situasi itu. Johan dan Russell sangat terkejut. Angelica berusaha menghampirinya.
“Kak... kak Johan...” panggil Angelica pelan. Johan sedikit terengah-engah.
“... kenapa kau...” Johan berusaha bicara, namun tamparan ayahnya yang begitu keras membuatnya kesulitan bicara. Ia merasa mulutnya mati rasa.
SRET! Ayah Johan berdiri di hadapan Angelica dengan pandangan geram, menghalanginya yang ingin menghampiri Johan. Angelica sedikit terkejut.
“Kau wanita yang kemarin pergi dengan Johan, kan? Rupanya kau masih punya nyali untuk datang, hah!?” tanya ayah Johan dengan garang.
“A, aku... tidak seharusnya...”
Angelica terbata-bata. Walau ia takut, namun ia menguatkan diri untuk menghadapinya.
“Apa katamu!? Aku tidak mendengarnya, katakan dengan jelas!!” teriak ayah Johan hingga menggema ke seluruh ruangan.
Angelica mengepalkan kedua tangannya.
“Tidak seharusnya Anda memaksa kak Johan untuk terus-menerus belajar dan bekerja, kan!? Dia butuh istirahat dan penyegaran! Dan Anda sebagai orang tua seharusnya lebih paham hal itu!!” teriak Angelica.
“Apa katamu!?”
“Kami semua habis menghadapi ujian kemarin!! Seharusnya saat hari itu tiba Anda sebagai orang tua bekerja dua kali dan tidak membebani anak Anda dengan urusan pekerjaan, kan!? Kau marah hanya karena kak Johan tidak datang ke kantor Anda kemarin, itu bukan hal yang selalu dilakukan kak Johan bukan!!? Karenanya tidak seharusnya kau menghukum kak Johan lebih dari ini!!!” teriak Angelica yang berusaha membela Johan. Sylvie dan Russell terpana dengan kalimatnya, namun itu membuat ayahnya semakin geram.
“Kau... berani bicara begituuu~~!!!” teriak sang ayah.
Tangan Pak Sabrishion telah berada di atas udara hingga melayang dan akan mendaratkannya di pipi Angelica. Angelica ketakutan hingga memejamkan mata. Namun...
PLAK!!
Tangan itu melayang ke pipi Johan yang dengan cepat menghadang Angelica. Johan kembali terjerembab dengan mulut mengeluarkan darah.
“Kak Johan!!” teriak Angelica.
“Johan!!” teriak Russell sambil akan menghampiri mereka, namun Sylvie menahannya.
Sementara Angelica memangku kepala Johan sambil perlahan menangis.
“Ka... kak Johan... kak Johan, aku...”
Angelica terbata-bata. Johan menutup kepalanya dengan tangan, batuk hingga mengeluarkan darah yang terciprat hingga ke seragam Angelica, dan sedikit meringis kesakitan. Namun tak lama keadaan itu berlangsung, tiba-tiba ia mengangkat kepalanya, melihat ke arah Angelica dan tersenyum padanya. Hal itu membuatnya terpana dan tak sanggup menahan diri untuk menangis. Johan kembali berdiri dengan dibantu Angelica, dan mengarahkan pandangannya pada ayahnya dengan geram.
“Sekali lagi kau mendaratkan tanganmu padanya... jangan harap aku akan mau meneruskan untuk mengurus perusahaan itu!!!” teriak Johan mati-matian.
Kata-kata itu membuat yang lainnya kaget dan terpana. Terlebih Angelica yang masih berdiri di belakangnya dan memegang lengannya. Johan masih menatap ayahnya dengan geram. Hal itu membuat ayahnya semakin panas.
“Beraninya kau padaku, Johaaann!!!”
Ayahnya kembali bersiap menampar untuk ketiga kalinya. Russell dan Sylvie berteriak menyadarkan Johan.
“Johan!!”
“Kak Johan!!”
Namun Johan sudah pasrah. Ia memejamkan mata dan membiarkan dirinya ditampar. Tapi…
“Sudah cukup, hentikaaaaaann!!!!”
Angelica berteriak sambil melompat ke arah punggung Johan hingga mereka tersungkur di lantai. Ia menangis dengan keras di punggung Johan dengan melipat tangannya di pinggang Johan. Melihat hal itu, Johan yang awalnya kesakitan dengan perlakuan paksa dari Angelica tersebut kemudian berusaha meraih kepala Angelica, mengelusnya. Meski ia sendiri masih lemas tak bertenaga, hingga akhirnya pingsan. Tangis Angelica semakin deras.
“Dasar, anak bodoh! Minggir kau!” teriak Pak Sabrishion sambil menendang Angelica untuk menyingkir.
Namun Angelica tidak bergeming. Setelah Pak Sabrishion menghentikan perlakuan itu, Angelica berusaha menghentikan tangisnya, kemudian bangkit dan menatap pak Sabrishion dengan pandangan yang sama dengan Johan tadi.
“Anda... sudah keterlaluan, Paman!!!” teriak Angelica geram.
Pak Sabrishion semakin emosi, dan melayangkan tangannya lagi pada Angelica. Russell dan Kepala Sekolah berusaha menyadarkannya.
“Angelica!!! Minggir!!!
“Sandoras, menyingkir!!!”
Tanpa disadari, tangan pak Sabrishion berhenti. Ia terkejut mendengar nama keluarga Angelica yang disebut oleh kepala sekolah. Melihat itu, otomatis yang lainnya ikut terkejut. Angelica yang tadinya memejamkan mata karena takut, kini berusaha melihat ke arah Pak Sabrishion yang menghentikan perlakuannya. Ia sendiri terkejut melihat Pak Sabrishion yang menatapnya dengan penuh tanya. Menyadari situasinya, Russell menghampiri dan langsung membawa Angelica ke depan meja kepala sekolah bersama Sylvie. Pak Sabrishion mengikuti penglihatannya yang masih tertuju kepadanya. Kemudian Pak Sabrishion berjalan pelan ke arah Angelica, dengan Russell menghadangnya untuk mencegah.
“Kau... Sandoras...?” tanya pak Sabrishion pelan. Angelica pun terpana mendengar pertanyaan itu dari beliau…

0 comment:

Posting Komentar

 

Diana Rachmawati Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template