“A
|
pa kau... Sandoras...?”
“Eh...?”
Angelica terkejut saat nama keluarganya disebut oleh Pak Sabrishion~ayah
Johan. Russell dan Sylvie pun cukup terkejut saat melihat beliau menghentikan
tindakannya memukul Angelica. Russell berjaga di depannya, karena takut bahwa
itu hanyalah dalih darinya.
Beliau berjalan pelan ke arah Angelica. sementara Angelica sendiri
memandangnya dengan takut sekaligus bingung. Ia sedikit mengambil langkah
mundur. Akhirnya Pak Sabrishion berhenti sejauh tiga langkah dari tempat ia
berlindung pada Russell.
“Nama keluargamu... Sandoras...? siapa kau...?” tanya Pak Sabrishion
terbata-bata. Beliau masih
menunjukkan wajahnya yang terkejut saat mendengar
nama keluarga Angelica.
Ia sendiri awalnya ragu menjawab, namun kemudian berusaha menguatkan hati.
“Nama saya Angelica Steva Fiammatta Sandoras. Murid kelas 1-A yang diangkat
oleh putra Anda, Johan Robin Harcourt Sabrishion, menjadi wakil Dewan Siswa
sekolah ini” Angelica menjawabnya dengan tegas.
“Angelica...... apa kau... mengenal Anthony dan Lilica Sandoras...?” tanya
Pak Sabrishion.
Angelica yang sangat terkejut saat nama kedua orang yang sangat dikenalnya
disebut.
“...... bagaimana Anda tahu... nama ayah dan ibuku...?” tanya Angelica.
Russell dan Sylvie juga terkejut, dan bertanya-tanya dalam hati hal yang sama.
Namun tiba-tiba, Pak Sabrishion terhuyung-huyung.
“Syukurlah..... aku... bisa menemukannya.....” katanya pelan.
“Menemukan...?” tanya Angelica dengan nada bingung.
BRUK! Pak Sabrishion pun tergeletak di lantai. Semua yang ada disitu
langsung ribut menghampiri...
“Paman!”
“Pak Sabrishion!!”
Semua berusaha memanggil-manggil beliau. Tak lama kemudian penjaga beliau
datang dan akan mengantarnya ke rumah sakit bersama Johan yang juga pingsan.
Namun Russell dan Angelica menolak dan memilih untuk membawanya ke klinik
sekolah. Selama itu, Angelica masih mendekap Johan dalam pelukannya...
Di ruang klinik sekolah, sore hari setelah kejadian di ruang Kepala
Sekolah. Johan kehilangan kesadaran tak lama setelah Pak Sabrishion. Ia masih
tertidur di tempat tidur klinik dekat jendela yang dibiarkan terbuka. Angin
yang bertiup begitu semilir, dan Johan pun terbangun.
“Ah... kak Johan...” panggil seseorang yang merawatnya, yaitu...
“Angelica... ini...” Johan masih terasa asing dengan tempat itu.
“Di klinik sekolah. Sepertinya kau cukup shock...” jawab Angelica
menjelaskan keadaannya.
“Begitu, ya..”
Setelah berkata begitu, Johan berusaha bangkit dari tempat tidurnya.
Angelica yang tadinya menahan diri, tapi ia tak sanggup, hingga akhirnya ia
menangis.
“Hei... kenapa menangis, sih?” tanya Johan yang terkejut melihatnya.
“Maaf... maafkan aku... maafkan aku, kak Johan.. maaf...”
Angelica berusaha menahan air matanya keluar, namun ia tak mampu. Johan
jadi merasa bersalah melihatnya. Tanpa disadari, tangannya meraih Angelica dan
kemudian memeluknya.
“Maafkan aku... aku tidak menyangka akan jadi seperti ini... tidak
seharusnya aku membiarkanmu terlibat...” kata Johan sambil mengelus kepalanya.
Angelica masih terisak tangis dalam pelukannya.
“Tidak ada yang perlu dimintai maaf. Percayalah, semua akan baik-baik
saja...” katanya lagi.
Angelica mengangguk. Namun tangisnya malah semakin deras. Hingga angin dari
jendela pun kembali berhembus...
Setelah lebih baik, Angelica mengantar Johan menuju gerbang sekolah dimana
mobil yang menjemputnya sudah menunggunya.
“Saat di rumah sakit, pastikan kau juga periksa dirimu, ya” kata Angelica
memberi nasihat.
“Hmm...” Johan mengangguk.
“Sebentar lagi musim gugur. Festival akan segera dimulai. Lalu pesta dansa
juga. Kau tidak boleh melewatinya, kan? Tugas di Dewan Siswa serahkan padaku”
katanya lagi.
“Aku tahu... terima kasih, ya. Kau juga, segeralah kembali ke asrama. Hari
ini kau diizinkan pulang cepat, kan?”
“Ya... sampai nan... !!!”
Tiba-tiba Angelica kembali merasa badannya begitu buruk. Ia terjatuh begitu
saja dari tempatnya berdiri. Johan panik.
“Angelica!! Angelica, kau baik-baik saja!?!”
Angelica saat itu masih melihat wajah Johan yang begitu panik. Namun
perlahan-lahan semakin gelap. Hingga tak lama kemudian, ia tak sadarkan
diri.....
Angelica membuka matanya. Ia melihat sekelilingnya, dan tercium bau obat,
sehingga ia sadar ia di rumah sakit. Ia merasa badannya begitu berat, namun
tetap berusaha untuk bangkit. Saat berusaha menggerakkan tangan kanannya, ia
sadar ada yang menggandengnya, dan orang itu...
“Kak... Russell...” panggil Angelica.
Russell tertidur di sampingnya sambil mengenggam tangannya. Tidurnya begitu
pulas, sehingga ia tidak berani membangunkannya. Namun tak lama kemudian, ia
pun terbangun.
“Nngg~~ ukh, sakit.. ah... Angelica...!!” teriak Russell terkejut melihat
Angelica duduk di kasurnya.
“Kau sudah bangun, kak?” tanya Angelica pelan.
“Angelica! Kau baik-baik saja!? Ada yang sakit? Kau butuh sesuatu!?” tanya
Russell sambil memegan-megang organ tubuhnya yang ia pikir terluka.
“Tidak, kak. Aku tidak apa-apa, dan tidak butuh apapun” jawab Angelica
pelan, namun masih terdengar sedikit lemas.
“Haah... syukurlah...” Russell menghela nafas.
“Kenapa... aku ada disini? Apa yang terjadi? Hari apa ini?” tanya Angelica
kebingungan sambil melihat-lihat sekeliling kamar rumah sakitnya.
“Kau tidak ingat? Johan bilang kau tiba-tiba pingsan di depannya” jawab
Russell.
“Pingsan? Kenapa...”
‘Ah! Kejadian itu!’
Ia teringat kembali kejadian di ruang kepala sekolah. Ketika Johan dihajar
ayahnya di depan matanya. Badannya bergetar.
“Angelica, hentikan! Tolong lupakan hari itu. Itu akan mempengaruhi kondisimu.
Ya?” teriak Russell berusaha menyadarkan lamunannya saat itu.
“Ya... maafkan aku...” ucap Angelica sambil menunduk.
“Syukurlah...” kata Russell lagi sambil menghela nafas.
“Ngomong-ngomong, kak... bukankah ini musim panas? Kenapa kau pakai baju seperti
itu?” tanya Angelica heran, saat melihat Russell mengenakan kemeja rajut dan
vest serta celana bahan dan jas yang terlipat di bagian sandaran kursi di
tempat Russell duduk, dengan warna hampir senada.
“Ah... sekarang sudah musim gugur. Kau sudah tertidur dua minggu lebih”
jawab Russell khawatir.
“Apa!? Kalau begitu, festivalnya...!” Angelica sangat terkejut.
“Festivalnya masih minggu depan, kok. Jangan khawatir” kata Russell
berusaha menghentikan kekhawatirannya.
“Haah.. syukurlah... kalau begitu, kak Johan...” tanya Angelica khawatir.
Russell terdiam sebentar. Setelah menghela nafas, ia mulai menjelaskan keadaan
sebenarnya meski tidak ingin.
“Dia masih di sekolah. Sejak kejadian itu, ia berusaha keras membagi
waktunya antara bekerja, sekolah, dan kegiatannya di Dewan Siswa.
Perusahaannya, kini terkena masalah serius. Belum lagi hari festival yang sudah
dekat. Dia juga harus menjelaskan kesalahpahaman kenapa kalian pergi berdua
hari itu kepada semua siswa... Meski sibuk luar biasa, ia tetap berusaha kemari
untuk melihatmu, walau hanya punya waktu sedikit. Melihatnya seperti itu, aku
tidak tega. Karenanya aku berusaha meluangkan waktu untuk menjagamu. Sylvie dan
Harry juga membantu untuk menjagamu” jelas Russell panjang lebar.
‘Kak Johan...’
“Ia tersiksa setiap kali melihatmu yang pingsan seperti selama ini karena
ia merasa bersalah, meski sebenarnya itu hal sepele bagi orang-orang biasa,
namun tidak bagi kalangan kami. Karenanya... mewakili Johan, aku minta maaf
padamu...” ucap Russell sambil menundukkan kepalanya.
Mereka saling terdiam. Angelica menunduk. Ia menggenggam tangannya.
“...... kenapa...”
“Eh?” Russell terkejut.
“Kenapa... kak Johan... sampai seperti itu... aku tidak pernah memintanya melakukan hal
sampai seperti itu...... aku tak mau
melihatnya... terus mengorbankan diri sampai seperti itu! Hentikan! Kumohon,
hentikan... kak Russell... tolong hentikan kak Johan, kak! Kumohon...”
Angelica menunduk sambil menggenggam lengan Russell. Sementara Russell
sendiri menatapnya dengan sedih, kemudian tersenyum tipis.
“Angelica... kau masih tidak menyadarinya juga...? Johan... begitu
mencintaimu... saking cintanya, ia tidak pernah peduli dengan dirinya sendiri,
meski ia tahu orang yang dicintainya mencintai orang lain... melihatnya seperti
itu, selama ini aku takut jika ia mencintai orang yang salah... karenanya...”
“Tidak...!” teriak Angelica memotong kalimat Russell.
“Karena itu, tolong hentikan dia... aku tidak bisa... karena... aku
menyukai kakak!!”
Russell terkejut dengan pernyataan Angelica barusan. Angelica sendiri lebih
terkejut dengan kalimatnya sendiri. Wajahnya langsung berubah menjadi merah
padam.
“Angelica...” panggil Russell. Namun Angelica langsung menyesuaikan diri.
“Aku... menyukai kakak... sudah lama... sejak hari pertama aku tiba disini...
aku tahu kakak sudah punya tunangan tapi... aku tidak bisa... menghentikan
perasaan ini... aku... ingin bersama kak Russell...”
Angelica yang duduk di atas tempat tidur memeluk Russell sambil menangis.
Russell tidak tahu dan bingung harus bicara apa. Mereka berada di posisi itu
agak lama, hingga akhirnya Russell kembali bicara padanya.
“Kau yakin... dengan perasaanmu itu?” tanya Russell pelan.
Angelica mengangguk. Ia kemudian melepaskan pelukannya dan berusaha
menghentikan tangisnya, lalu menenangkan diri.
“Maaf... aku, tiba-tiba bicara seperti itu, tapi... itu perasaanku yang
sebenarnya...” kata Angelica pelan.
Mereka terdiam lagi. Russell berpikir keras bagaimana agar masalahnya ini
selesai. Akhirnya, ia menggenggam tangannya.
“Kita selesaikan ini dengan Johan nanti, ya... aku juga... suka padamu,
Angelica...” kata Russell pelan. Angelica langsung tersenyum.
“Kak Russell... terima kasih...” ucap Angelica bahagia.
Kemudian, mereka berpelukan lagi. Tanpa disadari bahwa, Johan yang tak lama
sebelumnya datang dan berada di depan kamar Angelica, mendengar pembicaraan
mereka. Ia hanya menunduk, kemudian pergi dari situ.
“Sudahlah... lagipula, memang ini tujuanku, kan...” katanya sambil berjalan
meninggalkan rumah sakit...
3 hari kemudian, Angelica kembali masuk sekolah.
“Angelicaaa! Syukurlah, selamat datang kembali ke sekolaaah~!” sambut
Sylvie di depan kelas sambil memeluk Angelica.
“Sylvie, Harry, maaf membuat kalian khawatir, ya” ucap Angelica sambil
menunduk.
“Dasar. Cafe-ku kerepotan tanpamu, nih! Tapi yang penting, kini kau
baik-baik saja. Nah, nanti akan kukirimkan catatan selama kau tidak masuk, ya”
kata Harry.
“Ya, maafkan aku. Terima kasih, Harry” ucap Angelica pada Harry.
“Nah, aku harus kembali ke kelas. Sampai nanti saat pulang sekolah” ucap
Russell yang mengantarkan Angelica ke kelasnya, sambil berlalu.
“Ah, ya. Terima kasih sudah mengantarku, kak” ucap Angelica. Russell
membalasnya dengan lambaian tangan. Harry pun kembali masuk ke kelas.
“Ngomong-ngomong, Angelica... sebenarnya apa yang terjadi, sih? Kau pingsan
sampai selama itu?” tanya Sylvie khawatir. Namun Angelica hanya tersenyum tipis
padanya...
“Aku sendiri... juga tidak tahu...”
Waktu pulang sekolah pun tiba. Angelica berjalan menaiki tangga menuju
lantai lima. Dan tepat di atas tangga lantai itu, Russell menunggunya dan
melambaikan tangan saat melihatnya muncul. Mereka pun berjalan bersama menuju
Ruang Dewan Siswa.
“Kak Johan sudah di Ruang Dewan Siswa?” tanya Angelica.
“Ya, dia pergi duluan tadi. Hari ini aku dapat giliran piket kelas, sih”
jawab Johan sambil memegang tablet di tangan kanannya. Ia sedang membaca saat
menunggu Angelica tadi.
“Begitu, ya. Eh...”
Saat itu, Johan yang baru akan masuk ke ruang Dewan Siswa, sadar bahwa
Angelica dan Russell ada di situ. Awalnya ia terkejut, namun kemudian tersenyum
senang.
“Kau sudah sadar!? Sejak kapan!?” tanya Johan sambil menghampiri mereka.
“Sore 3 hari yang lalu. Maafkan aku membuatmu khawatir, kak” ucap Angelica
sambil menunduk. Memang sejak Angelica sadar, Johan belum sempat lagi menjenguknya.
“Syukurlah... aku senang sekali! Kau baik-baik saja, kan? Hari ini kita
lembur, lho” kata Johan dengan nada meledek.
“Hee? Aku kan tidak dibayar di Dewan Siswa!” jawab Angelica protes.
“Hahaha, benar juga”
“Johan!”
Mendengar Russell memanggilnya, Johan yang saat itu sedang mengelus kepala
Angelica mendadak berhenti melakukannya. Ia menunduk hingga matanya tak
terlihat.
“Aku sudah tahu, kok... kalian sudah berpacaran kan...? Aku mendengarnya di
hari Angelica sadar... selamat untuk kalian berdua... jaga Angelica baik-baik,
ya, Russell...” kata Johan sambil menepuk pundak Russell.
Mendengar Johan berkata seperti itu, Russell sedikit terkejut melihat
reaksi Johan yang terlihat biasa saja. Sementara Angelica langsung trenyuh. Ada
rasa sakit yang begitu menusuk di hatinya. Jantungnya berdebar keras.
‘Apa...? kenapa... ini...’ tanya Angelica dalam hati.
“Tak usah kau minta, aku pasti akan menjaganya dengan baik, kok. Tapi untuk
sekarang, aku titip dia padamu, ya. Selesaikan tugas kalian hari ini! Aku akan
menunggu laporannya malam nanti!” perintah Russell pada mereka berdua sambil
berlalu.
“Kak Russell!” panggil Angelica. Russell hanya menatapnya.
“Jangan memaksakan diri, ya. Akan kutraktir kau makan malam seperti yang
kujanjikan waktu itu!” katanya lagi.
“Ya! Sampai nanti, kak!” sapa Angelica.
Melihat Angelica yang begitu bahagia saat itu, Johan tak mengangkat
kepalanya. Ia kemudian berbalik badan dan masuk ke ruang Dewan Siswa tanpa
bicara apa-apa. Sikap itu membuat Angelica heran, sekaligus merasa bersalah.
“Kak... itu... eeng...... maafkan aku...” kata Angelica sambil menunduk.
“Untuk apa?” tanya Johan sambil menutup pintu.
“Eeeh, itu... kau begitu mengkhawatirkanku, tapi aku malah... karena
itu...” Angelica masih memilih kata-kata yang tepat. Ia terlihat bingung.
“Tidak apa-apa” kata Johan tiba-tiba.
“Eh?”
“Aku memang sengaja membiarkan Russell menjagamu selama kau di rumah sakit.
Supaya pada saat kau membuka mata, orang yang kau cintai ada disampingmu. Semua
cewek berharap begitu, kan? Makanya...” Johan mengehentikan kalimatnya sendiri
karena tiba-tiba Angelica berteriak.
“Kakak benar-benar tidak apa-apa seperti ini!?!”
Mereka terdiam. Angelica kaget mendengar kata-katanya sendiri. Johan masih
terdiam di tempatnya berdiri. Kemudian dengan kecepatan kilat ia mengunci pintu
ruangan itu dan menghampiri Angelica....
Dan.....
0 comment:
Posting Komentar