Jumat, 27 Maret 2015

Wings of Melodies~LoveStory Edition - Chapter 17



“A
pa kau... Sandoras...?”
“Eh...?”
Angelica terkejut saat nama keluarganya disebut oleh Pak Sabrishion~ayah Johan. Russell dan Sylvie pun cukup terkejut saat melihat beliau menghentikan tindakannya memukul Angelica. Russell berjaga di depannya, karena takut bahwa itu hanyalah dalih darinya.
Beliau berjalan pelan ke arah Angelica. sementara Angelica sendiri memandangnya dengan takut sekaligus bingung. Ia sedikit mengambil langkah mundur. Akhirnya Pak Sabrishion berhenti sejauh tiga langkah dari tempat ia berlindung pada Russell.
“Nama keluargamu... Sandoras...? siapa kau...?” tanya Pak Sabrishion terbata-bata. Beliau masih
menunjukkan wajahnya yang terkejut saat mendengar nama keluarga Angelica.
Ia sendiri awalnya ragu menjawab, namun kemudian berusaha menguatkan hati.
“Nama saya Angelica Steva Fiammatta Sandoras. Murid kelas 1-A yang diangkat oleh putra Anda, Johan Robin Harcourt Sabrishion, menjadi wakil Dewan Siswa sekolah ini” Angelica menjawabnya dengan tegas.
“Angelica...... apa kau... mengenal Anthony dan Lilica Sandoras...?” tanya Pak Sabrishion.
Angelica yang sangat terkejut saat nama kedua orang yang sangat dikenalnya disebut.
“...... bagaimana Anda tahu... nama ayah dan ibuku...?” tanya Angelica. Russell dan Sylvie juga terkejut, dan bertanya-tanya dalam hati hal yang sama. Namun tiba-tiba, Pak Sabrishion terhuyung-huyung.
“Syukurlah..... aku... bisa menemukannya.....” katanya pelan.
“Menemukan...?” tanya Angelica dengan nada bingung.
BRUK! Pak Sabrishion pun tergeletak di lantai. Semua yang ada disitu langsung ribut menghampiri...
“Paman!”
“Pak Sabrishion!!”
Semua berusaha memanggil-manggil beliau. Tak lama kemudian penjaga beliau datang dan akan mengantarnya ke rumah sakit bersama Johan yang juga pingsan. Namun Russell dan Angelica menolak dan memilih untuk membawanya ke klinik sekolah. Selama itu, Angelica masih mendekap Johan dalam pelukannya...

Di ruang klinik sekolah, sore hari setelah kejadian di ruang Kepala Sekolah. Johan kehilangan kesadaran tak lama setelah Pak Sabrishion. Ia masih tertidur di tempat tidur klinik dekat jendela yang dibiarkan terbuka. Angin yang bertiup begitu semilir, dan Johan pun terbangun.
“Ah... kak Johan...” panggil seseorang yang merawatnya, yaitu...
“Angelica... ini...” Johan masih terasa asing dengan tempat itu.
“Di klinik sekolah. Sepertinya kau cukup shock...” jawab Angelica menjelaskan keadaannya.
“Begitu, ya..”
Setelah berkata begitu, Johan berusaha bangkit dari tempat tidurnya. Angelica yang tadinya menahan diri, tapi ia tak sanggup, hingga akhirnya ia menangis.
“Hei... kenapa menangis, sih?” tanya Johan yang terkejut melihatnya.
“Maaf... maafkan aku... maafkan aku, kak Johan.. maaf...”
Angelica berusaha menahan air matanya keluar, namun ia tak mampu. Johan jadi merasa bersalah melihatnya. Tanpa disadari, tangannya meraih Angelica dan kemudian memeluknya.
“Maafkan aku... aku tidak menyangka akan jadi seperti ini... tidak seharusnya aku membiarkanmu terlibat...” kata Johan sambil mengelus kepalanya.
Angelica masih terisak tangis dalam pelukannya.
“Tidak ada yang perlu dimintai maaf. Percayalah, semua akan baik-baik saja...” katanya lagi.
Angelica mengangguk. Namun tangisnya malah semakin deras. Hingga angin dari jendela pun kembali berhembus...

Setelah lebih baik, Angelica mengantar Johan menuju gerbang sekolah dimana mobil yang menjemputnya sudah menunggunya.
“Saat di rumah sakit, pastikan kau juga periksa dirimu, ya” kata Angelica memberi nasihat.
“Hmm...” Johan mengangguk.
“Sebentar lagi musim gugur. Festival akan segera dimulai. Lalu pesta dansa juga. Kau tidak boleh melewatinya, kan? Tugas di Dewan Siswa serahkan padaku” katanya lagi.
“Aku tahu... terima kasih, ya. Kau juga, segeralah kembali ke asrama. Hari ini kau diizinkan pulang cepat, kan?”
“Ya... sampai nan... !!!”
Tiba-tiba Angelica kembali merasa badannya begitu buruk. Ia terjatuh begitu saja dari tempatnya berdiri. Johan panik.
“Angelica!! Angelica, kau baik-baik saja!?!”
Angelica saat itu masih melihat wajah Johan yang begitu panik. Namun perlahan-lahan semakin gelap. Hingga tak lama kemudian, ia tak sadarkan diri.....

Angelica membuka matanya. Ia melihat sekelilingnya, dan tercium bau obat, sehingga ia sadar ia di rumah sakit. Ia merasa badannya begitu berat, namun tetap berusaha untuk bangkit. Saat berusaha menggerakkan tangan kanannya, ia sadar ada yang menggandengnya, dan orang itu...
“Kak... Russell...” panggil Angelica.
Russell tertidur di sampingnya sambil mengenggam tangannya. Tidurnya begitu pulas, sehingga ia tidak berani membangunkannya. Namun tak lama kemudian, ia pun terbangun.
“Nngg~~ ukh, sakit.. ah... Angelica...!!” teriak Russell terkejut melihat Angelica duduk di kasurnya.
“Kau sudah bangun, kak?” tanya Angelica pelan.
“Angelica! Kau baik-baik saja!? Ada yang sakit? Kau butuh sesuatu!?” tanya Russell sambil memegan-megang organ tubuhnya yang ia pikir terluka.
“Tidak, kak. Aku tidak apa-apa, dan tidak butuh apapun” jawab Angelica pelan, namun masih terdengar sedikit lemas.
“Haah... syukurlah...” Russell menghela nafas.
“Kenapa... aku ada disini? Apa yang terjadi? Hari apa ini?” tanya Angelica kebingungan sambil melihat-lihat sekeliling kamar rumah sakitnya.
“Kau tidak ingat? Johan bilang kau tiba-tiba pingsan di depannya” jawab Russell.
“Pingsan? Kenapa...”
‘Ah! Kejadian itu!’
Ia teringat kembali kejadian di ruang kepala sekolah. Ketika Johan dihajar ayahnya di depan matanya. Badannya bergetar.
“Angelica, hentikan! Tolong lupakan hari itu. Itu akan mempengaruhi kondisimu. Ya?” teriak Russell berusaha menyadarkan lamunannya saat itu.
“Ya... maafkan aku...” ucap Angelica sambil menunduk.
“Syukurlah...” kata Russell lagi sambil menghela nafas.
“Ngomong-ngomong, kak... bukankah ini musim panas? Kenapa kau pakai baju seperti itu?” tanya Angelica heran, saat melihat Russell mengenakan kemeja rajut dan vest serta celana bahan dan jas yang terlipat di bagian sandaran kursi di tempat Russell duduk, dengan warna hampir senada.
“Ah... sekarang sudah musim gugur. Kau sudah tertidur dua minggu lebih” jawab Russell khawatir.
“Apa!? Kalau begitu, festivalnya...!” Angelica sangat terkejut.
“Festivalnya masih minggu depan, kok. Jangan khawatir” kata Russell berusaha menghentikan kekhawatirannya.
“Haah.. syukurlah... kalau begitu, kak Johan...” tanya Angelica khawatir. Russell terdiam sebentar. Setelah menghela nafas, ia mulai menjelaskan keadaan sebenarnya meski tidak ingin.
“Dia masih di sekolah. Sejak kejadian itu, ia berusaha keras membagi waktunya antara bekerja, sekolah, dan kegiatannya di Dewan Siswa. Perusahaannya, kini terkena masalah serius. Belum lagi hari festival yang sudah dekat. Dia juga harus menjelaskan kesalahpahaman kenapa kalian pergi berdua hari itu kepada semua siswa... Meski sibuk luar biasa, ia tetap berusaha kemari untuk melihatmu, walau hanya punya waktu sedikit. Melihatnya seperti itu, aku tidak tega. Karenanya aku berusaha meluangkan waktu untuk menjagamu. Sylvie dan Harry juga membantu untuk menjagamu” jelas Russell panjang lebar.
‘Kak Johan...’
“Ia tersiksa setiap kali melihatmu yang pingsan seperti selama ini karena ia merasa bersalah, meski sebenarnya itu hal sepele bagi orang-orang biasa, namun tidak bagi kalangan kami. Karenanya... mewakili Johan, aku minta maaf padamu...” ucap Russell sambil menundukkan kepalanya.
Mereka saling terdiam. Angelica menunduk. Ia menggenggam tangannya.
“...... kenapa...”
“Eh?” Russell terkejut.
“Kenapa... kak Johan... sampai seperti itu...  aku tidak pernah memintanya melakukan hal sampai seperti itu......  aku tak mau melihatnya... terus mengorbankan diri sampai seperti itu! Hentikan! Kumohon, hentikan... kak Russell... tolong hentikan kak Johan, kak! Kumohon...”
Angelica menunduk sambil menggenggam lengan Russell. Sementara Russell sendiri menatapnya dengan sedih, kemudian tersenyum tipis.
“Angelica... kau masih tidak menyadarinya juga...? Johan... begitu mencintaimu... saking cintanya, ia tidak pernah peduli dengan dirinya sendiri, meski ia tahu orang yang dicintainya mencintai orang lain... melihatnya seperti itu, selama ini aku takut jika ia mencintai orang yang salah... karenanya...”
“Tidak...!” teriak Angelica memotong kalimat Russell.  
“Karena itu, tolong hentikan dia... aku tidak bisa... karena... aku menyukai kakak!!”
Russell terkejut dengan pernyataan Angelica barusan. Angelica sendiri lebih terkejut dengan kalimatnya sendiri. Wajahnya langsung berubah menjadi merah padam.
“Angelica...” panggil Russell. Namun Angelica langsung menyesuaikan diri.
“Aku... menyukai kakak... sudah lama... sejak hari pertama aku tiba disini... aku tahu kakak sudah punya tunangan tapi... aku tidak bisa... menghentikan perasaan ini... aku... ingin bersama kak Russell...”
Angelica yang duduk di atas tempat tidur memeluk Russell sambil menangis. Russell tidak tahu dan bingung harus bicara apa. Mereka berada di posisi itu agak lama, hingga akhirnya Russell kembali bicara padanya.
“Kau yakin... dengan perasaanmu itu?” tanya Russell pelan.
Angelica mengangguk. Ia kemudian melepaskan pelukannya dan berusaha menghentikan tangisnya, lalu menenangkan diri.
“Maaf... aku, tiba-tiba bicara seperti itu, tapi... itu perasaanku yang sebenarnya...” kata Angelica pelan.
Mereka terdiam lagi. Russell berpikir keras bagaimana agar masalahnya ini selesai. Akhirnya, ia menggenggam tangannya.
“Kita selesaikan ini dengan Johan nanti, ya... aku juga... suka padamu, Angelica...” kata Russell pelan. Angelica langsung tersenyum.
“Kak Russell... terima kasih...” ucap Angelica bahagia.
Kemudian, mereka berpelukan lagi. Tanpa disadari bahwa, Johan yang tak lama sebelumnya datang dan berada di depan kamar Angelica, mendengar pembicaraan mereka. Ia hanya menunduk, kemudian pergi dari situ.
“Sudahlah... lagipula, memang ini tujuanku, kan...” katanya sambil berjalan meninggalkan rumah sakit...

3 hari kemudian, Angelica kembali masuk sekolah.
“Angelicaaa! Syukurlah, selamat datang kembali ke sekolaaah~!” sambut Sylvie di depan kelas sambil memeluk Angelica.
“Sylvie, Harry, maaf membuat kalian khawatir, ya” ucap Angelica sambil menunduk.
“Dasar. Cafe-ku kerepotan tanpamu, nih! Tapi yang penting, kini kau baik-baik saja. Nah, nanti akan kukirimkan catatan selama kau tidak masuk, ya” kata Harry.
“Ya, maafkan aku. Terima kasih, Harry” ucap Angelica pada Harry.
“Nah, aku harus kembali ke kelas. Sampai nanti saat pulang sekolah” ucap Russell yang mengantarkan Angelica ke kelasnya, sambil berlalu.
“Ah, ya. Terima kasih sudah mengantarku, kak” ucap Angelica. Russell membalasnya dengan lambaian tangan. Harry pun kembali masuk ke kelas.
“Ngomong-ngomong, Angelica... sebenarnya apa yang terjadi, sih? Kau pingsan sampai selama itu?” tanya Sylvie khawatir. Namun Angelica hanya tersenyum tipis padanya...
“Aku sendiri... juga tidak tahu...”

Waktu pulang sekolah pun tiba. Angelica berjalan menaiki tangga menuju lantai lima. Dan tepat di atas tangga lantai itu, Russell menunggunya dan melambaikan tangan saat melihatnya muncul. Mereka pun berjalan bersama menuju Ruang Dewan Siswa.
“Kak Johan sudah di Ruang Dewan Siswa?” tanya Angelica.
“Ya, dia pergi duluan tadi. Hari ini aku dapat giliran piket kelas, sih” jawab Johan sambil memegang tablet di tangan kanannya. Ia sedang membaca saat menunggu Angelica tadi.
“Begitu, ya. Eh...”
Saat itu, Johan yang baru akan masuk ke ruang Dewan Siswa, sadar bahwa Angelica dan Russell ada di situ. Awalnya ia terkejut, namun kemudian tersenyum senang.
“Kau sudah sadar!? Sejak kapan!?” tanya Johan sambil menghampiri mereka.
“Sore 3 hari yang lalu. Maafkan aku membuatmu khawatir, kak” ucap Angelica sambil menunduk. Memang sejak Angelica sadar, Johan belum sempat lagi menjenguknya.
“Syukurlah... aku senang sekali! Kau baik-baik saja, kan? Hari ini kita lembur, lho” kata Johan dengan nada meledek.
“Hee? Aku kan tidak dibayar di Dewan Siswa!” jawab Angelica protes.
“Hahaha, benar juga”
“Johan!”
Mendengar Russell memanggilnya, Johan yang saat itu sedang mengelus kepala Angelica mendadak berhenti melakukannya. Ia menunduk hingga matanya tak terlihat.
“Aku sudah tahu, kok... kalian sudah berpacaran kan...? Aku mendengarnya di hari Angelica sadar... selamat untuk kalian berdua... jaga Angelica baik-baik, ya, Russell...” kata Johan sambil menepuk pundak Russell.
Mendengar Johan berkata seperti itu, Russell sedikit terkejut melihat reaksi Johan yang terlihat biasa saja. Sementara Angelica langsung trenyuh. Ada rasa sakit yang begitu menusuk di hatinya. Jantungnya berdebar keras.
‘Apa...? kenapa... ini...’ tanya Angelica dalam hati.
“Tak usah kau minta, aku pasti akan menjaganya dengan baik, kok. Tapi untuk sekarang, aku titip dia padamu, ya. Selesaikan tugas kalian hari ini! Aku akan menunggu laporannya malam nanti!” perintah Russell pada mereka berdua sambil berlalu.
“Kak Russell!” panggil Angelica. Russell hanya menatapnya.
“Jangan memaksakan diri, ya. Akan kutraktir kau makan malam seperti yang kujanjikan waktu itu!” katanya lagi.
“Ya! Sampai nanti, kak!” sapa Angelica.
Melihat Angelica yang begitu bahagia saat itu, Johan tak mengangkat kepalanya. Ia kemudian berbalik badan dan masuk ke ruang Dewan Siswa tanpa bicara apa-apa. Sikap itu membuat Angelica heran, sekaligus merasa bersalah.
“Kak... itu... eeng...... maafkan aku...” kata Angelica sambil menunduk.
“Untuk apa?” tanya Johan sambil menutup pintu.
“Eeeh, itu... kau begitu mengkhawatirkanku, tapi aku malah... karena itu...” Angelica masih memilih kata-kata yang tepat. Ia terlihat bingung.
“Tidak apa-apa” kata Johan tiba-tiba.
“Eh?”
“Aku memang sengaja membiarkan Russell menjagamu selama kau di rumah sakit. Supaya pada saat kau membuka mata, orang yang kau cintai ada disampingmu. Semua cewek berharap begitu, kan? Makanya...” Johan mengehentikan kalimatnya sendiri karena tiba-tiba Angelica berteriak.
“Kakak benar-benar tidak apa-apa seperti ini!?!”
Mereka terdiam. Angelica kaget mendengar kata-katanya sendiri. Johan masih terdiam di tempatnya berdiri. Kemudian dengan kecepatan kilat ia mengunci pintu ruangan itu dan menghampiri Angelica....
Dan.....

0 comment:

Posting Komentar

 

Diana Rachmawati Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template