Jumat, 08 Mei 2015

Wings of Melodies ~ Memories Edition - Chapter 3



A
nak perempuan itu kembali membuka mata dan kembali mendapati seorang anak laki-laki yang menangis di tengah hujan sambil terduduk. Ia pun bertanya lagi padanya.
“Hei, kenapa menangis lagi? Kau habis jatuh?”
Anak itu tidak bergeming. Mungkin ia tidak mendengar karena hujannya sangat deras, pikir anak perempuan itu. Penglihatannya kembali tertuju pada kotak indah yang tergeletak tak jauh dari anak laki-laki itu.
“Waah, kotaknya cantik sekali!” pujinya sambil beranjak mengambilnya. Tiba-tiba anak laki-laki itu menepisnya dengan kasar.
“Jangan sentuh!” teriaknya. “Kotak ini sangat penting!!”
Anak perempuan itu akhirnya menurunkan tangannya, kemudian melihat wajah si anak laki-laki yang tampak
marah.
“Memangnya apa isi kotak itu?” tanya anak perempuan itu begitu penasaran.
“Aku juga tidak tahu. Yang pasti, kotak itu adalah penentu takdir seseorang” jawabnya sambil menghapus air matanya. Anak perempuan itu memayunginya kemudian.
“Takdir siapa yang kau maksud?” tanya perempuan itu lagi.
Anak laki-laki itu terdiam sesaat. Kemudian melihat ke arah anak perempuan itu dengan pandangan tegas.
“Takdir seseorang... yang suatu saat harus hidup bersamaku... dan menerima masa laluku...”

Angelica membuka matanya perlahan-lahan dan melihat langit-langit yang terlihat tidak asing baginya. Ruang kesehatan sekolah, gumamnya pelan. Terdapat cahaya berwarna oranye masuk dari luar jendela, pertanda hari sudah sore. Kemudian melihat sekeliling, dan mendapati Johan sedang menelepon seseorang di pintu masuk. Tak lama, hingga akhirnya Johan menghampirinya dengan pandangan masih terkejut.
“Angie! Syukurlah kau sudah bangun dalam tiga jam! Aku takut kau tertidur sampai berhari-hari seperti sebelum-sebelumnya” gumam Johan mengutarakan kekhawatirannya. Ia mengelus kepala Angelica.
“Johan... anak laki-laki itu...” kata Angelica yang kemudian terpotong karena bingung.
“Anak laki-laki?” tanya Johan bingung. “Apa kau habis bermimpi sesuatu?”
“Ya... mimpi yang aneh belakangan ini... aku tak ingat detailnya, tapi aku menyapa seorang anak laki-laki yang menangis di tengah hujan deras, lalu...” Angelica kembali mengingat-ingat.
“Tidak ada anak laki-laki disini selain aku. Di luar juga tidak hujan sejak tadi pagi. Itu hanya mimpi” hibur Johan. Kemudian ia duduk di pinggir tempat tidur dan mendekatkan badannya ke badan Angelica.
“Kau baik-baik saja? Ada yang sakit selain yang terkena pukulan?” tanya Johan.
“Terpukul?” tanya Angelica tidak mengerti. Ia segera membuka selimut yang menutupi badannya dan terkejut.
Stocking hitam yang biasa ia kenakan telah dibuka dan terdapat beberapa lecet kecil. Rompi seragamnya pun telah dilepas sehingga hanya dress bagian dalamnya yang terlihat. Bagian lengannya telah dilipat hingga ketiak, dan terdapat lebam biru yang telah diperban. Kemudian ia memegang perutnya yang terasa sakit, yang ternyata diperban melilit pinggangnya. Ia perlahan bangkit dari tidurnya dan merasa sakit di kepalanya, yang juga diperban karena berdarah. Johan membantunya bangkit.
“Johan... apa yang terjadi padaku?” tanya Angelica shock. Johan menghela napas sesaat, dan memasang tampang serius.
“Tadi kau berkelahi dengan lima orang cewek di restroom, dengan alasan hanya karena iri kau dekat dengan kami berdua. Mereka sedang menghadap Dewan Perguruan Siswa karena melukai seorang anggota Dewan Siswa, tapi sayangnya kami tak bisa membelamu karena tak ada saksi. Kau juga harus menghadap mereka setelah lebih baik” jelas Johan sambil meraba-raba badan Angelica untuk memastikan tak ada yang terluka lagi.
“Sekilas tadi kau hanya luka lecet, tapi ternyata bagian vital badanmu banyak yang lebam” kata Johan lagi.
“Hanya karena alasan seperti itukah..? aduh!” tanya Angelica sambil berteriak kesakitan saat Johan meraba tengkuk leher belakangnya yang ternyata membiru.
“Begitulah yang kudengar. Ternyata di sini juga membiru perlahan, padahal tadi kelihatan tidak apa-apa” jawab Johan sambil menggumam. Ia pun segera mengambil tindakan.
“Yaah, badanku beberapa kali dihantam ke tembok. Rasanya sekujur tubuh bagian belakangku sakit semua” keluh Angelica.
Johan menggigit bibir, ia terlihat berpikir sesuatu sambil memperban leher Angelica, dan beranjak dari tempat tidur.
“Johan?” panggil Angelica bingung.
“Sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang. Kau harus mengambil CT scan seluruh bagian badanmu. Dokter sekolah juga sudah memberi surat rujukannya tadi setelah memeriksamu. Ayo!” ajak Johan sambil mengangkat badan Angelica.
“Eh, tunggu! Lalu Dewan Perguruan Siswanya bagaimana!?” tanya Angelica sambil berusaha keras memberontak namun percuma, sekujur badannya sakit semua.
“Besok juga tidak masalah. Russell sudah tahu kondisimu, karenanya ia akan mengambil tindakan yang semestinya saja” jawab Johan dengan pandangan khawatir.
“Johan...” panggil Angelica pelan. Ia cemas melihat Johan berwajah merasa bersalah. Tanpa berkata apa-apa, Johan mengambil tas mereka dan rompi seragam Angelica, kemudian beranjak dari situ...

Di gedung Dewan Perguruan Siswa, kelima gadis yang membuli Angelica duduk berderetan di ruang yang menyerupai ruang rapat. Di sisi kanan mereka para anggota Dewan Siswa SMA duduk berderetan. Sementara kelima anggota utama Dewan Perguruan Siswa berada di depan mereka.
Perguruan Afiliasi Universitas Escoriale merupakan Perguruan yang terdiri dari sekolah SD sampai Universitas. Dari setiap bagian sekolah, tentu saja mereka punya organisasi yang disebut Dewan Siswa. Untuk mengkoordinir setiap Dewan Siswa bagian sekolah, maka dibentuklah Dewan Perguruan Siswa, yaitu organisasi tingkat Perguruan ini. Tujuannya untuk melindungi dan menjaga keharmonisan para siswa setiap bagian sekolah serta membantu mengatasi tindakan para siswa  bermasalah tiap bagian sekolah yang sudah diluar batas kemampuan Dewan Siswa untuk ditangani. Anggota Dewan Perguruan Siswa terdiri dari siswa dari tingkat SD hingga mahasiswa Universitas.
“Kalian berlima, apa kalian sadar sampai mana tindakan kalian hanya karena alasan sepele seperti itu?” tanya Grace Anderson, wakil ketua Dewan Perguruan Siswa, adalah mahasiswa yang duduk di tingkat tiga jurusan Farmasi Universitas Escoriale.
“Ya” jawab si anak kelas tiga, yang akhirnya diketahui bernama Katy Lawrence, anak pengacara yang cukup terkenal di kalangan hukum. Aldias yang keluarganya bergerak di bidang hukum-lah yang mengenalnya. Lagipula, gadis itu seangkatan dengannya.
“Apa alasanmu melakukan hal ini, benar-benar murni hanya karena ia dekat dengan kak Johan dan kak Russell kami?” tanya Mark Flencer, bagian Keamanan, siswa kelas dua SMP.
“Ya, tapi mungkin juga tidak” jawab Katy. “Ada yang menyuruh kami melakukan ini”
“Siapa dia?” tanya Mark.
“Aku tidak bisa memberitahu, apapun yang terjadi” jawab Katy tegas.
Grace yang memimpin tindakan itu terdiam sesaat, kemudian melihat ke arah Russell yang duduk di sudut sambil memainkan HP-nya dengan asyik.
“Ketua, tolong jaga sikapmu” ucap Grace dengan sopan.
“Sudah kubilang, semua ini percuma” jawab Russell sambil berdiri.
Russell Brian Micheline Orlando, laki-laki yang menjabat sebagai ketua Dewan Perguruan Siswa ini duduk di kelas 2 SMA. Ia merupakan teman sekelas sekaligus teman masa kecil Johan. Russell sudah menjabat posisi ini selama 3 tahun dan tak tergantikan, meski ia masih SMA. Ia sangat tegas, perfeksionis, dan sangat disegani oleh semua orang di Perguruan. Ia merupakan pewaris perusahaan pertambangan milik keluarganya yang cukup besar.
“Apa maksud kakak?” tanya Mark tidak mengerti. “Bukankah ini masalah serius, melakukan tindakan bully di lingkungan sekolah dan korbannya adalah wakil ketua Dewan Siswa sekolah, yang juga pacarmu?” lanjut Mark lagi.
Ia dan Angelica memang pernah dekat, dan pernah menjalin hubungan. Namun Angelica akhirnya memilih Johan sebagai pendampingnya. Walau begitu, hal ini harus dirahasiakan sampai ‘keadaan’ di lingkungan sekolah mereda.
“Begitulah. Tapi, Angelica terluka dan sedang dibawa ke rumah sakit oleh Johan untuk menjalani CT scan. Lukanya cukup parah, dan tulang di tengkuk lehernya mengalami retak” jawab Russell, sambil menatap sinis kelima wanita itu, yang spontan membuat mereka takut.
“Lalu apa yang harus kami lakukan?” tanya Grace.
“Kita hanya bisa menunggu” jawab Russell. “Kita panggil mereka berlima untuk kembali kesini besok, beserta Johan dan Angelica. Mereka berdua jelas tak bisa hadir hari ini juga. Karenanya, kalian lolos untuk hari ini. Entah bagaimana besok, ya...” lanjut Russell dengan pandangan menantang.
Kelima gadis itu saling bertatapan. Mereka sama-sama ketakutan ‘dipecat’ dari sekolah itu. Dewan Perguruan Siswa memang memiliki wewenang untuk mengeluarkan siswa dari sekolah karena tindakan yang sudah merugikan sekolah, atau perkelahian antar siswa yang sudah diluar batas kemampuan Dewan Siswa untuk menanganinya. Dan biasanya, siswa yang ‘dipecat’ dari sekolah Escoriale sulit diterima di sekolah elit lainnya dan hanya bisa diterima di sekolah negeri biasa, itupun dengan persyaratan tertentu.
“Baiklah jika memang begitu” jawab Grace. Ia melakukan sesuatu di tabletnya, kemudian memberi arahan.
“Aku sudah mengirimkan surat pemberitahuan pada kalian lewat e-mail sekolah kalian. Sepulang sekolah, kalian harus kembali kesini. Sandoras dan Orlando, serta anggota Dewan Siswa yang lain juga sudah kukirimi surat yang sama untuk bertindak sebagai saksi. Dan jika kalian tidak datang besok, pemecatan instan diberlakukan untuk kalian” jelas Grace dengan tenang.
Kelima gadis itu terkejut, dan menatap ke arah anggota Dewan Siswa. Patricia, Aldias dan Michaelis hanya menghela napas. Patricia menjawab...
“Kami akan mengawasi mereka...”

Langit sudah gelap. Jam di sekolah berdentang delapan kali. Johan sedang berada di kamar asrama putri Angelica, menemaninya yang sedang tertidur karena dibius sejak dari rumah sakit dan belum sadar juga, dengan tangan kanannya yang dimasuki selang infus. Ia menggenggam tangan kirinya, sambil sesekali mengelus kepala dan rambutnya yang berwarna pirang dan sedikit berantakan. Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu. Johan beranjak dan membukakan pintu.
“Sylvie...” panggil Johan.
“Kak Johan belum makan malam, kan? Ini kubawakan. Walau cuma makanan dari kantin asrama, sih” kata Sylvie sambil menyerahkan nampan.
“Terima kasih” ucap Johan lemas.
“Kau baik-baik saja? Wajahmu sedikit pucat dan lemas” tanya Sylvie yang nampak begitu khawatir.
“Tidak apa-apa. Sebenarnya aku tidak selelah itu. Aku makan!” jawab Johan sambil meletakkan nampan di meja pemanas dan bersiap makan.
Sylvie ikut duduk di seberang Johan, melihat Angelica dengan pandangan sedih. Kemudian mengalihkan pandangan lagi pada Johan.
“Sebenarnya apa yang terjadi dengan Angelica, kak?” tanya Sylvie pelan.
“Tadi sore setelah latihan, Angie dibuli oleh beberapa, hmm... mereka bilang, fans-ku dan Russell. Dengan alasan yang sudah kau tahu pastinya” jawab Johan. “Mereka sudah ditindak oleh Russell dan anggota Dewan Perguruan lain” lanjutnya sambil menyuap makanan.
“Kalau itu, aku sudah tahu, tapi... kecemasanmu itu, bukan hanya karena hal ini, kan?” tanya Sylvie meyakinkan.
Johan menghentikan suapan keempatnya, dan perlahan meletakkan sendoknya lagi ke atas piring. Ia menundukan kepala dan menggenggam tangannya hingga gemetar.
“Yang kukhawatirkan... adalah penyakit Angie...” jawab Johan pelan sambil menggigit bibir.
“Penyakit... Angelica...?” tanya Sylvie tidak mengerti...

Di Rumah Sakit, Angelica menjalani CT Scan serta medical check-up atas permintaan Johan tanpa diketahui Angelica sendiri.
“Dia baik-baik saja. Retakan tulang di leher belakangnya akan sembuh dalam 3 minggu, dan luka lebam lainnya akan segera sembuh” jelas Dokter Albert, dokter yang sebenarnya biasa memeriksa Angelica setiap kali ia tak sadarkan diri, yang merupakan dokter pribadi keluarga Sabrishion.
“Syukurlah” ucap Johan. “Lalu, hasil check-up nya?” tanya Johan lagi.
“Soal penyakitnya, ya...” Dokter Albert menghela napas. Kemudian menyerahkan suatu kumpulan berkas hasil check-up Angelica.
“Silakan dilihat bagian ini” perintah Dokter.
Johan melihatnya dengan seksama. Ia membuka beberapa halaman lagi, dan sangat terkejut.
“Ini...!!” Johan tersentak. Dokter Albert memejamkan mata, berpikir sesaat.
“Ya. Belum pernah terjadi hal seperti ini sejak saya menjadi dokter. Bahkan... mungkin pertama kalinya di dunia kedokteran. Namun yang bisa saya simpulkan, Nona Sandoras mengalami trauma berkepanjangan yang menyebabkan ia tak mampu melihat kejadian yang mengejutkan hingga di luar pikirannya. Hal itu membuatnya berdebar-debar keras, ketakutan, hingga tak sadarkan diri dalam waktu lama. Bisa juga, hanya karena pikiran buruk yang mungkin akan menimpa orang terdekatnya...” jelasnya.
Berkas yang dipegang Johan bergetar. Ia menunduk, membayangkan kejadian terburuk yang mungkin akan menimpanya.
“Selain itu, Nona Sandoras juga... berisiko terkena hepatitis A” jelas Dokter Albert dengan wajah sedih.
Johan kembali terkejut dengan mata terbelalak. Ia melihat ke arah Angelica yang masih tertidur karena dibius dengan tatapan nanar. Perlahan ia meletakkan tangan yang memegang berkas itu ke atas meja.
“Anda tidak apa-apa, tuan muda?” tanya dokter Albert.
“Berarti Angelica... tidak bisa memiliki keturunan, kan?” tanya Johan pelan.
“Ini baru risiko, tuan muda” jawab dokter Albert berusaha tenang. “Risiko itu masih bisa kita hilangkan dengan tindakan medis, tapi... kemungkinannya hanya tiga puluh, bahkan dua puluh persen” lanjutnya.
Johan masih tidak bergeming dari tundukannya. Ia tak kuasa menahan shocknya dan menenggelamkan wajah dalam lipatan tangannya. Dokter Albert yang tak bisa berbuat apa-apa, hanya menepuk-nepuk pundaknya, berusaha menguatkan...

“Itu... bohong, kan...?” tanya Sylvie dengan badan bergetar.
Johan hanya menyendok kembali makanannya dan memasukkannya ke mulut, tanpa berkata apa-apa karena ia sendiri sudah nyaris putus asa.
“I, ini baru resiko! Ya, resiko!” teriak Sylvie menenangkan. “Kita pasti bisa mengusahakan sesuatu agar Angelica bisa segera sembuh! Toh lebih cepat lebih baik!” katanya lagi, dengan pandangan masih tidak percaya. Johan kembali mengangkat kepalanya.
“Ya. Kuharap begitu” jawab Johan sambil tersenyum, dengan dipaksakan.
“Kalian tidak perlu melakukannya” cegah sebuah suara. Mereka berdua terkejut dan berpaling pada...
“Angelica!” teriak Sylvie.
Johan bangkit dan mendekati Angelica. Ia duduk di sisi tempat tidur Angelica dan mengelus kepalanya.
“Lama sekali kau tertidur. Padahal dokter tadi bilang paling lama dua jam kau tertidur” kata Johan.
“Obat bius itu... entah kenapa berlaku hingga dua kali lipat untuk badanku. Jika obat bius itu membuatku tertidur dua jam, aku akan tertidur selama empat jam” jawab Angelica.
“Kenapa bisa begitu?” tanya Sylvie tidak mengerti.
“Aku sendiri tidak mengerti. Mungkin karena penyakitku” jawab Angelica pelan.
Johan dan Sylvie terkejut. Mereka saling bertatapan.
“Aku mendengar percakapan kalian tadi” kata Angelica pelan. Johan dan Sylvie menatapnya dengan sedih.
“Tapi kalian tidak perlu khawatir” katanya lagi. “Aku tahu kondisi badanku sendiri. Karenanya aku akan baik-baik saja. Maaf sudah menyusahkan kalian”
Johan dan Sylvie tersenyum mendengarnya.
“Syukurlah...”

Keesokan harinya, Angelica kembali sehat seperti biasa. Ia minta maaf pada Harry karena sudah melewatkan part-time kemarin, namun Harry sudah memakluminya. Sidang yang dijalani setelah latihan olahraga pun berakhir dengan ‘pemecatan’ Katy Lawrence dari SMA Escoriale yang dianggap sebagai biang keladi, serta siswi lainnya diberi skors satu minggu. Angelica mengajukan keberatan, namun tidak diterima oleh Russell. Sebagai gantinya, Russell memberinya akses pindah ke sekolah negeri biasa tanpa persyaratan, karena beberapa bulan lagi Katy akan mengikuti ujian masuk kuliah dan pindah karena dipecat dari Escoriale tidak mudah diterima sekolah lain. Dan masalah itu pun berakhir...

Siang hari setelah sidang.
“Kak Lawrence?” panggil Angelica.
Katy sedang berada di bukit yang masih merupakan tanah Perguruan Escoriale. Dari bukit itu, tampak pemandangan seluruh sekolah yang sangat luar biasa terlihat dari sana. Angin bertiup dan daun-daun berguguran.
“Sudah masuk musim dingin, anginnya sedikit menusuk tulang” pinta Katy. Ia melihat ke arah sekolah dengan sedih. “Bodohnya aku...”
Angelica melihat Katy dengan pandangan sedih. Johan yang berada di belakangnya hanya menatapnya dalam diam.
“Kak Lawrence, sebenarnya siapa yang memintamu melakukan ini?” tanya Angelica pelan.
Katy memejamkan matanya, kemudian membukanya kembali.
“Aku tidak bisa mengatakannya. Hal ini menyangkut karir ayahku” jawab Katy. “Ayahku terancam dipecat dari firma hukum tempat ia bekerja karena dianggap memfitnah kliennya karena sebuah kasus, karena ayahku tidak menyangkal bukti yang diberikan pengacara lawannya. Namun orang itu berjanji akan melakukan sesuatu agar ayahku tidak dipecat. Sebagai gantinya, aku tak boleh memberitahu bahwa ia melakukannya. Dan, aku tak boleh keberatan dipecat dari sekolah ini” lanjutnya sambil menangis.
“Kau ini... kenapa tidak sampaikan keluhan itu pada Dewan Siswa, sih” kata Johan sambil menghela napas.
“Benar, kak. Dewan Siswa kan punya anggota yang keluarganya mempunyai firma hukum. Kau bisa bicara dengannya” lanjut Angelica.
“Anggota Dewan Siswa?” tanya Katy tidak mengerti.
“Hooi, kau lupa padaku? Padahal kita sekelas tahun lalu, lho!” teriak seseorang.
“Kak Aldias!” panggil Angelica.
“Aldias... benar juga! Keluarga Howard, kan...!” teriak Katy terkejut saat mengingat Aldias dan bidang pekerjaan keluarganya.
Angelica terkejut melihat kedatangan Aldias, namun Johan sudah menduganya. Aldias menghampiri Katy dan menunjukkan isi tabletnya.
“Ayahmu Ned Lawrence, bekerja di firma hukum A, kan? Ia terancam dipecat karena ditekan oleh para pengacara senior yang tak mau bertanggung jawab atas kasus korupsi seorang klien yang merupakan pemilik bisnis permata terhadap salah satu anak perusahaannya. Lebih baik, ayahmu segera membuat surat pengunduran diri dan silakan pindah di firma hukum keluargaku. Kami sangat menerima pengacara berkaliber seperti ayahmu, lho!” jelas Aldias.
Katy terkejut mendengar tawaran itu. Matanya berkaca-kaca hingga air matanya hampir keluar. “Apa... sungguh boleh?” tanya Katy pelan.
“Seandainya kau mengatakannya lebih cepat, aku bisa membatalkan keputusan Russell. Lagipula, kasus itu sudah terdengar di firma hukum keluargaku dan aku yakin pengacara seperti dia tidak bersalah” jawab Aldias.
“Russell itu kalau sudah mengambil keputusan, dia tidak akan menariknya lagi. Tapi kau masih bersyukur bahwa ia masih memberimu akses mudah ke sekolah negeri” lanjut Johan.
Katy kali ini benar-benar menangis hingga sesenggukan. Ini kali pertama ia merasa ‘tertolong’ oleh semua itu, meski terlambat. Ia sadar, tak peduli sekuat apapun ia mengetahui kebenaran, yang terbaik adalah mengungkapkan kebenaran itu sendiri. Karena selama-lamanya bangkai disimpan, pasti akan tercium juga. Tak hanya Katy, Angelica, Johan, dan Aldias sama-sama mendapat pelajaran atas kejadian itu. Nasi telah menjadi bubur, namun Katy tak ingin menyerah. Angelica hanya bisa memegang pundak Katy tanpa bicara apa-apa. Ia berterima kasih pada Aldias setelahnya, kemudian, ia resmi pindah ke sekolah negeri biasa di Bloomsbury. Dan pertemuan itu diakhiri dengan perpisahan Katy dengan Angelica dan para anggota Dewan Siswa lainnya..

Beberapa hari kemudian, sehari sebelum festival olahraga.
“Selamat siang, Senior!” sapa Angelica dari luar ruang Dewan Siswa.
“Siang, Angelica. ayo duduk!” ajak Patricia.
“Kau baik-baik saja hari ini, Angie?” tanya Johan.
“Ya! Sangat baik!” jawab Angelica semangat.
“Syukurlah” ucap Johan. Ia bangkit dari tempat duduknya dan memulai rapat.
“Baiklah semuanya. Besok adalah festival olahraga yang kita tunggu-tunggu. Ayo persiapkan dan jalani dengan semangat!” teriak Johan menyemangati.
“Yaaa!!” balas para anggota tak kalah semangat.
Kemudian hp Angelica berbunyi, tanda email masuk. Ia membuka email tersebut. Terkejut sesaat, namun tersenyum senang.
“Angie, ayo!” ajak Johan keluar. Angelica hanya mengangguk dan meletakkan hp-nya di meja. Foto Katy terpajang di layar hp-nya bersama teman-teman di sekolah barunya dengan senang. Selain foto, terdapat pesan berisi...

‘Aku tak akan kalah di sekolah baruku...!'

0 comment:

Posting Komentar

 

Diana Rachmawati Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template