A
|
nak perempuan itu kembali membuka mata
dan kembali mendapati seorang anak laki-laki yang menangis di tengah hujan
sambil terduduk. Ia pun bertanya lagi padanya.
“Hei, kenapa menangis lagi? Kau habis
jatuh?”
Anak itu tidak bergeming. Mungkin ia
tidak mendengar karena hujannya sangat deras, pikir anak perempuan itu.
Penglihatannya kembali tertuju pada kotak indah yang tergeletak tak jauh dari
anak laki-laki itu.
“Waah, kotaknya cantik sekali!” pujinya
sambil beranjak mengambilnya. Tiba-tiba anak laki-laki itu menepisnya dengan
kasar.
“Jangan sentuh!” teriaknya. “Kotak ini
sangat penting!!”
Anak perempuan itu akhirnya menurunkan
tangannya, kemudian melihat wajah si anak laki-laki yang tampak
marah.
“Memangnya apa isi kotak itu?” tanya
anak perempuan itu begitu penasaran.
“Aku juga tidak tahu. Yang pasti, kotak
itu adalah penentu takdir seseorang” jawabnya sambil menghapus air matanya.
Anak perempuan itu memayunginya kemudian.
“Takdir siapa yang kau maksud?” tanya
perempuan itu lagi.
Anak laki-laki itu terdiam sesaat.
Kemudian melihat ke arah anak perempuan itu dengan pandangan tegas.
“Takdir seseorang... yang suatu saat
harus hidup bersamaku... dan menerima masa laluku...”
Angelica membuka matanya
perlahan-lahan dan melihat langit-langit yang terlihat tidak asing baginya.
Ruang kesehatan sekolah, gumamnya pelan. Terdapat cahaya berwarna oranye masuk
dari luar jendela, pertanda hari sudah sore. Kemudian melihat sekeliling, dan
mendapati Johan sedang menelepon seseorang di pintu masuk. Tak lama, hingga akhirnya
Johan menghampirinya dengan pandangan masih terkejut.
“Angie! Syukurlah kau sudah
bangun dalam tiga jam! Aku takut kau tertidur sampai berhari-hari seperti
sebelum-sebelumnya” gumam Johan mengutarakan kekhawatirannya. Ia mengelus
kepala Angelica.
“Johan... anak laki-laki
itu...” kata Angelica yang kemudian terpotong karena bingung.
“Anak laki-laki?” tanya Johan
bingung. “Apa kau habis bermimpi sesuatu?”
“Ya... mimpi yang aneh
belakangan ini... aku tak ingat detailnya, tapi aku menyapa seorang anak laki-laki
yang menangis di tengah hujan deras, lalu...” Angelica kembali mengingat-ingat.
“Tidak ada anak laki-laki
disini selain aku. Di luar juga tidak hujan sejak tadi pagi. Itu hanya mimpi”
hibur Johan. Kemudian ia duduk di pinggir tempat tidur dan mendekatkan badannya
ke badan Angelica.
“Kau baik-baik saja? Ada yang
sakit selain yang terkena pukulan?” tanya Johan.
“Terpukul?” tanya Angelica
tidak mengerti. Ia segera membuka selimut yang menutupi badannya dan terkejut.
Stocking hitam yang biasa ia
kenakan telah dibuka dan terdapat beberapa lecet kecil. Rompi seragamnya pun
telah dilepas sehingga hanya dress bagian dalamnya yang terlihat. Bagian
lengannya telah dilipat hingga ketiak, dan terdapat lebam biru yang telah
diperban. Kemudian ia memegang perutnya yang terasa sakit, yang ternyata
diperban melilit pinggangnya. Ia perlahan bangkit dari tidurnya dan merasa
sakit di kepalanya, yang juga diperban karena berdarah. Johan membantunya
bangkit.
“Johan... apa yang terjadi
padaku?” tanya Angelica shock. Johan menghela napas sesaat, dan memasang
tampang serius.
“Tadi kau berkelahi dengan lima
orang cewek di restroom, dengan alasan hanya karena iri kau dekat dengan kami
berdua. Mereka sedang menghadap Dewan Perguruan Siswa karena melukai seorang
anggota Dewan Siswa, tapi sayangnya kami tak bisa membelamu karena tak ada
saksi. Kau juga harus menghadap mereka setelah lebih baik” jelas Johan sambil
meraba-raba badan Angelica untuk memastikan tak ada yang terluka lagi.
“Sekilas tadi kau hanya luka
lecet, tapi ternyata bagian vital badanmu banyak yang lebam” kata Johan lagi.
“Hanya karena alasan seperti
itukah..? aduh!” tanya Angelica sambil berteriak kesakitan saat Johan meraba
tengkuk leher belakangnya yang ternyata membiru.
“Begitulah yang kudengar.
Ternyata di sini juga membiru perlahan, padahal tadi kelihatan tidak apa-apa”
jawab Johan sambil menggumam. Ia pun segera mengambil tindakan.
“Yaah, badanku beberapa kali
dihantam ke tembok. Rasanya sekujur tubuh bagian belakangku sakit semua” keluh
Angelica.
Johan menggigit bibir, ia
terlihat berpikir sesuatu sambil memperban leher Angelica, dan beranjak dari
tempat tidur.
“Johan?” panggil Angelica
bingung.
“Sebaiknya kita ke rumah sakit
sekarang. Kau harus mengambil CT scan seluruh bagian badanmu. Dokter sekolah
juga sudah memberi surat rujukannya tadi setelah memeriksamu. Ayo!” ajak Johan
sambil mengangkat badan Angelica.
“Eh, tunggu! Lalu Dewan
Perguruan Siswanya bagaimana!?” tanya Angelica sambil berusaha keras
memberontak namun percuma, sekujur badannya sakit semua.
“Besok juga tidak masalah.
Russell sudah tahu kondisimu, karenanya ia akan mengambil tindakan yang
semestinya saja” jawab Johan dengan pandangan khawatir.
“Johan...” panggil Angelica
pelan. Ia cemas melihat Johan berwajah merasa bersalah. Tanpa berkata apa-apa,
Johan mengambil tas mereka dan rompi seragam Angelica, kemudian beranjak dari
situ...
Di gedung Dewan Perguruan
Siswa, kelima gadis yang membuli Angelica duduk berderetan di ruang yang
menyerupai ruang rapat. Di sisi kanan mereka para anggota Dewan Siswa SMA duduk
berderetan. Sementara kelima anggota utama Dewan Perguruan Siswa berada di
depan mereka.
Perguruan Afiliasi Universitas Escoriale
merupakan Perguruan yang terdiri dari sekolah SD sampai Universitas. Dari
setiap bagian sekolah, tentu saja mereka punya organisasi yang disebut Dewan
Siswa. Untuk mengkoordinir setiap Dewan Siswa bagian sekolah, maka dibentuklah
Dewan Perguruan Siswa, yaitu organisasi tingkat Perguruan ini. Tujuannya untuk
melindungi dan menjaga keharmonisan para siswa setiap bagian sekolah serta
membantu mengatasi tindakan para siswa
bermasalah tiap bagian sekolah yang sudah diluar batas kemampuan Dewan
Siswa untuk ditangani. Anggota Dewan Perguruan Siswa terdiri dari siswa dari
tingkat SD hingga mahasiswa Universitas.
“Kalian berlima, apa kalian
sadar sampai mana tindakan kalian hanya karena alasan sepele seperti itu?”
tanya Grace Anderson, wakil ketua Dewan Perguruan Siswa, adalah mahasiswa yang
duduk di tingkat tiga jurusan Farmasi Universitas Escoriale.
“Ya” jawab si anak kelas tiga,
yang akhirnya diketahui bernama Katy Lawrence, anak pengacara yang cukup
terkenal di kalangan hukum. Aldias yang keluarganya bergerak di bidang
hukum-lah yang mengenalnya. Lagipula, gadis itu seangkatan dengannya.
“Apa alasanmu melakukan hal
ini, benar-benar murni hanya karena ia dekat dengan kak Johan dan kak Russell
kami?” tanya Mark Flencer, bagian Keamanan, siswa kelas dua SMP.
“Ya, tapi mungkin juga tidak”
jawab Katy. “Ada yang menyuruh kami melakukan ini”
“Siapa dia?” tanya Mark.
“Aku tidak bisa memberitahu,
apapun yang terjadi” jawab Katy tegas.
Grace yang memimpin tindakan
itu terdiam sesaat, kemudian melihat ke arah Russell yang duduk di sudut sambil
memainkan HP-nya dengan asyik.
“Ketua, tolong jaga sikapmu”
ucap Grace dengan sopan.
“Sudah kubilang, semua ini
percuma” jawab Russell sambil berdiri.
Russell Brian Micheline
Orlando, laki-laki yang menjabat sebagai ketua Dewan Perguruan Siswa ini duduk
di kelas 2 SMA. Ia merupakan teman sekelas sekaligus teman masa kecil Johan. Russell
sudah menjabat posisi ini selama 3 tahun dan tak tergantikan, meski ia masih
SMA. Ia sangat tegas, perfeksionis, dan sangat disegani oleh semua orang di
Perguruan. Ia merupakan pewaris perusahaan pertambangan milik keluarganya yang
cukup besar.
“Apa maksud kakak?” tanya Mark
tidak mengerti. “Bukankah ini masalah serius, melakukan tindakan bully di
lingkungan sekolah dan korbannya adalah wakil ketua Dewan Siswa sekolah, yang
juga pacarmu?” lanjut Mark lagi.
Ia dan Angelica memang pernah
dekat, dan pernah menjalin hubungan. Namun Angelica akhirnya memilih Johan
sebagai pendampingnya. Walau begitu, hal ini harus dirahasiakan sampai
‘keadaan’ di lingkungan sekolah mereda.
“Begitulah. Tapi, Angelica
terluka dan sedang dibawa ke rumah sakit oleh Johan untuk menjalani CT scan.
Lukanya cukup parah, dan tulang di tengkuk lehernya mengalami retak” jawab
Russell, sambil menatap sinis kelima wanita itu, yang spontan membuat mereka
takut.
“Lalu apa yang harus kami
lakukan?” tanya Grace.
“Kita hanya bisa menunggu”
jawab Russell. “Kita panggil mereka berlima untuk kembali kesini besok, beserta
Johan dan Angelica. Mereka berdua jelas tak bisa hadir hari ini juga.
Karenanya, kalian lolos untuk hari ini. Entah bagaimana besok, ya...” lanjut
Russell dengan pandangan menantang.
Kelima gadis itu saling
bertatapan. Mereka sama-sama ketakutan ‘dipecat’ dari sekolah itu. Dewan
Perguruan Siswa memang memiliki wewenang untuk mengeluarkan siswa dari sekolah
karena tindakan yang sudah merugikan sekolah, atau perkelahian antar siswa yang
sudah diluar batas kemampuan Dewan Siswa untuk menanganinya. Dan biasanya,
siswa yang ‘dipecat’ dari sekolah Escoriale sulit diterima di sekolah elit
lainnya dan hanya bisa diterima di sekolah negeri biasa, itupun dengan
persyaratan tertentu.
“Baiklah jika memang begitu”
jawab Grace. Ia melakukan sesuatu di tabletnya, kemudian memberi arahan.
“Aku sudah mengirimkan surat
pemberitahuan pada kalian lewat e-mail sekolah kalian. Sepulang sekolah, kalian
harus kembali kesini. Sandoras dan Orlando, serta anggota Dewan Siswa yang lain
juga sudah kukirimi surat yang sama untuk bertindak sebagai saksi. Dan jika
kalian tidak datang besok, pemecatan instan diberlakukan untuk kalian” jelas
Grace dengan tenang.
Kelima gadis itu terkejut, dan
menatap ke arah anggota Dewan Siswa. Patricia, Aldias dan Michaelis hanya
menghela napas. Patricia menjawab...
“Kami akan mengawasi mereka...”
Langit sudah gelap. Jam di
sekolah berdentang delapan kali. Johan sedang berada di kamar asrama putri
Angelica, menemaninya yang sedang tertidur karena dibius sejak dari rumah sakit
dan belum sadar juga, dengan tangan kanannya yang dimasuki selang infus. Ia
menggenggam tangan kirinya, sambil sesekali mengelus kepala dan rambutnya yang
berwarna pirang dan sedikit berantakan. Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu.
Johan beranjak dan membukakan pintu.
“Sylvie...” panggil Johan.
“Kak Johan belum makan malam,
kan? Ini kubawakan. Walau cuma makanan dari kantin asrama, sih” kata Sylvie
sambil menyerahkan nampan.
“Terima kasih” ucap Johan
lemas.
“Kau baik-baik saja? Wajahmu
sedikit pucat dan lemas” tanya Sylvie yang nampak begitu khawatir.
“Tidak apa-apa. Sebenarnya aku
tidak selelah itu. Aku makan!” jawab Johan sambil meletakkan nampan di meja
pemanas dan bersiap makan.
Sylvie ikut duduk di seberang
Johan, melihat Angelica dengan pandangan sedih. Kemudian mengalihkan pandangan
lagi pada Johan.
“Sebenarnya apa yang terjadi
dengan Angelica, kak?” tanya Sylvie pelan.
“Tadi sore setelah latihan, Angie
dibuli oleh beberapa, hmm... mereka bilang, fans-ku dan Russell. Dengan alasan yang
sudah kau tahu pastinya” jawab Johan. “Mereka sudah ditindak oleh Russell dan
anggota Dewan Perguruan lain” lanjutnya sambil menyuap makanan.
“Kalau itu, aku sudah tahu,
tapi... kecemasanmu itu, bukan hanya karena hal ini, kan?” tanya Sylvie meyakinkan.
Johan menghentikan suapan
keempatnya, dan perlahan meletakkan sendoknya lagi ke atas piring. Ia
menundukan kepala dan menggenggam tangannya hingga gemetar.
“Yang kukhawatirkan... adalah
penyakit Angie...” jawab Johan pelan sambil menggigit bibir.
“Penyakit... Angelica...?”
tanya Sylvie tidak mengerti...
Di Rumah Sakit, Angelica menjalani CT
Scan serta medical check-up atas permintaan Johan tanpa diketahui Angelica
sendiri.
“Dia baik-baik saja. Retakan tulang di
leher belakangnya akan sembuh dalam 3 minggu, dan luka lebam lainnya akan
segera sembuh” jelas Dokter Albert, dokter yang sebenarnya biasa memeriksa
Angelica setiap kali ia tak sadarkan diri, yang merupakan dokter pribadi
keluarga Sabrishion.
“Syukurlah” ucap Johan. “Lalu, hasil
check-up nya?” tanya Johan lagi.
“Soal penyakitnya, ya...” Dokter Albert
menghela napas. Kemudian menyerahkan suatu kumpulan berkas hasil check-up
Angelica.
“Silakan dilihat bagian ini” perintah
Dokter.
Johan melihatnya dengan seksama. Ia
membuka beberapa halaman lagi, dan sangat terkejut.
“Ini...!!” Johan tersentak. Dokter
Albert memejamkan mata, berpikir sesaat.
“Ya. Belum pernah terjadi hal seperti
ini sejak saya menjadi dokter. Bahkan... mungkin pertama kalinya di dunia
kedokteran. Namun yang bisa saya simpulkan, Nona Sandoras mengalami trauma
berkepanjangan yang menyebabkan ia tak mampu melihat kejadian yang mengejutkan
hingga di luar pikirannya. Hal itu membuatnya berdebar-debar keras, ketakutan,
hingga tak sadarkan diri dalam waktu lama. Bisa juga, hanya karena pikiran
buruk yang mungkin akan menimpa orang terdekatnya...” jelasnya.
Berkas yang dipegang Johan bergetar. Ia
menunduk, membayangkan kejadian terburuk yang mungkin akan menimpanya.
“Selain itu, Nona Sandoras juga...
berisiko terkena hepatitis A” jelas Dokter Albert dengan wajah sedih.
Johan kembali terkejut dengan mata
terbelalak. Ia melihat ke arah Angelica yang masih tertidur karena dibius
dengan tatapan nanar. Perlahan ia meletakkan tangan yang memegang berkas itu ke
atas meja.
“Anda tidak apa-apa, tuan muda?” tanya
dokter Albert.
“Berarti Angelica... tidak bisa memiliki
keturunan, kan?” tanya Johan pelan.
“Ini baru risiko, tuan muda” jawab
dokter Albert berusaha tenang. “Risiko itu masih bisa kita hilangkan dengan
tindakan medis, tapi... kemungkinannya hanya tiga puluh, bahkan dua puluh
persen” lanjutnya.
Johan masih tidak bergeming dari
tundukannya. Ia tak kuasa menahan shocknya dan menenggelamkan wajah dalam
lipatan tangannya. Dokter Albert yang tak bisa berbuat apa-apa, hanya
menepuk-nepuk pundaknya, berusaha menguatkan...
“Itu... bohong, kan...?” tanya
Sylvie dengan badan bergetar.
Johan hanya menyendok kembali
makanannya dan memasukkannya ke mulut, tanpa berkata apa-apa karena ia sendiri
sudah nyaris putus asa.
“I, ini baru resiko! Ya,
resiko!” teriak Sylvie menenangkan. “Kita pasti bisa mengusahakan sesuatu agar
Angelica bisa segera sembuh! Toh lebih cepat lebih baik!” katanya lagi, dengan
pandangan masih tidak percaya. Johan kembali mengangkat kepalanya.
“Ya. Kuharap begitu” jawab
Johan sambil tersenyum, dengan dipaksakan.
“Kalian tidak perlu
melakukannya” cegah sebuah suara. Mereka berdua terkejut dan berpaling pada...
“Angelica!” teriak Sylvie.
Johan bangkit dan mendekati
Angelica. Ia duduk di sisi tempat tidur Angelica dan mengelus kepalanya.
“Lama sekali kau tertidur.
Padahal dokter tadi bilang paling lama dua jam kau tertidur” kata Johan.
“Obat bius itu... entah kenapa
berlaku hingga dua kali lipat untuk badanku. Jika obat bius itu membuatku
tertidur dua jam, aku akan tertidur selama empat jam” jawab Angelica.
“Kenapa bisa begitu?” tanya
Sylvie tidak mengerti.
“Aku sendiri tidak mengerti.
Mungkin karena penyakitku” jawab Angelica pelan.
Johan dan Sylvie terkejut.
Mereka saling bertatapan.
“Aku mendengar percakapan
kalian tadi” kata Angelica pelan. Johan dan Sylvie menatapnya dengan sedih.
“Tapi kalian tidak perlu
khawatir” katanya lagi. “Aku tahu kondisi badanku sendiri. Karenanya aku akan
baik-baik saja. Maaf sudah menyusahkan kalian”
Johan dan Sylvie tersenyum
mendengarnya.
“Syukurlah...”
Keesokan harinya, Angelica
kembali sehat seperti biasa. Ia minta maaf pada Harry karena sudah melewatkan
part-time kemarin, namun Harry sudah memakluminya. Sidang yang dijalani setelah
latihan olahraga pun berakhir dengan ‘pemecatan’ Katy Lawrence dari SMA Escoriale
yang dianggap sebagai biang keladi, serta siswi lainnya diberi skors satu
minggu. Angelica mengajukan keberatan, namun tidak diterima oleh Russell.
Sebagai gantinya, Russell memberinya akses pindah ke sekolah negeri biasa tanpa
persyaratan, karena beberapa bulan lagi Katy akan mengikuti ujian masuk kuliah
dan pindah karena dipecat dari Escoriale tidak mudah diterima sekolah lain. Dan
masalah itu pun berakhir...
Siang hari setelah sidang.
“Kak Lawrence?” panggil
Angelica.
Katy sedang berada di bukit
yang masih merupakan tanah Perguruan Escoriale. Dari bukit itu, tampak
pemandangan seluruh sekolah yang sangat luar biasa terlihat dari sana. Angin
bertiup dan daun-daun berguguran.
“Sudah masuk musim dingin,
anginnya sedikit menusuk tulang” pinta Katy. Ia melihat ke arah sekolah dengan
sedih. “Bodohnya aku...”
Angelica melihat Katy dengan
pandangan sedih. Johan yang berada di belakangnya hanya menatapnya dalam diam.
“Kak Lawrence, sebenarnya siapa
yang memintamu melakukan ini?” tanya Angelica pelan.
Katy memejamkan matanya,
kemudian membukanya kembali.
“Aku tidak bisa mengatakannya.
Hal ini menyangkut karir ayahku” jawab Katy. “Ayahku terancam dipecat dari
firma hukum tempat ia bekerja karena dianggap memfitnah kliennya karena sebuah
kasus, karena ayahku tidak menyangkal bukti yang diberikan pengacara lawannya.
Namun orang itu berjanji akan melakukan sesuatu agar ayahku tidak dipecat.
Sebagai gantinya, aku tak boleh memberitahu bahwa ia melakukannya. Dan, aku tak
boleh keberatan dipecat dari sekolah ini” lanjutnya sambil menangis.
“Kau ini... kenapa tidak
sampaikan keluhan itu pada Dewan Siswa, sih” kata Johan sambil menghela napas.
“Benar, kak. Dewan Siswa kan
punya anggota yang keluarganya mempunyai firma hukum. Kau bisa bicara
dengannya” lanjut Angelica.
“Anggota Dewan Siswa?” tanya
Katy tidak mengerti.
“Hooi, kau lupa padaku? Padahal
kita sekelas tahun lalu, lho!” teriak seseorang.
“Kak Aldias!” panggil Angelica.
“Aldias... benar juga! Keluarga
Howard, kan...!” teriak Katy terkejut saat mengingat Aldias dan bidang
pekerjaan keluarganya.
Angelica terkejut melihat
kedatangan Aldias, namun Johan sudah menduganya. Aldias menghampiri Katy dan
menunjukkan isi tabletnya.
“Ayahmu Ned Lawrence, bekerja
di firma hukum A, kan? Ia terancam dipecat karena ditekan oleh para pengacara
senior yang tak mau bertanggung jawab atas kasus korupsi seorang klien yang
merupakan pemilik bisnis permata terhadap salah satu anak perusahaannya. Lebih
baik, ayahmu segera membuat surat pengunduran diri dan silakan pindah di firma
hukum keluargaku. Kami sangat menerima pengacara berkaliber seperti ayahmu,
lho!” jelas Aldias.
Katy terkejut mendengar tawaran
itu. Matanya berkaca-kaca hingga air matanya hampir keluar. “Apa... sungguh
boleh?” tanya Katy pelan.
“Seandainya kau mengatakannya
lebih cepat, aku bisa membatalkan keputusan Russell. Lagipula, kasus itu sudah
terdengar di firma hukum keluargaku dan aku yakin pengacara seperti dia tidak
bersalah” jawab Aldias.
“Russell itu kalau sudah
mengambil keputusan, dia tidak akan menariknya lagi. Tapi kau masih bersyukur
bahwa ia masih memberimu akses mudah ke sekolah negeri” lanjut Johan.
Katy kali ini benar-benar
menangis hingga sesenggukan. Ini kali pertama ia merasa ‘tertolong’ oleh semua
itu, meski terlambat. Ia sadar, tak peduli sekuat apapun ia mengetahui
kebenaran, yang terbaik adalah mengungkapkan kebenaran itu sendiri. Karena
selama-lamanya bangkai disimpan, pasti akan tercium juga. Tak hanya Katy,
Angelica, Johan, dan Aldias sama-sama mendapat pelajaran atas kejadian itu.
Nasi telah menjadi bubur, namun Katy tak ingin menyerah. Angelica hanya bisa
memegang pundak Katy tanpa bicara apa-apa. Ia berterima kasih pada Aldias setelahnya,
kemudian, ia resmi pindah ke sekolah negeri biasa di Bloomsbury. Dan pertemuan
itu diakhiri dengan perpisahan Katy dengan Angelica dan para anggota Dewan
Siswa lainnya..
Beberapa hari kemudian, sehari
sebelum festival olahraga.
“Selamat siang, Senior!” sapa
Angelica dari luar ruang Dewan Siswa.
“Siang, Angelica. ayo duduk!”
ajak Patricia.
“Kau baik-baik saja hari ini,
Angie?” tanya Johan.
“Ya! Sangat baik!” jawab
Angelica semangat.
“Syukurlah” ucap Johan. Ia
bangkit dari tempat duduknya dan memulai rapat.
“Baiklah semuanya. Besok adalah
festival olahraga yang kita tunggu-tunggu. Ayo persiapkan dan jalani dengan semangat!”
teriak Johan menyemangati.
“Yaaa!!” balas para anggota tak
kalah semangat.
Kemudian hp Angelica berbunyi,
tanda email masuk. Ia membuka email tersebut. Terkejut sesaat, namun tersenyum
senang.
“Angie, ayo!” ajak Johan
keluar. Angelica hanya mengangguk dan meletakkan hp-nya di meja. Foto Katy
terpajang di layar hp-nya bersama teman-teman di sekolah barunya dengan senang.
Selain foto, terdapat pesan berisi...
0 comment:
Posting Komentar