Kamis, 28 Mei 2015

Wings of Melodies ~ Memories Edition - Chapter 4



“Aku lupaaaa~~ hari ini kaaaann~~~”
“Kau benar-benar lupa hari ini festival olahraga?”
“Padahal kau panitia, lho, Angelica”
“Tidaaaakk!”
Angelica berteriak keras di depan gerbang utama sekolah saat membaca tulisan “Festival Olahraga ke 34 Perguruan Afiliasi Universitas Escoriale” yang terpampang di gapura buatan. Ia jatuh terduduk dengan lemas.
‘Ini gara-gara aku terlalu sibuk dengan mengurus festival, kerja part-time bahkan sengaja meluangkan waktu buat belajar. Dan padahal baru kemarin selesai! Kenapa jadi beginiiii~’ gerutu Angelica dengan mata berputar-putar.
“Angie! Masih belum ganti baju juga? Sebentar lagi gladi resik, tahu!” panggil Johan yang tiba-tiba memanggilnya dari dalam sekolah, bersama...

“Ba, baiik. Ah, kak Russell! Lama tidak bertemu! Eh, tapi sudah bertemu kemarin, ya. Hehe...” sapa Angelica dengan senang.
“Yo! Apa kabar, Angelica?” balas Russell sambil mengelus kepalanya. Hal yang ia sendiri sudah biasa melakukannya.
“Lama tidak bertemu, kak! Sejak pesta dansa itu ya”
“Yaah. Aku harus menghadiri rapat besar selama seminggu kemarin mewakili perusahaanku di Berlin. Itu juga mendadak”
“Ah, begitu. Pantas saja aku tidak pernah melihatmu”
Angelica dan Russell masih saling berbicara. Melihatnya, Johan akhirnya menyela karena waktunya sudah hampir tiba.
“Hoi, sudah ngobrolnya, kan? Cepat ganti baju olahraga. Atau... kau mau aku gantikan?” ledeknya pada Angelica.
“Jangan bercanda, Johan bodoh!”
BUAK! Setelah memukul, Angelica berlari menuju ruang ganti. Russell hanya tertawa melihat tingkah mereka.
“Kalian masih saja seperti ini, ya...”
“Diam kau, Russell...!”

Akhirnya, upacara pembukaan festival dimulai. Para anggota Dewan Siswa dan Dewan Perguruan Siswa berbaris di belakang podium, dengan Russell sebagai ketua berdiri di atas podium menyampaikan sumpah atlet.
“Sumpah atlet, kami berjanji menjaga sportivitas dan bersikap adil selama pertandingan dan menerima hukuman apabila melanggar aturan!”
Saat masih penyampaian sumpah, Angelica bertanya sesuatu pada Johan yang berdiri di sebelahnya.
“Hei, Johan. Itu gadis yang kemarin kulihat dalam sidang kak Lawrence. Dia siapa, ya?”
“Hmm... yang mana?”
“Itu! Yang berdiri di sebelah kak Russell” jawab Angelica sambil menunjuk.
“Ooh, dia. Kau tidak tahu? Dia kan wakilnya Russell di Dewan Perguruan”
“Masa? Sepertinya aku tak pernah melihatnya” ucap Angelica terkejut.
“Yaah, dia memang lebih banyak mengurus bagian ‘dalam’ organisasi daripada Russell. Namanya Grace Sevia Kathy Anderson, mahasiswi tingkat tiga Universitas kita. Umurnya 21 tahun. Meski masih tingkat tiga, kabarnya musim semi nanti dia sudah akan lulus dan mewarisi perusahaan farmasi milik keluarganya” jelas Johan sambil memperhatikan ke depan.
“Anderson... jangan-jangan, Anderson Pharmacy Corporation!?” teriak Angelica terkejut.
“Ah, kau tahu banyak soal perusahaan-perusahaan besar, ya” puji Johan sekaligus menutup pembicaraan.
‘Hebat, padahal masih sangat muda dan ia juga wanita. Tapi mewarisi perusahaan sebesar itu, luar biasa! Dan lagi, dia luar biasa cantik, tinggi semampai. Badannya sangat berbentuk...’ puji Angelica dengan mata terkagum-kagum.
“Benar-benar wanita impian banyak laki-laki, ya” kata Johan kemudian. Angelica mulai kesal.
“Oooh, begitu... yaaahh, itu normal saja sih, ya, kalau untukmu!”
“Tentu saja!”
“Kalau begitu, kami beri kesempatan para peserta melakukan pemanasan selama 20 menit!” Ucap Russell memberi pengumuman.
BUAK! Angelica memukul Johan kemudian. Dan pertengkaran mereka dimulai.
“Menyebalkan!”
“Kaaauu~~ apa-apaan sih!? Aku Cuma bercanda, tahu!”
“Sikapmu itu sama sekali tidak menunjukkan kau ini bercanda!”
“Mana mungkin aku sama cewek yang lebih tua, kan!? Aku juga tidak mau!”
“Oh ya!? Tapi kalau dia cocok dan sesuai dengan tipemu, tidak masalah, kan!?!”
CTEK! CTEK! Aldias menyentil dahi Angelica dan Johan.
“Kalian berdua, sudah hentikan! Bikin malu Dewan Siswa bagian kita, tahu!” teriaknya kesal.
“Habisnya, kak Aldiaaas~~” keluh Angelica dengan mata berkaca-kaca. Aldias menghela nafas.
“Johan, bersikap dewasalah! Angelica juga!” kata Patricia menasehati.
“Baiiiik~~” jawab mereka berdua sambil menghela napas.

<Perlombaan pertama dimulai dari lari 400 meter putri. Perwakilan dari masing-masing kelas bagian SMA, harap bersiap di lintasan tiga!>
Para siswa mulai bersemangat pada perlombaan pembuka pagi itu, termasuk kelas 1-A, dimana kelas Angelica, Harry, dan Sylvie berada.
“Semangat, Angelicaaa!!” teriak teman-teman sekelasnya.
“Tenang saja!” balas Angelica sambil mengacungkan jempol pada mereka.
Sementara di sisi lain, kelas 2-C, kelas Johan dan Russell berada...
“Hah? Angie ikut lomba lari!?” teriak Johan terkejut.
“Kenapa heran begitu? Dia kan...” ucap Russell menggantung saat mendengar aba-aba dari wasit.
<Mulai!> DOOR! Tembakan tanda perlombaan dimulai diluncurkan.
Angelica mulai berlari dengan agak lamban, kemudian menaikkan kecepatannya saat sudah menempuh 50 meter. Ia mulai melewati peserta lain satu persatu, sampai akhirnya ia yang paling dulu menyentuh garis finish. Teman-teman sekelas pun menyoraki kemenangannya.
<Lomba lari 400 meter putri dimenangkan oleh kelas 1-A, Angelica Sandoras!>
“Ini sih, mudah!!” sumbar Angelica dengan bangga sambil mengedipkan sebelah matanya.
“... dia juga atlet, lho, Johan!” lanjut Russell.
“Benar juga, dia kan jago bela diri, ya...” keluh Johan masih terkejut.
<Selanjutnya lomba lari 400 meter putra. Perwakilan dari masing-masing kelas bagian SMA, harap bersiap di lintasan tiga!>
“Giliranmu, Johan!” panggil Russell sambil mendorong punggung Johan.
“Siip!” Johan bersiap.
‘Aah, Johan ikut lari 400 meter, toh. Aku mendukung kelasku, sih. Tapi aku juga ingin mendukungnyaa~~’ gerutu Angelica dalam hati. Sementara wasit memulai aba-abanya.
<Siaap!> DOOR!
Johan melaju dengan kecepatan sedang, dan ia semakin mempercepat larinya saat sudah berada di tikungan hingga akhirnya ia menempati posisi pertama saat sampai di garis finish. Teman-teman sekelas serta cewek-cewek penggemar pun menyorakinya.
<Lomba lari 400 meter putra dimenangkan oleh kelas 2-C, Johan Sabrishion!>
“Aku nggak akan kalah, lho, Angie!!” teriak Johan kepada Angelica.
“A, apa, sih. Memalukan, tahu! Jangan panggil aku saat masih ada di lintasan!” balas Angelica malu-malu.
“Hahaha!” Johan hanya tertawa.
‘Dasar... syukurlah dia menang...’ ucap Angelica lagi dalam hati.
<Berikutnya adalah lomba tarik tambang campuran. Peserta pertama yang akan bertanding adalah kelas 1-A dan kelas 2-C>
“Hee!? Kita melawan kelas dua!?” teriak Angelica terkejut.
“Ditambah lagi kelas kak Johan!?” lanjut Sylvie yang juga terkejut.
“Tenang saja!! Teman-teman, walau mereka kelas dua, kita tidak boleh kalah!!” balas Harry yang menyemangati teman-temannya.
“Yaaa!!” balas teman-teman sekelas lainnya.
Di sisi lain, murid kelas 2-C.
“Waaah, anak kelas satu sekarang berani, ya!” kata salah satu teman sekelas Johan dengan nada sombong.
“Semuanya, kita takkan biarkan mereka menang, kan? Mereka masih cebol, lho!” teriak Johan memberi semangat.
“Yaaaa!!”
BUAK!! Sebuah tongkat untuk perlombaan estafet melayang dan mendarat di kepala Johan tiba-tiba.
“Beraninya kau bilang seperti itu, kak Johan!! Aku dengar, lho!!” teriak Angelica di seberang lintasan.
“Masa bodo!! Weeeek!!” balas Johan meledek.
<Siaaap!> DOOR!
Mereka mulai menarik tambang dan sangat berusaha keras. Tambang mulai mengarah ke arah kelas Johan, namun kelas Angelica dengan mudahnya membalik keadaan dan mereka menarik dengan kuat saat kelas Johan mulai lengah. Mereka bersorak untuk kemenangan mereka.
<Lomba tarik tambang dimenangkan oleh kelas 1-A!>
“Kalah dari anak kelas satu!? Memalukan!” gerutu Johan kesal.
“Sekarang terbukti siapa yang cebol, kan? Weeek!” balas Angelica dengan nada sombong.
“Siaaall!! Akan kubalas setelah ini!!” gerutu Johan lagi.
Setelah lomba itu, perlombaan lainnya pun terus berlanjut. Dan akhirnya waktu istirahat makan siang pun tiba.
“Setelah makan siang, kita lomba kuda-kuda. Lily, anak yang akan digendong hari ini tidak hadir” kata Harry saat teman-temannya makan siang. “Ada yang bisa menggantikan? Bagaimana kalau... Sylvie?” tanyanya pada Sylvie.
“Eeh, aku!?” teriak Sylvie terkejut.
“Benar juga, Sylvie. Kau kurang jago lari cepat dan mengangkat beban berat, kan?” tanya Angelica meyakinkan.
“Haha, lebih tepatnya, aku tidak terlalu suka olahraga” jawab Sylvie malu-malu.
“Baiklah, kalau begitu kau saja, ya. Yang lain ada yang keberatan?” tanya Harry pada yang lain.
“Setuju ketua! Setuju! Tidak masalah!” teriak teman-teman sekelasnya menyetujui.
“Yosh! Semangat untuk lomba paruh kedua nanti!”
“Yaaaa!!”
“Angelica! Kau sudah selesai makan siang? Ini giliran kita jaga, lho!” panggil Patricia dengan terengah-engah karena habis berlari.
“Ah, aku segera kesana, kak Patricia!! Semuanya, semangat untuk perlombaan nanti!” balas Angelica sambil menyemangati teman-temannya.
“Hee? Angelica tidak ikut!?”
“Ia akan ikut perlombaan lompat jauh dan lari estafet di paruh kedua nanti”
Kemudian lomba atletik pun tetap berlanjut mulai dari lomba kuda-kuda, lomba peralatan, lomba makan roti tercepat, senam ganda, dan lompat jauh yang dimenangkan oleh kelas Angelica.
<Perlombaan terakhir lari estafet sejauh 3.000 meter antar kelas bagian SMA, harap bersiap di lintasan dua!>
“Kak Patricia, aku akan bersiap” ucap Angelica.
“Baiklah. Semangat, ya!” kata Patricia menyemangati.
“Hah? Kau juga ikut lomba lari estafet, Angie?” kata Johan yang tiba-tiba muncul dan baru akan bersiap di dekat lintasan.
“Hee? Johan juga!?” tanya Angelica balik.
“Ya. Hmm... Kau pelari keberapa?” tanya Johan.
“Ng... pelari terakhir” jawab Angelica.
“Hoho, berarti aku tidak akan kalah darimu!” katanya menantang.
“Ooh! Coba saja kalau bisa!” balas Angelica dengan mata yang seakan-akan mengeluarkan petir dari mereka berdua. Di lintasan, wasit pun memulai aba-aba.
<Siaaap!> DOOR!
Pelari pertama kelas 1-A adalah Sylvie. Meski dimulai dari start yang bagus, namun ia hanya menempati posisi terakhir. Kemudian salah seorang teman sekelasnya yang jadi pelari kedua akhirnya bisa mendapat posisi kelima. Pelari ketiga adalah Harry, yang lumayan jago dalam olahraga terutama lari. Ia cukup banyak melewati peserta lain yang lari didepannya.
“Waah, Harry sudah di posisi ketiga!” teriak Angelica terkejut.
“Hmm lumayan juga. Tapi penentunya sekarang kita lho” kata Johan.
“Begitu, ya. Aku tak akan kalah!” balas Angelica dengan semangat sambil mengikat rambutnya dengan headband.
<Oow, rupanya ketua dan wakil ketua Dewan Siswa kita akan bersaing di lintasan terakhir! Persaingan ini akan semakin ketat!> teriak pembawa acara bersemangat. Sementara itu, Harry sudah menyerahkan tongkatnya pada Angelica.
“Angelica!!”
“Serahkan padaku!!”
Angelica memulai larinya lebih dulu yang kemudian mundur mendapat posisi keempat. Johan memulai belakangan karena Russell, pelari ketiga, mendapat posisi keenam. Mereka pun mulai bersaing di lintasan terakhir. Tak lama kemudian Angelica sudah mendapat posisi pertama, sementara Johan sudah melewati peserta lain hingga akhirnya mendapat posisi kedua, hanya beda tipis dengan Angelica. Mereka bersaing dengan sangat ketat hingga akhirnya... Angelica mendapat posisi pertama!
<Akhirnya! Pemenang lomba lari estafet 3.000 meter adalah kelas 1-A!!>
Para siswa menyorakinya dengan semangat. Sementara teman-teman Angelica berlari mengerubunginya dan bahagia atas kemenangannya.
“Angelica, kau hebaat!!”
<Kami telah menghitung keseluruhan skor masing-masing kelas. Dan pemenang lomba atletik bagian SMA tahun ini adalah... kelas 1-A!!>
“Yeeeeii!! Kelas kita menang lomba festival olahraga tahun ini!!!” teriak Sylvie.
“Haha, latihan kita tidak sia-sia, kan!?” teriak Harry bersemangat. Dan mereka masih menyoraki kemenangan mereka. Sementara kelas 2-C menggerutu kesal.
“Kita kalah dengan kelas satu!? Menyebalkaaan!”
“Yaah, mereka memang hebat, sih”
“Tidak apa-apa! Tahun depan, kita akan balas mereka!” ucap Johan bersemangat.
Teman-teman sekelas Johan terdiam sejenak, kemudian mereka tertawa dan mulai meledeknya.
“Hahahahaha! Duuh, ternyata Ketua tidak rela reputasi kelasnya direbut wakilnya hari ini!”
“Apaan, sih!” gerutu Johan malu-malu.
“Tapi meski cewek, Sandoras ternyata tangguh sekali, ya! Kukira dia hanya ahli di pelajaran, rupanya olahraga pun ia hebat!” puji salah satu dari mereka.
“Ditambah lagi, dia cantik. Meski manis adalah kata yang tepat buatnya!” tambah yang lainnya.
“Hmm... menurut kalian begitu, ya” ujar Johan menanggapi.
“Haha, tenangkan sahabatmu yang habis dikalahkan pacarmu tuh, Russell!” ledek yang lainnya lagi kepada Russell.
“Eh, i, iya...” jawab Russell gugup.
Johan terdiam saat mendengar salah satu temannya berkata seperti itu pada Russell. Ia menatap Russell tanpa ekspresi. Dan Russell hanya menanggapi dengan santai.
“Mereka tidak akan tahu yang sebenarnya kalau tidak kau beritahu, kan...?”
Johan terdiam dan menunduk sesaat.
“Kau benar...”

<Sebagai acara penutup, kami beri kesempatan pada seluruh siswa-siswi setiap bagian sekolah mengikuti folk dance. Bagi yang berminat, silakan berkumpul di lapangan besar!>
“Angelica, kau mau ikut?” tanya Patricia.
“Ah, iya. Kak Patricia bagaimana?” tanya Angelica balik.
“Tidak, aku tidak ikut. Setelah selesai, segera kembali, ya!” perintahnya.
“Baik!”
“Angelica!” panggil seseorang.
“Eh... kak Russell?”
“Kau mau berpasangan denganku di folk dance hari ini?”
“Eh, tapi aku...”
Russell mendekatkan kepalanya ke telinga Angelica.
“Ssst! Ini agar mereka tidak tahu yang sebenarnya” katanya pelan.
“Eh... aku... maaf, kak Russell! Biar bagaimanapun, aku...!” belum selesai Angelica menolak, seseorang meneriaki mereka berdua.
“Hooi, Russell! Beraninya kau mengajak pacarku saat aku lengah!”
Johan mengatakan itu pada Russell sambil memeluk Angelica dari belakang. Ia mengatakannya dengan keras, sehingga seluruh sekolah berseru kaget.
“He... heeeeeee!?!?!”
 “Ka... kak Johan!” panggil Angelica terkejut.
“Hahaha! Aku Cuma bercanda, lho, Johan!” kata Russell nyeleneh sambil tertawa.
“Uugh, kau ini! Ayo, Angie!” kata Johan sambil menggandeng Angelica dan beranjak dari situ.
“Eh, eh!? Mau ke mana!? Folk dance sudah mau dimulai!”
“Masa bodo sama acara seperti itu!”
Russell hanya melihat Johan dan Angelica yang mulai beranjak menjauhi tempatnya berdiri. Ia hanya melihat, kemudian mengatakan...
“Cemburu, ya?”
“Sudah jelas, bodoooh!!” teriak Johan spontan.
“Hahahahaha!! Baru kali ini kau mengakuinya! Hahahahaha!!” Russell tertawa terbahak-bahak.
“Grrr~!” Johan makin geram.
“Hentikan, kak Johan! Kau berlebihan! Kak Russell juga!”
Angelica berusaha melerai dengan menyentil dahi mereka. Akhirnya mereka berhenti, tanpa sadar bahwa mereka menjadi pusat perhatian, dengan pandangan yang aneh...
“Hee, jadi sebenarnya ketua dan wakil ketua Dewan Siswa pacaran?”
“Sabrishion dengan Sandoras? Bukankah waktu festival kemarin ia bilang pacaran dengan Orlando?”
“Berarti soal kejadian waktu di ruang kepala sekolah itu benar, ya?”
Terdengar segala ocehan-ocehan lain menyangkut mereka berdua. Terutama Angelica yang semakin diejek hal-hal jelek. Ia semakin tertekan.
“Ternyata Sandoras bisa seperti itu juga, ya”
“Padahal murid teladan, tapi bisa-bisanya mencari perhatian pada pangeran sekolah!”
“Menyebalkan, ya!”
Angelica semakin tidak tahan. Ia akan kembali ambruk  jika Johan tidak segera memberikan sandaran badannya. Angelica hanya menatapnya tanpa berkata apapun.
“Semuanya, aku minta maaf!” ucap Johan sambil membungkukkan badannya.
“Yang kukatakan saat festival, itu adalah kenyataan. Tapi... saat pesta dansa, Sandoras baru menyadari perasaannya padaku, dan aku...” ia berhenti sesaat. Ia tak sanggup mengatakannya.
“Dan, Sabrishion juga menyukai Sandoras hingga tak bisa menahan perasaannya” lanjut Russell tiba-tiba. Dan itu membuat pandangan semua siswa beralih padanya.
“Apa maksudmu, Orlando? Bukankah dia berpacaran denganmu? Atau memang selama ini Sandoras yang...” tanya seorang siswa dengan melanjutkan kalimatnya lewat tatapan sinis pada Angelica. Walau Angelica tidak menatapnya balik, namun ia merasa merinding dan takut.
“Ini tidak ada hubungannya dengan masalah popularitas seperti yang kau tuduhkan” ucap Johan. “Semua ini hanya karena kesalahan kami yang begitu bodoh dengan masalah cinta. Karenanya...”
“Kami minta maaf!” ucap Johan dan Russell bersamaan. Ucapan itu membuat mereka hening sesaat dan saling bertatapan.
“Semuanya!” teriak Angelica tiba-tiba. Para siswa mengalihkan pandangannya lagi pada Angelica.
“Apa? Mau menyelak lagi?” ujar salah seorang senior dengan sinis.
“Tidak ada yang perlu dielakkan. Semua karena kesalahanku yang terlambat menyadari perasaanku pada... pada Sabrishion! Karenanya, aku juga minta maaf pada kalian semua!!” ucap Angelica sambil menunduk dalam-dalam. Para siswa bertatapan kembali.
“Jika memang aku harus mundur sebagai wakil Dewan Siswa agar masalah ini selesai, aku bersedia!” ucap Angelica lagi. Sontak semua yang mendengarnya terkejut. mereka terdiam dan kembali berbicara satu sama lain. Mereka menatap Angelica dan yang lainnya dengan sinis, namun beberapa dari mereka juga merasa kasihan. Bingung, itulah jawaban sebenarnya dari raut wajah mereka.
“Kalian tidak bisa memaafkannya?” tanya seseorang tiba-tiba. Semuanya terkejut dan menatap ke arah suara itu.
“Grace” panggil Russell.
“Tidak usah terlalu dipusingkan. Toh, ini hanya masalah perasaan yang terlambat disadari. Mereka sudah cukup tersiksa atas kebohongan yang disimpan oleh mereka selama ini. Dan aku bisa mengerti” ucap Grace memberi pendapat.
“Grace...” ucap Russell terkejut.
“Maksudku, ayolah! Ini bukan kejadian yang pertama kali kita semua lihat. Tidak ada yang bilang cinta antara ketua dan wakil ketua itu tabu, bukan? Mereka sudah minta maaf” terang Grace.
Para siswa langsung merubah pandangan mereka dan tersenyum.
“Tapi, jika nanti tugas mereka terbengkalai karena cinta, kalian boleh memecat mereka bertiga, kok. Dengan begitu, aku bisa jadi ketua Dewan Perguruan Siswa. Hahahaha!” katanya lagi dengan tertawa bangga.
Angelica, Johan, serta siswa lainnya terkejut dengan kelakar Grace yang menurutnya terlalu terus terang. Mereka hanya bengong menatapnya, dan berpikir ‘hancur sudah citraku terhadapnya!’
“Maaf, Anderson selalu seperti ini” ucap Russell lemas.
Kejadian itu membuat mereka tertawa, dan akhirnya melontarkan komentar positif terhadapnya.  Hal itu membuat Angelica kembali tersenyum, dan mengucapkan rasa terima kasih pada mereka.
“Sebagai tanda terima kasih, kita buat acara folk dance dan upacara penutupan semester sore ini menjadi meriah, ya!!” teriak Angelica semangat.
Mereka pun melontarkan semangat, dan memulai folk dance dengan senang. Johan langsung menarik Angelica dari lapangan dan membawanya ke halaman samping sekolah yang sepi tanpa mempedulikan Russell dan yang lainnya.
“Johan?” panggil Angelica tidak mengerti. “Kau baik-baik sa...”
GREB! Johan berbalik badan dan memeluk Angelica dengan cepat. Ia baru merasa bahwa badan Johan bergetar karena ia takut.
‘Baru kali ini aku melihatnya takut... jadi selama ini, inilah kelemahannya...’
Angelica hanya mengelus punggungnya pelan dan membenamkan wajahnya dalam pelukannya.
“Semua akan baik-baik saja...” ucap Angelica pelan...

Sementara itu di lapangan samping sisi lain, Russell bicara dengan Grace.
“Kau tahu semuanya selama ini, Grace?” tanya Russell serius.
Grace tersenyum. “Melihatmu saat persidangan Katy Lawrence saja aku tahu, kok. Kau yang tipe spontan dan tak peduli yang lain saat panik, tak mungkin hanya duduk diam di bangku sidang dan menyerahkan pacarmu walau hanya pada sahabatmu. Lalu...”
“Lalu?”
“Wajahmu yang meski khawatir, namun sedih saat itu, sudah menjawabnya...” ucap Grace sambil menatap wajah Russell.
Russell sedikit tersentak. Ia tersenyum, dengan dipaksakan. Kemudian menunduk perlahan, dan menyandarkan kepalanya ke pundak Grace yang lebih pendek lima senti darinya. Entah keringat atau air mata, mendarat dari wajahnya.
“Terima kasih... sudah memahamiku...” ucapnya pelan...

0 comment:

Posting Komentar

 

Diana Rachmawati Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template