“Aku lupaaaa~~ hari ini
kaaaann~~~”
“Kau benar-benar lupa hari ini
festival olahraga?”
“Padahal kau panitia, lho,
Angelica”
“Tidaaaakk!”
Angelica berteriak keras di
depan gerbang utama sekolah saat membaca tulisan “Festival Olahraga ke 34
Perguruan Afiliasi Universitas Escoriale” yang terpampang di gapura buatan. Ia
jatuh terduduk dengan lemas.
‘Ini gara-gara aku terlalu
sibuk dengan mengurus festival, kerja part-time bahkan sengaja meluangkan waktu
buat belajar. Dan padahal baru kemarin selesai! Kenapa jadi beginiiii~’ gerutu
Angelica dengan mata berputar-putar.
“Angie! Masih belum ganti baju
juga? Sebentar lagi gladi resik, tahu!” panggil Johan yang tiba-tiba
memanggilnya dari dalam sekolah, bersama...
“Ba, baiik. Ah, kak Russell!
Lama tidak bertemu! Eh, tapi sudah bertemu kemarin, ya. Hehe...” sapa Angelica
dengan senang.
“Yo! Apa kabar, Angelica?”
balas Russell sambil mengelus kepalanya. Hal yang ia sendiri sudah biasa
melakukannya.
“Lama tidak bertemu, kak! Sejak
pesta dansa itu ya”
“Yaah. Aku harus menghadiri
rapat besar selama seminggu kemarin mewakili perusahaanku di Berlin. Itu juga
mendadak”
“Ah, begitu. Pantas saja aku
tidak pernah melihatmu”
Angelica dan Russell masih
saling berbicara. Melihatnya, Johan akhirnya menyela karena waktunya sudah
hampir tiba.
“Hoi, sudah ngobrolnya, kan?
Cepat ganti baju olahraga. Atau... kau mau aku gantikan?” ledeknya pada
Angelica.
“Jangan bercanda, Johan bodoh!”
BUAK! Setelah memukul, Angelica
berlari menuju ruang ganti. Russell hanya tertawa melihat tingkah mereka.
“Kalian masih saja seperti ini,
ya...”
“Diam kau, Russell...!”
Akhirnya, upacara pembukaan
festival dimulai. Para anggota Dewan Siswa dan Dewan Perguruan Siswa berbaris
di belakang podium, dengan Russell sebagai ketua berdiri di atas podium
menyampaikan sumpah atlet.
“Sumpah atlet, kami berjanji
menjaga sportivitas dan bersikap adil selama pertandingan dan menerima hukuman
apabila melanggar aturan!”
Saat masih penyampaian sumpah,
Angelica bertanya sesuatu pada Johan yang berdiri di sebelahnya.
“Hei, Johan. Itu gadis yang
kemarin kulihat dalam sidang kak Lawrence. Dia siapa, ya?”
“Hmm... yang mana?”
“Itu! Yang berdiri di sebelah
kak Russell” jawab Angelica sambil menunjuk.
“Ooh, dia. Kau tidak tahu? Dia
kan wakilnya Russell di Dewan Perguruan”
“Masa? Sepertinya aku tak
pernah melihatnya” ucap Angelica terkejut.
“Yaah, dia memang lebih banyak
mengurus bagian ‘dalam’ organisasi daripada Russell. Namanya Grace Sevia Kathy
Anderson, mahasiswi tingkat tiga Universitas kita. Umurnya 21 tahun. Meski
masih tingkat tiga, kabarnya musim semi nanti dia sudah akan lulus dan mewarisi
perusahaan farmasi milik keluarganya” jelas Johan sambil memperhatikan ke
depan.
“Anderson... jangan-jangan,
Anderson Pharmacy Corporation!?” teriak Angelica terkejut.
“Ah, kau tahu banyak soal
perusahaan-perusahaan besar, ya” puji Johan sekaligus menutup pembicaraan.
‘Hebat, padahal masih sangat
muda dan ia juga wanita. Tapi mewarisi perusahaan sebesar itu, luar biasa! Dan
lagi, dia luar biasa cantik, tinggi semampai. Badannya sangat berbentuk...’
puji Angelica dengan mata terkagum-kagum.
“Benar-benar wanita impian
banyak laki-laki, ya” kata Johan kemudian. Angelica mulai kesal.
“Oooh, begitu... yaaahh, itu
normal saja sih, ya, kalau untukmu!”
“Tentu saja!”
“Kalau begitu, kami beri
kesempatan para peserta melakukan pemanasan selama 20 menit!” Ucap Russell
memberi pengumuman.
BUAK! Angelica memukul Johan
kemudian. Dan pertengkaran mereka dimulai.
“Menyebalkan!”
“Kaaauu~~ apa-apaan sih!? Aku
Cuma bercanda, tahu!”
“Sikapmu itu sama sekali tidak
menunjukkan kau ini bercanda!”
“Mana mungkin aku sama cewek
yang lebih tua, kan!? Aku juga tidak mau!”
“Oh ya!? Tapi kalau dia cocok
dan sesuai dengan tipemu, tidak masalah, kan!?!”
CTEK! CTEK! Aldias menyentil
dahi Angelica dan Johan.
“Kalian berdua, sudah hentikan!
Bikin malu Dewan Siswa bagian kita, tahu!” teriaknya kesal.
“Habisnya, kak Aldiaaas~~”
keluh Angelica dengan mata berkaca-kaca. Aldias menghela nafas.
“Johan, bersikap dewasalah!
Angelica juga!” kata Patricia menasehati.
“Baiiiik~~” jawab mereka berdua
sambil menghela napas.
<Perlombaan pertama dimulai
dari lari 400 meter putri. Perwakilan dari masing-masing kelas bagian SMA,
harap bersiap di lintasan tiga!>
Para siswa mulai bersemangat
pada perlombaan pembuka pagi itu, termasuk kelas 1-A, dimana kelas Angelica,
Harry, dan Sylvie berada.
“Semangat, Angelicaaa!!” teriak
teman-teman sekelasnya.
“Tenang saja!” balas Angelica
sambil mengacungkan jempol pada mereka.
Sementara di sisi lain, kelas
2-C, kelas Johan dan Russell berada...
“Hah? Angie ikut lomba lari!?”
teriak Johan terkejut.
“Kenapa heran begitu? Dia
kan...” ucap Russell menggantung saat mendengar aba-aba dari wasit.
<Mulai!> DOOR! Tembakan
tanda perlombaan dimulai diluncurkan.
Angelica mulai berlari dengan
agak lamban, kemudian menaikkan kecepatannya saat sudah menempuh 50 meter. Ia
mulai melewati peserta lain satu persatu, sampai akhirnya ia yang paling dulu
menyentuh garis finish. Teman-teman sekelas pun menyoraki kemenangannya.
<Lomba lari 400 meter putri
dimenangkan oleh kelas 1-A, Angelica Sandoras!>
“Ini sih, mudah!!” sumbar
Angelica dengan bangga sambil mengedipkan sebelah matanya.
“... dia juga atlet, lho,
Johan!” lanjut Russell.
“Benar juga, dia kan jago bela
diri, ya...” keluh Johan masih terkejut.
<Selanjutnya lomba lari 400
meter putra. Perwakilan dari masing-masing kelas bagian SMA, harap bersiap di
lintasan tiga!>
“Giliranmu, Johan!” panggil
Russell sambil mendorong punggung Johan.
“Siip!” Johan bersiap.
‘Aah, Johan ikut lari 400
meter, toh. Aku mendukung kelasku, sih. Tapi aku juga ingin mendukungnyaa~~’
gerutu Angelica dalam hati. Sementara wasit memulai aba-abanya.
<Siaap!> DOOR!
Johan melaju dengan kecepatan
sedang, dan ia semakin mempercepat larinya saat sudah berada di tikungan hingga
akhirnya ia menempati posisi pertama saat sampai di garis finish. Teman-teman
sekelas serta cewek-cewek penggemar pun menyorakinya.
<Lomba lari 400 meter putra
dimenangkan oleh kelas 2-C, Johan Sabrishion!>
“Aku nggak akan kalah, lho,
Angie!!” teriak Johan kepada Angelica.
“A, apa, sih. Memalukan, tahu!
Jangan panggil aku saat masih ada di lintasan!” balas Angelica malu-malu.
“Hahaha!” Johan hanya tertawa.
‘Dasar... syukurlah dia
menang...’ ucap Angelica lagi dalam hati.
<Berikutnya adalah lomba
tarik tambang campuran. Peserta pertama yang akan bertanding adalah kelas 1-A
dan kelas 2-C>
“Hee!? Kita melawan kelas
dua!?” teriak Angelica terkejut.
“Ditambah lagi kelas kak
Johan!?” lanjut Sylvie yang juga terkejut.
“Tenang saja!! Teman-teman,
walau mereka kelas dua, kita tidak boleh kalah!!” balas Harry yang menyemangati
teman-temannya.
“Yaaa!!” balas teman-teman
sekelas lainnya.
Di sisi lain, murid kelas 2-C.
“Waaah, anak kelas satu
sekarang berani, ya!” kata salah satu teman sekelas Johan dengan nada sombong.
“Semuanya, kita takkan biarkan
mereka menang, kan? Mereka masih cebol, lho!” teriak Johan memberi semangat.
“Yaaaa!!”
BUAK!! Sebuah tongkat untuk
perlombaan estafet melayang dan mendarat di kepala Johan tiba-tiba.
“Beraninya kau bilang seperti
itu, kak Johan!! Aku dengar, lho!!” teriak Angelica di seberang lintasan.
“Masa bodo!! Weeeek!!” balas
Johan meledek.
<Siaaap!> DOOR!
Mereka mulai menarik tambang
dan sangat berusaha keras. Tambang mulai mengarah ke arah kelas Johan, namun
kelas Angelica dengan mudahnya membalik keadaan dan mereka menarik dengan kuat
saat kelas Johan mulai lengah. Mereka bersorak untuk kemenangan mereka.
<Lomba tarik tambang
dimenangkan oleh kelas 1-A!>
“Kalah dari anak kelas satu!?
Memalukan!” gerutu Johan kesal.
“Sekarang terbukti siapa yang
cebol, kan? Weeek!” balas Angelica dengan nada sombong.
“Siaaall!! Akan kubalas setelah
ini!!” gerutu Johan lagi.
Setelah lomba itu, perlombaan
lainnya pun terus berlanjut. Dan akhirnya waktu istirahat makan siang pun tiba.
“Setelah makan siang, kita
lomba kuda-kuda. Lily, anak yang akan digendong hari ini tidak hadir” kata
Harry saat teman-temannya makan siang. “Ada yang bisa menggantikan? Bagaimana
kalau... Sylvie?” tanyanya pada Sylvie.
“Eeh, aku!?” teriak Sylvie
terkejut.
“Benar juga, Sylvie. Kau kurang
jago lari cepat dan mengangkat beban berat, kan?” tanya Angelica meyakinkan.
“Haha, lebih tepatnya, aku
tidak terlalu suka olahraga” jawab Sylvie malu-malu.
“Baiklah, kalau begitu kau
saja, ya. Yang lain ada yang keberatan?” tanya Harry pada yang lain.
“Setuju ketua! Setuju! Tidak
masalah!” teriak teman-teman sekelasnya menyetujui.
“Yosh! Semangat untuk lomba
paruh kedua nanti!”
“Yaaaa!!”
“Angelica! Kau sudah selesai
makan siang? Ini giliran kita jaga, lho!” panggil Patricia dengan
terengah-engah karena habis berlari.
“Ah, aku segera kesana, kak
Patricia!! Semuanya, semangat untuk perlombaan nanti!” balas Angelica sambil
menyemangati teman-temannya.
“Hee? Angelica tidak ikut!?”
“Ia akan ikut perlombaan lompat
jauh dan lari estafet di paruh kedua nanti”
Kemudian lomba atletik pun
tetap berlanjut mulai dari lomba kuda-kuda, lomba peralatan, lomba makan roti
tercepat, senam ganda, dan lompat jauh yang dimenangkan oleh kelas Angelica.
<Perlombaan terakhir lari
estafet sejauh 3.000 meter antar kelas bagian SMA, harap bersiap di lintasan
dua!>
“Kak Patricia, aku akan
bersiap” ucap Angelica.
“Baiklah. Semangat, ya!” kata
Patricia menyemangati.
“Hah? Kau juga ikut lomba lari
estafet, Angie?” kata Johan yang tiba-tiba muncul dan baru akan bersiap di
dekat lintasan.
“Hee? Johan juga!?” tanya
Angelica balik.
“Ya. Hmm... Kau pelari keberapa?”
tanya Johan.
“Ng... pelari terakhir” jawab
Angelica.
“Hoho, berarti aku tidak akan
kalah darimu!” katanya menantang.
“Ooh! Coba saja kalau bisa!”
balas Angelica dengan mata yang seakan-akan mengeluarkan petir dari mereka
berdua. Di lintasan, wasit pun memulai aba-aba.
<Siaaap!> DOOR!
Pelari pertama kelas 1-A adalah
Sylvie. Meski dimulai dari start yang bagus, namun ia hanya menempati posisi
terakhir. Kemudian salah seorang teman sekelasnya yang jadi pelari kedua akhirnya
bisa mendapat posisi kelima. Pelari ketiga adalah Harry, yang lumayan jago
dalam olahraga terutama lari. Ia cukup banyak melewati peserta lain yang lari
didepannya.
“Waah, Harry sudah di posisi
ketiga!” teriak Angelica terkejut.
“Hmm lumayan juga. Tapi
penentunya sekarang kita lho” kata Johan.
“Begitu, ya. Aku tak akan
kalah!” balas Angelica dengan semangat sambil mengikat rambutnya dengan
headband.
<Oow, rupanya ketua dan
wakil ketua Dewan Siswa kita akan bersaing di lintasan terakhir! Persaingan ini
akan semakin ketat!> teriak pembawa acara bersemangat. Sementara itu, Harry
sudah menyerahkan tongkatnya pada Angelica.
“Angelica!!”
“Serahkan padaku!!”
Angelica memulai larinya lebih
dulu yang kemudian mundur mendapat posisi keempat. Johan memulai belakangan
karena Russell, pelari ketiga, mendapat posisi keenam. Mereka pun mulai
bersaing di lintasan terakhir. Tak lama kemudian Angelica sudah mendapat posisi
pertama, sementara Johan sudah melewati peserta lain hingga akhirnya mendapat
posisi kedua, hanya beda tipis dengan Angelica. Mereka bersaing dengan sangat
ketat hingga akhirnya... Angelica mendapat posisi pertama!
<Akhirnya! Pemenang lomba
lari estafet 3.000 meter adalah kelas 1-A!!>
Para siswa menyorakinya dengan
semangat. Sementara teman-teman Angelica berlari mengerubunginya dan bahagia
atas kemenangannya.
“Angelica, kau hebaat!!”
<Kami telah menghitung
keseluruhan skor masing-masing kelas. Dan pemenang lomba atletik bagian SMA
tahun ini adalah... kelas 1-A!!>
“Yeeeeii!! Kelas kita menang
lomba festival olahraga tahun ini!!!” teriak Sylvie.
“Haha, latihan kita tidak
sia-sia, kan!?” teriak Harry bersemangat. Dan mereka masih menyoraki kemenangan
mereka. Sementara kelas 2-C menggerutu kesal.
“Kita kalah dengan kelas satu!?
Menyebalkaaan!”
“Yaah, mereka memang hebat,
sih”
“Tidak apa-apa! Tahun depan,
kita akan balas mereka!” ucap Johan bersemangat.
Teman-teman sekelas Johan
terdiam sejenak, kemudian mereka tertawa dan mulai meledeknya.
“Hahahahaha! Duuh, ternyata
Ketua tidak rela reputasi kelasnya direbut wakilnya hari ini!”
“Apaan, sih!” gerutu Johan
malu-malu.
“Tapi meski cewek, Sandoras
ternyata tangguh sekali, ya! Kukira dia hanya ahli di pelajaran, rupanya
olahraga pun ia hebat!” puji salah satu dari mereka.
“Ditambah lagi, dia cantik.
Meski manis adalah kata yang tepat buatnya!” tambah yang lainnya.
“Hmm... menurut kalian begitu,
ya” ujar Johan menanggapi.
“Haha, tenangkan sahabatmu yang
habis dikalahkan pacarmu tuh, Russell!” ledek yang lainnya lagi kepada Russell.
“Eh, i, iya...” jawab Russell
gugup.
Johan terdiam saat mendengar
salah satu temannya berkata seperti itu pada Russell. Ia menatap Russell tanpa
ekspresi. Dan Russell hanya menanggapi dengan santai.
“Mereka tidak akan tahu yang
sebenarnya kalau tidak kau beritahu, kan...?”
Johan terdiam dan menunduk
sesaat.
“Kau benar...”
<Sebagai acara penutup, kami
beri kesempatan pada seluruh siswa-siswi setiap bagian sekolah mengikuti folk
dance. Bagi yang berminat, silakan berkumpul di lapangan besar!>
“Angelica, kau mau ikut?” tanya
Patricia.
“Ah, iya. Kak Patricia
bagaimana?” tanya Angelica balik.
“Tidak, aku tidak ikut. Setelah
selesai, segera kembali, ya!” perintahnya.
“Baik!”
“Angelica!” panggil seseorang.
“Eh... kak Russell?”
“Kau mau berpasangan denganku
di folk dance hari ini?”
“Eh, tapi aku...”
Russell mendekatkan kepalanya
ke telinga Angelica.
“Ssst! Ini agar mereka tidak
tahu yang sebenarnya” katanya pelan.
“Eh... aku... maaf, kak
Russell! Biar bagaimanapun, aku...!” belum selesai Angelica menolak, seseorang
meneriaki mereka berdua.
“Hooi, Russell! Beraninya kau
mengajak pacarku saat aku lengah!”
Johan mengatakan itu pada
Russell sambil memeluk Angelica dari belakang. Ia mengatakannya dengan keras,
sehingga seluruh sekolah berseru kaget.
“He... heeeeeee!?!?!”
“Ka... kak Johan!” panggil Angelica terkejut.
“Hahaha! Aku Cuma bercanda,
lho, Johan!” kata Russell nyeleneh sambil tertawa.
“Uugh, kau ini! Ayo, Angie!”
kata Johan sambil menggandeng Angelica dan beranjak dari situ.
“Eh, eh!? Mau ke mana!? Folk
dance sudah mau dimulai!”
“Masa bodo sama acara seperti
itu!”
Russell hanya melihat Johan dan
Angelica yang mulai beranjak menjauhi tempatnya berdiri. Ia hanya melihat,
kemudian mengatakan...
“Cemburu, ya?”
“Sudah jelas, bodoooh!!” teriak
Johan spontan.
“Hahahahaha!! Baru kali ini kau
mengakuinya! Hahahahaha!!” Russell tertawa terbahak-bahak.
“Grrr~!” Johan makin geram.
“Hentikan, kak Johan! Kau
berlebihan! Kak Russell juga!”
Angelica berusaha melerai
dengan menyentil dahi mereka. Akhirnya mereka berhenti, tanpa sadar bahwa
mereka menjadi pusat perhatian, dengan pandangan yang aneh...
“Hee, jadi sebenarnya ketua dan
wakil ketua Dewan Siswa pacaran?”
“Sabrishion dengan Sandoras?
Bukankah waktu festival kemarin ia bilang pacaran dengan Orlando?”
“Berarti soal kejadian waktu di
ruang kepala sekolah itu benar, ya?”
Terdengar segala ocehan-ocehan
lain menyangkut mereka berdua. Terutama Angelica yang semakin diejek hal-hal
jelek. Ia semakin tertekan.
“Ternyata Sandoras bisa seperti
itu juga, ya”
“Padahal murid teladan, tapi
bisa-bisanya mencari perhatian pada pangeran sekolah!”
“Menyebalkan, ya!”
Angelica semakin tidak tahan.
Ia akan kembali ambruk jika Johan tidak
segera memberikan sandaran badannya. Angelica hanya menatapnya tanpa berkata
apapun.
“Semuanya, aku minta maaf!”
ucap Johan sambil membungkukkan badannya.
“Yang kukatakan saat festival,
itu adalah kenyataan. Tapi... saat pesta dansa, Sandoras baru menyadari
perasaannya padaku, dan aku...” ia berhenti sesaat. Ia tak sanggup
mengatakannya.
“Dan, Sabrishion juga menyukai
Sandoras hingga tak bisa menahan perasaannya” lanjut Russell tiba-tiba. Dan itu
membuat pandangan semua siswa beralih padanya.
“Apa maksudmu, Orlando?
Bukankah dia berpacaran denganmu? Atau memang selama ini Sandoras yang...”
tanya seorang siswa dengan melanjutkan kalimatnya lewat tatapan sinis pada
Angelica. Walau Angelica tidak menatapnya balik, namun ia merasa merinding dan
takut.
“Ini tidak ada hubungannya
dengan masalah popularitas seperti yang kau tuduhkan” ucap Johan. “Semua ini
hanya karena kesalahan kami yang begitu bodoh dengan masalah cinta.
Karenanya...”
“Kami minta maaf!” ucap Johan
dan Russell bersamaan. Ucapan itu membuat mereka hening sesaat dan saling
bertatapan.
“Semuanya!” teriak Angelica
tiba-tiba. Para siswa mengalihkan pandangannya lagi pada Angelica.
“Apa? Mau menyelak lagi?” ujar
salah seorang senior dengan sinis.
“Tidak ada yang perlu
dielakkan. Semua karena kesalahanku yang terlambat menyadari perasaanku pada...
pada Sabrishion! Karenanya, aku juga minta maaf pada kalian semua!!” ucap
Angelica sambil menunduk dalam-dalam. Para siswa bertatapan kembali.
“Jika memang aku harus mundur sebagai
wakil Dewan Siswa agar masalah ini selesai, aku bersedia!” ucap Angelica lagi. Sontak
semua yang mendengarnya terkejut. mereka terdiam dan kembali berbicara satu
sama lain. Mereka menatap Angelica dan yang lainnya dengan sinis, namun
beberapa dari mereka juga merasa kasihan. Bingung, itulah jawaban sebenarnya
dari raut wajah mereka.
“Kalian tidak bisa
memaafkannya?” tanya seseorang tiba-tiba. Semuanya terkejut dan menatap ke arah
suara itu.
“Grace” panggil Russell.
“Tidak usah terlalu
dipusingkan. Toh, ini hanya masalah perasaan yang terlambat disadari. Mereka sudah
cukup tersiksa atas kebohongan yang disimpan oleh mereka selama ini. Dan aku
bisa mengerti” ucap Grace memberi pendapat.
“Grace...” ucap Russell
terkejut.
“Maksudku, ayolah! Ini bukan
kejadian yang pertama kali kita semua lihat. Tidak ada yang bilang cinta antara
ketua dan wakil ketua itu tabu, bukan? Mereka sudah minta maaf” terang Grace.
Para siswa langsung merubah
pandangan mereka dan tersenyum.
“Tapi, jika nanti tugas mereka
terbengkalai karena cinta, kalian boleh memecat mereka bertiga, kok. Dengan begitu,
aku bisa jadi ketua Dewan Perguruan Siswa. Hahahaha!” katanya lagi dengan
tertawa bangga.
Angelica, Johan, serta siswa
lainnya terkejut dengan kelakar Grace yang menurutnya terlalu terus terang. Mereka
hanya bengong menatapnya, dan berpikir ‘hancur sudah citraku terhadapnya!’
“Maaf, Anderson selalu seperti
ini” ucap Russell lemas.
Kejadian itu membuat mereka
tertawa, dan akhirnya melontarkan komentar positif terhadapnya. Hal itu membuat Angelica kembali tersenyum,
dan mengucapkan rasa terima kasih pada mereka.
“Sebagai tanda terima kasih,
kita buat acara folk dance dan upacara penutupan semester sore ini menjadi
meriah, ya!!” teriak Angelica semangat.
Mereka pun melontarkan
semangat, dan memulai folk dance dengan senang. Johan langsung menarik Angelica
dari lapangan dan membawanya ke halaman samping sekolah yang sepi tanpa
mempedulikan Russell dan yang lainnya.
“Johan?” panggil Angelica tidak
mengerti. “Kau baik-baik sa...”
GREB! Johan berbalik badan dan
memeluk Angelica dengan cepat. Ia baru merasa bahwa badan Johan bergetar karena
ia takut.
‘Baru kali ini aku melihatnya
takut... jadi selama ini, inilah kelemahannya...’
Angelica hanya mengelus
punggungnya pelan dan membenamkan wajahnya dalam pelukannya.
“Semua akan baik-baik saja...”
ucap Angelica pelan...
Sementara itu di lapangan
samping sisi lain, Russell bicara dengan Grace.
“Kau tahu semuanya selama ini,
Grace?” tanya Russell serius.
Grace tersenyum. “Melihatmu
saat persidangan Katy Lawrence saja aku tahu, kok. Kau yang tipe spontan dan
tak peduli yang lain saat panik, tak mungkin hanya duduk diam di bangku sidang
dan menyerahkan pacarmu walau hanya pada sahabatmu. Lalu...”
“Lalu?”
“Wajahmu yang meski khawatir,
namun sedih saat itu, sudah menjawabnya...” ucap Grace sambil menatap wajah Russell.
Russell sedikit tersentak. Ia tersenyum,
dengan dipaksakan. Kemudian menunduk perlahan, dan menyandarkan kepalanya ke
pundak Grace yang lebih pendek lima senti darinya. Entah keringat atau air
mata, mendarat dari wajahnya.
“Terima kasih... sudah
memahamiku...” ucapnya pelan...
0 comment:
Posting Komentar