Setelah hujan berhenti, gadis
kecil itu mengikuti anak laki-laki itu berjalan. Ia menutup payungnya dan
kemudian mengejarnya untuk bisa berjalan di sebelahnya.
“Kau mau kemana?” tanya gadis
itu.
“Aku harus mengantar kotak ini”
jawab si anak laki-laki.
“Mengantar? Kotak ini bukan
milikmu?” tanyanya lagi.
“Sudah kubilang, ini untuk
seseorang yang bisa menerimaku apa adanya” jawab anak itu sedikit keras.
Gadis kecil itu berpikir sesaat.
“Kau begitu percaya pada takdir?”
tanyanya kemudian.
Anak laki-laki itu sedikit
terkejut. Ia berpikir sesaat.
“Ya, begitulah!” jawabnya sambil berpikir.
“Kenapa?”
“Karena takdir tidak akan berkhianat.
Walaupun suatu saat ia akan menyakiti dan membuatmu terluka, tapi jika dia
takdir kita, dia tidak akan mengkhianati kita. Karena itu berarti dialah jalan
yang Tuhan berikan pada kita!” jawab anak itu sambil tersenyum.
Gadis kecil itu terkejut mendengar
jawabannya. Angin berhembus dengan kencang. Harumnya air hujan tercium dengan
segar. Ia memandang punggung anak laki-laki itu sambil tersenyum tipis...
Angelica membuka matanya
perlahan. Ia merasa tidak asing dengan tempat itu. Ternyata ia tertidur di
mejanya di ruang Dewan Siswa. Ia melihat sekeliling dan...
“Sudah bangun?” tanya
seseorang.
Angelica terkejut dan
menengok ke belakang.
“Johan!”
“Yoo! Setengah jam lagi
upacara penutupan semester akan dimulai, lho” ucap Johan yang sebenarnya duduk
di sebelahnya sambil membaca buku sejak tadi, dan sedang mengambil buku yang
lain untuk dibaca lagi di rak buku besar yang ada di samping ruangan itu.
“Oh iya, ini sedang jam
istirahat setelah festival, ya” ujar Angelica mengingatkan dirinya sendiri.
“Kau sendiri kenapa masih disini?” tanyanya kemudian.
“Tugas merapikan
lapangan sudah kuserahkan pada anggota yang lain. Aku juga lelah mengurus
sebagian besar untuk festival ini, dan mereka juga sudah janji untuk mengurus
bagian yang sekarang” jawab Johan dengan nada malas.
“Ooh begitu...” tanggap
Angelica.
“Kau sendiri, tiba-tiba
masuk ke sini dan tertidur. Apa-apaan sikapmu itu” ujar Johan nyeleneh.
“Yaa, maaf. Jangan lupa
aku juga membantu yang ‘sebagian besar’ itu!” jawab Angelica membela diri.
“Hahaha. Yaa, aku mengerti”
ucap Johan setelahnya.
Mereka hening sesaat.
“Ngomong-ngomong, Johan.
Liburan semester nanti apa yang akan kau lakukan?” tanya Angelica setelah
berpikir.
“Hmm... paling-paling
mengerjakan PR libur musim dingin, mengurus perusahaan, belajar, menyelesaikan
game-game ku yang terlantar selama sekolah, dan...”
“Dan?”
“Malam natal dan tahun
baru nanti... mau pergi bersama?” ajak Johan sambil memalingkan wajahnya yang
merah.
Angelica terkejut
mendengar ajakannya, dan wajahnya menjadi sama dengan Johan. Ini kali pertama ia mengajaknya pergi bersama setelah mereka
resmi berpacaran.
“Bo... boleh saja...”
jawab Angelica gugup.
“Syukurlah” ucap Johan
sambil mengelus kepala Angelica.
Saat itu juga mereka
sadar, ada yang sedang mengintip dan mendengar pembicaraan mereka dari luar
karena mereka mendengar suara cekikikan yang terdengar dari dalam. Johan hanya
menghela napas dan membuka pintu dengan cepat.
“Kalau mau mengintip,
yang profesional, dong, Senior” ucap Johan menasehati.
“Kak Patricia, kak
Aldias, kak Michaelis!” panggil Angelica.
“Wah wah, kau berani
juga mengajak Angelica kencan, Johan! Good!” puji Aldias sambil mengacungkan
jempol.
“Tidaaak! My Little
Angel, kau tidak boleh kencan dengannya! Kau milikkuuu~~!!” teriak Michaelis
sambil memeluk Angelica.
“Aduuh, kak
Michaeliiis~~” Angelica berusaha menepis pelukannya sambil tertawa-tawa.
“Kak Michaelis,
terimalah kenyataan” ucap Johan memberi nasihat.
Meski Michaelis sering
memeluk dan bersikap seolah menyukainya, namun Angelica dan Johan tahu bahwa ia
hanya menganggap Angelica sebagai ‘adik yang harus disayang’ dan tidak pernah
lebih dari itu. Karenanya, Johan tidak merasa cemburu meski Michaelis memeluk
atau mencium pipi Angelica, walau terkadang sedikit geram melihatnya.
“Dasar kalian ini. Kalau
mau mengajak kencan, pilih tempatnya yang tepat” ucap Patricia pada Johan
sambil duduk di kursinya.
“Ney ney, Patrice. Kalau
mengajak, tidak penting tempatnya dimana. Yang penting adalah, kemana Johan
mengajaknya!” nasehat Aldias. “Jadi, kemana kalian bakal pergi!?” tanya Aldias
pada Johan dengan mata berkaca-kaca.
“Aah.. kita belum
memutuskannya, kok! Toh natal masih agak lama!” jawab Johan.
“Ah, ngomong-ngomong
kencan, kalian mau datang ke konser pianoku hari Sabtu depan?” tanya Patricia
sambil mengeluarkan sesuatu dari pouch yang dibawanya.
“Konser piano kak
Patricia!?” teriak Angelica terkejut.
“Ya. Aku dapat sepuluh
tiket. Tiga diantaranya sudah kuberikan teman-temanku, sisanya untuk kalian.
Ini” katanya sambil meletakkannya di meja.
“Hei, walau
memberikannya pada kami, masih sisa tiga lagi, lho” ucap Aldias.
“Tiga, ya... aku akan
ajak Russell” kata Johan.
“Ah, dua sisanya boleh
untuk teman-temanku!?” tanya Angelica.
“Tentu saja boleh. Tapi,
Angelica...” Patricia menghentikan kalimatnya.
“Ng? Kenapa, kak?” tanya
Angelica tidak mengerti.
Patricia berpikir
sesaat, dan menatap matanya langsung.
“Kau tidak ingin kembali
lagi ke dunia musik?”
Pertanyaan itu membuat
semuanya terdiam. Angelica terkejut, Johan menundukkan kepala, Aldias dan
Michaelis saling bertatapan.
“Aku tahu, kau pemenang
kompetisi piano tingkat nasional yang diadakan empat tahun sekali, dua tahun
lalu, kan? Tapi kau menolak untuk mengikuti kompetisi internasional tahun lalu
di Paris. Walau aku tak tahu apa yang terjadi padamu setelah itu, apa kau tak
ingin kembali lagi...?”
“Apa!? Kompetisi tingkat
nasional!? Piano!? Jadi pianis termuda
yang mengalahkan para pianis senior di tingkat nasional itu, ternyata
Angelica!?” teriak Aldias terkejut.
“Itu sungguhan!? My
Little Angel?” tanya Michaelis meyakinkan.
Angelica terdiam sesaat,
sambil berpikir. Kemudian perlahan mengangkat kepalanya sambil tersenyum.
“Begitulah, kak Aldias,
kak Michaelis” jawabnya pelan.
“Ta... tapi, kenapa...”
“Aku pasti nonton, kak
Patricia! Semangat untuk konsernya, ya!” ucap Angelica sambil memegang kedua
tangan Patricia.
Walau ia terkejut,
Patricia hanya menanggapi dengan anggukan kepala. Sementara Johan hanya
memerhatikannya tanpa berkata apa-apa...
Usai pembagian rapor, di
kelas 1-A.
“Konser kak Patricia
Preminger? Aku mau lihat!” kata Sylvie saat Angelica membagikan tiket pemberian
Patricia.
“Aku juga akan hadir.
Aku suka musik klasik yang dimainkannya sih” kata Harry sambil mengambil
tiketnya dari Angelica.
“Kalau begitu, kita
pergi bersama, ya” ajak Angelica. “Hmm ngomong-ngomong, kalian akan kemana
selama liburan?” tanyanya kemudian.
Sylvie dan Harry sedikit
terkejut, dan saling bertatapan. Angelica yang menyadarinya sedikit bingung.
“Eeeh... minggu depan
aku akan pulang ke Newcastle. Tapi maaf, walau aku sudah janji musim panas lalu, tapi aku tidak bisa
mengajakmu kesana!” ucap Sylvie sambil memberi pandangan minta maaf.
“Eeh!? Kenapa!?” tanya
Angelica terkejut.
“Orangtuaku
akan membuka toko ‘Crystal Gallery’ di cabang Paris dan Jerman. Pembukaan
cabang di luar negeri merepotkan dan makan waktu, dan waktuku juga akan lebih
banyak tersita selama masa-masa pembukaan, jadi aku tidak bisa mengajakmu. Aku
benar-benar minta maaf, Angelica!” ucap Sylvie sambil membungkukkan badannya.
“Aku
akan mengusahakan agar kau bisa datang saat libur kenaikan kelas nanti. Kau
boleh mengajak kak Johan juga, kok! Kak Russell juga! Karena itu..!”
Sylvie
masih terus-terusan berbicara sebagai permintaan maafnya. Angelica semakin
merasa tidak enak.
“Sudahlah,
Sylvie, aku mengerti, kok. Luar biasa, merek bajumu bakal dikenal di luar
negeri juga! Aku sangat mendukung! Semangat untuk pembukaan tokonya, ya!!” kata
Angelica sambil tersenyum.
“Angelica...
aku benar-benar minta maaf!” ucap Sylvie lagi.
“Ahaha
tidak apa-apa. Aku akan menunggu sampai libur kenaikan kelas nanti!” tutup
Angelica. “Harry juga, apa kau akan pulang?”
“Yap,
ke Norwich minggu depan juga setelah konser senior Preminger. Aku bakal
didatangi guru bimbel selama liburan, nih! Aku ingin mengajakmu kesana, tapi…”
Jawab Harry sambil menggerutu.
“Ahaha
semangat, ya, Harry! Ajakannya kapan-kapan saja!” kata Angelica dengan nada
senang, meski…
“Serius!?
Kau ranking dua seangkatan setelah Angelica, tapi bakal belajar selama
liburan!? Licik!” bentak Sylvie meski masih ada nada bercanda dalam
bentakannya.
“Ahaha…
Kau sendiri, prestasimu turun jadi ranking tujuh, ya!? Kau terlalu banyak mendesain,
sih!” ledek Harry sambil mengelus kepala Sylvie.
“Curaaang!
Aku juga ingin ikut pelajarannyaaa~~!” gerutu Sylvie kekanakan. Dan Angelica
hanya tertawa-tawa…
Meski hatinya
sedikit sedih…
Upacara penutupan
semester pun berakhir sore itu. Mulai besok, libur musim gugur hingga akhir
tahun pun dimulai. Selama libur, tidak ada kegiatan yang terjadi di sekolah
selain pelajaran tambahan bagi yang mendapat nilai jelek saat tes akhir
semester. Dewan Siswa pun diliburkan penuh selama libur semester.
“Angie, kau baik-baik saja?” tanya Johan sambil menyerahkan
minuman milk tea favoritnya. Mereka kini sedang berada di taman air mancur
sekolah dekat bagian SMP dan duduk di bangku taman yang ada di sekitar sana. Johan
duduk di sebelahnya setelah menyerahkan minumannya dan membuka kaleng minuman
nata de coco-nya sendiri.
“Ngomong-ngomong,
selamat, ya, atas keberhasilanmu meraih peringkat satu seangkatan. Kau luar
biasa bisa membagi waktu antara belajar, organisasi, dan kerja part-time. Padahal
tugas di Dewan Siswa sebelum festival sekolah lalu banyak sekali, lho” lanjut
Johan memberi pujian pada Angelica untuk menghiburnya.
“Terima
kasih. Dan aku tidak sehebat itu, ah!” ucap Angelica sambil merendah.
Johan kemudian
diam, menatap mata Angelica dalam-dalam.
“Angie,
ada yang kau pikirkan?” tanya Johan berhati-hati.
Kali
ini Angelica membalas tatapan matanya, namun tak lama sampai akhirnya ia
berpaling lagi.
“Asrama…
bakal sepi selama libur semester…” katanya pelan.
Johan sedikit
terkejut. Ia sedikit gelagapan, kemudian memasang wajah yang sama dengan
Angelica. Sedikit sedih.
“Maaf,
aku tidak terpikir hal itu…” kata Johan dengan sedih.
“Tidak
apa-apa. Aku akan segera terbiasa” katanya sambil menyemangati diri sendiri.
“Kau
tidak ingin pulang?” tanya Johan. Angelica menggeleng.
“Aku tak
ada uang untuk pulang. Lagipula, aku masih harus kerja part-time di kafe milik
Harry. Ng… sebenarnya ada hal yang kuinginkan, tapi sepertinya tidak bisa kuwujudkan
tahun ini, ya” jawab Angelica sambil menggaruk pipi dengan kuku jari
telunjuknya.
“Apa
itu?” tanya Johan lagi.
Angin
berhembus perlahan, sehingga membuat daun-daun berguguran di sekitar situ dan rambut
kuning Angelica tergerai. Ia berdiri sambil memegang topi yang dikenakannya
untuk mencegahnya terbawa angin dan melihat ke langit.
“Aku…
ingin mencari ayahku…”
Johan sedikit
terkejut. Ia memandang punggung Angelica dengan bingung.
“Ayahmu…?”
tanya Johan meyakinkan, sambil berdiri dari tempatnya duduk.
Angelica
berbalik badan dan tersenyum.
Mereka masih
diam di posisinya saat itu. Johan langsung mengganti suasana hatinya dan
kembali duduk.
“Kau
tahu dimana ayahmu berada?” tanya Johan.
“Tidak.
Karena itu aku datang ke sekolah ini”
“Maksudnya?”
Angelica
terdiam sesaat.
“Ayah
dan Ibuku, adalah lulusan sekolah ini. Ayahku hanyalah anak seorang petani
miskin yang bisa bersekolah disini dengan beasiswa, sama denganku. Sementara ibuku
berasal dari keluarga psikolog terkemuka. Kau mengenal seorang keluarga
Futherford yang sekarang bernama Lilica Sandoras..?”
“Futherford…”
Johan berpikir sebentar, dan terkejut. “Oooh, aku ingat! Bukankah Lilica adalah
psikolog yang kabarnya menghilang!? Dia itu ibumu!?”
Johan mengguncang-guncangkan
badan Angelica karena terkejut. Angelica berusaha menghentikannya.
“Te,
tenanglah. Ya, dia ibuku” jawab Angelica tenang.
“Tapi,
kenapa sampai…” Johan tidak melanjutkan pertanyaannya karena ia berpikir
Angelica sudah bisa menebaknya.
“Ayah dan Ibuku
mulai berpacaran sejak kelas dua SMA. Oh ya, meski beda dua tahun, mereka
berada di angkatan yang sama. Namun hubungan mereka sempat ditentang oleh
orangtua Ibuku. Setelah lulus SMA, mereka kuliah di universitas yang berbeda,
dan diam-diam Ayah mulai merencanakan usahanya untuk mengembangkan teknologi
pertanian untuk meneruskan kegiatan ayahnya, yaitu kakekku. Ia belajar dengan
giat sambil berusaha mencari pinjaman dana untuk mengimplementasikan usahanya. Senang
dan susah ia rasakan sampai akhirnya, Ayah menjadi orang sukses yang berhasil
menyebarluaskan hasil penelitian teknologi pertaniannya dan mengekspor hasil
taninya ke luar negeri, menciptakan teknologi-teknologi baru untuk
pembudidayaan tanaman, sampai perusahaan ayah diakui sebagai pelopor perusahaan
pertanian terkemuka di Inggris.
“Empat tahun
setelahnya, Ayah kembali dan datang ke tempat Ibu. Tanpa basa-basi, Ayah
langsung melamar Ibu dan kedua orangtua Ibu menyetujuinya meski masih sedikit
tidak percaya pada Ayah. Mereka menikah beberapa bulan kemudian dan aku lahir
dua tahun setelahnya. Saat aku lahir, tak lama setelahnya orangtua ayahku pergi
hanya dalam selang beberapa hari saja. Beberapa bulan kemudian Pamanku, adik Ibuku,
memilih ikut bersama kami. Hanya sampai Paman lulus kuliah dan mulai bekerja di
perusahaan swasta. Ia menolak bekerja di tempat Ayahku dan hanya dialah yang
tak meneruskan ke psikologi seperti keluarga Ibuku yang lainnya.
“Saat aku
beranjak masuk sekolah TK, mendadak perusahaan tempat Pamanku bekerja bangkrut
dan diadakan PHK besar-besaran. Kurasa saat itu Pamanku terguncang dan perlahan
berubah. Ayah dan Ibuku berpikir mungkin karena ia sudah mendapat jabatan besar
dan sempat dipromosikan ke jabatan lebih tinggi saat itu, makanya ia shock. Namun
aku berpandangan lain. Aku merasa bukan karena jabatan, melainkan ia punya cara
licik untuk merebut kepemilikan perusahaan tempat ia bekerja.
“Dua tahun
setelahnya, Pamanku keluar dari rumah dan bermaksud pulang ke rumah Ibuku di
London ini. Namun saat Ibuku menanyakan keberadaannya pada Nenekku bahwa Paman
tidak pulang, Ia sempat shock. Kami semua kerepotan mencari keberadaannya saat
itu. Setahun kemudian, kami menyerah dan berharap bahwa ia segera kembali. Entah
kenapa, aku yang saat itu sudah duduk di kelas tiga SD berfirasat buruk, bahwa
Paman akan kembali dengan cara yang tidak biasa…
“Kemudian saat
aku duduk di kelas tiga SMP, terjadilah hal yang pernah kuceritakan saat itu. Ayahku
pergi dari rumah untuk mencari keberadaannya, walau aku masih tidak tahu untuk
apa. Tapi kini, ia sendiri pun menghilang tanpa jelas dimana ia berada…
“Karenanya,
aku ingin mencarinya..” tutup Angelica sambil kembali duduk dan meneguk minumannya yang sudah tidak dingin.
Johan hanya
bisa diam tanpa berkata apa-apa. Kesal, sedih, marah, semua bercampur jadi
satu. Namun, ia bisa sedikit mengerti apa masalahnya karena ia “pernah”
mengalaminya.
“Sekarang,
apa yang Ibumu lakukan?” tanya Johan dengan nada kesal, meski ia tahun
seharusnya bukan itu yang ia katakan untuk mencairkan suasana.
“Ibuku
membuka klinik psikologi sekarang. Dengan tabungan yang tidak seberapa,
tentunya” jawab Angelica tenang.
“Ooh…”
Johan hanya menanggapi biasa. Ia berpikir, agak lama, sampai akhirnya berdiri
kembali.
“Angie,
kau benar-benar luar biasa!” puji Johan sambil tersenyum.
“Hah?”
Angelica bingung.
“Walau
kau tak merasakan kehidupan saat mereka sulit sebelumnya, tapi kau mampu
bertahan hingga hari saat kesulitan ini datang lagi. Itu luar biasa, lho!” ujar
Johan sambil tersenyum.
“Johan…”
“Aku
juga… ingin tahu seberapa besar aku mampu berjuang, dan aku juga ingin tahu
seberapa mampu aku menghargai dunia. Itu memang tidak sebanding denganmu. Tapi…
aku bisa mengerti perjuanganmu itu, karena akupun pernah berjuang dalam hal
yang sama…”
“Hal
yang sama..?” tanya Angelica tidak mengerti.
“Tahun
depan… saat libur semester tahun depan, aku akan menemanimu mencari ayahmu…”
kata Johan sambil tersenyum.
Angin
kembali berhembus. Angelica kembali terkejut. Ia kembali teringat kata-kata
Johan di akhir percakapan mereka, saat ia bertanya apakah mereka berdua pernah
bertemu sebelumnya. Ia kembali teringat dengan kotak yang pernah dijatuhkannya
saat pertemuan pertama mereka. Dan ia sedikit teringat dengan mimpinya
belakangan ini. Ya, ada yang disembunyikan oleh Johan darinya…
Angelica
kembali ke asrama sendiri, karena Johan harus pergi ke kantornya setelah
mendapat telepon dari ayahnya. Jam di taman sudah berdentang tujuh kali. Ia berjalan
menyusuri taman dan melewati gerbang utama, pintu masuk terdekat ke bagian SMA.
Ia melihat seseorang yang dikenalnya bersandar di salah satu sisi tembok
gerbang itu sambil memainkan HP-nya. Angelica akhirnya menghampirinya.
“Kak
Russell” panggilnya. “Sedang apa disini? Kau tidak pulang?” tanyanya kemudian.
“Oh,
Angelica. Aku menunggumu” jawab Russell sambil memasukkan HP-nya ke kantong
dibalik blazernya.
“Menungguku
disini? Kenapa tidak menunggu di ruang tunggu asrama, sih” keluh Angelica.
“Tadinya
aku menunggumu di kamar Sylvie. Tapi kau tak kunjung kembali sampai akhirnya
Sylvie pergi ke tokonya, sampai akhirnya aku menunggu disini” jelas Russell
sedikit malas.
Angelica
menghela napas. “Begitu, ya. Padahal Johan juga baru saja kembali”
Mereka terdiam
sesaat.
“Karena
sudah waktunya makan malam, bagaimana kalau kita keluar?” ajak Russell dengan
ramah…
“Eeeh,
maaf. Hari ini aku….”
Russell
akhirnya masuk ke asrama putri, ke kamar Angelica, dan disajikan makanan dari
kantin asrama.
“Waah,
sepertinya enak!” ucap Russell.
“Begitulah.
Lebih enak daripada di kantin sekolah, lho!” kata Angelica meyakinkan.
“Benarkah!?
Selamat makaan!” Russell pun menyuap makanannya. “Waah, enak! Enak banget!!”
katanya lagi sambil mengacungkan jempol.
“Haha,
makannya pelan-pelan, kak!” kata Angelica memberi nasihat.
Angelica
menyuap makanannya sendiri sambil memperhatikan Russell. Dan sedikit sedih
melihatnya.
“Terima
kasih banyak! Sudah selesai!” ucap Russell.
“Cepat
sekali!! Kakak pasti sudah terlalu lama menungguku, ya” kata Angelica terkejut.
“Yaah,
sudah lama tidak makan makanan rumahan, sih. Enak banget!”
“Syukurlah
kalau kau suka” kata Angelica sambil merapikan nampan Russell.
Setelah
Angelica selesai makan, Russell pun memulai obrolan.
“Sebenarnya
aku sudah menunggumu sejak pulang sekolah, tapi… saat melihatmu sedang bicara
dengan Johan, aku jadi tidak ingin mengganggu. Maaf ya”
“Tidak
usah dipikirkan, kak! Justru aku minta maaf karena membuat kakak menunggu. Dan juga…”
Angelica menghentikan kalimatnya, terlihat bingung.
“Dan
apa?” tanya Russell bingung.
“Aku…
ingin minta maaf pada kak Russell. Maafkan aku!” mohon Angelica sambil
membungkukkan badannya.
Russell
sedikit terkejut, namun paham maksud permintaan maafnya.
“Sudahlah,
Angelica”
“Tapi
aku benar-benar…!”
“Sudah
kubilang, aku sudah tahu dari awal. Jadi tidak usah dipikirkan” kata Russell
sambil tertawa-tawa.
“Aku…
benar-benar merasa bersalah padamu, kak… padahal aku sendiri yang bilang aku
menyukaimu, tapi… tapi…” Angelica mengeluarkan air mata dan menangis hingga
sesenggukan. Russell mengelus kepalanya.
“Angelica…
kau tidak boleh menangis…” kata Russell pelan. “Jika kau menangis, aku harus
menyerah…”
Angelica
terkejut mendengar pernyataannya, dan memandang Russell.
“Aku
tak ingin menyerah, apalagi jika suatu saat nanti Johan membuatmu menangis
seperti ini, aku tak akan membiarkannya… tapi… aku tahu siapa Johan, jadi kau
tak usah merasa tak enak padaku, ya…! Kita masih tetap teman, kan?” tanya
Russell sambil tersenyum tipis.
Angelica
berusaha menghentikan tangisannya dan menghapus air matanya, kemudian
mengangguk perlahan sambil membalas senyumannya.
“Tapi…
aku tetap merasa tidak enak, jadi… aku akan lakukan apapun agar aku bisa
menebus kesalahanku” kata Angelica masih sedikit sesenggukan. Russell tersenyum,
kali ini lebih lebar.
“Baiklah.
Akan kuanggap itu sebagai hutangmu. Hehe” tutup Russell.
Kemudian
mereka tertawa bersama. Meski baru sebentar, tapi rasanya sudah lama sejak
terakhir kali mereka tertawa bersama. Dan baginya itu cukup menyenangkan.
“Ngomong-ngomong,
kak Russell ada perlu apa menemuiku?” tanya Angelica untuk mengetahui maksud
kedatangannya.
Russell
terkejut. Ia membetulkan cara duduknya dengan meluruskan kakinya, meletakkan
tangannya di atas meja pemanas, dan menunduk perlahan. Namun jawaban Russell
membuat Angelica tak menduga sebelumnya…
“Ini…
soal tunanganku…”
0 comment:
Posting Komentar