Minggu, 14 Juni 2015

Wings of Melodies ~ Memories Edition - Chapter 6



“I
ni… soal tunanganku…”

Ini kedua kalinya Angelica mendengar soal tunangan Russell, dan tidak biasanya ia malah ingin membicarakan soal ini padanya.
Angelica tak berkata apa-apa. Ia hanya beranjak bangkit dari duduknya, berjalan ke mini bar di kamarnya, mengambil jus blueberry dari kulkas dan menuangkannya ke dalam gelas yang diambil bersamaan. Kemudian meletakkannya ke meja.
“Terima kasih” ucap Russell sambil meneguk jus tersebut. Kini Angelica pindah dan duduk tepat di depan Russell mengapit meja pemanasnya.
“Maaf… aku sedikit terkejut” kata Angelica pelan, sambil menundukkan kepala.
“Aku juga. Maaf membuatmu sedikit terkejut, tapi…” Russell menegakkan punggungnya. “Kau sudah tidak punya perasaan apapun padaku, jadi… tidak masalah kan?”
Pernyataan itu jelas membuat Angelica terkejut. Ia berusaha merubah suasana hatinya,
kemudian mengangkat kepalanya.
“Ya… kau benar…” jawab Angelica sambil tersenyum. “Kalau begitu, ada apa dengan tunanganmu? Kau sudah tahu siapa dia?” tanyanya.
“Soal itu…” Russell memainkan gelasnya. “Belum, tapi… aku bisa menduganya… hanya saja, aku belum bisa mengatakan siapa orangnya” lanjutnya.
“Oooh…”
Mereka terdiam beberapa saat.
“Maaf! Tolong lupakan saja soal ini. Sejujurnya, aku tak tahu bisa bercerita pada siapa soal ini, makanya aku ingin bicara denganmu tapi… sepertinya tidak mungkin. Maafkan aku!” ucap Russell sambil menundukkan kepalanya. Kemudian mengambil tasnya dan bersiap pergi.
Tapi tiba-tiba, Angelica menarik lengan blazernya dan itu membuat Russell terkejut.
“Tidak apa-apa, kak… aku sudah baik-baik saja sekarang” katanya sambil tersenyum.
Russell masih berdiri. Lebih tepatnya, separuh berdiri. Kemudian kembali duduk ke posisi tadi tanpa berkata apapun.
“Maaf, aku berbohong… ini bukan soal tunanganku, tapi… ini soal Johan… atau mungkin soal diriku sendiri, entahlah… aku sedang gundah…” Russell merasa ‘berantakan’ saat ini, karenanya ia tidak jelas apa yang sebenarnya ingin dibicarakan.
Angelica sedikit kebingungan menanggapinya dan tak tahu menemukan kalimat yang tepat untuk memecahkan situasi itu.
“Aku… apa aku belum cukup baik, ya…” kata Russell tiba-tiba. Angelica langsung melihat ke arah Russell.
“Kakak…?” panggil Angelica tidak mengerti.
“Seandainya waktu itu aku sudah besar dan lebih bisa memahami semuanya… seandainya aku tahu semua itu, aku tidak ingin membenci…” gumam Russell pelan sambil menundukkan kepala.
“Maaf… aku tidak mengerti maksud kakak…” keluh Angelica sambil kembali menuang jus blueberry itu ke gelas Russell.
“Ya… aku akan cerita dari awal…” katanya lagi.

Seperti yang kau tahu, keluarga Orlando secara turun temurun adalah keluarga pengusaha tambang terbesar di Inggris, meski kini sekitar 40% sahamnya dimiliki oleh pemerintah. Saat aku berusia 4 tahun, kakekku mengadakan semacam ‘kompetisi’ untuk melihat siapa yang berhak mewariskan perusahaan tambangnya. Ayahku memiliki 3 saudara lebih tua, dimana Ayahku adalah anak bungsu di keluarga Orlando saat itu. Kakak ketiganya adalah perempuan, jadi ia tidak dimasukkan hitungan sebagai pewaris, yang berarti Ayahku hanya punya 2 saingan yaitu kakak sulung dan kakak keduanya.
Meski anak bungsu, Ayahku bukanlah anak yang selalu dibanggakan dibanding keduanya. Prestasinya biasa-biasa saja di sekolah maupun dalam bidang ilmu lain, sementara kedua kakaknya sangat membanggakan dan semua anggota keluargaku sangat memuja dan berharap bahwa yang menjadi pewaris adalah diantara mereka berdua, sementara Ayahku hanya dipandang sebelah mata oleh mereka.
Tapi entah kenapa, Ayahku tidak pernah merasa sedih karena hal itu. Aku bahkan sampai bertanya pada Ayah apa beliau tidak kesal diperlakukan seperti itu. Namun Ayahku hanya menjawab,
“Ayah bersekolah selama ini bukan demi menjadi pewaris, tapi demi bisa membahagiakan kamu dan Ibumu, Ciara. Walau tak menjadi pewaris sekalipun, Ayah masih bisa menghidupi kalian berdua, kok. Karenanya, walau kau dari keluarga Orlando, jangan selalu berdiri di atas orang-orang yang berada di bawahmu. Karena kau akan menyesal jika suatu saat kau menjadi sama dengan mereka. Karenanya, Ayah takkan mendidikmu menjadi laki-laki manja. Kau harus bersedia hidup serba sulit untuk menghadapi tantangan ke depan nantinya”
Sejak saat itu, aku belajar menjadi seseorang yang Ayah inginkan. Sebelum pindah ke SD Escoriale, aku bersekolah di sekolah negeri biasa, belajar berbaur dengan mereka, aku diberi uang jajan yang sama besar dengan teman-temanku, dan aku dilarang diantar jemput menggunakan mobil karena jalan kaki hanya sekitar 20 menit waktu itu.
Ayahku menikah dengan Ibuku setelah lulus SMA, dan sejak saat itu Ayah membagi waktu antara kuliah dan bekerja. Sementara Ibuku hanya berkuliah sambil merawatku dan sempat beberapa kali ikut dengannya ke kampus. Karenanya saat umurku dua setengah tahun, Ibu sangat terkejut aku bisa memecahkan beberapa rumus kimia yang bahkan Ibuku tak bisa memecahkannya, dan mereka sangat bangga kepadaku. Mungkin itu karena aku sering mendengarkan isi perkuliahannya waktu itu.
Setahun kemudian, waktu pengumuman pun tiba. seluruh anggota keluarga terkejut atas terpilihnya Ayahku sebagai pewaris. Meski awalnya Ayahku tidak menerimanya karena ingin fokus pada penelitiannya, namun Ayah bilang tidak ada pilihan lain. Dari situ aku merasa aneh dengan jawaban Ayah. Bukankah kedua kakaknya jauh lebih bisa diandalkan? kenapa beliau bilang ‘tidak ada pilihan lain’?
Sejak saat itu, aku pindah sekolah ke Escoriale. Namun Ayah masih memperlakukanku seperti sebelumnya meski kini berada di sekolah elite. Johan, yang juga baru pindah hari itu, bisa dibilang teman pertamaku sejak aku pindah kesini. dia juga diperlakukan sama sepertiku oleh Ayahnya. Meski kami bergabung di klub yang berbeda, namun kami selalu berangkat dan pulang sekolah bersama. Kami sering berbuat nakal, belajar dan bermain bersama. benar-benar menyenangkan. Tepatnya semua menyenangkan, sebelum kenyataan tradisi keluarga memaksaku untuk menerimanya.
Suatu hari saat pulang sekolah, aku mendapati Ayah dan Ibuku bertengkar hebat dengan Pamanku, kakak keduanya dan istrinya. Aku terkejut bukan kepalang, dan membantu para pelayan lain yang juga berusaha melerai mereka berdua. Mengetahui aku baru pulang, Pamanku langsung merebutku dan memaksaku ikut dengannya. Aku tak ingat apa yang terjadi setelahnya, sampai akhirnya Ayahku berhasil menahanku ikut dengan Pamanku dan mereka pergi dari situ.
Aku begitu shock melihatnya. Dan memandang Ayah dengan penuh tanda tanya.
“Ayah… apa yang terjadi… kenapa Paman memaksaku ikut bersamanya…?”
Ayah terlihat bingung sambil bertatapan dengan Ibu. Kemudian, beliau menghela napas, menyuruhku duduk, dan mulai menceritakan yang sebenarnya.
“Maafkan Ayah, Russell. Kami berdua… bukanlah orang tua kandungmu…”
Cuaca yang begitu cerah mendadak suram. Badai datang menerpa dan angin kencang bertiup hingga mematahkan pohon tertinggi di rumahku. Buku yang baru kupinjam dari Johan terlepas dari genggamanku dan jatuh ke lantai. Pelayanku mengambilkan bukuku yang jatuh, namun mengurungkan niat mengembalikannya padaku dan memilih memegangnya sampai rasa shock itu berlalu. Aku langsung pias, tak bisa berkata-kata, sungguh mengejutkan.
“Apa… maksud Ayah…?” tanyaku pelan. “Apa aku ini…” lanjutku menggantung.
“Tidak. Kau bukan anak pungut, atau anak yang kami ambil dari panti asuhan. Sama sekali bukan, Nak!” sela Ibu.
“Tadinya, kami ingin mengatakan yang sebenarnya setelah tiba saatnya, tapi…” lanjut Ayah menggantung.
“Sebenarnya apa yang terjadi, Ayah? Katakan padaku! aku sudah cukup umur untuk mengerti itu semua, jadi katakanlah!” tegasku.
“… Baiklah, aku mengerti.” kata Ayah kemudian, dan mulai menceritakan keadaan sebenarnya.
“Sebagai keluarga pebisnis pertambangan terbesar, kita selalu menjaga agar nama keluarga Orlando bisa tetap eksis dan dikenal sebagai keluarga terhormat. Dan demi menjaga kehormatan itu, keluarga kami menjalankan tradisi tertutup yang terdengar aneh bagiku hingga hari ini. Yaitu… setiap anak yang lahir di keluarga Orlando yang memiliki kemampuan kurang bahkan biasa saja, harus ditukar dengan anak dari keluarga Orlando lain yang lebih baik dan lebih berkemampuan. Dengan kata lain, apabila Ayah dan Ibu memiliki anak, maka anak itu harus ditukar oleh anak dari keluarga lain yang masih dari klan keluarga Orlando”
Aku terkejut, dan sama sekali tidak terlintas dalam pikiranku kalau keluarga kami punya tradisi aneh seperti itu.
“Jadi, Paman tadi datang kesini karena… karena aku adalah putranya!?”
Ayah terkejut, dan hanya memejamkan matanya. Dari situ, aku paham jawaban Ayah. Dan kali ini, Ibu yang melanjutkan ceritanya.
“Berbeda dari keluarga lain, Ayah dan Ibu sama sekali tidak memiliki anak hingga hari ini demi bisa menyelesaikan pendidikan kami saat itu meski kami telah menikah. Mengetahui keadaan kami yang seperti itu, Pamanmu memaksa kami merawat putranya yang baru lahir, yang divonis memiliki keterbelakangan mental, yaitu kamu, Russell. Meski sebenarnya kami belum siap untuk memiliki anak saat itu, akhirnya kami terpaksa menerimanya karena sudah kewajiban kami untuk menuruti putra yang lebih berkemampuan daripada Ayah. Walau jauh di lubuk hati Ibu, Ibu senang sekali bisa memiliki dan merawat anak dan berjanji pada diri sendiri untuk bisa merawatnya dengan baik.
“Tapi dengan kondisi anak yang seperti itu, kami berpikir keras bagaimana untuk bisa menyembuhkannya dari penyakitnya. Kami akhirnya sepakat mengubah haluan hidup. Ayah berhenti dari penelitian kelautan yang disukainya dan mempelajari tentang genetika sambil melanjutkan kuliah pertambangannya. Sementara Ibu berhenti dari profesi Ibu sebagai model dan berkuliah Pendidikan Luar Biasa untuk belajar merawatmu sambil mempraktekkannya padamu. Makanya, Ibu beberapa kali mengajakmu ikut belajar bersama Ibu. Dan Ibu sungguh terkejut saat kau dapat memecahkan rumus kimia yang tak bisa Ayah dan Ibumu pecahkan di usia dua setengah tahun. Kau sungguh luar biasa, nak! Ayah dan Ibu bangga padamu!” jelas Ibu panjang lebar.
“Dan kebahagiaan kami bertambah saat penyakit keterbelakangan mentalmu dinyatakan sembuh oleh dokter kejiwaan. Meski kau masih harus menjalankan terapi rutin, tapi kami sangat mensyukurinya. Kini, Putra kami telah berubah menjadi anak cerdas dan penurut seperti ini ” lanjut Ayah sambil tersenyum dan sedikit menitikkan airmata, sambil mengelus kepalaku.
Aku kembali terkejut mendengar pernyataan Ayah dan Ibuku. Rasa yang awalnya marah dan kesal, berubah menjadi rasa sedih, terharu, dan rasa terima kasih tak terhingga. Mereka begitu berjuang dan mengorbankan impian mereka demi menyembuhkanku meski aku bukan anak kandung mereka.Aku langsung menangis keras saat itu, begitu juga Ayah dan Ibu yang menitikkan airmata kebanggaan mereka.
“Tapi… Pamanmu, ayah kandungmu, sangat terkejut melihat kamu yang ternyata normal-normal saja, tanpa mereka tahu apa yang telah kami lakukan padamu. Melihatmu yang seperti itu, Paman memaksamu kembali padanya…” kata Ayah…
Entah bagaimana setelahnya, setelah kenaikan kelas 5 SD aku telah berada di keluarga kandungku. Dengan terpaksa aku memanggil mereka ‘Ayah dan Ibu’, mereka melarangku menemui keluarga yang telah mengangkat dan benar-benar memperlakukanku sebagai Putranya sendiri. Aku punya seorang kakak laki-laki yang pintar, namun arogan dan semaunya sendiri. Ia tidak menerima kenyataan bahwa ia punya seorang adik dan kemudian memilih tinggal di rumah Nenekku, keluarga utama Orlando. Ayah kandungku pun sangat keras dan menerapkan cara pendidikan yang berbeda 180 derajat dari Ayah angkatku. Aku tidak boleh pulang terlambat, tidak boleh pergi dengan berjalan kaki sedekat apapun, harus mengenakan barang-barang mahal, bahkan harus menyombongkan diri di depan teman-temanku.
Kau ingat kejadian dimana kakiku cidera saat bersama Johan yang pernah kuceritakan waktu itu, kan? Sejak kejadian itu, mereka memperlakukanku dengan buruk. Aku ditaruh di kamar yang merupakan gudang penyimpanan, berkali-kali dipukul saat nilai ujianku buruk, bahkan memakan makanan sisa sebagai sarapan dan makan malamku, meski saat di luar aku tetap harus bersikap layaknya orang kaya. Aku kalap saat itu. Padahal ia Ayah kandungku, tapi teganya ia berlaku seperti itu padaku. Meski Ibu kandungku tetap memihakku, namun aku sudah tidak bisa mempercayainya lagi. Kini aku mengerti maksud Ayah angkatku yang berkata ‘tak ada pilihan lain’ saat ia diharuskan menjadi pewaris. Karena, seperti inilah Ayah kandungku yang sebenarnya.
Suatu hari, Ayahku sedang pergi ke Yunani untuk suatu urusan. Aku meminta izin pada Ibuku untuk bisa menemui Ayah dan Ibu angkatku di rumah keluarga cabang. Ibu terkejut dan memandangku sedih, namun tetap membiarkanku pergi dengan syarat aku harus segera kembali. Namun betapa terkejutnya aku, saat mengetahui mereka telah menghilang tak lama sejak aku pergi dari rumah itu dan tak ada satupun yang tahu kemana tujuan mereka. Keterkejutanku bertambah saat tahu bahwa Ayah mewariskan perusahaan tambang keluarga padaku beserta semua asetnya.
Aku berteriak sekeras-kerasnya. Merasa begitu kehilangan tempat yang dulu begitu hangat bagiku. Tempat dimana aku menyampaikan keluh kesahku karena tak ada satupun yang tahu perlakuan Ayah kandungku padaku. Aku menangis sejadi-jadinya, sebagai anak kecil yang kehilangan orangtuanya. Aku merasa, dunia begitu kejam padaku, yang hanya anak kecil, untuk mengalami kejadian seperti itu.
Kemudian, salah satu anggota keluarga cabang Orlando lain yang kini menempati rumah itu, menyerahkan sepucuk surat yang cukup tebal isinya padaku. Ia berkata bahwa itu adalah titipan dari Ayahku dan mempersilahkan aku untuk makan dan memberi pakaian yang layak, karena kebetulan baju yang kupakai saat itu begitu kotor dan kumal…
“Sejak saat itu, aku berusaha keras menerima keadaan yang ada. Aku berusaha keras dalam pelajaran dan menjadi pewaris perusahaan. Walau kakekku menganjurkanku untuk menyerahkannya pada Ayah kandungku terlebih dulu sampai aku lulus SMA, aku tidak rela. Perlahan sikap Ayah berubah dan menjadi begitu baik, tapi sampai sekarang, aku masih tidak bisa mempercayainya karena aku tahu, hartaku-lah yang ia inginkan…”
Angelica tak bisa berkata apapun. Diam seribu Bahasa. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Russell yang begitu ramah dan bisa diandalkan, punya masa lalu yang begitu menyedihkan seperti itu.
“Lalu, kau tahu dimana Ayah dan Ibu angkatmu berada..?” tanya Angelica kemudian.
“Untuk saat ini, aku hanya tahu mereka berada di Austria. Aku akan kesana setelah konser Preminger berlangsung nanti” jawab Russell.
“Lalu… isi suratnya bagaimana?” Angelica bertanya lagi.
“Surat itu… sangat panjang. sampai 7 halaman Ayah dan Ibu menulisnya bergantian. Intinya, aku tidak boleh melupakan apa yang telah mereka ajarkan padaku selama ini, dan…”
“Dan..?”
“Menerima kedua orang tua kandungku apa adanya” lanjut Russell sambil memejamkan mata. yang Angelica yakini mata itu tanda bahwa Russell masih belum bisa menerimanya hingga hari ini.
“Berarti… mereka tahu perlakuan orang tua kandungmu padamu” terang Angelica pelan.
“Begitulah…” tutup Russell.
Mereka kembali terdiam. sama-sama tertunduk dalam menghayati arti cerita tersebut dalam benak masing-masing. Namun kemudian, Russell terkejut…
“Angeli…”
… melihat setetes airmata jatuh dari pipi Angelica yang kemudian menangis sesenggukan. Russell menghampirinya.
“Maafkan aku, Angelica! Aku tidak bermaksud untuk…!”
“Tidak, kak…” sela Angelica. “Kau sama sekali tidak bersalah… aku yakin orangtua angkatmu tidak bermaksud meninggalkanmu tanpa alasan meski mereka tahu kau yang sebenarnya… saat itu…”
Angelica memperbaiki cara duduknya, menghapus air matanya, dan menghadap Russell secara langsung.
“Satu hal yang tak boleh kau lupa, kak…”
“… apa itu?” tanya Russell.
“Meski mereka orang tuamu… mereka juga manusia seperti kita…” ucap Angelica sambil tersenyum.
Russell terkejut mendengarnya. Ia pun mulai menitikkan air matanya dan perlahan bersandar di bahu Angelica. Karena ia sadar, itu bukanlah hal yang harus disalahkannya pada orang tua angkatnya, karena mereka masih mencintainya.
“Aku juga kehilangan Ayahku karena hutang yang disebabkan Pamanku… karenanya… kita berjuang sama-sama untuk menemukan mereka, ya…”
“… Ya…”
Angelica dan Russell pun kini sama-sama tenggelam dalam kesedihan, bahwa mereka sama-sama telah kehilangan salah satu ‘cinta’ mereka. Dan akan berjuang untuk bisa menemukan mereka…

Seminggu pun berlalu, akhirnya hari konser piano Patricia Preminger pun tiba. Konser yang diadakan di London Mega Hall itu sangat dipadati penonton. Angelica bersama teman-teman dan anggota Dewan Siswa lainnya berangkat bersama dan saling bertemu di sekolah.
Saat konser dimulai, Patricia memainkan lagu gubahan Bach Concerto Piano in F Major, dan terlihat sangat menawan dengan penampilannya yang begitu kalem dan terlihat begitu sempurna memainkan jarinya di atas piano putihnya. Dan penampilan itu diakhiri dengan tepukan tangan yang meriah dari penonton. Bahkan diantara mereka ada yang melemparkan bunga padanya.
“Eeeh… terima kasih kepada semua penonton yang telah hadir di konserku hari ini. Tapi dimohon jangan beranjak setelah ini, karena akan ada pianist istimewa yang telah hadir untuk memainkan lagu untuk kita. Angelica Sandoras, yang merupakan juara kompetisi piano tingkat nasional dua tahun lalu!”
Angelica dan yang lainnya terkejut. Karena didesak, akhirnya ia tetap maju dan memainkan musik gubahan Ravel Piano Concerto in G Major andalannya. Pada bagian pertama, Angelica tampil sangat bersemangat, dan ia benar-benar menunjukkan emosi yang terkandung dalam lagu itu. Hingga akhirnya, konser itu ditutup dengan wajah cerianya. Penonton sangat gembira dan terkesan dengan penampilannya. Angelica pun tersenyum bahagia.
‘Entah kapan terakhir kali… aku merasakan suasana di atas panggung seperti ini… terasa… luar biasa!!’ gumam Angelica dalam hati…

Selesai konser, mereka makan malam bersama-sama Patricia juga.
“Cheers!!”
“Hari ini untuk merayakan kesuksesan konserku dan Angelica sebagai tambahan, aku yang akan traktir!!” sumbar Patricia bersemangat.
“Tambahan!?” Angelica terkejut.
“Seenaknya bilang penampilan pacarku sebagai tambahan. Kutambah tugasmu di Dewan Siswa, nih” ujar Johan ketus.
“Bercanda, kok, Johan! tapi Angelica memang luar biasa. Padahal itu penampilan spontan, tapi kau tidak setengah-setengah!” puji Patricia dengan bangga.
“Terima kasih, kak Patricia. Walau sejujurnya aku sangat gugup” kata Angelica.
“Tapi, yang penting hari ini sukses, kan!?” Aldias menambahkan.
“My Little Angel, aku sangat bahagia melihat penampilanmu! Mmmuah!” puji Michaelis sambil memberi ciuman di pipi.
“Ahaha… terima kasih, kak Michaelis…” balas Angelica dengan tertawa lemas.
“Hooi! Seenaknya mencium pipi Angie!!” teriak Johan sambil menghapus bekas ciumannya.
“Ahahaha sepertinya Dewan Siswa ramai sekali, ya!” komentar Harry sambil tertawa.
“Hee,, ternyata Angelica selama ini dianggap adik oleh kak Michaelis. Aku baru tahu!” tambah Sylvie.
“Maaf selama ini aku tidak cerita” kata Angelica.
“Wah wah, berarti kau tidak dianggap kakak, Michael” ledek Aldias.
“Tidaaak! My Little Angel, kau tega padakuuu~~” keluh Michaelis dengan nada masochist-nya.
“Kak Michaelis, makananmu keburu dingin, lho” ujar Patricia menasehati.
“Aaahh~ jangan kaku begitu, dong, My Goddess Patrice” balas Michaelis dengan nada masochist-nya.
Mereka pun tertawa bersama melihat tingkah Michaelis. Mereka saling berbagi cerita, mengobrol, bahkan berdansa bersama. Dan pesta makan malam setelah konser itu pun berlalu dengan menyenangkan…

Di luar restoran, mereka pun berpisah.
“Kalau begitu kita berpisah disini, ya…” ujar Harry.
“Ya. Ternyata kak Aldias dan kak Michaelis juga harus ke luar negeri, ya” keluh Angelica.
“Hmm, aku akan berlibur ke Meksiko, dan harus jadi pengacara disana karena sedang ada permintaan penanganan kasus. Liburan sambil kerja, deh” jelas Aldias.
“Aku akan ke Paris untuk belajar kilat mode dan hairstyle. Maaf aku meninggalkanmu, My Little Angel!” lanjut Michaelis.
“Tidak apa-apa. Semangat untuk kalian berdua, Senior!” ujar Angelica menyemangati.
“Aku dan Sylvie juga akan naik pesawat malam ini. Jaga dirimu baik-baik, Angelica!” kata Harry.
“Yaa!”
“Aku akan berada di Oxford selama liburan. kau bisa mampir kesana” ujar Patricia.
“Baik, terima kasih, kak Patricia!” ucap Angelica.
“Pokoknya yang tidak bawa oleh-oleh, dilarang pulang!” tegas Johan bercanda.
“Iya deeh! Daaah!! Sampai nanti setelah liburaaan!!” sapa semuanya bergantian.
Akhirnya mereka pun berpisah dengan mobil masing-masing, sampai akhirnya tersisa Angelica, Johan dan Russell.
“Aku akan ke kantor dulu mengambil beberapa keperluan sebelum berangkat” kata Russell.
“Ah ya, kau naik pesawat pribadi ke Vienna, ya” Johan mengingatkan.
“Pesawat pribadi!? kereen!!” puji Angelica takjub.
“Haha biasa saja, kok” Russell merendah.
Kemudian Angelica mendekati Russell, dan mengeluarkan sesuatu dari clutch yang ia bawa.
“Ini untukmu, kak” Angelica menyerahkan suatu kotak kecil padanya.
“Apa ini?” tanya Russell.
“Bukalah saat di pesawat nanti. Itu hadiah dariku dan Johan, tapi mungkin tidak berguna, sih. Semoga berhasil bertemu orang tua angkatmu, ya!” kata Angelica sambil menyemangati.
Russell terkejut, kemudian tersenyum kepada mereka berdua.
“Jangan pulang sebelum bertemu, ya!” ledek Johan.
“Tidak senang aku disini, ya? Lagipula, kalau tahu tidak berguna, kenapa beli hadiah ini, sih” balas Russell sambil pura-pura protes. Mereka tertawa kemudian.
“Sudah, ya. Sampai ketemu lagi setelah liburan” sapa Russell sambil menaiki mobilnya.
“Yaa! Kabari kami saat sudah sampai, ya!” saran Johan. Russell pun akhirnya berlalu…

Angelica diantar kembali ke asrama menaiki mobil Johan. Selama di perjalanan mereka saling berbicara.
“Semuanya pergi. Kau juga akan ke Berlin lusa nanti. Bagaimana denganku, ya. PR musim dinginku sudah selesai dan tidak ada part-time selama libur. Huufft…” keluh Angelica sambil menghela nafas.
Johan terdiam sesaat.
“Angie” panggil Johan.
“Ya?” sahut Angelica.
“Sebenarnya… aku bisa saja menanggungmu untuk membantu menemukan Ayahmu” kata Johan.
“Aku menolak” jawab Angelica kilat. “Lagipula, aku belum dapat petunjuk, kan” lanjutnya.
“Iya juga, sih…” kata Johan lagi sambil berpikir. “Kalau begitu… mau ikut ke Berlin? Aku juga akan ke Indonesia dan Jepang setelah dari sana, sih”
Angelica terkejut mendengar ajakan Johan. Walau bukan pertama kalinya keluar negeri, tapi ia merasa sangat senang.
“Tapi… aku akan mengganggu pekerjaanmu, kan” jawabnya merasa tidak enak.
“Tidak masalah. Toh selama di sana aku tidak akan seharian berada di kantor, bukan? Kita masih punya banyak waktu untuk berjalan-jalan, kok. Oh ya, jangan khawatirkan masalah akomodasi, karena kali ini aku yang ajak. Mau, tidak?” jelas Johan sambil bertanya.
Angelica tersenyum hingga kerut pipinya naik dan merah. Ia sangat senang.
“Aku mau!! Semoga menyenangkan, ya!!” jawab Angelica begitu bahagia.
Johan mengelus kepala Angelica sambil tersenyum sama bahagianya dengan Angelica. Mereka tak sabar menanti liburan yang akan menanti mereka. Dan mereka berharap, semoga ini liburan yang sangat menyenangkan!
Dan dari sinilah, langkah untuk menemukan semua ‘petunjuk’ itu, akan dimulai…

0 comment:

Posting Komentar

 

Diana Rachmawati Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template