Minggu, 14 Juni 2015

Wings of Melodies ~ Memories Edition - Chapter 7



B
andara Internasional Flughafen Wien, Vienna, Austria. Russell baru saja selesai mengambil bagasi tasnya dan berjalan keluar dari bandara sambil memainkan HP-nya. Ia berkeliling sekilas, dan menemukan yang dicari tak lama kemudian, yaitu mobil jemputannya.
“Selamat datang di Vienna, Tuan Muda Russell. Lama tidak bertemu” sapa seorang butler yang menunggu di depan mobil jemputan yang dimaksud. Butler itu menyambutnya dengan sopan.
“Yo, Karl. Lama tidak bertemu, ya” sapa Russell dengan nada biasa.
“Kami akan mengantar Anda ke hotel yang telah Anda minta untuk di-booking. Saya bawakan barangnya” tawar butler yang bernama Karl Leigner itu dengan sopan.
“Yup. Thank you!” kata Russell sambil menyerahkan travel bag besar yang ia bawa, dan
masuk ke dalam mobil.

Mobil melaju menuju hotel tempat Russell akan menginap dengan kecepatan sedang. Russell dan Karl pun saling mengobrol.
“Tuan Muda Russell, bagaimana perjalanan Anda?” tanya Karl.
“Hei, hentikan Bahasa sopanmu itu! Bikin merinding, tahu!” protes Russell sambil menunjukkan bulu kuduknya yang berdiri.
“Tapi, Anda kan majikan saya. Bukankah wajar bersikap seperti ini?” kata Karl membantah.
“Iya, sih. Tapi walau kau cucu dari butler terdahulu keluarga Orlando, kita kan teman sejak kecil. Aneh, tahu!” balas Russell.
“Memang, sih… eh, tidak! Aku sudah janji pada diriku dan kakekku untuk hormat pada setiap keluarga Orlando, jadi aku menghormatimu!” pinta Karl tegas.
“Ya, tapi tidak perlu pakai Bahasa sopan begitu. Aneh!” protes Russell keras.
“… Yaah, baiklah kalau itu maumu…” Karl menyerah. “Ngomong-ngomong, kau sudah mau menjalankan misimu kemari, Russell?” lanjutnya bertanya. Dan kali ini dengan nada formal.
Russell memandang Karl lekat-lekat,, menggenggam tangannya sendiri dan menjawabnya dengan yakin.
“Ya!”

Setibanya di hotel, Russell memesan kamar excecutive lounge meski untuk dirinya sendiri.
“Kau boros sekali menghambur uangmu untuk kamar sebesar ini padahal kau sendirian” protes Karl.
“Aha, akhirnya kau kembali seperti biasa. Memangnya kau tidak akan menginap di sini?” tanya Russell.
“Meski kecil dan berantakan, aku lebih nyaman di kamarku sendiri. Toh rumahku tidak jauh” tolak Karl.
“Tidak, kau harus menginap di sini” tegas Russell. “Ada satu kamar di sebelah sana, kau pakai kamar itu” perintahnya.
“Haah? Kenapa?” tanya Karl keheranan. Ia sedikit terkejut mendengar perintah Russell barusan, karena biasanya ia menolak menginap dalam satu ruangan yang sama, meski terpisah kamar.
“Yaah, aku hanya kerepotan saja tanpamu. Karenanya, kau harus di sini” ujarnya memberi alasan.
Karl menghela nafas. “Oke, baiklah” jawabnya menyerah.
Russell melihat jam. “Sudah agak sore, kita makan di luar saja malam ini. Dan ganti baju butlermu. Aku tidak nyaman melihatnya”  perintah Russell lagi.
“Apa!? Aku harus makan denganmu di restoran mewah!? Aku tidak mau!” protes Karl untuk kesekian kalinya.
“Kau ini protes terus. Turutilah kali ini saja. Toh baru mulai besok kau benar-benar jadi butlerku” gerutu Russell menggaruk-garuk kepalanya.
“Tapi kau baru memintaku menginap, kan? Tentu saja aku tidak bawa tuksedo ataupun baju ganti!” katanya lagi.
Tiba-tiba terdengar suara bel dari depan pintu masuk kamar hotel Russell. Karl membukakan pintu.
“Yahoo!” sapa seorang gadis yang membawa travel bag kecil dan tas jinjit. Ia menyapanya dengan nada imutnya yang menggemaskan. Mereka terkejut. Gadis itu adalah…
“Karla!?” seru mereka berdua hampir bersamaan.
“Ah! Lama tidak bertemu, Tuan Muda Russell” sapa gadis yang dipanggil Karla itu dengan sopan sambil sedikit menekuk kakinya dan melebarkan gaun lolitanya.
“Lama tidak bertemu, Karla. Waaw, sudah 7 tahun dan lihat kau sekarang!” seru Russell terkejut.
“Haha aku sudah SMP sekarang. Aku bawakan baju dan barang-barang keperluan kakak sesuai perintah Tuan Muda!” kata Karla menyampaikan maksud kedatangannya. Yap, seperti yang diduga. Karl dan Karla adalah adik kakak dengan beda usia lima tahun. Meski Russell dan Karl seumur, namun Karl berhasil loncat kelas dan kini ia duduk di kelas tiga SMA.
“Kau curang, Russell!” teriak Karl kesal, karena ia sama sekali tidak menduga Russell menyuruh Karla untuk hal tersebut.
“Aku malas menunggumu kembali. Lebih baik menyuruh adikmu membawa barangmu, sekalian mengajaknya makan malam. Kau mau, Karla?” kata Russell memberi alasan sambil bertanya pada Karla.
“Benarkah aku diajak!? Tentu aku mau, Tuan Muda!” teriak Karla sangat senang.
“Oke, cepat ganti baju, Karl!” perintah Russell lagi.
“Iya iya!”
“Kakak! Tidak sopan memberi tanggapan begitu pada Tuan Muda!” nasehat Karla.
“Aku tidak peduli!” balas Karl dengan sewot, sambil berjalan ke kamar yang dimaksud.
Keluarga Leigner merupakan keluarga yang hampir seluruh anggotanya bekerja pada keluarga Orlando, mulai dari pegawai tingkat rendah seperti maid dan butler, sampai dengan asisten pribadi keluarga utama di perusahaan. Dengan kata lain, keberadaan keluarga Leigner sangat bergantung pada keluarga Orlando. Meski begitu, mereka tetap menjaga hubungan baik antar keluarga bagai teman dan sahabat mereka sendiri, sehingga keluarga Leigner nyaman bekerja pada keluarga Orlando. Hebatnya, keluarga Leigner sendiri merupakan keluarga besar yang anggota keluarganya tersebar di beberapa negara Eropa, salah satunya adalah di Austria ini. Tugas mereka adalah ‘bekerja’ pada anggota keluarga Orlando setiap kali mereka berkunjung, mulai dari akomodasi, transportasi, bahkan informasi yang kira-kira dibutuhkan di negaranya. Namun di luar itu, mereka punya pekerjaan masing-masing untuk menyambung hidup mereka…

Akhirnya setelah beberapa saat, mereka tiba di restoran yang dimaksud. Setelah memesan dan hampir selesai menyantap hidangan, mereka mulai saling mengobrol.
“Jadi, kau sama sekali tidak tahu keberadaan orang tua angkatku?” tanya Russell.
“Bukannya ‘sama sekali’ juga. Keluarga kami di sini pun sudah sejak lama diminta oleh keluarga utama untuk mencari keberadaan orang tua angkatmu. Bahkan keluarga Leigner lain yang baru saja menikah, semuanya diminta pindah kesini untuk memperluas pencarian” jelas Karl.
“Semuanya?” tanya Russell terkejut.
“Yap” jawab Karl sambil menyuap makanannya. Kemudian ia mengambil sesuatu dari saku dibalik blazernya dan membuka sebuah kertas.
“Ini fotokopi kata-kata terakhir surat orang tuamu. ‘Jika bisa, temukan kami di tempat yang pernah kau menderita karenanya.’ Apa benar kalimat itu merujuk di sini? Di Vienna?” lanjut Karl bertanya.
“Aku sangat yakin di Austria, namun tak yakin kalau di Vienna…” jawab Russell sambil berpikir. “Lalu, bagaimana dengan keluarga Leigner lain? Mereka sudah temukan petunjuk?”
“Hmm… aku tak tahu apa ini bisa disebut petunjuk atau bukan, tapi…” Karl berpikir sebentar.
“Ada apartemen yang pernah disewa oleh keluarga Orlando di Vienna ini”
Yang menjawab adalah Karla. Russell terkejut mendengar jawaban itu dan melihat ke arah Karla.
“Apartemen…?” tanya Russell.
“Yap” jawab Karla meyakinkan. “Sebenarnya kami belum konfirmasi ini ke keluarga utama Orlando karena tidak yakin apakah ini benar-benar anggota keluarga Tuan Muda atau bukan, tapi begitulah yang kutahu” lanjutnya.
“Tepat seperti yang dikatakannya” tegas Karl. “Tapi, kita belum sempat konfirmasi pada pemilik apartemen sewa itu karena kau keburu datang” keluhnya.
Russell berpikir sebentar, dan melihat jam tangannya.
“Karla, apa kau tahu letak apartemennya?” tanya Russell pada Karla.
“Tidak terlalu jauh dari sini” jawab Karla datar.
“Baiklah, kita ke sana besok. Aku tak ingin membuang waktu. Toh mungkin kita bisa menemukan petunjuk awal” perintahnya…

Keesokan harinya Russell, Karl, dan Karla langsung menuju tempat yang dimaksud dan tiba di sana. Ternyata itu hanyalah apartemen sederhana, atau bisa dibilang cukup berada. Karl menanyakan tempat tinggal pemilik pada penjaga, dan mereka pun diantar ke sana.
Karla mengetuk pintu dan memberi salam. “Guten Morgen! (Selamat pagi!)”
Tak lama kemudian, pintu itu dibuka oleh seorang wanita paruh baya yang keheranan melihat mereka.
“Wer Sind sie? (siapa, ya?)” tanyanya.
Mereka bertiga sedikit kebingungan. Akhirnya Karl memperkenalkan diri.
“Guten Morgen, Madam. Saya Karl Leigner. Majikan saya ingin bertanya sesuatu pada Anda. Apa kami menganggu?” tanya Karl sopan.
“Majikan?” tanya wanita itu sedikit bingung.
“Guten Morgen, Madam. Mein Name ist Russell (selamat pagi, Madam. Namaku Russell). Bisakah saya bertanya sesuatu pada Anda?” tanya Russell.
Wanita itu berpikir sesaat, kemudian tersenyum ramah.
“Baiklah, silakan masuk” katanya kemudian.
Setelah itu, mereka masuk dan dipersilakan duduk oleh wanita itu. Setelah beberapa saat masuk ke dalam rumah, wanita itu keluar dengan membawa tiga cangkir teh.
“Vielen Dank (terima kasih)” ucap Karl.
“Gleichfalls (sama-sama). Namaku Alda. Apa ada yang bisa kubantu?” tanya wanita itu setelah sedikit memperkenalkan diri.
Russell, Karl, dan Karla saling bertatapan. Akhirnya Karl memulai pembicaraan.
“Begini, apakah benar ini adalah apartemen yang pernah ditinggali oleh suami istri Smith dan Ciara Orlando?”
“Orlando, ya…” Alda berpikir sebentar. “Oh, ya! Smith dan Ciara Orlando dari Inggris, kan?” tanyanya kemudian.
“Benar!” tegas Russell.
“Ya, mereka tinggal disini tujuh tahun lalu dan pindah dua tahun kemudian. Ada apa dengannya?” jawab Alda sambil bertanya kembali.
Mereka bertiga tersenyum senang, dan saling bertatapan kembali.
“Begini, Nyonya Alda” lanjut Karla. “Tuan Muda Russell, majikan kami ini adalah anak angkat mereka, dan beliau sedang mencari Tuan Smith dan Nyonya Ciara yang menghilang di tahun yang sama saat mereka pindah kesini”
Alda sedikit terkejut. “Benarkah!? Pantas saja aku sedikit tidak asing dengan wajahmu” kata Alda.
“Apa Tuan Smith dan Nyonya Ciara pernah menceritakan sesuatu tentang Tuan Muda Russell pada Anda, Madam?” tanya Karl.
“Yaah, sedikit. Tapi mungkin cukup banyak” jawab Alda. “Mereka masih muda, Sayangnya di usia semuda itu, mereka tidak bisa memiliki anak” pintanya sedikit sedih.
“Tidak bisa punya anak?” tanya Russell heran.
“Ya. Kau tentu paham alasannya” jawab Alda. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan ke meja yang dibawahnya terdapat laci dua susun. Ia membuka laci itu dan mengambil dua buah kertas.
“Ini foto orangtuamu yang diberikan padaku sebelum ia pindah” katanya sambil meletakkan foto itu diatas meja.
Foto satunya adalah foto Ayah dan Ibu angkat Russell, Smith dan Ciara Orlando. Smith memeluk Ciara dari belakang yang sedang menggendong bayi. Dan bayi itu adalah Russell. Mereka terlihat sangat bahagia dalam foto itu.
Foto satunya adalah foto Russell saat berusia sepuluh tahun. Russell sedikit heran.
“Bagaimana orangtuaku bisa mendapatkan foto saat usiaku sepuluh tahun?” tanya Russell.
“Mungkin potret sembunyi-sembunyi sebelum mereka menghilang” jawab Karla memberi pendapat.
“Satu hal yang paling mungkin” tambah Karl meyakinkan.
Russell mengerutkan dahi.
“Madam Alda, bagaimana Ayah dan Ibuku selama disini?” tanya Russell.
“Mereka sangat baik dan begitu pengertian. Ayahmu bekerja sebagai ilmuwan di laboratorium tidak jauh dari sini. Ibumu bekerja sebagai guru di sekolah luar biasa. Mereka sangat romantis dan saling pengertian. Namun kadang-kadang mereka suka bertengkar sampai melempar barang-barang dan mengganggu tetangga” jelas Alda.
“Yaaah… dulu mereka pernah bertengkar cuma gara-gara tujuan liburan yang tidak sependapat. Seisi rumah hampir semua barang-barangnya hancur, tuh” ujar Russell dengan mimik tak ingin mengingatnya.
“Mereka pernah bercerita tentang kamu dan mengungkapkan rasa rindunya. Mereka merasa sangat bersalah saat meninggalkanmu bersama orang tua kandungmu karena orang tua angkatmu tahu siapa mereka. Namun, mereka tahu betul dirimu, bahwa kau adalah satu-satunya orang yang dapat diandalkan sebagai pewaris utama keluarga Orlando. Mereka berharap, kau dapat mengendalikan situasi yang ada di keluarga itu saat ini” jelas Alda panjang lebar.
“Situasi saat ini?” tanya Russell.
“Aku tidak tahu apa maksudnya” jawab Alda. “Mungkin, ia ingin kau menyelesaikan masalah yang terjadi dalam keluargamu saat ini” lanjutnya.
Russell menunduk dan terdiam. Agak lama berada di posisi itu. Karl akhirnya bertanya lagi.
“Pertanyaan terakhir, apa Anda tahu kemana Tuan Smith dan Nyonya Ciara pindah?”
“… aku tidak tahu persis, tapi mereka pernah bilang akan pergi ke suatu desa. Namun aku tak tahu dimana” jawab Alda.
Russell akhirnya mengangkat kepalanya kembali.
“Begitu, ya… baiklah” tutupnya.
Akhirnya Russell, Karl dan Karla pamit mengundurkan diri.
“Terima kasih atas informasi Anda, Madam Alda” ucap Karl dengan sopan.
“Sama-sama. Semoga berhasil bertemu” ujar Alda menyemangati, kemudian melihat ke arah Russell.
“Kelak, kau akan menyadari betapa menyenangkannya perpisahan itu, Nak” pesan Alda.
“Eh?” Russell keheranan.
“Tuan Muda Russell, ayo kita berangkat!” panggil Karla dari dalam mobil.
“Ya, aku kesana! Sampai bertemu lagi, Madam” ucap Russell sambil segera berlalu…

Selama di mobil, Russell diam saja. Ia berpikir dan mencoba mengingat-ingat insiden yang terjadi di dalam keluarga Orlando. Ia hanya tahu bahwa dirinya dibuli oleh keluarga kandungnya sendiri, tapi ia yakin tak ada keluarga cabang lain yang tahu hal itu selain orangtua angkatnya, serta keluarga Karl.
“Memikirkan masalah yang terjadi di dalam keluarga Orlando, Tuan Muda?” tanya Karl menebak.
“Kau tahu sesuatu?” tanya Russell balik.
“Bagaimana, ya…” Karl membetulkan cara duduknya. “Ini hanya desas-desus dari keluarga Leigner yang bekerja untuk keluarga utama, sih, jadi aku tidak mau bikin masalah” lanjutnya.
“Kau banget” komentar Russell. “Aku akan pastikan sendiri, tapi aku perlu tahu inti masalahnya”
Karl memejamkan matanya, kemudian menghela nafas panjang.
“Kata kuncinya adalah ‘harta’. Kurasa kau bisa menebak dengan mudah konflik yang terjadi” kata Karl.
Russell menyipitkan mata dan menghela nafas. “Oh, begitu…”
Pasti masalah aku yang jadi pewaris, pikirnya. Ia sangat yakin akan hal itu, tapi bukan saatnya untuk memikirkan itu.
“Ngomong-ngomong, Tuan Muda Russell, kau tahu desa yang dimaksud Madam Alda tadi?” tanya Karla.
“Ya, aku pernah beberapa kali kesana. Dan besok, kita akan kesana” perintah Russell. “Karla mau ikut?” tanyanya pada Karla.
“Tentu saja! Pasti menyenangkan!” jawab Karla senang.
“Tidak usah! Menyusahkan saja, tahu!” protes Karl.
“Biar saja! Toh Tuan Muda yang mengajakku, bukan kakak. Weeeek!” jawab Karla sambil menarik bagian bawah mata dan menjulurkan lidahnya.
“Biarkan saja. Ini libur musim panas, kan” bela Russell.
“Baiklah, baiiik. Awas kalau kau merepotkan Tuan Muda!” ujar Karl memberi nasehat.
“Yaaa!!” jawab Karla.
Musim panas minggu kedua sangat terasa di Vienna. Namun masih ada sedikit angin yang berhembus hari itu. Russell akan menuju tujuan keduanya dengan satu petunjuk yang mungkin masih ada disana. Ia hanya berharap, semoga kedua orangtuanya baik-baik saja…

0 comment:

Posting Komentar

 

Diana Rachmawati Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template