Sabtu, 27 Februari 2016

Wings of Melodies ~ Memories Edition - Chapter 13



K
eesokan harinya, Russell begitu terpana melihat tarian waltz Lisha di tengah es yang begitu lincah, namun sangat elegan. Ya, kini ia berada di sekolah Lisha sesuai janjinya untuk melihat kegiatan klub ice skating-nya. Sambil melihat latihannya, ia sibuk dengan HP dan laptop yang sengaja dibawanya untuk mengerjakan pekerjaan kantornya di bangku penonton aula. Ia hanya sendirian, tidak ditemani Karl dan Karla.


Tadi pagi,
“Maafkan aku, Russell! Aku lupa ada latihan di klub pagi ini!!”
Russell, Karl, dan Karla yang sedang sarapan bersama, bengong melihat Lisha yang memohon pada mereka.
“Heh...?” Russell tak tahu harus bersikap bagaimana.
“Kami ada pertandingan di musim semi nanti, tapi mulai besok kami libur dua minggu kok! Karenanya, maafkan aku tidak bisa menemanimu pagi ini!” Lisha benar-benar memohon.
Russell mengembalikan roti yang sedang dimakannya di atas piring. Ia meletakkan kedua tangannya di atas meja sambil memejamkan mata, berpikir sesaat.
“Kalau begitu, boleh aku ikut ke sekolahmu?”
Lisha, Karl dan Karla, kaget bersamaan. Terlebih wajah Lisha yang berubah merah padam, Karl yang minumannya hampir keluar dari mulutnya, serta Karla yang tersedak hingga mau muntah.
“Tidak perlu sekaget itu, kan? Kalian ini berlebihan” Russell menggerutu sambil memanyunkan bibirnya.
“Hoi hoi, kau lupa tujuanmu kemari?” tanya Karl sewot.
“Sekalipun aku punya tujuan, lalu aku harus melupakan tugasku sebagai pewaris? Sejak kemarin aku banyak meninggalkan pekerjaan, tahu” gerutu Russell, dan itu membuat Karl sedikit tersentak.
“Ugh, benar juga...” Karl membenarkan.
“Kalau begitu, kak Lisha, bisa minta tolong tunjukkan kami jalan ke desa sebelah? Aku dan Kakak yang akan kesana” tanya Karla pada Lisha.
“Baiklah, aku akan tunjukkan saat ke sekolah nanti, tapi...” jawab Lisha, kemudian ia beralih lagi pada Russell. “Kau yakin ingin ikut ke sekolahku? Membosankan, lho, melihatku latihan...”
“Tidak masalah. Lagipula aku melihatmu sambil kerja. Aku harus mendahulukan tanggung jawabku dulu dibanding apa yang penting bagiku selama aku bisa” jawab Russell. Lisha akhirnya menghela nafas dan mengiyakan...

“Ternyata dia benar-benar kerja...” gumam Lisha pelan di tengah latihannya, saat ia melihat ke arah Russell yang sedang sibuk menelepon sambil memainkan laptopnya. Tiba-tiba Russell melihat ke arahnya, dan melambaikan tangan sambil tersenyum. Lisha langsung gugup dan hampir jatuh, namun dengan segera ia kembali menyeimbangkan badannya.
‘Ha, hampir saja jatuh...’ gumamnya lega dalam hati, seraya mengakhiri tariannya. Penonton, yang merupakan teman-teman se-klubnya bertepuk tangan dan memuji hasil latihannya. Ia kembali melihat Russell, yang juga ikut bertepuk tangan, kemudian menghampirinya.
“Tarian yang indah” puji Russell, sambil...
“Walaupun kau sudah hampir jatuh saat gugup melihatku tadi” meledeknya dan tertawa pelan.
“Uugh, habisnyaa~~” wajah Lisha langsung merah padam. Ia memutar-mutarkan kedua jari telunjuknya saking malunya.
“Hahaha. Aku sama sekali tidak menyangka orang sepertimu ikut klub ice skating. Kau sudah berusaha keras. Tarian tadi, waltz, kan?”
“Iya... kau tahu, ya?”
“Tentu saja, meski dalam ice-skating, aku tahu”
‘Oh iya, dia kan orang kaya. Tidak aneh kalau tahu...’ gumam Lisha dalam hati.
Tiba-tiba Russell mengulurkan tangannya.
“Untuk apa?” tanya Lisha bingung.
“Oh, itu...” Russell menggaruk-garukan belakang kepalanya sambil melihat ke arah lain. “Eeeh... bisa minta tolong pinjamkan sepatu ice skate seseorang? Aku... ingin menari denganmu”
Lisha benar-benar terkejut, wajahnya langsung panas hingga meledak. Ia sama sekali tidak menyangka akan mendengar permintaan itu darinya. Dengan gugup setengah mati, Lisha berbalik arah dan menghampiri teman-temannya tanpa berkata apapun. Sementara Russell, ia sendiri kaget dengan permintaannya barusan. Ia langsung duduk dan menaruh sikunya di atas paha yang menopang kepalanya. Wajahnya juga langsung merah padam...

“Huaaa!! Percuma saja kita jauh-jauh kesana, tapi hasilnya nihil!! Menyebalkaaan!!”
Karla teriak-teriak sendiri sambil berjalan dengan langkah yang seakan menantang orang di sekitarnya untuk bertengkar. Sementara Karl hanya melihat HP-nya di sampingnya.
“Sekalipun kau teriak-teriak, Tuan dan Nyonya tidak akan muncul didepanmu, tahu! Lagipula seharusnya kau tahu ini tidak akan mudah” jelas Karl.
“Tapi...” Karla berpikir keras.
“Apa?” tanya Karl.
“Tadi ada yang menyebutkan nama keluarga ‘Rosebary’. Itu nama keluarga Nyonya Ciara sebelum menikah dengan Tuan Besar, kan?”
Karl sedikit terkejut. “Darimana kau tahu itu?”
“Dari salah satu penduduk desa yang kita tanyakan tadi”
“Dasar bodoh! Kenapa tidak bilang dari tadi!?” Karl memukul kepala Karla dengan pelan.  
“Aku juga baru ingat tadi, tahu!” gerutu Karla pura-pura menangis. Karl hanya menghela nafas panjang setelah mendengarnya, dan menelepon Russell dari HP-nya. Saat sadar, mereka sudah sampai di gerbang sekolah Lisha.
“Pokoknya sekarang, kita temui dulu Russell. Kurasa ia masih ada di sekolah Lisha sekarang”
“Kenapa tidak telepon saja, sih. Aku masih ngantuk, nih” gerutu Karla sambil menguap.
“Pokoknya kau tidak boleh kembali ke hotel sampai waktunya makan siang. Gara-gara kamu bilang soal nama keluarga Nyonya Ciara belakangan, aku jadi repot, tahu!” omel Karl tegas. Karla hanya memanyunkan bibirnya.
Karl dan Karla pun memasuki sekolah itu. Cukup ramai meski ini sedang libur semester, dan mereka bertanya pada beberapa siswa yang ada disitu untuk menuju ice rink. Tak lama kemudian mereka menemukannya, dan terpana dengan pemandangan yang ada di dalam ice rink.
Lisha dan Russell sedang bermain ice-skating bersama. Lebih tepatnya, sedang menari. Tarian waltz, itu yang mereka tebak. Mereka melangkah dengan kompak, saling mengimbangi dan mengiringi satu sama lain dalam satu tarikan nafas yang sama. Hingga akhirnya tarian itu diakhiri dengan arabesque, teknik tarian yang dipakai dalam balet. Teman-teman Lisha yang menontonnya pun bertepuk tangan dengan riuh.
“Kalian keren sekali!!”
“Russell pernah belajar ice skating, ya!? Tarianmu tadi seperti profesional!!”
“Beritahu tekniknya pada kami, ya!!”
Teman-teman Lisha langsung mengerubungi dirinya dan Russell, namun Russell hanya menjawab sekenanya, dan Lisha tersenyum lembut melihatnya dari samping. Memang tadi pagi ketika ia datang ke sekolah bersamanya, ia sudah mengenalkannya pada teman-temannya. Sehingga mereka sudah cukup merasa dekat dengannya.
“Tuan Muda Russell!!”
Terdengar suara seseorang berteriak memanggil Russell, mereka pun berbalik ke arah suara tersebut. Di sana, Karla memanggil sambil melambaikan tangannya...

“Kereeen! Tuan Muda keren banget! Sudah lama banget Karla tidak melihat Tuan Muda main ice skating seperti tadi!!” puji Karla saking takjubnya.
“Yaah, aku sendiri juga kaget karena ternyata badanku masih mengingatnya. Tapi dibanding tarian Lisha, punyaku masih pemula, ya. Haha” jawab Russell sambil mengingat-ingat.
“Tidak terlihat seperti itu, kok! Kau pernah belajar khusus, ya!?” tanya Lisha.
“Sebagai calon pewaris, Russell harus belajar segala hal meski hanya tahu dasarnya sekalipun. Makanya dia bisa bermain skate meski dulu ia tidak menginginkannya” jawab Karl.
“Tidak perlu mengatakan hal itu, Karl” cegah Russell. “Ngomong-ngomong, bagaimana pencarian kalian?” lanjutnya bertanya.
“Sayangnya tidak ada petunjuk. Tapi...” Karl melihat ke arah Karla. Ia pun menyadari dan gantian menjelaskan.
“Di antara mereka ada yang mengenal nama ‘Rosebary’, nama keluarga Nyonya Ciara sebelum menikah. Sayangnya aku tak tahu siapa orangnya” lanjut Karla.
“Rosebary!?” teriak Lisha terkejut.
“Lisha, kau tahu?” tanya Karl.
“Ya, sedikit. Dokter Rosebary yang merupakan dokter kejiwaan yang pernah mengabdi di desa ini setelah lulus sudah banyak berjasa bagi kami. Sebenarnya... jaman dulu, desa ini dikenal sebagai desa yang penuh dengan anak-anak yang dibuang oleh orangtua yang tidak bertanggung jawab. Sebagian dari mereka, menderita penyakit jiwa setelah mereka tumbuh dewasa...”
“Penyakit... jiwa...?” gumam Russell.
“Dokter Rosebary bersama teman-temannya sesama dokter beserta putrinya, berusaha keras untuk menyembuhkan mereka dengan berbagai cara. Tadi, kalian melihat sebuah gedung tua yang seperti penjara di desa sebelah, kan?” tanya Lisha pada Karl dan Karla.
“Ya, aku lihat. Mereka bilang, dulu disana adalah rumah sakit jiwa... jangan-jangan...!” Karl terkejut.
“Ya, dulu tempat itu jadi basis mereka menyembuhkan anak-anak disini. Oh ya, kudengar diantara semuanya, dokter Rosebary adalah yang paling tua. Beliau lulus sarjana kedokteran di umur 35 tahun, karena sempat cuti kuliah selama 2 tahun untuk menikah. Hanya saja, istrinya meninggal tak lama setelah melahirkan putrinya. Namun yang kudengar, putrinya tidak meneruskan jejak Ayahnya dan bekerja sebagai model. Begitu yang kudengar dari penduduk di sekitar sini” Lisha mengakhiri penjelasannya.
Mereka bertiga terdiam seribu bahasa. Mereka terkejut dan mengekspresikannya dengan cara masing-masing. Karl dan Karla saling bertatapan, dan mengeluarkan opininya masing-masing sambil tersenyum.
“Berarti, Nyoya Ciara menjadi dokter kejiwaan itu bukan semata-mata karena kebetulan, ya... tapi, memang itu sudah jadi jalan hidupnya...” jelas Karl.
“Benar, untuk meneruskan mimpi Ayahnya yang menolong mereka yang terganggu jiwanya...” lanjut Karla.
“Ya... baru kali ini aku mendengar masa lalu Ibu...” komentar Russell. Karl dan Karla pun menanggapi dengan saling tersenyum.
“Aku sudah lihat fotonya. Kurasa aku tahu dimana orang tua Russell berada. Aku pernah ditolong oleh mereka sekali. Ayo ikut aku!” ajak Lisha. Russell, Karl, dan Karla terdiam sejenak.
“Eeeeehhh!?!”
“Ba, bagaimana kau bisa tahu!? Kenapa tidak bilang sejak kemarin, sih!!” protes Karl geram.
“Maafkan aku! Tadinya aku tidak yakin tapi... kalau kalian kenal keluarga Rosebary, berarti memang kalian ada hubungannya dengan mereka. Makanya aku ingin lihat dulu. Lagipula aku tidak tahu kalau mereka adalah keluarga Orlando, karena mereka menolak memberitahu nama keluarganya!” jelas Lisha.
“Kalau begini, buat apa aku capek-capek mencari sendiri ke kampung sebelah!” teriak Karla protes.
“Kalian ini. Kalian mencarinya sambil menunjukkan foto orangtuaku tidak, sih!?” tanya Russell kesal.
“Kami tunjukkan, kok!” jawab Karla.
“Memangnya kalian mencari desa di sebelah yang mana?” tanya Lisha.
“Eh? Yang kamu tunjukkan... itu kan?” tunjuk Karl.
Mereka telah sampai di sebuah persimpangan yang sebelumnya memang dilewati Karl dan Karla. Di papan petunjuknya, tertulis bahwa kampung Bad Ischl ke kiri, dan kampung Orbetraun ke kanan.
“Kalian ke Bad Ischl?” tanya Russell.
“Iya” jawab Karla. Russell dan Lisha saling bertatapan.
“Bodoh. Mereka di Orbetraun. Kau lupa ya, Karl?” tanya Russell.
“Kau tidak bilang mereka di kampung mana! Ini kali pertama aku ke desa ini, tahu! Ngajak berantem, hah!?” protes Karl geram.
“Siapa yang ngajak berantem, sih!? Kau sendiri sudah sewot lebih dulu, kaan!” Russell membela diri. Lisha dan Karla langsung berusaha melerai mereka berdua.
“Sudah sudaaah! Bertengkar pun orangtuamu tidak akan muncul disini, kan!? Kita jalan saja sekaraang!” teriak Lisha.
“Benar, kakak! Jangan pukul Tuan Mudaaaa!” lanjut Karla.
Akhirnya mereka pun berhenti, dan masing-masing menarik nafas dan berjalan menuju kampung Orbetraun...

Setelah beberapa saat, mereka sampai ke kampung Orbetraun. Meski sedikit jauh dengan desa Hallstatt karena berselang satu stasiun jika menaiki kereta, namun kampung ini juga sangat damai dan bersih. Banyak penginapan berdiri disana, serta beberapa toko kelontong untuk memenuhi kebutuhan para pengunjung. Setelah menelusuri jalan-jalan pertokoan, mereka sampai ke sebuah rumah kecil, yang ternyata adalah sebuah klinik.
“Klinik Orbetraun??” sebut Karla saat membaca papan nama yang terpampang di depan klinik tersebut.
Klinik itu sederhana namun terlihat megah. Rumah dua lantai yang berdesain mungil ala pedesaan itu menggunakan lantai satunya sebagai klinik. Dengan cat putih krem dan papan nama yang masih terlihat baru, namun tanpa nama keluarga terpampang di depan rumah mereka.
“Ya. Entah kenapa mereka tidak mau memakai nama keluarganya, jadi mereka menamai klinik ini dengan nama kampung ini. Habis ini memang satu-satunya klinik di sini, sih” jelas Lisha.
“Tapi sepertinya mereka sedang tutup” ujar Karl saat melihat papan signage yang terpampang di balik pintu kaca.
“Coba dipanggil saja” tantang Lisha. Ia pun menekan bel dua kali.
“Yaaa! Tunggu sebentar!” terdengar suara seorang wanita dari dalam rumah.
Russell terkejut, ia berdiri diam. Airmata hampir menetes, namun ia segera menyembunyikannya. Ya, itu suara orang yang sangat ia kenal, suara Ibunya yang sudah lama ia rindukan sejak dulu. Russell beserta Karl dan Karla berdiri di sisi jendela kaca yang tertutup gorden, sehingga ia tidak terlihat dari dalam. Sementara Lisha berdiri tepat di depan pintu. Akhirnya terdengar suara pintu terbuka dari dalam rumah.
“Ah, kamu...! yang dari desa, kan!?” sapa wanita itu terkejut.
“Siapa, Cia? Oooh, kamu, ya!” lanjut suara berat seorang pria dari dalam rumah, yang kemudian juga muncul dari pintu.
“Sudah lama tidak bertemu. Saya Lisesha Eberbach. Salam kenal, Tuan Smith dan Nyonya Ciara!” sapa Lisha dengan ramah nan ceria.
“Eh? Kau... tahu nama kami...?” tanya wanita itu gugup.
“Mungkin ia mendengar dari warga sekitar sini” jawab pria itu memberi opini.
“Tidak. Hari ini aku datang untuk dua hal. Pertama, aku ingin berterima kasih atas pertolongan kalian waktu itu. Aku dan orang tuaku sangat bersyukur kalian hadir” jelas Lisha.
“Tidak tidak. Itu sudah tugas kami. Meski ini bukan spesialisku, aku senang bisa menolongmu” balas wanita itu dengan ramah.
“Satu lagi... Aku mengantarkan seseorang yang ingin bertemu denganmu” lanjut Lisha. Ia menggeser langkahnya ke kiri, sehingga Russell pun muncul dari balik pintu.
Wanita dan pria yang bernama Smith dan Ciara itu membelalakkan matanya. Mereka tidak percaya apa yang ada di depan mata mereka, namun ini nyata. Badan Ciara bergetar dan mengeluarkan airmatanya. Ia langsung melompat ke arah Russell tanpa pikir panjang lagi dan menangis dalam pelukannya.
“Aku pulang, Ibu... Ayah...” sapa Russell. Ia mengelus rambut Ibunya yang kini setinggi pundak Russell sambil melihat Ayahnya yang masih terdiam tak percaya.
Semuanya masih terasa sama baginya. Perasaan tentramnya, punggungnya, serta aroma wangi yang berbeda saat memeluk Ibunya itu masih belum berubah. Yang berbeda hanya tinggi badannya yang kini melebihi beliau hingga sepundaknya. Ayahnya pun masih terlihat sama, namun sedikit berbeda karena keriput yang sedikit timbul di wajahnya, serta janggut yang sedikit tumbuh di dagunya. Beliau hanya tersenyum lega dengan menahan tangis sambil beranjak mengelus kepalanya. Melihatnya, Russell pun tak kuasa menangis setelahnya...

“Aku tak menyangka kau masih ingat dengan desa ini, Russell” ujar Ibunya sambil menyiapkan minuman dan kudapan untuknya, dibantu oleh Karl dan Karla yang menaruhnya di atas meja dan menuangkannya ke cangkir masing-masing.
“Ya. Aku diberitahu oleh pemilik mansion tempat kalian tinggal dulu di Vienna bahwa kalian menetap di desa” jelas Russell.
“Russell serta Karl dan Karla sedang tinggal di penginapan keluargaku sejak kemarin” lanjut Lisha.
“Ah, benar juga. Memangnya Ayah dan Ibu sudah melakukan apa untuk Lisha?” tanya Russell tidak mengerti. Karl kembali menuangkan teh ke cangkirnya.
“Saat upacara masuk sekolah lalu, aku terjatuh dari tebing dan terguling hingga tercebur di danau. Saat sadar, kaki kiriku patah. Beruntungnya mereka menemukanku, membawaku ke sini dan mengobatiku. Butuh waktu tiga bulan lebih untuk bisa sembuh, dan sekarang aku sudah sembuh total!” jelas Lisha sambil menunjukkan tanda ‘peace’ padanya.
“Kau habis cedera!? Tapi permainan skatingmu tadi sama sekali tidak terlihat orang yang habis patah kaki!” seru Russell terkejut.
“Haha, selama sebulan terakhir sebelum sembuh aku berusaha latihan walau tak bisa bermain skating sungguhan. Aku bersyukur bisa ikut pertandingan musim dingin nanti” lanjut Lisha lega.
“Begitu, ya. Kau benar-benar berusaha keras, nak” puji Smith sambil mengelus kepala Lisha. “Ngomong-ngomong, Russell. Bagaimana Desa Hallstatt?” lanjutnya bertanya pada Russell.
“Desa yang sangat indah. Luar biasa. Terlebih danau Hallstattersee terlihat jelas dari penginapan Lisha tempatku menginap” pujinya sambil melihat ke arah Lisha.
“Hahaha, baguslah kalau kau puas. Kalian boleh tinggal disini, tapi kalau mau tetap di desa juga tidak masalah. Kau sudah dewasa, Russell. Aku berikan kebebasan padamu” ujar Smith.
“Aku akan tinggal disini, Ayah. Tapi, sebenarnya...” Russell langsung berubah serius. Melihatnya seperti itu, Lisha langsung bangkit berdiri.
“Baiklah, kalau begitu, aku permisi dulu. Aku sudah memenuhi tujuanku mengantarmu kemari” katanya pada Russell.
“Ah, tolong jangan buru-buru! Kau makan siang disini saja bersama kami!” cegah Ciara sambil memegang pundaknya.
“Ta, tapi aku...” Lisha merasa tidak enak.
“Tidak apa-apa, sama sekali tidak merepotkan, kok. Tapi boleh aku minta tolong padamu untuk belanja? Aku hampir kehabisan bahan makanan. Karla, bisa aku minta kau menemaninya?” jelas Ciara.
“Baik, Nyonya Ciara. Ayo, kak Lisha” ajak Karla pada Lisha.
“Eeh, baiklah kalau begitu. Aku juga akan membantu” jawab Lisha sambil membungkuk dengan sopan.
“Terima kasih! Maaf menyusahkanmu” ujar Ciara.
“Kalau begitu, saya juga...”
“Karl!”
Panggilan Russell itu mengejutkannya. Karl berbalik badan melihatnya.
“Kau tetap disini”
“Eh? Tapi...”
“Turuti dia, Karl” perintah Smith sambil memejamkan matanya.
Setelah sedikit bingung, akhirnya Karl menuruti mereka dan kembali berdiri di posisi semula dan menuangkan teh kembali. Karla dan Lisha sudah pergi, dan Ciara kembali duduk di samping Smith.
“Kau pasti ada keperluan mendesak hingga sampai menemui kami, Russell. Ada sesuatu yang terjadi di keluarga Orlando?” tanya Ciara memulai pembicaraan.
Russell kaget sekilas. “Kalau begitu, Ibu dan Ayah tahu bahwa ada sesuatu yang akan terjadi jika kalian meninggalkan rumah itu?” ia balik bertanya.
Karl terkejut mendengar pertanyaannya. Smith dan Ciara saling bertatapan, kemudian mereka menghela nafas. Sepertinya mereka memutuskan untuk menceritakan yang sebenarnya. Kenyataan yang sebenarnya terjadi dalam internal keluarga Orlando yang selama ini tak pernah ia tahu selama ia jadi pewaris. Yang tentu akan membuatnya, serta yang mendengarnya, hancur dalam satu hentakan kata tak terduga...
“Begini, Russell...”

0 comment:

Posting Komentar

 

Diana Rachmawati Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template