|
K
|
eesokan harinya, Russell begitu
terpana melihat tarian waltz Lisha di tengah es yang begitu lincah, namun
sangat elegan. Ya, kini ia berada di sekolah Lisha sesuai janjinya untuk
melihat kegiatan klub ice skating-nya. Sambil melihat latihannya, ia sibuk
dengan HP dan laptop yang sengaja dibawanya untuk mengerjakan pekerjaan
kantornya di bangku penonton aula. Ia hanya sendirian, tidak ditemani Karl dan
Karla.
Tadi pagi,
“Maafkan aku, Russell! Aku lupa ada
latihan di klub pagi ini!!”
Russell, Karl, dan Karla yang sedang
sarapan bersama, bengong melihat Lisha yang memohon pada mereka.
“Heh...?” Russell tak tahu harus
bersikap bagaimana.
“Kami ada pertandingan di musim semi
nanti, tapi mulai besok kami libur dua minggu kok! Karenanya, maafkan aku tidak
bisa menemanimu pagi ini!” Lisha benar-benar memohon.
Russell mengembalikan roti yang sedang
dimakannya di atas piring. Ia meletakkan kedua tangannya di atas meja sambil
memejamkan mata, berpikir sesaat.
“Kalau begitu, boleh aku ikut ke
sekolahmu?”
Lisha, Karl dan Karla, kaget bersamaan.
Terlebih wajah Lisha yang berubah merah padam, Karl yang minumannya hampir
keluar dari mulutnya, serta Karla yang tersedak hingga mau muntah.
“Tidak perlu sekaget itu, kan? Kalian
ini berlebihan” Russell menggerutu sambil memanyunkan bibirnya.
“Hoi hoi, kau lupa tujuanmu kemari?”
tanya Karl sewot.
“Sekalipun aku punya tujuan, lalu aku
harus melupakan tugasku sebagai pewaris? Sejak kemarin aku banyak meninggalkan
pekerjaan, tahu” gerutu Russell, dan itu membuat Karl sedikit tersentak.
“Ugh, benar juga...” Karl membenarkan.
“Kalau begitu, kak Lisha, bisa minta
tolong tunjukkan kami jalan ke desa sebelah? Aku dan Kakak yang akan kesana”
tanya Karla pada Lisha.
“Baiklah, aku akan tunjukkan saat ke
sekolah nanti, tapi...” jawab Lisha, kemudian ia beralih lagi pada Russell.
“Kau yakin ingin ikut ke sekolahku? Membosankan, lho, melihatku latihan...”
“Tidak masalah. Lagipula aku melihatmu
sambil kerja. Aku harus mendahulukan tanggung jawabku dulu dibanding apa yang
penting bagiku selama aku bisa” jawab Russell. Lisha akhirnya menghela nafas
dan mengiyakan...
“Ternyata dia benar-benar
kerja...” gumam Lisha pelan di tengah latihannya, saat ia melihat ke arah
Russell yang sedang sibuk menelepon sambil memainkan laptopnya. Tiba-tiba
Russell melihat ke arahnya, dan melambaikan tangan sambil tersenyum. Lisha
langsung gugup dan hampir jatuh, namun dengan segera ia kembali menyeimbangkan
badannya.
‘Ha, hampir saja jatuh...’ gumamnya
lega dalam hati, seraya mengakhiri tariannya. Penonton, yang merupakan
teman-teman se-klubnya bertepuk tangan dan memuji hasil latihannya. Ia kembali
melihat Russell, yang juga ikut bertepuk tangan, kemudian menghampirinya.
“Tarian yang indah” puji
Russell, sambil...
“Walaupun kau sudah hampir
jatuh saat gugup melihatku tadi” meledeknya dan tertawa pelan.
“Uugh, habisnyaa~~” wajah Lisha
langsung merah padam. Ia memutar-mutarkan kedua jari telunjuknya saking
malunya.
“Hahaha. Aku sama sekali tidak
menyangka orang sepertimu ikut klub ice skating. Kau sudah berusaha keras.
Tarian tadi, waltz, kan?”
“Iya... kau tahu, ya?”
“Tentu saja, meski dalam
ice-skating, aku tahu”
‘Oh iya, dia kan orang kaya.
Tidak aneh kalau tahu...’ gumam Lisha dalam hati.
Tiba-tiba Russell mengulurkan
tangannya.
“Untuk apa?” tanya Lisha
bingung.
“Oh, itu...” Russell
menggaruk-garukan belakang kepalanya sambil melihat ke arah lain. “Eeeh... bisa
minta tolong pinjamkan sepatu ice skate seseorang? Aku... ingin menari
denganmu”
Lisha benar-benar terkejut,
wajahnya langsung panas hingga meledak. Ia sama sekali tidak menyangka akan
mendengar permintaan itu darinya. Dengan gugup setengah mati, Lisha berbalik
arah dan menghampiri teman-temannya tanpa berkata apapun. Sementara Russell, ia
sendiri kaget dengan permintaannya barusan. Ia langsung duduk dan menaruh
sikunya di atas paha yang menopang kepalanya. Wajahnya juga langsung merah
padam...
“Huaaa!! Percuma saja kita
jauh-jauh kesana, tapi hasilnya nihil!! Menyebalkaaan!!”
Karla teriak-teriak sendiri
sambil berjalan dengan langkah yang seakan menantang orang di sekitarnya untuk
bertengkar. Sementara Karl hanya melihat HP-nya di sampingnya.
“Sekalipun kau teriak-teriak,
Tuan dan Nyonya tidak akan muncul didepanmu, tahu! Lagipula seharusnya kau tahu
ini tidak akan mudah” jelas Karl.
“Tapi...” Karla berpikir keras.
“Apa?” tanya Karl.
“Tadi ada yang menyebutkan nama
keluarga ‘Rosebary’. Itu nama keluarga Nyonya Ciara sebelum menikah dengan Tuan
Besar, kan?”
Karl sedikit terkejut.
“Darimana kau tahu itu?”
“Dari salah satu penduduk desa
yang kita tanyakan tadi”
“Dasar bodoh! Kenapa tidak
bilang dari tadi!?” Karl memukul kepala Karla dengan pelan.
“Aku juga baru ingat tadi,
tahu!” gerutu Karla pura-pura menangis. Karl hanya menghela nafas panjang
setelah mendengarnya, dan menelepon Russell dari HP-nya. Saat sadar, mereka
sudah sampai di gerbang sekolah Lisha.
“Pokoknya sekarang, kita temui
dulu Russell. Kurasa ia masih ada di sekolah Lisha sekarang”
“Kenapa tidak telepon saja,
sih. Aku masih ngantuk, nih” gerutu Karla sambil menguap.
“Pokoknya kau tidak boleh
kembali ke hotel sampai waktunya makan siang. Gara-gara kamu bilang soal nama
keluarga Nyonya Ciara belakangan, aku jadi repot, tahu!” omel Karl tegas. Karla
hanya memanyunkan bibirnya.
Karl dan Karla pun memasuki
sekolah itu. Cukup ramai meski ini sedang libur semester, dan mereka bertanya
pada beberapa siswa yang ada disitu untuk menuju ice rink. Tak lama kemudian mereka
menemukannya, dan terpana dengan pemandangan yang ada di dalam ice rink.
Lisha dan Russell sedang
bermain ice-skating bersama. Lebih tepatnya, sedang menari. Tarian waltz, itu
yang mereka tebak. Mereka melangkah dengan kompak, saling mengimbangi dan
mengiringi satu sama lain dalam satu tarikan nafas yang sama. Hingga akhirnya
tarian itu diakhiri dengan arabesque, teknik tarian yang dipakai dalam balet.
Teman-teman Lisha yang menontonnya pun bertepuk tangan dengan riuh.
“Kalian keren sekali!!”
“Russell pernah belajar ice
skating, ya!? Tarianmu tadi seperti profesional!!”
“Beritahu tekniknya pada kami,
ya!!”
Teman-teman Lisha langsung
mengerubungi dirinya dan Russell, namun Russell hanya menjawab sekenanya, dan
Lisha tersenyum lembut melihatnya dari samping. Memang tadi pagi ketika ia
datang ke sekolah bersamanya, ia sudah mengenalkannya pada teman-temannya.
Sehingga mereka sudah cukup merasa dekat dengannya.
“Tuan Muda Russell!!”
Terdengar suara seseorang
berteriak memanggil Russell, mereka pun berbalik ke arah suara tersebut. Di
sana, Karla memanggil sambil melambaikan tangannya...
“Kereeen! Tuan Muda keren
banget! Sudah lama banget Karla tidak melihat Tuan Muda main ice skating
seperti tadi!!” puji Karla saking takjubnya.
“Yaah, aku sendiri juga kaget
karena ternyata badanku masih mengingatnya. Tapi dibanding tarian Lisha,
punyaku masih pemula, ya. Haha” jawab Russell sambil mengingat-ingat.
“Tidak terlihat seperti itu,
kok! Kau pernah belajar khusus, ya!?” tanya Lisha.
“Sebagai calon pewaris, Russell
harus belajar segala hal meski hanya tahu dasarnya sekalipun. Makanya dia bisa
bermain skate meski dulu ia tidak menginginkannya” jawab Karl.
“Tidak perlu mengatakan hal
itu, Karl” cegah Russell. “Ngomong-ngomong, bagaimana pencarian kalian?”
lanjutnya bertanya.
“Sayangnya tidak ada petunjuk.
Tapi...” Karl melihat ke arah Karla. Ia pun menyadari dan gantian menjelaskan.
“Di antara mereka ada yang
mengenal nama ‘Rosebary’, nama keluarga Nyonya Ciara sebelum menikah. Sayangnya
aku tak tahu siapa orangnya” lanjut Karla.
“Rosebary!?” teriak Lisha
terkejut.
“Lisha, kau tahu?” tanya Karl.
“Ya, sedikit. Dokter Rosebary
yang merupakan dokter kejiwaan yang pernah mengabdi di desa ini setelah lulus
sudah banyak berjasa bagi kami. Sebenarnya... jaman dulu, desa ini dikenal
sebagai desa yang penuh dengan anak-anak yang dibuang oleh orangtua yang tidak
bertanggung jawab. Sebagian dari mereka, menderita penyakit jiwa setelah mereka
tumbuh dewasa...”
“Penyakit... jiwa...?” gumam
Russell.
“Dokter Rosebary bersama
teman-temannya sesama dokter beserta putrinya, berusaha keras untuk
menyembuhkan mereka dengan berbagai cara. Tadi, kalian melihat sebuah gedung
tua yang seperti penjara di desa sebelah, kan?” tanya Lisha pada Karl dan
Karla.
“Ya, aku lihat. Mereka bilang,
dulu disana adalah rumah sakit jiwa... jangan-jangan...!” Karl terkejut.
“Ya, dulu tempat itu jadi basis
mereka menyembuhkan anak-anak disini. Oh ya, kudengar diantara semuanya, dokter
Rosebary adalah yang paling tua. Beliau lulus sarjana kedokteran di umur 35
tahun, karena sempat cuti kuliah selama 2 tahun untuk menikah. Hanya saja,
istrinya meninggal tak lama setelah melahirkan putrinya. Namun yang kudengar,
putrinya tidak meneruskan jejak Ayahnya dan bekerja sebagai model. Begitu yang
kudengar dari penduduk di sekitar sini” Lisha mengakhiri penjelasannya.
Mereka bertiga terdiam seribu
bahasa. Mereka terkejut dan mengekspresikannya dengan cara masing-masing. Karl
dan Karla saling bertatapan, dan mengeluarkan opininya masing-masing sambil
tersenyum.
“Berarti, Nyoya Ciara menjadi
dokter kejiwaan itu bukan semata-mata karena kebetulan, ya... tapi, memang itu
sudah jadi jalan hidupnya...” jelas Karl.
“Benar, untuk meneruskan mimpi
Ayahnya yang menolong mereka yang terganggu jiwanya...” lanjut Karla.
“Ya... baru kali ini aku
mendengar masa lalu Ibu...” komentar Russell. Karl dan Karla pun menanggapi
dengan saling tersenyum.
“Aku sudah lihat fotonya. Kurasa
aku tahu dimana orang tua Russell berada. Aku pernah ditolong oleh mereka
sekali. Ayo ikut aku!” ajak Lisha. Russell, Karl, dan Karla terdiam sejenak.
“Eeeeehhh!?!”
“Ba, bagaimana kau bisa tahu!?
Kenapa tidak bilang sejak kemarin, sih!!” protes Karl geram.
“Maafkan aku! Tadinya aku tidak
yakin tapi... kalau kalian kenal keluarga Rosebary, berarti memang kalian ada
hubungannya dengan mereka. Makanya aku ingin lihat dulu. Lagipula aku tidak
tahu kalau mereka adalah keluarga Orlando, karena mereka menolak memberitahu
nama keluarganya!” jelas Lisha.
“Kalau begini, buat apa aku
capek-capek mencari sendiri ke kampung sebelah!” teriak Karla protes.
“Kalian ini. Kalian mencarinya
sambil menunjukkan foto orangtuaku tidak, sih!?” tanya Russell kesal.
“Kami tunjukkan, kok!” jawab
Karla.
“Memangnya kalian mencari desa
di sebelah yang mana?” tanya Lisha.
“Eh? Yang kamu tunjukkan... itu
kan?” tunjuk Karl.
Mereka telah sampai di sebuah
persimpangan yang sebelumnya memang dilewati Karl dan Karla. Di papan
petunjuknya, tertulis bahwa kampung Bad Ischl ke kiri, dan kampung Orbetraun ke
kanan.
“Kalian ke Bad Ischl?” tanya
Russell.
“Iya” jawab Karla. Russell dan
Lisha saling bertatapan.
“Bodoh. Mereka di Orbetraun.
Kau lupa ya, Karl?” tanya Russell.
“Kau tidak bilang mereka di
kampung mana! Ini kali pertama aku ke desa ini, tahu! Ngajak berantem, hah!?”
protes Karl geram.
“Siapa yang ngajak berantem,
sih!? Kau sendiri sudah sewot lebih dulu, kaan!” Russell membela diri. Lisha
dan Karla langsung berusaha melerai mereka berdua.
“Sudah sudaaah! Bertengkar pun
orangtuamu tidak akan muncul disini, kan!? Kita jalan saja sekaraang!” teriak
Lisha.
“Benar, kakak! Jangan pukul
Tuan Mudaaaa!” lanjut Karla.
Akhirnya mereka pun berhenti,
dan masing-masing menarik nafas dan berjalan menuju kampung Orbetraun...
Setelah beberapa saat, mereka
sampai ke kampung Orbetraun. Meski sedikit jauh dengan desa Hallstatt karena
berselang satu stasiun jika menaiki kereta, namun kampung ini juga sangat damai
dan bersih. Banyak penginapan berdiri disana, serta beberapa toko kelontong
untuk memenuhi kebutuhan para pengunjung. Setelah menelusuri jalan-jalan
pertokoan, mereka sampai ke sebuah rumah kecil, yang ternyata adalah sebuah
klinik.
“Klinik Orbetraun??” sebut
Karla saat membaca papan nama yang terpampang di depan klinik tersebut.
Klinik itu sederhana namun
terlihat megah. Rumah dua lantai yang berdesain mungil ala pedesaan itu
menggunakan lantai satunya sebagai klinik. Dengan cat putih krem dan papan nama
yang masih terlihat baru, namun tanpa nama keluarga terpampang di depan rumah
mereka.
“Ya. Entah kenapa mereka tidak
mau memakai nama keluarganya, jadi mereka menamai klinik ini dengan nama
kampung ini. Habis ini memang satu-satunya klinik di sini, sih” jelas Lisha.
“Tapi sepertinya mereka sedang
tutup” ujar Karl saat melihat papan signage yang terpampang di balik pintu
kaca.
“Coba dipanggil saja” tantang
Lisha. Ia pun menekan bel dua kali.
“Yaaa! Tunggu sebentar!”
terdengar suara seorang wanita dari dalam rumah.
Russell terkejut, ia berdiri
diam. Airmata hampir menetes, namun ia segera menyembunyikannya. Ya, itu suara
orang yang sangat ia kenal, suara Ibunya yang sudah lama ia rindukan sejak
dulu. Russell beserta Karl dan Karla berdiri di sisi jendela kaca yang tertutup
gorden, sehingga ia tidak terlihat dari dalam. Sementara Lisha berdiri tepat di
depan pintu. Akhirnya terdengar suara pintu terbuka dari dalam rumah.
“Ah, kamu...! yang dari desa,
kan!?” sapa wanita itu terkejut.
“Siapa, Cia? Oooh, kamu, ya!”
lanjut suara berat seorang pria dari dalam rumah, yang kemudian juga muncul
dari pintu.
“Sudah lama tidak bertemu. Saya
Lisesha Eberbach. Salam kenal, Tuan Smith dan Nyonya Ciara!” sapa Lisha dengan
ramah nan ceria.
“Eh? Kau... tahu nama kami...?”
tanya wanita itu gugup.
“Mungkin ia mendengar dari
warga sekitar sini” jawab pria itu memberi opini.
“Tidak. Hari ini aku datang
untuk dua hal. Pertama, aku ingin berterima kasih atas pertolongan kalian waktu
itu. Aku dan orang tuaku sangat bersyukur kalian hadir” jelas Lisha.
“Tidak tidak. Itu sudah tugas
kami. Meski ini bukan spesialisku, aku senang bisa menolongmu” balas wanita itu
dengan ramah.
“Satu lagi... Aku mengantarkan
seseorang yang ingin bertemu denganmu” lanjut Lisha. Ia menggeser langkahnya ke
kiri, sehingga Russell pun muncul dari balik pintu.
Wanita dan pria yang bernama
Smith dan Ciara itu membelalakkan matanya. Mereka tidak percaya apa yang ada di
depan mata mereka, namun ini nyata. Badan Ciara bergetar dan mengeluarkan
airmatanya. Ia langsung melompat ke arah Russell tanpa pikir panjang lagi dan
menangis dalam pelukannya.
“Aku pulang, Ibu... Ayah...”
sapa Russell. Ia mengelus rambut Ibunya yang kini setinggi pundak Russell
sambil melihat Ayahnya yang masih terdiam tak percaya.
Semuanya masih terasa sama
baginya. Perasaan tentramnya, punggungnya, serta aroma wangi yang berbeda saat
memeluk Ibunya itu masih belum berubah. Yang berbeda hanya tinggi badannya yang
kini melebihi beliau hingga sepundaknya. Ayahnya pun masih terlihat sama, namun
sedikit berbeda karena keriput yang sedikit timbul di wajahnya, serta janggut
yang sedikit tumbuh di dagunya. Beliau hanya tersenyum lega dengan menahan
tangis sambil beranjak mengelus kepalanya. Melihatnya, Russell pun tak kuasa
menangis setelahnya...
“Aku tak menyangka kau masih
ingat dengan desa ini, Russell” ujar Ibunya sambil menyiapkan minuman dan
kudapan untuknya, dibantu oleh Karl dan Karla yang menaruhnya di atas meja dan
menuangkannya ke cangkir masing-masing.
“Ya. Aku diberitahu oleh
pemilik mansion tempat kalian tinggal dulu di Vienna bahwa kalian menetap di
desa” jelas Russell.
“Russell serta Karl dan Karla sedang
tinggal di penginapan keluargaku sejak kemarin” lanjut Lisha.
“Ah, benar juga. Memangnya Ayah
dan Ibu sudah melakukan apa untuk Lisha?” tanya Russell tidak mengerti. Karl kembali
menuangkan teh ke cangkirnya.
“Saat upacara masuk sekolah
lalu, aku terjatuh dari tebing dan terguling hingga tercebur di danau. Saat
sadar, kaki kiriku patah. Beruntungnya mereka menemukanku, membawaku ke sini
dan mengobatiku. Butuh waktu tiga bulan lebih untuk bisa sembuh, dan sekarang
aku sudah sembuh total!” jelas Lisha sambil menunjukkan tanda ‘peace’ padanya.
“Kau habis cedera!? Tapi
permainan skatingmu tadi sama sekali tidak terlihat orang yang habis patah
kaki!” seru Russell terkejut.
“Haha, selama sebulan terakhir
sebelum sembuh aku berusaha latihan walau tak bisa bermain skating sungguhan.
Aku bersyukur bisa ikut pertandingan musim dingin nanti” lanjut Lisha lega.
“Begitu, ya. Kau benar-benar
berusaha keras, nak” puji Smith sambil mengelus kepala Lisha. “Ngomong-ngomong,
Russell. Bagaimana Desa Hallstatt?” lanjutnya bertanya pada Russell.
“Desa yang sangat indah. Luar
biasa. Terlebih danau Hallstattersee terlihat jelas dari penginapan Lisha
tempatku menginap” pujinya sambil melihat ke arah Lisha.
“Hahaha, baguslah kalau kau
puas. Kalian boleh tinggal disini, tapi kalau mau tetap di desa juga tidak
masalah. Kau sudah dewasa, Russell. Aku berikan kebebasan padamu” ujar Smith.
“Aku akan tinggal disini, Ayah.
Tapi, sebenarnya...” Russell langsung berubah serius. Melihatnya seperti itu,
Lisha langsung bangkit berdiri.
“Baiklah, kalau begitu, aku
permisi dulu. Aku sudah memenuhi tujuanku mengantarmu kemari” katanya pada
Russell.
“Ah, tolong jangan buru-buru!
Kau makan siang disini saja bersama kami!” cegah Ciara sambil memegang
pundaknya.
“Ta, tapi aku...” Lisha merasa
tidak enak.
“Tidak apa-apa, sama sekali
tidak merepotkan, kok. Tapi boleh aku minta tolong padamu untuk belanja? Aku
hampir kehabisan bahan makanan. Karla, bisa aku minta kau menemaninya?” jelas
Ciara.
“Baik, Nyonya Ciara. Ayo, kak
Lisha” ajak Karla pada Lisha.
“Eeh, baiklah kalau begitu. Aku
juga akan membantu” jawab Lisha sambil membungkuk dengan sopan.
“Terima kasih! Maaf
menyusahkanmu” ujar Ciara.
“Kalau begitu, saya juga...”
“Karl!”
Panggilan Russell itu
mengejutkannya. Karl berbalik badan melihatnya.
“Kau tetap disini”
“Eh? Tapi...”
“Turuti dia, Karl” perintah
Smith sambil memejamkan matanya.
Setelah sedikit bingung,
akhirnya Karl menuruti mereka dan kembali berdiri di posisi semula dan
menuangkan teh kembali. Karla dan Lisha sudah pergi, dan Ciara kembali duduk di
samping Smith.
“Kau pasti ada keperluan
mendesak hingga sampai menemui kami, Russell. Ada sesuatu yang terjadi di
keluarga Orlando?” tanya Ciara memulai pembicaraan.
Russell kaget sekilas. “Kalau
begitu, Ibu dan Ayah tahu bahwa ada sesuatu yang akan terjadi jika kalian
meninggalkan rumah itu?” ia balik bertanya.
Karl terkejut mendengar
pertanyaannya. Smith dan Ciara saling bertatapan, kemudian mereka menghela
nafas. Sepertinya mereka memutuskan untuk menceritakan yang sebenarnya.
Kenyataan yang sebenarnya terjadi dalam internal keluarga Orlando yang selama
ini tak pernah ia tahu selama ia jadi pewaris. Yang tentu akan membuatnya,
serta yang mendengarnya, hancur dalam satu hentakan kata tak terduga...
“Begini, Russell...”
0 comment:
Posting Komentar