L
|
ibur musim dingin yang berjalan
selama sebulan akhirnya berlalu dengan cepat. Semester dua pun sudah berjalan
hingga mencapai puncak. Kini semua siswa Perguruan Afiliasi Universitas
Escoriale akan memasuki babak penentuan kelanjutan karir sekolah mereka, yaitu
ujian akhir kenaikan kelas.
Di kelas 1-A, posisi pengurus
kelas tidak berubah. Angelica tetap menolak menjadi ketua kelas yang masih
dipegang Harry dan tetap pada posisi wakil ketua kelasnya. Di Dewan Siswa, ia
juga disibukkan oleh pergantian pengurus periode selanjutnya karena Aldias dan
Michaelis akan lulus tahun ini, meski kemungkinan besar bahwa posisi Angelica,
Johan dan Patricia tak akan terganti.
Walau kembali sibuk, namun
aktivitas mereka masih tetap seperti biasa, tidak ada yang banyak berubah.
“Tak terasa libur musim dingin
sudah lama berlalu, tahu-tahu sudah mau ujian. Cepat sekali, ya” gerutu Hans
sambil mengipas-ngipas dirinya sendiri dengan buku musik yang dibawanya. Meski bulan
Mei masih masuk musim semi, namun cuaca sudah mulai panas bagi mereka.
“Kau ini menggerutu terus.
Sudah belajar untuk ujian, belum? Sudah minggu depan, lho!” ujar Harry yang
sekarang duduk di sebelahnya selama semester dua.
“Ah, benar juga. Angkatan kita
kelasnya kan ditentukan oleh nilai. Bagaimana kau bisa masuk kelas 1-A, Hans?”
tanya Sylvie yang sejak semester dua ini duduk di belakang Hans.
“Hmm? Aku hanya belajar dengan
giat saat tes masuk. Salah, ya?” jawab Hans sambil bertanya balik pada mereka.
Sylvie dan Harry hanya bengong.
“Nggak ada yang salah, sih.
Tapi nilaimu sudah masuk ranking tengah ke bawah, lho. Nggak gawat, tuh?
Rata-rata nilai semester ini 70, lho. Kurang dari itu, bakal ngulang setahun
lagi!” Harry memperingatkan.
“Iyaa. Tahu, deh yang dapat
ranking dua seangkatan kelas satu. Angelica yang dapat nilai tertinggi saja
tidak bicara apa-apa, tuh. Iya kan?” tanya Hans pada Angelica.
“Aaah...” Angelica yang duduk
di depan Hans sejak semester dua ini menengok ke belakang dengan perlahan. Ia
seperti sedang kebingungan.
“Ada apa, Angelica? Wajahmu
aneh begitu” tanya Sylvie.
“Eh, yaah. Kurasa tidak ada
yang perlu dikhawatirkan. Nilai-nilai Hans sudah cukup bagus, kok” katanya
sambil melihat-lihat isi tablet Hans di mejanya.
“Hoi, jangan lihat. Malu, tahu”
pinta Hans sambil mengambil kembali tabletnya. “Lagipula, ini jauh banget dari
nilai-nilaimu” lanjutnya.
“Hehe, maaf. Tapi setahuku,
bisa dapat nilai rata-rata sudah cukup untuk bisa naik kelas, kok. Lagipula,
kelas dua nanti kelasnya bakal di-lotere alias guru yang menentukan, jadi nggak
perlu khawatir” jelas Angelica.
“Nah, lihat, kan? Angelica
tidak memasalahkan nilai-nilaiku!” Hans membela dirinya sendiri.
“Memang begitu, sih, tapiii~~”
“He...? Angelica??”
Hans mendadak bingung dengan
perubahan Angelica yang tiba-tiba, begitu juga yang lainnya. Karena tiba-tiba
ada api yang membara di belakangnya.
“Tapi, kalau kau gagal lebih
dari 3 pelajaran, kau tetap tinggal kelas, lho. Tidak apa-apa seperti itu~??”
katanya sambil tersenyum kesal.
“Ba, baik...” jawab Hans
ketakutan.
“A, Angelica...” panggil Sylvie
pelan. Ia juga ketakutan melihat perubahan sikapnya yang aneh.
Ya, Angelica memang sering
panasan melihat teman-teman yang nilainya kurang bagus hingga berpotensi tidak
naik kelas. Tapi dia juga harus mengerti bahwa mayoritas siswa-siswi disini
adalah anak pengusaha yang suatu saat mereka akan jalankan sendiri perusahaan
orangtua atau generasi sebelumnya. Karenanya meski marah, Angelica langsung
mengambil nafas panjang, dan mulai bicara dengan nada lebih halus.
“Maaf, aku berlebihan...”
Angelica menunduk, merasa bersalah.
“Ah, tidak apa-apa! Aku
mengerti perasaanmu, kok! Biasa, kan, orang pintar pasti kesal lihat temannya
yang meremehkan pelajaran” kata Hans. Sylvie dan Harry mengangguk-angguk.
“Nah, kalau mengerti, belajar
saja! Kalau ada yang tidak mengerti, boleh tanya ke kami!” Harry memberi saran.
“Aku juga, walau peringkatku
nggak bagus, aku akan bantu di pelajaran yang paling kukuasai!” Sylvie
menambahkan.
“Terima kasih, teman-teman. Aku
hargai bantuan lain. Kalau begitu...”
BRUK! Hans mengeluarkan tiga
tumpuk buku yang penuh dengan label, yang ia keluarkan dari laci mejanya.
“Apa ini? Kau masih belajar
pakai buku?” tanya Harry bingung.
“Tentu saja! Secanggih apapun
teknologi, belajar dengan buku adalah yang paling efektif! Di kamar Angelica
saja penuh dengan buku di raknya! Iya, kan!?” tanya Hans pada Angelica. Namun
ia hanya menjawabnya dengan tawa.
“Ngomong-ngomong, selama ini
aku penasaran. Sejak kapan kau panggil Angelica dengan namanya?” tanya Sylvie.
“Sejak kami bertemu di Berlin.
Yaahh, banyak yang terjadi saat itu” jawab Hans, sambil melihat ke arah
Angelica. Ia membalasnya dengan mengangguk.
“Hmm... kau pasti jadi serangga
di antara kak Johan dan Angelica, ya? Dia nggak marah, tuh?” tanya Harry pada
Hans.
“Tenang saja. Kurasa kak
Sabrishion bukan tipe yang mudah menunjukkan kecemburuannya” jawabnya.
“Siapa bilang? Itu kesimpulan
yang kau buat?” tanya sebuah suara. Mereka berbalik.
“Glek! Kak Johan!” seru Hans
terkejut, yang kemudian Johan mengepalkan tangannya dan memukul kepalanya. Hans
mengaduh kesakitan.
“Angie, Harry. Bisa minta
tolong kumpulkan teman sekelasmu? Aku mau menyampaikan beberapa pengumuman”
kata Johan kemudian.
“Ah, baiklah” jawab Harry,
sambil bergegas berdiri di podium dan meminta teman-temannya untuk kembali
duduk di bangku masing-masing. Johan yang tadi masuk dari pintu belakang,
beranjak ke depan dan menaruh tasnya di meja Angelica.
“Pengumuman apa? Kalau kau
memberitahu, biar kuumumkan sendiri” tanya Angelica sambil menyarankan.
“Kau murid kelas ini, jadi aku
tidak bisa memberitahumu sebelum aku sendiri yang mengumumkannya. Itu sudah
tugasku” jawab Johan sambil beranjak bersamanya.
Johan pun memulai pemberian
pengumuman kepada siswa. Mereka memperhatikannya dengan penuh minat, sambil
berseru sesekali. Pertemuan yang berjalan selama 15 menit itu akhirnya selesai
hari itu. Setelah selesai, Johan menghampiri Harry.
“Hei, Harry. Kau yakin siswa
kelas ini banyak yang dari luar Escoriale?” tanya Johan.
“Ng? Begitulah. Kalau kakak
tidak yakin, aku punya datanya dan ini sudah divalidasi oleh wali kelasku, kok”
jelas Harry.
“Baiklah, aku minta data itu.
Kutunggu, ya” ujar Johan sambil mengambil tasnya.
“Kau mau ke ruang Dewan Siswa?”
tanya Angelica.
“Yaah...” jawabnya setengah
malas. Namun ia tetap menggandeng tangan Angelica dan berpamitan.
“Duuh, mesranya” ledek Hans.
“Berisik, ah” balas Johan
sambil berlalu...
Mereka berdua berjalan
beriringan, tanpa bicara. Entah kenapa, suasana terasa sedikit kikuk dan mereka
bingung sendiri. Sambil berjalan, Johan melewati sebuah jendela dan melihat
keluar, kemudian menyadari sesuatu. Spontan, ia langsung menarik tangan
Angelica yang baru akan menaiki tangga.
“Ada apa, Johan?”
“Mau... keluar sebentar...?”
Johan mengajaknya ke taman air
mancur dekat gedung SMP seperti biasa. Ia memasukkan uang kertas 1 pound dan
memilih minumannya sendiri di mesin penjual otomatis.
“Kau mau apa?”
“Eeh... Coffee Milk...?”
“Hmm... sedang kosong. Milk tea
saja, ya”
“Boleh”
Johan menekan tombol dan
minuman mereka keluar. Ia mengambil minuman dan uang kembaliannya lalu
menyerahkan minuman pilihan Angelica sambil duduk di sampingnya. Tak lupa
Angelica mengucapkan terima kasih.
Angin bertiup perlahan. Meski
cuaca mulai panas, namun karena di taman itu banyak pohon-pohon tinggi menutupi
langit, jadi terasa sejuk. Walau mereka harus segera kembali ke Dewan Siswa,
namun karena minggu depan sudah ujian, kegiatan mereka sedang tidak banyak
meski sudah harus mempersiapkan seleksi anggota Dewan Siswa baru.
“Tunggu. Ada apa kau mengajakku
kesini?” tanya Angelica sambil memandangnya waspada.
“Nggak ada apa-apa. Pekerjaan
kita tinggal memeriksa hasil pekerjaan tiga anggota lainnya, kan? Daripada
menunggu mereka disana, lebih baik menghabiskan waktu disini” jelas Johan.
Angelica mengangguk-angguk.
Mereka pun saling terdiam sambil meneguk minuman mereka masing-masing. Kemudian
Angelica melihat ke arah Johan, penasaran dengan sesuatu.
“Apa?” tanya Johan, yang sadar
sedang dilihat olehnya.
“Ah... aku penasaran, kalau
kamu suka sekali black coffee” katanya sambil menunjuk kaleng yang dipegang
Johan. “Biasanya anak seumur kita jarang yang suka kopi itu, kan” lanjutnya
sambil tertawa-tawa.
“Ooh. Aku meminumnya bukan
karena suka, sih. Tapi karena butuh” jawab Johan.
“Butuh? Kau begadang lagi tadi
malam?”
“Kalau tidak begitu, kerjaanku
dari kantor tidak akan selesai. Aku memang selalu tidur pukul dua dan bangun
pukul tujuh”
“Serius!? Aku baru tahu kau
selalu tidur lima jam! Kenapa tidak bilang padaku jika ada yang bisa kubantu?”
“Tidak apa-apa. Toh selama
setahun kemarin aku biasa melakukannya. Lagipula awalnya kan kau belum terbiasa
meski sekarang sudah mahir” Johan menaikkan salah satu kakinya dan menopangnya
di atas kaki satunya.
“Tuh, kan. Aku menyusahkanmu”
ujar Angelica sedih.
“Angie” panggil Johan sambil
memegang pipinya dan menariknya agar melihat ke arahnya. “Sudah kubilang, aku
sama sekali tidak keberatan. Toh aku juga sudah menyusahkanmu setahun ini”
lanjutnya sambil tersenyum.
Senyuman itu membuat Angelica
salah tingkah. Ia melepaskan tangan Johan dan menunduk dengan wajah merah
padam. Tanpa protes apapun lagi.
“Hahaha, kau lucu kalau lagi
malu” ledek Johan sambil mencubit pipinya.
“Uuukh~ habisnyaaa~~”
Mereka akhirnya menutup topik,
dan mengalihkan pandangannya ke air mancur. Tak lama kemudian para siswa
berkumpul disitu. Saat itu memang sedang ada pertunjukan air mancur yang
diadakan setiap jam ini dua hari sekali. Dan yang melihat pertunjukan itu bukan
hanya mereka, tapi juga semua siswa Escoriale yang mengetahui pertunjukan itu.
Semua yang menyaksikannya begitu takjub dan senang melihatnya, tidak terkecuali
Angelica dan Johan. Pertujukan itu berjalan selama 15 menit, setelah itu para
siswa yang berkumpul kembali ke tujuan awalnya masing-masing, sampai akhirnya
tinggal mereka berdua disitu.
“Ngomong-ngomong, Johan...”
Angelica memulai topik lagi.
“Ng?” Johan merespon.
“Kau... sudah bertemu lagi
dengan kak Russell...?”
Johan yang sedang meneguk
minumannya, berhenti. Ia menunduk bingung.
“Angie...” panggilnya pelan.
“Sejak pulang dari Austria, kak
Russell jadi sibuk sekali. Meski dia memang masih mau bicara denganku seperti
biasa, tapi...” Angelica menurunkan alisnya, bingung sekaligus sedih.
“Yaah, bagaimana, ya...” Johan
berpikir. Ia meneguk minumannya untuk terakhir kali dan membuang kalengnya ke
tempat sampah yang berada sepuluh sentimeter dari tempatnya duduk.
“Lalu bagaimana dengan jawaban
pertanyaanku tadi?” tanya Angelica sambil mendelik.
“Jawabannya, belum. Sejak
liburan, ia selalu datang ke sekolah saat bel dan ke gedung jam saat pulang.
Jam istirahat saja dia jarang di kelas, tuh. Habis dia sedang sibuk karena
pekerjaan dan pergantian pengurus Dewan Perguruan Siswa, karena wakilnya akan
lulus kuliah tahun ini.” Johan berdiri, kemudian mengulurkan tangan padanya.
“Tapi kurasa, kita bisa bicara saat upacara penutupan semester.”
Walau sudah mendengar jawaban Johan, Angelica
masih merasa kecewa. Ia hanya bisa menyambut tangannya dengan wajah sumringah.
“Walau kalian sahabat, kau sama
sekali tidak bisa diandalkan” Angelica beropini.
“Maaf, deh. Selama ini aku
selalu bergantung padanya, makanya dia jarang curhat padaku kalau bukan aku yang
memaksanya cerita” jelas Johan.
Angelica tertawa, mereka pun
berjalan kembali ke sekolah. Selama berjalan, angin bertiup dan menerbangkan
rambut mereka berdua. Angelica dan Johan memejamkan mata menikmati angin itu,
sambil bergandengan tangan.
“Musim panas...” ujar Johan.
“Kita bakal libur satu bulan lagi, ya” lanjutnya sambil melihat ke arah
rimbunnya pohon hari itu.
“Ya. Tak terasa sudah setahun
berlalu. Rasanya sangat panjang, ya”
“Hmm... tidak juga. Entah
kenapa, aku menikmati sekolah tahun ini”
Angelica terkejut, dan melihat
ke arah Johan.
“Mungkin, karena ada kamu, ya”
Angin bertiup agak kencang, lebih
dari sebelumnya. Dan menerbangkan rambut mereka berdua. Mereka saling
bertatapan, dengan tatapan terkejut dari Angelica, dan senyuman bahagia dari Johan.
Kemudian, ia tertawa.
“Hahaha, jangan melihatku
begitu, dong!”
“Ah, eehh... habisnya...”
Angelica gelagapan, kemudian meminum minumannya yang sudah kembali menjadi suhu
normal, tidak dingin seperti tadi.
“Tapi memang... meskipun banyak
hal tidak menyenangkan, tapi kebersamaan kita terasa begitu berarti bagiku,
hingga hari ini... apa kau juga merasa begitu, Angie?” tanya Johan lembut.
“Ya... Tahun ini aku banyak
menyusahkanmu, ya” ujar Angelica merasa bersalah.
“Tidak apa-apa. Aku jadi sadar
satu hal saat bertemu denganmu”
“Apa itu?”
“Rahasia!” jawabnya
bersemangat.
“Huuh, curang!” Angelica
merajuk.
Johan tertawa lagi dan mengelus
kepalanya dengan rasa sayang. Perlahan ia mendekatkan wajahnya ke wajah
Angelica. Meski awalnya gugup, tak ada pilihan lain selain memejamkan matanya
dan menyambut wajahnya yang terus mendekat...
Di ruang Dewan Siswa, para
anggota duduk di kursi masing-masing menyelesaikan tugas yang telah diberikan
dengan wajah sumringah, kecuali Aldias.
“Haaahhh~~”
Patricia dan Michaelis menghela
nafas panjang dan menaruh kepalanya di atas meja, kelelahan. Hanya Aldias yang
masih tetap bekerja seperti biasa walau ia sendiri juga sedang kurang semangat.
“Kalian sudah seperti mayat
hidup saja. Apa kerjaannya sebanyak itu?” tanya Aldias sambil minum susu yang
diambil dari kulkas ruang Dewan Siswa, sebagai persediaannya.
“Aku masih harus menyusun acara
dan kemungkinan negatif yang bakal terjadi saat pemilihaann~~” keluh Patricia.
“Dan aku masih harus menyusun
keperluan yang dibutuhkan saat pemilihan ke setiap klub~~” keluh Michaelis.
“Ya, ampun. Kalian sendiri kan
yang sudah menyanggupi, padahal Angelica dan Johan sudah menawarkan bantuan karena
tugas mereka sudah selesai?” Aldias mengingatkan.
“Sebentar lagi kompetisi musik
nasional dimulai, lho! Aku juga capek harus latihan! Belum lagi ujian akhir ini
menyiksaku! Huaaa~~” Patricia pura-pura menangis.
“Aku juga sedang bingung karena
laba perusahaanku turun tahun lalu. Dan aku sedang memikirkan konsep baru untuk
Festival Fashion di Perancis libur musim dingin tahun ini! Uuughh~” lanjut
Michaelis.
Aldias yang melihat mereka
seperti itu tak tahu harus berkomentar apa. Akhirnya ia beranjak dari kursinya,
mengambil sesuatu dari kulkas, dan menaruhnya di depan mereka masing-masing.
Yaitu susu yang sama dengan yang sedang diminumnya. Kemudian meletakkan
beberapa bungkusan di tengah meja.
“Istirahat dulu saja. Ini, biar
kalian semangat lagi. Dan makan ini biar ada kalori untuk berpikir!” katanya
memberi instruksi.
“Aldias, kau dewa!!” puji
Michaelis dengan nada masochist seperti biasa.
“Terima kasih, kak Aldias. Aku
makan, ya!!” ucap Patricia.
“Tidak usah sungkan. Aku tahu
hal ini bakal terjadi sama kalian. Ngomong-ngomong, Johan dan Angelica lama,
ya. Mereka belum selesai?” Aldias terheran-heran sambil kembali mengerjakan
tugasnya.
“Tadi sebelum kemari, aku lihat
sudah selesai. Mungkin mereka ingin berduaan lebih lama. Hiks~~” Michaelis
pura-pura menangis.
“Kak Michaelis...” panggil
Patricia pelan.
“Selamat siaaang! Maaf
terlambat!” sapa Johan dengan lantang.
“Maaf, kami terlambat!”
Angelica membungkukkan badan.
Namun sayangnya, tak ada yang
menanggapi mereka dan mereka malah kembali mengerjakan tugas masing-masing
tanpa peduli. Dengan kata lain, mereka pura-pura tidak melihat kedatangan Johan
dan Angelica.
“Eeh... kalian baik-baik saja?”
tanya Angelica bingung, karena tak ada yang memperhatikan mereka sama sekali.
Ia pun mendekati Michaelis. Ia malah memberi wajah yang menangis dengan konyol.
Angelica terkejut melihatnya.
“Biarkan saja mereka, Angie. Paling-paling
mereka terlalu fokus karena tak yakin bakal menyelesaikannya saat deadline”
kata Johan dengan nada menantang. Aldias dan Michaelis langsung spontan
berdiri, dan itu mengejutkan Angelica lagi.
“Heh!? Senior!?”
Aldias dan Michaelis langsung
panas. Mereka terlihat geram dan itu membuat Angelica takut. Ia melihat ke arah
Sylvie.
“Kak Patrici... heee!?”
Patricia, yang mendengarnya
juga ikut panas, namun ia tidak ikut berdiri malah mengerjakan tugasnya tanpa
berusaha peduli. Ia mengetik dengan cepat dengan mata berapi-api.
“Hei, Johan. Aku tahu tugasmu
sudah selesai, tapi bisa kan untuk tidak mengejek dengan kata-kata
menyebalkan?” Aldias merenggangkan jarinya.
“Dan lagi, kau pergi berduaan
dengan My Little Angel. Walaupun kalian pacaran, aku tidak rela, lho!”
Michaelis melipat kedua tangannya.
“Ng? Kalian ini bicara apa?”
tanya Johan tenang.
“Kak Johan! Kenapa kau malah
makin memanas-manasi, sih!?” seru Angelica.
“Aku tidak melakukan apa-apa,
lho. Mereka sendiri yang panas gara-gara kita datang terlambat” Johan membela
diri.
“Kenapa rasanya aku tambah
kesal, ya!?” Aldias meninju tembok yang ada di sebelahnya.
“Kalau kalian masih punya waktu
untuk marah, lebih baik kalian kerjakan tugasnya. Deadline-nya sore ini, kan?”
tanya Johan santai.
“Aku tahu!! Makanya jangan
muncul dari pintu dengan wajah santai begitu! Menakutkan, tahu!!” teriak Aldias
sewot.
“Ya, Ketua. Tugasku sudah
selesai. Silakan dilihat!” Patricia memberi instruksi.
“Kenapa kau jadi pengkhianat
begini, sih, Patrice!? Curang! Kembalikan tugasnyaaa~!”
“Eeeh, sebenarnya apa yang
terjadi dengan kalian bertiga, sih?” tanya Angelica takut-takut.
Setelah beberapa saat, entah
bagaimana suasana di ruang Dewan Siswa kembali normal dengan hasil tugas para
anggota selesai dengan selamat. Tanpa terasa hari sudah sore. Para senior sudah
beranjak dari ruangan karena ingin istirahat, dan Patricia masih harus meladeni
penilaian terakhir dari juniornya di klub musik meski ia terlihat capek.
Sementara Johan dan Angelica masih di ruangan memeriksa hasil pekerjaan mereka
untuk disampaikan pada Dewan Perguruan Siswa. Tadinya Angelica menawari diri
untuk menggantikannya, namun Patricia menolak.
“Tidak apa-apa. Mereka hanya
butuh penilaian hasil latihan, kok. Jadi tidak akan makan waktu lama” jelasnya
sebelum pergi tadi.
“Aku bisa membantu untuk
bagian piano dan biola, kok. Kakak bisa menilai di alat musik lain!” Angelica
bersikeras, dan Patricia berpikir sejenak.
“Baiklah, aku terima
tawaranmu. Maaf menyusahkanmu, padahal kau sudah tidak ingin bermusik lagi” katanya
merasa bersalah.
“Tidak apa-apa! Aku senang
bisa membantu. Aku akan kesana setelah tugasku selesai nanti!” balas
Angelica...
“Hahaha, mereka bertiga lucu,
ya! Sampai panas begitu melihat kita terlambat!” Johan tertawa-tawa sambil
melihat tabletnya tak lama setelah Patricia pergi.
“Kau yang keterlaluan, kak
Johan. Kita sudah mau ujian, tapi kau malah membebani mereka dengan tugas
segudang dan deadline sempit!” protes Angelica, sambil melakukan hal yang sama,
dan mencatat beberapa poin di atas bukunya.
“Justru aku menetapkan deadline
sempit kan demi mereka juga. Lagipula kau tahu kan tidak boleh ada kegiatan
selama ujian berlangsung. Kak Aldias dan kak Michaelis juga bersedia membantu
sampai pengganti mereka tiba, padahal mereka sudah tidak boleh ikut kegiatan
sekolah” jelas Johan.
“Ah, benar juga. Sebentar lagi
mereka akan jadi mahasiswa, ya” Angelica mengingat-ingat. “Berarti minggu depan
juga, mereka sudah ujian akhir sekolah, ya?”
“Iya” jelas Johan. Ia menutup
tabletnya dan memasukkannya ke dalam tas. “Bagaimana? Sudah selesai?” tanyanya
pada Angelica.
“Ah, sedikit lagi!” katanya
selaku buru-buru.
Johan membalasnya dengan
tersenyum, kemudian langsung memasang wajah serius.
“Angie... kau tidak ingin
bermusik lagi?”
Mendengarnya, Angelica yang
sedang mengetik di atas keyboard tabletnya, berhenti sesaat. Kemudian
melanjutkan lagi.
“Entahlah... toh awalnya aku
melakukannya karena hobi. Untuk sekarang, aku jauh lebih ingin perusahaan
Ayahku bangkit kembali. Yaah, walau aku belum melakukan apa-apa, sih” jelasnya
sambil tertawa-tawa.
Johan tak menjawab. Hanya
melihat wajahnya. Kemudian ia mengambil tasnya dan duduk di sampingnya.
“Saat libur semester pertama
nanti, kita cari Ayahmu, ya” kata Johan sambil mengelus kepalanya.
Angelica merasa nyaman
diperlakukan seperti itu. Ia memegang tangannya yang mengelus kepalanya sambil
memejamkan matanya. Terasa hangat, dan itu membuatnya kembali bersemangat dan
bahagia.
“Terima kasih...”
“Aku Wakil Ketua Dewan Siswa,
Angelica Sandoras, yang akan membantu kak Patricia untuk menilai hasil latihan
kalian. Mohon bantuannya!” sapa Angelica dengan keras sambil membungkuk.
“Diantara kalian, pasti ada
yang pernah mendengar namanya. Dia pemenang kompetisi piano tingkat nasional
dua tahun lalu. Walau sayangnya, dia tidak ikut berpartisipasi di tingkat
internasional” lanjut Patricia.
Dan diantara mereka banyak yang
terkejut dan mulai saling mengobrol.
“Sandoras!? Aku pernah dengar
tentangnya!”
“Hee!? Kompetisi yang diikuti
oleh pemain profesional itu, kan!? Ternyata ada di dekat kita!”
“Dan lagi, dia Wakil Ketua
sekolah kita! Aku tidak menyadarinya!”
Terdengar banyak celotehan lain
oleh para anggota. Patricia pun meminta mereka tenang dan memulai penilaian.
“Dengar, penilaian ini juga
akan dimasukkan ke dalam rapor. Jadi, anggap saja ini sebagai ujian akhir
kalian. Karena selama libur semester, kita tidak boleh ada kegiatan!”
GLEK! Terdengar suara mereka
menelan ludah. ‘Ujian’, kata-kata yang selalu terdengar menakutkan bagi siswa
sekolah manapun. Karena memang, ujian di sekolah ini sangat berbeda dengan
ujian-ujian di sekolah biasa. Standarnya pun jauh lebih tinggi, karena itu yang
sejak kecil sudah sekolah di Escoriale sudah tidak terlalu kaget dengan ujian
seperti ini. Namun anak-anak baru, tentu bakal tertekan.
“Kalian tidak usah tegang.
Lakukanlah seperti latihan kalian. Tapi, aku tidak akan berkomentar apapun
selama kalian main, dan aku tidak akan memberitahu letak kesalahan kalian
selama bermain. Jadi, hati-hati, ya!” jelas Angelica.
Mereka kembali menelan ludah.
Meski bermaksud menenangkan, namun kata-kata terakhirnya begitu menusuk bagi
mereka. Dan akhirnya penilaian pun dimulai.
Hari ini, tepat seminggu
sebelum ujian akhir. Mereka semua disibukkan oleh kegiatan masing-masing
menjelang kenaikan kelas dan kelulusan Aldias dan Michaelis. Angelica pun
penasaran dengan apa yang akan terjadi saat kenaikan kelas nanti. Meski akan
ada hal yang menyenangkan, namun hal yang tak terduga juga akan terjadi
bersamaan.
Dan diantara para anggota klub
musik disitu, ada seorang anak yang melihat ke arah Angelica dengan tatapan
tajam dan bergumam...
“Jadi dia orangnya...”
0 comment:
Posting Komentar