Senin, 21 Maret 2016

Wings of Melodies ~ Memories Edition - Chapter 14



L
ibur musim dingin yang berjalan selama sebulan akhirnya berlalu dengan cepat. Semester dua pun sudah berjalan hingga mencapai puncak. Kini semua siswa Perguruan Afiliasi Universitas Escoriale akan memasuki babak penentuan kelanjutan karir sekolah mereka, yaitu ujian akhir kenaikan kelas.

Di kelas 1-A, posisi pengurus kelas tidak berubah. Angelica tetap menolak menjadi ketua kelas yang masih dipegang Harry dan tetap pada posisi wakil ketua kelasnya. Di Dewan Siswa, ia juga disibukkan oleh pergantian pengurus periode selanjutnya karena Aldias dan Michaelis akan lulus tahun ini, meski kemungkinan besar bahwa posisi Angelica, Johan dan Patricia tak akan terganti.
Walau kembali sibuk, namun aktivitas mereka masih tetap seperti biasa, tidak ada yang banyak berubah.
“Tak terasa libur musim dingin sudah lama berlalu, tahu-tahu sudah mau ujian. Cepat sekali, ya” gerutu Hans sambil mengipas-ngipas dirinya sendiri dengan buku musik yang dibawanya. Meski bulan Mei masih masuk musim semi, namun cuaca sudah mulai panas bagi mereka.
“Kau ini menggerutu terus. Sudah belajar untuk ujian, belum? Sudah minggu depan, lho!” ujar Harry yang sekarang duduk di sebelahnya selama semester dua.
“Ah, benar juga. Angkatan kita kelasnya kan ditentukan oleh nilai. Bagaimana kau bisa masuk kelas 1-A, Hans?” tanya Sylvie yang sejak semester dua ini duduk di belakang Hans.
“Hmm? Aku hanya belajar dengan giat saat tes masuk. Salah, ya?” jawab Hans sambil bertanya balik pada mereka. Sylvie dan Harry hanya bengong.
“Nggak ada yang salah, sih. Tapi nilaimu sudah masuk ranking tengah ke bawah, lho. Nggak gawat, tuh? Rata-rata nilai semester ini 70, lho. Kurang dari itu, bakal ngulang setahun lagi!” Harry memperingatkan.
“Iyaa. Tahu, deh yang dapat ranking dua seangkatan kelas satu. Angelica yang dapat nilai tertinggi saja tidak bicara apa-apa, tuh. Iya kan?” tanya Hans pada Angelica.
“Aaah...” Angelica yang duduk di depan Hans sejak semester dua ini menengok ke belakang dengan perlahan. Ia seperti sedang kebingungan.
“Ada apa, Angelica? Wajahmu aneh begitu” tanya Sylvie.
“Eh, yaah. Kurasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Nilai-nilai Hans sudah cukup bagus, kok” katanya sambil melihat-lihat isi tablet Hans di mejanya.
“Hoi, jangan lihat. Malu, tahu” pinta Hans sambil mengambil kembali tabletnya. “Lagipula, ini jauh banget dari nilai-nilaimu” lanjutnya.
“Hehe, maaf. Tapi setahuku, bisa dapat nilai rata-rata sudah cukup untuk bisa naik kelas, kok. Lagipula, kelas dua nanti kelasnya bakal di-lotere alias guru yang menentukan, jadi nggak perlu khawatir” jelas Angelica.
“Nah, lihat, kan? Angelica tidak memasalahkan nilai-nilaiku!” Hans membela dirinya sendiri.
“Memang begitu, sih, tapiii~~”
“He...? Angelica??”
Hans mendadak bingung dengan perubahan Angelica yang tiba-tiba, begitu juga yang lainnya. Karena tiba-tiba ada api yang membara di belakangnya.
“Tapi, kalau kau gagal lebih dari 3 pelajaran, kau tetap tinggal kelas, lho. Tidak apa-apa seperti itu~??” katanya sambil tersenyum kesal.
“Ba, baik...” jawab Hans ketakutan.
“A, Angelica...” panggil Sylvie pelan. Ia juga ketakutan melihat perubahan sikapnya yang aneh.
Ya, Angelica memang sering panasan melihat teman-teman yang nilainya kurang bagus hingga berpotensi tidak naik kelas. Tapi dia juga harus mengerti bahwa mayoritas siswa-siswi disini adalah anak pengusaha yang suatu saat mereka akan jalankan sendiri perusahaan orangtua atau generasi sebelumnya. Karenanya meski marah, Angelica langsung mengambil nafas panjang, dan mulai bicara dengan nada lebih halus.
“Maaf, aku berlebihan...” Angelica menunduk, merasa bersalah.
“Ah, tidak apa-apa! Aku mengerti perasaanmu, kok! Biasa, kan, orang pintar pasti kesal lihat temannya yang meremehkan pelajaran” kata Hans. Sylvie dan Harry mengangguk-angguk.
“Nah, kalau mengerti, belajar saja! Kalau ada yang tidak mengerti, boleh tanya ke kami!” Harry memberi saran.
“Aku juga, walau peringkatku nggak bagus, aku akan bantu di pelajaran yang paling kukuasai!” Sylvie menambahkan.
“Terima kasih, teman-teman. Aku hargai bantuan lain. Kalau begitu...”
BRUK! Hans mengeluarkan tiga tumpuk buku yang penuh dengan label, yang ia keluarkan dari laci mejanya.
“Apa ini? Kau masih belajar pakai buku?” tanya Harry bingung.
“Tentu saja! Secanggih apapun teknologi, belajar dengan buku adalah yang paling efektif! Di kamar Angelica saja penuh dengan buku di raknya! Iya, kan!?” tanya Hans pada Angelica. Namun ia hanya menjawabnya dengan tawa.
“Ngomong-ngomong, selama ini aku penasaran. Sejak kapan kau panggil Angelica dengan namanya?” tanya Sylvie.
“Sejak kami bertemu di Berlin. Yaahh, banyak yang terjadi saat itu” jawab Hans, sambil melihat ke arah Angelica. Ia membalasnya dengan mengangguk.
“Hmm... kau pasti jadi serangga di antara kak Johan dan Angelica, ya? Dia nggak marah, tuh?” tanya Harry pada Hans.
“Tenang saja. Kurasa kak Sabrishion bukan tipe yang mudah menunjukkan kecemburuannya” jawabnya.
“Siapa bilang? Itu kesimpulan yang kau buat?” tanya sebuah suara. Mereka berbalik.
“Glek! Kak Johan!” seru Hans terkejut, yang kemudian Johan mengepalkan tangannya dan memukul kepalanya. Hans mengaduh kesakitan.
“Angie, Harry. Bisa minta tolong kumpulkan teman sekelasmu? Aku mau menyampaikan beberapa pengumuman” kata Johan kemudian.
“Ah, baiklah” jawab Harry, sambil bergegas berdiri di podium dan meminta teman-temannya untuk kembali duduk di bangku masing-masing. Johan yang tadi masuk dari pintu belakang, beranjak ke depan dan menaruh tasnya di meja Angelica.
“Pengumuman apa? Kalau kau memberitahu, biar kuumumkan sendiri” tanya Angelica sambil menyarankan.
“Kau murid kelas ini, jadi aku tidak bisa memberitahumu sebelum aku sendiri yang mengumumkannya. Itu sudah tugasku” jawab Johan sambil beranjak bersamanya.
Johan pun memulai pemberian pengumuman kepada siswa. Mereka memperhatikannya dengan penuh minat, sambil berseru sesekali. Pertemuan yang berjalan selama 15 menit itu akhirnya selesai hari itu. Setelah selesai, Johan menghampiri Harry.
“Hei, Harry. Kau yakin siswa kelas ini banyak yang dari luar Escoriale?” tanya Johan.
“Ng? Begitulah. Kalau kakak tidak yakin, aku punya datanya dan ini sudah divalidasi oleh wali kelasku, kok” jelas Harry.
“Baiklah, aku minta data itu. Kutunggu, ya” ujar Johan sambil mengambil tasnya.
“Kau mau ke ruang Dewan Siswa?” tanya Angelica.
“Yaah...” jawabnya setengah malas. Namun ia tetap menggandeng tangan Angelica dan berpamitan.
“Duuh, mesranya” ledek Hans.
“Berisik, ah” balas Johan sambil berlalu...

Mereka berdua berjalan beriringan, tanpa bicara. Entah kenapa, suasana terasa sedikit kikuk dan mereka bingung sendiri. Sambil berjalan, Johan melewati sebuah jendela dan melihat keluar, kemudian menyadari sesuatu. Spontan, ia langsung menarik tangan Angelica yang baru akan menaiki tangga.
“Ada apa, Johan?”
“Mau... keluar sebentar...?”

Johan mengajaknya ke taman air mancur dekat gedung SMP seperti biasa. Ia memasukkan uang kertas 1 pound dan memilih minumannya sendiri di mesin penjual otomatis.
“Kau mau apa?”
“Eeh... Coffee Milk...?”
“Hmm... sedang kosong. Milk tea saja, ya”
“Boleh”
Johan menekan tombol dan minuman mereka keluar. Ia mengambil minuman dan uang kembaliannya lalu menyerahkan minuman pilihan Angelica sambil duduk di sampingnya. Tak lupa Angelica mengucapkan terima kasih.
Angin bertiup perlahan. Meski cuaca mulai panas, namun karena di taman itu banyak pohon-pohon tinggi menutupi langit, jadi terasa sejuk. Walau mereka harus segera kembali ke Dewan Siswa, namun karena minggu depan sudah ujian, kegiatan mereka sedang tidak banyak meski sudah harus mempersiapkan seleksi anggota Dewan Siswa baru.
“Tunggu. Ada apa kau mengajakku kesini?” tanya Angelica sambil memandangnya waspada.
“Nggak ada apa-apa. Pekerjaan kita tinggal memeriksa hasil pekerjaan tiga anggota lainnya, kan? Daripada menunggu mereka disana, lebih baik menghabiskan waktu disini” jelas Johan.
Angelica mengangguk-angguk. Mereka pun saling terdiam sambil meneguk minuman mereka masing-masing. Kemudian Angelica melihat ke arah Johan, penasaran dengan sesuatu.
“Apa?” tanya Johan, yang sadar sedang dilihat olehnya.
“Ah... aku penasaran, kalau kamu suka sekali black coffee” katanya sambil menunjuk kaleng yang dipegang Johan. “Biasanya anak seumur kita jarang yang suka kopi itu, kan” lanjutnya sambil tertawa-tawa.
“Ooh. Aku meminumnya bukan karena suka, sih. Tapi karena butuh” jawab Johan.
“Butuh? Kau begadang lagi tadi malam?”
“Kalau tidak begitu, kerjaanku dari kantor tidak akan selesai. Aku memang selalu tidur pukul dua dan bangun pukul tujuh”
“Serius!? Aku baru tahu kau selalu tidur lima jam! Kenapa tidak bilang padaku jika ada yang bisa kubantu?”
“Tidak apa-apa. Toh selama setahun kemarin aku biasa melakukannya. Lagipula awalnya kan kau belum terbiasa meski sekarang sudah mahir” Johan menaikkan salah satu kakinya dan menopangnya di atas kaki satunya.
“Tuh, kan. Aku menyusahkanmu” ujar Angelica sedih.
“Angie” panggil Johan sambil memegang pipinya dan menariknya agar melihat ke arahnya. “Sudah kubilang, aku sama sekali tidak keberatan. Toh aku juga sudah menyusahkanmu setahun ini” lanjutnya sambil tersenyum.
Senyuman itu membuat Angelica salah tingkah. Ia melepaskan tangan Johan dan menunduk dengan wajah merah padam. Tanpa protes apapun lagi.
“Hahaha, kau lucu kalau lagi malu” ledek Johan sambil mencubit pipinya.
“Uuukh~ habisnyaaa~~”
Mereka akhirnya menutup topik, dan mengalihkan pandangannya ke air mancur. Tak lama kemudian para siswa berkumpul disitu. Saat itu memang sedang ada pertunjukan air mancur yang diadakan setiap jam ini dua hari sekali. Dan yang melihat pertunjukan itu bukan hanya mereka, tapi juga semua siswa Escoriale yang mengetahui pertunjukan itu. Semua yang menyaksikannya begitu takjub dan senang melihatnya, tidak terkecuali Angelica dan Johan. Pertujukan itu berjalan selama 15 menit, setelah itu para siswa yang berkumpul kembali ke tujuan awalnya masing-masing, sampai akhirnya tinggal mereka berdua disitu.
“Ngomong-ngomong, Johan...” Angelica memulai topik lagi.
“Ng?” Johan merespon.
“Kau... sudah bertemu lagi dengan kak Russell...?”
Johan yang sedang meneguk minumannya, berhenti. Ia menunduk bingung.
“Angie...” panggilnya pelan.
“Sejak pulang dari Austria, kak Russell jadi sibuk sekali. Meski dia memang masih mau bicara denganku seperti biasa, tapi...” Angelica menurunkan alisnya, bingung sekaligus sedih.
“Yaah, bagaimana, ya...” Johan berpikir. Ia meneguk minumannya untuk terakhir kali dan membuang kalengnya ke tempat sampah yang berada sepuluh sentimeter dari tempatnya duduk.
“Lalu bagaimana dengan jawaban pertanyaanku tadi?” tanya Angelica sambil mendelik.
“Jawabannya, belum. Sejak liburan, ia selalu datang ke sekolah saat bel dan ke gedung jam saat pulang. Jam istirahat saja dia jarang di kelas, tuh. Habis dia sedang sibuk karena pekerjaan dan pergantian pengurus Dewan Perguruan Siswa, karena wakilnya akan lulus kuliah tahun ini.” Johan berdiri, kemudian mengulurkan tangan padanya. “Tapi kurasa, kita bisa bicara saat upacara penutupan semester.”
 Walau sudah mendengar jawaban Johan, Angelica masih merasa kecewa. Ia hanya bisa menyambut tangannya dengan wajah sumringah.
“Walau kalian sahabat, kau sama sekali tidak bisa diandalkan” Angelica beropini.
“Maaf, deh. Selama ini aku selalu bergantung padanya, makanya dia jarang curhat padaku kalau bukan aku yang memaksanya cerita” jelas Johan.
Angelica tertawa, mereka pun berjalan kembali ke sekolah. Selama berjalan, angin bertiup dan menerbangkan rambut mereka berdua. Angelica dan Johan memejamkan mata menikmati angin itu, sambil bergandengan tangan.
“Musim panas...” ujar Johan. “Kita bakal libur satu bulan lagi, ya” lanjutnya sambil melihat ke arah rimbunnya pohon hari itu.
“Ya. Tak terasa sudah setahun berlalu. Rasanya sangat panjang, ya”
“Hmm... tidak juga. Entah kenapa, aku menikmati sekolah tahun ini”
Angelica terkejut, dan melihat ke arah Johan.
“Mungkin, karena ada kamu, ya”
Angin bertiup agak kencang, lebih dari sebelumnya. Dan menerbangkan rambut mereka berdua. Mereka saling bertatapan, dengan tatapan terkejut dari Angelica, dan senyuman bahagia dari Johan. Kemudian, ia tertawa.
“Hahaha, jangan melihatku begitu, dong!”
“Ah, eehh... habisnya...” Angelica gelagapan, kemudian meminum minumannya yang sudah kembali menjadi suhu normal, tidak dingin seperti tadi.
“Tapi memang... meskipun banyak hal tidak menyenangkan, tapi kebersamaan kita terasa begitu berarti bagiku, hingga hari ini... apa kau juga merasa begitu, Angie?” tanya Johan lembut.
“Ya... Tahun ini aku banyak menyusahkanmu, ya” ujar Angelica merasa bersalah.
“Tidak apa-apa. Aku jadi sadar satu hal saat bertemu denganmu”
“Apa itu?”
“Rahasia!” jawabnya bersemangat.
“Huuh, curang!” Angelica merajuk.
Johan tertawa lagi dan mengelus kepalanya dengan rasa sayang. Perlahan ia mendekatkan wajahnya ke wajah Angelica. Meski awalnya gugup, tak ada pilihan lain selain memejamkan matanya dan menyambut wajahnya yang terus mendekat...

Di ruang Dewan Siswa, para anggota duduk di kursi masing-masing menyelesaikan tugas yang telah diberikan dengan wajah sumringah, kecuali Aldias.
“Haaahhh~~”
Patricia dan Michaelis menghela nafas panjang dan menaruh kepalanya di atas meja, kelelahan. Hanya Aldias yang masih tetap bekerja seperti biasa walau ia sendiri juga sedang kurang semangat.
“Kalian sudah seperti mayat hidup saja. Apa kerjaannya sebanyak itu?” tanya Aldias sambil minum susu yang diambil dari kulkas ruang Dewan Siswa, sebagai persediaannya.
“Aku masih harus menyusun acara dan kemungkinan negatif yang bakal terjadi saat pemilihaann~~” keluh Patricia.
“Dan aku masih harus menyusun keperluan yang dibutuhkan saat pemilihan ke setiap klub~~” keluh Michaelis.
“Ya, ampun. Kalian sendiri kan yang sudah menyanggupi, padahal Angelica dan Johan sudah menawarkan bantuan karena tugas mereka sudah selesai?” Aldias mengingatkan.
“Sebentar lagi kompetisi musik nasional dimulai, lho! Aku juga capek harus latihan! Belum lagi ujian akhir ini menyiksaku! Huaaa~~” Patricia pura-pura menangis.
“Aku juga sedang bingung karena laba perusahaanku turun tahun lalu. Dan aku sedang memikirkan konsep baru untuk Festival Fashion di Perancis libur musim dingin tahun ini! Uuughh~” lanjut Michaelis.
Aldias yang melihat mereka seperti itu tak tahu harus berkomentar apa. Akhirnya ia beranjak dari kursinya, mengambil sesuatu dari kulkas, dan menaruhnya di depan mereka masing-masing. Yaitu susu yang sama dengan yang sedang diminumnya. Kemudian meletakkan beberapa bungkusan di tengah meja.
“Istirahat dulu saja. Ini, biar kalian semangat lagi. Dan makan ini biar ada kalori untuk berpikir!” katanya memberi instruksi.
“Aldias, kau dewa!!” puji Michaelis dengan nada masochist seperti biasa.
“Terima kasih, kak Aldias. Aku makan, ya!!” ucap Patricia.
“Tidak usah sungkan. Aku tahu hal ini bakal terjadi sama kalian. Ngomong-ngomong, Johan dan Angelica lama, ya. Mereka belum selesai?” Aldias terheran-heran sambil kembali mengerjakan tugasnya.
“Tadi sebelum kemari, aku lihat sudah selesai. Mungkin mereka ingin berduaan lebih lama. Hiks~~” Michaelis pura-pura menangis.
“Kak Michaelis...” panggil Patricia pelan.
“Selamat siaaang! Maaf terlambat!” sapa Johan dengan lantang.
“Maaf, kami terlambat!” Angelica membungkukkan badan.
Namun sayangnya, tak ada yang menanggapi mereka dan mereka malah kembali mengerjakan tugas masing-masing tanpa peduli. Dengan kata lain, mereka pura-pura tidak melihat kedatangan Johan dan Angelica.
“Eeh... kalian baik-baik saja?” tanya Angelica bingung, karena tak ada yang memperhatikan mereka sama sekali. Ia pun mendekati Michaelis. Ia malah memberi wajah yang menangis dengan konyol. Angelica terkejut melihatnya.
“Biarkan saja mereka, Angie. Paling-paling mereka terlalu fokus karena tak yakin bakal menyelesaikannya saat deadline” kata Johan dengan nada menantang. Aldias dan Michaelis langsung spontan berdiri, dan itu mengejutkan Angelica lagi.
“Heh!? Senior!?”
Aldias dan Michaelis langsung panas. Mereka terlihat geram dan itu membuat Angelica takut. Ia melihat ke arah Sylvie.
“Kak Patrici... heee!?”
Patricia, yang mendengarnya juga ikut panas, namun ia tidak ikut berdiri malah mengerjakan tugasnya tanpa berusaha peduli. Ia mengetik dengan cepat dengan mata berapi-api.
“Hei, Johan. Aku tahu tugasmu sudah selesai, tapi bisa kan untuk tidak mengejek dengan kata-kata menyebalkan?” Aldias merenggangkan jarinya.
“Dan lagi, kau pergi berduaan dengan My Little Angel. Walaupun kalian pacaran, aku tidak rela, lho!” Michaelis melipat kedua tangannya.
“Ng? Kalian ini bicara apa?” tanya Johan tenang.
“Kak Johan! Kenapa kau malah makin memanas-manasi, sih!?” seru Angelica.
“Aku tidak melakukan apa-apa, lho. Mereka sendiri yang panas gara-gara kita datang terlambat” Johan membela diri.
“Kenapa rasanya aku tambah kesal, ya!?” Aldias meninju tembok yang ada di sebelahnya.
“Kalau kalian masih punya waktu untuk marah, lebih baik kalian kerjakan tugasnya. Deadline-nya sore ini, kan?” tanya Johan santai.
“Aku tahu!! Makanya jangan muncul dari pintu dengan wajah santai begitu! Menakutkan, tahu!!” teriak Aldias sewot.
“Ya, Ketua. Tugasku sudah selesai. Silakan dilihat!” Patricia memberi instruksi.
“Kenapa kau jadi pengkhianat begini, sih, Patrice!? Curang! Kembalikan tugasnyaaa~!”
“Eeeh, sebenarnya apa yang terjadi dengan kalian bertiga, sih?” tanya Angelica takut-takut.
Setelah beberapa saat, entah bagaimana suasana di ruang Dewan Siswa kembali normal dengan hasil tugas para anggota selesai dengan selamat. Tanpa terasa hari sudah sore. Para senior sudah beranjak dari ruangan karena ingin istirahat, dan Patricia masih harus meladeni penilaian terakhir dari juniornya di klub musik meski ia terlihat capek. Sementara Johan dan Angelica masih di ruangan memeriksa hasil pekerjaan mereka untuk disampaikan pada Dewan Perguruan Siswa. Tadinya Angelica menawari diri untuk menggantikannya, namun Patricia menolak.
“Tidak apa-apa. Mereka hanya butuh penilaian hasil latihan, kok. Jadi tidak akan makan waktu lama” jelasnya sebelum pergi tadi.
“Aku bisa membantu untuk bagian piano dan biola, kok. Kakak bisa menilai di alat musik lain!” Angelica bersikeras, dan Patricia berpikir sejenak.
“Baiklah, aku terima tawaranmu. Maaf menyusahkanmu, padahal kau sudah tidak ingin bermusik lagi” katanya merasa bersalah.
“Tidak apa-apa! Aku senang bisa membantu. Aku akan kesana setelah tugasku selesai nanti!” balas Angelica...

“Hahaha, mereka bertiga lucu, ya! Sampai panas begitu melihat kita terlambat!” Johan tertawa-tawa sambil melihat tabletnya tak lama setelah Patricia pergi.
“Kau yang keterlaluan, kak Johan. Kita sudah mau ujian, tapi kau malah membebani mereka dengan tugas segudang dan deadline sempit!” protes Angelica, sambil melakukan hal yang sama, dan mencatat beberapa poin di atas bukunya.
“Justru aku menetapkan deadline sempit kan demi mereka juga. Lagipula kau tahu kan tidak boleh ada kegiatan selama ujian berlangsung. Kak Aldias dan kak Michaelis juga bersedia membantu sampai pengganti mereka tiba, padahal mereka sudah tidak boleh ikut kegiatan sekolah” jelas Johan.
“Ah, benar juga. Sebentar lagi mereka akan jadi mahasiswa, ya” Angelica mengingat-ingat. “Berarti minggu depan juga, mereka sudah ujian akhir sekolah, ya?”
“Iya” jelas Johan. Ia menutup tabletnya dan memasukkannya ke dalam tas. “Bagaimana? Sudah selesai?” tanyanya pada Angelica.
“Ah, sedikit lagi!” katanya selaku buru-buru.
Johan membalasnya dengan tersenyum, kemudian langsung memasang wajah serius.
“Angie... kau tidak ingin bermusik lagi?”
Mendengarnya, Angelica yang sedang mengetik di atas keyboard tabletnya, berhenti sesaat. Kemudian melanjutkan lagi.
“Entahlah... toh awalnya aku melakukannya karena hobi. Untuk sekarang, aku jauh lebih ingin perusahaan Ayahku bangkit kembali. Yaah, walau aku belum melakukan apa-apa, sih” jelasnya sambil tertawa-tawa.
Johan tak menjawab. Hanya melihat wajahnya. Kemudian ia mengambil tasnya dan duduk di sampingnya.
“Saat libur semester pertama nanti, kita cari Ayahmu, ya” kata Johan sambil mengelus kepalanya.
Angelica merasa nyaman diperlakukan seperti itu. Ia memegang tangannya yang mengelus kepalanya sambil memejamkan matanya. Terasa hangat, dan itu membuatnya kembali bersemangat dan bahagia.
“Terima kasih...”

“Aku Wakil Ketua Dewan Siswa, Angelica Sandoras, yang akan membantu kak Patricia untuk menilai hasil latihan kalian. Mohon bantuannya!” sapa Angelica dengan keras sambil membungkuk.
“Diantara kalian, pasti ada yang pernah mendengar namanya. Dia pemenang kompetisi piano tingkat nasional dua tahun lalu. Walau sayangnya, dia tidak ikut berpartisipasi di tingkat internasional” lanjut Patricia.
Dan diantara mereka banyak yang terkejut dan mulai saling mengobrol.
“Sandoras!? Aku pernah dengar tentangnya!”
“Hee!? Kompetisi yang diikuti oleh pemain profesional itu, kan!? Ternyata ada di dekat kita!”
“Dan lagi, dia Wakil Ketua sekolah kita! Aku tidak menyadarinya!”
Terdengar banyak celotehan lain oleh para anggota. Patricia pun meminta mereka tenang dan memulai penilaian.
“Dengar, penilaian ini juga akan dimasukkan ke dalam rapor. Jadi, anggap saja ini sebagai ujian akhir kalian. Karena selama libur semester, kita tidak boleh ada kegiatan!”
GLEK! Terdengar suara mereka menelan ludah. ‘Ujian’, kata-kata yang selalu terdengar menakutkan bagi siswa sekolah manapun. Karena memang, ujian di sekolah ini sangat berbeda dengan ujian-ujian di sekolah biasa. Standarnya pun jauh lebih tinggi, karena itu yang sejak kecil sudah sekolah di Escoriale sudah tidak terlalu kaget dengan ujian seperti ini. Namun anak-anak baru, tentu bakal tertekan.
“Kalian tidak usah tegang. Lakukanlah seperti latihan kalian. Tapi, aku tidak akan berkomentar apapun selama kalian main, dan aku tidak akan memberitahu letak kesalahan kalian selama bermain. Jadi, hati-hati, ya!” jelas Angelica.
Mereka kembali menelan ludah. Meski bermaksud menenangkan, namun kata-kata terakhirnya begitu menusuk bagi mereka. Dan akhirnya penilaian pun dimulai.
Hari ini, tepat seminggu sebelum ujian akhir. Mereka semua disibukkan oleh kegiatan masing-masing menjelang kenaikan kelas dan kelulusan Aldias dan Michaelis. Angelica pun penasaran dengan apa yang akan terjadi saat kenaikan kelas nanti. Meski akan ada hal yang menyenangkan, namun hal yang tak terduga juga akan terjadi bersamaan.



Dan diantara para anggota klub musik disitu, ada seorang anak yang melihat ke arah Angelica dengan tatapan tajam dan bergumam...
“Jadi dia orangnya...”

0 comment:

Posting Komentar

 

Diana Rachmawati Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template