Minggu, 10 April 2016

Wings of Melodies ~ Memories Edition - Chapter 15



T
RONG TRENG TRANG TRONG!
“Yak, cukup. Kumpulkan soal dan hasil jawabannya dari belakang!!” perintah guru pengawas pada semua murid kelas 1-A hari itu.
Para murid bersorak bahagia menyambut selesainya ujian hari itu. Ada beberapa yang menghela nafas panjang, bahkan diantara mereka ada yang menangis bahagia.

“Dengan berakhirnya ujian hari ini, maka ujian akhir semester resmi berakhir! Jangan lupa minggu depan akan ada pemilihan pengurus Dewan Siswa, jadi kuharap kalian dapat berpartisipasi! Dan juga akan ada pengumuman resmi dari pengurus Dewan Perguruan Siswa di upacara penutupan semester, jadi jangan sampai tidak hadir!” jelas guru pengawas.
“Baiiik!!”
“Berdiri!! Salam!!”
“Terima kasih banyak!!”
Seiring dengan keluarnya guru pengawas, para siswa pun membubarkan diri, walau mayoritas memilih untuk tetap tinggal di kelas dan mengobrol satu sama lain. Harry pun menginstruksikan pengurus kelas hari itu untuk piket dan membuat laporan kelas.
“Angelicaa~~ nomor 6 bisa?” tanya Hans.
“Ah, soal itu ada di kamus yang direkomendasikan guru kita, kan?” tanya Angelica balik.
“Benarkah? Pantas saja. Aku tidak membacanya, sih” kata Hans malas.
“Lalu apa yang kau baca? Semua soal tadi mayoritas diambil dari kamus itu, kan?” tanya Sylvie.
“Kebetulan saja aku tahu sejak lama” jelas Hans singkat.
“Cuma itu!?” Angelica terkejut.
“Ya, begitulah. Aku suka sejarah, sih. Sekali ingat, tidak akan kulupakan” jelas Hans.
“Pantas saja kau masuk kelas 1-A. Tapi kenapa nilai pelajaranmu selama kelas satu ini nggak bagus, sih” seru Harry heran, yang tiba-tiba datang ke meja mereka setelah mengawasi kegiatan kelas.
“Jawabannya hanya satu: aku menyelepekan pelajaran selama setahun ini. Lagipula, kelas dua nanti aku mau ambil jurusan bisnis dan sosial” jelas Hans.
Meski kelas dua penentuan kelasnya di-lotere, namun itu disesuaikan dengan jurusan yang diambil oleh masing-masing siswa. Ada lima jurusan di kelas dua ini: ilmu alam, ilmu bisnis, ilmu sosial dan politik, ilmu seni, dan ilmu bahasa dan budaya. Setiap siswa mengajukan maksimal dua jurusan saat kenaikan kelas. Kedua jurusan yang diajukan akan ditentukan guru jurusan mana yang akan diambil di kelas dua, dan sisanya diambil di kelas tiga. Apabila ada siswa yang mengambil satu jurusan saja, maka ia akan tetap ada di jurusan itu baik di kelas dua maupun kelas tiga. Setiap jurusan tergantung dari jumlah siswa yang berminat dari jurusan tersebut, namun jumlah maksimal setiap jurusan adalah dua kelas.
“Benar juga, kita mau penjurusan, ya” Harry berpikir.
“Aku ambil ilmu bahasa dan seni. Disesuaikan sama bidang usahaku, sih” kata Sylvie.
“Aku ambil jurusan bahasa dan bisnis. Semoga kita bisa ambil kelas bahasa di tahun yang sama, ya, Sylvie!” ujar Harry pada Sylvie.
“Kau sendiri ingin di jurusan apa, Angelica?” tanya Hans.
“Aku ambil jurusan ilmu alam” kata Angelica.
“Cuma satu jurusan? Sayang, lho” kata Harry.
“Tidak apa-apa. Toh kita akan bisa tetap saling bertemu seperti ini meski di kelas dua nanti, kan?” tanya Angelica sambil tersenyum bahagia.
Mereka bertiga terkejut dengan pertanyaannya, dan saling tersenyum yang sama bahagianya dengan dirinya.
“Tentu saja!”

“Heh, kau ambil jurusan ilmu alam juga?” tanya Johan, sambil menandatangani dan menyetempel surat-surat penting di ruang Dewan Siswa, kegiatan yang biasa dilakukannya bersama Angelica dan anggota lainnya.
“Iya. Sesuai sama bidang usaha keluargaku, sih” ujar Angelica sambil mengetik.
“Lho? Memangnya keluarga My Little Angel pengusaha apa?” tanya Michaelis.
“Kau tidak tahu, Michael!? Keluarga Angelica kan pengusaha pertanian terbesar yang ada di Inggris, Sandoras Farm Corp, lho!” seru Aldias.
“Benarkah!? Tapi, bukankah perusahaan itu tiba-tiba bangkrut saat sedang naik daun!? Apa yang terjadi, My Little Angel?” tanya Michaelis sambil melihat ke arah Angelica yang sedang menghampiri Johan untuk menunjukkan berkas yang habis dikerjakannya di tabletnya.
“Soal itu, aku...” Angelica langsung berwajah agak sedih. Aldias dan Patricia saling bertatapan, lalu melihat ke arah Michaelis dengan wajah seakan berkata ‘cepat minta maaf!’. Johan yang menyadari perubahan itu hanya menatap Angelica dari sudut matanya tanpa ekspresi.
“Ah, maaf, My Little Angel. Aku terlalu lancang” pinta Michaelis sambil menghampiri Angelica, dan mengelus kepalanya.
“Tidak apa-apa, kak. Aku bukannya tidak mau menceritakannya. Tapi itu karena... aku sendiri pun masih ragu akan alasan itu...” jelas Angelica.
“Maksudmu apa?” tanya Patricia bingung.
Angelica melihat ke arah Johan. Menyadari, ia hanya menghela nafas dan menyandarkan punggungnya di kursi. “Kurasa kau tidak butuh pertimbanganku, kan, Angie?”
Angelica kembali berpikir sebentar. Akhirnya, ia memutuskan untuk menceritakan apa yang terjadi selama ini. Sejak perusahaan Ayahnya dinyatakan bangkrut, menghilangnya sang Ayah, sampai apa yang terjadi selama ia dan Johan di Berlin saat libur musim gugur lalu. Namun ia tidak menceritakan bahwa ini ada hubungannya dengan keluarga Hans maupun Ethan Miller, dan tujuan dari dilikuidasinya perusahaan keluarganya.
“Pasti berat untukmu, ya, Angelica” pinta Patricia sedih.
“Yaah, tapi... berkat kak Johan, aku berhasil mengungkap kenyataan bahwa kejadian ini tidak ada hubungannya dengan Pamanku” ujar Angelica sambil tersenyum pahit.
“Tapi itu memang aneh, My Little Angel” potong Michaelis dengan wajah serius. “Perusahaanmu adalah perusahaan pertanian dengan profit paling tinggi di Inggris, karyawannya juga cukup banyak. Bahkan hutang perusahaan pun termasuk dalam tingkat yang wajar. Bagaimana bisa bangkrut?” jelasnya.
Johan langsung menyadari sesuatu. “Kau baca laporan keuangannya, kak Michaelis!?”
“Ng? Aku selalu baca laporan keuangan perusahaan besar, kok” jawab Michaelis.
“Kalau begitu, kau punya laporan keuangan perusahaan Angie!?”
“Ada di tabletku dan masih disimpan. Mau lihat?”
“Iya!”
Michaelis langsung menyambungkan tabletnya ke infokus, dan menyalakan LCD yang ada persis di depannya. Kemudian ia membuka beberapa folder dan membuka dokumen yang diminta Johan.
“Ini laporan keuangan terakhir yang dibuat oleh Sandoras Farm Corp. dua tahun yang lalu. Aku sudah baca semua catatan laporan keuangannya, jadi akan kujelaskan di bagian yang penting” jelas Michaelis.
Ia pun menjelaskan di beberapa bagian seperti kewajiban yang ada di neraca, hutang-hutang yang telah dibayarkan ke beberapa perusahaan, jumlah saham dan obligasi yang telah beredar, harga saham di beberapa titik, laba yang didapatkan, serta penggunaan laba tersebut. Ia juga menjelaskan beberapa hal lain diluar laporan yang ia ketahui berdasarkan isu-isu yang sudah valid.
“Dan yang lebih aneh lagi, perusahaan ini tidak membuat laporan keuangan pada saat dilikuidasi. Bahkan para investor sendiri kebingungan dengan kelanjutan usahanya, tapi mereka tetap mendapatkan laba. Setelah hari likuidasi itu, perusahaan merumahkan para karyawannya dan memberi pesangon yang tinggi, kemudian tidak beroperasi lagi” Michaelis mengakhiri penjelasannya.
 “Kurasa bukan tidak membuat laporan, tapi membuatnya untuk kepentingan internal saja” Patricia memberi opini.
“Aku juga berpikir begitu. Aku bahkan sudah mengecek ke hacker yang bisa meretas informasi perusahaan hingga ke tingkat tinggi, namun hasilnya nihil” jelas Michaelis.
“Dua tahun lalu, ya... kalau diingat-ingat, waktu itu kantor firma hukum-ku banyak menerima penuntutan dari perusahaan itu. Mereka merasa tertipu, padahal investor sudah menerima kembali modal di hari likuidasinya” Aldias mengingat-ingat.
“Bagaimana bisa perusahaan mengembalikan modal mereka, padahal perusahaan sendiri sudah bangkrut?” tanya Patricia tidak mengerti.
“Jawaban yang paling mungkin adalah, perusahaan bukan bangkrut, tapi sengaja dihentikan” ujar Michaelis memberi opini. Semuanya terkejut.
“Tapi, apa tujuannya menghentikan perusahaan?” tanya Patricia sambil berpikir.
“Mungkin karena tujuan perusahaan itu sendiri sudah terpenuhi, makanya dihentikan. Yang jadi masalah, kenapa gangster tetap menagih hutang pada Angelica walaupun seharusnya itu sudah bukan tanggung jawabnya? Obligasinya sudah dijual, kan?” jawab Aldias sambil kembali bertanya.
Mereka berpikir keras, kecuali Angelica—yang sejak tadi hanya diam mendengarkan—hanya melihat sekelilingnya.
Pada akhirnya, pandangannya terpaku pada Johan, yang sejak tadi menggigit bibir dan mengerutkan dahinya dengan badan bergetar. Ia geram. Tentu saja. Karena hanya ia dan Johan yang tahu keadaan sebenarnya.
“Biasanya, yang berhubungan dengan gangster itu... penjudi, kan?” tebak Patricia.
Aldias menghela nafas. “Patrice, kau harus banyak belajar tentang dunia nyata...”
“Apa maksudnya, kak Aldias?”
“Bukan hanya penjudi dan rentenir. Sekarang ini banyak penjabat tinggi yang memanfaatkan gangster sebagai alat untuk menagih hutang mereka ke pejabat lainnya. Karena dengan cara halus tidak cukup, cara kekerasan jadi kuncinya” jelas Aldias.
“Kau tahu itu, tapi kenapa kau tidak bisa menghentikannya?”
Semua terkejut dengan pertanyaan Johan yang tidak terduga. Johan menatap mata Aldias dengan tajam. Jika mungkin, ia bisa saja memukul Aldias. Tahu kemungkinan itu, Angelica menahannya dengan kedua tangannya.
Sementara Aldias sendiri menatapnya balik tanpa ekspresi, dan perlahan berubah sedih. Ia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke jendela yang ada di belakang meja Johan.
“Itulah kenapa aku ragu menjadi pengacara, Johan...”
“Kak Aldias...” panggil Angelica pelan.
“Sadarkah kau? Uang sudah menjadi Tuhan kedua bagi kita. ‘Uang adalah segalanya, tapi segalanya butuh uang’. Sejujurnya aku benci kalimat itu...
“Sebagai pengacara, aku memang mengumpulkan berbagai bukti untuk memenangkan sidang di pengadilan untuk klienku. Tapi yang lebih menyedihkan bagiku adalah, aku tetap harus membela klien yang sudah jelas-jelas salah di mata saksi maupun publik. Dan kau tahu apa yang kuterima jika aku kalah? Memang, banyak yang menerima, tapi tidak sedikit yang memberontak. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan uang banyak demi menghapus nama buruk mereka, tanpa mereka sadari banyak yang terluka olehnya. Bahkan baru-baru ini ada klien yang mengancam untuk mencemarkan nama baik firma hukum keluargaku hingga menghancurkan seisi kantor karena kalah di persidangan...
“Lalu orang sepertiku, bisa apa? Hati mereka tahu kebenarannya, namun langsung tertutup karena uang. Siapa yang bisa bertanggung jawab akan hal itu!?!”
Aldias berteriak sambil meninju kaca jendela hingga pecah. Angelica dan Patricia berlindung karena takut. Michaelis hanya bisa menunduk, dan Johan sudah sedikit mengendurkan bahunya tanpa berpaling sedikitpun. Angelica berpaling ke Aldias. Tiba-tiba ia menyadari sesuatu, bahwa selama ini Aldias tidak pernah marah, dan baru kali ini ia melihatnya mengutarakan perasaannya yang sebenarnya. Ia merasa kasihan, sekaligus sedih melihatnya.
“Aku pulang sekarang. Tugasku akan kukirim saat sudah selesai”
Johan tak menjawab. Aldias bergegas merapikan mejanya dan keluar dari ruangan. Mereka berempat masih tidak bergeming. Menyadarinya, Angelica bergegas keluar mengejarnya...

“Kak Aldias!! Kak Aldias Howard!!”
Angelica mengejarnya dan berhasil menghentikannya di depan gerbang sekolah. Aldias berpaling padanya yang kemudian berhenti dan menunggunya mengatur nafasnya kembali normal.
“Eh, begini... maafkan aku!!” Angelica menunduk.
“Hah?” Aldias heran.
“Dan juga maafkan kak Johan. Belakangan ini, ia sangat sensitif dengan masalahku. Aku yakin, ia tidak bermaksud membuatmu kesal, karenanya...!”
“Sudahlah”
Angelica berhenti. Kaget. Aldias kemudian tersenyum, menghampirinya dan mengelus kepalanya.
“Maaf, aku suka lupa diri kalau menyangkut gangster, padahal kita sedang membicarakan solusi masalah keluargamu. Aku terbawa perasaan...” pinta Aldias dengan pandangan sedih.
“Kak Aldias...” panggil Angelica pelan.
“Aku juga akan bantu untuk mencari kebenaran dua tahun lalu. Maaf, aku hanya akan bilang satu kali. Tapi untuk sisa hari ini, tolong biarkan aku sendiri. Aku sangat kacau sekarang” pinta Aldias lagi.
Angelica mengangguk perlahan. Aldias tersenyum, dan kembali berjalan pulang...

Sore hari, Angelica dan Johan masih berada di ruang Dewan Siswa, berada di mejanya masing-masing. Karena suasana menjadi tidak nyaman, akhirnya kegiatan hari itu dihentikan. Patricia dan Michaelis pamit tanpa membahas apapun. Bel tanda jam lima terdengar cukup keras. Angelica segera membereskan meja dan kertas-kertas hasil pekerjaannya.
“Aku antar kau sampai cafe-nya Harry. Kau kerja part-time, kan?”
Angelica terkejut mendengar Johan bicara tiba-tiba. Memang sejak Aldias pulang, ia belum bicara sepatah kata pun.
“Kau yakin?”
“Tidak apa-apa”
Johan keluar dari pintu tanpa bicara lagi. Angelica hanya mengikutinya...

“Ada apa dengan kak Johan? Dia jadi aneh begitu”
Harry yang sedang mengawasi meja kasir seperti biasa, bertanya pada Angelica yang sedang berdiri di sebelahnya mengawasi pelanggan. Johan sedang duduk di meja paling pojok dengan espresso dan orange shortcake yang terletak begitu saja. Sementara ia sendiri sibuk memainkan laptopnya.
“Tadi ada kejadian tidak enak di Dewan Siswa, makanya mood-nya sedang jelek sekarang. Padahal seharusnya tidak perlu sampai seperti itu” jelas Angelica sambil tersenyum. Lebih tepatnya, pura-pura tersenyum.
“Hmm...” Harry menanggapi sambil melihat Johan dari jauh. Kemudian ia mengutarakan pikirannya.
“Baiklah. Angelica, kau boleh pulang cepat hari ini” perintah Harry.
“Eh, tapi... ini masih satu jam sebelum tutup, kan...?” tanya Angelica bingung.
“Nggak masalah. Toh hari ini pelanggannya tidak banyak. Aku dan pelayan lainnya masih bisa handle, kok” jelas Harry. “Nah, sudah sana. Jangan melanggar jam malam asrama, lho!”
Harry mengatakannya sambil mendorong punggungnya dengan pelan, dan tersenyum sambil memberi wink padanya. Angelica terkejut dengan hal itu, namun ia tetap membalasnya dengan senyumannya. Jelas hal itu karena ia menyuruhnya untuk membuat Johan kembali bersemangat...

Angelica berjalan di depan Johan dengan selisih tiga langkah tanpa suara. Ia hanya tersenyum sambil bersenandung pelan, sambil memainkan HP dan mengawasi langkahnya sendiri. Johan yang melihatnya dari belakang menatapnya dengan pandangan tidak mengerti.
‘Kenapa dia bisa sesantai itu, sih!? Apa dia lupa apa yang terjadi tadi?’ gerutunya dalam hati.
Dan Johan pun sadar kemudian, jalan yang mereka lalui bukan jalan menuju kembali ke sekolah, tapi entah kemana selain Angelica yang tahu sendiri. Karena malas bicara, ia hanya mengikutinya tanpa mau protes. Sampai akhirnya, mereka tiba di tujuan.
“Sampaaaii!!” teriak Angelica senang.
Johan membelalakkan mata. Ia ingat betul tempat ini hingga membuatnya rindu dan hampir mengeluarkan airmata.
Ya, ini adalah bukit yang berada tidak jauh dari danau, tempat yang pernah mereka datangi bersama Russell dan yang lainnya, saat tahun lalu. Ia masih ingat dirinya dan Angelica bertengkar sepulangnya dari karaoke karena kalah skor dari tim Sylvie dan Russell saat adu nyanyi. Terasa lama, tapi juga singkat baginya.
“Kukira kalau kesini, kau akan lebih baik” ujar Angelica, sambil memberi saputangannya. Johan mengambilnya perlahan dan menghapus airmatanya sendiri. Kemudian, Angelica tertawa.
“Haha, ini pertama kalinya aku melihatmu menangis!” ledeknya. Johan langsung memalingkan muka begitu sadar bahwa ia diledeki seperti itu.
Angelica kembali mengubah raut wajahnya, kemudian membalikkan badannya dan melihat ke laut.
“Kumohon, Johan... jangan berwajah seperti itu... karena jika kau begitu, aku merasa telah kamu kasihani... aku sedih, lho...”
Johan terpana mendengar kalimatnya. Benar, dulu dia pernah mengalami hal yang sama beratnya dengan yang Angelica hadapi saat ini. Saat itu, ia benci pada orang-orang yang menatapnya sama seperti ia menatap Angelica sekarang. Ia memejamkan matanya, dan....
GREB!
“Jo... Johan?”
Angelica terkejut, karena tiba-tiba Johan memeluknya dari belakang dan membuat jantungnya berdebar keras sekaligus wajahnya merah karena kaget. Ia berusaha melepaskan diri, tapi ia malah memeluknya semakin erat.
“Aku... akan melindungimu... siapapun lawannya, sekalipun temanku sendiri... aku takkan biarkan kau dibunuh... karena, kau kira siapa aku ini...?”
Angelica terkejut mendengar kata-kata Johan di akhir kalimatnya. Ia mendongak, melihat Johan yang tersenyum sambil tersipu merah. Walau ia tak ingin tertawa, tapi akhirnya rasa yang tertahan itu meledak juga. Ia tertawa terbahak-bahak meski candaannya tidak terlalu lucu. Mungkin ia senang karena akhirnya Johan bicara lagi setelah sekian jam tak bersuara.
“Ke, kenapa tertawa sekeras itu, sih!? Me, memangnya segitu lucunya, ya!?” teriak Johan berusaha menahan malu. Namun, melihatnya tertawa begitu bahagia, ia merasa lega. Walau dia sendiri jelas tahu bagaimana perasaannya sekarang yang tidak karuan, tapi tetap berusaha membuatnya tidak khawatir. Dan ia sangat berterima kasih padanya.
“Ah, sudah mau bicara lagi, nih?” ledek Angelica sambil menghapus airmatanya sendiri, yang keluar setelah tertawa.
Johan mengangguk. “Aku benar-benar berlebihan, ya”
“Sepertinya kau selalu berlebihan kalau hal yang berhubungan dengan aku”
“Ng... tidak juga, sih...” Johan melihat ke arah lain, malu-malu.
“Besok... minta maaf sama kak Aldias, ya!”
“... ya... kau sendiri?”
“Ng?”
“Kau... tidak merasa kesal belum menemukan petunjuk sama sekali...?”
Angelica terdiam. Hanya sesaat, kemudian ia tersenyum dan menggeleng.
“Aku tidak terlalu merasa buru-buru, kok. Aku memang ingin segera bertemu Ayahku agar semuanya jelas, tapi... untuk sekarang, yang terpenting adalah kau dan teman-teman di Escoriale...”
“Maksudmu...?”
“Ah, ada mesin minuman. Mau minum sesuatu...?”
“... jus jeruk”
“Oke!”
Angelica berjalan ke mesin penjual minuman otomatis dan melanjutkan kalimat yang ditanya Johan sambil membeli minumannya.
“... Sejujurnya, selama aku tidak sekolah setahun lalu aku benar-benar tertekan, dan nyaris tak punya harapan. Terlebih lagi teman-temanku semasa SMP selalu mengejek dan itu semakin membuatku terpengaruh... Kupikir mungkin aku akan selamanya seperti itu. Aku merasa tak ingin lagi bertemu dengan Ayahku, meski aku tahu ini bukan salahnya, tapi keadaan itu membuatku ingin menyalahkannya... Harapanku muncul saat sekolah kita memberiku kesempatan kembali untuk mengikuti ujian masuk. Saat itu juga aku bertekad untuk membangun kembali perusahaan keluargaku. Dan saat Ayahku kembali, aku ingin membuktikan bahwa... Angelica yang sekarang, bukan lagi Angelica yang tak tahu apa-apa seperti dulu. Aku ingin bisa... berjuang sendiri dengan kemampuanku...!!”
Johan terkejut mendengar kalimat tekad itu darinya. Ia menunduk dan tersenyum, lalu memeluk Angelica lagi, lebih erat. Tanpa bicara apapun, Angelica menundukkan kepalanya, menenggelamkan diri dalam pelukannya. Sampai akhirnya, ia menangis. Tangisan yang selama ini dipendam hingga tak pernah ia rasakan lagi, kini keluar seutuhnya dalam pelukan hangatnya...

Keesokan harinya, Aldias kembali ke Dewan Siswa seolah kemarin tidak terjadi apa-apa. Ia datang dengan semangat menyambut kegiatan sekolah hari itu. Tak lupa Johan meminta maaf padanya, namun ia biasa saja dan menganggap itu adalah pertengkaran biasa. Sayangnya, Aldias sendiri belum menemukan petunjuk atas laporan klien-kliennya yang berkaitan dengan masalah perusahaan keluarga Sandoras. Ia butuh waktu untuk menemukannya, karena saat itu bukan dia yang menanganinya. Angelica memahaminya dan tidak memaksakan Aldias.

Seminggu berlalu sejak berakhirnya ujian akhir semester. Tiba hari dimana pembagian rapor dan upacara penutupan semester diadakan. Dan kelas 1-A mendapat pengumuman mengejutkan.
“Angelica Steva Fiammatta Sandoras, selamat. Kau akan langsung naik ke kelas tiga!!”
Angelica berdiri mematung di depan podium kelas, saking terkejutnya. Tangannya yang sudah menerima rapor itu tak turun juga setelah mendengar pernyataan itu dari wali kelasnya. Teman-teman sekelas yang mendengarnya langsung berseru riuh.
“Sandoras, selamat yaa!!”
“Sudah kuduga kaulah yang bakal loncat kelas tahun ini!!”
“Huaaa~ Sandoras jadi murid kelas tigaaa~~”
Mendengar berbagai pujian itu, Angelica langsung berbalik badan dan menatap teman-temannya. Ia sangat terharu dan bahagia. Dengan kondisi itu, Angelica membungkuk di hadapan mereka sebagai tanda terima kasih karena telah menerima dirinya dan kondisi keluarganya selama setahun ini. Mulai musim panas nanti, ia akan duduk di kelas tiga.
Di upacara penutupan semester hari itu berlangsung dengan lancar. Tak lupa Dewan Perguruan Siswa menyampaikan beberapa pengumuman terkait peraturan dan agenda sekolah, serta beberapa perlombaan dan olimpiade selama tahun ajaran berikutnya sebagai persiapan bagi para siswa.
“Huaaa~ kita bakal berada di tahun yang berbeda, ya, Angelicaa~” keluh Sylvie.
“Selamat, kau duduk di kelas tiga” ujar Harry.
“Jangan sombong dengan kami, ya! Kapan-kapan, aku masih boleh minta diajari pelajaran lagi, kan?” celetuk Hans.
“Haha, tentu saja. Kita sering-sering kumpul lagi, ya! Oh iya, Sylvie pulang ke Newcastle besok setelah upacara kelulusan, kan?” tanya Angelica pada Sylvie.
“Iya! Yang lainnya, mau ikut? Akan kuajak ke rumah musim panas keluargaku!” seru Sylvie sambil bertanya pada yang lain.
“Waah, ide bagus! Kebetulan kita tidak ada PR selama libur ini, kan!” sahut Hans semangat.
“Aku akan pulang ke Norwich besok juga, sih. Nanti aku susul saja setelah harinya sudah ditentukan!” lanjut Harry yang juga sudah lama menanti liburan kali ini.
“Angelica, ajak kak Johan dan kak Russell juga, ya!” seru Sylvie.
“Baiklah. Nanti kubicarakan pada mereka” jawab Angelica.
“Angie, sudah waktunya, nih!” panggil Johan dari kejauhan.
“Baiik!! Ah, sudah dulu, ya!” sapa Angelica.
“Hee, mau kencan, ya!?” ledek Harry.
“Mana mungkin! Kami mau melakukan persiapan untuk upacara kelulusan para senior besok!” cegah Angelica.
“Hahaha, bercanda, kok! Sampai besok!” sapa Harry sambil melambaikan tangannya, diikuti Sylvie dan Hans...

“Rumah musim panas Sylvie!? Aku ikut!!” seru Johan saat Angelica menyampaikan niat mereka.
“Baiklah, kau email Sylvie saja. Ajak kak Russell juga, ya!” seru Angelica.
“Kenapa kau tidak email dia sendiri?” tanya Johan bingung.
“Uugh~ kau tahu sendiri, kan, ia seperti sedang menjauhiku sekarang~” Angelica bersungut sendiri.
“Yaah, dia sedang sibuk ba...”
SET! Tiba-tiba Russell lewat dihadapan mereka. Sama-sama terkejut, mereka saling bertatapan tanpa kata dalam beberapa detik.
“Angelica, Johan. Lama tidak bertemu” sapa Russell sambil tersenyum ramah.
“Ka... kak Russell! Lama sekali tidak bertemu! Kau sibuk sekali, ya!? Emailku bahkan sampai tidak dibalas!” balas Angelica sambil memasang wajah khawatir.
“Email? Aah, maaf. Email di HP-ku sudah dua bulan ini di-hack orang. Aku juga sedang meminta mahasiswa IT di Dewan Perguruan Siswa untuk memperbaikinya. Untuk sementara, ini emailku. Nanti kukabari lagi jika emailku sudah benar” jelas Russell, sambil mengirimkan pesan pada Johan dan Angelica dari tablet sekolah yang sedang dipegangnya.
“Ya, ampun. Hal seperti ini saja kau tidak bilang padaku. Menyebalkan, tahu” gerutu Johan kesal.
“Maafkan aku, Johan. Aku sangat sibuk satu semester ini bahkan sampai tidak masuk sekolah selama sebulan gara-gara urusan perusahaan, dan lagi aku tidak pernah bawa HP ke sekolah selama ini. Makanya aku baru tahu emailku di-hack minggu lalu” jelas Russell lagi.
“Ah, benar juga. Bulan lalu kau tidak masuk sekolah sama sekali, ya” Johan mengingat-ingat.
“Yaah, tapi aku tetap setor muka ke Dewan Perguruan Siswa, sih. Oh ya, Angelica” Russell beralih kepada Angelica.
“Ah, eh!?” sahut Angelica gugup, karena sejak tadi memerhatikan yang lain.
“Selamat ya, kau naik ke kelas tiga. Tahun ajaran baru nanti, mohon bantuannya!” ujar Russell sambil mengajukan tangannya.
“Hehe, iya. Terima kasih, kak Russell!” Angelica menyambut tangannya dan menyalaminya dengan bahagia.
“Hahaha, aku sudah bukan seniormu lagi, lho. Kita jadi satu angkatan sekarang, jadi panggil Russell saja”
“Ah, benar juga. Tapi, sampai kapanpun aku menghormatimu, kak Russell!” seru Angelica sambil mengerutkan alisnya.
“Hahaha, dasar! Terima kasih, ya!” seru Russell sambil mengelus kepalanya. “Ngomong-ngomong, kalian mau kembali ke Dewan Siswa?” lanjutnya bertanya.
“Ah, ya. Johan bilang masih ada yang perlu diurus untuk upacara kelulusan besok” jelas Angelica.
“Masih ada yang diurus?” tanya Russell bingung. Ia melihat ke arah Johan yang berdiri beberapa langkah di belakang Angelica, memberi isyarat dengan menaruh jari telunjuknya di depan bibirnya sambil berkedip sebelah mata. Russell langsung memahaminya.
“Baiklah, kalau begitu sampai besok” sapa Russell.
“Iya, sampai besok, kak Russell!” sapa Angelica sambil berlalu dengan Johan. Sedetik kemudian tabletnya memberi notifikasi email dari Johan. Ia membukanya, membacanya sambil tersenyum.
Ia melihat ke arah Angelica dan Johan lagi. Angelica yang menyadarinya langsung melambaikan tangannya. Russell membalasnya dengan senyuman sedih. Lalu bergumam pelan.
“Maaf, ya... Angelica...”

Sampai di ruang Dewan Siswa,
“Lho? Tidak ada siapa-siapa?” Angelica heran. Ia melihat ke arah Johan yang sedang menutup pintu.
“Ng? Memang mulai hari ini sudah tidak ada kegiatan, kok” jelas Johan.
“Hah? Kau bilang ada yang perlu diurus buat upacara kelulusan besok!”
“Semuanya sudah diurus Preminger, tuh. Dia yang mengajukan diri, sih”
“Terus, ngapain kita disini?” perasaan Angelica mulai tidak enak.
“Soalnya, ini disimpan disini!”
SREK! Johan mengambil sesuatu dari balik mejanya, yang ternyata adalah karangan bunga yang kemudian diberikan pada Angelica. Ia sangat terkejut dengan pemberiannya.
“Eh...?” Angelica tak bisa berkata-kata.
“Yaah, walau aku kesal didahului teman-temanmu dan Russell, aku ingin mengucapkannya dengan lebih pantas” jelas Johan. “Angie, selamat atas kenaikanmu ke kelas tiga! Mulai tahun ajaran baru nanti, mohon bantuannya!”
Angelica langsung melompat memeluknya tanpa pikir panjang. Johan yang awalnya terkejut, menyambutnya dan mendekapnya sambil mengelus rambutnya.
“Huhuu~ aku tidak menyangka sama sekali aku bisa lompat kelas, lhoo~” ujar Angelica sesenggukan.
“Lho, kok nangis? Kan tidak ada yang perlu ditangisi”
“Hiks~ biar saja. Aku hanya bisa menangis saat ada kau, tahu!”
“Haha, iya deh, iya. Tapi terima bunganya, dong!”
“Hiks~ iya, deh...”
“Hahaha, kau lucu sekali deh kalau menangis!”
“Kenapa malah meledek, sih! Menyebalkan, tahu!”
Hari ini adalah hari terakhir sekolah mereka. Dan besok adalah upacara kelulusan para senior kelas tiga. Liburan musim panas yang akan mereka lewati sebentar lagi, dan tahun ajaran baru yang akan dimulai sebulan setelahnya. Dan ini akan menjadi liburan mengejutkan, sekaligus yang akan membuat hari-hari berduka yang seakan tak kunjung berakhir, tiba di dalam hati mereka masing-masing...

0 comment:

Posting Komentar

 

Diana Rachmawati Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template