|
T
|
RONG TRENG TRANG TRONG!
“Yak, cukup. Kumpulkan soal dan
hasil jawabannya dari belakang!!” perintah guru pengawas pada semua murid kelas
1-A hari itu.
Para murid bersorak bahagia
menyambut selesainya ujian hari itu. Ada beberapa yang menghela nafas panjang,
bahkan diantara mereka ada yang menangis bahagia.
“Dengan berakhirnya ujian hari
ini, maka ujian akhir semester resmi berakhir! Jangan lupa minggu depan akan
ada pemilihan pengurus Dewan Siswa, jadi kuharap kalian dapat berpartisipasi!
Dan juga akan ada pengumuman resmi dari pengurus Dewan Perguruan Siswa di
upacara penutupan semester, jadi jangan sampai tidak hadir!” jelas guru
pengawas.
“Baiiik!!”
“Berdiri!! Salam!!”
“Terima kasih banyak!!”
Seiring dengan keluarnya guru
pengawas, para siswa pun membubarkan diri, walau mayoritas memilih untuk tetap
tinggal di kelas dan mengobrol satu sama lain. Harry pun menginstruksikan
pengurus kelas hari itu untuk piket dan membuat laporan kelas.
“Angelicaa~~ nomor 6 bisa?”
tanya Hans.
“Ah, soal itu ada di kamus yang
direkomendasikan guru kita, kan?” tanya Angelica balik.
“Benarkah? Pantas saja. Aku
tidak membacanya, sih” kata Hans malas.
“Lalu apa yang kau baca? Semua
soal tadi mayoritas diambil dari kamus itu, kan?” tanya Sylvie.
“Kebetulan saja aku tahu sejak
lama” jelas Hans singkat.
“Cuma itu!?” Angelica terkejut.
“Ya, begitulah. Aku suka
sejarah, sih. Sekali ingat, tidak akan kulupakan” jelas Hans.
“Pantas saja kau masuk kelas
1-A. Tapi kenapa nilai pelajaranmu selama kelas satu ini nggak bagus, sih” seru
Harry heran, yang tiba-tiba datang ke meja mereka setelah mengawasi kegiatan
kelas.
“Jawabannya hanya satu: aku
menyelepekan pelajaran selama setahun ini. Lagipula, kelas dua nanti aku mau
ambil jurusan bisnis dan sosial” jelas Hans.
Meski kelas dua penentuan
kelasnya di-lotere, namun itu disesuaikan dengan jurusan yang diambil oleh
masing-masing siswa. Ada lima jurusan di kelas dua ini: ilmu alam, ilmu bisnis,
ilmu sosial dan politik, ilmu seni, dan ilmu bahasa dan budaya. Setiap siswa
mengajukan maksimal dua jurusan saat kenaikan kelas. Kedua jurusan yang
diajukan akan ditentukan guru jurusan mana yang akan diambil di kelas dua, dan
sisanya diambil di kelas tiga. Apabila ada siswa yang mengambil satu jurusan
saja, maka ia akan tetap ada di jurusan itu baik di kelas dua maupun kelas
tiga. Setiap jurusan tergantung dari jumlah siswa yang berminat dari jurusan
tersebut, namun jumlah maksimal setiap jurusan adalah dua kelas.
“Benar juga, kita mau
penjurusan, ya” Harry berpikir.
“Aku ambil ilmu bahasa dan
seni. Disesuaikan sama bidang usahaku, sih” kata Sylvie.
“Aku ambil jurusan bahasa dan
bisnis. Semoga kita bisa ambil kelas bahasa di tahun yang sama, ya, Sylvie!”
ujar Harry pada Sylvie.
“Kau sendiri ingin di jurusan
apa, Angelica?” tanya Hans.
“Aku ambil jurusan ilmu alam”
kata Angelica.
“Cuma satu jurusan? Sayang,
lho” kata Harry.
“Tidak apa-apa. Toh kita akan
bisa tetap saling bertemu seperti ini meski di kelas dua nanti, kan?” tanya
Angelica sambil tersenyum bahagia.
Mereka bertiga terkejut dengan
pertanyaannya, dan saling tersenyum yang sama bahagianya dengan dirinya.
“Tentu saja!”
“Heh, kau ambil jurusan ilmu
alam juga?” tanya Johan, sambil menandatangani dan menyetempel surat-surat
penting di ruang Dewan Siswa, kegiatan yang biasa dilakukannya bersama Angelica
dan anggota lainnya.
“Iya. Sesuai sama bidang usaha
keluargaku, sih” ujar Angelica sambil mengetik.
“Lho? Memangnya keluarga My
Little Angel pengusaha apa?” tanya Michaelis.
“Kau tidak tahu, Michael!?
Keluarga Angelica kan pengusaha pertanian terbesar yang ada di Inggris,
Sandoras Farm Corp, lho!” seru Aldias.
“Benarkah!? Tapi, bukankah
perusahaan itu tiba-tiba bangkrut saat sedang naik daun!? Apa yang terjadi, My
Little Angel?” tanya Michaelis sambil melihat ke arah Angelica yang sedang
menghampiri Johan untuk menunjukkan berkas yang habis dikerjakannya di
tabletnya.
“Soal itu, aku...” Angelica
langsung berwajah agak sedih. Aldias dan Patricia saling bertatapan, lalu
melihat ke arah Michaelis dengan wajah seakan berkata ‘cepat minta maaf!’.
Johan yang menyadari perubahan itu hanya menatap Angelica dari sudut matanya
tanpa ekspresi.
“Ah, maaf, My Little Angel. Aku
terlalu lancang” pinta Michaelis sambil menghampiri Angelica, dan mengelus
kepalanya.
“Tidak apa-apa, kak. Aku
bukannya tidak mau menceritakannya. Tapi itu karena... aku sendiri pun masih
ragu akan alasan itu...” jelas Angelica.
“Maksudmu apa?” tanya Patricia
bingung.
Angelica melihat ke arah Johan.
Menyadari, ia hanya menghela nafas dan menyandarkan punggungnya di kursi.
“Kurasa kau tidak butuh pertimbanganku, kan, Angie?”
Angelica kembali berpikir
sebentar. Akhirnya, ia memutuskan untuk menceritakan apa yang terjadi selama
ini. Sejak perusahaan Ayahnya dinyatakan bangkrut, menghilangnya sang Ayah,
sampai apa yang terjadi selama ia dan Johan di Berlin saat libur musim gugur
lalu. Namun ia tidak menceritakan bahwa ini ada hubungannya dengan keluarga Hans
maupun Ethan Miller, dan tujuan dari dilikuidasinya perusahaan keluarganya.
“Pasti berat untukmu, ya,
Angelica” pinta Patricia sedih.
“Yaah, tapi... berkat kak
Johan, aku berhasil mengungkap kenyataan bahwa kejadian ini tidak ada
hubungannya dengan Pamanku” ujar Angelica sambil tersenyum pahit.
“Tapi itu memang aneh, My
Little Angel” potong Michaelis dengan wajah serius. “Perusahaanmu adalah
perusahaan pertanian dengan profit paling tinggi di Inggris, karyawannya juga
cukup banyak. Bahkan hutang perusahaan pun termasuk dalam tingkat yang wajar.
Bagaimana bisa bangkrut?” jelasnya.
Johan langsung menyadari
sesuatu. “Kau baca laporan keuangannya, kak Michaelis!?”
“Ng? Aku selalu baca laporan
keuangan perusahaan besar, kok” jawab Michaelis.
“Kalau begitu, kau punya
laporan keuangan perusahaan Angie!?”
“Ada di tabletku dan masih
disimpan. Mau lihat?”
“Iya!”
Michaelis langsung
menyambungkan tabletnya ke infokus, dan menyalakan LCD yang ada persis di
depannya. Kemudian ia membuka beberapa folder dan membuka dokumen yang diminta
Johan.
“Ini laporan keuangan terakhir
yang dibuat oleh Sandoras Farm Corp. dua tahun yang lalu. Aku sudah baca semua
catatan laporan keuangannya, jadi akan kujelaskan di bagian yang penting” jelas
Michaelis.
Ia pun menjelaskan di beberapa
bagian seperti kewajiban yang ada di neraca, hutang-hutang yang telah
dibayarkan ke beberapa perusahaan, jumlah saham dan obligasi yang telah
beredar, harga saham di beberapa titik, laba yang didapatkan, serta penggunaan
laba tersebut. Ia juga menjelaskan beberapa hal lain diluar laporan yang ia
ketahui berdasarkan isu-isu yang sudah valid.
“Dan yang lebih aneh lagi,
perusahaan ini tidak membuat laporan keuangan pada saat dilikuidasi. Bahkan
para investor sendiri kebingungan dengan kelanjutan usahanya, tapi mereka tetap
mendapatkan laba. Setelah hari likuidasi itu, perusahaan merumahkan para
karyawannya dan memberi pesangon yang tinggi, kemudian tidak beroperasi lagi”
Michaelis mengakhiri penjelasannya.
“Kurasa bukan tidak membuat laporan, tapi
membuatnya untuk kepentingan internal saja” Patricia memberi opini.
“Aku juga berpikir begitu. Aku
bahkan sudah mengecek ke hacker yang bisa meretas informasi perusahaan hingga
ke tingkat tinggi, namun hasilnya nihil” jelas Michaelis.
“Dua tahun lalu, ya... kalau
diingat-ingat, waktu itu kantor firma hukum-ku banyak menerima penuntutan dari
perusahaan itu. Mereka merasa tertipu, padahal investor sudah menerima kembali
modal di hari likuidasinya” Aldias mengingat-ingat.
“Bagaimana bisa perusahaan
mengembalikan modal mereka, padahal perusahaan sendiri sudah bangkrut?” tanya
Patricia tidak mengerti.
“Jawaban yang paling mungkin
adalah, perusahaan bukan bangkrut, tapi sengaja dihentikan” ujar Michaelis
memberi opini. Semuanya terkejut.
“Tapi, apa tujuannya
menghentikan perusahaan?” tanya Patricia sambil berpikir.
“Mungkin karena tujuan
perusahaan itu sendiri sudah terpenuhi, makanya dihentikan. Yang jadi masalah,
kenapa gangster tetap menagih hutang pada Angelica walaupun seharusnya itu
sudah bukan tanggung jawabnya? Obligasinya sudah dijual, kan?” jawab Aldias
sambil kembali bertanya.
Mereka berpikir keras, kecuali
Angelica—yang sejak tadi hanya diam mendengarkan—hanya melihat sekelilingnya.
Pada akhirnya, pandangannya
terpaku pada Johan, yang sejak tadi menggigit bibir dan mengerutkan dahinya
dengan badan bergetar. Ia geram. Tentu saja. Karena hanya ia dan Johan yang
tahu keadaan sebenarnya.
“Biasanya, yang berhubungan dengan
gangster itu... penjudi, kan?” tebak Patricia.
Aldias menghela nafas.
“Patrice, kau harus banyak belajar tentang dunia nyata...”
“Apa maksudnya, kak Aldias?”
“Bukan hanya penjudi dan
rentenir. Sekarang ini banyak penjabat tinggi yang memanfaatkan gangster
sebagai alat untuk menagih hutang mereka ke pejabat lainnya. Karena dengan cara
halus tidak cukup, cara kekerasan jadi kuncinya” jelas Aldias.
“Kau tahu itu, tapi kenapa kau
tidak bisa menghentikannya?”
Semua terkejut dengan
pertanyaan Johan yang tidak terduga. Johan menatap mata Aldias dengan tajam.
Jika mungkin, ia bisa saja memukul Aldias. Tahu kemungkinan itu, Angelica
menahannya dengan kedua tangannya.
Sementara Aldias sendiri
menatapnya balik tanpa ekspresi, dan perlahan berubah sedih. Ia bangkit dari
tempat duduknya dan berjalan ke jendela yang ada di belakang meja Johan.
“Itulah kenapa aku ragu menjadi
pengacara, Johan...”
“Kak Aldias...” panggil
Angelica pelan.
“Sadarkah kau? Uang sudah
menjadi Tuhan kedua bagi kita. ‘Uang adalah segalanya, tapi segalanya butuh
uang’. Sejujurnya aku benci kalimat itu...
“Sebagai pengacara, aku memang
mengumpulkan berbagai bukti untuk memenangkan sidang di pengadilan untuk
klienku. Tapi yang lebih menyedihkan bagiku adalah, aku tetap harus membela
klien yang sudah jelas-jelas salah di mata saksi maupun publik. Dan kau tahu
apa yang kuterima jika aku kalah? Memang, banyak yang menerima, tapi tidak
sedikit yang memberontak. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan uang banyak
demi menghapus nama buruk mereka, tanpa mereka sadari banyak yang terluka
olehnya. Bahkan baru-baru ini ada klien yang mengancam untuk mencemarkan nama
baik firma hukum keluargaku hingga menghancurkan seisi kantor karena kalah di
persidangan...
“Lalu orang sepertiku, bisa
apa? Hati mereka tahu kebenarannya, namun langsung tertutup karena uang. Siapa
yang bisa bertanggung jawab akan hal itu!?!”
Aldias berteriak sambil meninju
kaca jendela hingga pecah. Angelica dan Patricia berlindung karena takut.
Michaelis hanya bisa menunduk, dan Johan sudah sedikit mengendurkan bahunya
tanpa berpaling sedikitpun. Angelica berpaling ke Aldias. Tiba-tiba ia
menyadari sesuatu, bahwa selama ini Aldias tidak pernah marah, dan baru kali
ini ia melihatnya mengutarakan perasaannya yang sebenarnya. Ia merasa kasihan,
sekaligus sedih melihatnya.
“Aku pulang sekarang. Tugasku
akan kukirim saat sudah selesai”
Johan tak menjawab. Aldias
bergegas merapikan mejanya dan keluar dari ruangan. Mereka berempat masih tidak
bergeming. Menyadarinya, Angelica bergegas keluar mengejarnya...
“Kak Aldias!! Kak Aldias
Howard!!”
Angelica mengejarnya dan
berhasil menghentikannya di depan gerbang sekolah. Aldias berpaling padanya
yang kemudian berhenti dan menunggunya mengatur nafasnya kembali normal.
“Eh, begini... maafkan aku!!”
Angelica menunduk.
“Hah?” Aldias heran.
“Dan juga maafkan kak Johan.
Belakangan ini, ia sangat sensitif dengan masalahku. Aku yakin, ia tidak
bermaksud membuatmu kesal, karenanya...!”
“Sudahlah”
Angelica berhenti. Kaget.
Aldias kemudian tersenyum, menghampirinya dan mengelus kepalanya.
“Maaf, aku suka lupa diri kalau
menyangkut gangster, padahal kita sedang membicarakan solusi masalah
keluargamu. Aku terbawa perasaan...” pinta Aldias dengan pandangan sedih.
“Kak Aldias...” panggil
Angelica pelan.
“Aku juga akan bantu untuk
mencari kebenaran dua tahun lalu. Maaf, aku hanya akan bilang satu kali. Tapi
untuk sisa hari ini, tolong biarkan aku sendiri. Aku sangat kacau sekarang”
pinta Aldias lagi.
Angelica mengangguk perlahan.
Aldias tersenyum, dan kembali berjalan pulang...
Sore hari, Angelica dan Johan
masih berada di ruang Dewan Siswa, berada di mejanya masing-masing. Karena
suasana menjadi tidak nyaman, akhirnya kegiatan hari itu dihentikan. Patricia
dan Michaelis pamit tanpa membahas apapun. Bel tanda jam lima terdengar cukup
keras. Angelica segera membereskan meja dan kertas-kertas hasil pekerjaannya.
“Aku antar kau sampai cafe-nya
Harry. Kau kerja part-time, kan?”
Angelica terkejut mendengar
Johan bicara tiba-tiba. Memang sejak Aldias pulang, ia belum bicara sepatah kata
pun.
“Kau yakin?”
“Tidak apa-apa”
Johan keluar dari pintu tanpa
bicara lagi. Angelica hanya mengikutinya...
“Ada apa dengan kak Johan? Dia
jadi aneh begitu”
Harry yang sedang mengawasi
meja kasir seperti biasa, bertanya pada Angelica yang sedang berdiri di
sebelahnya mengawasi pelanggan. Johan sedang duduk di meja paling pojok dengan
espresso dan orange shortcake yang terletak begitu saja. Sementara ia sendiri
sibuk memainkan laptopnya.
“Tadi ada kejadian tidak enak
di Dewan Siswa, makanya mood-nya sedang jelek sekarang. Padahal seharusnya
tidak perlu sampai seperti itu” jelas Angelica sambil tersenyum. Lebih
tepatnya, pura-pura tersenyum.
“Hmm...” Harry menanggapi
sambil melihat Johan dari jauh. Kemudian ia mengutarakan pikirannya.
“Baiklah. Angelica, kau boleh
pulang cepat hari ini” perintah Harry.
“Eh, tapi... ini masih satu jam
sebelum tutup, kan...?” tanya Angelica bingung.
“Nggak masalah. Toh hari ini
pelanggannya tidak banyak. Aku dan pelayan lainnya masih bisa handle, kok”
jelas Harry. “Nah, sudah sana. Jangan melanggar jam malam asrama, lho!”
Harry mengatakannya sambil
mendorong punggungnya dengan pelan, dan tersenyum sambil memberi wink padanya.
Angelica terkejut dengan hal itu, namun ia tetap membalasnya dengan
senyumannya. Jelas hal itu karena ia menyuruhnya untuk membuat Johan kembali
bersemangat...
Angelica berjalan di depan
Johan dengan selisih tiga langkah tanpa suara. Ia hanya tersenyum sambil
bersenandung pelan, sambil memainkan HP dan mengawasi langkahnya sendiri. Johan
yang melihatnya dari belakang menatapnya dengan pandangan tidak mengerti.
‘Kenapa dia bisa sesantai itu,
sih!? Apa dia lupa apa yang terjadi tadi?’ gerutunya dalam hati.
Dan Johan pun sadar kemudian,
jalan yang mereka lalui bukan jalan menuju kembali ke sekolah, tapi entah
kemana selain Angelica yang tahu sendiri. Karena malas bicara, ia hanya
mengikutinya tanpa mau protes. Sampai akhirnya, mereka tiba di tujuan.
“Sampaaaii!!” teriak Angelica
senang.
Johan membelalakkan mata. Ia
ingat betul tempat ini hingga membuatnya rindu dan hampir mengeluarkan airmata.
Ya, ini adalah bukit yang
berada tidak jauh dari danau, tempat yang pernah mereka datangi bersama Russell
dan yang lainnya, saat tahun lalu. Ia masih ingat dirinya dan Angelica
bertengkar sepulangnya dari karaoke karena kalah skor dari tim Sylvie dan
Russell saat adu nyanyi. Terasa lama, tapi juga singkat baginya.
“Kukira kalau kesini, kau akan
lebih baik” ujar Angelica, sambil memberi saputangannya. Johan mengambilnya
perlahan dan menghapus airmatanya sendiri. Kemudian, Angelica tertawa.
“Haha, ini pertama kalinya aku
melihatmu menangis!” ledeknya. Johan langsung memalingkan muka begitu sadar
bahwa ia diledeki seperti itu.
Angelica kembali mengubah raut
wajahnya, kemudian membalikkan badannya dan melihat ke laut.
“Kumohon, Johan... jangan
berwajah seperti itu... karena jika kau begitu, aku merasa telah kamu
kasihani... aku sedih, lho...”
Johan terpana mendengar
kalimatnya. Benar, dulu dia pernah mengalami hal yang sama beratnya dengan yang
Angelica hadapi saat ini. Saat itu, ia benci pada orang-orang yang menatapnya
sama seperti ia menatap Angelica sekarang. Ia memejamkan matanya, dan....
GREB!
“Jo... Johan?”
Angelica terkejut, karena
tiba-tiba Johan memeluknya dari belakang dan membuat jantungnya berdebar keras
sekaligus wajahnya merah karena kaget. Ia berusaha melepaskan diri, tapi ia
malah memeluknya semakin erat.
“Aku... akan melindungimu...
siapapun lawannya, sekalipun temanku sendiri... aku takkan biarkan kau
dibunuh... karena, kau kira siapa aku ini...?”
Angelica terkejut mendengar
kata-kata Johan di akhir kalimatnya. Ia mendongak, melihat Johan yang tersenyum
sambil tersipu merah. Walau ia tak ingin tertawa, tapi akhirnya rasa yang
tertahan itu meledak juga. Ia tertawa terbahak-bahak meski candaannya tidak
terlalu lucu. Mungkin ia senang karena akhirnya Johan bicara lagi setelah
sekian jam tak bersuara.
“Ke, kenapa tertawa sekeras
itu, sih!? Me, memangnya segitu lucunya, ya!?” teriak Johan berusaha menahan
malu. Namun, melihatnya tertawa begitu bahagia, ia merasa lega. Walau dia
sendiri jelas tahu bagaimana perasaannya sekarang yang tidak karuan, tapi tetap
berusaha membuatnya tidak khawatir. Dan ia sangat berterima kasih padanya.
“Ah, sudah mau bicara lagi,
nih?” ledek Angelica sambil menghapus airmatanya sendiri, yang keluar setelah
tertawa.
Johan mengangguk. “Aku
benar-benar berlebihan, ya”
“Sepertinya kau selalu
berlebihan kalau hal yang berhubungan dengan aku”
“Ng... tidak juga, sih...”
Johan melihat ke arah lain, malu-malu.
“Besok... minta maaf sama kak
Aldias, ya!”
“... ya... kau sendiri?”
“Ng?”
“Kau... tidak merasa kesal
belum menemukan petunjuk sama sekali...?”
Angelica terdiam. Hanya sesaat,
kemudian ia tersenyum dan menggeleng.
“Aku tidak terlalu merasa
buru-buru, kok. Aku memang ingin segera bertemu Ayahku agar semuanya jelas,
tapi... untuk sekarang, yang terpenting adalah kau dan teman-teman di
Escoriale...”
“Maksudmu...?”
“Ah, ada mesin minuman. Mau
minum sesuatu...?”
“... jus jeruk”
“Oke!”
Angelica berjalan ke mesin
penjual minuman otomatis dan melanjutkan kalimat yang ditanya Johan sambil
membeli minumannya.
“... Sejujurnya, selama aku
tidak sekolah setahun lalu aku benar-benar tertekan, dan nyaris tak punya
harapan. Terlebih lagi teman-temanku semasa SMP selalu mengejek dan itu semakin
membuatku terpengaruh... Kupikir mungkin aku akan selamanya seperti itu. Aku
merasa tak ingin lagi bertemu dengan Ayahku, meski aku tahu ini bukan salahnya,
tapi keadaan itu membuatku ingin menyalahkannya... Harapanku muncul saat
sekolah kita memberiku kesempatan kembali untuk mengikuti ujian masuk. Saat itu
juga aku bertekad untuk membangun kembali perusahaan keluargaku. Dan saat
Ayahku kembali, aku ingin membuktikan bahwa... Angelica yang sekarang, bukan
lagi Angelica yang tak tahu apa-apa seperti dulu. Aku ingin bisa... berjuang
sendiri dengan kemampuanku...!!”
Johan terkejut mendengar
kalimat tekad itu darinya. Ia menunduk dan tersenyum, lalu memeluk Angelica
lagi, lebih erat. Tanpa bicara apapun, Angelica menundukkan kepalanya,
menenggelamkan diri dalam pelukannya. Sampai akhirnya, ia menangis. Tangisan
yang selama ini dipendam hingga tak pernah ia rasakan lagi, kini keluar
seutuhnya dalam pelukan hangatnya...
Keesokan harinya, Aldias
kembali ke Dewan Siswa seolah kemarin tidak terjadi apa-apa. Ia datang dengan
semangat menyambut kegiatan sekolah hari itu. Tak lupa Johan meminta maaf
padanya, namun ia biasa saja dan menganggap itu adalah pertengkaran biasa.
Sayangnya, Aldias sendiri belum menemukan petunjuk atas laporan klien-kliennya
yang berkaitan dengan masalah perusahaan keluarga Sandoras. Ia butuh waktu
untuk menemukannya, karena saat itu bukan dia yang menanganinya. Angelica
memahaminya dan tidak memaksakan Aldias.
Seminggu berlalu sejak
berakhirnya ujian akhir semester. Tiba hari dimana pembagian rapor dan upacara
penutupan semester diadakan. Dan kelas 1-A mendapat pengumuman mengejutkan.
“Angelica Steva Fiammatta
Sandoras, selamat. Kau akan langsung naik ke kelas tiga!!”
Angelica berdiri mematung di
depan podium kelas, saking terkejutnya. Tangannya yang sudah menerima rapor itu
tak turun juga setelah mendengar pernyataan itu dari wali kelasnya. Teman-teman
sekelas yang mendengarnya langsung berseru riuh.
“Sandoras, selamat yaa!!”
“Sudah kuduga kaulah yang bakal
loncat kelas tahun ini!!”
“Huaaa~ Sandoras jadi murid
kelas tigaaa~~”
Mendengar berbagai pujian itu,
Angelica langsung berbalik badan dan menatap teman-temannya. Ia sangat terharu
dan bahagia. Dengan kondisi itu, Angelica membungkuk di hadapan mereka sebagai
tanda terima kasih karena telah menerima dirinya dan kondisi keluarganya selama
setahun ini. Mulai musim panas nanti, ia akan duduk di kelas tiga.
Di upacara penutupan semester
hari itu berlangsung dengan lancar. Tak lupa Dewan Perguruan Siswa menyampaikan
beberapa pengumuman terkait peraturan dan agenda sekolah, serta beberapa
perlombaan dan olimpiade selama tahun ajaran berikutnya sebagai persiapan bagi
para siswa.
“Huaaa~ kita bakal berada di
tahun yang berbeda, ya, Angelicaa~” keluh Sylvie.
“Selamat, kau duduk di kelas
tiga” ujar Harry.
“Jangan sombong dengan kami,
ya! Kapan-kapan, aku masih boleh minta diajari pelajaran lagi, kan?” celetuk
Hans.
“Haha, tentu saja. Kita
sering-sering kumpul lagi, ya! Oh iya, Sylvie pulang ke Newcastle besok setelah
upacara kelulusan, kan?” tanya Angelica pada Sylvie.
“Iya! Yang lainnya, mau ikut?
Akan kuajak ke rumah musim panas keluargaku!” seru Sylvie sambil bertanya pada
yang lain.
“Waah, ide bagus! Kebetulan
kita tidak ada PR selama libur ini, kan!” sahut Hans semangat.
“Aku akan pulang ke Norwich
besok juga, sih. Nanti aku susul saja setelah harinya sudah ditentukan!” lanjut
Harry yang juga sudah lama menanti liburan kali ini.
“Angelica, ajak kak Johan dan
kak Russell juga, ya!” seru Sylvie.
“Baiklah. Nanti kubicarakan
pada mereka” jawab Angelica.
“Angie, sudah waktunya, nih!”
panggil Johan dari kejauhan.
“Baiik!! Ah, sudah dulu, ya!”
sapa Angelica.
“Hee, mau kencan, ya!?” ledek
Harry.
“Mana mungkin! Kami mau
melakukan persiapan untuk upacara kelulusan para senior besok!” cegah Angelica.
“Hahaha, bercanda, kok! Sampai
besok!” sapa Harry sambil melambaikan tangannya, diikuti Sylvie dan Hans...
“Rumah musim panas Sylvie!? Aku
ikut!!” seru Johan saat Angelica menyampaikan niat mereka.
“Baiklah, kau email Sylvie
saja. Ajak kak Russell juga, ya!” seru Angelica.
“Kenapa kau tidak email dia
sendiri?” tanya Johan bingung.
“Uugh~ kau tahu sendiri, kan,
ia seperti sedang menjauhiku sekarang~” Angelica bersungut sendiri.
“Yaah, dia sedang sibuk ba...”
SET! Tiba-tiba Russell lewat
dihadapan mereka. Sama-sama terkejut, mereka saling bertatapan tanpa kata dalam
beberapa detik.
“Angelica, Johan. Lama tidak
bertemu” sapa Russell sambil tersenyum ramah.
“Ka... kak Russell! Lama sekali
tidak bertemu! Kau sibuk sekali, ya!? Emailku bahkan sampai tidak dibalas!”
balas Angelica sambil memasang wajah khawatir.
“Email? Aah, maaf. Email di
HP-ku sudah dua bulan ini di-hack orang. Aku juga sedang meminta mahasiswa IT
di Dewan Perguruan Siswa untuk memperbaikinya. Untuk sementara, ini emailku.
Nanti kukabari lagi jika emailku sudah benar” jelas Russell, sambil mengirimkan
pesan pada Johan dan Angelica dari tablet sekolah yang sedang dipegangnya.
“Ya, ampun. Hal seperti ini
saja kau tidak bilang padaku. Menyebalkan, tahu” gerutu Johan kesal.
“Maafkan aku, Johan. Aku sangat
sibuk satu semester ini bahkan sampai tidak masuk sekolah selama sebulan
gara-gara urusan perusahaan, dan lagi aku tidak pernah bawa HP ke sekolah
selama ini. Makanya aku baru tahu emailku di-hack minggu lalu” jelas Russell
lagi.
“Ah, benar juga. Bulan lalu kau
tidak masuk sekolah sama sekali, ya” Johan mengingat-ingat.
“Yaah, tapi aku tetap setor
muka ke Dewan Perguruan Siswa, sih. Oh ya, Angelica” Russell beralih kepada
Angelica.
“Ah, eh!?” sahut Angelica
gugup, karena sejak tadi memerhatikan yang lain.
“Selamat ya, kau naik ke kelas tiga.
Tahun ajaran baru nanti, mohon bantuannya!” ujar Russell sambil mengajukan
tangannya.
“Hehe, iya. Terima kasih, kak
Russell!” Angelica menyambut tangannya dan menyalaminya dengan bahagia.
“Hahaha, aku sudah bukan
seniormu lagi, lho. Kita jadi satu angkatan sekarang, jadi panggil Russell
saja”
“Ah, benar juga. Tapi, sampai
kapanpun aku menghormatimu, kak Russell!” seru Angelica sambil mengerutkan
alisnya.
“Hahaha, dasar! Terima kasih,
ya!” seru Russell sambil mengelus kepalanya. “Ngomong-ngomong, kalian mau
kembali ke Dewan Siswa?” lanjutnya bertanya.
“Ah, ya. Johan bilang masih ada
yang perlu diurus untuk upacara kelulusan besok” jelas Angelica.
“Masih ada yang diurus?” tanya
Russell bingung. Ia melihat ke arah Johan yang berdiri beberapa langkah di belakang
Angelica, memberi isyarat dengan menaruh jari telunjuknya di depan bibirnya
sambil berkedip sebelah mata. Russell langsung memahaminya.
“Baiklah, kalau begitu sampai
besok” sapa Russell.
“Iya, sampai besok, kak
Russell!” sapa Angelica sambil berlalu dengan Johan. Sedetik kemudian tabletnya
memberi notifikasi email dari Johan. Ia membukanya, membacanya sambil
tersenyum.
Ia melihat ke arah Angelica dan
Johan lagi. Angelica yang menyadarinya langsung melambaikan tangannya. Russell
membalasnya dengan senyuman sedih. Lalu bergumam pelan.
“Maaf, ya... Angelica...”
Sampai di ruang Dewan Siswa,
“Lho? Tidak ada siapa-siapa?”
Angelica heran. Ia melihat ke arah Johan yang sedang menutup pintu.
“Ng? Memang mulai hari ini
sudah tidak ada kegiatan, kok” jelas Johan.
“Hah? Kau bilang ada yang perlu
diurus buat upacara kelulusan besok!”
“Semuanya sudah diurus
Preminger, tuh. Dia yang mengajukan diri, sih”
“Terus, ngapain kita disini?”
perasaan Angelica mulai tidak enak.
“Soalnya, ini disimpan disini!”
SREK! Johan mengambil sesuatu
dari balik mejanya, yang ternyata adalah karangan bunga yang kemudian diberikan
pada Angelica. Ia sangat terkejut dengan pemberiannya.
“Eh...?” Angelica tak bisa
berkata-kata.
“Yaah, walau aku kesal
didahului teman-temanmu dan Russell, aku ingin mengucapkannya dengan lebih
pantas” jelas Johan. “Angie, selamat atas kenaikanmu ke kelas tiga! Mulai tahun
ajaran baru nanti, mohon bantuannya!”
Angelica langsung melompat
memeluknya tanpa pikir panjang. Johan yang awalnya terkejut, menyambutnya dan
mendekapnya sambil mengelus rambutnya.
“Huhuu~ aku tidak menyangka
sama sekali aku bisa lompat kelas, lhoo~” ujar Angelica sesenggukan.
“Lho, kok nangis? Kan tidak ada
yang perlu ditangisi”
“Hiks~ biar saja. Aku hanya
bisa menangis saat ada kau, tahu!”
“Haha, iya deh, iya. Tapi
terima bunganya, dong!”
“Hiks~ iya, deh...”
“Hahaha, kau lucu sekali deh
kalau menangis!”
“Kenapa malah meledek, sih!
Menyebalkan, tahu!”
Hari ini adalah hari terakhir
sekolah mereka. Dan besok adalah upacara kelulusan para senior kelas tiga.
Liburan musim panas yang akan mereka lewati sebentar lagi, dan tahun ajaran
baru yang akan dimulai sebulan setelahnya. Dan ini akan menjadi liburan
mengejutkan, sekaligus yang akan membuat hari-hari berduka yang seakan tak
kunjung berakhir, tiba di dalam hati mereka masing-masing...
0 comment:
Posting Komentar