U
|
pacara kelulusan Perguruan
Afiliasi Universitas Escoriale berlangsung dengan mewah, namun juga berjalan
lancar. Aldias sebagai perwakilan siswa yang lulus menyampaikan pidatonya
dengan tenang, namun dapat membawa semangat dan tekad untuk para juniornya.
Setelah upacara, Angelica, Johan dan Patricia menggiring Aldias dan Michaelis
ke ruang Dewan Siswa dan menggelar pesta kelulusan untuk mereka yang sudah disusun
secara diam-diam.
“Selamat atas kelulusannya!!”
pinta mereka bertiga bersamaan. Cracker pun diletuskan dan mereka berdua begitu
takjub melihat ruangan yang sudah disulap menjadi tempat pesta meski hanya
kecil-kecilan. Aldias dan Michaelis terkejut bersamaan, namun mereka langsung berterima
kasih dan menyambut pesta itu dengan senang.
“Huaaa~~ rasanya setahun ini
sangat lama, namun juga sangat singkat, ya!” Patricia memberi opini sambil
menghapus airmatanya yang keluar sedikit karena terharu.
“Hahaha, tahun ini kita sibuk
sekali, sih, ya” jawab Aldias.
“Yoosh, karena ini pesta kalian
berdua, silakan makan semua yang ada di sini sepuasnya!!” seru Johan dengan
semangat.
“Waah, terima kasih banget, ya!
Huhuhu~ aku pasti bakal merindukan kalian! Terutama, My Little Angeeell~~!!”
teriak Michaelis sambil pura-pura menangis dan memeluk Angelica.
“Ahahaha, kak Michaelis ini~”
Angelica pasrah, dan Johan yang meski bersungut-sungut sendiri di mejanya, ia
tetap tertawa melihat tingkahnya.
Setelah beberapa saat, mereka
pun menyantap hidangan yang ada di meja dan saling mengobrol.
“Hee, kak Aldias akan kuliah
hukum di Oxford, dan kak Michaelis belajar desain dan bisnis di Paris?” seru
Angelica takjub.
“Benar. Kita masih bisa
sering-sering ketemu, kok” ujar Aldias.
“Tapi aku bakal jauh dari My
Little Angel. Hei, Johan! Takkan kumaafkan jika kau sampai buat My Little Angel
menangis!” seru Michaelis.
“Iya iya!” jawab Johan malas.
“Tapi, kau seharusnya memberi
kami gaji yang lebih pantas, nih, Johan. Kita lembur setengah tahun demi kau,
lho!” ujar Aldias bercanda.
“Lembur... maksudnya?” tanya
Angelica tidak mengerti.
“Kak Aldias dan Kak Michaelis
seharusnya sudah pensiun sejak akhir semester lalu. Tapi Johan belum bisa
menemukan pengganti yang tepat untuk mereka, sampai akhirnya mereka berdua ini
benar-benar lulus” jelas Patricia sambil meminum tehnya.
“Ooh, begitu, ya. Tapi... meski
tidak sesuai, kami sudah memberikan gaji yang lebih pantas, kok! Ini,
silahkan!”
Angelica menaruh dua buah kotak
berukuran sedang untuk mereka berdua. Aldias dan Michaelis saling bertatapan
dengan bingung.
“Ini cinderamata dari kami
bertiga. Semoga dengan keberadaan benda ini, bisa mengingatkan bahwa kalian
pernah berada di sini sebelumnya” pesan Patricia.
Aldias dan Michaelis menatap
mereka bertiga satu persatu. Angelica, Patricia dan Johan pun tersenyum pada
mereka dengan bangga. Mereka begitu terharu dan menunjukkan rasa terima kasih
yang tulus. Meski begitu, ada rasa sedih yang terpancar dari mata mereka karena
harus berpisah dan melanjutkan pendidikan mereka. Tapi mereka juga menyadari
bahwa perpisahan ini bukanlah akhir dari segalanya.
Di akhir acara, para anggota
Dewan Siswa pun melakukan ‘upacara kelulusan’ untuk Aldias dan Michaelis. Johan
pun memberi pernyataan resminya.
“Aku, Johan Robin Harcourt
Sabrishion, ketua Dewan Siswa SMA Escoriale periode ini, menyatakan bahwa
Aldias Howard dan Michaelis Addison telah menyelesaikan tugasnya sebagai Bendahara
dan Koordinator Umum selama tiga tahun masa pengabdiannya. Jasa kalian tidak
akan pernah kami lupakan dan semoga di jenjang pendidikan kalian selanjutnya,
apa yang telah kalian tuai selama ini bisa menjadi benih untuk karir masa depan!”
Johan memasangkan pin lambang
sekolah mereka yang berwarna emas sebagai kenang-kenangan di dada mereka, yang
juga semacam hadiah wajib bagi mereka yang telah menyelesaikan karir mereka di
organisasi sekolah. Angelica dan Patricia bertepuk tangan. Dengan ini, Aldias
dan Michaelis resmi pensiun dari Dewan Siswa...
“Yo! Pestanya sudah selesai?”
tanya Russell yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.
“Ah, kak Russell! Kami baru
saja selesai membereskan ruangan kami!” Angelica menyapa dan menghampiri
Russell.
“Kau juga, sudah selesai kan,
pestanya?” tanya Johan.
“Ah, ya! Grace dan Mark, bagian
keamanan-ku tahun ini lulus. Tapi kalau Mark hanya akan langsung loncat kelas
ke SMA, sih” jelas Russell.
“Ah, si Mark itu, ya. Aku
berencana menarik dia ke Dewan Siswa tahun ini” kata Johan dengan mata
berkilat-kilat.
“Sayangnya, dia akan naik ke
posisi Wakil Ketua Dewan Perguruan Siswa mulai tahun ajaran baru nanti!” jelas
Russell dengan mata tak kalah berkilat.
“Huaaa~ kau curang! Padahal aku
berencana untuk merekrutnya selama liburan nantiii~~!!” Johan berteriak sambil
pura-pura menangis.
“Eeh, kurasa tidak ada anggota
Dewan Perguruan Siswa yang mau turun jabatan ke Dewan Siswa sekolah, kan...”
jelas Patricia merasa iba.
“Kau ini, Johan... bukankah kau
sudah punya kandidat dari mantan Dewan Siswa SMP?” tanya Angelica mengingatkan.
“Sudah, sih. Tapii~ tidak ada
yang se-perfect dia” Johan memangku kepalanya sambil berpikir.
“Hoi hoi. Kalian mau
membicarakan ini di depan Preminger? Dia tidak boleh tahu soal calon anggota
baru, lho!” Russell mengingatkan.
“Ah, benar juga! Jangan-jangan,
Orlando kemari mau membicarakan itu, ya!? Baiklah, kalau begitu aku permisi duluan.
Biar aku yang bawa sampahnya, ya!” kata Patricia selaku buru-buru mengambil
tasnya dan mengambil plastik berisi sampah bekas pesta tadi.
“Hahaha, tenang saja,
Preminger! Aku tidak serius bilang begitu, kok!” Russell menenangkan.
“Baiklah, hati-hati, Preminger”
sapa Johan.
“Kak Patricia, sampai ketemu
lagi di tahun ajaran baru!” sapa Angelica sambil melambaikan tangan.
“Iya, sampai bertemu lagi! Oh,
ya, Angelica. Aku sudah bukan seniormu lagi, kan?” Patricia mengingatkan.
“Hmm... baiklah. Ini terakhir
kalinya, kak Patricia!”
Patricia tersenyum, ia membalas
lambaian tangan Angelica dan beranjak dari situ. Kini Angelica, Johan dan
Russell berada di satu ruangan. Mereka saling terdiam dan sibuk dengan
gadgetnya masing-masing. Lima menit kemudian, Russell tiba-tiba teringat
sesuatu.
“Oh iya!”
“He, kenapa kak Russell?” tanya
Angelica.
“Aku lupa. Aku kemari mau
memberimu ini” kata Russell, sambil mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
“Hmm, coba kita lihat. ‘Tiket
Kursus Awal Libur Musim Panas Selama 2 Minggu Penuh dari Universitas Oxford,
300 poundsterling’!?” teriak Angelica terkejut.
“Kau, dapat ini darimana!?”
tanya Johan terkejut, sambil menarik scarf Russell.
“Hah!? Aku sudah daftar sejak
tahun lalu!” jawab Russell.
“Iya, tapi kenapa kau berikan
ke Angie!? Aku kan juga mau ikut!” teriak Johan sewot.
“Kau tidak bakal bisa ikut
selama libur, makanya kuberikan pada Angie!” jawab Russell tak kalah sewot.
“Heei, sudah hentikaan!”
Angelica melerai mereka berdua. “Tapi... bukannya kak Russell ingin ikut
makanya mendaftar?” lanjutnya bertanya pada Russell.
“Ah, ya. Aku memang berencana
ikut, tapi... karena kita bakal menghabiskan seminggu liburan di rumah musim
panas Sylvie, aku harus mengejar dan menyelesaikan pekerjaanku yang masih
menumpuk di kantor. Karenanya, aku lebih memilih mengorbankan kursus ini
daripada mengorbankan liburan!” jelas Russell penuh semangat.
“Ah... begitu, ya... maklum,
sih, kalian jarang dapat libur...” Angelica beropini.
“Sejujurnya, aku benar-benar
lupa sudah membeli tiket kursus itu dan baru mengingatnya saat sampai dirumah
kemarin. Tapi karena sudah jadi seperti ini, daripada sia-sia, lebih baik
kuberikan padamu. Johan juga, walaupun ingin ikut, aku yakin dia juga bakal
sama sibuknya sepertiku di kantor selama liburan. Toh setiap tahun selalu
begini” jelas Russell lagi sambil mengangkat bahunya.
“Hooh...” Angelica terlihat
sangat senang sambil melihat tiket itu dengan wajah tak sabar. Russell dan
Johan saling bertatapan, kemudian mereka tersenyum.
“Nah, kalau kau memang mau,
ambil saja!” kata Russell.
“Hee!? Ta, tapi kan tiketnya
semahal ini!” Angelica gugup.
“Tenang saja, tenang! Anggap
saja itu hadiah terakhir dariku!” jelas Russell.
“Ah, eeh...” Angelica sedikit
gugup. “Bagaimana, Johan?”
“Hah? Kenapa bertanya padaku?”
tanya Johan bingung. “Kalau kau memang ingin ikut, aku tidak akan melarang
selama kau tidak memaksakan diri. Lagipula, kali ini kita tidak ada PR selama
liburan, jadi bagus juga buat mengisi waktumu yang mungkin sebagian besar hanya
diisi part-time. Memangnya kau mau kerja seharian?” lanjutnya menjelaskan.
Angelica yang ragu, kemudian
melihat tiketnya lagi. Tak lama, sampai akhirnya meyakinkan diri.
“Baiklah, aku ikut!!!”
teriaknya semangat...
Kemudian, mereka semua
menjalani liburannya masing-masing. Sylvie dan Harry pulang ke kota tempat
tinggalnya masing-masing, begitu juga para penghuni asrama lainnya. Johan dan
Russell bakal sulit ditemui karena tugas mereka sebagai pewaris tentu akan
lebih menyita waktunya dibanding hari-hari saat sekolah, namun mereka semua
tetap menyempatkan diri untuk chatting lewat media sosial sekaligus
merencanakan apa yang akan mereka lakukan selama di rumah musim panas Sylvie.
Hans juga kembali ke Berlin untuk mengurus toko permata yang diwariskan padanya,
dan ia janji akan pulang sehari sebelum liburan mereka.
Sementara Angelica melalui
hari-harinya dan banyak menghabiskan waktunya di kursus kilat dari tiket yang
diberikan Russell, dimana waktu kursusnya adalah enam jam sehari. Tak lupa serta
ia kerja part-time di tempat Harry karena kali ini ia menggantikannya di bagian
kasir selama ia pulang. Malam harinya ia tetap menyempatkan diri membuat
catatan hafalan dan melakukan hal-hal lain yang disukainya. Meski sedikit
melelahkan, namun mereka semua melaluinya dengan baik, giat, dan menyenangkan
dalam arti masing-masing...
Tak terasa sudah seminggu
berlalu. Hari ini kursus Angelica hanya sampai siang, dan ia memutuskan
mengambil part-time tiga jam langsung setelah selesai kursus. Setelah meminjam
beberapa buku di perpustakaan pusat di kota, ia kembali ke asrama.
“Selamat sore, Madam” sapa
Angelica ramah pada Ibu Asrama, yang kebetulan sedang berada di pintu masuk,
dimana disana ada sebuah meja besar yang diatasnya diletakkan tablet dan
semacam absensi berbentuk mesin EDC, dimana tamu harus menuliskan namanya di
tablet itu dan menggesek kartu siswa atau kartu tamu yang didapat saat memasuki
area sekolah, juga dudukan telepon nirkabel.
“Ah, sore, Angelica. kebetulan
sekali, ada telepon untukmu” katanya sambil menyerahkan telepon yang kebetulan
sedang dipegangnya padanya.
“Telepon?” tanya Angelica
bingung.
“Iya. Dari Ibumu”
Angelica yang masih berdiri
membawa buku-buku pinjamannya, langsung terbelalak karena tidak percaya dengan
apa yang barusan Ibu asramanya katakan. Ia menerima teleponnya dengan sedikit
gemetar. Setelah ia pamit, ia buru-buru kembali ke kamarnya, meletakkan buku di
meja kotetsu-nya, dan duduk di bangku panjang yan ada di situ.
“... Ibu?” panggil Angelica
pelan.
“Ah, Angie. Lama tidak bertemu!
Kau baik-baik saja?”
Angelica masih tidak percaya.
Suara lembut yang didengarnya benar-benar suara Ibunya. Benar, saking sibuknya
selama setahun ini, ia nyaris tidak ada kesempatan untuk menghubunginya. Meski
ia dipinjamkan HP oleh Johan, ia bahkan hampir tidak pernah memakainya dan baru
benar-benar memakainya selama liburan ini. Ia jauh lebih sering memakai tablet
dari sekolah karena lebih praktis dan memang lebih banyak ia gunakan.
“Angie, kau ada disitu, kan?”
“Ah... iya, Bu. Maaf... aku
benar-benar terkejut Ibu meneleponku” katanya sambil menghapus air matanya yang
sempat keluar.
Sejenak, Angelica mendengar
Ibunya menghela nafas, dan mulai bicara.
“Ahaha benar juga. Kita sudah
setahun tidak saling berkabar, ya. Maaf, Ibu tidak sempat mengirimimu surat
selama ini. Sejak kamu ke London, pasien Ibu semakin bertambah. Bahkan beberapa
pasien lamaku yang tahu tempat tinggal kita sekarang pun rela datang jauh-jauh
kemari, jadi Ibu sangat sibuk. Dan karena kondisi keuangan sudah mencukupi, Ibu
memilih untuk memasang telepon rumah karena jaringannya sudah dipasang disini.
Ibu tahu nomor telepon sekolahmu dari amplop surat penerimaanmu yang tertinggal
di kamarmu. Jadi, Ibu coba menghubungimu” jelas sang Ibu, Lilica Sandoras,
panjang lebar.
“Ah, begitu, ya...” Angelica menanggapi,
dengan berusaha menahan airmatanya yang sudah mau keluar lagi. “Aku...
baik-baik saja disini, Bu... maaf, aku belum bisa kembali kesana...” lanjutnya
sambil menundukkan kepalanya.
“Ibu mengerti, Nak” jawab
Lilica lembut. “Berjuanglah, Ibu akan tetap mendukung apapun impianmu selama
kau tidak memaksakan diri” lanjutnya memberi pesan.
Airmata Angelica yang tertahan
akhirnya tumpah juga. Ia menangis sekeras-kerasnya sambil memeluk kedua kakinya
dan menundukkan kepalanya, dengan tangan satunya tetap memegang telepon.
Berbagai perasaan pun memenuhi dirinya. Senang, sedih, kecewa, bahagia, serta
perasaan tersembunyi yang selama ini ditahannya keluar seketika. Ia sangat
merindukannya, dan berharap bisa memeluknya sekarang juga...
Di tempat lain, Russell Orlando
sedang merasa bosan di depan laptopnya dan ini sudah keempat kalinya ia menguap
karena nyaris tidak tidur tiga hari terakhir. Ia hanya mendengarkan
sekretarisnya yang sedang menjelaskan jadwal kerjanya esok hari tanpa banyak
bertanya.
“Hooi~ aku sudah boleh pulang,
kaan? Aku ingin segera sampai di rumah dan langsung tidur tanpa banyak
memikirkan semua ini lagiii~~” gerutu Russell pada sekretarisnya itu.
“Ya ampun. Kau tidak berubah
juga ya, kalau sudah mengantuk” pinta sekretarisnya, yang ternyata adalah
mantan wakil ketuanya di Dewan Perguruan Siswa, Grace Anderson.
“Apa boleh buat. Kalau capek
kan tidak bisa banyak kerja. Aku juga sudah berusaha keras selama ini, jadi
tidak masalah, kan, aku istirahat di sisa hari ini?” tanya Russell.
“Baiklah, aku mengerti. Besok
akan kubawakan multivitamin dari produk farmasi keluargaku, dengan begitu kau
tidak akan lagi lunglai seperti hari ini” ujar Grace sambil membetulkan
kacamata frame hijau emerald-nya dengan elegan.
“Obat lagi? Astaga... entah
kenapa aku merasa sedikit menyesal karena bisa-bisanya kau jadi sekretarisku
meski kau sibuk jadi pewaris...” gerutu Russell lagi.
“Aku disini karena kau yang
meminta. Lagipula, aku baru resmi jadi pewaris mulai tahun depan, jadi aku akan
tetap memulai karir dengan caraku sendiri” tegas Grace sambil mengecek lagi
jadwal Russell.
Tiba-tiba, Russell mengambil
buku catatan jadwal yang dipegang Grace darinya. Ia mengambil korek dari laci
mejanya dan berjalan ke beranda. Lalu ia membakar buku itu. Grace yang terkejut
berusaha menyelamatkan buku itu, namun Russell menghalanginya.
“Apa yang kau lakukan,
Russell!? Aku tidak punya salinan jadwalmu, lho!” teriak Grace terkejut.
Russell tak kunjung berbalik.
Ia hanya menjawab pertanyaannya tanpa sedikitpun menoleh, maupun ragu...
“Terima kasih hingga hari ini,
Grace... jadwal itu... sudah tidak penting lagi...”
“Sudah tenang?”
Di asrama wanita, Lilica
bertanya seperti itu lewat telepon dengan suara lembut seperti biasa. Angelica
sendiri berusaha untuk menahan sesenggukannya dan menjawab pertanyaan Ibunya
seperti biasa.
“Ya. Maaf, Bu, tiba-tiba aku
seperti ini...” terang Angelica.
“Ahaha, kau memang anak Ibu!”
pinta Lilica riang. Mereka pun tertawa bersamaan.
“Ibu, banyak sekali yang ingin
kuceritakan padamu. Tapi sebelumnya, aku ingin tahu ada apa Ibu meneleponku?”
Angelica berusaha memulai topik.
“Ah, benar. Ibu juga ingin
bicara banyak padamu” Lilica pun mulai terdengar serius. Ia terdengar seperti
berganti posisi duduknya.
“Ya. Oh ya, Bu. Berapa sisa
hutang keluarga kita?” tanya Angelica memulai topik.
“Itulah yang ingin Ibu
bicarakan, Angie. Semua uang kita dikembalikan lagi”
Angelica terkejut. “Maksud
Ibu!?”
“Sebulan yang lalu, Polisi dan
orang dari Kementerian datang kesini. Mereka berkata bahwa rentenir yang selama
ini selalu datang menagih kita ternyata adalah suruhan dari keluarga lain.
Sayangnya mereka tidak mau bilang siapa ‘keluarga’ tersebut karena ini
menyangkut reputasi mereka dan Negara di mata dunia. Namun mereka sudah
menindak pelakunya dan... mereka bilang akan menghukum mati tersangka
beserta... pewarisnya” jelas Lilica terbata-bata di akhir kalimatnya.
“Menghukum... pewarisnya
juga!?” Angelica juga terkejut dengan pernyataannya.
“Benar. Mereka tidak peduli
sekalipun pewaris tersebut tidak ada hubungannya dengan kasus ini, namun ia
tetap dinyatakan bersalah karena pengendalian usaha keluarga yang lemah. Kau
tidak akan mendengar berita ini dimanapun karena ini adalah kasus rahasia yang
cukup besar yang tidak ingin melibatkan publik. Sudah lama sebenarnya aku
mendengar dari tunanganmu, Ethan Miller, bahwa keluarga itu punya niat untuk
membunuhmu sebagai pewaris. Mereka mengakui bahwa salah satu keluarga mereka
juga seorang Sandoras, dan akan melakukan apa saja demi mendapatkan harta
keluarga kita” jelas Lilica panjang lebar.
“Ya... aku juga mendengarnya
dari Hans Miller saat aku di Berlin...” jelas Angelica.
“Berlin? Kau pergi ke Berlin!?”
tanya Lilica terkejut.
“Nanti saja ceritanya, Bu. Apa
Ibu tahu keluarga yang dimaksud!? Sebenarnya, aku sempat bertemu Ethan di
Berlin, tapi... ia tetap tidak mau memberitahuku demi melindungiku...”
Angelica mengatakannya dengan
bingung. Badannya panas, ia berpikir keras namun tetap tidak menemukan jawaban
siapa sebenarnya keluarga yang berniat keji padanya itu.
“Maaf, Nak. Ibu benar-benar
tidak tahu. Hanya Ayahmu dan Ethan yang mengetahuinya”
“Kalau begitu kenapa Ayah
menghilang dan malah mencari Paman!? Kenapa perusahaan keluarga kita bangkrut!?
Aku benar-benar tidak mengerti!”
Lilica terdiam. Angelica juga
diam. Walau begitu mereka berusaha untuk tetap tegar dengan cara mereka
masing-masing. Lilica menarik nafas panjang, dan berusaha menjawab
pertanyaannya dengan tenang, dan merasa berat.
“Sebelumnya, Ibu benar-benar
minta maaf karena tak bisa menceritakan yang sebenarnya selama ini. Itu karena
Ayahmu selalu mencegah Ibu dan ingin membiarkan kamu melakukan apa yang ingin
kau lakukan. Ayah tak peduli walau kau tak mau menjadi pewaris, karena Ayah
jauh lebih ingin kau menemukan apa yang penting dan menjadi impian bagimu.
Kami... benar-benar minta maaf, Nak... sekarang, akan Ibu ceritakan segalanya
yang Ibu tahu...
“Tiga tahun yang lalu,
setahun sebelum perusahaan keluarga kita bangkrut, Anthony—ayahmu bermaksud
untuk membeli lahan di desa dekat kota tempat kita tinggal saat ini sebagai
aset perusahaan dan objek penelitian tanaman. Disaat yang sama, perusahaan
keluarga lain berniat membeli lahan itu dan bersedia membayar tiga kali lipat
dari harga yang disetujui dengan pemerintah. Awalnya Anthony bersedia menerima,
namun semakin lama tindakan mereka semakin keterlaluan. Anthony sudah lima kali
membeli tanah, namun saat akan dilakukan penelitian, tanah itu justru diakui
oleh perusahaan keluarga mereka, bahkan entah bagaimana mereka memiliki
surat-surat kepemilikannya. Anthony dan aku saling berdebat keras dengan mereka
hingga akhirnya mereka bertaruh dan membawa masalah ini ke persidangan. Dimana
yang kalah harus menutup usaha mereka.
“Di hari persidangan, kami
kalah karena surat-surat yang kami miliki ternyata adalah surat kepemilikan
palsu. Padahal Anthony sudah sangat yakin saat membeli tanah itu bahwa suratnya
adalah asli, dan saat itulah ia menyadari bahwa ada seseorang dari internal
perusahaan yang mencuri surat asli itu dan menukar surat yang dimiliki Anthony
dengan surat palsu.
“Kami berdua sudah berusaha
keras mencari pelakunya, dan kalap saat itu. Tiba-tiba Ethan, yang baru
dinyatakan sebagai pewaris keluarga Miller, datang dan berkata akan memberi
bantuan. Sebagai pengusaha permata, seharusnya penyabotasean itu
menguntungkannya. Tapi ia tentu tidak setuju dengan cara kotor perusahaan
keluarga itu mengambil alih aset perusahaan kita. Ia setuju membantu kami dan
memutuskan untuk pergi ke Belanda, dimana aset terbesar kami berada, dijalankan
dan membereskan semuanya disana” jelas Lilica panjang lebar.
“Jadi, Ethan ke Belanda bukan karena
melarikan diri?” tanya Angelica dengan ketidakyakinan memenuhi dirinya.
“Tidak” jawab Lilica. “Ayah
yang menyuruhnya pergi ke sana, dan memintanya untuk tidak mengatakan apapun
padamu soal kejadian ini. Ia juga meminta Ibu hal yang sama, karena Ayah,
Anthony, berjanji untuk menyelesaikan masalah ini meski ia butuh waktu lama.
Karenanya, bagi Ethan, mengatakan hal yang menyakitimu adalah satu-satunya
jalan agar kau tidak mencarinya. Meski ia sendiri telah terluka karena merasa
bersalah telah melukai dan meninggalkanmu dengan cara seperti ini” jelas
Lilica.
Wajah Angelica berubah sedih.
Entah kenapa muncul rasa bersalahnya pada Ethan. Ia mulai berpikir seandainya
ia percaya padanya waktu itu bahwa perasaannya padanya tidak berubah, mungkin
ia takkan pernah menyukai Johan. Dalam lubuk hatinya yang terdalam, ia merasa
yakin akan hal itu. Ia merasa bersalah telah mengatakan hal yang menyakitkannya
saat di Berlin tanpa tahu hal yang sebenarnya. Meski ia berkata jahat bahwa ia
takkan minta maaf, itu dilakukannya demi dirinya dan keluarganya. Karena, ia
masih mencintainya lebih dari siapapun, dia rela melakukan apapun meski harus
melahirkan persepsi berbeda darinya. Perasaan itu lahir lagi sedikit demi
sedikit, dan ia menjadi bimbang dengan airmata yang jatuh perlahan bersamanya.
Tiba-tiba, ia menyadari satu hal dari kalimat Ibunya.
“Tunggu sebentar. Kenapa
penyabotasean itu menguntungkan baginya? Memangnya keluarga itu pengusaha di
bidang apa hingga mereka rela menyabotase aset Ayah?” tanya Angelica penasaran.
Lilica terdiam, agak lama. Di
seberang, ia terdengar menarik nafas panjang dan menjawabnya.
“... mereka...” Lilica menyebut
bidang usaha yang dimaksud.
Angelica kaget bukan kepalang.
Badannya langsung bergetar, perasaannya langsung tidak enak. Pikirannya langsung
tertuju pada seorang laki-laki yang selama ini selalu bersamanya sejak hari
pertama ia berada di sekolah ini. Dimana ia yang selalu ramah namun tegas, dan
selalu terlihat bangga padanya. Ia mengingat wajahnya saat Ia mulai menangis,
dan menutup mulutnya dengan tangan kanannya.
“Benarkah, itu.... Ibu....?”
tanya Angelica pelan.
“Ya, mereka bilang, mereka
menggunakan lahan itu untuk kepentingan usaha mereka... Angie, kau menangis?”
jawab Lilica sambil bertanya.
Angelica tidak bisa berpikir
lagi. Ia langsung mematikan telepon Ibunya dan beralih ke HP-nya sambil berlari
keluar. Ia menaruh HP-nya di telinganya, berusaha menghubunginya.
“Halo?” jawab seseorang di
seberang. Dan orang itu adalah...
“Johan...! Johan...!!” panggil
Angelica dalam pedih tangisnya. Sementara ia terus berlari menuju tempat yang
kini jadi pikirannya....
0 comment:
Posting Komentar