Selasa, 10 Mei 2016

Wings of Melodies ~ Memories Edition - Chapter 16


U
pacara kelulusan Perguruan Afiliasi Universitas Escoriale berlangsung dengan mewah, namun juga berjalan lancar. Aldias sebagai perwakilan siswa yang lulus menyampaikan pidatonya dengan tenang, namun dapat membawa semangat dan tekad untuk para juniornya. Setelah upacara, Angelica, Johan dan Patricia menggiring Aldias dan Michaelis ke ruang Dewan Siswa dan menggelar pesta kelulusan untuk mereka yang sudah disusun secara diam-diam.
“Selamat atas kelulusannya!!” pinta mereka bertiga bersamaan. Cracker pun diletuskan dan mereka berdua begitu takjub melihat ruangan yang sudah disulap menjadi tempat pesta meski hanya kecil-kecilan. Aldias dan Michaelis terkejut bersamaan, namun mereka langsung berterima kasih dan menyambut pesta itu dengan senang.

“Huaaa~~ rasanya setahun ini sangat lama, namun juga sangat singkat, ya!” Patricia memberi opini sambil menghapus airmatanya yang keluar sedikit karena terharu.
“Hahaha, tahun ini kita sibuk sekali, sih, ya” jawab Aldias.
“Yoosh, karena ini pesta kalian berdua, silakan makan semua yang ada di sini sepuasnya!!” seru Johan dengan semangat.
“Waah, terima kasih banget, ya! Huhuhu~ aku pasti bakal merindukan kalian! Terutama, My Little Angeeell~~!!” teriak Michaelis sambil pura-pura menangis dan memeluk Angelica.
“Ahahaha, kak Michaelis ini~” Angelica pasrah, dan Johan yang meski bersungut-sungut sendiri di mejanya, ia tetap tertawa melihat tingkahnya.
Setelah beberapa saat, mereka pun menyantap hidangan yang ada di meja dan saling mengobrol.
“Hee, kak Aldias akan kuliah hukum di Oxford, dan kak Michaelis belajar desain dan bisnis di Paris?” seru Angelica takjub.
“Benar. Kita masih bisa sering-sering ketemu, kok” ujar Aldias.
“Tapi aku bakal jauh dari My Little Angel. Hei, Johan! Takkan kumaafkan jika kau sampai buat My Little Angel menangis!” seru Michaelis.
“Iya iya!” jawab Johan malas.
“Tapi, kau seharusnya memberi kami gaji yang lebih pantas, nih, Johan. Kita lembur setengah tahun demi kau, lho!” ujar Aldias bercanda.
“Lembur... maksudnya?” tanya Angelica tidak mengerti.
“Kak Aldias dan Kak Michaelis seharusnya sudah pensiun sejak akhir semester lalu. Tapi Johan belum bisa menemukan pengganti yang tepat untuk mereka, sampai akhirnya mereka berdua ini benar-benar lulus” jelas Patricia sambil meminum tehnya.
“Ooh, begitu, ya. Tapi... meski tidak sesuai, kami sudah memberikan gaji yang lebih pantas, kok! Ini, silahkan!”
Angelica menaruh dua buah kotak berukuran sedang untuk mereka berdua. Aldias dan Michaelis saling bertatapan dengan bingung.
“Ini cinderamata dari kami bertiga. Semoga dengan keberadaan benda ini, bisa mengingatkan bahwa kalian pernah berada di sini sebelumnya” pesan Patricia.
Aldias dan Michaelis menatap mereka bertiga satu persatu. Angelica, Patricia dan Johan pun tersenyum pada mereka dengan bangga. Mereka begitu terharu dan menunjukkan rasa terima kasih yang tulus. Meski begitu, ada rasa sedih yang terpancar dari mata mereka karena harus berpisah dan melanjutkan pendidikan mereka. Tapi mereka juga menyadari bahwa perpisahan ini bukanlah akhir dari segalanya.
Di akhir acara, para anggota Dewan Siswa pun melakukan ‘upacara kelulusan’ untuk Aldias dan Michaelis. Johan pun memberi pernyataan resminya.
“Aku, Johan Robin Harcourt Sabrishion, ketua Dewan Siswa SMA Escoriale periode ini, menyatakan bahwa Aldias Howard dan Michaelis Addison telah menyelesaikan tugasnya sebagai Bendahara dan Koordinator Umum selama tiga tahun masa pengabdiannya. Jasa kalian tidak akan pernah kami lupakan dan semoga di jenjang pendidikan kalian selanjutnya, apa yang telah kalian tuai selama ini bisa menjadi benih untuk karir masa depan!”
Johan memasangkan pin lambang sekolah mereka yang berwarna emas sebagai kenang-kenangan di dada mereka, yang juga semacam hadiah wajib bagi mereka yang telah menyelesaikan karir mereka di organisasi sekolah. Angelica dan Patricia bertepuk tangan. Dengan ini, Aldias dan Michaelis resmi pensiun dari Dewan Siswa...

“Yo! Pestanya sudah selesai?” tanya Russell yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.
“Ah, kak Russell! Kami baru saja selesai membereskan ruangan kami!” Angelica menyapa dan menghampiri Russell.
“Kau juga, sudah selesai kan, pestanya?” tanya Johan.
“Ah, ya! Grace dan Mark, bagian keamanan-ku tahun ini lulus. Tapi kalau Mark hanya akan langsung loncat kelas ke SMA, sih” jelas Russell.
“Ah, si Mark itu, ya. Aku berencana menarik dia ke Dewan Siswa tahun ini” kata Johan dengan mata berkilat-kilat.
“Sayangnya, dia akan naik ke posisi Wakil Ketua Dewan Perguruan Siswa mulai tahun ajaran baru nanti!” jelas Russell dengan mata tak kalah berkilat.
“Huaaa~ kau curang! Padahal aku berencana untuk merekrutnya selama liburan nantiii~~!!” Johan berteriak sambil pura-pura menangis.
“Eeh, kurasa tidak ada anggota Dewan Perguruan Siswa yang mau turun jabatan ke Dewan Siswa sekolah, kan...” jelas Patricia merasa iba.
“Kau ini, Johan... bukankah kau sudah punya kandidat dari mantan Dewan Siswa SMP?” tanya Angelica mengingatkan.
“Sudah, sih. Tapii~ tidak ada yang se-perfect dia” Johan memangku kepalanya sambil berpikir.
“Hoi hoi. Kalian mau membicarakan ini di depan Preminger? Dia tidak boleh tahu soal calon anggota baru, lho!” Russell mengingatkan.
“Ah, benar juga! Jangan-jangan, Orlando kemari mau membicarakan itu, ya!? Baiklah, kalau begitu aku permisi duluan. Biar aku yang bawa sampahnya, ya!” kata Patricia selaku buru-buru mengambil tasnya dan mengambil plastik berisi sampah bekas pesta tadi.
“Hahaha, tenang saja, Preminger! Aku tidak serius bilang begitu, kok!” Russell menenangkan.
“Baiklah, hati-hati, Preminger” sapa Johan.
“Kak Patricia, sampai ketemu lagi di tahun ajaran baru!” sapa Angelica sambil melambaikan tangan.
“Iya, sampai bertemu lagi! Oh, ya, Angelica. Aku sudah bukan seniormu lagi, kan?” Patricia mengingatkan.
“Hmm... baiklah. Ini terakhir kalinya, kak Patricia!”
Patricia tersenyum, ia membalas lambaian tangan Angelica dan beranjak dari situ. Kini Angelica, Johan dan Russell berada di satu ruangan. Mereka saling terdiam dan sibuk dengan gadgetnya masing-masing. Lima menit kemudian, Russell tiba-tiba teringat sesuatu.
“Oh iya!”
“He, kenapa kak Russell?” tanya Angelica.
“Aku lupa. Aku kemari mau memberimu ini” kata Russell, sambil mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
“Hmm, coba kita lihat. ‘Tiket Kursus Awal Libur Musim Panas Selama 2 Minggu Penuh dari Universitas Oxford, 300 poundsterling’!?” teriak Angelica terkejut.
“Kau, dapat ini darimana!?” tanya Johan terkejut, sambil menarik scarf Russell.
“Hah!? Aku sudah daftar sejak tahun lalu!” jawab Russell.
“Iya, tapi kenapa kau berikan ke Angie!? Aku kan juga mau ikut!” teriak Johan sewot.
“Kau tidak bakal bisa ikut selama libur, makanya kuberikan pada Angie!” jawab Russell tak kalah sewot.
“Heei, sudah hentikaan!” Angelica melerai mereka berdua. “Tapi... bukannya kak Russell ingin ikut makanya mendaftar?” lanjutnya bertanya pada Russell.
“Ah, ya. Aku memang berencana ikut, tapi... karena kita bakal menghabiskan seminggu liburan di rumah musim panas Sylvie, aku harus mengejar dan menyelesaikan pekerjaanku yang masih menumpuk di kantor. Karenanya, aku lebih memilih mengorbankan kursus ini daripada mengorbankan liburan!” jelas Russell penuh semangat.
“Ah... begitu, ya... maklum, sih, kalian jarang dapat libur...” Angelica beropini.
“Sejujurnya, aku benar-benar lupa sudah membeli tiket kursus itu dan baru mengingatnya saat sampai dirumah kemarin. Tapi karena sudah jadi seperti ini, daripada sia-sia, lebih baik kuberikan padamu. Johan juga, walaupun ingin ikut, aku yakin dia juga bakal sama sibuknya sepertiku di kantor selama liburan. Toh setiap tahun selalu begini” jelas Russell lagi sambil mengangkat bahunya.
“Hooh...” Angelica terlihat sangat senang sambil melihat tiket itu dengan wajah tak sabar. Russell dan Johan saling bertatapan, kemudian mereka tersenyum.
“Nah, kalau kau memang mau, ambil saja!” kata Russell.
“Hee!? Ta, tapi kan tiketnya semahal ini!” Angelica gugup.
“Tenang saja, tenang! Anggap saja itu hadiah terakhir dariku!” jelas Russell.
“Ah, eeh...” Angelica sedikit gugup. “Bagaimana, Johan?”
“Hah? Kenapa bertanya padaku?” tanya Johan bingung. “Kalau kau memang ingin ikut, aku tidak akan melarang selama kau tidak memaksakan diri. Lagipula, kali ini kita tidak ada PR selama liburan, jadi bagus juga buat mengisi waktumu yang mungkin sebagian besar hanya diisi part-time. Memangnya kau mau kerja seharian?” lanjutnya menjelaskan.
Angelica yang ragu, kemudian melihat tiketnya lagi. Tak lama, sampai akhirnya meyakinkan diri.
“Baiklah, aku ikut!!!” teriaknya semangat...

Kemudian, mereka semua menjalani liburannya masing-masing. Sylvie dan Harry pulang ke kota tempat tinggalnya masing-masing, begitu juga para penghuni asrama lainnya. Johan dan Russell bakal sulit ditemui karena tugas mereka sebagai pewaris tentu akan lebih menyita waktunya dibanding hari-hari saat sekolah, namun mereka semua tetap menyempatkan diri untuk chatting lewat media sosial sekaligus merencanakan apa yang akan mereka lakukan selama di rumah musim panas Sylvie. Hans juga kembali ke Berlin untuk mengurus toko permata yang diwariskan padanya, dan ia janji akan pulang sehari sebelum liburan mereka.
Sementara Angelica melalui hari-harinya dan banyak menghabiskan waktunya di kursus kilat dari tiket yang diberikan Russell, dimana waktu kursusnya adalah enam jam sehari. Tak lupa serta ia kerja part-time di tempat Harry karena kali ini ia menggantikannya di bagian kasir selama ia pulang. Malam harinya ia tetap menyempatkan diri membuat catatan hafalan dan melakukan hal-hal lain yang disukainya. Meski sedikit melelahkan, namun mereka semua melaluinya dengan baik, giat, dan menyenangkan dalam arti masing-masing...
Tak terasa sudah seminggu berlalu. Hari ini kursus Angelica hanya sampai siang, dan ia memutuskan mengambil part-time tiga jam langsung setelah selesai kursus. Setelah meminjam beberapa buku di perpustakaan pusat di kota, ia kembali ke asrama.
“Selamat sore, Madam” sapa Angelica ramah pada Ibu Asrama, yang kebetulan sedang berada di pintu masuk, dimana disana ada sebuah meja besar yang diatasnya diletakkan tablet dan semacam absensi berbentuk mesin EDC, dimana tamu harus menuliskan namanya di tablet itu dan menggesek kartu siswa atau kartu tamu yang didapat saat memasuki area sekolah, juga dudukan telepon nirkabel.
“Ah, sore, Angelica. kebetulan sekali, ada telepon untukmu” katanya sambil menyerahkan telepon yang kebetulan sedang dipegangnya padanya.
“Telepon?” tanya Angelica bingung.
“Iya. Dari Ibumu”
Angelica yang masih berdiri membawa buku-buku pinjamannya, langsung terbelalak karena tidak percaya dengan apa yang barusan Ibu asramanya katakan. Ia menerima teleponnya dengan sedikit gemetar. Setelah ia pamit, ia buru-buru kembali ke kamarnya, meletakkan buku di meja kotetsu-nya, dan duduk di bangku panjang yan ada di situ.
“... Ibu?” panggil Angelica pelan.
“Ah, Angie. Lama tidak bertemu! Kau baik-baik saja?”
Angelica masih tidak percaya. Suara lembut yang didengarnya benar-benar suara Ibunya. Benar, saking sibuknya selama setahun ini, ia nyaris tidak ada kesempatan untuk menghubunginya. Meski ia dipinjamkan HP oleh Johan, ia bahkan hampir tidak pernah memakainya dan baru benar-benar memakainya selama liburan ini. Ia jauh lebih sering memakai tablet dari sekolah karena lebih praktis dan memang lebih banyak ia gunakan.
“Angie, kau ada disitu, kan?”
“Ah... iya, Bu. Maaf... aku benar-benar terkejut Ibu meneleponku” katanya sambil menghapus air matanya yang sempat keluar.
Sejenak, Angelica mendengar Ibunya menghela nafas, dan mulai bicara.
“Ahaha benar juga. Kita sudah setahun tidak saling berkabar, ya. Maaf, Ibu tidak sempat mengirimimu surat selama ini. Sejak kamu ke London, pasien Ibu semakin bertambah. Bahkan beberapa pasien lamaku yang tahu tempat tinggal kita sekarang pun rela datang jauh-jauh kemari, jadi Ibu sangat sibuk. Dan karena kondisi keuangan sudah mencukupi, Ibu memilih untuk memasang telepon rumah karena jaringannya sudah dipasang disini. Ibu tahu nomor telepon sekolahmu dari amplop surat penerimaanmu yang tertinggal di kamarmu. Jadi, Ibu coba menghubungimu” jelas sang Ibu, Lilica Sandoras, panjang lebar.
 “Ah, begitu, ya...” Angelica menanggapi, dengan berusaha menahan airmatanya yang sudah mau keluar lagi. “Aku... baik-baik saja disini, Bu... maaf, aku belum bisa kembali kesana...” lanjutnya sambil menundukkan kepalanya.
“Ibu mengerti, Nak” jawab Lilica lembut. “Berjuanglah, Ibu akan tetap mendukung apapun impianmu selama kau tidak memaksakan diri” lanjutnya memberi pesan.
Airmata Angelica yang tertahan akhirnya tumpah juga. Ia menangis sekeras-kerasnya sambil memeluk kedua kakinya dan menundukkan kepalanya, dengan tangan satunya tetap memegang telepon. Berbagai perasaan pun memenuhi dirinya. Senang, sedih, kecewa, bahagia, serta perasaan tersembunyi yang selama ini ditahannya keluar seketika. Ia sangat merindukannya, dan berharap bisa memeluknya sekarang juga...

Di tempat lain, Russell Orlando sedang merasa bosan di depan laptopnya dan ini sudah keempat kalinya ia menguap karena nyaris tidak tidur tiga hari terakhir. Ia hanya mendengarkan sekretarisnya yang sedang menjelaskan jadwal kerjanya esok hari tanpa banyak bertanya.
“Hooi~ aku sudah boleh pulang, kaan? Aku ingin segera sampai di rumah dan langsung tidur tanpa banyak memikirkan semua ini lagiii~~” gerutu Russell pada sekretarisnya itu.
“Ya ampun. Kau tidak berubah juga ya, kalau sudah mengantuk” pinta sekretarisnya, yang ternyata adalah mantan wakil ketuanya di Dewan Perguruan Siswa, Grace Anderson.
“Apa boleh buat. Kalau capek kan tidak bisa banyak kerja. Aku juga sudah berusaha keras selama ini, jadi tidak masalah, kan, aku istirahat di sisa hari ini?” tanya Russell.
“Baiklah, aku mengerti. Besok akan kubawakan multivitamin dari produk farmasi keluargaku, dengan begitu kau tidak akan lagi lunglai seperti hari ini” ujar Grace sambil membetulkan kacamata frame hijau emerald-nya dengan elegan.
“Obat lagi? Astaga... entah kenapa aku merasa sedikit menyesal karena bisa-bisanya kau jadi sekretarisku meski kau sibuk jadi pewaris...” gerutu Russell lagi.
“Aku disini karena kau yang meminta. Lagipula, aku baru resmi jadi pewaris mulai tahun depan, jadi aku akan tetap memulai karir dengan caraku sendiri” tegas Grace sambil mengecek lagi jadwal Russell.
Tiba-tiba, Russell mengambil buku catatan jadwal yang dipegang Grace darinya. Ia mengambil korek dari laci mejanya dan berjalan ke beranda. Lalu ia membakar buku itu. Grace yang terkejut berusaha menyelamatkan buku itu, namun Russell menghalanginya.
“Apa yang kau lakukan, Russell!? Aku tidak punya salinan jadwalmu, lho!” teriak Grace terkejut.
Russell tak kunjung berbalik. Ia hanya menjawab pertanyaannya tanpa sedikitpun menoleh, maupun ragu...
“Terima kasih hingga hari ini, Grace... jadwal itu... sudah tidak penting lagi...”

“Sudah tenang?”
Di asrama wanita, Lilica bertanya seperti itu lewat telepon dengan suara lembut seperti biasa. Angelica sendiri berusaha untuk menahan sesenggukannya dan menjawab pertanyaan Ibunya seperti biasa.
“Ya. Maaf, Bu, tiba-tiba aku seperti ini...” terang Angelica.
“Ahaha, kau memang anak Ibu!” pinta Lilica riang. Mereka pun tertawa bersamaan.
“Ibu, banyak sekali yang ingin kuceritakan padamu. Tapi sebelumnya, aku ingin tahu ada apa Ibu meneleponku?” Angelica berusaha memulai topik.
“Ah, benar. Ibu juga ingin bicara banyak padamu” Lilica pun mulai terdengar serius. Ia terdengar seperti berganti posisi duduknya.
“Ya. Oh ya, Bu. Berapa sisa hutang keluarga kita?” tanya Angelica memulai topik.
“Itulah yang ingin Ibu bicarakan, Angie. Semua uang kita dikembalikan lagi”
Angelica terkejut. “Maksud Ibu!?”
“Sebulan yang lalu, Polisi dan orang dari Kementerian datang kesini. Mereka berkata bahwa rentenir yang selama ini selalu datang menagih kita ternyata adalah suruhan dari keluarga lain. Sayangnya mereka tidak mau bilang siapa ‘keluarga’ tersebut karena ini menyangkut reputasi mereka dan Negara di mata dunia. Namun mereka sudah menindak pelakunya dan... mereka bilang akan menghukum mati tersangka beserta... pewarisnya” jelas Lilica terbata-bata di akhir kalimatnya.
“Menghukum... pewarisnya juga!?” Angelica juga terkejut dengan pernyataannya.
“Benar. Mereka tidak peduli sekalipun pewaris tersebut tidak ada hubungannya dengan kasus ini, namun ia tetap dinyatakan bersalah karena pengendalian usaha keluarga yang lemah. Kau tidak akan mendengar berita ini dimanapun karena ini adalah kasus rahasia yang cukup besar yang tidak ingin melibatkan publik. Sudah lama sebenarnya aku mendengar dari tunanganmu, Ethan Miller, bahwa keluarga itu punya niat untuk membunuhmu sebagai pewaris. Mereka mengakui bahwa salah satu keluarga mereka juga seorang Sandoras, dan akan melakukan apa saja demi mendapatkan harta keluarga kita” jelas Lilica panjang lebar.
“Ya... aku juga mendengarnya dari Hans Miller saat aku di Berlin...” jelas Angelica.
“Berlin? Kau pergi ke Berlin!?” tanya Lilica terkejut.
“Nanti saja ceritanya, Bu. Apa Ibu tahu keluarga yang dimaksud!? Sebenarnya, aku sempat bertemu Ethan di Berlin, tapi... ia tetap tidak mau memberitahuku demi melindungiku...”
Angelica mengatakannya dengan bingung. Badannya panas, ia berpikir keras namun tetap tidak menemukan jawaban siapa sebenarnya keluarga yang berniat keji padanya itu.
“Maaf, Nak. Ibu benar-benar tidak tahu. Hanya Ayahmu dan Ethan yang mengetahuinya”
“Kalau begitu kenapa Ayah menghilang dan malah mencari Paman!? Kenapa perusahaan keluarga kita bangkrut!? Aku benar-benar tidak mengerti!”
Lilica terdiam. Angelica juga diam. Walau begitu mereka berusaha untuk tetap tegar dengan cara mereka masing-masing. Lilica menarik nafas panjang, dan berusaha menjawab pertanyaannya dengan tenang, dan merasa berat.
“Sebelumnya, Ibu benar-benar minta maaf karena tak bisa menceritakan yang sebenarnya selama ini. Itu karena Ayahmu selalu mencegah Ibu dan ingin membiarkan kamu melakukan apa yang ingin kau lakukan. Ayah tak peduli walau kau tak mau menjadi pewaris, karena Ayah jauh lebih ingin kau menemukan apa yang penting dan menjadi impian bagimu. Kami... benar-benar minta maaf, Nak... sekarang, akan Ibu ceritakan segalanya yang Ibu tahu...

“Tiga tahun yang lalu, setahun sebelum perusahaan keluarga kita bangkrut, Anthony—ayahmu bermaksud untuk membeli lahan di desa dekat kota tempat kita tinggal saat ini sebagai aset perusahaan dan objek penelitian tanaman. Disaat yang sama, perusahaan keluarga lain berniat membeli lahan itu dan bersedia membayar tiga kali lipat dari harga yang disetujui dengan pemerintah. Awalnya Anthony bersedia menerima, namun semakin lama tindakan mereka semakin keterlaluan. Anthony sudah lima kali membeli tanah, namun saat akan dilakukan penelitian, tanah itu justru diakui oleh perusahaan keluarga mereka, bahkan entah bagaimana mereka memiliki surat-surat kepemilikannya. Anthony dan aku saling berdebat keras dengan mereka hingga akhirnya mereka bertaruh dan membawa masalah ini ke persidangan. Dimana yang kalah harus menutup usaha mereka.
“Di hari persidangan, kami kalah karena surat-surat yang kami miliki ternyata adalah surat kepemilikan palsu. Padahal Anthony sudah sangat yakin saat membeli tanah itu bahwa suratnya adalah asli, dan saat itulah ia menyadari bahwa ada seseorang dari internal perusahaan yang mencuri surat asli itu dan menukar surat yang dimiliki Anthony dengan surat palsu.

“Kami berdua sudah berusaha keras mencari pelakunya, dan kalap saat itu. Tiba-tiba Ethan, yang baru dinyatakan sebagai pewaris keluarga Miller, datang dan berkata akan memberi bantuan. Sebagai pengusaha permata, seharusnya penyabotasean itu menguntungkannya. Tapi ia tentu tidak setuju dengan cara kotor perusahaan keluarga itu mengambil alih aset perusahaan kita. Ia setuju membantu kami dan memutuskan untuk pergi ke Belanda, dimana aset terbesar kami berada, dijalankan dan membereskan semuanya disana” jelas Lilica panjang lebar.
“Jadi, Ethan ke Belanda bukan karena melarikan diri?” tanya Angelica dengan ketidakyakinan memenuhi dirinya.
“Tidak” jawab Lilica. “Ayah yang menyuruhnya pergi ke sana, dan memintanya untuk tidak mengatakan apapun padamu soal kejadian ini. Ia juga meminta Ibu hal yang sama, karena Ayah, Anthony, berjanji untuk menyelesaikan masalah ini meski ia butuh waktu lama. Karenanya, bagi Ethan, mengatakan hal yang menyakitimu adalah satu-satunya jalan agar kau tidak mencarinya. Meski ia sendiri telah terluka karena merasa bersalah telah melukai dan meninggalkanmu dengan cara seperti ini” jelas Lilica.
Wajah Angelica berubah sedih. Entah kenapa muncul rasa bersalahnya pada Ethan. Ia mulai berpikir seandainya ia percaya padanya waktu itu bahwa perasaannya padanya tidak berubah, mungkin ia takkan pernah menyukai Johan. Dalam lubuk hatinya yang terdalam, ia merasa yakin akan hal itu. Ia merasa bersalah telah mengatakan hal yang menyakitkannya saat di Berlin tanpa tahu hal yang sebenarnya. Meski ia berkata jahat bahwa ia takkan minta maaf, itu dilakukannya demi dirinya dan keluarganya. Karena, ia masih mencintainya lebih dari siapapun, dia rela melakukan apapun meski harus melahirkan persepsi berbeda darinya. Perasaan itu lahir lagi sedikit demi sedikit, dan ia menjadi bimbang dengan airmata yang jatuh perlahan bersamanya. Tiba-tiba, ia menyadari satu hal dari kalimat Ibunya.
“Tunggu sebentar. Kenapa penyabotasean itu menguntungkan baginya? Memangnya keluarga itu pengusaha di bidang apa hingga mereka rela menyabotase aset Ayah?” tanya Angelica penasaran.
Lilica terdiam, agak lama. Di seberang, ia terdengar menarik nafas panjang dan menjawabnya.
“... mereka...” Lilica menyebut bidang usaha yang dimaksud.
Angelica kaget bukan kepalang. Badannya langsung bergetar, perasaannya langsung tidak enak. Pikirannya langsung tertuju pada seorang laki-laki yang selama ini selalu bersamanya sejak hari pertama ia berada di sekolah ini. Dimana ia yang selalu ramah namun tegas, dan selalu terlihat bangga padanya. Ia mengingat wajahnya saat Ia mulai menangis, dan menutup mulutnya dengan tangan kanannya.
“Benarkah, itu.... Ibu....?” tanya Angelica pelan.
“Ya, mereka bilang, mereka menggunakan lahan itu untuk kepentingan usaha mereka... Angie, kau menangis?” jawab Lilica sambil bertanya.
Angelica tidak bisa berpikir lagi. Ia langsung mematikan telepon Ibunya dan beralih ke HP-nya sambil berlari keluar. Ia menaruh HP-nya di telinganya, berusaha menghubunginya.
“Halo?” jawab seseorang di seberang. Dan orang itu adalah...

“Johan...! Johan...!!” panggil Angelica dalam pedih tangisnya. Sementara ia terus berlari menuju tempat yang kini jadi pikirannya....

0 comment:

Posting Komentar

 

Diana Rachmawati Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template