|
T
|
iga hari kemudian, jam 10
malam, dua jam sebelum jatuhnya eksekusi mati kedua tersangka atas bangkrutnya
Sandoras Farm Corporation. Angelica bersama Johan dan Ethan tiba di lokasi
eksekusi. Mereka meminta untuk bertemu dengan sang pewaris untuk mengetahui
lebih lanjut apa yang terjadi.
Angelica, juga Johan. Sama
sekali tidak percaya siapa yang mereka lihat. Sama sekali tidak mereka sangka
bahwa ialah yang akan dijatuhi hukuman meski dia tidak tahu apapun. Angelica
hampir menangis saat melihatnya. Paham perasaan Angelica, akhirnya Johan-lah
yang menyapanya...
“Akhirnya kita bertemu lagi...”
Tiga hari yang lalu.
Johan sedang berada di
ruangannya di kantor tempat ia bekerja. Ia baru saja menyelesaikan rapat, duduk
di kursinya sambil menghela nafas. Lima detik kemudian, HP yang ia taruh di
mejanya itu berdering. Ia melihat siapa yang menelepon, dan langsung
mengangkatnya tanpa ragu.
“Halo, Angie?” panggil
Johan.
Segera ia terkejut,
mendengar Angelica yang menangis di telepon sambil memanggilnya.
“Johan...! Johan...!!”
“Angie! Ada apa!?” seru
Johan terkejut.
Johan terus bertanya hal
yang sama, namun Angelica hanya terus menangis memanggil-manggilnya. Akhirnya
ia memutuskan untuk menutup teleponnya dan beranjak ke tempat Angelica tanpa
pikir panjang lagi.
Sementara Angelica duduk sendirian
di sebuah taman di dekat pusat kota. Walau ia tidak bilang ia dimana, namun
Johan pasti sudah beranjak dari kantor dan melacak keberadaannya dari fungsi
maps di HP-nya. Ia masih menangis walau kini sedang berusaha sendiri untuk
menghentikannya.
“Tidak... jangan... bukan
kau orangnya, kan...” gumam Angelica pelan pada diri sendiri. Namun...
“Sepertinya kau sudah
menduga siapa orangnya, ya. Pewaris Sandoras” seru seseorang dari belakang.
Angelica terkejut. Ia
langsung berbalik arah. Keterkejutannya semakin bertambah saat ia melihat orang
itu berlari mengejarnya dengan sebilah pisau di tangannya!
Ia mengayunkan pisau itu ke
arahnya, namun untungnya Angelica berhasil menghindar dengan mengorbankan
rambutnya yang terpotong hampir separuhnya. Panik, ia langsung berlari dan
orang itu masih berusaha mengejarnya.
Angelica sudah jauh berlari,
dan akhirnya ia terpojok di sebuah pohon yang berbatasan dengan pagar besar.
Laki-laki itu tertawa dengan keras nan bangga.
“Siapa kau? Jangan-jangan,
kau orang suruhan keluarga yang ingin membunuhku!?” tanya Angelica dengan
berusaha menyembunyikan ketakutannya.
“Oh, kau tahu rupanya? Kalau
begitu...” orang itu separuh berjongkok dan mendekatkan wajahnya padanya.
“Lebih mudah jika kau menyerahkan dirimu, kan?”
Angelica semakin terkejut
ketika orang itu kembali melayangkan pisau ke arahnya. Ia berusaha melindungi
dirinya dan memejamkan matanya dengan takut.
CRASH!
Orang itu berhasil
menebasnya, namun anehnya ia merasa tidak sakit. Ia perlahan membuka matanya,
dan terkejut karena ternyata seseorang telah melindunginya, dan ia adalah...
“Ethan!!”
“Uggh!!”
Rupanya Ethan berusaha
melindunginya dengan menjadikan bahunya sebagai tameng. Sebagai gantinya,
bahunya terkena goresan itu dan langsung mengeluarkan darah segar. Orang itu
terkejut melihatnya. Ia berusaha menebas Ethan lagi dengan pisau itu, namun
kali ini Ethan berhasil menghindar. Angelica berlari ke balik pohon yang ada di
sebelahnya berkat instruksi cepat dari Ethan. Seketika itu juga, Ethan berhasil
memberi pukulan di perutnya. Ia mengaduh kesakitan, tapi itu tidak lama, dan ia
memilih untuk lari darinya.
“Tunggu! Jangan lari!!”
Suara itu terdengar sebagai
suara Ethan, namun kalimat itu juga disebutkan bersamaan dengan suara yang
sangat dikenalnya, yaitu suara Johan!
Ethan sudah tidak sanggup
menahan luka tebasan orang itu dan ambruk, Angelica langsung menghampirinya. Sementara
Johan yang muncul tiba-tiba langsung mengejar orang itu. Tidak butuh waktu lama
baginya untuk bisa menangkapnya, dan Johan langsung menghajarnya di pipinya.
Orang itu terjerembab ke tanah dan pisaunya terjauh jauh darinya. Johan
langsung menghampiri orang itu dengan melihatnya dengan menarik bajunya.
“Kau...!!” seru Johan geram.
Orang itu hanya menundukkan kepalanya.
“Johan!!” panggil Angelica
dari kejauhan.
Ia langsung tersadar, karena
orang itu ternyata diam-diam membawa pisau cadangan dari kantong jeans-nya dan
hendak menusuk perutnya. Dengan cepat, Johan memberi pukulan keras dengan
tangan satunya ke pergelangan tangan orang itu. Ia juga melakukan hal yang sama
dengan tangan satunya. Orang itu pun kesakitan.
“Dengan ini, tanganmu akan
mati rasa dan tidak sanggup memegang benda untuk sementara” jelas Johan.
“Uukh..”
Johan kemudian melihat wajah
orang itu, dan terkejut.
“Kau! Jangan-jangan...!”
Angelica yang baru selesai
memberi pertolongan pertamanya pada Ethan langsung menghampiri Johan, dan kaget
mendengar seruannya.
“Johan, kau... mengenalnya...?”
tanya Angelica pelan.
“Kau... sepupu Russell...
Miguel, kan...?” tanya Johan pelan.
Angelica semakin terkejut.
Ia melangkah ke belakang perlahan dengan badannya yang bergetar.
“Sepupu kak Russell...
berarti...”
“Benar, Angelica” Ethan
langsung bangkit dari duduknya di tanah setelah merasa baikan. Dan ia akhirnya
menyatakan pelaku yang sebenarnya, yang ia masih tidak bisa percayai hingga
saat ini...
“Keluarga yang berniat
membunuhmu, sekaligus menyita dan menyabotase seluruh aset keluargamu... adalah
keluarga Orlando...”
Mereka saling duduk berhadapan,
dimana Grace dan Karl—yang tiba di Inggris pagi tadi—kini berdiri di
sampingnya. Grace maupun Karl sama-sama terlihat capek, namun kesedihan sangat
memenuhi mereka. Angelica melihat Russell lekat-lekat, dan masih meyakinkan
diri apa orang ini benar-benar Russell yang selama ini dikenalnya. Ethan yang
sejak tadi diam, akhirnya mulai bicara.
“Sudah ketahuan semua kedokmu
selama ini ya, Orlando” ujarnya sinis. Ia mengeluarkan berkas fisik yang dibawa
di dalam tas tangannya.
“Laporan keuangan perusahaanmu
memang bagus, tapi ternyata saat diteliti, banyak aset-aset tidak masuk akal
bermunculan setiap tahun. Kau pandai menutupinya” lanjutnya sinis.
Russell tak menjawab, dan hanya
menghela nafas. Ia sendiri pun selama ini tidak pernah bermimpi akan menjalani
hukuman yang menyangkut kehidupannya. Karl yang sempat geram berusaha menahan
diri. Sementara Grace yang masih tidak percaya dengan keadaan ini hanya bisa
memejamkan matanya.
“Aku takkan menyangkalnya...
karena memang ini yang kulakukan...” jawab Russell pelan.
“Tidak! Ini bukan kau yang
lakukan, kan, kak Russell!?” seru Angelica yang tetap menangis sejak tiba.
Russell kembali tak menjawab.
Ia hanya menggertakkan giginya sambil menunduk.
“Laporan ini sudah divalidasi
dan tanda tangannya adalah asli darimu. Kau mau menyangkal apa lagi?” tanya
Ethan dengan nada rendah, namun menusuk.
“... sudah kubilang, aku takkan
menyangkalnya...”
“Kak Russell!” teriak Angelica.
“Tuan Muda Russell, hentikan!
Kau hanyalah kambing hitam disini!” teriak Karl tiba-tiba, yang kini berusaha
lebih sopan dari biasanya.
“Kambing hitam?” tanya Ethan
tidak mengerti. “Apa maksudmu?”
“... sudahlah, Karl. Ini
salahku. Akan kutanggung semuanya sendiri...” jawab Russell pelan.
“Tapi jika kau mati, tak ada
yang layak lagi sebagai pewaris keluarga Orlando! Kenapa kau terdengar sudah
pasrah seperti ini!? Itu bukan seperti Anda, Tuan Muda!!” bantah Karl. Ia
sangat geram dengan keputusan itu.
“... Yaah, aku tak tahu apa
yang terjadi. Tapi otorisasi dokumen-dokumen ini jelas membuktikan bahwa kau
juga bersalah. Sabotase aset dan rencana pembunuhan terhadap pewaris sudah
cukup dijadikan sebagai bukti. Atau... kau mau kutambahkan bahwa pertaruhan
bangkrutnya perusahaan Sandoras juga merupakan buktinya?” tanya Ethan.
PLAK!
Suara tamparan mengejutkan
mereka. Angelica yang menampar Ethan kini menjadi pusat perhatian. Ia sangat
geram dengan kalimat Ethan yang benar-benar terdengar memojokkannya.
“Angie!?” seru Johan sambil
menghentikan tindakan Angelica.
“Bisakah kau berhenti
mengatakan hal-hal yang memojokkan kak Russell? Aku benar-benar tidak tahan
mendengarnya!!” seru Angelica geram.
“Kenapa kau marah? Bukankah
seharusnya kau senang karena pelakunya sudah tertangkap?” tanya Ethan datar.
“Aku percaya pada kak Russell!
Aku percaya bahwa bukan dia yang merencanakan semua ini!” teriak Angelica
dengan nada tanpa ragu...
Angelica dan Johan masih
berdiri tidak percaya dengan apa yang mereka lihat sendiri. Di hadapannya
adalah Miguel Orlando, salah satu sepupu Russell yang merupakan pewaris
minoritas keluarga cabang. Johan mengenalnya karena ia tinggal di rumah yang
sama dengan rumah yang ditinggali Russell, dan ia beberapa kali bertemu
dengannya.
“Kenapa... Miguel...” tanya
Johan pelan.
“Sudah jelas, kan!? Ini pembalasan
untuk Sandoras yang sudah membunuh Ibuku!!” seru Miguel geram, begitu juga
dengan tatapannya. Ethan menghela nafas, dan berkata...
“Miguel Orlando. Ibunya
berasal dari keluarga cabang Orlando. Sementara Ayahnya... adalah Charles
Futherford... Pamanmu, Angelica...”
Angelica dan Johan semakin
terkejut. Wajah mereka sama-sama pias, dan sama-sama tidak percaya dengan
kata-kata yang mereka dengar barusan dari Ethan. Saking terkejutnya, Angelica
langsung lemas tak berdaya dan ambruk, namun Johan langsung menahannya.
“Angie!” seru Johan terkejut.
“Berarti... selama ini...
dugaanku benar...?” tanya Angelica pada Johan.
“Angie...”
“Benar, kan, Johan!? Apa
yang dikatakan Ibuku semua itu... semua itu benar, kaaan!?”
Angelica histeris, namun
Johan tidak bisa melepaskan Angelica yang masih lemas tiba-tiba. Tak lama
kemudian lima mobil polisi datang dan mengepung mereka. Johan dan Angelica
terkejut, namun Ethan berbicara dengan salah satu polisi yang pangkatnya
terlihat lebih tinggi dari yang lainnya, kemudian beliau menangkap Miguel
dengan menyuruh bawahannya.
“Ethan! Kau akan ke kantor
polisi!?” tanya Johan.
“Sebaiknya kalian ikut,
karena Russell sudah disana” pinta Ethan sambil beranjak menuju mobilnya.
Johan dan Angelica terkejut.
Mereka langsung mengambil mobil dan menuju kesana...
Sesampainya di sana, Miguel
langsung dibawa ke ruang investigasi bersama Ethan. Sementara Johan dan
Angelica langsung diantar ke tempat Russell yang berada di ruangan yang
berbeda. Russell duduk di sana dengan kedua tangannya diborgol didampingi oleh
Grace yang berdiri di sampingnya.
“Lama tidak bertemu,
Johan... Angelica...” sapa Russell sambil tersenyum pahit.
Mereka berdua sama-sama
tidak percaya dengan seseorang yang kini berada di hadapannya. Johan
menggenggam tangan Angelica dengan kuat, dan memintanya duduk di kursi yang
berseberangan dengan kursi Russell.
“Sejak kapan... kau
ditangkap?” tanya Johan dengan nada menahan emosi.
“...... tadi malam...” jawab
Russell pelan. Johan bertanya lagi.
“Sejak kapan... rencana ini
dimulai dan kau terlibat di dalamnya?” Johan semakin mengepalkan tangannya.
Namun Russell tidak bergeming, tetap menegakkan kepalanya.
“Sejak tiga tahun yang
lalu... saat awal penyabotasean aset itu. Dan aku baru mengetahuinya saat aku
ke Hallstatt setengah tahun lalu...” jawab Russell tenang.
Angelica terkejut. “Berarti
kak Russell...!?”
“Ya... aku sama sekali tidak
tahu-menahu soal itu sampai setengah tahun yang lalu... semua terungkap dari
orangtua angkatku...” jawab Russell sedih.
“Lalu yang dilakukan Miguel
selama ini... apa kau mengetahuinya...?” tanya Johan untuk yang terakhir kali.
Russell menghela nafas.
“Itu karena ia putra Charles
Sandoras, tidak... nama sebenarnya Charles Futherford, namun ia mengaku sebagai
Sandoras di depan keluargaku. Ia mengaku padaku bahwa... ia ingin balas dendam
demi Ibunya yang bunuh diri di depannya...”
“Tuan muda Miguel? Tapi...
bagaimana bisa dia punya hak pewaris!? Dia hanya anak dari keluarga cabang!”
seru Karl tidak percaya.
“Itu karena aku yang memberikan
hak waris padanya” jawab Russell. “Tidak mungkin aku tega membiarkannya
telantar padahal secara biologis, ia merupakan bagian dari Orlando. Karenanya
aku memberikannya. Ibunya bunuh diri karena tak tahan dengan tekanan keluarga
utama Orlando, dan sebagai pewaris, aku tak bisa membantah kepala keluarga...”
Angelica terkejut. “Tapi, Charles
tidak ada hubungannya sama sekali dengan keluargaku! Dia hanya adik dari Ibuku,
dari keluarga Futherford. Dan ia tidak punya hak atas kepemilikan harta
keluargaku!” bantahnya keras.
“Dia punya, Angelica”
Semuanya terkejut, dan melihat
ke sumber suara. Ethan mengatakannya dengan tenang.
“Dia memang punya hak atas
harta keluargamu. Karena, Ayahmu yang menulis surat wasiat ini jadi buktinya”
Ethan kemudian menaruh surat wasiat itu di atas meja. Angelica mengambil dan
membacanya.
“...... kenapa...” gumam
Angelica pelan.
“Jawabannya mudah... Ayahmu
terlalu baik padanya, tapi sayangnya Pamanmu yang tak tahu balas budi itu
memanfaatkannya...” jawab Ethan.
“Walau begitu, dia tidak punya
hak memakai nama keluarga Angie untuk menikahi wanita lain, kan? Sekalipun dia
punya hak atas warisan ini” bantah Johan.
“Aku juga penasaran akan hal
itu. Tapi satu hal yang pasti” Ethan membetulkan cara duduknya.
“Dendam keluarga Orlando pada
keluarga Sandoras tidak semata-mata hanya karena alasan bisnis, namun juga
alasan pribadi. Alasan bisnis, karena penyabotasean itu melibatkan seluruh
keluarga Orlando yang ikut andil dalam bisnis kalian. Kalian takut jika
keluarga Sandoras semakin berhasil mengembangkan dan mempublikasikan penelitian terakhir mereka sebelum dinyatakan
bangkrut, bisnis kalian akan semakin terpuruk”
“Penelitian terakhir?” tanya
Angelica tidak mengerti.
“Penelitian tentang...
pembuatan batu berharga” jawab Ethan. Mereka semua terkejut.
“Batu berharga!? Memangnya bisa
bisnis pertanian seperti Sandoras mengembangkan yang seperti itu!?” seru Grace
terkejut.
“Sandoras Farm Corporation
bukan hanya mengembangkan penelitian budidaya tanaman pangan, namun juga
berencana untuk mengembangkan energi dan bahan bakar pengganti, serta investasi
baru semacam batu berharga. Hanya saja saat itu, mereka belum menyatakannya
secara publik dan baru diam-diam mengembangkannya. Saat mereka sudah setengah
jalan, keluarga Orlando yang tak sengaja mengetahui rencana tersebut langsung
panik, kemudian menjalankan rencana sabotase tersebut. Dan orang yang menjual
informasi itu adalah, Charles Futherford” jelas Ethan.
“Tidak mungkin... bukankah
waktu itu... Paman tidak mau bekerja dengan Ayah...?” tanya Angelica pelan.
“Charles bekerja dengan Ayahmu,
tapi hanya setengah tahun. Saat perusahaan tempatnya bekerja dinyatakan
bangkrut, dia memang sempat tidak bekerja dan Ayah serta Ibumu sedikit
memaksanya untuk bekerja pada mereka. Setelah beberapa lama bekerja, muncul
rasa iri dan dendam Charles pada Anthony.
“Charles kemudian mengetahui
kasus pembelian tanah sebesar tiga kali lipat yang dilakukan keluarga Orlando
terhadap keluarga Sandoras. Ia memanfaatkan kasus itu dan menjual
dokumen-dokumen pembelian tanah serta informasi penelitian kepada Orlando. Di
hadapan mereka, ia mengaku sebagai Charles Sandoras. Sebagai gantinya, keluarga
Orlando memberikan hak waris mereka kepadanya, dan itu dilakukan dengan cara
menikahi salah satu anggota keluarganya.
“Sayangnya, Charles begitu
buta. Ia rela melakukan segala cara demi mendapatkan uang. Setelah sadar
keluarga Orlando sudah tidak bisa diharapkan lagi karena hak waris padanya telah
dicabut karena suatu alasan dan ia merasa tertipu, ia membunuh Ibu Miguel dan
Miguel sendiri langsung diselamatkan oleh seorang Orlando yang mengetahui
rencananya. Ia sempat trauma selama beberapa tahun dan menjalani terapi yang
dibiayai olehmu, Russell, sekaligus memberikan sedikit hak warismu padanya demi
bisa mengembalikan Miguel seperti semula.
“Mengetahui itu, Anthony marah
besar. Karena Angelica belum cukup dewasa untuk memegang kendali perusahaan,
dan meski tak ingin mengakhiri penelitiannya, ia terpaksa menuruti
pertaruhannya dengan keluarga Orlando dengan membangkrutkan perusahaan dan
pergi sendiri mencari Charles. Namun sepertinya balas dendam keluarga Orlando
belum puas. Mereka kembali memeras keluarga Sandoras dengan mendatangkan debt
collector dengan berharap Angelica dan Lilica menyerah agar mereka dapat
memegang kendali perusahaan Sandoras” jelas Ethan panjang lebar.
BRAK! Johan memukul meja di
hadapannya. Semuanya tersentak.
“Ternyata kejadian ini
benar-benar ada hubungannya dengan Pamanmu!!” gerutu Johan geram. Di balik itu,
ia juga merasa bersalah pada Angelica.
Russell hanya bisa diam seribu
bahasa. Walau di dalam hatinya ia sebenarnya terkejut dan tidak percaya dengan
apa yang barusan dikatakan oleh Ethan. Semuanya. Ia menyesal setengah mati.
“Ternyata... ini yang mereka
lakukan di balik ketidaktahuanku...” gumam Russell pelan.
Karl juga sama sekali tidak
menyangka. Ia langsung berlutut, tidak percaya. Kini ia mengerti kenapa ia
dipindahkan ke Vienna saat Russell dinyatakan sebagai pewaris. Sebagai asisten
serta kaki tangan Russell, ia dapat dengan mudah mendapatkan informasi serta
isu-isu dari seluruh anggota keluarga baik Orlando maupun Leigner dan
melaporkannya padanya, serta menindaklanjuti informasi tersebut. Dia memang
informan handal yang cukup diakui di keluarga Leigner sendiri. Sebagai
seseorang yang sangat setia pada Russell, mereka cukup yakin bahwa ia tidak
akan goyah dengan pendiriannya tersebut. Mereka takut jika Karl mengetahui,
tentu ia akan memberitahukan semuanya pada Russell dan mengambil tindakan untuk
mereka. Karenanya jalan satu-satunya adalah memindahkan Karl jauh dari
jangkauan Russell yang dianggap tidak mampu menangkap informasi dari dalam
rumah tangga Orlando.
Grace juga merasa sama
bersalahnya dengan mereka berdua. Meski mereka hanya bersikap sebagai ketua dan
wakil Dewan Perguruan Siswa di luar, namun sebenarnya ia dan Russell sangat
dekat dan Russell sendiri selalu menganggapnya sebagai seorang kakak. Walaupun
ia tidak pernah tahu bagaimana internal keluarganya, ia sangat terpukul.
Angelica, sama seperti Russell.
Diam seribu bahasa. Ia berusaha mencerna semua kata-kata Ethan, namun semuanya
terasa tidak masuk akal baginya.
“Tidak...”
Ia masih tidak mempercayai
semua kejadian-kejadian itu.
“Tidak...!”
Sehingga ia hanya bisa
melimpahkan semuanya dalam tangis dan jeritannya.
“TIDAAAAAKK!!!”
Johan langsung memeluknya,
berusaha membuatnya tenang. Namun jeritannya semakin lama semakin keras, dan
terdengar begitu menyedihkan. Ia menanggung semua penderitaannya selama ini karena
orang yang selama ini begitu ia percayai. Begitu ia sukai sejak ia tiba disini.
Ia bahkan merelakan dirinya bersama sahabatnya meski memiliki perasaan yang
sama.
“Kenapa...! kenapa, kak
Russell...! kenapaaaa~~!!”
Russell pias mendengar jeritan
Angelica. Meski jeritannya begitu keras, ia merasa nyaris tidak mendengarnya
sama sekali. Bahkan ia merasa tidak
melihat apapun, dan tidak bisa merasakan apa-apa. Dengan langkah gontai, ia
mendekati Angelica, kemudian berlutut di hadapannya.
“Russell...” panggil Johan iba.
Ia sama sekali tidak menyangka
sahabatnya sendirilah yang telah ‘menghancurkan’ keluarga orang yang
dicintainya. Bahkan yang terburuk, sahabatnya justru tidak tahu sama sekali
soal rencana itu. Meski kesal dan geram, ia juga merasa sedih terhadapnya. Ia
melihat Angelica lagi, yang masih menangis dalam pelukannya. Dan tak ada
pilihan baginya untuk menenangkannya sekarang ini. Walau dalam lubuk hatinya ia
ingin segera menyadarkan Russell atas apa yang sedang dilakukannya.
“Atas nama... keluargaku... aku
sungguh minta maaf... Angelica...”
Russell memohon dengan bersujud
di depannya. Karl langsung berusaha menghentikannya. Namun ia tak beranjak,
bahkan saat Grace yang turun tangan membantu Karl. Merasa percuma, mereka
kembali berdiri.
“Angie...” panggil Johan pelan.
Di saat seperti ini ia sungguh
tidak tahu siapa yang harus ia bela. Ia sangat memahami perasaan Angelica
karena ia sendiri ‘pernah’ mengalaminya. Sekalipun dirinya sudah tahu siapa
seharusnya, namun karena ini menyangkut harta dan penderitaan yang dirasakan
masing-masing, ia tak bisa berbuat banyak. Dan ia merasa tidak berguna.
Perlahan tangisan Angelica
mulai reda. Ia menghapus airmata dan menahan sesenggukannya, kemudian
mengangkat wajahnya perlahan, yang kini berubah serius.
“Kak Russell...” panggil
Angelica pelan. Russell mengangkat kepalanya.
“Aku... tak akan
menghentikannya”
Sontak semuanya terkejut,
terutama Johan. Itu adalah kata-kata yang jelas tidak ada yang berharap untuk
didengar oleh semua orang. Ya, baik itu Miguel ataupun Russell, Angelica tidak
akan melakukan apapun untuk hukuman mati ini.
Russell merasa sudah menyerah
dan tidak ada pilihan lain. Ia memejamkan matanya dan mengangguk dengan berat.
“Aku bergantung pada
keputusanmu” pinta Russell sambil membungkukkan kepalanya.
Mendengar kalimat Russell,
wajah Angelica berubah datar. Ia lalu melihat ke arah semua orang dan
menatapnya satu persatu.
“Kami perlu bicara serius, jadi
selain Ethan, mohon agar keluar dari ruangan ini”
Mereka semua saling bertatapan
satu sama lain, dan tak punya pilihan selain menuruti permintaannya. Karl dan
Grace keluar dari ruangan.
“Johan, bagaimana denganmu?”
tanya Angelica.
Ia terkejut dan berbalik, tidak
mengerti maksudnya.
“Aku memberimu pilihan... jika
kau berpihak padaku, kau boleh tetap di ruangan ini. Tapi... jika kau membela
kak Russell, silahkan keluar”
Johan tersentak. Ia tidak
pernah menyangka bahwa wanita yang dicintainya akan memberinya pilihan seperti
itu. Bukan hanya Johan, Russell maupun Ethan juga sama terkejutnya dengannya.
Terlihat sekali ia sangat bingung hingga mengepalkan tangan dan menggigit
bibirnya kuat-kuat. Ia memejamkan mata, berpikir keras.
Tak ada yang berani angkat
bicara. Atau lebih tepatnya, tak ada yang ingin berkata apapun untuk memecahkan
situasi tertekan itu. Setelah beberapa lama, Johan menghela nafas dan membuka
matanya.
“Angie...”
“Ya...?”
“Apapun keputusanku... kau
tidak akan menyesalinya, kan...?”
“......... Iya”
“Serta apapun keputusanku.....
itu tidak akan merubah apa yang kau pikirkan hingga saat ini, kan...?”
“........ meski kau sudah
berjanji, tapi aku akan menerimanya”
Mendengarnya, Johan tersenyum
dan meyakinkan keputusannya, dan beranjak meninggalkan ruangan itu.
Russell terkejut melihat Johan.
Melihatnya, ia merasa bersalah.
“Johan!”
Mendengar Russell memanggilnya,
ia kembali berbalik.
“Terima kasih, Johan... dan...
maafkan aku...”
Melihat wajah Russell, ia sedih
sekaligus lega. “Kita sahabat, lho!”
Tak ada satupun yang tak sedih
mendengar kata-kata Johan barusan. Ia sungguh lega dan bahagia mendengarnya,
hingga airmata sedikit keluar dari pojok kedua mata Russell. Ya, ia sungguh
lega bahwa Johan adalah sahabatnya hingga saat-saat terakhir hidupnya...
“Selamat tinggal... Johan...”
ucap Russell pelan...
0 comment:
Posting Komentar