Selasa, 07 Juni 2016

Wings of Melodies ~ Memories Edition - Chapter 17

T
iga hari kemudian, jam 10 malam, dua jam sebelum jatuhnya eksekusi mati kedua tersangka atas bangkrutnya Sandoras Farm Corporation. Angelica bersama Johan dan Ethan tiba di lokasi eksekusi. Mereka meminta untuk bertemu dengan sang pewaris untuk mengetahui lebih lanjut apa yang terjadi.

Angelica, juga Johan. Sama sekali tidak percaya siapa yang mereka lihat. Sama sekali tidak mereka sangka bahwa ialah yang akan dijatuhi hukuman meski dia tidak tahu apapun. Angelica hampir menangis saat melihatnya. Paham perasaan Angelica, akhirnya Johan-lah yang menyapanya...
“Akhirnya kita bertemu lagi...”

Tiga hari yang lalu.
Johan sedang berada di ruangannya di kantor tempat ia bekerja. Ia baru saja menyelesaikan rapat, duduk di kursinya sambil menghela nafas. Lima detik kemudian, HP yang ia taruh di mejanya itu berdering. Ia melihat siapa yang menelepon, dan langsung mengangkatnya tanpa ragu.
“Halo, Angie?” panggil Johan.
Segera ia terkejut, mendengar Angelica yang menangis di telepon sambil memanggilnya.
“Johan...! Johan...!!”
“Angie! Ada apa!?” seru Johan terkejut.
Johan terus bertanya hal yang sama, namun Angelica hanya terus menangis memanggil-manggilnya. Akhirnya ia memutuskan untuk menutup teleponnya dan beranjak ke tempat Angelica tanpa pikir panjang lagi.
Sementara Angelica duduk sendirian di sebuah taman di dekat pusat kota. Walau ia tidak bilang ia dimana, namun Johan pasti sudah beranjak dari kantor dan melacak keberadaannya dari fungsi maps di HP-nya. Ia masih menangis walau kini sedang berusaha sendiri untuk menghentikannya.
“Tidak... jangan... bukan kau orangnya, kan...” gumam Angelica pelan pada diri sendiri. Namun...
“Sepertinya kau sudah menduga siapa orangnya, ya. Pewaris Sandoras” seru seseorang dari belakang.
Angelica terkejut. Ia langsung berbalik arah. Keterkejutannya semakin bertambah saat ia melihat orang itu berlari mengejarnya dengan sebilah pisau di tangannya!
Ia mengayunkan pisau itu ke arahnya, namun untungnya Angelica berhasil menghindar dengan mengorbankan rambutnya yang terpotong hampir separuhnya. Panik, ia langsung berlari dan orang itu masih berusaha mengejarnya.
Angelica sudah jauh berlari, dan akhirnya ia terpojok di sebuah pohon yang berbatasan dengan pagar besar. Laki-laki itu tertawa dengan keras nan bangga.
“Siapa kau? Jangan-jangan, kau orang suruhan keluarga yang ingin membunuhku!?” tanya Angelica dengan berusaha menyembunyikan ketakutannya.
“Oh, kau tahu rupanya? Kalau begitu...” orang itu separuh berjongkok dan mendekatkan wajahnya padanya. “Lebih mudah jika kau menyerahkan dirimu, kan?”
Angelica semakin terkejut ketika orang itu kembali melayangkan pisau ke arahnya. Ia berusaha melindungi dirinya dan memejamkan matanya dengan takut.
CRASH!
Orang itu berhasil menebasnya, namun anehnya ia merasa tidak sakit. Ia perlahan membuka matanya, dan terkejut karena ternyata seseorang telah melindunginya, dan ia adalah...
“Ethan!!”
“Uggh!!”
Rupanya Ethan berusaha melindunginya dengan menjadikan bahunya sebagai tameng. Sebagai gantinya, bahunya terkena goresan itu dan langsung mengeluarkan darah segar. Orang itu terkejut melihatnya. Ia berusaha menebas Ethan lagi dengan pisau itu, namun kali ini Ethan berhasil menghindar. Angelica berlari ke balik pohon yang ada di sebelahnya berkat instruksi cepat dari Ethan. Seketika itu juga, Ethan berhasil memberi pukulan di perutnya. Ia mengaduh kesakitan, tapi itu tidak lama, dan ia memilih untuk lari darinya.
“Tunggu! Jangan lari!!”
Suara itu terdengar sebagai suara Ethan, namun kalimat itu juga disebutkan bersamaan dengan suara yang sangat dikenalnya, yaitu suara Johan!
Ethan sudah tidak sanggup menahan luka tebasan orang itu dan ambruk, Angelica langsung menghampirinya. Sementara Johan yang muncul tiba-tiba langsung mengejar orang itu. Tidak butuh waktu lama baginya untuk bisa menangkapnya, dan Johan langsung menghajarnya di pipinya. Orang itu terjerembab ke tanah dan pisaunya terjauh jauh darinya. Johan langsung menghampiri orang itu dengan melihatnya dengan menarik bajunya.
“Kau...!!” seru Johan geram. Orang itu hanya menundukkan kepalanya.
“Johan!!” panggil Angelica dari kejauhan.
Ia langsung tersadar, karena orang itu ternyata diam-diam membawa pisau cadangan dari kantong jeans-nya dan hendak menusuk perutnya. Dengan cepat, Johan memberi pukulan keras dengan tangan satunya ke pergelangan tangan orang itu. Ia juga melakukan hal yang sama dengan tangan satunya. Orang itu pun kesakitan.
“Dengan ini, tanganmu akan mati rasa dan tidak sanggup memegang benda untuk sementara” jelas Johan.
“Uukh..”
Johan kemudian melihat wajah orang itu, dan terkejut.
“Kau! Jangan-jangan...!”
Angelica yang baru selesai memberi pertolongan pertamanya pada Ethan langsung menghampiri Johan, dan kaget mendengar seruannya.
“Johan, kau... mengenalnya...?” tanya Angelica pelan.
“Kau... sepupu Russell... Miguel, kan...?” tanya Johan pelan.
Angelica semakin terkejut. Ia melangkah ke belakang perlahan dengan badannya yang bergetar.
“Sepupu kak Russell... berarti...”
“Benar, Angelica” Ethan langsung bangkit dari duduknya di tanah setelah merasa baikan. Dan ia akhirnya menyatakan pelaku yang sebenarnya, yang ia masih tidak bisa percayai hingga saat ini...
“Keluarga yang berniat membunuhmu, sekaligus menyita dan menyabotase seluruh aset keluargamu... adalah keluarga Orlando...”

Mereka saling duduk berhadapan, dimana Grace dan Karl—yang tiba di Inggris pagi tadi—kini berdiri di sampingnya. Grace maupun Karl sama-sama terlihat capek, namun kesedihan sangat memenuhi mereka. Angelica melihat Russell lekat-lekat, dan masih meyakinkan diri apa orang ini benar-benar Russell yang selama ini dikenalnya. Ethan yang sejak tadi diam, akhirnya mulai bicara.
“Sudah ketahuan semua kedokmu selama ini ya, Orlando” ujarnya sinis. Ia mengeluarkan berkas fisik yang dibawa di dalam tas tangannya.
“Laporan keuangan perusahaanmu memang bagus, tapi ternyata saat diteliti, banyak aset-aset tidak masuk akal bermunculan setiap tahun. Kau pandai menutupinya” lanjutnya sinis.
Russell tak menjawab, dan hanya menghela nafas. Ia sendiri pun selama ini tidak pernah bermimpi akan menjalani hukuman yang menyangkut kehidupannya. Karl yang sempat geram berusaha menahan diri. Sementara Grace yang masih tidak percaya dengan keadaan ini hanya bisa memejamkan matanya.
“Aku takkan menyangkalnya... karena memang ini yang kulakukan...” jawab Russell pelan.
“Tidak! Ini bukan kau yang lakukan, kan, kak Russell!?” seru Angelica yang tetap menangis sejak tiba.
Russell kembali tak menjawab. Ia hanya menggertakkan giginya sambil menunduk.
“Laporan ini sudah divalidasi dan tanda tangannya adalah asli darimu. Kau mau menyangkal apa lagi?” tanya Ethan dengan nada rendah, namun menusuk.
“... sudah kubilang, aku takkan menyangkalnya...”
“Kak Russell!” teriak Angelica.
“Tuan Muda Russell, hentikan! Kau hanyalah kambing hitam disini!” teriak Karl tiba-tiba, yang kini berusaha lebih sopan dari biasanya.
“Kambing hitam?” tanya Ethan tidak mengerti. “Apa maksudmu?”
“... sudahlah, Karl. Ini salahku. Akan kutanggung semuanya sendiri...” jawab Russell pelan.
“Tapi jika kau mati, tak ada yang layak lagi sebagai pewaris keluarga Orlando! Kenapa kau terdengar sudah pasrah seperti ini!? Itu bukan seperti Anda, Tuan Muda!!” bantah Karl. Ia sangat geram dengan keputusan itu.
“... Yaah, aku tak tahu apa yang terjadi. Tapi otorisasi dokumen-dokumen ini jelas membuktikan bahwa kau juga bersalah. Sabotase aset dan rencana pembunuhan terhadap pewaris sudah cukup dijadikan sebagai bukti. Atau... kau mau kutambahkan bahwa pertaruhan bangkrutnya perusahaan Sandoras juga merupakan buktinya?” tanya Ethan.
PLAK!
Suara tamparan mengejutkan mereka. Angelica yang menampar Ethan kini menjadi pusat perhatian. Ia sangat geram dengan kalimat Ethan yang benar-benar terdengar memojokkannya.
“Angie!?” seru Johan sambil menghentikan tindakan Angelica.
“Bisakah kau berhenti mengatakan hal-hal yang memojokkan kak Russell? Aku benar-benar tidak tahan mendengarnya!!” seru Angelica geram.
“Kenapa kau marah? Bukankah seharusnya kau senang karena pelakunya sudah tertangkap?” tanya Ethan datar.
“Aku percaya pada kak Russell! Aku percaya bahwa bukan dia yang merencanakan semua ini!” teriak Angelica dengan nada tanpa ragu...

Angelica dan Johan masih berdiri tidak percaya dengan apa yang mereka lihat sendiri. Di hadapannya adalah Miguel Orlando, salah satu sepupu Russell yang merupakan pewaris minoritas keluarga cabang. Johan mengenalnya karena ia tinggal di rumah yang sama dengan rumah yang ditinggali Russell, dan ia beberapa kali bertemu dengannya.
“Kenapa... Miguel...” tanya Johan pelan.
“Sudah jelas, kan!? Ini pembalasan untuk Sandoras yang sudah membunuh Ibuku!!” seru Miguel geram, begitu juga dengan tatapannya. Ethan menghela nafas, dan berkata...
“Miguel Orlando. Ibunya berasal dari keluarga cabang Orlando. Sementara Ayahnya... adalah Charles Futherford... Pamanmu, Angelica...”
Angelica dan Johan semakin terkejut. Wajah mereka sama-sama pias, dan sama-sama tidak percaya dengan kata-kata yang mereka dengar barusan dari Ethan. Saking terkejutnya, Angelica langsung lemas tak berdaya dan ambruk, namun Johan langsung menahannya.
“Angie!” seru Johan terkejut.
“Berarti... selama ini... dugaanku benar...?” tanya Angelica pada Johan.
“Angie...”
“Benar, kan, Johan!? Apa yang dikatakan Ibuku semua itu... semua itu benar, kaaan!?”
Angelica histeris, namun Johan tidak bisa melepaskan Angelica yang masih lemas tiba-tiba. Tak lama kemudian lima mobil polisi datang dan mengepung mereka. Johan dan Angelica terkejut, namun Ethan berbicara dengan salah satu polisi yang pangkatnya terlihat lebih tinggi dari yang lainnya, kemudian beliau menangkap Miguel dengan menyuruh bawahannya.
“Ethan! Kau akan ke kantor polisi!?” tanya Johan.
“Sebaiknya kalian ikut, karena Russell sudah disana” pinta Ethan sambil beranjak menuju mobilnya.
Johan dan Angelica terkejut. Mereka langsung mengambil mobil dan menuju kesana...

Sesampainya di sana, Miguel langsung dibawa ke ruang investigasi bersama Ethan. Sementara Johan dan Angelica langsung diantar ke tempat Russell yang berada di ruangan yang berbeda. Russell duduk di sana dengan kedua tangannya diborgol didampingi oleh Grace yang berdiri di sampingnya.
“Lama tidak bertemu, Johan... Angelica...” sapa Russell sambil tersenyum pahit.
Mereka berdua sama-sama tidak percaya dengan seseorang yang kini berada di hadapannya. Johan menggenggam tangan Angelica dengan kuat, dan memintanya duduk di kursi yang berseberangan dengan kursi Russell.
“Sejak kapan... kau ditangkap?” tanya Johan dengan nada menahan emosi.
“...... tadi malam...” jawab Russell pelan. Johan bertanya lagi.
“Sejak kapan... rencana ini dimulai dan kau terlibat di dalamnya?” Johan semakin mengepalkan tangannya. Namun Russell tidak bergeming, tetap menegakkan kepalanya.
“Sejak tiga tahun yang lalu... saat awal penyabotasean aset itu. Dan aku baru mengetahuinya saat aku ke Hallstatt setengah tahun lalu...” jawab Russell tenang.
Angelica terkejut. “Berarti kak Russell...!?”
“Ya... aku sama sekali tidak tahu-menahu soal itu sampai setengah tahun yang lalu... semua terungkap dari orangtua angkatku...” jawab Russell sedih.
“Lalu yang dilakukan Miguel selama ini... apa kau mengetahuinya...?” tanya Johan untuk yang terakhir kali. Russell menghela nafas.
“Itu karena ia putra Charles Sandoras, tidak... nama sebenarnya Charles Futherford, namun ia mengaku sebagai Sandoras di depan keluargaku. Ia mengaku padaku bahwa... ia ingin balas dendam demi Ibunya yang bunuh diri di depannya...”

“Tuan muda Miguel? Tapi... bagaimana bisa dia punya hak pewaris!? Dia hanya anak dari keluarga cabang!” seru Karl tidak percaya.
“Itu karena aku yang memberikan hak waris padanya” jawab Russell. “Tidak mungkin aku tega membiarkannya telantar padahal secara biologis, ia merupakan bagian dari Orlando. Karenanya aku memberikannya. Ibunya bunuh diri karena tak tahan dengan tekanan keluarga utama Orlando, dan sebagai pewaris, aku tak bisa membantah kepala keluarga...”
Angelica terkejut. “Tapi, Charles tidak ada hubungannya sama sekali dengan keluargaku! Dia hanya adik dari Ibuku, dari keluarga Futherford. Dan ia tidak punya hak atas kepemilikan harta keluargaku!” bantahnya keras.
“Dia punya, Angelica”
Semuanya terkejut, dan melihat ke sumber suara. Ethan mengatakannya dengan tenang.
“Dia memang punya hak atas harta keluargamu. Karena, Ayahmu yang menulis surat wasiat ini jadi buktinya” Ethan kemudian menaruh surat wasiat itu di atas meja. Angelica mengambil dan membacanya.
“...... kenapa...” gumam Angelica pelan.
“Jawabannya mudah... Ayahmu terlalu baik padanya, tapi sayangnya Pamanmu yang tak tahu balas budi itu memanfaatkannya...” jawab Ethan.
“Walau begitu, dia tidak punya hak memakai nama keluarga Angie untuk menikahi wanita lain, kan? Sekalipun dia punya hak atas warisan ini” bantah Johan.
“Aku juga penasaran akan hal itu. Tapi satu hal yang pasti” Ethan membetulkan cara duduknya.
“Dendam keluarga Orlando pada keluarga Sandoras tidak semata-mata hanya karena alasan bisnis, namun juga alasan pribadi. Alasan bisnis, karena penyabotasean itu melibatkan seluruh keluarga Orlando yang ikut andil dalam bisnis kalian. Kalian takut jika keluarga Sandoras semakin berhasil mengembangkan dan mempublikasikan  penelitian terakhir mereka sebelum dinyatakan bangkrut, bisnis kalian akan semakin terpuruk”
“Penelitian terakhir?” tanya Angelica tidak mengerti.
“Penelitian tentang... pembuatan batu berharga” jawab Ethan. Mereka semua terkejut.
“Batu berharga!? Memangnya bisa bisnis pertanian seperti Sandoras mengembangkan yang seperti itu!?” seru Grace terkejut.
“Sandoras Farm Corporation bukan hanya mengembangkan penelitian budidaya tanaman pangan, namun juga berencana untuk mengembangkan energi dan bahan bakar pengganti, serta investasi baru semacam batu berharga. Hanya saja saat itu, mereka belum menyatakannya secara publik dan baru diam-diam mengembangkannya. Saat mereka sudah setengah jalan, keluarga Orlando yang tak sengaja mengetahui rencana tersebut langsung panik, kemudian menjalankan rencana sabotase tersebut. Dan orang yang menjual informasi itu adalah, Charles Futherford” jelas Ethan.
“Tidak mungkin... bukankah waktu itu... Paman tidak mau bekerja dengan Ayah...?” tanya Angelica pelan.
“Charles bekerja dengan Ayahmu, tapi hanya setengah tahun. Saat perusahaan tempatnya bekerja dinyatakan bangkrut, dia memang sempat tidak bekerja dan Ayah serta Ibumu sedikit memaksanya untuk bekerja pada mereka. Setelah beberapa lama bekerja, muncul rasa iri dan dendam Charles pada Anthony.
“Charles kemudian mengetahui kasus pembelian tanah sebesar tiga kali lipat yang dilakukan keluarga Orlando terhadap keluarga Sandoras. Ia memanfaatkan kasus itu dan menjual dokumen-dokumen pembelian tanah serta informasi penelitian kepada Orlando. Di hadapan mereka, ia mengaku sebagai Charles Sandoras. Sebagai gantinya, keluarga Orlando memberikan hak waris mereka kepadanya, dan itu dilakukan dengan cara menikahi salah satu anggota keluarganya.
“Sayangnya, Charles begitu buta. Ia rela melakukan segala cara demi mendapatkan uang. Setelah sadar keluarga Orlando sudah tidak bisa diharapkan lagi karena hak waris padanya telah dicabut karena suatu alasan dan ia merasa tertipu, ia membunuh Ibu Miguel dan Miguel sendiri langsung diselamatkan oleh seorang Orlando yang mengetahui rencananya. Ia sempat trauma selama beberapa tahun dan menjalani terapi yang dibiayai olehmu, Russell, sekaligus memberikan sedikit hak warismu padanya demi bisa mengembalikan Miguel seperti semula.
“Mengetahui itu, Anthony marah besar. Karena Angelica belum cukup dewasa untuk memegang kendali perusahaan, dan meski tak ingin mengakhiri penelitiannya, ia terpaksa menuruti pertaruhannya dengan keluarga Orlando dengan membangkrutkan perusahaan dan pergi sendiri mencari Charles. Namun sepertinya balas dendam keluarga Orlando belum puas. Mereka kembali memeras keluarga Sandoras dengan mendatangkan debt collector dengan berharap Angelica dan Lilica menyerah agar mereka dapat memegang kendali perusahaan Sandoras” jelas Ethan panjang lebar.
BRAK! Johan memukul meja di hadapannya. Semuanya tersentak.
“Ternyata kejadian ini benar-benar ada hubungannya dengan Pamanmu!!” gerutu Johan geram. Di balik itu, ia juga merasa bersalah pada Angelica.
Russell hanya bisa diam seribu bahasa. Walau di dalam hatinya ia sebenarnya terkejut dan tidak percaya dengan apa yang barusan dikatakan oleh Ethan. Semuanya. Ia menyesal setengah mati.
“Ternyata... ini yang mereka lakukan di balik ketidaktahuanku...” gumam Russell pelan.
Karl juga sama sekali tidak menyangka. Ia langsung berlutut, tidak percaya. Kini ia mengerti kenapa ia dipindahkan ke Vienna saat Russell dinyatakan sebagai pewaris. Sebagai asisten serta kaki tangan Russell, ia dapat dengan mudah mendapatkan informasi serta isu-isu dari seluruh anggota keluarga baik Orlando maupun Leigner dan melaporkannya padanya, serta menindaklanjuti informasi tersebut. Dia memang informan handal yang cukup diakui di keluarga Leigner sendiri. Sebagai seseorang yang sangat setia pada Russell, mereka cukup yakin bahwa ia tidak akan goyah dengan pendiriannya tersebut. Mereka takut jika Karl mengetahui, tentu ia akan memberitahukan semuanya pada Russell dan mengambil tindakan untuk mereka. Karenanya jalan satu-satunya adalah memindahkan Karl jauh dari jangkauan Russell yang dianggap tidak mampu menangkap informasi dari dalam rumah tangga Orlando.
Grace juga merasa sama bersalahnya dengan mereka berdua. Meski mereka hanya bersikap sebagai ketua dan wakil Dewan Perguruan Siswa di luar, namun sebenarnya ia dan Russell sangat dekat dan Russell sendiri selalu menganggapnya sebagai seorang kakak. Walaupun ia tidak pernah tahu bagaimana internal keluarganya, ia sangat terpukul.
Angelica, sama seperti Russell. Diam seribu bahasa. Ia berusaha mencerna semua kata-kata Ethan, namun semuanya terasa tidak masuk akal baginya.
“Tidak...”
Ia masih tidak mempercayai semua kejadian-kejadian itu.
“Tidak...!”
Sehingga ia hanya bisa melimpahkan semuanya dalam tangis dan jeritannya.
“TIDAAAAAKK!!!”
Johan langsung memeluknya, berusaha membuatnya tenang. Namun jeritannya semakin lama semakin keras, dan terdengar begitu menyedihkan. Ia menanggung semua penderitaannya selama ini karena orang yang selama ini begitu ia percayai. Begitu ia sukai sejak ia tiba disini. Ia bahkan merelakan dirinya bersama sahabatnya meski memiliki perasaan yang sama.
“Kenapa...! kenapa, kak Russell...! kenapaaaa~~!!”
Russell pias mendengar jeritan Angelica. Meski jeritannya begitu keras, ia merasa nyaris tidak mendengarnya sama sekali.  Bahkan ia merasa tidak melihat apapun, dan tidak bisa merasakan apa-apa. Dengan langkah gontai, ia mendekati Angelica, kemudian berlutut di hadapannya.
“Russell...” panggil Johan iba.
Ia sama sekali tidak menyangka sahabatnya sendirilah yang telah ‘menghancurkan’ keluarga orang yang dicintainya. Bahkan yang terburuk, sahabatnya justru tidak tahu sama sekali soal rencana itu. Meski kesal dan geram, ia juga merasa sedih terhadapnya. Ia melihat Angelica lagi, yang masih menangis dalam pelukannya. Dan tak ada pilihan baginya untuk menenangkannya sekarang ini. Walau dalam lubuk hatinya ia ingin segera menyadarkan Russell atas apa yang sedang dilakukannya.
“Atas nama... keluargaku... aku sungguh minta maaf... Angelica...”
Russell memohon dengan bersujud di depannya. Karl langsung berusaha menghentikannya. Namun ia tak beranjak, bahkan saat Grace yang turun tangan membantu Karl. Merasa percuma, mereka kembali berdiri.
“Angie...” panggil Johan pelan.
Di saat seperti ini ia sungguh tidak tahu siapa yang harus ia bela. Ia sangat memahami perasaan Angelica karena ia sendiri ‘pernah’ mengalaminya. Sekalipun dirinya sudah tahu siapa seharusnya, namun karena ini menyangkut harta dan penderitaan yang dirasakan masing-masing, ia tak bisa berbuat banyak. Dan ia merasa tidak berguna.
Perlahan tangisan Angelica mulai reda. Ia menghapus airmata dan menahan sesenggukannya, kemudian mengangkat wajahnya perlahan, yang kini berubah serius.
“Kak Russell...” panggil Angelica pelan. Russell mengangkat kepalanya.
“Aku... tak akan menghentikannya”
Sontak semuanya terkejut, terutama Johan. Itu adalah kata-kata yang jelas tidak ada yang berharap untuk didengar oleh semua orang. Ya, baik itu Miguel ataupun Russell, Angelica tidak akan melakukan apapun untuk hukuman mati ini.
Russell merasa sudah menyerah dan tidak ada pilihan lain. Ia memejamkan matanya dan mengangguk dengan berat.
“Aku bergantung pada keputusanmu” pinta Russell sambil membungkukkan kepalanya.
Mendengar kalimat Russell, wajah Angelica berubah datar. Ia lalu melihat ke arah semua orang dan menatapnya satu persatu.
“Kami perlu bicara serius, jadi selain Ethan, mohon agar keluar dari ruangan ini”
Mereka semua saling bertatapan satu sama lain, dan tak punya pilihan selain menuruti permintaannya. Karl dan Grace keluar dari ruangan.
“Johan, bagaimana denganmu?” tanya Angelica.
Ia terkejut dan berbalik, tidak mengerti maksudnya.
“Aku memberimu pilihan... jika kau berpihak padaku, kau boleh tetap di ruangan ini. Tapi... jika kau membela kak Russell, silahkan keluar”
Johan tersentak. Ia tidak pernah menyangka bahwa wanita yang dicintainya akan memberinya pilihan seperti itu. Bukan hanya Johan, Russell maupun Ethan juga sama terkejutnya dengannya. Terlihat sekali ia sangat bingung hingga mengepalkan tangan dan menggigit bibirnya kuat-kuat. Ia memejamkan mata, berpikir keras.
Tak ada yang berani angkat bicara. Atau lebih tepatnya, tak ada yang ingin berkata apapun untuk memecahkan situasi tertekan itu. Setelah beberapa lama, Johan menghela nafas dan membuka matanya.
“Angie...”
“Ya...?”
“Apapun keputusanku... kau tidak akan menyesalinya, kan...?”
“......... Iya”
“Serta apapun keputusanku..... itu tidak akan merubah apa yang kau pikirkan hingga saat ini, kan...?”
“........ meski kau sudah berjanji, tapi aku akan menerimanya”
Mendengarnya, Johan tersenyum dan meyakinkan keputusannya, dan beranjak meninggalkan ruangan itu.
Russell terkejut melihat Johan. Melihatnya, ia merasa bersalah.
“Johan!”
Mendengar Russell memanggilnya, ia kembali berbalik.
“Terima kasih, Johan... dan... maafkan aku...”
Melihat wajah Russell, ia sedih sekaligus lega. “Kita sahabat, lho!”
Tak ada satupun yang tak sedih mendengar kata-kata Johan barusan. Ia sungguh lega dan bahagia mendengarnya, hingga airmata sedikit keluar dari pojok kedua mata Russell. Ya, ia sungguh lega bahwa Johan adalah sahabatnya hingga saat-saat terakhir hidupnya...


“Selamat tinggal... Johan...” ucap Russell pelan...

0 comment:

Posting Komentar

 

Diana Rachmawati Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template