Sabtu, 09 Juli 2016

Wings of Melodies ~ Memories Edition - Chapter 18

H
ari ini kota London disinari cahaya matahari yang cukup menyilaukan di pagi hari. Namun di depan Aula Utama Perguruan Afiliasi Universitas Escoriale telah ramai dengan para siswa-siswi yang akan menyambut hari pertama masuk sekolah dengan wajah bahagia dan antusias. Upacara masuk sekolah yang akan dimulai satu jam lagi dipergunakan oleh para anggota Dewan Perguruan Siswa dan Dewan Siswa setiap bagian sekolah untuk melakukan persiapan-persiapan yang tersisa.

Wajah para siswa SMA baru yang menggunakan scarf orange terlihat tidak asing, namun terlihat begitu bahagia. Wajar saja, ini SMA favorit yang tidak mudah dimasuki oleh orang biasa. Sekolah dimana mayoritas siswanya adalah anak kalangan pebisnis, entertainer, serta politisi. Dan sebagian besar siswanya merupakan siswa lanjutan dari SMP Escoriale.
“Kamu yang disana, jangan bengong! Susunan acaranya mana!?”
“Ah! Segera kukirimkan ke tablet Anda, Wakil Ketua!”
Angelica sebagai perwakilan Dewan Siswa SMA, mendapatkan tugas untuk perencanaan dan mengontrol jalannya upacara hari ini. Ia sangat sibuk sejak pagi buta hingga saat ini, dan kesibukannya akan segera berakhir. Sampai akhirnya, upacara pun dimulai.
Meski anak-anak kelas satu begitu bahagia dengan upacara hari ini, namun tidak bagi para senior-seniornya. Kepergian Russell Brian Micheline Orlando, yang seharusnya kembali menjabat sebagai ketua Dewan Perguruan Siswa, telah pergi dengan cara yang tentu tidak diharapkan oleh siapapun. Pengumuman ini disampaikan oleh Kepala Yayasan yang kemudian dirasakan dukanya oleh semuanya. Karena kejadian ini, beliau akan segera menentukan Ketua Dewan Perguruan Siswa yang baru.
Tiga minggu berlalu sejak hukuman mati yang juga dijatuhkan kepada Miguel Orlando, yang ternyata adalah murid kelas dua SMP Escoriale, serta Russell yang merupakan pewaris utama keluarga Orlando. Banyak yang telah berubah bagai terpecah belah dari apa yang telah mereka bangun selama ini.
Dua hari setelah kejadian itu, semuanya kembali ke London dan berkumpul di lobby asrama putri dan akhirnya diputuskan bahwa liburan musim panas mereka dibatalkan. Sylvie yang histeris mendengar kabar tersebut menangis sejadi-jadinya.
“Tidak mungkin...! Kak Russell tidak bersalah! Kenapa ia juga harus menanggung kesalahan anggota keluarganya dengan cara seperti itu!? Itu tidak adil...!!” teriak Sylvie.
“Sylvie, tenanglah!” Harry berusaha menenangkannya dengan memegang pundaknya dengan kuat.
Semuanya berwajah sedih, dan tidak tahu harus bicara apa. Melihatnya histeris hari ini, Angelica kemudian menyadari bahwa Sylvie menyukai Russell selama ini. Kini ia merasa sangat bersalah telah membuat dua orang yang disayanginya menderita. Namun apa daya, ia tidak bisa memaafkan orang yang telah menghancurkan keluarganya sekalipun korbannya tidak punya maksud seperti itu sama sekali. Rasa dendamnya lebih membakar dirinya dibanding rasa persahabatannya sekarang. Sejak saat itu, ia mulai jarang tersenyum dan lebih banyak menunjukkan ketegasannya...

Angelica masuk ke kelas dengan wajah datar tanpa senyum. Sebelum masuk ke kelas, ia telah melihat dimana kelas tempat ia akan belajar di tahun terakhir ini, yaitu kelas 3-E.
Di depan pintu kelas, ia melihat sekeliling. Tidak ada yang dikenalnya. Wajar saja karena ia satu-satunya siswi yang lompat kelas dan nyaris tidak mengenal satupun kakak-kakak kelasnya. Namun di bangku keempat dekat jendela yang menghadap keluar sekolah, ia menyadari bahwa ada seseorang yang sangat dikenalnya disana.
Ya, dia Johan Robin Harcourt Sabrishion. Pria yang sejak dua tahun lalu menjabat sebagai Ketua Dewan Siswa SMA, sementara dirinya menjadi wakilnya. Angelica merasa sedikit ragu, namun akhirnya ia bertekad mendekatinya.
“Selamat pagi, Johan” sapa Angelica sambil tersenyum. Ini pertama kalinya ia tersenyum sejak kejadian Russell.
Johan mendongak, namun kemudian kembali melihat ke arah jendela.
“Pagi” jawabnya kemudian.
Seisi kelas memperhatikan mereka berdua, dan tiba-tiba ramai dengan celotehan para murid.
“Waah, itu kan Angelica Sandoras!”
“Jadi gosip kalau dia lompat kelas itu benar, ya?”
“Dan lagi, kita satu kelas dengannya. Waah, nggak bakal menang, nih”
“Apalagi Sabrishion yang jadi peringkat ketiga seangkatan juga di kelas ini!”
“Dengar-dengar mereka pacaran? Duuh, enaknya pengurus inti Dewan Siswa satu kelas! Apalagi punya hubungan khusus!”
“Tapi Sandoras yang jadi pacarnya memang cerdas. Jadi iri, ya!”
“Tapi gara-gara dia, Orlando dihukum mati, lho!”
“Benar! Padahal Orlando sudah baik sekali padanya. Benar-benar rendah!”
 Celotehan-celotehan itu cukup jelas terdengar oleh mereka berdua. Angelica hanya melihat mereka, kemudian melihat ke arah Johan lagi yang tidak berniat mendengarkannya. Menyerah terhadapnya, ia mengajukan pertanyaan lagi.
“Boleh aku duduk di sebelahmu?”
“Duduk saja sesukamu. Masih banyak kursi kosong, kok”
Ia tidak terkejut dengan jawaban ketus Johan. Meski sedikit terluka, tanpa bicara lagi, ia mengambil kursi itu dan merapikan mejanya. Sementara yang lainnya masih membicarakan mereka berdua. Namun baik Angelica maupun Johan berusaha tak menanggapi mereka.
Sejak hari eksekusi Russell, Johan mulai berubah dan menjaga jarak dengan Angelica. Ia seperti berusaha keras menghindarinya, dan nyaris tidak mau tahu apa yang terjadi padanya. Tanpa terasa, liburan berakhir tanpa pernah bertemu demi memenuhi rasa rindu masing-masing, sampai akhirnya mereka kembali ke sekolah dan menjadi teman sekelas.
Walau begitu, tak satupun dari mereka berdua meminta untuk berakhir. Sehingga Angelica berpikir ini adalah akhir dari segalanya. Namun sesuai janji, ia tidak akan menyesalinya. Ia sudah menerima ini semua sejak awal dan takkan menyalahkannya pada Johan sekalipun ia merasa bersalah, dan meskipun Johan telah berjanji akan membelanya apapun yang terjadi.
“Yo! Pagi, Johan! Tumben pagi-pagi sudah lihat jendela begitu!” seru seorang temannya yang tiba-tiba datang dan mengambil bangku di depan Johan.
“Pagi. Aku masih ngantuk, jadi tinggalkan aku sendiri” sapa Johan sambil ‘mengusir’ temannya itu.
“Kau itu, kalau ngantuk sifatnya jelek banget, ya, sampai diusir begini. Nih, black coffee pesananmu” gerutu temannya sambil menaruh sekaleng kopi di meja Johan.
“Hooh, thank you!” ucap Johan seraya membuka kaleng dan meneguknya dua kali. Melihatnya, temannya tersenyum. Kemudian menyadari seseorang di bangku sebelah menatap mereka berdua.
“Lho, kau...!? pacar Johan di Dewan Siswa, kan!?” seru temannya terkejut.
“Eh, eengg~ ‘pacar Johan di Dewan Siswa’? Memangnya Johan punya pacar lain, ya?” tanya Angelica pura-pura polos.
“Hahaha, bukan begitu! Johan ini kan pangeran sekolah, jadi wajar banyak yang mendekatinya. Aku sering meledekinya seperti itu kalau dia habis ditembak cewek” jawab temannya sambil cekikikan.
“Benarkah? Tapi... Johan tidak pernah cerita padaku soal itu” komentar Angelica.
“Haha, benarkah? Tapi kalau dia tidak cerita, kau tidak perlu khawatir. Berarti Johan tak ambil pusing soal itu. Iya, kan Jooouuu~~?”
“Jangan seenaknya panggil namaku seperti sapi begitu, hoi!” protes Johan kesal.
“Baiklah, aku mengerti” jawab Angelica pada cowok itu sambil tersenyum.
“Ah, benar juga. Kita belum pernah ketemu, ya. Kenalkan, aku Arthur Sherwood, teman dekat Johan sejak masuk SMA. Keluargaku pengusaha budidaya perhutanan Sherwood Forestry Corp., tapi aku belum resmi jadi pewaris, sih. Salam kenal, Angelica Sandoras!” sapa Arthur dengan ceria.
“Eh, kau tahu namaku?” tanya Angelica heran.
“Hahaha, tidak ada yang tidak kenal Wakil Ketua Dewan Siswa kita disini, lho! Apalagi sebagai pacar Johan! Dan lagi, kau siswi lompat kelas tahun ini, kan!?” sanggah Arthur sambil bertanya.
“Iya. Mohon bantuannya, Sherwood” balas Angelica sambil sedikit menundukkan kepalanya.
“Haha, panggil saja Arthur! Mohon bantuannya juga tahun ini, ya, Angelica!” balas Arthur dengan ceria.
Selama mereka bicara, Johan hanya setengah memperhatikan sambil mengetik sesuatu di tabletnya, tak ikut bicara.
“Hoi, Johan! Ngomong sesuatu, dong! Kalau kau diam begitu aku jadi ngeri, tahu!” seru Arthur seraya mencabut layar tabletnya dari keyboardnya.
“Hei, itu kerjaan, tahu!” seru Johan berusaha mengambil tabletnya dari Arthur yang sudah bangkit dari tempat duduknya.
“Hah? Apanya yang kerjaan? Tulis aneh-aneh begini... ‘Angelica sangat cantik hari ini. Sudah lama tidak bertemu dengannya’” gumam Arthur membaca tulisan yang ada di tablet Johan.
Angelica terkejut dan langsung tersipu malu. Begitu juga dengan Johan, yang langsung merebut tabletnya dari Arthur. Badannya bergetar karena malu.
“Ja, jangan macam-macam, hoooi~!!” teriak Johan. Teriakan yang bergetar karena malu itu spontan membuat Arthur tertawa terbahak-bahak. Johan mengejarnya kemudian, sambil Arthur tetap berusaha melarikan diri.
Melihatnya, Angelica yang berusaha menyesuaikan diri dari rasa malunya kemudian tersenyum melihat mereka berdua. Johan yang sejak tadi tidak mau tersenyum akhirnya malah bertengkar dengan Arthur sekarang. Ia berharap mulai sekarang, semoga keberadaan Arthur bisa menggantikan hari-harinya dengan Russell.
Tak terasa bel masuk sekolah pun tiba. Meski ini hari pertama sekolah, hal pertama yang mereka temui bukanlah wali kelas, melainkan pengawas ujian. Yap, mereka akan melaksanakan ujian awal semester. Ujian ini bertujuan untuk mengetahui kemajuan akademik dan psikologis setiap siswa, namun hasilnya tidak akan mempengaruhi nilai keseluruhan selama satu tahun ke depan. Karena ini adalah ujian khusus untuk siswa yang baru naik kelas tiga dan akan menghadapi ujian masuk universitas tahun depan, maka ujian ini digunakan hanya untuk menilai kemajuan belajar serta keadaan psikis para siswa. Dan ujian ini hanya berlangsung selama dua jam awal pelajaran saja.
“Hei, hei, Angelica. bagaimana ujiannya? Kau bisa mengerjakan?” tanya Arthur pada Angelica begitu ujian dinyatakan selesai.
“Ya, sebagian besar bisa kukerjakan. Walau ada beberapa yang meleset dari dugaan” jawab Angelica sambil tertawa-tawa.
“Hee. Kalau kau?” lanjutnya bertanya pada Johan.
“Hanya kukerjakan sebisanya, tuh” jawab Johan sekenanya.
“Hoi, begitu tuh Cuma jawaban anak ranking tiga seangkatan!” gerutu Arthur kesal.
“Eeh, tapi, Arthur jelas lebih pandai, kan?” Angelica berusaha merendah.
“Ah, aku? Kenaikan kelas lalu aku ada di peringkat 50 besar, tuh” jawab Arthur datar, dan tiba-tiba anak panah menusuk dada Angelica.
“Lihat? Kau benar-benar tertipu dengan tampangnya, bodoh” komentar Johan yang mengatakan hal itu pada Angelica.
Spontan hal itu membuatnya terkejut. Ia tiba-tiba bicara padanya dengan nada datar seperti biasanya, dan tentu hal itu membuatnya tersenyum.
“Tapi, 50 besar juga sudah bagus, kok!” Angelica membela Arthur sambil tersenyum bahagia pada Johan. Itu cukup membuat Johan tersipu dan memalingkan muka. Dan Arthur menyadari keanehan itu...

Tak terasa, pelajaran hari pertama telah selesai.
“Arthur, aku ke Dewan Siswa sekarang, ya” pamit Johan seraya pergi.
“Sendiri? Kenapa nggak bareng Angelica sekalian? Hoi, Johan!” panggil Arthur, namun Johan sudah keburu pergi.
“Tidak apa-apa, aku bisa pergi sendiri, kok. Terima kasih, Arthur” Angelica seraya pamit, selaku buru-buru mengejar Johan tanpa peduli Arthur juga berusaha memanggilnya.
“Ya ampun... mereka masih bertengkar soal Russell, ya...?” gumam Arthur sambil menepuk dahinya...

Angelica berjalan beberapa langkah di belakang Johan tanpa bicara apapun, dan meski Johan menyadarinya ia tidak sedikitpun menoleh ke arahnya. Angelica kembali merasa sedih, namun ia tetap berusaha tersenyum dan berbicara lebih dulu padanya.
“Su, sudah lama kita tidak berjalan bersama begini, ya...”
Johan tidak menanggapi seraya menaiki tangga. Angelica masih terus mengajaknya bicara, namun sedikitpun tidak digubris hingga akhirnya mereka tiba di ruang Dewan Siswa, dan disana seseorang menunggunya.
“Johan, Angelica. lama tidak bertemu, ya” sapa Patricia dengan ramah sambil tersenyum. Angelica menghampirinya dengan bahagia.
“Kak Pa... eh, Patricia. Lama tidak bertemu, ya!” sapanya dengan senang. “Sayang sekali kita tidak sekelas tahun ini”
“Aku kelas 3-D, bersebelahan dengan kelas kalian, kok. Kalau ada keperluan, mampir saja” kata Patricia dengan ramah.
“Tentu saja, dengan senang hati! Oh ya, kenapa kau menunggu disini, tidak masuk ke dalam?” tanya Angelica heran.
“Selama liburan, pintu ke ruang Dewan Siswa dikunci oleh ketuanya. Aku tadi sudah mencoba masuk, tapi sepertinya Johan mengesetnya agar hanya ia yang bisa masuk. Aku tahu saat mengscan kartu pelajarku” jelas Patricia.
“Ah, benar juga. Aku lupa sudah menguncinya. Maaf, Preminger” pinta Johan seraya membuka pintu. Ia memasukkan password, dan mengscan kartu pelajarnya, kemudian membuka pintunya.
Ruangan Dewan Siswa sama sekali belum berubah. Yang berbeda hanya buku-buku di dua rak paling pojok dekat jendela sudah tidak ada karena rak itu milik Aldias dan Michaelis sebelumnya. Selama sekolah, para anggota memang sering menitipkan buku disana dan beberapa barang pribadi. Dan hanya itu yang berubah.
“Gara-gara Johan yang mengunci, ruangannya jadi tidak dibersihkan pengurus sekolah. banyak yang berdebu, nih” gerutu Patricia.
“Uugh, maaf, deh. Akan segera kupanggil mereka, dan aku akan segera mulai rapat awal tahun ini” pinta Johan.
Setengah jam kemudian, ruangan telah selesai dibersihkan dan mereka bertiga pun memulai rapat pertamanya setelah liburan.
“Baiklah, pertama-tama aku ucapkan selamat datang di semester baru. Kita bertiga sudah kelas tiga, jadi manfaatkan tahun terakhir kalian di Dewan Siswa ini dengan baik. Meski tugasnya berat, kita lakukan dengan menyenangkan, ya!” sambut Johan dengan senang namun terdengar tegas.
“Baiklaaah!!” jawab Angelica dengan semangat.
“Eeeh, Johan. Bukankah kau akan memperkenalkan anggota baru?” tanya Patricia mengingatkan.
“Ah, mereka sudah datang, dan sekarang sudah di depan pintu. Masuklah!!” seru Johan.
Terdengar suara pintu terbuka, kemudian seorang laki-laki dan seorang perempuan pun perlahan masuk ke ruangan mereka.
“Kalian berdua, selamat datang di Dewan Siswa SMA Escoriale!” sapa Johan sambil mempersilakan mereka duduk, dan mereka pun mengambil tempatnya masing-masing.
“Hee... kalian berdua, kaan...!?” Angelica terkejut. Meski hanya sekali, ia pernah bertemu dengan mereka. Mereka juga sempat terkejut sekilas, namun tetap tersenyum dengan ramah.
“Baiklah, kita mulai saling perkenalkan diri. Aku Johan Robin Harcourt Sabrishion, kelas 3-E jurusan Ilmu Alam yang akan menjabat sebagai Ketua Dewan Siswa periode ini. Aku sudah menjabat sebagai ketua selama 3 tahun ini. Aku mengandalkan kalian” sapa Johan sambil tersenyum.
“Aku Angelica Steva Fiammatta Sandoras, kelas 3-E jurusan Ilmu Alam yang akan menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Siswa periode ini. Tahun lalu aku juga menjabat di posisi ini. Mohon bantuannya” Angelica menundukkan kepalanya.
“Aku Patricia Mailline Rhine Preminger, kelas 3-D jurusan Bahasa dan Budaya yang akan menjabat sebagai Bendahara Dewan Siswa. Tahun lalu aku menjabat sebagai sekretaris. Mohon bantuannya” Sylvie melakukan hal yang sama dengan Angelica.
Kedua anggota baru merasa takjub dengan mereka, dan saling bertatapan.
“Silakan kalian juga memperkenalkan diri” kata Johan ramah.
“Baik. Perkenalkan, saya Cecile Grandvalley, kelas 1-B yang akan menjabat sebagai Sekretaris Dewan Siswa. Tahun lalu saya menjabat sebagai Ketua Dewan Siswa SMP. Mohon bantuannya” Cecile membungkukkan badannya.
“Perkenalkan, saya Richard Alberto, kelas 1-A yang akan menjabat sebagai Administrator Dewan Siswa. Aku siswa lompat kelas dan tahun lalu aku menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Siswa SMP. Mohon bantuannya” Richard membungkukkan badan.
“Hee, jadi kalian anggota inti Dewan Siswa SMP tahun lalu” Sylvie merasa kagum.
“Eh, kak Patricia baru kali ini ketemu, ya?” tanya Angelica.
“Aku bukan seniormu lagi, Angelica. Tapi memang aku tidak pernah bertemu, sih” jawab Sylvie.
“Mohon bantuannya, kak Preminger. Kak Angelica” sapa Cecil sambil menundukkan kepalanya yang diikuti oleh Richard.
“Yap. Mohon bantuan kalian juga tahun ini, ya!” sapa Angelica sambil tersenyum.
“Baiklah, kalau begitu rapat untuk penyusunan program kerja tahunan, kita mulai!” seru Johan pada para anggota....

Langit sudah menunjukkan semburat oranye yang sangat indah. Menara Jam di pusat sekolah berdentang enam kali. Di ruang Dewan Siswa sekolah SMA, hanya tersisa Johan yang masih serius berhadapan dengan laptopnya, dan Angelica yang masih menyusun berbagai berkas laporan. Ketiga anggota lainnya sudah beranjak dari sana sejak dua jam lalu begitu rapat selesai.
Tidak ada satupun dari mereka yang bicara sejak dua jam lalu itu, hingga akhirnya suara Johan yang sudah bersiap untuk pulang menyadarkan Angelica terhadap penyelesaian tugasnya.
“Ah, ini!”
Ia langsung buru-buru beranjak dari mejanya dan menyerahkan berkas yang sedang dikerjakannya begitu selesai. Johan mengambilnya, melihatnya lima detik, dan memasukkannya ke dalam tas. Kemudian langsung pergi tanpa bicara apapun.
“Ah, tunggu! Johan!”
Angelica buru-buru merapikan mejanya dan langsung mengejarnya.

“Johan, tunggu dulu!”
Angelica menangkap lengan Johan, dan membuatnya terkejut.
“... ada apa?” tanya Johan dengan suara rendah.
“Itu...” Angelica berusaha mengatur nafasnya. “Aku...”
“Mau minta maaf? Percuma saja” Johan memotong kalimatnya. Dan itu membuatnya semakin menunduk. Ia perlahan melepaskan tangannya.
“Aku tidak akan minta maaf, kok...” ujarnya pelan.
Johan menghela nafas, dan berbalik.
“Lalu...?”
Angelica mengambil nafas panjang, dan berusaha tersenyum meski pahit.
“Aku tahu betul bahwa akulah yang paling bersalah disini... aku sudah membuat seseorang yang kau dan Sylvie sayangi pergi... tapi...”
“Tapi...?” lanjut Johan geram.
“Tapi... aku... aku sudah tidak sanggup menahannya lagi!”
Johan terkejut.
“Aku... ingin membuktikan pada Ibuku bahwa... aku bisa mendirikan perusahaan Ayahku kembali... meski mereka tidak memintanya... tapi aku tahu bahwa ini adalah hidup dan cita-cita mereka... karena itu... aku...”
Angelica sesenggukan dan menangis. Johan hanya diam dan menatapnya. Tanpa sadar tangannya telah meraih kepala dan menariknya dalam pelukannya.
“Johan...”
Angelica masih tidak percaya dengan apa yang dilakukan Johan padanya. Semakin lama, pelukannya semakin erat, dan tangisnya pun semakin tak terbendung hingga pecah pada akhirnya.
Johan juga membenamkan kepalanya. Semakin keras tangisannya, semakin dalam ia membenamkannya. Ia juga terluka. Namun yang lebih menderita adalah gadis di pelukannya sekarang ini. Dibalik rasa bersalah dan sedihnya, ia juga semakin lega. Sekalipun Russell kini tidak ada disampingnya lagi, Angelica akan datang dan mendampinginya hingga tersenyum. Dan ia baru menyadarinya saat itu, hingga ikut menangis...

“Ini, minumlah”
“Terima kasih...”
Mereka memutuskan kembali ke ruang Dewan Siswa setelah lelah mengutarakan perasaan masing-masing. Angelica keheranan.
“Kau beli minum sebelum ke Dewan Siswa tadi?”
“Hah? Kamu belum lihat isi kulkas?” Johan balik bertanya.
Angelica menggeleng, dan mengambil kaleng minuman sodanya. Ruang Dewan Siswa memiliki kulkas dan microwave yang sebenarnya semua itu sumbangan pribadi dari Michaelis. Mereka juga memiliki sebuah kasur yang berada di balik rak buku besar di sisi kanan pintu masuk. Biasanya kasur itu digunakan Johan karena harus kerja dan kadang-kadang datang ke sekolah lagi untuk tugasnya disana.
“Dingin...”
Penasaran, ia pun beranjak menuju kulkas, dan terkejut melihat isinya yang penuh dengan minuman, makanan kecil, bahkan ada beberapa makanan cepat saji yang hanya tinggal dimasukkan ke microwave.
“Sehari sebelum upacara pembukaan semester, kak Aldias dan kak Michaelis datang ke sini dan mengisi kulkas itu sampai penuh. Mereka bilang bahwa mereka tidak bisa membalas apa-apa dan hanya bisa melakukan ini untuk kita” jelas Johan sambil meneguk teh susunya dengan lega.
“Begitu... ya...” Angelica tersenyum, sama leganya dengannya.
“Angie... maafkan aku” ucap Johan tiba-tiba.
“Sudahlah... aku... lebih merasa bersalah dibandingkan kamu. Bukankah membenci seseorang yang sudah membunuh orang yang berharga baginya... adalah hal yang manusiawi...?” Angelica tersenyum.
“Meski begitu, aku... aku benar-benar kesal karena pada akhirnya aku tak bisa melakukan apapun untukmu... aku bahkan... harus mengorbankan... seseorang yang begitu berharga bagiku...”
Johan gemetar, sambil mengepalkan tangannya dengan keras. Angelica menatap Johan dari jauh, sama sedihnya dengannya. Ia bangkit dari setengah berdirinya dan menghampiri Johan. Perlahan ia meraihnya, dan...
“Tidak apa-apa, Johan...”
Memeluknya...
“Saat kau memilih kak Russell, jujur aku sangat lega... karena kukira, kau akan mengkhianati kepercayaan yang telah ia berikan padamu selama ini... aku yakin kak Russell pun tak salah meragukan kepercayaannya padamu hingga saat ini, karena kau adalah seseorang yang ia ingin lindungi sampai saat terakhir hidupnya...”
“Angie...”
“Sebelum kak Russell masuk ke lapangan eksekusi... ia memintaku... untuk menjagamu sebaik-baiknya... apapun yang terjadi di depan nanti...”
Angin malam berhembus perlahan dari luar jendela yang terbuka dengan lembut, menimbulkan harum musim panas yang mereka sedang jalani sekarang. Johan terperangah, ia membayangkan Russell mengatakan kalimat itu pada Angelica.

“Mulai sekarang, kupercayakan Johan padamu... Angelica...”

Johan membenamkan wajahnya dalam pelukannya, dan sedikit menarik lengan baju Angelica, bergetar. Kesedihan itu kembali lagi, namun kini airmata yang jatuh dari pipinya adalah airmata kebahagiaan...

Ia bersyukur bahwa, Russell adalah sahabatnya...

0 comment:

Posting Komentar

 

Diana Rachmawati Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template