|
H
|
ari ini kota London disinari
cahaya matahari yang cukup menyilaukan di pagi hari. Namun di depan Aula Utama
Perguruan Afiliasi Universitas Escoriale telah ramai dengan para siswa-siswi
yang akan menyambut hari pertama masuk sekolah dengan wajah bahagia dan
antusias. Upacara masuk sekolah yang akan dimulai satu jam lagi dipergunakan
oleh para anggota Dewan Perguruan Siswa dan Dewan Siswa setiap bagian sekolah
untuk melakukan persiapan-persiapan yang tersisa.
Wajah para siswa SMA baru yang
menggunakan scarf orange terlihat tidak asing, namun terlihat begitu bahagia.
Wajar saja, ini SMA favorit yang tidak mudah dimasuki oleh orang biasa. Sekolah
dimana mayoritas siswanya adalah anak kalangan pebisnis, entertainer, serta
politisi. Dan sebagian besar siswanya merupakan siswa lanjutan dari SMP
Escoriale.
“Kamu yang disana, jangan
bengong! Susunan acaranya mana!?”
“Ah! Segera kukirimkan ke
tablet Anda, Wakil Ketua!”
Angelica sebagai perwakilan
Dewan Siswa SMA, mendapatkan tugas untuk perencanaan dan mengontrol jalannya
upacara hari ini. Ia sangat sibuk sejak pagi buta hingga saat ini, dan
kesibukannya akan segera berakhir. Sampai akhirnya, upacara pun dimulai.
Meski anak-anak kelas satu
begitu bahagia dengan upacara hari ini, namun tidak bagi para senior-seniornya.
Kepergian Russell Brian Micheline Orlando, yang seharusnya kembali menjabat
sebagai ketua Dewan Perguruan Siswa, telah pergi dengan cara yang tentu tidak
diharapkan oleh siapapun. Pengumuman ini disampaikan oleh Kepala Yayasan yang
kemudian dirasakan dukanya oleh semuanya. Karena kejadian ini, beliau akan
segera menentukan Ketua Dewan Perguruan Siswa yang baru.
Tiga minggu berlalu sejak
hukuman mati yang juga dijatuhkan kepada Miguel Orlando, yang ternyata adalah
murid kelas dua SMP Escoriale, serta Russell yang merupakan pewaris utama
keluarga Orlando. Banyak yang telah berubah bagai terpecah belah dari apa yang
telah mereka bangun selama ini.
Dua hari setelah kejadian
itu, semuanya kembali ke London dan berkumpul di lobby asrama putri dan
akhirnya diputuskan bahwa liburan musim panas mereka dibatalkan. Sylvie yang
histeris mendengar kabar tersebut menangis sejadi-jadinya.
“Tidak mungkin...! Kak
Russell tidak bersalah! Kenapa ia juga harus menanggung kesalahan anggota
keluarganya dengan cara seperti itu!? Itu tidak adil...!!” teriak Sylvie.
“Sylvie, tenanglah!” Harry
berusaha menenangkannya dengan memegang pundaknya dengan kuat.
Semuanya berwajah sedih, dan
tidak tahu harus bicara apa. Melihatnya histeris hari ini, Angelica kemudian
menyadari bahwa Sylvie menyukai Russell selama ini. Kini ia merasa sangat
bersalah telah membuat dua orang yang disayanginya menderita. Namun apa daya,
ia tidak bisa memaafkan orang yang telah menghancurkan keluarganya sekalipun
korbannya tidak punya maksud seperti itu sama sekali. Rasa dendamnya lebih
membakar dirinya dibanding rasa persahabatannya sekarang. Sejak saat itu, ia
mulai jarang tersenyum dan lebih banyak menunjukkan ketegasannya...
Angelica masuk ke kelas dengan
wajah datar tanpa senyum. Sebelum masuk ke kelas, ia telah melihat dimana kelas
tempat ia akan belajar di tahun terakhir ini, yaitu kelas 3-E.
Di depan pintu kelas, ia
melihat sekeliling. Tidak ada yang dikenalnya. Wajar saja karena ia
satu-satunya siswi yang lompat kelas dan nyaris tidak mengenal satupun
kakak-kakak kelasnya. Namun di bangku keempat dekat jendela yang menghadap
keluar sekolah, ia menyadari bahwa ada seseorang yang sangat dikenalnya disana.
Ya, dia Johan Robin Harcourt
Sabrishion. Pria yang sejak dua tahun lalu menjabat sebagai Ketua Dewan Siswa
SMA, sementara dirinya menjadi wakilnya. Angelica merasa sedikit ragu, namun akhirnya
ia bertekad mendekatinya.
“Selamat pagi, Johan” sapa
Angelica sambil tersenyum. Ini pertama kalinya ia tersenyum sejak kejadian
Russell.
Johan mendongak, namun kemudian
kembali melihat ke arah jendela.
“Pagi” jawabnya kemudian.
Seisi kelas memperhatikan
mereka berdua, dan tiba-tiba ramai dengan celotehan para murid.
“Waah, itu kan Angelica
Sandoras!”
“Jadi gosip kalau dia lompat
kelas itu benar, ya?”
“Dan lagi, kita satu kelas
dengannya. Waah, nggak bakal menang, nih”
“Apalagi Sabrishion yang jadi
peringkat ketiga seangkatan juga di kelas ini!”
“Dengar-dengar mereka pacaran?
Duuh, enaknya pengurus inti Dewan Siswa satu kelas! Apalagi punya hubungan
khusus!”
“Tapi Sandoras yang jadi
pacarnya memang cerdas. Jadi iri, ya!”
“Tapi gara-gara dia, Orlando
dihukum mati, lho!”
“Benar! Padahal Orlando sudah
baik sekali padanya. Benar-benar rendah!”
Celotehan-celotehan itu cukup jelas terdengar oleh
mereka berdua. Angelica hanya melihat mereka, kemudian melihat ke arah Johan
lagi yang tidak berniat mendengarkannya. Menyerah terhadapnya, ia mengajukan
pertanyaan lagi.
“Boleh aku duduk di sebelahmu?”
“Duduk saja sesukamu. Masih
banyak kursi kosong, kok”
Ia tidak terkejut dengan
jawaban ketus Johan. Meski sedikit terluka, tanpa bicara lagi, ia mengambil
kursi itu dan merapikan mejanya. Sementara yang lainnya masih membicarakan
mereka berdua. Namun baik Angelica maupun Johan berusaha tak menanggapi mereka.
Sejak hari eksekusi Russell,
Johan mulai berubah dan menjaga jarak dengan Angelica. Ia seperti berusaha
keras menghindarinya, dan nyaris tidak mau tahu apa yang terjadi padanya. Tanpa
terasa, liburan berakhir tanpa pernah bertemu demi memenuhi rasa rindu
masing-masing, sampai akhirnya mereka kembali ke sekolah dan menjadi teman
sekelas.
Walau begitu, tak satupun dari
mereka berdua meminta untuk berakhir. Sehingga Angelica berpikir ini adalah
akhir dari segalanya. Namun sesuai janji, ia tidak akan menyesalinya. Ia sudah
menerima ini semua sejak awal dan takkan menyalahkannya pada Johan sekalipun ia
merasa bersalah, dan meskipun Johan telah berjanji akan membelanya apapun yang
terjadi.
“Yo! Pagi, Johan! Tumben
pagi-pagi sudah lihat jendela begitu!” seru seorang temannya yang tiba-tiba
datang dan mengambil bangku di depan Johan.
“Pagi. Aku masih ngantuk, jadi
tinggalkan aku sendiri” sapa Johan sambil ‘mengusir’ temannya itu.
“Kau itu, kalau ngantuk
sifatnya jelek banget, ya, sampai diusir begini. Nih, black coffee pesananmu”
gerutu temannya sambil menaruh sekaleng kopi di meja Johan.
“Hooh, thank you!” ucap Johan
seraya membuka kaleng dan meneguknya dua kali. Melihatnya, temannya tersenyum.
Kemudian menyadari seseorang di bangku sebelah menatap mereka berdua.
“Lho, kau...!? pacar Johan di
Dewan Siswa, kan!?” seru temannya terkejut.
“Eh, eengg~ ‘pacar Johan di
Dewan Siswa’? Memangnya Johan punya pacar lain, ya?” tanya Angelica pura-pura
polos.
“Hahaha, bukan begitu! Johan
ini kan pangeran sekolah, jadi wajar banyak yang mendekatinya. Aku sering meledekinya
seperti itu kalau dia habis ditembak cewek” jawab temannya sambil cekikikan.
“Benarkah? Tapi... Johan tidak
pernah cerita padaku soal itu” komentar Angelica.
“Haha, benarkah? Tapi kalau dia
tidak cerita, kau tidak perlu khawatir. Berarti Johan tak ambil pusing soal
itu. Iya, kan Jooouuu~~?”
“Jangan seenaknya panggil
namaku seperti sapi begitu, hoi!” protes Johan kesal.
“Baiklah, aku mengerti” jawab
Angelica pada cowok itu sambil tersenyum.
“Ah, benar juga. Kita belum
pernah ketemu, ya. Kenalkan, aku Arthur Sherwood, teman dekat Johan sejak masuk
SMA. Keluargaku pengusaha budidaya perhutanan Sherwood Forestry Corp., tapi aku
belum resmi jadi pewaris, sih. Salam kenal, Angelica Sandoras!” sapa Arthur
dengan ceria.
“Eh, kau tahu namaku?” tanya
Angelica heran.
“Hahaha, tidak ada yang tidak
kenal Wakil Ketua Dewan Siswa kita disini, lho! Apalagi sebagai pacar Johan!
Dan lagi, kau siswi lompat kelas tahun ini, kan!?” sanggah Arthur sambil
bertanya.
“Iya. Mohon bantuannya,
Sherwood” balas Angelica sambil sedikit menundukkan kepalanya.
“Haha, panggil saja Arthur!
Mohon bantuannya juga tahun ini, ya, Angelica!” balas Arthur dengan ceria.
Selama mereka bicara, Johan
hanya setengah memperhatikan sambil mengetik sesuatu di tabletnya, tak ikut
bicara.
“Hoi, Johan! Ngomong sesuatu,
dong! Kalau kau diam begitu aku jadi ngeri, tahu!” seru Arthur seraya mencabut
layar tabletnya dari keyboardnya.
“Hei, itu kerjaan, tahu!” seru
Johan berusaha mengambil tabletnya dari Arthur yang sudah bangkit dari tempat
duduknya.
“Hah? Apanya yang kerjaan?
Tulis aneh-aneh begini... ‘Angelica sangat cantik hari ini. Sudah lama tidak
bertemu dengannya’” gumam Arthur membaca tulisan yang ada di tablet Johan.
Angelica terkejut dan langsung
tersipu malu. Begitu juga dengan Johan, yang langsung merebut tabletnya dari
Arthur. Badannya bergetar karena malu.
“Ja, jangan macam-macam,
hoooi~!!” teriak Johan. Teriakan yang bergetar karena malu itu spontan membuat
Arthur tertawa terbahak-bahak. Johan mengejarnya kemudian, sambil Arthur tetap
berusaha melarikan diri.
Melihatnya, Angelica yang
berusaha menyesuaikan diri dari rasa malunya kemudian tersenyum melihat mereka
berdua. Johan yang sejak tadi tidak mau tersenyum akhirnya malah bertengkar
dengan Arthur sekarang. Ia berharap mulai sekarang, semoga keberadaan Arthur
bisa menggantikan hari-harinya dengan Russell.
Tak terasa bel masuk sekolah
pun tiba. Meski ini hari pertama sekolah, hal pertama yang mereka temui
bukanlah wali kelas, melainkan pengawas ujian. Yap, mereka akan melaksanakan
ujian awal semester. Ujian ini bertujuan untuk mengetahui kemajuan akademik dan
psikologis setiap siswa, namun hasilnya tidak akan mempengaruhi nilai
keseluruhan selama satu tahun ke depan. Karena ini adalah ujian khusus untuk
siswa yang baru naik kelas tiga dan akan menghadapi ujian masuk universitas
tahun depan, maka ujian ini digunakan hanya untuk menilai kemajuan belajar
serta keadaan psikis para siswa. Dan ujian ini hanya berlangsung selama dua jam
awal pelajaran saja.
“Hei, hei, Angelica. bagaimana
ujiannya? Kau bisa mengerjakan?” tanya Arthur pada Angelica begitu ujian
dinyatakan selesai.
“Ya, sebagian besar bisa
kukerjakan. Walau ada beberapa yang meleset dari dugaan” jawab Angelica sambil
tertawa-tawa.
“Hee. Kalau kau?” lanjutnya
bertanya pada Johan.
“Hanya kukerjakan sebisanya,
tuh” jawab Johan sekenanya.
“Hoi, begitu tuh Cuma jawaban
anak ranking tiga seangkatan!” gerutu Arthur kesal.
“Eeh, tapi, Arthur jelas lebih
pandai, kan?” Angelica berusaha merendah.
“Ah, aku? Kenaikan kelas lalu
aku ada di peringkat 50 besar, tuh” jawab Arthur datar, dan tiba-tiba anak
panah menusuk dada Angelica.
“Lihat? Kau benar-benar tertipu
dengan tampangnya, bodoh” komentar Johan yang mengatakan hal itu pada Angelica.
Spontan hal itu membuatnya
terkejut. Ia tiba-tiba bicara padanya dengan nada datar seperti biasanya, dan
tentu hal itu membuatnya tersenyum.
“Tapi, 50 besar juga sudah
bagus, kok!” Angelica membela Arthur sambil tersenyum bahagia pada Johan. Itu
cukup membuat Johan tersipu dan memalingkan muka. Dan Arthur menyadari keanehan
itu...
Tak terasa, pelajaran hari
pertama telah selesai.
“Arthur, aku ke Dewan Siswa
sekarang, ya” pamit Johan seraya pergi.
“Sendiri? Kenapa nggak bareng
Angelica sekalian? Hoi, Johan!” panggil Arthur, namun Johan sudah keburu pergi.
“Tidak apa-apa, aku bisa pergi
sendiri, kok. Terima kasih, Arthur” Angelica seraya pamit, selaku buru-buru
mengejar Johan tanpa peduli Arthur juga berusaha memanggilnya.
“Ya ampun... mereka masih
bertengkar soal Russell, ya...?” gumam Arthur sambil menepuk dahinya...
Angelica berjalan beberapa
langkah di belakang Johan tanpa bicara apapun, dan meski Johan menyadarinya ia
tidak sedikitpun menoleh ke arahnya. Angelica kembali merasa sedih, namun ia
tetap berusaha tersenyum dan berbicara lebih dulu padanya.
“Su, sudah lama kita tidak
berjalan bersama begini, ya...”
Johan tidak menanggapi seraya
menaiki tangga. Angelica masih terus mengajaknya bicara, namun sedikitpun tidak
digubris hingga akhirnya mereka tiba di ruang Dewan Siswa, dan disana seseorang
menunggunya.
“Johan, Angelica. lama tidak
bertemu, ya” sapa Patricia dengan ramah sambil tersenyum. Angelica
menghampirinya dengan bahagia.
“Kak Pa... eh, Patricia. Lama
tidak bertemu, ya!” sapanya dengan senang. “Sayang sekali kita tidak sekelas
tahun ini”
“Aku kelas 3-D, bersebelahan
dengan kelas kalian, kok. Kalau ada keperluan, mampir saja” kata Patricia
dengan ramah.
“Tentu saja, dengan senang
hati! Oh ya, kenapa kau menunggu disini, tidak masuk ke dalam?” tanya Angelica
heran.
“Selama liburan, pintu ke ruang
Dewan Siswa dikunci oleh ketuanya. Aku tadi sudah mencoba masuk, tapi
sepertinya Johan mengesetnya agar hanya ia yang bisa masuk. Aku tahu saat
mengscan kartu pelajarku” jelas Patricia.
“Ah, benar juga. Aku lupa sudah
menguncinya. Maaf, Preminger” pinta Johan seraya membuka pintu. Ia memasukkan
password, dan mengscan kartu pelajarnya, kemudian membuka pintunya.
Ruangan Dewan Siswa sama sekali
belum berubah. Yang berbeda hanya buku-buku di dua rak paling pojok dekat
jendela sudah tidak ada karena rak itu milik Aldias dan Michaelis sebelumnya.
Selama sekolah, para anggota memang sering menitipkan buku disana dan beberapa
barang pribadi. Dan hanya itu yang berubah.
“Gara-gara Johan yang mengunci,
ruangannya jadi tidak dibersihkan pengurus sekolah. banyak yang berdebu, nih” gerutu
Patricia.
“Uugh, maaf, deh. Akan segera
kupanggil mereka, dan aku akan segera mulai rapat awal tahun ini” pinta Johan.
Setengah jam kemudian, ruangan
telah selesai dibersihkan dan mereka bertiga pun memulai rapat pertamanya
setelah liburan.
“Baiklah, pertama-tama aku
ucapkan selamat datang di semester baru. Kita bertiga sudah kelas tiga, jadi
manfaatkan tahun terakhir kalian di Dewan Siswa ini dengan baik. Meski tugasnya
berat, kita lakukan dengan menyenangkan, ya!” sambut Johan dengan senang namun
terdengar tegas.
“Baiklaaah!!” jawab Angelica
dengan semangat.
“Eeeh, Johan. Bukankah kau akan
memperkenalkan anggota baru?” tanya Patricia mengingatkan.
“Ah, mereka sudah datang, dan
sekarang sudah di depan pintu. Masuklah!!” seru Johan.
Terdengar suara pintu terbuka,
kemudian seorang laki-laki dan seorang perempuan pun perlahan masuk ke ruangan
mereka.
“Kalian berdua, selamat datang
di Dewan Siswa SMA Escoriale!” sapa Johan sambil mempersilakan mereka duduk,
dan mereka pun mengambil tempatnya masing-masing.
“Hee... kalian berdua,
kaan...!?” Angelica terkejut. Meski hanya sekali, ia pernah bertemu dengan
mereka. Mereka juga sempat terkejut sekilas, namun tetap tersenyum dengan
ramah.
“Baiklah, kita mulai saling
perkenalkan diri. Aku Johan Robin Harcourt Sabrishion, kelas 3-E jurusan Ilmu
Alam yang akan menjabat sebagai Ketua Dewan Siswa periode ini. Aku sudah
menjabat sebagai ketua selama 3 tahun ini. Aku mengandalkan kalian” sapa Johan
sambil tersenyum.
“Aku Angelica Steva Fiammatta
Sandoras, kelas 3-E jurusan Ilmu Alam yang akan menjabat sebagai Wakil Ketua
Dewan Siswa periode ini. Tahun lalu aku juga menjabat di posisi ini. Mohon
bantuannya” Angelica menundukkan kepalanya.
“Aku Patricia Mailline Rhine
Preminger, kelas 3-D jurusan Bahasa dan Budaya yang akan menjabat sebagai
Bendahara Dewan Siswa. Tahun lalu aku menjabat sebagai sekretaris. Mohon
bantuannya” Sylvie melakukan hal yang sama dengan Angelica.
Kedua anggota baru merasa
takjub dengan mereka, dan saling bertatapan.
“Silakan kalian juga
memperkenalkan diri” kata Johan ramah.
“Baik. Perkenalkan, saya Cecile
Grandvalley, kelas 1-B yang akan menjabat sebagai Sekretaris Dewan Siswa. Tahun
lalu saya menjabat sebagai Ketua Dewan Siswa SMP. Mohon bantuannya” Cecile
membungkukkan badannya.
“Perkenalkan, saya Richard
Alberto, kelas 1-A yang akan menjabat sebagai Administrator Dewan Siswa. Aku
siswa lompat kelas dan tahun lalu aku menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Siswa
SMP. Mohon bantuannya” Richard membungkukkan badan.
“Hee, jadi kalian anggota inti
Dewan Siswa SMP tahun lalu” Sylvie merasa kagum.
“Eh, kak Patricia baru kali ini
ketemu, ya?” tanya Angelica.
“Aku bukan seniormu lagi,
Angelica. Tapi memang aku tidak pernah bertemu, sih” jawab Sylvie.
“Mohon bantuannya, kak
Preminger. Kak Angelica” sapa Cecil sambil menundukkan kepalanya yang diikuti
oleh Richard.
“Yap. Mohon bantuan kalian juga
tahun ini, ya!” sapa Angelica sambil tersenyum.
“Baiklah, kalau begitu rapat
untuk penyusunan program kerja tahunan, kita mulai!” seru Johan pada para anggota....
Langit sudah menunjukkan
semburat oranye yang sangat indah. Menara Jam di pusat sekolah berdentang enam
kali. Di ruang Dewan Siswa sekolah SMA, hanya tersisa Johan yang masih serius
berhadapan dengan laptopnya, dan Angelica yang masih menyusun berbagai berkas
laporan. Ketiga anggota lainnya sudah beranjak dari sana sejak dua jam lalu
begitu rapat selesai.
Tidak ada satupun dari mereka
yang bicara sejak dua jam lalu itu, hingga akhirnya suara Johan yang sudah
bersiap untuk pulang menyadarkan Angelica terhadap penyelesaian tugasnya.
“Ah, ini!”
Ia langsung buru-buru beranjak
dari mejanya dan menyerahkan berkas yang sedang dikerjakannya begitu selesai.
Johan mengambilnya, melihatnya lima detik, dan memasukkannya ke dalam tas.
Kemudian langsung pergi tanpa bicara apapun.
“Ah, tunggu! Johan!”
Angelica buru-buru merapikan
mejanya dan langsung mengejarnya.
“Johan, tunggu dulu!”
Angelica menangkap lengan
Johan, dan membuatnya terkejut.
“... ada apa?” tanya Johan
dengan suara rendah.
“Itu...” Angelica berusaha
mengatur nafasnya. “Aku...”
“Mau minta maaf? Percuma saja”
Johan memotong kalimatnya. Dan itu membuatnya semakin menunduk. Ia perlahan
melepaskan tangannya.
“Aku tidak akan minta maaf,
kok...” ujarnya pelan.
Johan menghela nafas, dan
berbalik.
“Lalu...?”
Angelica mengambil nafas
panjang, dan berusaha tersenyum meski pahit.
“Aku tahu betul bahwa akulah
yang paling bersalah disini... aku sudah membuat seseorang yang kau dan Sylvie
sayangi pergi... tapi...”
“Tapi...?” lanjut Johan geram.
“Tapi... aku... aku sudah tidak
sanggup menahannya lagi!”
Johan terkejut.
“Aku... ingin membuktikan pada
Ibuku bahwa... aku bisa mendirikan perusahaan Ayahku kembali... meski mereka
tidak memintanya... tapi aku tahu bahwa ini adalah hidup dan cita-cita
mereka... karena itu... aku...”
Angelica sesenggukan dan
menangis. Johan hanya diam dan menatapnya. Tanpa sadar tangannya telah meraih
kepala dan menariknya dalam pelukannya.
“Johan...”
Angelica masih tidak percaya
dengan apa yang dilakukan Johan padanya. Semakin lama, pelukannya semakin erat,
dan tangisnya pun semakin tak terbendung hingga pecah pada akhirnya.
Johan juga membenamkan
kepalanya. Semakin keras tangisannya, semakin dalam ia membenamkannya. Ia juga
terluka. Namun yang lebih menderita adalah gadis di pelukannya sekarang ini.
Dibalik rasa bersalah dan sedihnya, ia juga semakin lega. Sekalipun Russell
kini tidak ada disampingnya lagi, Angelica akan datang dan mendampinginya
hingga tersenyum. Dan ia baru menyadarinya saat itu, hingga ikut menangis...
“Ini, minumlah”
“Terima kasih...”
Mereka memutuskan kembali ke
ruang Dewan Siswa setelah lelah mengutarakan perasaan masing-masing. Angelica
keheranan.
“Kau beli minum sebelum ke
Dewan Siswa tadi?”
“Hah? Kamu belum lihat isi
kulkas?” Johan balik bertanya.
Angelica menggeleng, dan
mengambil kaleng minuman sodanya. Ruang Dewan Siswa memiliki kulkas dan
microwave yang sebenarnya semua itu sumbangan pribadi dari Michaelis. Mereka
juga memiliki sebuah kasur yang berada di balik rak buku besar di sisi kanan
pintu masuk. Biasanya kasur itu digunakan Johan karena harus kerja dan
kadang-kadang datang ke sekolah lagi untuk tugasnya disana.
“Dingin...”
Penasaran, ia pun beranjak
menuju kulkas, dan terkejut melihat isinya yang penuh dengan minuman, makanan
kecil, bahkan ada beberapa makanan cepat saji yang hanya tinggal dimasukkan ke
microwave.
“Sehari sebelum upacara
pembukaan semester, kak Aldias dan kak Michaelis datang ke sini dan mengisi
kulkas itu sampai penuh. Mereka bilang bahwa mereka tidak bisa membalas apa-apa
dan hanya bisa melakukan ini untuk kita” jelas Johan sambil meneguk teh susunya
dengan lega.
“Begitu... ya...” Angelica
tersenyum, sama leganya dengannya.
“Angie... maafkan aku” ucap
Johan tiba-tiba.
“Sudahlah... aku... lebih
merasa bersalah dibandingkan kamu. Bukankah membenci seseorang yang sudah
membunuh orang yang berharga baginya... adalah hal yang manusiawi...?” Angelica
tersenyum.
“Meski begitu, aku... aku
benar-benar kesal karena pada akhirnya aku tak bisa melakukan apapun untukmu...
aku bahkan... harus mengorbankan... seseorang yang begitu berharga bagiku...”
Johan gemetar, sambil
mengepalkan tangannya dengan keras. Angelica menatap Johan dari jauh, sama
sedihnya dengannya. Ia bangkit dari setengah berdirinya dan menghampiri Johan.
Perlahan ia meraihnya, dan...
“Tidak apa-apa, Johan...”
Memeluknya...
“Saat kau memilih kak Russell,
jujur aku sangat lega... karena kukira, kau akan mengkhianati kepercayaan yang
telah ia berikan padamu selama ini... aku yakin kak Russell pun tak salah
meragukan kepercayaannya padamu hingga saat ini, karena kau adalah seseorang
yang ia ingin lindungi sampai saat terakhir hidupnya...”
“Angie...”
“Sebelum kak Russell masuk ke
lapangan eksekusi... ia memintaku... untuk menjagamu sebaik-baiknya... apapun
yang terjadi di depan nanti...”
Angin malam berhembus perlahan
dari luar jendela yang terbuka dengan lembut, menimbulkan harum musim panas
yang mereka sedang jalani sekarang. Johan terperangah, ia membayangkan Russell
mengatakan kalimat itu pada Angelica.
“Mulai sekarang,
kupercayakan Johan padamu... Angelica...”
Johan membenamkan wajahnya
dalam pelukannya, dan sedikit menarik lengan baju Angelica, bergetar. Kesedihan
itu kembali lagi, namun kini airmata yang jatuh dari pipinya adalah airmata
kebahagiaan...
Ia bersyukur bahwa, Russell
adalah sahabatnya...
0 comment:
Posting Komentar