|
B
|
andara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Indonesia. Angelica
dan Johan akhirnya tiba di Indonesia lebih cepat dari jadwal semula.
Karena Johan memberi tahu secara mendadak bahwa mereka akan ke
Indonesia sore waktu Berlin, Angelica langsung memburu oleh-oleh sebelum Johan
kembali ke hotel dan pergi ke bandara dengan diantar oleh Alan. Sementara
oleh-oleh itu sendiri dikirimkan ke rumah Johan di London dan pengiriman itu diurus
oleh Helga.
“Akhirnya tiba juga, di Jakarta!” seru Angelica sambil merentangkan
tangannya. Melihat sikap anehnya, ia jadi pusat perhatian namun tidak ia
pedulikan.
“Dasar kau ini. Untung saja kusuruh Helga mengirimkan oleh-olehmu ke
London. Kalau tidak, barang kita bakal overload, nih! Lagipula kita belum
sampai Jakarta, tahu!” seru Johan sambil menggiring dua koper, miliknya dan
Angelica.
“Ahahaha, maaf maaf. Sini kubawa koperku sendiri”ujar Angelica sambil
mengambil kopernya dari tangan Johan. “Oh iya, apa kita akan dijemput?”
lanjutnya bertanya.
“Aah, iya. Tadinya kubilang tidak usah, tapi dia bersikeras karena
kangen, katanya. Dasar si brother complex itu!” gerutu Johan sambil memegang
kepalanya seakan pusing.
“Hee!? Siapa yang kau maksud!?” seru Angelica. Tiba-tiba...
“Kak Johaaaann!!!” panggil seseorang.
Angelica langsung berbalik, tapi Johan sekejap langsung merinding.
Disitu mereka berdua berhadapan dengan seorang cewek dengan long-tight dress
dengan belahan hingga ke lutut dan blazer rajutan lengan pendek. Dengan wajah
yang imut dan rambut sebahu yang diikat sebagian di belakang, ia menyapa Johan
dengan suara imut.
“Waah, ternyata benar Kak Johan! Lama tidak bertemu, kakaaaakk!!”seru
gadis itu langsung lompat memeluknya hingga mereka jatuh terlentang.
“Yeeei, akhirnya tiba juga! Selamat datang di Indonesia! Huuu~ aku
kangen banget sampai terasa ingin matiii~~”serunya dengan suara imutnya.
Angelica yang dari tadi melihatnya hanya berdiri mematung, tak bisa
berkata apa-apa. Wajahnya pucat pasi dengan mata mengecil.
“Hentikan ini, Melissa!! Sesak tahu!! Lagian kita kan baru ketemu di
pertemuan keluarga sebulan lalu!!” protes Johan dan berusaha berontak.
“Sebulan itu berasa satu abad, lho, kak Johan! Teganya kau begitu
padakuu~~” lanjut cewek yang dipanggil Melissa itu pura-pura menangis.
“Tidak usah pakai cara seperti itu, aku sudah kebal, tahu! Lagipula
aku sudah bilang tidak mau dijemput, kenapa kau bersikeras!?” gerutu Johan
kesal.
“Habis, kau kan akan tinggal di rumahku untuk sementara waktu~. Dan
lagi aku sampai bolos les piano demi menjemputmu, lhoo~” jawabnya dengan mata
berkaca-kaca.
“Sudah kubilang aku tidak minta!” seru Johan malu, sekaligus kesal.
“Sudahlah, Johan! Dia sudah berniat baik menjemput kita. Kenapa tidak
kau hargai, sih” cegah Angelica yang sejak tadi berusaha menahan perasaan
cemburunya karena perlakuan Melissa terhadap Johan.
“Uugh, habisnya dia ini keras kepala!” seru Johan memberi alasan.
“Kau juga sama keras kepalanya dengan dia. Kau harus mengalah sebagai
yang lebih tua!” Angelica memberi peringatan.
“Hah, lebih tua!? Tapi dia ini...!” HEP! Gadis itu langsung mendekap
mulut Johan.
“Kak Johan, siapa dia?” lanjutnya bertanya sambil memasang wajah
imut.
“Aah, aku... Angelica Steva Fiammatta Sandoras. Salam kenal” Angelica
memperkenalkan diri sambil melebarkan dress yang dipakainya dengan sopan.
“Eh, jangan-jangan kau...” gadis itu menduga-duga, dan Johan melepaskan
diri darinya.
“Iya, dia pacarku! Makanya hentikan sikap kekanakanmu itu!” perintah
Johan.
“Hee, jadi kau ya, pacar kak Johan! Salam kenal, aku Melisa Evelyna,
nama Inggrisku Melissa Sabrishion. Umurku 17 tahun. Aku sepupu kak Johan dari
keluarga cabang!” sapanya pada Angelica dengan riang, dan itu membuatnya
terkejut.
“Tu... tujuh belas tahun??” gumam Angelica bingung.
“Ya, meski dia panggil aku ‘kakak’, tapi kami seumuran. Kami memang
saudara jauh, sih...” jelas Johan singkat.
“Heeee!?!”
Beberapa jam kemudian, mereka sampai di rumah Melissa yang berada di
dekat pusat kota Jakarta. Kini mereka sedang beristirahat di ruang keluarga
sambil menikmati fruit punch yang telah disediakan di meja. Mereka menyapa tuan
rumah, Ayah dan Ibu Melissa yang merupakan Paman dan Bibi Johan, dengan sopan.
“Waah, ternyata keponakanku yang galak ini bisa punya pacar juga”
ledek Lach Sabrishion, Ayah Melissa.
“Kau terlalu berlebihan, Lach. Dia kan sudah cukup dewasa untuk punya
pacar!” ujar Liz Sabrishion, Ibu Melissa.
“Maaf jika keponakan kalian ini galak” Johan langsung memanyunkan
bibirnya, merajuk. “Selama seminggu ini, maaf merepotkan kalian” Johan dan
Angelica membungkukkan badannya.
“Tenang saja, tenang! Anggap saja rumah sendiri, ya. Kau mau
kutempatkan di satu kamar dengan Angelica ini?” tanya Lach meledek lagi.
“Pamaan!” seru Johan malu. Lach hanya tertawa-tawa.
“Baiklah baik. Barang-barang kalian sudah ditempatkan di kamar
masing-masing. Istirahatlah” pinta Lach. Kali ini dengan nada lembut.
“Maaf merepotkan” ujar Angelica.
“Hahaha, tenang saja! Keponakanku satu ini memang selalu merepotkan
sejak kecil, tapi aku sudah biasa! Tenang saja, ya, nak Angelica” kata Lach.
“Baik. Mohon bantuannya” ucap Angelica sopan...
Setelah selesai memperkenalkan diri dan mengobrol beberapa lama,
mereka beranjak ke kamar masing-masing dan merapikan kopernya. Angelica
mengganti dressnya dengan kaos lengan pendek dan celana jeans sepanjang dibawah
lutut, dan wedges 3 cm yang diberikan Sylvie sebelum liburan dimulai.
“Angie, kau sedang ganti baju?” tanya Johan dari luar kamar, yang
sebelumnya sudah mengetuk pintu kamarnya dua kali.
“Ah, iya. Tunggu sebentar!” jawabnya. Ia bergegas merapikan bajunya
dan membuka pintu.
“Ah, sudah selesai. Hmm... bajumu hari ini agak berbeda dari
biasanya” komentar Johan setelah melihat Angelica dari atas sampai bawah.
“Uugh, aneh, ya?” tanya Angelica sambil memanyunkan bibirnya.
“Aku tidak bilang begitu, kok. Hanya kau sedikit lebih tomboy kalau
begini. Hmm... bagaimana kalau rambutmu diikat satu di belakang?” Johan memberi
saran.
“Aku juga berpikiran sama. Tunggu sebentar” lanjut Angelica. kemudian
ia beranjak ke meja rias sambil membawa kotak aksesorisnya yang baru
dikeluarkan dari koper. Johan kemudian duduk di atas tempat tidur.
“Angie, maaf ya. Kita harus tinggal disini...” Johan memohon.
“Hee, kau ini bicara apa? Tentu saja tidak apa-apa. Lagipula kalau
ada saudara di tempat yang kita tuju, lebih baik tinggal bersama mereka jika
diminta, kan?” jawab Angelica sambil mengikat rambutnya di depan kaca.
“Ngomong-ngomong, disini panas sekali, ya. Bukankah seharusnya sedang musim
hujan?” lanjutnya bertanya.
“Yaah, ini negara dua musim, sih. Dan lagi cuacanya sedang agak
ekstrim. Paman bilang biasanya setiap malam hujan, tapi siang harinya bakal
panas banget” jelas Johan. “Oh, ya, bagaimana menurutmu, keluarga Pamanku?”
lanjutnya bertanya lagi.
“Mereka sangat baik. Sepertinya kau akrab sekali dengan keluarga ini,
ya, sampai-sampai Melissa begitu ingin dekat denganmu” komentar Angelica dengan
wajah dan nada datar.
“Hoi hoi, wajah dan nada datarmu itu ada maksud terdalam, tahu. Aku
tahu kau cemburu, kan?” ledek Johan serius.
“Ti, tidak, kok! Ke, kenapa aku harus cemburu dengan sepupumu!?”
Angelica mengelak. Johan hanya tertawa-tawa.
“Hahaha, aku senang kalau kau begitu, tahu!” Johan mengelus
kepalanya. “Yaah, tapi... mereka berdua rela mengambil cuti dari pekerjaannya
demi bertemu denganku. Keluarga ini adalah satu-satunya keluarga yang berpihak
padaku... makanya...”
Wajah Johan yang terpantul di kaca terlihat sedih, namun ia tetap
memaksakan diri untuk tersenyum. Angelica melihat wajahnya yang terpantul itu
dengan pandangan bingung. Ya, selama ini ia tidak pernah tahu apa yang terjadi
dengan keluarga Sabrishion sampai Johan berpikir seperti itu. Namun ia tetap
lebih memilih untuk menunggunya menceritakan semuanya.
“Kak Johaan! Mau kue? Aku baru beli dari toko kesukaanmu, nih!” seru
Melissa yang tiba-tiba muncul dari pintu.
“Me, Melissa!?” panggil Johan kaget.
“Ayo buka mulutnya! Aaa~~” Melissa langsung berusaha menyuapinya
tanpa berpikir macam-macam. Johan yang masih duduk di atas tempat tidur
berangsur mundur karena takut dengan kegigihannya.
“Ti, tidak! Aku bisa makan sendiri!” Johan berusaha membela diri
seraya berusaha mengambil kue itu dari tangan Melissa. Namun, Melissa berusaha
terus menghindar.
“Ayolah! Sekali ini saja, dan aku akan berhenti!”
“He, hentikaaaan!!” teriak Johan. Ia sudah terpojok dan menggunakan
kedua tangannya untuk melindungi wajahnya.
“Tolong hentikan, Melissa” cegah Angelica tiba-tiba, dan ia langsung
mengambil kue itu dari tangan Melissa dengan mudah.
“Angelica-chan?”
“’Chan’!? aku bukan anak kecil, tahu!” protes Angelica. “Dan lagi,
kau sudah berlebihan pada Johan” lanjutnya.
“Hehehe, maaf. Aku terlalu senang karena kak Johan datang.
Sampai-sampai aku tidak bisa tidur semalaman saking senangnya! Hehehe!” seru
Melissa sambil memeluk Johan, dan itu membuat Angelica tidak berdaya.
“Hei, hentikan! Kau benar-benar tidak malu walau di depan pacarku,
ya!?” protes Johan sambil berusaha melepaskan diri.
‘Syukurlah, dia bukan tipe brother complex yang keberatan kakaknya
punya pacar. Entah kenapa, dia mengingatkanku dengan kak Michaelis...’ gumam
Angelica dalam hati.
‘Apa Johan juga merasa seperti ini, ya, saat kak Michaelis melakukan
hal yang sama seperti Melissa...?’ lanjutnya masih berpikir.
“Hoi, kau kenapa, sih?” tanya Johan tiba-tiba, dan itu menyadarkan
lamunannya.
“Ah, tidak...” Angelica berusaha menghindar.
Johan kembali melihat ke depan sambil memutar setirnya ke kanan. Ya,
mereka sekarang sedang berada di dalam mobil untuk pergi ke suatu tempat.
“Ngomong-ngomong, tidak apa-apa kita pergi sendiri? Mereka sudah cuti
untukmu, lho” Angelica mengingatkan.
“Tadi mereka bilang ada urusan sebentar dan pergi, dan aku
dipinjamkan mobil ini selama kita disini. Aku memang sudah bilang sebelumnya,
sih” jelas Johan.
“Kenapa Melissa tidak ikut kita saja?”
“Aku tidak mau dia ikut dengan cara seperti itu! Mengganggu kencan
kita saja!” protes Johan.
“Tapi, kita tidak bisa Bahasa Indonesia, lho. Tidak apa-apa, nih?”
“Aku bisa, kok, walau tidak lancar. Kau juga bukannya bisa sedikit?”
“Tidak sama sekali! Dan lagi, kencan!? Memangnya kita mau kemana!?
Bukankah tadi kau bilang ada urusan pekerjaan!?”
“Kerjaanku baru dimulai besok, kok. Jadi hari ini bisa santai
sedikit. Makanya aku mengajakmu keluar, kan?”
“Iya, sih. Tapi aku tidak pernah tahu kau bisa menyetir”
“Aku punya SIM Internasional, kok. Dan selama disini, aku tidak akan
pakai supir”
“Hmm...”
Mereka saling terdiam lagi, sampai beberapa saat mereka sampai di
tujuan. Angelica membaca tulisan di gedung itu.
“Central Park? Ini... hotel, kan?”
“Hotel sekaligus mall. Yaah, kau belum makan siang, kan. Aku juga
ingin beli sesuatu, sih” jelas Johan.
Setelah itu, mereka memarkir mobilnya di depan pintu masuk utama, dan
melakukan transaksi untuk valet parking. Kemudian masuk kedalam mall. Setelah
berjalan beberapa saat, mereka sampai di taman hijau yang luas.
“Waah, kereen! Di dalam mall ada tempat seperti ini!” seru Angelica
takjub.
Taman itu berada di tengah-tengah gedung apartemen yang jadi satu
dengan mall dan hotel. Karena ini menjelang sore hari dan hari biasa, suasana
sedikit ramai dengan orang-orang yang baru pulang kerja dan mampir kesana.
Walau tidak banyak yang bisa dilihat, Angelica sangat bahagia melihat
rerumputan hijau yang terasa sudah lama tak dilihatnya.
“Ya, entah kenapa walaupun biasa, aku suka pemandangan disini” Johan
beropini sambil melihat sekeliling dengan pandangan nostalgia.
“Ternyata kau sering ke Indonesia, ya?” tanya Angelica.
“Baru dua kali, kok. Dan ini ketiga kalinya. Tapi ini pertama kalinya
aku ke Indonesia bersama seseorang...”
“Eh?” tanya Angelica tidak mengerti. Mereka berdua kemudian menemukan
sebuah bangku taman dan memutuskan untuk duduk di situ. Dan Johan mulai
bercerita.
“Aku selalu pergi ke luar negeri sendirian. Ah, tapi sampai kelas dua
SMP, aku pergi ditemani Melissa, sih... saat keluarganya memutuskan pindah ke
Indonesia dan mendirikan usaha sendiri, aku sedikit merasa kesepian. Memang,
sih, kami sering bertemu di pertemuan keluarga yang diadakan setengah tahun
sekali, tapi karena sudah lama, kami sempat sedikit menjauh. Tapi setelah ia
tahu apa yang terjadi padaku sejak ia pindah, ia memutuskan untuk selalu
berusaha ada untukku meski dari jauh..” jelas Johan sambil menatap langit.
“Johan...”
“Kudengar saat di rumah, ia selalu ceria, pantang menyerah, dan
selalu berusaha jadi kuat. Tapi, ia langsung berbeda 180 derajat saat di
depanku seperti yang kau lihat tadi... seakan, hanya akulah tempatnya untuk ia
bisa jadi dirinya sebenarnya. Itu karena dia anak tunggal dan punya tempat
bergantung... meski terkadang aku kesal, tapi aku sangat menyayanginya seperti
adikku sendiri walau kami seumur...”
Johan bergeser 45 derajat ke arah Angelica, dan menatap matanya
langsung.
“Mungkin kata-kataku ini terdengar seperti membelanya, tapi... apapun
yang ia lakukan padaku, kumohon jangan salahkan dia. Aku yakin ia tidak akan
pernah bermaksud buruk. Walau ia manja, tapi dia sangat kuat. Dan aku tidak mau
ia menangis karena siapapun. Karenanya... tolong terima dia apa adanya...”
Angin perlahan berhembus, di mana aroma panasnya udara yang bercampur
dengan harumnya tanaman hijau itu terasa nyaman, sekaligus menerbangkan rambut
mereka berdua. Tidak kencang, namun cukup untuk mereka merasa cuacanya cukup
sejuk di bawah rimbunnya pohon-pohon tersebut. Selama itu, Johan masih sedikit
membungkukkan badannya dan Angelica tak tahu harus berkomentar apa. Namun satu
yang ia sadari. Dibanding keluarganya sendiri, Johan lebih menyayangi keluarga
Melissa lebih dari apapun. Akhirnya ia mengangguk, dan tersenyum.
“Johan...”
“Hm?”
“Seperti apa keluargamu?”
Johan agak terkejut. Hal itu terlihat dari matanya yang tiba-tiba
terbelalak mendengar pertanyaannya. Ia sedikit menyipitkan matanya, kemudian
berdiri perlahan.
“Kita ke cafe saja, yuk” ajak Johan setelah melihat sekeliling.
Angelica terkejut. Ia merasa Johan telah menolak pertanyaannya, namun
ia hanya mengangguk tanpa protes. Meski sedikitnya ia merasa menyesal telah
menanyakan hal itu darinya...
“Maaf, Angie”
Johan mengucapkan itu setelah pesanan cappuccino-nya datang. Angelica
yang sedang meminum Green Tea Latte-nya sedikit kaget dengan kalimat Johan
barusan.
“Maaf... untuk apa?”
“Pertanyaanmu tadi. Aku... belum sanggup menjawabnya...” kata Johan.
Ia pun menopang kedua sikunya di atas meja, kemudian mengaduk-aduk minumannya.
“Kenapa...?” tanya Angelica lemah. Johan tersenyum pahit.
“Karena... kalau menceritakannya... aku bisa jadi gila...”
“Eh...? Itu... bercanda, kan?” Angelica terbelalak. Johan memejamkan
mata.
“Russell... yang sudah tahu keadaanku yang sebenarnya dan sudah
melihatku setelahnya akhirnya tak pernah lagi membahas keluargaku sekalipun...
mungkin ia berpikir, jika suatu saat nanti ia membahasnya, ia takkan sanggup
lagi menghentikanku...”
Di saat seperti itu, Angelica hanya memandang Johan yang menunduk.
Menunduk sedalam-dalamnya seakan-akan ia tidak mau menyusahkannya. Setidaknya
untuk saat ini. Ia merasa sedikit... sedih melihatnya.
“Apa ada hubungannya... dengan apa yang terjadi di ruang Kepala
Sekolah waktu itu...?” tanya Angelica hati-hati.
Johan semakin merasa sesak. Ia hampir tidak berdaya dan berusaha
keras menahan kewarasannya. Tanpa bersuara, ia hanya mengangguk pelan. Sangat
pelan, hingga Angelica sempat berpikir ia tidak menjawabnya.
“Ya, sudah. Ngomong-ngomong, apa yang ingin kau beli?”
Johan terkejut dengan pertanyaan dan nada bicara Angelica, hingga ia
mengangkat kepalanya tiba-tiba. Ia terbelalak, melihat Angelica yang tersenyum
dengan tulus dan ceria. Seakan ia sudah tidak peduli dengan hal yang ia ingin
ketahui tadi. Entah kenapa, ia merasa bersalah dan mengelus kepalanya perlahan.
“Johan...?” tanya Angelica bingung.
“Aku... mau membelikan sesuatu untukmu...” kata Johan malu-malu.
“Sesuatu... apa?”
“Haha, lihat saja nanti! Oh ya, bibi Liz tadi memberiku daftar
belanja bahan makanan yang ingin dibeli. Karena aku tidak mengerti, jadi aku
disuruh menanyakannya padamu. Habis ini kan urusan cewek”
“Baiklah, serahkan padaku. Tapi kau juga harus tahu nama-nama, bentuk
dan jenis bahan makanannya, jadi kau harus menemaniku”
“Haah? Kenapa aku harus tahu juga!?”
“Supaya suatu saat nanti saat kuminta kau belanja, kau tidak
kebingungan!”
“Apa!? Kau menyuruhku belanja yang seperti itu!?”
“Bahan makanan, tahu! Kalau kau tidak mau, yaa tidak ada makanan
untukmu!”
“Uugh, dasar curang!”
Mereka saling bertatapan, kemudian tertawa bersamaan. Wajah Johan
yang tadi mati-matian menahan emosinya, kini berubah menjadi cerah dan ceria
sambil menggandeng tangannya dengan semangat. Melihatnya seperti itu, Angelica
merasa lega sekaligus sedikit sedih...
“Kami pulaang!”
Setelah selesai belanja, Angelica dan Johan kembali pulang ke rumah
keluarga Melissa menjelang malam.
“Selamat datang. Waah, maaf ya, kalian baru datang tapi sudah kuminta
belanja!” sambut Liz dengan nada ramah dan sedikit tidak nyaman.
“Tidak apa-apa, Bibi. Soalnya sekalian juga aku beli sesuatu, sih”
jawab Johan sambil menyerahkan belanjaannya pada Liz.
Angelica langsung pergi menuju dapur dengan membawa kantung belanjaan
yang lain, merasa sedikit kesal sekaligus penasaran.
‘Akhirnya tadi aku benar-benar belanja sendirian. Johan malah kabur
untuk beli barang yang dia inginkan. Yang menyebalkannya lagi, ia tetap tidak
mau memberitahuku barang apa yang dibelinya. Huuh’ gerutu Angelica dalam hati.
“Ngomong-ngomong, mana Melissa?” tanya Johan.
“Sedang latihan piano di rumah gurunya. Kemarin ia bolos demi
menjemputmu, jadi ia mengganti jadwalnya” jelas Liz. Johan jadi merasa berdosa,
namun Liz langsung menepisnya.
“Tenang saja, Johan. Anak itu sejak mendengar kabar kau akan datang
sudah kelihatan senang minta ampun. Jadi bibi biarkan ia menjemputmu” Liz
kemudian tertawa.
“Uggh, baiklah, Bi...” Johan masih merasa tidak enak.
“Haha, baiklah. Kalau begitu aku akan segera menyiapkan makan malam.
Kau ingin makan apa, Johan?” tanya Liz mengganti topik.
“Hmm... terserah bibi saja. Aku lagi ingin coba masakan Indonesia,
kalau ada yang bisa bibi buat” jawab Johan sambil memberi saran.
“Aku juga akan membantu” lanjut Angelica menawarkan diri.
“Baiklah kalau begitu. Oh, ya, Johan. Bisa tolong bantu Lach di
perpustakaan? Ia sepertinya sedang sibuk merapikan buku-bukunya”
“Baiik!” jawab Johan sambil berlalu.
Johan pun berlalu menuju perpustakaan. Sementara Angelica membantu
Liz mengeluarkan isi belanjaannya sekaligus mempersiapkan bahan-bahan.
“Anak itu jadi ceria belakangan ini” pinta Liz tiba-tiba.
“Eh?” Angelica mengalihkan pandangannya pada Liz, merasa heran.
“Rasanya masih tidak percaya dulu sampai ada kejadian seburuk itu menimpanya.
Angelica, tolong jaga Johan baik-baik, ya” pinta Liz lagi.
“Ah, eeeh...” Angelica kembali bingung harus menjawab apa.
Melihatnya, Liz langsung mengajukan pertanyaan yang sudah diduganya.
“Kau... belum tahu apa-apa soal Johan?”
“Itu...” Angelica berpikir, memilih kata-kata yang bagus. “Aku hanya
tahu Johan yang sekarang, tapi... aku tak pernah tahu masa lalunya, apalagi
keluarganya... ia... selalu menolak untuk menceritakannya... bahkan kak Russell
pun tidak pernah sekalipun mau membahasnya...”
Angelica sedikit menundukkan kepala, dengan kedua tangannya
mempersiapkan diri untuk mengupas wortel yang sebelumnya sudah disuruh Liz
melakukannya. Liz hanya tersenyum tipis.
“Begitu, ya...” pintanya sambil memejamkan mata. “Tenanglah, ia hanya
belum siap menjelaskannya. Karena, mentalnya bisa ‘sakit’ lagi hanya karena
mengingatnya” lanjut Liz menjelaskan.
“... apa Bibi tahu semua yang terjadi?” tanya Angelica hati-hati.
“Aku hanya tahu apa yang terjadi sejak ia jadi pewaris. Karena sejak
saat itu... ia hanya bisa bergantung padaku dan Lach... tak ada satupun yang
membelanya...” jawab Liz dengan nada sedih. Dari wajahnya, Angelica tahu bahwa
kejadian itu masih mempengaruhinya juga.
“... Bibi...” panggil Angelica pelan. Dan panggilan itu menyadarkan
Liz dari lamunannya.
“Ah, maaf. Aku sendiri masih terbayang dengan waktu itu...” pinta Liz
seraya mencuci tangan.
“Jadi bibi juga tidak mau menceritakannya, ya...” keluh Angelica
lemas. Melihatnya seperti itu, Liz menghela nafas.
“Baiklah. Aku mungkin hanya bisa bercerita sedikit. Karena akan lebih
baik jika kau mendengarnya dari Johan langsung...” Liz menyerah. Ia menarik
nafas panjang dan mulai bercerita.
“Sejak ia ditunjuk menjadi pewaris saat duduk di bangku SMP, seluruh
keluarga terkejut dengan keputusan itu. Karena menurut mereka, Johan sama
sekali tidak pantas menduduki posisi seperti itu. Saat diumumkannya keputusan
tersebut, semua menatap sinis padanya. Namun... karena itu adalah keputusan
yang diambil langsung oleh kepala keluarga Sabrishion, yaitu Paman dari Lach,
tak ada satupun yang berani membantah. Meskipun mereka tahu sebenarnya
bagaimana keluarga Johan...” jelas Liz.
“Keluarga... Johan...?” tanya Angelica tidak mengerti.
“Yaah, ada yang bilang bahwa, Johan merupakan anak yang dipungut dari
panti asuhan. Ada juga yang bilang bahwa ia sebenarnya adalah anak haram dari
salah satu anggota keluarga cabang Sabrishion yang telah diputus hubungan
keluarganya, entahlah...”
“Apa? Jadi... Johan sama sekali tidak ada darah keluarga
Sabrishion...?” simpul Angelica terkejut.
“Bukannya tidak sama sekali, tapi tidak ada yang tahu pasti.
Mungkin... para anggota keluarga utama yang lebih tahu kebenarannya...” Liz
menutup penjelasannya.
Angelica meletakkan panci berisi kaldu daging ke atas kompor sambil
berpikir. Jika Johan memang bukan keluarga Sabrishion, bukannya tidak mungkin,
namun kecil harapannya untuk jadi pewaris. Dua hal yang dia tangkap. Pertama
adalah; sejak awal Johan tidak pernah berniat menjadi pewaris. Itu
dibuktikannya bahwa ia dipilih langsung oleh kepala keluarga, bukan dirinya
sendiri yang mengajukan diri. Meskipun saat ini, ia bekerja mati-matian demi
menjalani usaha keluarga, itu karena hal itu yang memang harus dilakukannya
hingga nanti.
Yang kedua; ia tiba-tiba mengingat kejadian saat di ruang Kepala
Sekolah. Hari dimana ia dipukuli oleh Ayahnya hingga babak belur disana, meski
sampai saat ini ia tidak pernah menanyakan bagaimana keadaan Ayahnya setelah
itu. Apa Johan membenci Ayahnya? Tidak, pasti sebaliknya. Di dunia mereka, jika
harta dan perusahaan diwariskan oleh orang yang tidak sedarah, jelas akan
menjadi tanda tanya besar bagi keluarga lain. Memangnya tidak ada yang mampu?
Jawaban pertanyaan itu jelas akan meruntuhkan kepercayaan mereka dan menjadi
bumerang bagi usaha mereka.
Satu-satunya jalan adalah seperti yang dikatakan Liz; bertanya
langsung pada salah satu anggota keluarga utama yang lebih mengetahui
kebenarannya.
Tapi, tunggu sebentar.
Bukankah Johan sebagai pewaris, ia sudah seharusnya berada di
keluarga utama?
“Bibi, sudah selesai belum!? Aku sudah mulai lapar, nih!” seru Johan
yang sedang berjalan menuju dapur dari ruang makan. Seruan itu membuyarkan
lamunan Angelica seketika.
“Jo, Johan!?” seru Angelica kaget. Johan sedikit bingung.
“Hm? Kenapa sekaget itu melihatku, sih?” tanya Johan dengan menarik
sebelah alisnya ke bawah.
“Ah, tidak. Aku... lagi mau masukkan sayurnya ke kaldu, nih!” seru
Angelica sambil melakukannya. Johan merasa penasaran, kemudian melirik Liz yang
juga menatapnya balik. Namun beliau hanya tersenyum, kemudian beranjak keluar
dapur sambil membawa tumpukan piring bersih.
“Baiklah, aku siapkan meja dulu, ya. Angelica, bisa tolong awasi
masakannya dulu?” pinta Liz pada Angelica.
“Ah, baik!” jawab Angelica sambil mengaduk sayurannya. Liz pun
berlalu.
Kini ia tinggal berdua dengan Johan yang sedang bersandar di dinding
sambil memperhatikannya memasak.
“Kau terampil juga, ya. Sebagai mantan orang kaya” ledek Johan. Hal
itu terbukti saat ia melihatnya memotong bahan tambahan untuk sup dengan cepat
dan rapi.
“Hei, itu kejam, lho! Walau dulu aku punya pembantu di rumah, aku
sering belajar sampai tengah malam dan merasa lapar, aku jadi sering masak
sendiri” Angelica sambil mengingat-ingat.
“Ooh...” balas Johan malas. Ia melirik rebusan yang tadi dimasak Liz,
kemudian membuka tutupnya.
“Ah, bisa minta tolong diaduk dulu? Aku mau siapkan dessertnya
sebentar” pinta Angelica pada Johan.
“Hmm, ya. Memangnya mau bikin apa?”
“Hmm... dessert apa yang kau sukai?”
“Crepe! Rasa melon!”
“Hah? Seleramu aneh”
“Masa? Tapi toko crepe di pusat kota ada yang jual, lho. Cafe sekolah
kita juga”
“Aku nggak pernah kesana. Hmm... mungkin nanti, ya...”
“Oke. Kita ke sana sama-sama”
Kemudian mereka pun melanjutkan tugasnya masing-masing. Melihat Johan
membantunya, Angelica tersenyum.
‘Yaah, sudahlah. Toh Johan pasti suatu saat... akan mengatakan
semuanya... selama menanti, aku harus siap... untuk menghadapinya...’
Setelah semua masakan selesai dibuat, mereka menaruhnya di atas meja
dan mulai makan bersama-sama. Makan malam yang jelas sangat berbeda bagi
mereka, dimana kebersamaan begitu terasa. Melissa yang usil menyuapi Johan,
Lach yang tersedak memakan sup buatan Angelica yang terasa lebih pedas hingga
akhirnya ia harus memasak ulang, dan canda tawa yang mewarnai hari itu. Semua terasa
menyenangkan hingga tak terasa, hari itu pun berlalu dengan baik...
Empat hari kemudian, urusan pekerjaan Johan selesai dan mereka akan
melanjutkan perjalanan.
“Sekarang Jepang, ya” tanya Lach pada Johan.
“Ah, ya. Tapi kami bakal lama disana. Sudah janjian untuk merayakan
natal dan tahun baru sama teman-teman sekolah, sih” jawab Johan dengan senang.
“Terima kasih banyak atas bantuan kalian. Maaf jika sudah merepotkan”
pinta Angelica sambil menyalami mereka satu persatu.
“Hahaha, kapan-kapan kesini lagi, ya, nak Angelica” ujar Lach sambil
tertawa.
“Semoga saat berikutnya Angelica kesini, sudah jadi bagian dari
keluarga Sabrishion, ya” lanjut Liz sambil mengedipkan sebelah matanya.
“Heh... itu...” wajah Angelica berubah merah padam, begitu juga Johan
yang langsung memalingkan muka dan menariknya menuju taksi setelah berteriak “Ugh,
tunggu saja dua tahun lagi!”, yang diikuti dengan seruan Melissa yang tidak
rela melihat sepupunya bersama yang lain.
Mereka telah masuk ke dalam taksi dan berjalan menuju bandara. Angelica
melihat keluar jendela dengan pandangan sedikit sedih.
“Sayang, ya, aku belum bisa banyak berkeliling disini”
Johan melihat ke arah Angelica, dengan pandangan sedikit tidak enak. Selama
dua hari ini, ia sangat sibuk dari pagi hingga malam. Ia memang sengaja
memadatkan jadwalnya demi mengejar pekerjaan di Jepang yang jauh lebih banyak
dibanding disini. Walau begitu, Melissa menemaninya selama disini.
“Maaf”
Satu kata Johan barusan membuatnya sedikit terkejut.
“Tidak apa-apa. Aku tahu kau selalu sibuk saat liburan” Angelica juga
jadi tidak enak.
“Yaah, tahun depan ayo kesini lagi. Kali ini, murni liburan, deh”
ujar Johan sambil memalingkan wajahnya ke jendela. Angelica sedikit terkejut,
namun tersenyum bahagia.
“Oke! Tahun depan, ya! Janji!” seru Angelica bahagia.
Dan, mereka memulai perjalanan liburan mereka ke tujuan
selanjutnya...
0 comment:
Posting Komentar